12 April 2018

Akulah Akar Kecil

Selamat ulang tahun, diriku. Akar kecil yang menapaki bumi kini menjuntai menjadi pohon besar. Namun bukan berarti ia telah mampu menggapai langit. Tidak masalah, dedaunan rimbun mungkin bisa menaungi sekitar. Memberi kasejukan pada mereka yang tercinta.

Tangga dua puluh enam adalah angka yang hampir mendekati kepala tiga. Tinggal empat langkah lagi, usiaku sudah bukan remaja. Apakah anak-anak ingin cepat besar lalu disebut sebagai orang tua? Lalu mengapa orang tua sibuk meniru gaya anak muda?

Orang tua memiliki anak. Anak-anak tumbuh menjadi orang tua. Begitulah siklus kehidupan yang di setiap jenjangnya memiliki dunia sendiri. Dunia yang tak mampu diulang kembali.

Maka resapi apa yang terjadi saat ini. Titi yang tak mungkin dijalani balik. Buang segala yang menyesakkan. Redam segala kekalutan. Lemparkan kesedihan ke dalam jurang paling ngarai. Biar ia musnah dalam balutan duri-duri kegelapan.

Tutuplah pintu ingatan pada hal buruk. Kunci serapat mungkin agar tak ada celah bagi gelisah untuk menjajah. Bebaskan batin untuk menduduki tahta tertinggi di singgasananya. Biarkan ia berkuasa menjadi pemimpin bagi jalan masa depan.

Aku meyakini di sekitarku banyak orang-orang baik yang diam-diam mendoakanku. Maka apa yang perlu dikhawatirkan dari secuil ujian? Doa-doa mereka adalah yang terbaik, yang kan membantuku meraih bola impian. Teruslah mengalir, wahai kebaikan.

Selamat ulang tahun, diriku. Akar kecil yang menapaki bumi kini menjuntai menjadi pohon besar. Semoga ia benar-benar rindang, meski belum mampu memberi buah manis untuk makhluk sekitar yang menunggu. Aku juga masih menunggu.

02 Februari 2018

Bedugul, Akankah Kita Berjumpa Lagi?

Cuaca mendung siang itu, pada tanggal 3 Februari 2013, tak menyurutkan tekad kami untuk sampai di Bedugul. Kami sudah tak sabar menyaksikan keindahan danau Beratan yang selama ini hanya kami lihat di gambar. Maka kami berempat, saya, Eng (panggilan untuk suami), Devi dan Ayik berangkat menggunakan motor dengan berbekal jas hujan.

Kami berangkat dari Sesetan, Denpasar, rumah saudara yang bekerja di Bali sejak delapan tahun yang lalu. Kesempatan untuk berlibur di tempat yang menjadi ikon pariwisata di Indonesia itu menjadi sangat leluasa bagi saya, karena akses transportasi gratis, berupa mobil travel, milik Kak Mus bisa saya manfaatkan kapan saja. Maka libur smester waktu itu saya gunakan untuk berlibur sekaligus bulan madu. 

Objek wisata yang menjadi target kala itu adalah, Kuta, Sanur, Serangan, Waterboom, dan Bedugul. Danau Beratan menjadi target utama karena lokasinya cukup jauh dari Sesetan. Danau Beratan terletak di kawasan Bedugul, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Danau ini berlokasi pada ketinggian sekitar 1.239 meter di atas permukaan laut. Jadi saya sudah bisa membayangkan jalanan menanjak yang akan saya lalui. Berangkatlah kami menerobos gerimis.

Sesampainya di terminal Mengwi, hujan tutun begitu lebatnya, memaksa saya meringkuk di dalam jas hujan. Tentu saja tak ada keindahan yang dapat di saksikan dalam kondisi hujan selebat itu. Saya hanya pasrah dan berdoa semoga cuaca segera reda.

Hujan berangsur-angsur reda saat kami memasuki desa Pacung. Dari situ tersingkaplah pemandangan yang ingin saya saksikan. Jalanan yang licin dan berkelok-kelok membuat saya sedikit getir.  Namun semua terbayar dengan keindahan alam yang luar biasa memikat.

Di sepanjang jalan, saya menyaksikan pohon-pohon menjulang rapi. Kebun sayur mayur tumbuh subur. Warna merah strawberry juga sangat memanjakan mata. Beberapa tikungan tajam dan tanjakan terjal sudah tak saya hiraukan lagi.

Sayangnya kala itu saya tak berani mengeluarkan ponsel untuk mengambil gambar karena gerimis masih belum usai. Ditambah lagi cuaca yang semakin dingin serta kabut tipis memaksa saya hanya merekamnya dalam ingatan.

Kami melewati Kebun Raya Eka Karya, lalu pasar Candi Kuning yang menjajakan oleh-oleh kripik tela dan bayam khas Bedugul, sebelum akhirnya sampai di pintu gerbang danau Beratan. Ayik membayar parkir empat ribu untuk dua motor. Lalu kami menuju stan penjual makanan.

Mula-mula suamiku ingin membeli nasi. Saya tak berani karena takut lauknya tidak halal. Tapi kata Ayik di tempat itu rata-rata penjualnya muslim. Karena masih was-was kami memilih pop mie instant. Sehabis mie kami pindah ke gerobak jagung bakar. Masing-masing kami menghabiskan jagung bakar berukuran jumbo dengan pilihan rasa pedas berlevel. Perjalanan sekitar satu jam tiga puluh lima menit melewati rute terjal ternyata menciptakan rasa lapar yang akut.

Rencananya kami akan menyewa speed boat untuk mengelilingi danau. Tapi lagi-lagi cuaca tidak mendukung. Kawasan mulai sepi. Kami mengembalikan tiket yang sudah kami bayar ke loket karena gerimis menebal menurunkan rintik serupa pecahan es. Kecewa rasanya mengingat tujuan utamanya memang keliling danau.

Kami menebus kekecewaan itu dengan belanja. Banyak pedagang menawarkan buah strawberry, salak, dan anggur yang dibanderol dengan harga sangat murah. Juga pakaian pantai berjenis katun rayon diobral dengan harga saudara kandung. Kami menikmati momen itu sembari menunggu para suami shalat asar di masjid al-Hidayah yang terletak di ketinggian. Kebetulan, waktu itu kami sama-sama berhalangan.

Hanya dari kejauhanlah kami bisa menyaksikan Pura Ulun Danu berdiri tenang di atas danau, seperti di gambar uang kertas lima puluh ribuan. Pura itu merupakan sebuah bangunan suci umat Hindu yang dibangun untuk memuja Dewi Danu sebagai pemberi kesuburan. Bangunan Pura itu adalah candi berusia tua yang terawat dengan baik dan bersih. Karena itulah, danau Beratan dianggap juga sebagai danau gunung suci.

Uniknya, dua bangunan milik umat Muslim dan Hindu bersatu di tempat yang berdekatan. Itu menjadi simbol toleransi beragama yang begitu kuat, mengingat orang-orang hanya mengenal tempat itu sebagai kawasan mayoritas Hindu. Tetnyata salah, masyarakat Muslim di tempat itu juga banyak. Terbukti dari maraknya perempuan berhijab yang berdagang di sepanjang kawasan danau. Entah mereka penduduk lokal atau hanya pendatang. Intinya kerukunan umat beragama di tempat itu menjadi simbol unik yang perlu diteladani. 

Setelah cuaca terang, kami memilih pulang kerena waktu sudah mulai petang. Kami meninggalkan Bedugul dan berharap bisa berkunjung lagi di kemudian hari.

01 Februari 2018

Gerhana Bulan dan Kenangan Manis di Kampungku

Kenangan masa kecilku dibangkitkan kembali oleh gerhana bulan, malam tadi. Berbagai mitos yang menyertainya merupakan hal yang manis untuk dituliskan. Tentunya tanpa perlu mendengar ocehan ilmuwan tentang betapa bodohnya kami yang hingga kini masih percaya pada sesuatu yang tak berdasar. 

Saat gerhana bulan terjadi, anak-anak kecil di kampungku ditenteng kepalanya dan diayun-ayunkan ke udara seraya dimantrai "bangun-bangun! Kamu harus bangun biar pintar". Mereka tak mengeluh sedikitpun, bahkan saling menertawakan ekspresi wajah mereka saat tangan kekar para orang tua mencengkeram kedua telinga dan mengangkatnya kuat-kuat.

Pohon-pohon juga dibangunkan seperti orang tidur. Katanya biar subur dan berbuah lebat. Seperti sulap, pohon yang asalanya tidak berbuah, akhirnya benar-benar bisa berbuah. Bukan karena percaya akan kekuatan bulan, melainkan kami membenarkan bahwa gerhana bulan adalah tragedi mistis yang menyimpan banyak rahasia ilahi.

Bulan seperti melukiskan sosok perempuan. Saat kutanya pada nenek, beliau mengisahkan tentang ibu Randakasihan. Randa kasihan katanya seorang janda yang ditinggal mati suaminya. Karena tak sanggup menanggung kesedihan di bumi maka ia pindah ke bulan.

Berbeda dengan mitos Jawa yang banyak dituliskan tentang keangkeran gerhana bulan, orang-orang di kampungku malah menganggapnya sebagai berkah dan keindahan. Kami para anak kecil tak pernah dikisahkan dongeng raksasa yang memakan bulan seperti cerita masyarakat Tidore. Pun juga tak pernah dikenalkan dengan Jaguar pemakan bulan sehingga bulan merah mengalirkan darah seperti cerita dari suku Inka. Jadi kami tak perlu menabuh kentung atau menodongkan tombak ke udara untuk mengusir raksasa. Bagi kami, gerhana bulan bukanlah hal yang perlu ditakutkan.

Masyarakat di kampungku menunaikan shalat sunnah di surau memenuhi panggilan Pak Suhra melalui corongan TOA. Kadang-kadang ada yang membawa aneka makanan berupa ketan urap atau ketupat untuk dinikmati bersama selepas berjemaah. Mirip dengan ritual bulan Sya'ban, maulid Nabi dan malam likuran bulan puasa. 

Saat memandang gerhana bulan di rumah suamiku, rasanya aku sedang menyaksikan kenangan manis masa lalu di kampungku. Kunikmati kecamuk rindu sendirian tanpa perlu ditanggung Dilan. 

30 Januari 2018

King Kong Jadi-Jadian di Rumah Tetanggaku

Percaya atau tidak, salah seorang tetanggaku sering diganggu makhluk halus. Tubuhnya menyerupai gerandong dalam serial Misteri Gunung Merapi. Makhluk itu tidak berbulu, melainkan berkulit kasar seperti sisik reptil. Badannya sebesar king kong dewasa.

Saban malam makhluk itu muncul di jam yang sama, saat jarum jam mengarah angka 03.00 WIB dini hari. Kehadirannya selalu dibarengi dengan bunyi burung perkutut. Bunyi itu bagai alarm agar si pemilik rumah siaga.

Mula-mula ibu D dikagetkan dengan suara hentakan orang dewasa bernada sumbang. Ia membangunkan suaminya, mengira ada maling. Saat diperiksa, di luar ada bayangan tiga kali lebih besar dari tubuh manusia. Bayangan itu mendekat menembus pintu ruang utama. Ia berubah wujud menjadi king kong. Wajahnya seperti bingung mengendus benda-benda.

Ibu D gemetar di balik pintu kamarnya saat merasa makhluk itu mencari dirinya. Sementara pak F, suaminya, tetap berusaha tenang meski si istri tahu di balik sikapnya, ia memiliki kecemasan yang sama. Keduanya berusaha tak bersuara.

Makhluk itu menyembulkan taring tajam ketika menganga. Seperti telah menemukan mangsa ia mengangguk-angguk berjalan gontai menuju sasaran. Dalam sekejap tubuh ibu D dan bapak F  tak bisa digerakkan. Hanya saja mereka berdua sadar bagaimana makhluk berkulit kasar itu meraba tubuh mereka. 

Bapak F teringat untuk membaca ayat kursi. Badannya bergetar seperti kena setrum. Saat tubuhnya kembali normal, ia mengambil sapu lidi dan memukulkannya ke tubuh makhluk itu. Namun tindakannya tak berpengaruh. Bahkan si genderuwo mesum itu terus meraba tubuh ibu D.

Merasa kesal, dalam kondisinya yang tak punya wudhu, bapak F memberanikan diri menyentuh al-Quran dan membacanya secara acak. Tentu saja genderuwo itu semakin tertawa-tawa karena bacaaanya yang belepotan. Pak F tak kehilangan cara. Ia membaca amalan dzikir yang ia tahu sebagai pengusir makhluk halus. Namun seperti anak nakal, sosok besar menjulang di hadapan pak F itu terus dan terus saja berkasi. Tubuhnya berguling-guling riang. Sesekali tangannya menampilkan gerakan tari.

Barulah setelah subuh tiba, makhluk itu sirna. Ia ketakutan mendengar suara adzan dari corongan TOA.  Pak F sadar satu-satunya cara yang lupa ia coba adalah adzan. Kini ia lega mendapati istrinya tak terluka sedikit pun. Meski tak dapat dipungkiri, kondisi psikis mereka kini tidaklah baik-baik saja.

Pada malam-malam berikutnya makluk itu datang dengan cara-cara yang tidak sama. Pernah secara tak terduga tubuh pak F diangkat tinggi-tinggi. Istrinya heran dan akhirnya ia percaya bahwa adegan-adegan aneh dalam sinetron misteri di televisi itu bukanlah karangan tapi hasil pengalaman. Tersebab bu D tahu kelemahan makhluk itu adalah adzan, maka ia mencobanya. Benar saja, makhluk itu mengempes seperti balon bocor dan menghilang bersama angin.

Selama hampir setahun pak F dan bu D mengalami penyiksaan mental. Mereka merahasiakan kejadian itu dari para tetangga. Tetapi dari cara mereka menghuni langgar bambu di samping rumahnya mengundang tanya orang-orang. Dari kecurigaan itu, terkuaklah rahasia besar yang membuat seluruh warga simpati.

Mengikuti saran dari tetangga, pak F dan bu D mencari orang sakti untuk mengusir makhluk jahat itu. Betapa herannya mereka saat mbah dukun menyatakan bahwa sosok yang mengganggu mereka adalah makhluk jadi-jadian. Seseorang yang jahat telah menaruh guna-guna dengan mengganti satu gentingnya dengan genting atap keranda.

Seingat mereka, selama hidup belum pernah punya musuh. Ada orang iri pun rasa-rasanya tidak mungkin, mengingat hidup mereka jauh dari kata sejahtera. Mereka berdua hidup apa adanya.

Rumah yang mereka huni tidaklah mewah. Hanya bangunan tua, sempit dan memiliki dua kamar. Anak sulung mereka ikut istrinya dan si bungsu merantau ke pulau Dewata. Hanya ketika lebaran saja mereka punya kesempatan berkumpul. Maka jika ada yang dengki dengan keluarga mereka, kemungkinan besar karena kesuksesan atas usaha anak gadis mereka di Bali. 

Maka untuk mengatasi masalah yang meninpa keluarga pak F dan bu D, didatangkanlah orang sakti ke lokasi. Secara rahasia, genting itu diambil oleh orang yang ahli mengambil guna-guna. Rumah mereka kembali aman. Tetapi, trauma yang menyiksa selama ratusan hari membuat pak F dan bu D tak nyaman lagi tinggal di rumah itu.

Dibuatkanlah rumah untuk mereka oleh anaknya bungsunya. Pada masa pembangunannya, Pak F dipanggil oleh Yang Kuasa. Penyakit liver yang dideritanya mengantarnya pada ajal. Kini bu D tinggal bersama cucunya yang berusia tiga tahun.

Dalam kesepiannya ia merasa takut jika secara tiba-tiba makhluk jadi-jadian itu  kembali menganggunya yang kini kehilangan pelindung. Ia bahkan sering menanangis sendirian saat mengenang masa-masa menyedihkan bersama suaminya. Terpancar raut yang lebih dalam dari luka di matanya ketika ia menceritakan secara rinci kepadaku, waktu itu. 

29 Januari 2018

Jadi Hantu Gara-Gara Nyabung Ayam

Selain karena mati penasaran, amal hidup sesorang ternyata dapat menentukan apakah setelah dia mati akan jadi hantu atau tidak. Jika ada orang shaleh mati, jangan takut, arwahnya tidak akan gentayangan. Tapi jika yg mampus adalah penjudi, pezina dan semasa hidupnya suka nyabung ayam, maka hati-hatilah!

Seperti kisah nyata di kampungku yang geger masalah hantu, bertahun lalu. Sejak kematian bapak M yang tak bisa saya sebutkan namanya terkait kondisinya di alam barzah, hampir tidak ada warga yang berani keluar rumah menjelang magrib. Tak terkecuali Yadi, manusia antik seantero kampung.

Yadi dikenal sebagai pawang kuntilanak. Pendengarannya sangat tajam untuk membedakan suara-suara dari alam ghaib. Banyak orang datang ke rumahnya meminta bantuan mengusir arwah jahat.
Baginya dunia perhantuan seremeh mengunyah tahu. Tapi kali itu, ia bagaikan Wiro Sableng kehilangan kapaknya, tak berarti apa-apa.

Setelah seseorang bertanya kepada Yadi, ia mulai bersuara. Ceritanya, setelah tujuh hari kematian bapak M, ia berjalan di malam yang cukup larut, di tempat yang sepi, hendak mengunjungi rumah teman seperdukunannya. Ia sangat acuh pada cerita-cerita warga tentang keresahan mereka. Maksud hati, Yadi ingin menantang si hantu.

Dalam perjalanannya, ia tanpak santai dan sesekali bersiul. Tiba-tiba muncul seekor kucing hitam sebesar anjing di depannya. Kucing itu bermata besar seperti lampu senter. Tubuhnya menghembuskan bau bangkai yang mengoyak-ngoyak isi perut Yadi. Ia tersenyum tak merinding sedikitpun, karena baginya itu hal biasa. Yadi seperti sudah kawan akrab dengan hantu, seperti sudah famili. Jadi jika hanya bebaun macam itu, ia tak kan kabur. Ia hanya menutup hidungnya dan terus saja berjalan. Malah dalam hatinya ia berharap bisa berjumpa dengan sosok si gentayangan.

Tak lama, harapannya terkabul. Muncul makhluk besar di hadapannya dengan muka busuk seperti bekas gigitan ulat. Giginya lebih gelap dari gigi Mak Lemper. Matanya bolong sebelah, sebelahnya lagi meleleh ke pipi. Darah mengucur di sekujur tubuhnya. Yadi terkesiap. 

Ia membaca mantra andalannya, namun makhluk dua kali lebih besar dari badannya yang mungil itu semakin mendekat. Yadi mulai kehabisan cara  saat semua jurusnya telah ia coba. Makhluk itu menjulurkan tangannya seperti hendak meraihnya. Yadi berhasil melesat. Namun kali itu ia apes. Secara tak terduga lidahnya kaku. Sekujur tubuhnya bergetar hebat sebelum akhirnya tak mampu ia gerakkan. Persis seperti tengah memainkan mannequin challange.

Maka dengan sekali tangkap Yadi telah berhasil dijamah oleh makhluk di hadapannya. Kuku-kuku panjangnya mencakar pakaian Yadi sampai comopang camping. Setelah hampir setengah jam ia diuber-uber si hantu, barulah tubuhnya kembali normal. Makhluk halus yang menampakkan diri itu sirna ditelan angin. Yadi lari terkencing-kencing sembari bergumam jera tak ingin lagi berurusan dengan hantu, apapun wujudnya.

Kekalahan telaknya melawan hantu bapak M semakin meyakinkan warga agar lebih waspada. Pintu dan jendela di tutup rapat menjelan magrib. Seluruh warga seperti enggan keluar rumah, meski hanya untuk buang air kecil ke kamar mandi di halaman belakang.

Setiap malam, saya pun menyediakan seember air dan bak kosong untuk menjaga kemungkinan kepingin pipis di malam hari. Ember itu bukan hanya saya letakkan di ruang tamu, melainkan di dekat ranjang.  Namun seperti undian, tibalah giliran saya sebagai tuan rumah.

Waktu itu memang musim penghujan disertai angin kencang. Kata orang Madura "bharat kapettoh" angin putaran ketujuh, merupakan puncak tergilanya angin. Dari beranda rumah muncul suara seperti kursi di tarik-tatik. Makin lama tarikannya makin panjang. Saya terjaga dan mulai panik. Saya membangunkan seluruh keluarga. Mereka semua mengaku juga mendengar hal serupa.

Ibu mencoba menenangkan dengan berdalih kalau itu sepeda miko, keponakan saya, yang lupa ia masukkan ke rumah. Tapi jelas suara itu bukan roda sepeda, melainkan kursi. Tarikan demi tarikan terus berlanjut menambah ketegangan. Suara itu terhenti saat kami sekeluarga sepakat mengaji yasin tiga kali dikhususkan untuk arwah bapak M. 

Keluarga saya masih untung tidak menerima teror penampakan seperti tetangga sebelah. Mula-mula seperti ada yang melempari gentingnya dengan kerikil. Disusul lompatan mirip gerakan pocong di atap sengnya. Lalu ada tanah bekas langkah kaki memanjang. Dan terakhir ia menampakkan wajah busuknya di jendela. Si pemilik rumah pingsan berjam-jam. Setiap kali makan, isi perutnya selalu dimuntahkan.

Begitu juga dengan tetangga yang lain. Mereka semua mendapat giliran teror hantu si buruk rupa. Kadang hanya dalam bentuk bebauan, suara benda, atau sapaan hangat, "Heeemmm".

Kampung kami kembali aman saat keluarga bapak M menemukan dukun pengusir hantu paling profesional. Kabarnya di kuburannya dipasangi beras jagung, gumpalan jimat, dan ditanami bunga melati sebagai wujud lain dari harimau penjaga yg mampu mencengah bapak M keluyuran lagi.

Kejadian itu menjadi peristiwa teguran bagi seluruh warga. Jangan sekali-kali berjudi, berzina, dan nyabung ayam kalau tak ingin jadi hantu.

28 Januari 2018

Kenangan Paling Sedih

Kenangan paling menyedihkan di masa kecilku yang jika diingat sekarang aku masih tetap menangis adalah mendengarkan murottal syeik Abdul Rahman Al-Sudais, surat An-Naba'. Waktu itu, dalam perjalanan menuju pertunjukan gajah di Lapangan Guluk-Guluk aku numpang mobil salah satu kerabat dekat yg kebetulan memutar murottal surat-surat pendek. Kira-kira usiaku masih sembilan tahunan.

Kesedihanku bukan karena paham dengan makna surat Al-Qur'an tadi, melainkan karena tak mengantongi uang sepeserpun. Aku beragkat memenuhi ajakan teman sepulang sekolah saat ayah dan ibu sedang tidak di rumah.

Sepanjang perjalanan aku membayangkan teman-teman yang lain membawa uang jajan yang banyak dan bisa membeli apa yang mereka suka. Sementara aku tak tahu harus menjawab apa ketika mereka mengajakku belanja.

Di lokasi pertunjukan, kami berkumpul di balik pagar bambu yang disediakan panitia. Kulihat ada perempuan maju ke tengah lapangan untuk dicium sang gajah. Suasana tegang sejenak, lalu kembali ramai oleh tepuk tangan para penonton ketika sang gajah menunduk dan menciumnya seperti pangeran dalam dongen si buruk rupa. 

Dalam keseruan aku bersyukur tak ada seorang pun teman rombonganku yang pergi beli-beli. Namun ketika acara resmi bubar, mereka semua berhamburan menuju stan bazar penjual makanan dan mainan. Mereka tak menyadari aku mematung di kejauhan sembari meneteskan satu dua air mata. 

Dadaku sesak oleh perasaan ingin yang tak mampu kugapai. Tubuhku bergetar menjalarkan kekeluan. Tungkaiku seperti tak bisa digerakkan. Dengan perlahan aku berusaha menuju mobil untuk masuk duluan.

Saat paman membuka pintu, kupilih kursi pojok paling belakang untuk mengatur napas. Paman curiga mendengar suara sesenggukan. Ia bertanya mengapa aku menangis. Aku menjawab pusing dan sakit perut. Ia menyuruhku berbaring.

Kututup mataku rapat-rapat. Dalam pejamku yang paling pedih, aku mendengar lantunan surat An-Naba'. Ayat-ayat itu perlahan mengurangi beban di dadaku tapi tidak dengan air mataku.

Teman-teman kembali ke mobil dengan belanjaan yang banyak dan sebagian menikmatinya di jalan. Mereka heran melihatku. Panman menjelaskan alasanku. Aku lega mereka tak curiga. 

Mobil melaju dengan cepat. Dari kaca yang terbuka aku melihat langit suram. Udara dingin. Alam seperti kompromi mendukung kesedihanku. Juga irama Al-Qur'an yang mendayu lewat sound kecil di belakang kursi tempatku berbaring. 

28 Januari 2018

Si Buta dari Gua Payudan

Kamis sore minggu lalu, aku terjebak hujan di lokasi pembuangan mayat korban carok. Waktu itu aku jalan kaki karena ban motor suami kempes. Aku memilih tidak membonceng karena takut kasus kempes tadi merambah pada rusaknya velg.

Suamiku berkali-kali menawari agar aku ikut. Aku masih bersikukuh menolak. Opsi lainnya, seperti barang, aku dititip di rumah temannya. Ia akan menjemputku saat motornya sudah pulih. Aku setuju.

Diam-diam aku memilih meneruskan perjalanan saat suamiku sudah berangkat. Pikirku agar ia tak jauh-jauh menjemputku karena hari sudah mulai petang. Aku ingin cepat sampai di rumah.

Bengkel masih jauh, kata orang yang kutanya di pinggir jalan. Alamak! Sandal baru yang kebetulan pertama kali kupakai  alamat tipis dimakan aspal. Aku menyesal tak memakai sandal yang lama.

Kecamuk batinku reda saat langit tiba-tiba mendung dan hari seperti beringsut lebih cepat. Suasana petang dan angin kencang mempercepat langkahku. Tak kupedulikan lagi sandal dan ransel sesak di pundakku. 

Rute yang dipilih suamiku kali ini benar-benar menantang. Dari Ambunten kami memilih  jalur Cempaka-Sa'im menuju rumahku, Tambuko. Karenanya angan-anganku semakin kusut membayangkan hal yang tidak-tidak. Bibirku tak hentinya membaca doa-doa keselamatan dalam perjalanan.

Kata guru ngajiku, ada satu amalan doa yang jika dibaca maka tubuh kita tidak akan terlihat oleh orang jahat. Doa itu kurapalkan berkali-kali sampai lidahku terasa kaku. Bacaanku terhenti oleh gerimis yang mula-mula jatuh sangat tipis. Kemudian dilanjut dengan rintik hujan sebesar biji jagung.

Aku menyesal tidak patuh pada suamiku. Jika tadi aku tidak ceroboh maka saat hujan ini datang aku bisa numpang berteduh di rumah orang. Rumah warga tampaknya masih jauh. Untuk putar balik aku merasa perjalanan yang kupilih akan sia-sia.

Dalam kondisi bingung dan cemas aku menyadari empat hal. Satu, Sa'im sejak dulu kala dikenal dengan lokasi aksi para perampok. Dua, ternyata aku akan melewati tempat pembuangan mayat korban carok. Tiga, ponselku kuletakkan di tas suami sehingga aku tak punya kesempatan berkomunikasi. Dan empat, merupakan yang paling parah, kala itu adalah malam Jum'at!

Di kanan kiriku hanya semak belukar dan pohon-pohon jati merindangi jalan. Kesialan ini telah berlapis-lapis kuterima. Sementara suamiku pasti merasa tenang karena mengira aku aman di rumah kenalannya. Entah bagaimana nasibnya.

Aku berhenti sejenak saat tiba di tanjakan curam karena lututku rasanya mau patah. Napasku tak dapat diatur. Dalam hati aku berdoa agar suamiku segera datang atau adanya keajaiban lain yang meringankan beban penderitaanku. Misalnya ada orang baik yg lewat dan menawari tumpangan. Namun seperti cobaan yang sangaja menantangku, tak ada satu pun kendaraan atau orang lewat.

Aku pasrah dengan keputusan Allah. Aku yakin Dia tengah menguji mentalku yang lemah. Kesadaranku itu mengurangi keresahanku perlahan-lahan.

Ketika aku menoleh, di kejauhan aku melihat lampu mobil searah dengan tujuanku. Bagaimana pun aku akan memohon pertolongan pada pemilik mobil itu. Harapan terbesarku semoga aku tidak dipertemukan dengan orang jahat yang akan mencelakakanku.

Mobil Carry semakin mendekat mewarkan harapan begitu kuat. Namun aku tak langsung menampakkan diri karena ingin memastikan pemilik mobil bukanlah preman. Begitu firasat baikku mendukung aku menyetop dengan melambaikan tangan beberapa kali.

Mobil itu berhenti. Sopirnya memakai peci. Pikiranku mulai terkendali.

Aku dipersilakan masuk dan duduk di kursi tengah bersama dua orang perempuan berjilbab. Aku menduga itu adalah mobil seorang kiai. Hatiku sungkan namun ikut bersama beliau adalah pilihan terbaik.

Di jalan, aku ditanya macam-macam. Aku menjawab seperlunya dengan sopan. Aku balik bertanya di mana alamat si pemilik mobil. Salah seorang di antara mereka menjawab dengan cepat, Karduluk.

Obrolan ringan tadi mencairkan suasana hatiku. Tak hentinya kuucap syukur di dalam hati. Bagaimana pun kejadian itu adalah pengalaman yang sangat mengerikan di dalam hidupku.

Hujan mulai reda. Di pertigaan jalan Ganding nanti aku akan meminta diturunkan karena arah pemilik mobil berlawanan dengan tujuanku.

Ganding hampir tiba, aku berpikir untuk meminjam ponsel pada pemilik mobil untuk menghubungi suamiku. Namun aneh, saat perempuan di samping kananku hendak memberikan ponselnya, tiba-tiba ia memasukkan lagi ke dalam sakunya setelah mendapat kode mata dari perempuan satunya. Aku mulai curiga.

Kuperhatikan baik-baik kabin mobil. Kursinya kusam dan bau apek. Dashboardnya juga remuk tak karuan.

Saat hatiku mendadak tidak tenang, kurasakan kakiku seperti basah oleh genangan air. Karena ruangan gelap aku mengira itu adalah air mineral yg tumpah di kursi belakang.

Kakiku mulai terasa gatal. Kugaruk dengan tangan kananku. Dan astaga! Secara tak terduga tiba-tiba menyeruak bau amis. Tak salah lagi, itu darah! Mataku terbelalak tegang.

Aku belum berani menoleh karena dua perempuan yang mengapitku memperhatikan gerak badanku. Aku pura-pura bingung akan keberadaan suamiku. Setelah aku berkesempatan menoleh, melalui remang cahaya lampu jalan, dalam sekali lirik aku melihat seorang lelaki disandarkan pada pojokan mobil dalam kondisi kepala penuh darah.

Degup jantungku sangat kencang seperti mampu didengar semua orang. Badanku menggigil oleh rasa dingin dan takut. Aku menelan ludah. Aku menyesal telah memilih berada di tempat yang salah.

Apa yang harus aku lakukan dalam kondisi yang begitu dekat dengan maut? Sementara kesempatan untuk mencelat sangatlah minim. Kalau aku berteriak minta tolong, itu berarti aku mempercepat ajalku. Kalau aku memilih melompat, aku harus melawan dua perempuan di sampingku, dan belum tentu aku selamat. 

Tubuhku bergetar hebat memilih dua opsi yang sama-sama membahayakan hidupku. Sesungguhnya rejeki, jodoh,  dan maut sudah diatur Tuhan. Jika kali ini adalah giliranku, maka aku siap. Tetapi jika tidak, Tuhan pasti menunjukkan jalan lain dengan cara rahasinya, apapun itu.

Suara perempuan di sampingku mengacaukan lamunanku. Aku kembali sadar dan mencoba bersikap tenang. Sekilas pintas berkelebatlah bayangan-bayangan mereka yang kusayang. Seperti diputar ingatan, gambar ibu, suamiku, kakak, Miko, Upik, Alya, dan Nia silih berganti memenuhi pikiran.

Sebelum tiba di pertigaan Ganding, mobil berhenti, tepat di bawah pohon siwalan tua bangka. Mungkin di sinilah mayatku akan disandarkan. Dua perempuan di sampingku memegang pergelangan tanganku. Pak Supir yang dari suaranya bersahaja berubah menjadi sangar. Ia menjulurkan tubuhnya dari kursi depan. Tangan kirinya meraih belati mungil dari bantalan sarungnya. Sialnya, tanpa sempat bertanya apa salahku, mulutku telah disumpal kerudung kecil.

Ketika belati itu siap mencongkel mataku, sebuah tangan kekar menutup mukaku. Aku tak bisa bernapas. Ternyata itu adalah tangan suamiku yg terbaring di sampingku. Alarm berbunyi menunjukkan pukul 03:30 dini hari. Seperti sapi tua, aku malas bangkit memikirkan jika kejadian tadi bukanlah mimpi, maka kini aku telah menjadi si buta dari gua Payudan.

 
Copyright 2009 KILAU CORN