22 Juni 2016

Kejujuran yang Tertunda


Suatu sore yang santai di bulan Juni 2015, saya mengajak suami ke rumah sahabat di Batuampar, Guluk-Guluk, Sumenep. Jarak dari rumah kami hanya berbatas 4 desa ke arah barat. Bermain ke rumah teman menjadi pilihan kami sebagai salah satu kegiatan positif untuk sharing dan atau mencurahkan isi hati.

Sahabat bagi saya bagaikan keluarga. Mereka adalah rumah di mana kita bisa berbagi suka dan duka. Biasanya sahabat akan semakin akrab jika memiliki kesamaan atau keberagaman yang dapat dipadukan. Kami memiliki keinginan yang sama; ingin segera dikaruniai momongan.

Berbagai masalah saling kami keluhkan mulai dari dia yang menstruasinya tidak teratur sementara saya sebaliknya, kesehariannya yang diisi dengan berlama-lama di kamar mandi dan mengetes kehamilan, sampai hal yang paling sensitif pun tak segan saling kami bagikan. Sering kami telfonan, atau sekedar BBM-an.

Kami menempuh usaha masing-masing. Dia mengkonsumsi asam folat dari susu program kehamilan, sedangkan saya berkutat dengan tablet provertil dan vitamin E. Kami saling berbagi tips dan bacaan. Intinya kami selalu kompak dalam segala hal, terlebih soal kehamilan.

Pernah saya berkhayal dia hamil duluan. Itu akan sangat menyakitkan bagi saya yang menikah satu tahun lebih dulu darinya. Tapi apa boleh buat, anak bukan dibikin dari adonan melainkan anugerah Tuhan. Tapi tidak, kami masih melalui hari-hari dengan penantian yang sama.

Sebenarnya, di kampus dia adalah kakak kelas saya. Tetapi kami mulai membangun keakraban saat sama-sama berkecimpung di organisasi kampus Lembaga Pers Mahasiswa. Keakraban semakin erat saat suami kami adalah sepasang sahabat yang soulmate. Sampai akhirnya saya menggapnya bagian dari keluarga.

Kadang-kadang saya merasa lebih dewasa darinya yang kalau berbicara lebih mirip anak-anak dengan nada yang ditarik-tarik. Dia cantik dengan tubuh pendek. Kecantikannya saya perhatikan adalah garis turunan dari paras ayu sang ibu. Saya suka ibunya. Beliau langsung akrab dalam perjumpaan pertama kami dulu.  Ya saya suka dengan orang yang ramah dan murah senyum, seperti beliau.

Tema obrolan yang membuat saya nyambung dengan ibunya adalah soal kedermawanan. Kebetulan beliau baru saja datang dari acara haul kerabatnya yang letak rumahnya terpisah sekitar lima petak sawah ke arah barat.

Ia berkisah tentang kebaikan-kebaikan yang dilakukan kerabatnya itu. Setiap kali mengadakan acara-acara sajiannya selalu spesial dan membuat para tetangga senang, kenangnya. Singkatnya orang kaya yang dermawan itu mempunyai usaha yang lancar dan tanpa ragu-ragu ia belanjakan hartanya di jalan Allah.

Memang begitu seharusnya, orang kaya. Namun saya menyanggahnya bahwa untuk menjadi dermawan tidak harus menunggu kaya. Orang kaya yang bersedekah sudah terlalu biasa. Tak ada yang mengejutkan. Tetapi jika sifat kedermawanan dimiliki orang miskin maka itu yang patut diberi penghargaan. Orang yang rajin menabung untuk masa depan dirinya sendiri dapat dikategorikan dalam golongan fixed mindset, pikiran yang buntu, yang hanya memikirkan kenyamanan diri sendiri. Sementara yang mengeluarkan hartanya untuk dibagikan kepada sesama adalah golongan growth mindset, pikiran yang tumbuh, yang selalu berempati pada sesama, begitu kira-kira kata Pak Rhenald Kasali dalam sebuah artikel harian Jawa Pos yang saya temukan sebagai pembungkus nasi.

Obrolan kami selesai saat ibu berlalu ke dapur. Saya melihat sahabat saya itu membenahi simpul sarungnya. Saya perhatikan perutnya agak besar. Mungkin dia tidak menjaga berat badannya sehingga bentuk tubuhnya tidak proporsional dengan tinggi badannya, pikir saya. Saya terus menerka-nerka tidak jelas saat dia menyusul ibu ke dapur mengambil es krim buatannya.

Kakak perempuannya datang dan menyapa kami. Saya tersenyum. Ia mengerti tentang keinginan kami. Mungkin adiknya bercerita. Ia berujar semoga dilancarkan. Saya mengamininya dengan datar.

Setelah mengobrol panjang dan tentunya sudah menghabiskan banyak makanan ringan, saya berpamitan. Ibu menyiapkan sesuatu untuk saya bawa. Saya berterima kasih dengan tak enak hati karena merepotkan.

Di pintu, kakaknya tiba-tiba mengungkapkan kalimat yang menghantam perasaan saya. Ia meminta sambung doa untuk keselamatan dan kelancaran bagi kehamilan si adik. Saya tersenyum tipis dan kaku. Mungkin tampak sekali. Saya balas dengan kata-kata manis setelah si adik berkata jujur bahwa kehamilannya sudah memasuki usia enam bulan.

Di jalan, pikiran saya gamang sembari menerawang kenangan-kenangan saya dengan sahabat saya itu. Bagaimana  kami berbagi saran dan bagaimana kini ia menjadikan saya orang nomor seribu untuk tahu yang sebenarnya.

Motor kami melaju dalam remang. Saya rebahkan kepala di punggung suami seperti membagikan lara yang mendalam. Ia pasti memahami apa yang saat itu mendera batin saya.

Malam datang memperburuk suasana. Dalam hati saya mengerti, sesuatu yang terasa sangat menyakitkan itu bukan karena kehamilannya mendahului saya, melainkan perasaan kecewa kelas profesor atas kejujurannya yang tertunda. Jujurlah mulai sekarang!


06 Juni 2016

Mengapa Anak-Anak Mencuri?

Suara anak laki-laki memanggil berkali-kali untuk membeli tahu ketika saya sedang shalat ashar. Fokus dalam bacaan shalat menjadi buyar ketika langlah kaki mulai mendekati tempat keluarga saya menyimpan uang. Saya tetap melanjutkan shalat walau setan telah berhasil menggoncangkan hati dan meracuni pikiran dengan keinginan memergoki apa yang dilakulam anak itu.

Selepas shalat tanpa dzikir dan doa, lekas saya beranjak menuju tempat tadi. Mendadak saya dikejutkan dengan pemandangan tas terbuka lebar dan posisi uang yang acak-acakan. Awalnya saya ragu memanggil anak itu, sebab menduga sayalah yang kurang teliti menghitung. Tetapi karena mata dan pikiran saya masih awas serta tidak divonis mengidap alzeimer, maka saya meminta suami agar memanggilnya kemari.

Anak itu berdiri di depan suami sembari menenteng plastik berisi tahu. Badannya tinggi kurus dengan kulit sedikit lebih gelap dari kulit sawo matang. Mukanya terlihat pucat dengan nada suara tegang. Jawabannya berputar-putar sekitar tidak, menggeleng, bersumpah, dan lebih banyak menunduk yang membuat kami iba lalu membiarkannya pulang.

Saya dan suami berdebat sengit saling menyalahkan. Saya protes, dia kurang tegas. Dia protes balik karena saya hanya diam. Intinya kami sama-sama tidak tegas.

Dari kejadian ini sayalah yang merasa paling bersalah. Seluruh keluarga di rumah mertua bepergian dan menitipkan rumah kepada saya dan suami. Karena perasaan bersalah inilah saya menghitung jumlah uang berulang-ulang. Dan memang benar, deretan paling atas hanya ada lima ribu. Seharusnya lima puluh ribuan baru saja saya terima dari Muhni yang membeli dua papan tahu.

Suami meminta saya melupakan kejadian ini, tapi saya tidak patuh dengan menceritakan ulang secara kronologis kepada emak dan aba. Perasaan semakin tidak enak saat ipar, Yuk Sul, menyalahkan saya dan suami yang tidak becus menjaga dagangan. Akhirnya aba memutuskan agar saya dan kakak ipar berkunjung ke rumah tersangka. Bukan karena nominal, melainkan agar menjadi pelajaran dan tidak dijadikan kewajaran.

Satu kilo meter menyusuri sungai ke arah timur dari rumah, kami telah disambut oleh seorang nenek yang baru turun dari ranjang kamarnya. Kancing bajunya belum selesai dipasang ketika ia mempersilakan kami duduk. Saya bimbang berterus terang tentang maksud kedatangan kami karena si nenek terbatuk-batuk dan mengatakan tidak enak badan. Tentu saja ia juga sedikit kaget memerima tamu di sore petang.

Yuk Sul memulai pembicaraan dengan halus dan berhati-hati. Saya mencolek jari kelingking kakinya karena takut sang nenek tersinggung. Benar dugaan saya, suaranya meninggi dengan tatapan sinis. Ia mengelak cucunya tidak mungkin melakukan hal buruk seperti yang kami tuduhkan.

Seorang perempuan menggendong balita perempuan memecah ketegangan. Ia pun tak kalah heran mendapati tamu di waktu yang bukan sepantasnya. Pada tetangga yang berpapasan di jalan tadi, ketika ditanya, Yuk Suk memberi jawaban ingin memarani jahitan. Ibu dari anak itu adalah penjahit. Menjahit mungkin hanya pekerjaan sampingan selain mengajar dan bertani.

Ibu dari anak itu adalah seorang guru TK swasta di kampung kami. Mengetahui fakta ini keheranan muncul berlipat-lipat di dalam pikiran saya. Saya juga menduga kuat bahwa si ibu sangat terpukul mendengar berita ini. Tetapi kami bersama harus memastikan apakah benar bocah yang masih duduk di bangku SMP itu mencuri?

Di sinilah batin dan pikiran saya bertarung. Logika meyakinkan bahwa anak itu benar-benar telah mencuri. Sementara batin saya menolaknya dengan asumsi anak seorang pendidik jauh dari kemungkinan melakukan hal yang tidak baik.

Sejauh ini saya telah melakukan hal yang berani dan beresiko. Bagaimana mungkin hanya dari rasa curiga yang kuat saya sanggup melontarkan tuduhan, bahkan kini berhadapan dengan keluarganya. Jika anak itu tidak mengku, tentu saya akan sangat malu. Sebaliknya, jika ia mengaku kami juga tidak enak hati pada keluarganya. Jelasnya kami semua, di ruang depan yang panjang, masih menunggu kedatangan si anak yang belum pulang dari tempat bermain.

Ketika saya menoleh, dari kejauhan tampak anak kurus panjang mengenakan kemeja hitam tengah melintasi jembatan sungai. Ibunya menyusul. Entah apa yang mereka bicarakan dalam waktu yang cukup singkat. Sebentar kemudian mereka telah masuk rumah. Saya memberanikan diri bertanya secara gamblang dengan diksi pilihan yang saya rasa tidak akan menyinggungnya.

Ia hanya mengangguk lalu menunduk. Ibunya keluar dari kamar dan menyerahkan uang kertas berwarna biru. Sekali lagi Yuk Sul bertanya pada anak itu apakah ia dipaksa mengaku hanya supaya urusan ini segera usai. Apabila benar, maka si ibu sungguh sangat naif mengakui kesalahan yang akan dikenang sepanjang perjumpaan. Akan tetapi si ibu menggeleng dan mengakui dengan pasti anaknya bersalah.

Di jalan yang lengang karena sudah petang, uang kertas bergambar danau Beratan saya genggam erat dengan petanyaan dan dugaan tumpang-tindih. Mengapa anak-anak mencuri? Mereka mencuri karena tidak mengerti. Mereka mencuri karena membutuhkan identitas dan pengakuan kawan-kawannya. Mereka mencuri karena mencontoh yang salah. Mereka mencuri karena tidak diberi uang jajan atau terlatih boros sehingga selalu merasa kurang. Mereka mencuri karena penyakit gangguan kejiwaan kleptomania. Dari semuanya, yang paling pasti adalah pencurian terjadi hanya karena adanya kesempatan.

Ambunten, 6 Juni 2016.

22 April 2016

Belajar Keselamatan untuk Masa Depan



Minggu pagi menjelang siang, sekawanan anak kecil berlarian menyusuri jalan tak beraspal yang di tengahnya tumbuh mengalir rumput semata kaki. Tampak ibu jari dan telunjuk kaki mereka mencengkeram leher sandal kuat-kuat saat tiba di tanjakan seram. Kemudian mereka melewati pematang yang mengharuskan melakukan beberapa lompatan. Di antara anak kecil itu ada saya, belasan tahun yang lampau, saat saya masih tidak sungkan menghirup ingus keluar ke dalam.

Bagi anak kecil di segala masa, hari libur adalah kesempatan berharga untuk bersuka cita. Anak-anak di kampung kami mengisi hari libur dengan membantu orang tua di sawah. Misalnya hari libur di musim tembakau, kami membantu mencabut bibit tembakau di bedengan untuk dipencar di atas lubang tanah gulud. Kala itu kami berangkat terpisah dari para orang tua karena ingin berlama-lama di sumber Bukoh. Sumber mata air satu-satunya di desa kami yang subur tak kenal musim.

Sumber Bukoh terletak di lereng gunung Pangelen, Tambuko, Guluk-Guluk, Sumenep. Tepat di selatan sumber adalah sawah milik tetangga saya, Pak Matjuher. Jarak yang harus kami tempuh untuk sampai di tempat itu kurang lebih satu setengah kilo meter. Memang tidaklah dekat, tetapi sensasi kegembiraan bermain percikan air bersama teman-teman tidak bisa dibandingkan dengan kebanggan membayar tiket masuk waterpark. Airnya asli proses alamiah mengalir di antara pohon dan bebatuan.

Dulu banyak sekali ibu rumah tangga berdatangan untuk mencuci, anak-anak menyemplungkan diri, atau laki-laki memandikan sapi. Sekali lagi itu dulu, belasan tahun lalu.

Saat ini, jelas sudah jarang orang-orang bertandang ke sana. Menghindari alasan malas berjalan, pipa air sudah banyak terpasang dari mulut sumber ke rumah penduduk. Jadi walau tak lagi disambagi, sumber itu tetaplah mencurahkan kesegaran pada tenggorokan yang kerontang, pada tubuh yang kepanasan, dan pada jiwa haus akan kesadaran.

Dari seorang kawan masa kecil yang mengomentari foto saya yang berlokasikan di sumber Bukoh, di media sosial, saya tahu saat ini banyak masalah terjadi. Bermula dari semakin kecilnya aliran sumber air, banyak warga berebut dalam urusan pengairan sawah. Beberapa warga juga mengeluh karena saluran pipa tidak lagi berfungsi. Saya terkesiap baru tahu urusan macam itu. Maklum terakhir berkunjung sekitar enam tahun lalu. Hidup lama di pesantren yang ketika pulang langsung dipersunting bindara shaleh, saya pun manut mengabdi di rumah mertua.

Sebenarnya itu hanya alasan saya. Untuk bisa menyerap informasi, bergantung pada seberapa kuat keinginan diri. Semua itu tidaklah terlalu aneh bagi saya yang lebih sering memilih bermalas-malasan. Tetapi ada yang lebih sinting lagi dari penyakit saya. Semua orang tahu bahwa air merupakan bagian terpenting dalam hidup. Tapi ironisnya hampir bisa dipastikan lebih banyak orang yang tidak tahu jika selasa, 22 Maret 2016 kemarin adalah Hari Air Sedunia.

Sebagian orang mungkin menyepelekan, tetapi sebagiannya lagi memilih berdiskusi mencari solusi menghadapi krisis air dan memperdalam wawasan tentang betapa berjasanya air bagi hidup. Misalnya tubuh yang jatuh bangun kita pelihara ini terdiri dari 55% sampai 78% air. Bumi yang kita huni, melayani dan menyuplai apa yang kita cari, menampung 71% air yang terus berputar ke atas ke bawah. Coba bayangkan jika tiba-tiba Tuhan menguji makhluk dengan fenomena sedot air sejagad raya. Apa yang terjadi? Barang kali kita tak jauh berbeda dengan bangkai ikan di pinggir lautan. Mungkin karena itulah, air kemudian diperingati setiap tahunnya, di seluruh dunia.

Namun itu semua hanyalah wacana. Sedangkan realitas yang ada justru berpunggungan. Sementara sebagian orang memilih jalan membela lingkungan, lebih banyak lagi yang memilih menghancurkan. Korbannya, sumber mata air kering karena pohonnya ditebang. Keadaan ini, bukan tidak mungkin pada akhirnya akan menjadi penyebab kelangkaan air bersih.

Belajar dari Masyarakat Bali dan Mollo

Di beberapa tempat di Indonesia, di Bali misalnya, pohon di agungkan sebagai arwah keramat. Jangan heran jika di jalanan pohon-pohon dipakaikan sarung motif kotak berwarna hitam putih. Itu semua menunjukkan rasa hormat, kepercayaan, rasa terima kasih, dan getaran ketakutan terhadap eksistensi diri.

Masyarakat Bali percaya bahwa lambang yang mereka ciptakan adalah jendela yang membuka pandangan terhadap dunia trensenden. Melalui kepercayaan tersebut mereka terus berusaha menjaga komunikasi dan keakraban dengan alam. Jadi akan sangat langka menjumpai penebangan pohon di sana, apalagi secara serampangan. Sebaliknya, tanah dan airnya subur, lingkungannya pun selalu terlihat eksotis dan menghibur.

Selain Bali ada yang lebih syakral lagi, orang-orang Mollo, Timor Tengah Selatan (TTS), Flores, Nusa Tenggara Timur, memandang alam sebagai tubuh manusia. Menurut mereka itulah kunci keselamatan hidup. Mereka melambangkan batu sebagai tulang, tanah sebagai daging, air sebagai darah, dan hutan sebagai paru-paru, kulit, dan rambut. Sebagai darah, air berfungsi untuk menyuplai oksigen dan mengembalikan karbon dioksida pada hutan atau yang dilambangkan sebagai paru-paru. Jika tak ada air, maka seperti tubuh kehilangan darah, lenyaplah kehidupan.

Lakukan dari Hal Sederhana

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi kondisi global yang kita bentuk sendiri? Kita coba mulai dari hal yang paling penting, yaitu membangun kesadaran bahwa kita saat ini tengah berada di ambang resiko paling berbahaya; krisis air. Aksinya, kita lakukan dari hal sederhana seperti menghemat air. Untuk berhemat, tidak perlu melakukan hal-hal sulit seperti sosialisasi, ceramah bertema lingkungan, atau memasang plakat. Kita hanya perlu mengontrol diri agar menggunakan air sesuai kebutuhan serta segera mematikan kran air supaya tidak sampai meluap dan terbuang percuma.

Sejujurnya saya tidak tahu apakah dengan cara menghemat akan punya dampak untuk melawan krisis air di masa mendatang, sementara ada lebih banyak orang yang menghambur-hamburkan. Tetapi jika ini dilakukan bersama-sama, akan lebih memungkinkan menepis nasib sengsara bagi anak cucu. Bukankah begitu?

Akhirnya untuk menutup tulisan ini saya hanya bisa mengutip ceramah mantan presiden Gorbachev dari Soviet dalam peringatan (KTT) Bumi +5 yang dilakukan oleh NGO pada tahun 1997, dalam paper yang ditulis Maria Hartiningsih untuk acara lokakarya bertema lingkungan yang diselenggarakan Satunama, Yogyakarta. Beliau mengingatkan bahwa manusia sedang menghancurkan dirinya sendiri dengan menghancurkan alam dan lingkungan. Namun alam dan lingkungan akan memperbarui dirinya sendiri secara incremental pada saat manusia tak bisa lagi bertahan.

22 April 2016.

13 April 2016

Muslihat

“Janjinya cuma seminggu, nyatanya sudah setengah bulan Mona belum juga membayar hutangnya.”

“Mungkin belum kiriman. Kerja di negeri Jiran, hanya sebagai kuli bangunan, hutang ongkosnya paling juga belum lunas.”

“Tetangga kita ini kerjanya hanya gali lobang. Selalu lupa untuk menutupinya.”

“Mau bagaimana lagi,” ada nada kecemasan dalam jawabannya."

“Na juga pinjam gelangnya Hajah Rukayyah,”sang suami menimpali lagi.

“Bukan urusan kita, Pa,” perempuan itu mencoba menyudahi.

“Hidup di mana saja kita selalu dikerjar-kejar tukang hutang. Rasanya tidak tenang.”

Susi menundukkan kepala karena sudah tidak tahan. Tiba-tiba air mukanya seperti sedang kurang darah. Tetapi akhirnya ia lega saat berhasil mengangkat tema lain dalam obrolannya. Tentang harga beras misalnya, yang akhir-akhir ini selalu naik. Andai saja ia tidak menanduskan sawahnya, tentu saja berkarung beras akan menghiasi dapurnya.

Berkarung beras di kepalanya itu hanyalah khayalan. Sebenarnya ia lebih senang menunggu tanggal muda. Gaji suaminya sebagai Sekretaris Desa yang tergolong Pegawai Negeri Sipil itu dirasanya sudah cukup menghidupi dirinya dan keluarga.

Ia telah memilih menjadi ibu rumah tanga saja. Mengikuti tren busana terbaru, mengoleksi lipstik dari yang murahan sampai yang eksklusif, PKK, arisan, dan menjalani kegiatan tidak penting lainnya yang menurutnya sangat heboh. Coba saja periksa lemari pakaiannya. Warna apa yang tidak ada? Model apa yang tidak punya? Mejikuhibiniu semuanya lengkap bergelantungan bagai bunuh diri dengan hanger. Aroma rumahnya seperti butik. Menyeruak menawarkan kedengkian para tetangga.

Baginya, tetangga di kampung itu cuma baik saat ada maunya. Contohnya meminjam baju, uang, atau meminta garam. Tetapi sebenarnya tidak. Di kota, pagar-pagar tinggi menjadi batas. Tak ada ceritanya minta atau pinjam. Tak ada juga yang bisa dimintai bantuan untuk mengerok saat masuk angin. Susi sudah buta, tak menyadarinya.

 ***

Masyarakat di desanya sudah sepakat bahwa nama Susi adalah akronim dengan kepanjangan Super Sibuk. Baginya tiada hari tanpa jalan-jalan. Paling tidak ke pasar cari kain murah yang bisa didesain jadi seperti mahal. Lumayan bisa dipakai mengantar anaknya ke sekolah atau jalan-jalan ke taman bunga di malam hari. Ya, pikirannya tak pernah lepas dari pakaian baru.

Awalnya suaminya menegur agar Susi juga menabung untuk masa depan anaknya. Suaminya bilang mata itu seperti botol terbuka yang akan terus mengisi diri sampai meluap luap. Kita sendiri yang harus menyumbatnya dengan menutup hasrat pada apa yang tidak menjadi kebutuhan. Jangankan ia menyesal, mendengarkan saja juga tidak. Buktinya saat itu ia bilang oke, besoknya sudah mulai lagi. Kondangan, khitanan, karnaval, bahkan melayat pun bajunya harus baru. Harus senada dengan kerudung, tas dan sandalnya. Menghadapi itu semua suaminya pasrah total.

Kedahsyatannya dalam berbusana dan berdandan itu membuat Musa seorang manusia jenaka di kampungnya berkomentar, “Bajunya berjanggar-janggar mirip ayam jago punya Siri.”

Lelaki mana yang tidak tertarik dengan kemolekannya. Pipinya khumaira dengan polesan merah pipi merk ternama. Garis hitam tajam tak pernah luput melingkari matanya. Ketika wajahnya terbungkus hijab, maka ia mirip artis dalam sinetron Tukang Cendol Naik Haji. Hanya menjadi rahasianya bahwa ia pernah menerima lembaran kertas merah bergambar Dr.(H.C.)Ir.Soekarno dan Dr. (H.C.) Drs. Mohammad Hatta dari lelaki berondong yang ingin mendapatkan satu ciumannya. Ah, maut rasanya. Andai gambar dalam uang kertas itu diganti dengan fotonya, maka ketenaran baginya adalah niscaya. Namun khayalan-khayalannya selalu seperti membumbui burung terbang. Ia bahkan kesal ketika mengingat malah munyuk yang ada dalam gambar uang lima ratusan tempo dulu.

Saat suaminya bertanya asal-usul uang itu, ia seperti murid cerdas yang cekatan memberi jawaban. Entah dari kakaknya yang bekerja ke Lombok atau menang arisan. Suami yang malang. Ia tidak pernah memperpanjang perkara apalagi curiga. Kalau ada penghargaan untuk kategori suami paling pengertian, Rudilah juaranya.

Susi memang tidak pernah mencurigakan. Mereka selalu tampil mesra. Tangan perempuan bertahi lalat di bawah mata kirinya itu tidak pernah tidak melingkari pinggang kanan suaminya saat membonceng. Ke mana pun Rudi pergi ia selalu mengiringi. Hanya beberapa kali mereka pernah beradu mulut. Salah satunya tentang keinginan Susi yang tidak dituruti.

“Aku pengen kebab Turki. Katanya di kampung Arab ada habib baru buka kedai,” ujarnya dengan nada manja.

“Jangan sok artis! Makan yang enak-enak tidak akan diliput jadi berita infotainment.”

Pipi Susi kembung kanan kiri. Bibirnya panjang lima centi. Bagaimana mungkin ia melewatkan kesempatan menjadi yang super tahu tentang makanan? Bukankah selama ini selalu ia yang memulai obrolan tentang kuliner di Sumenep? Seakan ia sudah menjadi juri di ajang master chef Indonesia.

Hampir semua makanan di kota berlambang kuda itu ia cicipi. Ia sering dudukdi meja Toby's dan kedai HK. Ia tahu dimana soto babat Madura yang paling dahsyat rasanya. Ia akrab dengan penjual rujak selingkuh rasa maut. Ia bahkan sudah pernah mencicipi bakso di seantero kotanya, bakso kondang 99, Adil, Kembang, Prima, tak lupa juga bakso urat di dalam pasar Anom.

Pengalamannya soal makanan yang diumbarkan berkali-kali pada tetangganya membuat mereka tertawa-tawa, walau hanya dalam hati. Seseorang yang bersuami orang Bangkalan tersenyum sinis. Dalam hati ia mengumpat,

“Dasar mulut tidak berpendidikan! Mungkin akan berhenti mengoceh kalau disumabat dengan bebek Sinjai.”

Kehebohan seakan tak pernah surut dalam hidupnya. Tetapi tidak dengan hari ini. Hari yang merupakan kiamat bagi dirinya. Mona mengatakan yang sejujurnya pada Rudi tentang siasat Susi yang meminta bantuannya untuk meminjam uang.

“Memangnya dari mana aku tahu kalau kamu sedang punya uang, Rud?” katanya tanpa tedeng aling-aling.

Rudi terdiam lama sekali. Pikirannya buntu. Lebih parah lagi saat Na juga bertandang ke rumahnya dan melaporkan hal yang senada.

“Susi juga menyuruhku meminjamkan gelang Hajah Rukayyah. Sekarang sudah dilelang pegadaian. Kita semua sudah dengar kabar kan kalau gelangnya 24karat dengan berat 20 gram.”

Hanya sekejap saja semuanya menjadi nyata. Perlahan, pikirannya mundur jauh sejauh-jauhnya. Siapa yang ianikahi? Tidak lain adalah maling di rumahnya sendiri.

Dari kejauhan tampak Susi berkibar-kibar dengan gaun merah terang dan kerudung kuning menyala-nyala. Wajahnya berubah ketika menyadari Mona, Na, dan suaminya duduk bersama-sama. Ia berdiri di ambang pintu dengan muka pasrah dan tungkai yang bergetar-getar tak mampu menopang tubuhnya. Dengan dua kata Rudi berhasil merobohkan keangkuhannya.

“Kita cerai!”

Renungan Ikan-Ikan

Apakah aku bagian dari ikan-ikan teri yang terdampar di laut maya? Mungkin salah, aku lebih suka disebut nelayan yang menjala ikan dan melepaskannya kembali dalam buai lautan.

Ikan-ikan yang hidup dalam dunianya lebih memungkinkan bahagia ketimbang berkorban melenyapkan rasa lapar. Maka makanlah yang baik, yang tumbuh di sisimu dan buanglan segala ketidaknyamanan.

Ibu guru menyuapi muridnya dengan apa? Berpikirlah berkali-kali tentang sesuatu yang akan kau bagikan. Jika hanya perasaan, laporan keseharian, dan berita pribadi, kau kunci saja dalam lemari. Lebih aman dan dapat kau kenakan kembali.

Berbagilah apa yang pantas! Maksudku, ikanteri perempuan tak menutup kepalanya. Gerai pesonanya ungkapkan rahasia. Hanya sesekali saja foto selfi dengan hijab berjemaah pada cosplay merk racun. Memangnya apa yang membanggakan?

Ikan-ikan malang menjadi santapan ikan liar yang mengendus lalu tertawa-tawa. Nikmatilah indahmu di cermin! Karena sekarang alis daun akasia bisa dibeli di pasaran. Lalu untuk apa ikan lohan menggelar gaya dalam konser tak berpenonton? Lokan yang palsu, rumput laut buatan, dan segala warna yang menipu.Tak cukupkah semua itu membuatmu haru. Kasihan...

Aku menatap ikan-ikan yang terdampar di laut maya. Apa aku bagian dari mereka? Yang menuliskan keresahan diri dalam bentuk renungan ini? Oh, mungkin ya, mungkin juga TIDAK.

Tambaagung Ares, 25/01/2016.

10 Februari 2015

Pengalaman Pertama: Berkenalan dengan Mikrofon

Dalam hidup kita membangun sebuah cerita. Ketika cerita itu berlalu ia berubah nama menjadi kenangan. Masing-masing kita memilikinya. Namun tidak semua kenangan dapat dibagikan. Ada yang menyimpannya dalam ingantan untuk dirinya sendiri, ada pula yang mengisahkannya lewat lisan atau tulisan. Hari ini aku ingin berbagi tentang pengalaman pertamaku berkenalan dengan mikrofon. Mengenai kesannya nanti, aku juga tidak tahu bagaimana. Yang pasti aku hanya ingin menceritakannya kembali kepadamu.  

Ramadhan dua ribu dua lalu aku sedang menikmati masa kanak-kanakku. Orang-orang desakku mengenalku sebagai anak perempuan yang berjiwa maskulin, gampangnya mereka menyebutku tomboy. Bukan karena kampungku melahirkan banyak anak laki-laki dan sedikit anak perempuan. Bukan. Tetapi entah mengapa rasa nyaman dengan gaya dan tingkah kelelakian sulit kutepis. Ditambah lagi teman-teman sepermainanku memiliki kemiripan denganku seperti, Beng Nu Jaim dan Bak Rofida Arifin. Kami sudah biasa memanjat pepohonan ketika pulang sekolah. Atau sesekali bersepeda ke bukit Pangelen. Masa-masa itu begitu jelas dalam ingatanku.

Ketika itu aku baru kelas tiga SD (Sekolah Dasar). Siang harinya aku belajar ilmu agama di MI (Madrasah Ibtidaiyah) Matla'ul Ulum. Anak-anak kampung masa dulu rata-rata bersekolah dua kali sehari. Jadi wajar saja jika aku begitu bergembira menyambut bulan puasa yang berarti aku akan menikmati liburan panjang. Ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Untuk mengisi kekosongan siswa, guru-guru MI memanfaatkannya dengan mengadakan kegiatan pondok Ramadhan. Panitinya terdiri dari guru dan alumni yang berstatus santri.  

Para siswa bermalam di sekolah selama tiga hari untuk mengikuti kursus kilat bahasa Arab, Nahwu, dan pengajian kitab Dalilun Nisa'. Empat hari berikutnya diisi dengan acara lomba dan malam puncak. Salah satunya adalah karaoke cinta Rasul. Diberi nama cinta Rasul karena yang tengah populer saat itu adalah album Haddad Alwi dan Sulis yang bertajuk Cinta Rasul.  

Aku benar-benar ngeri dan sama sekali tidak berminat untuk mengikutinya. Aku lebih tertarik menyemarakkan lomba puisi, lari kelereng, atau sepeda pelan. Tetapi kakakku memaksaku untuk ikut. Sementara aku tetap bersikukuh untuk tidak ikut. Titik.  

Sifat keras kepalaku dilaporkan kakak kepada ibu. Ibu membujukku dengan berbagai hal. Aku tetap menolak. Tapi ayah tiba-tiba ikut-ikutan merayuku dengan iming-iming baju baru saat tampil. Ia berpesan kepadaku untuk membuang rasa malu dengan menganggap penonton seumpama bongkahan batu. Aku tersenyum. Betapa hatiku bermekaran saat membayangkan baju baru. Tak pedulikan apapun rintangannya. Akhirnya aku sepakat.  

Minggu pagi aku dibonceng ayah ke pasar Pakong, Pamekasan untuk memilih baju yang dijanjikannya. Ayah memilihkanku busana muslim atas bawahan berwarna hijau dengan motif Telettubies. Semakin bulat tekadku untuk berlomba saat hal yang kuincar telah resmi dalam genggaman.  

Kakak memilihkan lagu berjudul Ummi. Ia menuliskan liriknya untuk kuhafal. Aku begitu bersemangat untuk tampil. Diam-diam aku berlatih lebih giat dari yang kakak tahu. Bahkan kuhafal lirik lagunya sebelum tidur sampai terlelap. Entah apa yang kumimpikan setelahnya.  

Hingga tiba di hari inti. Rasa percaya diriku semakin mantap ketika menyaksikan yang lain tampil dengan bagus. Pastilah aku bisa tampil lebih baik dari mereka, batinku menyemangati. Sampai tiba giliran namaku dipanggil. Usai riuh tepuk tangan penonton, terjadi debaran yang begitu dahsyat di jantungku. Kulangkahkan kaki dengan wajah pucat dan kepala yang libung seperti orang mengalami tekanan darah rendah. Pikiranku gamang. Wajah ayah, ibu, kakak, dan teman-temanku membayang jelas dalam ingatan. batinku kembali berbisik; kamu pasti bisa!

Dengan sekujur tubuh yang terasa dingin, kuraih mikrofon di hadapanku. Penonton bertepuk tangan kembali. Aku semakin tidak bisa berkonsentrasi. Pikiranku ke mana-mana. Dan yang paling parah badanku seperti mengapung di antara langit dan bumi.

Ketika kuucapkan kata pertama ummi Tangan kiriku yang menggenggam mikrofon bergetar hebat. Sementara yang lain kuangkat tinggi seperti orang berdoa. Empat kali kuucapkan kata ummi, empat kali pula tangan dan suaraku saling berebut untuk gemetar. Sungguh aku sudah tidak tahan lagi saat penonton mulai menertawakanku. Tetapi tidak, aku tidak boleh turun. Aku berdiri dengan gerakan khas penari latar Sulis dalam video klipnya. Ya, aku berhasil menuntaskan lagunya. Usai mengucapkan salam kuturuni tangga panggung dengan pikiran dan perasaan yang berkecamuk. Kupikir tidak ada hal memalukan yang lebih besar dari pada itu.  

Sesampainya di rumah, kakak beserta orang tuaku tampak gembira. Mereka membesarkan hatiku dengan berkomentar bahwa penampilanku bagus. Aku tahu itu hanya gombal. Bahkan aku sendiri tidak selera mengungkit kejadian itu lagi.  

Kini keadaannya sudah berbeda. Pantasnya aku harus bangga saat mengingatnya: satu, karena tidak mengecewakan keluargaku. Dua, karena tidak meninggalkan panggung sebelum lagu selesai. Tiga, karena pengalaman itulah aku merasa terbiasa ketika berhadapan dengan mikrofon. Dan yang terakhir, aku merasa bangga karena bisa berbagi denganmu, dengan kemampuan menulisku yang kupikir sangatlah sederhana.  

Tambuko, 7 Februari 2015.  

04 Januari 2015

Dari Madre Sampai ke Inspirasi




Sudah cukup lama saya dan suami terpikir untuk memulai sebuah bisnis. Keinginan itu bahkan sudah ada sejak usia pernikahan kami baru menginjak sebulan. Tetapi kami selalu kebingungan tentang apa yang harus dilakukan.

Mula-mula kami sepakat untuk berternak ayam petelur. Dengan mempertimbangkan modal yang tidak sedikit dan segala resikonya kami sepakat. Berbekal uang yang cukup, Eng (panggilan untuk suami) memesan kurung ayam yang berukuran panjang untuk lima ratus ayam broiler lengkap dengan tempat pakannya. Kami sudah berencana menempatkan kandangnya di sawah belakang dapur. Sampai di sini saya membayangkan usaha ini mungkin akan mengubah kehidupan kami.

Sayangnya, setelah semuanya siap dan tingggal membeli ayam, Abah mertua saya bertandang ke rumah. Beliau mengutarakan ketidaksetujuannya pada usaha yang akan kami jalankan. Alasannya begitu sederhana, beliau tidak mau pada akhirnya kami menanggung rugi seperti famili di Ambunten yang juga rugi dalam bisnis ini. Tetapi belakangan saya menyadari bahwa alasan itu sangatlah klise. Sebenarnya Abah tidak ingin terpisah dari Eng. Beliau khawatir Eng tidak punya kesempatan untuk ke rumah Ambunten jika kami terlalu sibuk.

Saya maklum karena Eng adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga mertua saya. Kalau Abah sakit, yang paling sering disebutnya adalah nama Eng. Bahkan semua perabotan rumah, mulai dari piring, sendok, ember tahu, sampai karung kedelai diberi nama HBB. Saya menyadari sepenuhnya bahwa dialah anak yang paling disayang. Akhirnya semua peralatan yang telah kami beli terborong dengan separuh harga pada pembisnis ayam petelur dari desa tetangga. Harapan saya tertelan. Kami balik badan.

Usai kejadian itu, kami lebih sering berada di Ambunten dari pada di Tambuko. Eng membantu usaha pabrik tahu tempe yang dirintis Abah Senin sampai Jum’at, Sabtu Minggunya kami membantu mengajar di SMP Islam swasta yang dikelola oleh Paman saya, suami dari sepupu Ibu.  Tetapi lama kelamaan kami berpikir bahwa tak nyaman rasanya bila terus bergantung pada keluarga. Tak nyaman pula bila kami harus terus bolak-balik Ambunten-Tambuko dalam waktu yang begitu sering. Maka kami memutuskan untuk memulai usaha mandiri.

Bukan kebetulan, almarhum Ayah saya meninggalkan sebuah bangunan toko yang dulu dikelola Kakak. Setelah Kakak memulai usaha di Bali, toko itu perlahan bangkrut. Toko-toko di kampung memang lebih sering dihutangi dari pada dibeli. Buktinya buku bon hutang bejibun dari nama dan angka. Walhasil toko tersebut menjadi lebih besar pasak dari pada tiang. Akhirnya kami mengalami apa yang orang-orang sebut bangkrut.

Bertahun-tahun toko itu mati, sunyi. Setiap sore, saat menghidupkan lampu, saya merasa nestapa memikirkan betapa teganya saya menelantarkan sesuatu yang Ayah tinggalkan. Kadang-kadang saya menangis dalam hati memikirkan perjuangan ayah yang saya akhiri dengan kesia-siaan. Kadang pula ada sinar terang dalam diri yang meyakinkan saya untuk membukanya kembali, suatu hari nanti. Entah kapan.

Setengah bulan yang lalu Ibu berembuk dengan Eng tentang seseorang yang akan menyewa toko. Ibu menyampaikan bahwa orang tersebut akan membuka warnet. Eng sepakat dan memasang tarif tahunan. Tetapi saya merasa ada aura kepedihan di mata Ibu. Saya yakin beliau berharap kami sendiri yang membuka toko itu kembali. Tetapi beliau juga pasti mengerti bahwa tak mudah mengumpulkan banyak biaya sebagai modal. Kami semua ada dalam lingkaran dilema. Dilema panjang yang menunjukkan jalan baru.
 
Untunglah Ibu belum menyampaikan kepada calon penyewa toko itu. Karena seminggu setelah berembuk, Eng mengajak saya ke pasar untuk belanja peralatan es krim. Ya, kami akan berjualan es krim! Tiga hari setelah mulai berjualan, kami berjumpa kendala lagi. Pintu ruang freezer kulkas keluarga kami rusak sehingga es tidak mudah membeku. Kami sudah nekat dengan usaha ini, maka selanjutnya pun harus lebih nekat. Kami butuh kulkas baru khusus freezer, tetapi dari mana uang untuk membeli? Saya akhirnya merelakan cincin pemberian Eng yang dibeli dari tabungan kami selama ini. Untuk apa memakai emas? Bukankah emas memang bentuk dari tabungan yang bisa dijual sewaktu-waktu jika ada keperluan? Walau Eng berat hati saya coba membujuknya dengan kemampuan yang saya punya.
 
Kulkas baru datang. Semangat baru semakin menggebu. Dimulai dengan basmalah, kami membuka toko kembali dengan berjualan es krim serta pentol ikan cakalan yang diracik Eng sendiri. Sebelum menuliskan catatan ini, saya selalu teringat Madrenya Dewi Lestari. Imajinasi saya menampilkan gambar Tansen yang mendapat warisan kunci saat menghadiri pemakaman seseorang yang sama sekali tidak ia kenal. Dengan kunci itu, ia mebuka sebuah toko roti “Tan de Bakker” yang mati suri selama lima tahun.  

Tansen juga mendapat kejutan dari dalam lemari pendingin!  dia mendapatkan Madre.  Madre adalah adonan putih keruh atau adonan biang hasil perkawinan dari tepung, air dan fungi bernama Saccharomyses exiguous yang lahir pada tahun 1941. Dengan bimbingan Pak Hadi, orang yang menyerahkan warisan, Tansen begitu bersemangat memulai kehidupan barunya. Tansen jua sering menulis di blog menceritakan kisah yang ia alami, mulai dari silsilah keluarga baru hingga Madre.

Saya tertegun mengingatnya. Ada banyak pelajaran yang dapat dipetik. Betapa kami harus mempelajari  berbagai hal dalam menjalani hidup dan memiliki pemikiran yang matang dalam menatap masa depan. Kisah rajutan Dee itu begitu menginspirasi bagi saya. Seakan ruh Madre mengalir dalam kehidupan kami, berdenyutan di nadi ini.


Tambuko, 03 Januari 2015

 
Copyright 2009 KILAU CORN