28 Januari 2018

Kenangan Paling Sedih

Kenangan paling menyedihkan di masa kecilku yang jika diingat sekarang aku masih tetap menangis adalah mendengarkan murottal syeik Abdul Rahman Al-Sudais, surat An-Naba'. Waktu itu, dalam perjalanan menuju pertunjukan gajah di Lapangan Guluk-Guluk aku numpang mobil salah satu kerabat dekat yg kebetulan memutar murottal surat-surat pendek. Kira-kira usiaku masih sembilan tahunan.

Kesedihanku bukan karena paham dengan makna surat Al-Qur'an tadi, melainkan karena tak mengantongi uang sepeserpun. Aku beragkat memenuhi ajakan teman sepulang sekolah saat ayah dan ibu sedang tidak di rumah.

Sepanjang perjalanan aku membayangkan teman-teman yang lain membawa uang jajan yang banyak dan bisa membeli apa yang mereka suka. Sementara aku tak tahu harus menjawab apa ketika mereka mengajakku belanja.

Di lokasi pertunjukan, kami berkumpul di balik pagar bambu yang disediakan panitia. Kulihat ada perempuan maju ke tengah lapangan untuk dicium sang gajah. Suasana tegang sejenak, lalu kembali ramai oleh tepuk tangan para penonton ketika sang gajah menunduk dan menciumnya seperti pangeran dalam dongen si buruk rupa. 

Dalam keseruan aku bersyukur tak ada seorang pun teman rombonganku yang pergi beli-beli. Namun ketika acara resmi bubar, mereka semua berhamburan menuju stan bazar penjual makanan dan mainan. Mereka tak menyadari aku mematung di kejauhan sembari meneteskan satu dua air mata. 

Dadaku sesak oleh perasaan ingin yang tak mampu kugapai. Tubuhku bergetar menjalarkan kekeluan. Tungkaiku seperti tak bisa digerakkan. Dengan perlahan aku berusaha menuju mobil untuk masuk duluan.

Saat paman membuka pintu, kupilih kursi pojok paling belakang untuk mengatur napas. Paman curiga mendengar suara sesenggukan. Ia bertanya mengapa aku menangis. Aku menjawab pusing dan sakit perut. Ia menyuruhku berbaring.

Kututup mataku rapat-rapat. Dalam pejamku yang paling pedih, aku mendengar lantunan surat An-Naba'. Ayat-ayat itu perlahan mengurangi beban di dadaku tapi tidak dengan air mataku.

Teman-teman kembali ke mobil dengan belanjaan yang banyak dan sebagian menikmatinya di jalan. Mereka heran melihatku. Panman menjelaskan alasanku. Aku lega mereka tak curiga. 

Mobil melaju dengan cepat. Dari kaca yang terbuka aku melihat langit suram. Udara dingin. Alam seperti kompromi mendukung kesedihanku. Juga irama Al-Qur'an yang mendayu lewat sound kecil di belakang kursi tempatku berbaring. 

28 Januari 2018

Si Buta dari Gua Payudan

Kamis sore minggu lalu, aku terjebak hujan di lokasi pembuangan mayat korban carok. Waktu itu aku jalan kaki karena ban motor suami kempes. Aku memilih tidak membonceng karena takut kasus kempes tadi merambah pada rusaknya velg.

Suamiku berkali-kali menawari agar aku ikut. Aku masih bersikukuh menolak. Opsi lainnya, seperti barang, aku dititip di rumah temannya. Ia akan menjemputku saat motornya sudah pulih. Aku setuju.

Diam-diam aku memilih meneruskan perjalanan saat suamiku sudah berangkat. Pikirku agar ia tak jauh-jauh menjemputku karena hari sudah mulai petang. Aku ingin cepat sampai di rumah.

Bengkel masih jauh, kata orang yang kutanya di pinggir jalan. Alamak! Sandal baru yang kebetulan pertama kali kupakai  alamat tipis dimakan aspal. Aku menyesal tak memakai sandal yang lama.

Kecamuk batinku reda saat langit tiba-tiba mendung dan hari seperti beringsut lebih cepat. Suasana petang dan angin kencang mempercepat langkahku. Tak kupedulikan lagi sandal dan ransel sesak di pundakku. 

Rute yang dipilih suamiku kali ini benar-benar menantang. Dari Ambunten kami memilih  jalur Cempaka-Sa'im menuju rumahku, Tambuko. Karenanya angan-anganku semakin kusut membayangkan hal yang tidak-tidak. Bibirku tak hentinya membaca doa-doa keselamatan dalam perjalanan.

Kata guru ngajiku, ada satu amalan doa yang jika dibaca maka tubuh kita tidak akan terlihat oleh orang jahat. Doa itu kurapalkan berkali-kali sampai lidahku terasa kaku. Bacaanku terhenti oleh gerimis yang mula-mula jatuh sangat tipis. Kemudian dilanjut dengan rintik hujan sebesar biji jagung.

Aku menyesal tidak patuh pada suamiku. Jika tadi aku tidak ceroboh maka saat hujan ini datang aku bisa numpang berteduh di rumah orang. Rumah warga tampaknya masih jauh. Untuk putar balik aku merasa perjalanan yang kupilih akan sia-sia.

Dalam kondisi bingung dan cemas aku menyadari empat hal. Satu, Sa'im sejak dulu kala dikenal dengan lokasi aksi para perampok. Dua, ternyata aku akan melewati tempat pembuangan mayat korban carok. Tiga, ponselku kuletakkan di tas suami sehingga aku tak punya kesempatan berkomunikasi. Dan empat, merupakan yang paling parah, kala itu adalah malam Jum'at!

Di kanan kiriku hanya semak belukar dan pohon-pohon jati merindangi jalan. Kesialan ini telah berlapis-lapis kuterima. Sementara suamiku pasti merasa tenang karena mengira aku aman di rumah kenalannya. Entah bagaimana nasibnya.

Aku berhenti sejenak saat tiba di tanjakan curam karena lututku rasanya mau patah. Napasku tak dapat diatur. Dalam hati aku berdoa agar suamiku segera datang atau adanya keajaiban lain yang meringankan beban penderitaanku. Misalnya ada orang baik yg lewat dan menawari tumpangan. Namun seperti cobaan yang sangaja menantangku, tak ada satu pun kendaraan atau orang lewat.

Aku pasrah dengan keputusan Allah. Aku yakin Dia tengah menguji mentalku yang lemah. Kesadaranku itu mengurangi keresahanku perlahan-lahan.

Ketika aku menoleh, di kejauhan aku melihat lampu mobil searah dengan tujuanku. Bagaimana pun aku akan memohon pertolongan pada pemilik mobil itu. Harapan terbesarku semoga aku tidak dipertemukan dengan orang jahat yang akan mencelakakanku.

Mobil Carry semakin mendekat mewarkan harapan begitu kuat. Namun aku tak langsung menampakkan diri karena ingin memastikan pemilik mobil bukanlah preman. Begitu firasat baikku mendukung aku menyetop dengan melambaikan tangan beberapa kali.

Mobil itu berhenti. Sopirnya memakai peci. Pikiranku mulai terkendali.

Aku dipersilakan masuk dan duduk di kursi tengah bersama dua orang perempuan berjilbab. Aku menduga itu adalah mobil seorang kiai. Hatiku sungkan namun ikut bersama beliau adalah pilihan terbaik.

Di jalan, aku ditanya macam-macam. Aku menjawab seperlunya dengan sopan. Aku balik bertanya di mana alamat si pemilik mobil. Salah seorang di antara mereka menjawab dengan cepat, Karduluk.

Obrolan ringan tadi mencairkan suasana hatiku. Tak hentinya kuucap syukur di dalam hati. Bagaimana pun kejadian itu adalah pengalaman yang sangat mengerikan di dalam hidupku.

Hujan mulai reda. Di pertigaan jalan Ganding nanti aku akan meminta diturunkan karena arah pemilik mobil berlawanan dengan tujuanku.

Ganding hampir tiba, aku berpikir untuk meminjam ponsel pada pemilik mobil untuk menghubungi suamiku. Namun aneh, saat perempuan di samping kananku hendak memberikan ponselnya, tiba-tiba ia memasukkan lagi ke dalam sakunya setelah mendapat kode mata dari perempuan satunya. Aku mulai curiga.

Kuperhatikan baik-baik kabin mobil. Kursinya kusam dan bau apek. Dashboardnya juga remuk tak karuan.

Saat hatiku mendadak tidak tenang, kurasakan kakiku seperti basah oleh genangan air. Karena ruangan gelap aku mengira itu adalah air mineral yg tumpah di kursi belakang.

Kakiku mulai terasa gatal. Kugaruk dengan tangan kananku. Dan astaga! Secara tak terduga tiba-tiba menyeruak bau amis. Tak salah lagi, itu darah! Mataku terbelalak tegang.

Aku belum berani menoleh karena dua perempuan yang mengapitku memperhatikan gerak badanku. Aku pura-pura bingung akan keberadaan suamiku. Setelah aku berkesempatan menoleh, melalui remang cahaya lampu jalan, dalam sekali lirik aku melihat seorang lelaki disandarkan pada pojokan mobil dalam kondisi kepala penuh darah.

Degup jantungku sangat kencang seperti mampu didengar semua orang. Badanku menggigil oleh rasa dingin dan takut. Aku menelan ludah. Aku menyesal telah memilih berada di tempat yang salah.

Apa yang harus aku lakukan dalam kondisi yang begitu dekat dengan maut? Sementara kesempatan untuk mencelat sangatlah minim. Kalau aku berteriak minta tolong, itu berarti aku mempercepat ajalku. Kalau aku memilih melompat, aku harus melawan dua perempuan di sampingku, dan belum tentu aku selamat. 

Tubuhku bergetar hebat memilih dua opsi yang sama-sama membahayakan hidupku. Sesungguhnya rejeki, jodoh,  dan maut sudah diatur Tuhan. Jika kali ini adalah giliranku, maka aku siap. Tetapi jika tidak, Tuhan pasti menunjukkan jalan lain dengan cara rahasinya, apapun itu.

Suara perempuan di sampingku mengacaukan lamunanku. Aku kembali sadar dan mencoba bersikap tenang. Sekilas pintas berkelebatlah bayangan-bayangan mereka yang kusayang. Seperti diputar ingatan, gambar ibu, suamiku, kakak, Miko, Upik, Alya, dan Nia silih berganti memenuhi pikiran.

Sebelum tiba di pertigaan Ganding, mobil berhenti, tepat di bawah pohon siwalan tua bangka. Mungkin di sinilah mayatku akan disandarkan. Dua perempuan di sampingku memegang pergelangan tanganku. Pak Supir yang dari suaranya bersahaja berubah menjadi sangar. Ia menjulurkan tubuhnya dari kursi depan. Tangan kirinya meraih belati mungil dari bantalan sarungnya. Sialnya, tanpa sempat bertanya apa salahku, mulutku telah disumpal kerudung kecil.

Ketika belati itu siap mencongkel mataku, sebuah tangan kekar menutup mukaku. Aku tak bisa bernapas. Ternyata itu adalah tangan suamiku yg terbaring di sampingku. Alarm berbunyi menunjukkan pukul 03:30 dini hari. Seperti sapi tua, aku malas bangkit memikirkan jika kejadian tadi bukanlah mimpi, maka kini aku telah menjadi si buta dari gua Payudan.

25 Januari 2018

Sahabat Bukan Cuma Dia

Delapan tahun yang lalu ia berkunjung ke rumahku. Kedatangannya sangat tidak tepat karena waktu itu aku sedang tak enak badan. Aku tak bermaksud mengacuhkannya dengan terus berbaring dan merespon ceritanya hanya dengan senyum ringan. Tetapi memang sudah tiga hari badanku terasa lemas.

Dia paham aku periang dan cerewet. Namun saat itu kepalaku yg limbung seperti korban gempa tak bisa ditahan-tahan untuk sekedar duduk. Maka berbaringlah aku di sampingnya. Aku sangat menyayangkan keadaanku karena itu adalah kunjungan pertamanya ke rumahku.

Dalam salah satu obrolan kami di sekolah, ia pernah memberitahuku kalau telor mata sapi adalah makanan kesukaannya. Aneh sih. Setahuku sapi tak pernah bertelur. Bagaimana mungkin telur dikaitkan dengan mata sapi. Soal kuning telur yg bulat menyerupai mata sapi bagiku masih tidak masuk akal. Kuda, zebra, keledai dan banyak hewan lainnya juga punya mata bulat. Badut juga demikian. Kenapa tidak disebut telur mata badut?

Ia terkekeh mendengar ocehanku. Aku semakin memperpanjang urusan itu. Termasuk bertanya siapa orang yg pertama kali mengenalkan istilah mata sapi bagi telor ceplok.

Saat itu orang tuaku berternak bebek. Hampir setiap hari menu di rumah kami tak lepas dari telur. Telur asin, telur dadar, telur gulung, telur rebus, telur kuah santan, dan telur mata badut, eh sapi.

Maka ketika ia hadir di rumahku, mama menyajikan menu telur kesukaannya. Ia menikmatinya sendirian karena aku sariawan, bibir pecah-pecah, dan kata mama aku tidak harus minum larutan penyegar seperti yang nyanyikan Joshua dalam iklan masa lalu.

Aku merasa ia pulang dengan perasaan kecewa. Perjumpaan kami di hari libur tidak seperti yg ia duga. Tetapi aku tidak sengaja. Apa yang lebih menyiksa dari rasa sakit? Badan panas dingin, makanan terasa pahit, kepala nyut-nyutan, mata berkunang-kunang dan perasaan sedih sepanjang hari.

Berbeda dengan anak yang tak mau sekolah dan pura-pura sakit. Bagaimana orang tuanya tak percaya, panas badannya direkayasa dengan mengapit bawang putih di ketiak selama berjam-jam sampai menimbulkan demam. Sama juga saat aku tak mau ke surau dan mengarang sakit-sakitan menjelang sore. Mama sampai tak percaya karena rutinitas sakitku hanya ketika sore.  Karenanya aku rela memasukkan jari telunjuk ke mulut dalam-dalam untuk memuntahkan isi perut. Barulah aku dikerok seperti sakit parah.

Teman-teman di surau kalau mengaji kadang arisan bekal makanan. Padahal jarak antara surau dan rumah kami tidaklah jauh. Fitri membawa petis, Devi membawa ikan pindang, Nujai tahu tempe, Sipur telor dadar,  Sauki kerupuk, Hozai nasi jagung dan aku tukang numpang makan. Maka ketika aku dimusuhi ramai-ramai surau bagiku seperti penjara para blater.

Lalu kami tepecah menjadi dua kubu. Waktu itu kami saingan menanam pohon rambutan. Ketertarikan kami dimulai dari kejadian menakjubkan ketika dari sebuah biji menyembul batang dan daun. Kami rajin mengumpulkan biji buah-buahan untuk di tanam dan dilombakan antar kubu. Sauki, Devi dan Fitri di kubu barat, Nujai, Hozai, Sipur dan aku di kubu timur.

Di malam hari diam-diam aku mencuri tanaman milik musuh. Paginya kubu barat panik memeriksa tanaman kelompokku. Dan terjadilah ribut-ribut adu mulut. Karena dulu hanya Sauki yang punya teve, maka kubu timur dilarang keras nonton teve di rumahnya.

Kelucuan masa-masa itu sangat berkesan. Segala tingkah nakal tak pernah menjadi kisah yg memberatkan, bahkan asik untuk dikisahkan lagi. Tidak seperti saat aku dewasa. Segalanya berubah serius dan menegangkan. Satu tindakan salah kadang menjadi beban sepanjang hidup. Seperti kenangan saat sahabatku berkunjung ke rumahku ketika aku sakit.

Sekilas pintas, aku mengira dia akan memaafkanku. Namun sebaliknya, sejak kejadian itu ia mulai mengambail jarak dalam komunikasi kami. Aku maklum dan mulai membuka diri secara total pada keberadaan teman-teman lain yg juga tak kalah penting untuk diperhatikan. Artinya, sahabat tak hanya satu orang yg mengerti kita, tetapi mereka yg memberikan cinta dan perhatian pun dapat dianggap sebagai sahabat.

Saat pikiran dan batinku terkuras untuk memikirkan kesalahan-kesalahanku, ada banyak kawan yg peduli dan siaga di sampingku. Karenanya, bukan hanya kebahagiaan yg kurasakan, melainkan juga keharuan, merasa dicintai, dan dianggap sebagai salah satu bagian dari mereka. 

Ada banyak kawan yang bersedia mengubah telinganya menjadi telinga gajah untuk mendengarkan curhat sampah batin kita. Maka jika seorang kawan meninggalkanmu karena kesalahan kecil, jangan pernah takut. Ia khilaf dan suatu saat akan menyadari betapa persahabatan terlalu berharga untuk dihancurkan oleh rasa benci.

25 Januari 2018


23 Januari 2018

Kutu-Kutu di Kepalaku

Mungkin aku sudah sinting. Rambutku tak disisir dan dihuni kutu. Ekor telurnya kurasakan seperti jarum tumpul menggelitik kulit kepalaku. Kugaruk berkali-kali sampai luka, bahkan keluar darah.

Seperti apakah suasana di kepalaku? Kehidupan macam apa yg mereka jalani dengan numpang hidup dan menyakiti. Dasar tak tahu diri.

Kadang mereka berpindah-pindah dari kepala ke kepala yg lain untuk melanjutkan hidup dan membangun generasi. Seperti manusia tak betah tinggal di bumi dan mencari planet lain yg bisa menampung mereka. Atau dari negaranya ke negara lain demi menyambung hidup.

Manusia hampir mirip dengan kutu. Bedanya manusia makan nasi atau roti sedangkan kutu makan darah. Tidak,  tidak, manusia dan kutu tak ada bedanya. Mereka berdua sama-sama makan darah. Kutu makan darah manusia dan manusia makan darah saudaranya. 

Mungkin aku memang sudah setengah dua belas. Kemiringan-kemiringan aku rasakan saat aku berhadapan dengan ponselku dan aku lupa waktu. Aku berselancar di internet mencari kiat membasmi kutu. Saat kuketik kutu di mesin pencari, maka keluarlah laman-laman yg menampilkan sejarah lahirnya kehidupan kutu berikut cara mengusirnya. Aku tersenyum. Aku bersemangat.

Ketika aku klik link pertama muncullah  promosi iklan. Tak sengaja aku mengikutinya. Aku terpaut pada iklan-iklan berikutnya. Kujumpai krim pemutih kulit, baju-baju hits kostum artis, ramuan herbal pelangsing, mesin pemutih gigi, sepatu, sandal,  dan banyak lagi iklan lainnya tumpang tindih menawarkan produk unggulan. Aku terbuai.

Kali ini aku benar-benar gila. Kegilaanku bukan hanya karena intensitas dg ponsel cerdasku, melainkan kegiatan belanjanya. Tiada hari tanpa mengetik "yang ini ukuran apa aja, Sis? LDnya berapa? Warna hitam ada?“.  Lemariku penuh. Aku membeli lemari baru.

Apa aku manusia ataukah aku seekor kutu yang memburu segala yg kuinginkan seperti saat mereka menggigit kulit kepalaku? Gatal rasanya. Lebih akut dari rasa geli saat kutu-kutu berpindah dari garis belakang telinga ke cekung leher. 

Aku tak mengenali siapa diriku. Kadang-kadang aku menangisi diriku di cermin. Aku bersama teman-temanku tetapi jiwa kami tak terhubung. Aku acuh pada tugas-tugasku. Aku juga ingat pen dan catatan harianku sudah lama tak kusentuh. Duniaku sebatas genggaman dalam layar beberapa inci. Betapa menyedihkannya diri ini.  

Aku rindu diriku. Aku ingin waras dari kesintingan ini. Aku mulai menulis. Barangkali ini mampu menjadi obatnya. Semoga lekas sembuh, diriku.

Tamba Agung Ares,  23 Januari 2018

21 Desember 2017

Merima dengan Sepenuh Hati

Keberuntungan sungguh sangat saya rasakan ketika radar Neptunus mempertemukan saya dengan pasangan saya. Ia bukan hanya seperti ayah yang memenuhi segala kebutuhan, tetapi juga menjadi sahabat tempat berbagi, mendukung, menguatkan, dan mendengarkan. Itu semua telah kami lalui selama lima tahun.

Lima tahun bersama bukanlah perjalanan yang mudah. Demi mengenali kepribadian secara total kami harus melalui berbagai ujian. Ujian itu bahkan sempat membuat kami menyerah. Tetapi jodoh mengikat kami kembali dengan cara rahasianya.

Saya dan semua istri pasti pernah terpuruk dalam masalah rumah tangga. Tidak ada yang mampu mengelak sehati-hati apapun menghindar, karena ia seperti musim. Akan tiba pada masanya datang dan pergi. Maka ketika musim gugur tengah berlangsung yakini saja musim semi akan segera tiba. Dengan begitu perasaan sedih dan cemas akan mudah dilalui.

Masalah yang terjadi sebagai bentuk dari ujian kadang-kadang terkesan sepele. Kitalah yang membesar-besarkannya dengan sikap dan perasaan berlebihan. Contohnya, seorang istri yang melarang suaminya merokok secara tak sengaja menemukan puntung rokok di kamar mandi. Si istri menggeledah seisi rumah (seperti Densus 88) dan menemukan sebungkus rokok di kolong lemari. Karena kesal ia mengamuk dan meremas-remas rokok itu di depan suaminya yang baru pulang mengembala kambing. Terjadilah tayangan ulang perang dunia di antara mereka.

Secara refleks, si istri menuding suaminya bersalah tanpa pernah menyadari bagaimana harus bersikap dalam situasi tersebut. Mereka sama-sama tidak berusaha memperingan dengan introspeksi diri untuk menerima pasangan dan memberinya kebebasan dalam menentukan gaya hidup.

Reza Gunawan, sebagai pakar terapis, berbagi penemuannya dalam membantu mengatasi problema hubungan antarpribadi. Ia berupaya untuk menelusuri benang merah yang menjadi kunci utama dalam sehat tidaknya sebuah relasi. Dan ternyata  yang ia temukan adalah bukan komunikasi, bukan kejujuran, dan bukan juga kesetiaan. Yang menjadi jantung dari keharmonisan hubungan antarpihak ternyata adalah kesanggupan kita untuk menerima dengan ikhlas. Menerima diri sendiri dan juga menerima orang lain, sepenuhnya, apa adanya.


Ketika ujian menimpa rumah tangga saya, beban pikiran di kepala rasanya-rasanya tak sanggup saya pikul. Sempat terlintas bayangan melakukan kecerobohan seperti lari dan menghilang. Di saat pikiran keruh seperti itu, gengsi sangat berjaya.  Tak bertahan lama, semua itu hilang saat saya mencoba untuk meminta maaf. Tak penting siapa yang salah. Permintaan maaf selalu menjadi obat dan menjinakkan keangkuhan. Seberapa buruk pasangan kita bersikap, kita harus kembali menyadari untuk menerimanya sepenuh hati.

Mencoba menyegarkan suasana dengan musik adalah salah satu cara saya mengatasi kebekuan. Setiap pasangan tentu memiliki lagu kenangan setidaknya satu saja dalam hidupnya sebagai soundtrack kenangan di masa lalu. Seperti ibu saya yang kadang-kadang​ menangis ketika Siri, tetangga saya, menyetel hadrah Abdullah Bin Ta'lab lewat corongan TOA. Ibu terkenang almarhum ayah  karena semasa hidupnya ayah  tergabung dalam komunitas hadrah dan menyukai lagu-lagu Bin Ta'lab.

Musik merupakan sarana relaksasi termurah dalam melewati titik jenuh. Melalui musik kita mampu membuat suasana hati terasa nyaman, tenang, optimis, dan bahkan mampu meninggalkan kesan positif. Maka musik sangat ampuh bila dijadikan pedang pemumpas masalah rumah tangga. Kita bisa memutarnya pelan di dekatnya saat ia cemberut.

Demikian pula kebekuan bisa dicairkan dengan obrolan ringan atau sekedar senyuman. Jangan sampai pertengkaran berlarut dan mengendap berhari-hari. Endapannya akan dikelola setan untuk menuntun kita pada perkara halal yang dibenci Allah. Na'udzubillah.

Pernah ada cerita suami istri bercerai hanya lewat kasus sederhana. Tanpa sengaja istri menjatuhkan anaknya sampai kepalanya berdarah. Merasa tidak terima suaminya marah-marah. Percekcokan itu berlangsung sekitar seminggu. Selang beberapa bulan terdengar kabar mereka bercerai. Ada yang mengatakan si istri menemukan sms perempuan lain, ada pula yang mengatakan sebaliknya. Pada saat itulah sesungguhnya setan merasa leluasa mengelola konflik manusia.

Wejangan orang Madura mengatakan, jika bisa melewati tiga hari pasangan akur, maka tunggulah tiga bulan kemudian, jika mampu dilalui maka lihat apa yang terjadi tiga tahun kemudian. Tiga tahun tetap bersama, in sya Allah rumah tangga kebal dan kekal. Saya telah melalui tiga hari, tiga bulan, tiga tahun itu dan berharap tetap mampu menyongsong keharmonisan rumah tangga ini selamanya serta menjadikannya perantara untuk lebih dekat kepadaNya.

Lama sekali saya memikirkan hadiah untuk ulang tahun pernikahan saya yang kelima ini. Banyak pasangan merayakan dengan kue, lilin dan balon lalu mempostingnya di media sosial. Tetapi karena saya hanya orang kampung yang miskin dan tak punya banyak kemampuan meniru gaya hidup borju mereka, maka saya hanya bisa mempersembahkan sebuah tulisan.

Untuk suamiku Muhammad Isni Habibi, selamat hari jadi pernikahan kita yang kelima, 28 November 2017. Semoga rumah tangga kita diberkahi dengan sakinah mawaddah, rahmah, dan senantiasa dalam bimbingan Tuhan. Amin.

21 November 2017

Mata Alternatif Melihat Dunia

Memasuki tahun keempat usia pernikahan dan belum jua dikarunia keturunan bukanlah masalah yang mudah dihadapi. Masalah intern mungkin memang belum pernah terjadi, tetapi serangan dari luar jangan ditanya. Pertanyaan-pertanyaan pedas dengan level bervariasi sudah terlontar berulang kali, menjadi makanan sehari-hari.

Selain benteng mental yang kuat, kreativitas jawaban sangat berperan penting dalam hal itu. Namun yang lebih utama di balik semuanya adalah kesadaran dan intensitas hubungan dengan Tuhan. Dan betapapun ganasnya serangan atau kuatnya dukungan positif dari luar tak ada yang lebih berpengaruh selain komitmen keluarga.
Dalam kasus ini, beberapa pekan terakhir, saya disadarkan dengan kematian sahabat selepas proses persalinannya. Ia menemani dan menuntun proses belajar saya dalam dunia literasi di kampus. Bahkan setelah sama-sama berkeluarga kami tak pernah kehilangan kontak. Masalah yang sama seperti menunggu kehamilan semakin mempersering komunikasi kami. Berbagai tips saling kami bagikan. Kami saling menguatkan satu sama lain. Tentu saja itu adalah modal yang cukup untuk bertahan ketika harus menerima kenyataan bahwa kawan seumuran kita telah dikarunia dua sampai tiga anak dalam selisih waktu yang susul-menyusul.

Kami sempat tertawa-tawa ketika menyadari kehamilan bukanlah lomba. Jumlah anak juga bukan jaminan kita mendapat predikat istimewa dari Sang Pencipta. Dalam ayat suci pun telah dijelaskan bahwa anak adalah bagian dari perhiasan dunia. Kita akan mati membawa amal kita sendiri.
Kenyataan bahwa kini sahabat tempat saya berbagi itu kini telah pergi, membuat saya terpukul begitu dalam. Jujur saja, di malam kematiannya saya tak nyenyak tidur memikirkan singkatnya waktu  dan masa indah kemarin yang baru saja kami lalui. Begitulah maut yang tak pandang usia dan tak bisa ditunda-tunda.

Setelah luka yang dalam itu saya mengais banyak pelajaran berharga. Mata saya mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda. Seperti memperoleh mata alternatif yang menawarkan berbagai arah dan jalan yang tidak selalu sama. Hati dan pikiran saya terketuk untuk berpikir dan menyadari bahwa di balik segala harapan ada Tuhan. Bagaimana pun jalan cerita hidup yang kita lalui saat ini adalah karunia terbaik. Dia lebih tahu dalam mengatur waktu yang tepat dan akhir yang baik. Segala yang kita miliki hari ini hanyalah titipan. Kita sendiri pun tak tahu kapan jasad dan ruh akan terbelah.

(Dimuat di www.voila.id)

Hari Raya dan Godaan Berbelanja

Guru saya, M. Mushthafa, berdiri di atas podium menyampaikan tausiah lingkungan dalam acara perayaan hari jadi Pemulung Sampah Gaul (PSG) SMA 3 Annuqayah, bulan April lalu. Beliau berbicara panjang tentang bagaimana mengubah pola konsumsi demi selamatkan lingkungan. Terutama kepada orang-orang yang mengaku pecinta lingkungan.

Tausiah dibuka dengan cerita-cerita ringan. Salah satunya diolah dari tulisan seorang ahli biologi dan pakar lingkungan bernama Garret Hardin dalam bukunya yang berjudul The Tragedy of the Commons, 1968. Tak hanya dari buku, beliau juga menyampaikan cerita kitab Risalah al-Qusyairiah yang dikutip oleh Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin. Cerita-cerita inilah yang membuat saya tertarik untuk membahasnya kembali melalui kasus serupa dalam kehidupan nyata kita.

Dalam Ihya Ulumuddin, al-Ghazali membahas seorang sufi bernama As-Sari as-Saqati yang mengaku telah menahan diri tidak memakan roti selai selama empat puluh tahun. As-Sari tidak pernah tergoda meski roti yang diinginkannya justru selalu ada di sekitarnya. Inilah gambaran ulama yang mampu mengendalikan diri untuk tidak mengkonsumsi sesuatu yang nikmat walau itu halal.
Mari kita ke pasar dalam minggu-minggu terakhir bulan Ramadan. Maka Anda akan menyaksikan pemandangan tawaf tak beraturan dengan jamaah beragam jenis, mulai dari tukang parkir, pencopet, jambret, pengemis, pedagang jujur sampai yang menipu, juga pembeli sejati atau sekedar bertanya-tanya sembari memantaskan diri. Segala ragam manusia ini sama-sama bertujuan meraih kemenangan. Kemenangan dalam versi yang diciptakan kepala sendiri.

Hari raya memang selalu identik dengan belanja. Selain kebutuhan dapur, belanja pakaian juga menjadi yang utama. Kue-kue dan aneka makanan berat disiapkan menyambut kedatangan famili. Euforia hari kemenangan yang berada di depan mata selalu tak lepas dari gaya belanja membahana. 

Bagaimana jika as-Sari hidup di zaman ini? Atau seseorang yang mengaguminya meneladani perilakunya dengan bertahan di tengah arus konsumsi gila-gilaan? Misalnya tidak membeli pakaian selama sepuluh tahun? Sementara godaan untuk tidak berperilaku konsumtif semakin hari semakin sulit. Serbuan iklan, godaan teman-teman, dan rayuan macam-macam kanan kiri dapat membangkitkan naluri kemanusiaan kita untuk juga mengikuti tren masa kini. Apalagi kian hari kita kian sejahtera. Uang kita semakin cukup bahkan lebih untuk bisa memanjakan nafsu untuk konsumsi. Ini seolah membenarkan penelitian bahwa orang-orang membuka situs belanja di internet sekitar 20 menit setiap hari. Lalu apa masalahnya?

Contoh as-Sari dalam Ihya Ulumuddin sebenarnya adalah untuk menggambarkan bahwa at-tana'um bil halal (bernikmat-nikmat dengan yang halal) sebenarnya merupakan sesuatu yang berbahaya. Jika digambarkan dalam era ini, maka sudut pandangnya akan mendorong kita pada perilaku konsumtif yang berlebihan yang akhirnya akan membuat masa depan generasi kita semakin terancam. Sampah rumah tangga membeludak, sampah industri pun tak terbendung.

Saya tak mau menafikan diri bahwa saya juga belum mampu meneladani as-Sari. Di tengah terpaan rayuan pelapak, hati saya juga terdorong untuk berbelanja. Namun bila boleh jujur, saya membeli pakaian satu kali selama setahun, hanya ketika lebaran. Jika kita bersama-sama melawan ganasnya godaan belanja di hari raya mungkin kita akan mampu menyederhanakan situasi. Sebab serangan yang dihadapi bersama akan terasa ringan dan hasilnya adalah kemenangan yang hakiki.

(Dimuat di www.voila.id)