04 Desember 2016

Orang Tua

Membayangkan mengurus tujuh anak yang lahir susul menyusul dengan selisih satu tahun mungkin sangat merepotkan. Tetapi ibuku bukan sekedar membayangkan, ia bahkan tidak pernah sekali pun kudapati mengeluh dalam mengurusku dan keenam saudaraku. Repot, itu pasti. Bayangkan saja, menyusui tiada henti, memasak lalu menyuapi, sampai mencuci kain belepotan berak dan bau pesing. Semua itu dilakukannya bergantian dengan ayah. Mereka tidak pernah berubah, tenang dan santai.

Seandainya keluargaku adalah orang berada, mungkin kehidupan tidak akan sesulit tukang pandai menipiskan besi menjadi celurit. Rumah yang kami huni itu, hanyalah bangunan tua peninggalan kakek atau mungkin juga buyut. Cukup luas dengan ukuran enam kali tujuh meter, namun tiada ruang tamu, apalagi kamar. Lantainya pun sudah berubah menjadi tanah.

Kami semua tidur seperti di asrama.
Hanya ada dua kelambu penyekat dari kain berwarna gelap. Pojok selatan bagian timur tempat tidur ayah dan ibu. Ada kasur kapuk tipis yang tergeletak di lantai. Beberapa paku tertancap di dinding menggaet topi dan baju yang sudah bau. Di samping kamar ibu adalah tempatku beserta ketiga saudara perempuanku. Masih untung ada ranjang besi pemberian ayah saat melamar ibu. Sisanya adalah surga milik tiga saudara lelakiku.

Lemari model yangliu mematung puluhan tahun di samping pintu menghadap selatan. Di dalamnya adalah pakaian kami yang mirip tumpukan rombengan lusuh dan murahan. Saat lebaran tiba adalah saat-saat paling menyakitkan. Saat teman seusia kami memamerkan baju baru, kami hanya terdiam lesu. Tapi kami tidak pernah meminta, meski sebenarnya sangat berharap. Pernah ayah dan ibu membelikan kami baju bekas bos yang model dan warnanya masih segar seperti baru. Kami tertawa menikmati segala karunia yang kadang-kadang lebih seperti kejuatan.
***

Hidup menyusuri rutinitasnya. Kalau kemarau tiba, kami bergantian menimba air di sumur untuk mengisi bak mandi. Kalau hujan datang, kami membuka triplek kamar mandi untuk menampung curah hujan. Piket menyapu, kerja bakti, semua diatur. Kami benar-benar seperti hidup dalam pondok pesantren.

Tak ada panggilan kakak atau adik karena selisih satu tahun menjadikan kami tumbuh seperti seumuran. Urutannya Ahmar, Yati, Kawin, Pagi, Siti, Wati, dan terakhir aku.

Kami semua bersekolah. Tetapi lebih sering ngumpet di bawah jembatan atau di atas pohon asam. Hanya aku yang merasa rajin karena setiap ingin bolos, wajah melas ayah dan ibu membentang seperti siluet kesedihan.

Ketika teman-teman sekelasku menyebutkan cita-citanya, pikiranku malah terbang ke langit-langit kelas. Karena bingung, dengan asal kujawab, penulis!

Impian juga hidup dalam kemelaratan. Ia menjadi semacam cermin keindahan, sebuah harapan. Apa lucu ketika orang yang tak beruntung bercita-cita menjadi dokter di tengah sibuknya kehidupan sogok-menyogok? Masih untung cita-citaku sangat sederhana.

Menjadi penulis adalah jawaban yang sangat tepat, kala itu. Cita-cita yang murah karena tidak berkaitan dengan hal-hal yang bersifat materi. Di tengah kesulitan tiada henti seperti kutukan ini tiada yang lebih penting dari senyuman dan keakraban.

Kami tujuh bersaudara akur, walau kadang-kadang berselisih soal makanan. Kami semua bekerja keras untuk bertahan hidup. Sebagian ikut ayah memetik kelapa di sawah untuk dijual ke pasar. Sebagian lagi ikut rombongan ibu menggiling padi dari sawah ke sawah. Pulangnya kami membawa setengah karung padi, atau apa paun itu tanaman palawija musiman.

Padi dijemur, ditumbuk, lalu dimasak bersama jagung atau singkong. Warna merahnya selalu lebih dominan. Lauknya ikan tongkol dan bayam yang ditumis dengan bawang dan garam. Kami semua berebut makanan seperti sekelompok anak ayam yang mematuk remah-remah. Makan hanya untuk mengisi perut, bukan untuk kenyang.

Pernah sekali Kawin berniat menambah nasi. Tangannya belum sampai menyentuh centong, Ahmar dan Pagi sudah memukul kepalanya sampai ia limbung dan jatuh pingsan. Kami semua tidak terkejut, bahkan tertawa-tawa seperti menonton lawak Margono dan Tomo.
***

Dalam dongeng, sekelompok kurcaci selalu bersama-sama. Aku tidak hidup dalam dongeng dan kami bukan kurcaci. Setelah beranjak dewasa keenam saudarku berpencar. Ada yang ke perantauan, menikah, lalu beranak-pinak. Siklus kehidupan di kampung tak jauh-jauh dari itu.

Yang paling beruntung adalah Wati. Ia dilamar anak juragan sapi. Itu membuatku sedih. Bukan karena iri, melainkan karena ia harus pergi dari rumah ini. Tapi sayang, keberuntungannya tak berumur panjang. Mertuanya terpeleset bangkrut saat dua puluh ekor sapinya mati diracun tetanggaya.

Kawin menurutku juga sempat beruntung, ia merantau ke Balikpapan dan bekerja sebagai sopir pribadi. Parameter keberhasilannya diukur dari banyaknya emas yang memborgol kedua lengan istrinya. Lagi-lagi sayang, istri dan mertuanya meninggal yang diduga perantara santet. Dan yang lebih mengenaskan, Kawin juga menyusul mereka dengan meninggalkan yatim piatu semata wayangnya.

Ahmar menekuni hidupnya sebagai petani. Sementara pagi kerjanya keluar masuk penjara dengan kasus bergam. Kadang-kadang carok, kadang pula dikeroyok massa saat tertangkap sedang maling sapi. Ibu menjual sawah satu-satunya yang beliau miliki untuk menebusnya sampai ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Lain Pagi, lain pula Siti. Setelah menikah ia membuka toko kelontong dan warung kopi. Banyak pelangganya yang hanya membayar nama dalam buku catatan hutangnya. Bayangkan sendiri bagaimana jadinya. Pekerjaannya kini bukan lagi kulaan atau menumbuk kopi, tetapi menghitung jumlah bon orang yang datang dan pergi. Ia gulung tikar lalu balik badan dan pergi; merantau ke luar negeri.

Yati nasibnya lebih malang lagi. Ia selalu menerima pukulan sang suami, saban hari. Kalau saja ia mengadu mungkin ia tidak akan mati sia-sia. Kisahnya sama sekali tidak mirip dengan sinetron yang kerap kali memunculkan keajaiban-keajaiban saat dibutuhkan. Misalnya orang mati hidup lagi berkali-kali. Yati membusuk di dalam sumur karena dilempar suaminya dengan dalih cemburu. Lelaki pencemburu memang lebih sadis dari algojo. Sehabis menyakiti hati, ia juga tak segan memainkan kemapuan tangan dan kaki untuk melukai.

Dari semua saudaraku, hanya aku yang belum menikah. Di usiaku yang sudah menginjak empat setengah kepala, barangkali tak kan ada seseorang yang berminat. Mungkin Siti Khadijah beruntung diusia keempat puluhnya ia bukan saja dilamar remaja dewasa yang matang melainkan juga seorang Nabi. Aku sudah mati rasa pada apa yang disebut pernikahan. Tak usah bertanya musababnya. Biarlah ia menjadi rahasia.

Ketimbang memikirkan omongan orang tentang gelar ‘perawan tuaku’, aku lebih suka merawat ayah dan ibu yang sudah berkepala uban. Beliau seperti kulit kacang yang ditinggal isinya satu per satu. Ya, dulu dan sekarang akan selalu berbeda. Pada masa yang telah berlalu, segala hal yang dibutuhkan anak-anaknya selalu berusaha ia penuhi. Ia bagai bukan manusia lagi. Tetapi sekarang, saat mereka sudah bisa cari makan sendiri tak ada yang ingat berapa kali sehari ibu menyuapi. Setelah menikah, anak-anaknya lebih fokus pada keluarganya, kehidupan baru mereka.

Aku juga merasa sudah kadaluarsa. Karenanya aku hanya melakukan apa yang aku bisa. Misalnya menulis cerita ini. Aku ingin menjadi penulis dan menuliskan hal penting, semacam kata-kata bijak walau tak dikenal banyak orang; orang tua tak sesempurna dewa. Dalam relung terdalamnya ia juga ingin disentuh sebagai manusia.

November, 2016

01 Desember 2016

Cincin Bertuan


Cincin ayah hilang tepat di hari kematiannya. Usai pemakaman Ibu menggeledah seisi rumah seperti orang gila. Dan suara-suara lesung menumbuk bumbu di dapur membuatnya semakin gila.

Seminggu sebelum kepergiannya, ayah sempat memotret cincin ruby kesayangannya dengan ponsel pemberian kakak yang bekerja di Bali. Ayah memang suka mengoleksi cincin sejak masih muda, kata ibu. Dengan kegemarannya itu, ia berniaga cincin untuk biaya kehidupan kami, termasuk biaya pendidikanku.

Dari semua cincin yang dikoleksinya ada satu cincin bermata merah delima yang begitu ia cintai. Kata beliau cincin itu buah tirakat. Cincin sakti dan bisa menghilang jika berada di tangan yang tidak tepat. Aku tidak percaya dan tertawa-tawa dengan celotehnya.

Tetapi Musa berhasil membangun sedikit kepercayaan dan rasa penasaran akan hal itu. Ia bersaksi pernah meminjam cincin ayah dan berjanji akan mengembalikannya dalam tiga hari. Tersebab repot ia lupa akan janjinya. Ketika berpapasan dengan ayah di jalan,  ayah menagihnya. Musa segera bergegas pulang. Betapa kagetnya setengah pingsan saat cincin ayah tidak berada di tempatnya. Sumpah-sumpah mengalir dari bibirnya yang hitam untuk membuktikan kebenaran persaksiannya. Ayah malah tersenyum dan menunjukkan cincin itu menempel di jari tengahnya. Cincin itu pulang ke rumah tuannya tanpa berpamitan dan meminta ongkos transportasi.

Aku masih belum sepenuhnya percaya dengan kisah Musa. Selain karena Musa seorang pembual di kampung kami, ia juga diisukan setengah dua belas oleh orang-orang. Mana mungkin aku mempercayai certia dari sumber yang kemiringannya seratus delapan puluh derajat?!

Diam-diam aku mencari bukti lain. Untuk memenuhi rasa penasaranku, aku mendatangi rumah Pak Ki, sahabat terbaik ayah sepanjang masa. Pak Ki sudah bagaikan keluarga bagi kami. Ia juga pernah membelikanku gelang emas dua puluh empat karat. Katanya sebagai rasa terima kasih kepada ayah karena kesuksesan yang kini diraihnya memang dirintis bersama ayah. Mulai dari berdagang tembakau, motor, sampai bahan-bahan bangunan, semua ia jalani bersama ayah. Posisi ayah hanya sebagai aistennya. Pak Ki malah menyangkal bahwa ayah adalah maskot keberhasilannya. Lebih terangnya, cincin yang menempel di jari ayah itu mengandung energi mistis, klening, dan magic.

Pak Ki meyakinkan bahwa cincin itu benar-benar keramat. Ia sering menuai kerugian berlipat-lipat saat ayah lupa memakainya, dan kembali untung berlipat-lipat saat ayah mengenakannya.

"Ah Masak, Pak Ki?"

"Mungkin kebetulan. Tapi keseringan."

Pak Ki juga menceritakan bagaimana pertemuan ayah dengan cincinya. Katanya ayah dipanggil Kiai yang alim dari pondok pesantren tempat ayah nyantri. Kiai itu bermimpi ayah tidur di samping batu nisan almarhum Kiai sepuh, ayah beliau, selama empat puluh malam. Dan muncullah cahaya maha cahaya yang menyilaukan ketajaman penglihatan. Cahaya itu berwarna merah menyala-nyala menyemburkan angin halus. Cahaya itu menembus dada ayah dan berkelit seperti ular ditubuhnya. Kiai sepuh muncul dari keheningan malam yang gelap. Beliau tidak berkata-kata. Hanya tongkatnya menyebutkan nama ayah berkali-kali, seperti orang sedang berdzikir.

Atas perintah Kiai ayah melaksanak mandat mimpi tersebut. Tanpa rasa takut seujung kuku pun ayah melalui malam demi malam yang mencekam. Di malam keempat puluh tetap tidak ada petanda apa pun. Kiai memerintahkan ayah pulang.

Pagi hari di rumah tidak ada siapa-siapa. Ibu ke pasar, mungkin aku juga ikut. Pintu rumah terbuka dengan sendirinya. Ada suara halus dengan nada yang sangat rendah serta santun membaca shalawat badar. Ayah mencari sumber suara dan ternyata berasal dari dalam kamarnya. Ketika ia membuka pintu, berhamburanlah cahaya terang seperti kunang-kunang. Ayah menduga itu mimpi, tapi bukan. Kesadarannya lamat laun muncul seiring dengan berkumpulnya cahaya-cahaya itu pada sebuah benda di atas bantal. Hari itu ayah merasa seperti melahirkan seorang bayi. Bayi yang membawa keberuntungan bagi kami sekeluarga.

Kali ini aku menikmati penuturan Pak Ki yang lebih mirip orang mendongeng. Sialnya aku tidak bisa mengakurasi cerita dengan kebenaran, sebab ayah telah tiada. Bodohnya aku yang cuek pada segala hal tentang ayah saat beliau masih ada. Yang kulakukan hanyalah menjaga agar kesenanganku tidak berlalu. Aku mengutuk masa di mana aku merasa masa bodoh dengan hal selain diriku.

Tentang cincin itu, aku hanya ingat kejadian saat paman, saudara ibu mendesak ayah agar menjual cincinnya. Dengan pendiriannya yang kokoh jelas ayah menolaknya. Sejak kejadian itu, paman tidak pernah lagi berkunjung ke rumah kami. Ibu berusaha menelponnya tapi tidak pernah berjawab. Ibu mendatangi rumahnya tapi dia mengunci pintu kamar. Kedengarannya seperti kasus anak kecil. Tapi Paman memang keras kepala. Sekali ingin sesuatu harus ia dapat dengan segala cara.

Termasuk saat ayah sakit keras, paman juga enggan membesuk. Tersebar berita tidak jelas, ayah terserang teluh. Teluh sebenarnya bisa gagal saat seseorang melihatnya berwujud panah api di langit dan mengumpatinya dengan kata-kata kotor. Tapi nasib tidak berpihak dan cara mati seseorang sudah tertera jelas di Lauhul Mahfudh. Bagaimana pun mengenaskannya kepergian ayah, aku meyakini akan diganti dengan berjuta keindahan di alam baka.

Segala kenangan tentangnya mengabadi dalam detak perjalananku menuju dewasa. Aku meneladani kesalehannya sebagai persaksi akan kebaikan ayah di dunia. Dan satu wasiat sebelum kepergiannya membuatku tersadar akan satu hal, peristiwa hilangnya cincin ayah selepas kepergiannya.

Seminggu sebelum hari kematiannya, ayah sempat memotret cincin di tangannya dengan ponsel pemberian kakak. Walau beliau sakit, tapi tetap berusaha menampilkan kesan sehat di mata anak-anaknya.

Ia terbaring di atas kasur kapuk yang diletakkan di lantai. badannya berusaha duduk sambil sedikit terbatuk. Aku pura-pura tak menghiraukannya. Kulanjutkan melihat hasil jepretan ayah di ponselnya yang berwarna kuning. Ia berujar pelan,

"Kalau ayah pergi, cincin ini milik suamimu."

"Ayah jangan pergi. Aku masih kecil. Tidak mau menikah."

"Kamu pasti menikah."

"Dengan siapa?" tanyaku, tidak menatapnya.

"Jodohmu."

Aku menganggap percakapan itu hanyalah basa-basi. Namun ingatan tentang obrolan panjang terakhir dengan ayah itu membuatku berani mengaku kepada ibu bahwa aku yang menyimpan cincinnya. Aku memohon ibu tidak bertanya di mana dan tidak menceritakan kepada siapa-siapa. Perasaanku cemas, tetapi ada keyakinan yang kuat kalau cincin itu kini hilang dan akan kembali pulang pada waktu yang dijanjikan. Entah kapan.

November 2016

20 November 2016

Surat Terbuka untuk Muhammad Isni Habibi

(Catatan ulang tahun pernikahan keempat)

Dibandingkan kau, aku lebih cermat dalam mengingat tanggal-tanggal penting. Aku tidak pernah melupakan hari-hari bersejarah tentang orang-orang terdekatku. Terutama hari ulang tahun pernikahan kita.

Aku telah memasang kalender mini menunjukkan hari ulang tahun pernikahan kita di dinding kamar. Aku bertanya itu apa. Kau menjawab tidak tahu. Tetapi itu tidak masalah bagiku. Aku ingin kau tetap menjadi dirimu. Tidak ada aturan kau wajib menghafalkan tanggal. Tidak ada pemaksaan kau harus memberi hadiah spesial. Tetaplah menjadi dirimu yang selalu memberi kejutan di waktu tak terduga. Membelikanku tali rambut, minyak angin saat aku pusing, dan mengerokku saat tidak enak badan adalah hal yang luar biasa dan membuatku merasa berharga.

Terhitung dari 28 November 2012 lalu, kita telah memasuki hari ke-1109. Dalam seribu seratus sembilan hari itu, kita telah melalui masa-masa yang sulit. Masa penyatuan antara dua makhluk asing yang berusaha menyelaraskan tujuan. Bahasa kita memang berbeda, tetapi dengan  kegigihan dan komitmen kita mampu menyusun bahasa yang baru, bahasa yang menjadi perantara agar kita saling mengerti.

Meski demikian, piring dan sendok akan selalu menciptakan bebunyian. Dalam perjalanan rumah tangga tentu saja ada banyak cobaan yang harus dihadapi. Itulah sebabnya mengapa diistilahkan sebagai  rumah tangga. Karena memang kita ditantang untuk melalui berbagai masalah dalam menaiki tangga kehidupan untuk mencapai segala tujuan.

Aku merasa setiap kali kita mendapat masalah, akulah biangnya. Maafkan dan terima kasih selalu mau mengalah. Aku tidak mengira kau akan lebih dewasa dari yang kuprediksikan. Demikian pula aku selalu berusaha tampil lebih baik di hadapanmu dan mencoba menjadi pilihan yang tidak mengecewakan.

Menjelang ulang tahun pernikahan kita yang keempat ini, aku ingin bercerita kepadamu tentang film keluarga berjudul The Pursuit of Happyness (2006) yang baru kutonton minggu lalu. Film tersebut mengisahkan perjuangan seorang ayah dalam mencari kebahagiaan.

Chris Gardner diperankan oleh Will Smith adalah seorang ayah yang rajin, memiliki etos kerja tinggi, dan mempunyai impian besar untuk keluarganya. Dengan berlatar belakang seorang sales mesin kesehatan, ia terus berusaha menghidupi keluarganya. Tetapi kehidupan selalu menguji dan menantangnya. Kehidupan Chris yang melarat membuat istrinya tidak tahan dan meninggalkannya bersama anaknya ke New York. Bahkan saat ia diusir dari rumah kontrakannya karena menunggak uang sewa terlalu lama, ia sampai mengunci pintu toilet stasiun kereta api agar bisa tidur di dalamnya. Ia juga rela mengantri bersama ribuan masayarakat miskin tuna wisma untuk bisa tinggal dan makan gratis di gereja.

Betapa sulit dan menyedihkannya kehidupan Chris dan anaknya, tetapi ia tidak pernah menyerah. Ia juga tidak pernah mengeluh dalam merawat putranya seorang diri. Sampai akhirnya perjuangannya bertemu dengan titik terang. Setelah melalui enam bulan perjuangan dan semua kesulitan, Chris terpilih menjadi pialang saham dan memulai karirnya yang mengantarkannya pada kesuksesan menyandang gelar multi milyarder dermawan.

Aku mengagumi film ini bukan karena kesuksesan yang akhirnya diraih oleh Chris. Tapi kegigihan dan cara-cara cerdas yang dilakukannya membuatku ingin berbagi denganmu. Bagaimana pun sulitnya kehidupan yang kita lalui, aku tidak akan meninggalkanmu seperti istri Chris. Aku ingin selalu bersamamu dalam situasi apapun.

Jangan takut untuk menegurku jika aku menyalahi apa yang kujanjikan kepadamu. Aku ini manusia, dan manusia selalu memiliki alasan untuk menjelaskan kekhilafannya. Seperti saat aku malas mencuci, itu karena aku memang malas menghapi sedikit cucian dan sangat bersemangat melawan bergudang pakaian kotor. Biarkan aku hidup dengan caraku. Selama itu tidak mengabaikan tugas-tugas istri yang harus kukerjakan. Dan aku memberi kebebasan kepadamu untuk sering-sering mengecek toko online karena itu menguntungkan bagi perekonomian kita. 

Di hari ulang tahun pernikahan kita yang ke-4 kita tidak perlu membeli kue dan meniup lilin. Kita tidak perlu memesan tiket untuk bulan madu. Itu semua tidak cocok dengan gaya kita yang hidup di kampung dan serba terbatas. Romantisme tidak hanya bisa diungkapkan dengan cara meniru pasangan selebritis. Seutas senyum lima detik dalam sehari cukup untuk menjadi kado pernikahan kita.

November 2016

22 Juni 2016

Kejujuran yang Tertunda


Suatu sore yang santai di bulan Juni 2015, saya mengajak suami ke rumah sahabat di Batuampar, Guluk-Guluk, Sumenep. Jarak dari rumah kami hanya berbatas 4 desa ke arah barat. Bermain ke rumah teman menjadi pilihan kami sebagai salah satu kegiatan positif untuk sharing dan atau mencurahkan isi hati.

Sahabat bagi saya bagaikan keluarga. Mereka adalah rumah di mana kita bisa berbagi suka dan duka. Biasanya sahabat akan semakin akrab jika memiliki kesamaan atau keberagaman yang dapat dipadukan. Kami memiliki keinginan yang sama; ingin segera dikaruniai momongan.

Berbagai masalah saling kami keluhkan mulai dari dia yang menstruasinya tidak teratur sementara saya sebaliknya, kesehariannya yang diisi dengan berlama-lama di kamar mandi dan mengetes kehamilan, sampai hal yang paling sensitif pun tak segan saling kami bagikan. Sering kami telfonan, atau sekedar BBM-an.

Kami menempuh usaha masing-masing. Dia mengkonsumsi asam folat dari susu program kehamilan, sedangkan saya berkutat dengan tablet provertil dan vitamin E. Kami saling berbagi tips dan bacaan. Intinya kami selalu kompak dalam segala hal, terlebih soal kehamilan.

Pernah saya berkhayal dia hamil duluan. Itu akan sangat menyakitkan bagi saya yang menikah satu tahun lebih dulu darinya. Tapi apa boleh buat, anak bukan dibikin dari adonan melainkan anugerah Tuhan. Tapi tidak, kami masih melalui hari-hari dengan penantian yang sama.

Sebenarnya, di kampus dia adalah kakak kelas saya. Tetapi kami mulai membangun keakraban saat sama-sama berkecimpung di organisasi kampus Lembaga Pers Mahasiswa. Keakraban semakin erat saat suami kami adalah sepasang sahabat yang soulmate. Sampai akhirnya saya menggapnya bagian dari keluarga.

Kadang-kadang saya merasa lebih dewasa darinya yang kalau berbicara lebih mirip anak-anak dengan nada yang ditarik-tarik. Dia cantik dengan tubuh pendek. Kecantikannya saya perhatikan adalah garis turunan dari paras ayu sang ibu. Saya suka ibunya. Beliau langsung akrab dalam perjumpaan pertama kami dulu.  Ya saya suka dengan orang yang ramah dan murah senyum, seperti beliau.

Tema obrolan yang membuat saya nyambung dengan ibunya adalah soal kedermawanan. Kebetulan beliau baru saja datang dari acara haul kerabatnya yang letak rumahnya terpisah sekitar lima petak sawah ke arah barat.

Ia berkisah tentang kebaikan-kebaikan yang dilakukan kerabatnya itu. Setiap kali mengadakan acara-acara sajiannya selalu spesial dan membuat para tetangga senang, kenangnya. Singkatnya orang kaya yang dermawan itu mempunyai usaha yang lancar dan tanpa ragu-ragu ia belanjakan hartanya di jalan Allah.

Memang begitu seharusnya, orang kaya. Namun saya menyanggahnya bahwa untuk menjadi dermawan tidak harus menunggu kaya. Orang kaya yang bersedekah sudah terlalu biasa. Tak ada yang mengejutkan. Tetapi jika sifat kedermawanan dimiliki orang miskin maka itu yang patut diberi penghargaan. Orang yang rajin menabung untuk masa depan dirinya sendiri dapat dikategorikan dalam golongan fixed mindset, pikiran yang buntu, yang hanya memikirkan kenyamanan diri sendiri. Sementara yang mengeluarkan hartanya untuk dibagikan kepada sesama adalah golongan growth mindset, pikiran yang tumbuh, yang selalu berempati pada sesama, begitu kira-kira kata Pak Rhenald Kasali dalam sebuah artikel harian Jawa Pos yang saya temukan sebagai pembungkus nasi.

Obrolan kami selesai saat ibu berlalu ke dapur. Saya melihat sahabat saya itu membenahi simpul sarungnya. Saya perhatikan perutnya agak besar. Mungkin dia tidak menjaga berat badannya sehingga bentuk tubuhnya tidak proporsional dengan tinggi badannya, pikir saya. Saya terus menerka-nerka tidak jelas saat dia menyusul ibu ke dapur mengambil es krim buatannya.

Kakak perempuannya datang dan menyapa kami. Saya tersenyum. Ia mengerti tentang keinginan kami. Mungkin adiknya bercerita. Ia berujar semoga dilancarkan. Saya mengamininya dengan datar.

Setelah mengobrol panjang dan tentunya sudah menghabiskan banyak makanan ringan, saya berpamitan. Ibu menyiapkan sesuatu untuk saya bawa. Saya berterima kasih dengan tak enak hati karena merepotkan.

Di pintu, kakaknya tiba-tiba mengungkapkan kalimat yang menghantam perasaan saya. Ia meminta sambung doa untuk keselamatan dan kelancaran bagi kehamilan si adik. Saya tersenyum tipis dan kaku. Mungkin tampak sekali. Saya balas dengan kata-kata manis setelah si adik berkata jujur bahwa kehamilannya sudah memasuki usia enam bulan.

Di jalan, pikiran saya gamang sembari menerawang kenangan-kenangan saya dengan sahabat saya itu. Bagaimana  kami berbagi saran dan bagaimana kini ia menjadikan saya orang nomor seribu untuk tahu yang sebenarnya.

Motor kami melaju dalam remang. Saya rebahkan kepala di punggung suami seperti membagikan lara yang mendalam. Ia pasti memahami apa yang saat itu mendera batin saya.

Malam datang memperburuk suasana. Dalam hati saya mengerti, sesuatu yang terasa sangat menyakitkan itu bukan karena kehamilannya mendahului saya, melainkan perasaan kecewa kelas profesor atas kejujurannya yang tertunda. Jujurlah mulai sekarang!


06 Juni 2016

Mengapa Anak-Anak Mencuri?

Suara anak laki-laki memanggil berkali-kali untuk membeli tahu ketika saya sedang shalat ashar. Fokus dalam bacaan shalat menjadi buyar ketika langlah kaki mulai mendekati tempat keluarga saya menyimpan uang. Saya tetap melanjutkan shalat walau setan telah berhasil menggoncangkan hati dan meracuni pikiran dengan keinginan memergoki apa yang dilakulam anak itu.

Selepas shalat tanpa dzikir dan doa, lekas saya beranjak menuju tempat tadi. Mendadak saya dikejutkan dengan pemandangan tas terbuka lebar dan posisi uang yang acak-acakan. Awalnya saya ragu memanggil anak itu, sebab menduga sayalah yang kurang teliti menghitung. Tetapi karena mata dan pikiran saya masih awas serta tidak divonis mengidap alzeimer, maka saya meminta suami agar memanggilnya kemari.

Anak itu berdiri di depan suami sembari menenteng plastik berisi tahu. Badannya tinggi kurus dengan kulit sedikit lebih gelap dari kulit sawo matang. Mukanya terlihat pucat dengan nada suara tegang. Jawabannya berputar-putar sekitar tidak, menggeleng, bersumpah, dan lebih banyak menunduk yang membuat kami iba lalu membiarkannya pulang.

Saya dan suami berdebat sengit saling menyalahkan. Saya protes, dia kurang tegas. Dia protes balik karena saya hanya diam. Intinya kami sama-sama tidak tegas.

Dari kejadian ini sayalah yang merasa paling bersalah. Seluruh keluarga di rumah mertua bepergian dan menitipkan rumah kepada saya dan suami. Karena perasaan bersalah inilah saya menghitung jumlah uang berulang-ulang. Dan memang benar, deretan paling atas hanya ada lima ribu. Seharusnya lima puluh ribuan baru saja saya terima dari Muhni yang membeli dua papan tahu.

Suami meminta saya melupakan kejadian ini, tapi saya tidak patuh dengan menceritakan ulang secara kronologis kepada emak dan aba. Perasaan semakin tidak enak saat ipar, Yuk Sul, menyalahkan saya dan suami yang tidak becus menjaga dagangan. Akhirnya aba memutuskan agar saya dan kakak ipar berkunjung ke rumah tersangka. Bukan karena nominal, melainkan agar menjadi pelajaran dan tidak dijadikan kewajaran.

Satu kilo meter menyusuri sungai ke arah timur dari rumah, kami telah disambut oleh seorang nenek yang baru turun dari ranjang kamarnya. Kancing bajunya belum selesai dipasang ketika ia mempersilakan kami duduk. Saya bimbang berterus terang tentang maksud kedatangan kami karena si nenek terbatuk-batuk dan mengatakan tidak enak badan. Tentu saja ia juga sedikit kaget memerima tamu di sore petang.

Yuk Sul memulai pembicaraan dengan halus dan berhati-hati. Saya mencolek jari kelingking kakinya karena takut sang nenek tersinggung. Benar dugaan saya, suaranya meninggi dengan tatapan sinis. Ia mengelak cucunya tidak mungkin melakukan hal buruk seperti yang kami tuduhkan.

Seorang perempuan menggendong balita perempuan memecah ketegangan. Ia pun tak kalah heran mendapati tamu di waktu yang bukan sepantasnya. Pada tetangga yang berpapasan di jalan tadi, ketika ditanya, Yuk Suk memberi jawaban ingin memarani jahitan. Ibu dari anak itu adalah penjahit. Menjahit mungkin hanya pekerjaan sampingan selain mengajar dan bertani.

Ibu dari anak itu adalah seorang guru TK swasta di kampung kami. Mengetahui fakta ini keheranan muncul berlipat-lipat di dalam pikiran saya. Saya juga menduga kuat bahwa si ibu sangat terpukul mendengar berita ini. Tetapi kami bersama harus memastikan apakah benar bocah yang masih duduk di bangku SMP itu mencuri?

Di sinilah batin dan pikiran saya bertarung. Logika meyakinkan bahwa anak itu benar-benar telah mencuri. Sementara batin saya menolaknya dengan asumsi anak seorang pendidik jauh dari kemungkinan melakukan hal yang tidak baik.

Sejauh ini saya telah melakukan hal yang berani dan beresiko. Bagaimana mungkin hanya dari rasa curiga yang kuat saya sanggup melontarkan tuduhan, bahkan kini berhadapan dengan keluarganya. Jika anak itu tidak mengku, tentu saya akan sangat malu. Sebaliknya, jika ia mengaku kami juga tidak enak hati pada keluarganya. Jelasnya kami semua, di ruang depan yang panjang, masih menunggu kedatangan si anak yang belum pulang dari tempat bermain.

Ketika saya menoleh, dari kejauhan tampak anak kurus panjang mengenakan kemeja hitam tengah melintasi jembatan sungai. Ibunya menyusul. Entah apa yang mereka bicarakan dalam waktu yang cukup singkat. Sebentar kemudian mereka telah masuk rumah. Saya memberanikan diri bertanya secara gamblang dengan diksi pilihan yang saya rasa tidak akan menyinggungnya.

Ia hanya mengangguk lalu menunduk. Ibunya keluar dari kamar dan menyerahkan uang kertas berwarna biru. Sekali lagi Yuk Sul bertanya pada anak itu apakah ia dipaksa mengaku hanya supaya urusan ini segera usai. Apabila benar, maka si ibu sungguh sangat naif mengakui kesalahan yang akan dikenang sepanjang perjumpaan. Akan tetapi si ibu menggeleng dan mengakui dengan pasti anaknya bersalah.

Di jalan yang lengang karena sudah petang, uang kertas bergambar danau Beratan saya genggam erat dengan petanyaan dan dugaan tumpang-tindih. Mengapa anak-anak mencuri? Mereka mencuri karena tidak mengerti. Mereka mencuri karena membutuhkan identitas dan pengakuan kawan-kawannya. Mereka mencuri karena mencontoh yang salah. Mereka mencuri karena tidak diberi uang jajan atau terlatih boros sehingga selalu merasa kurang. Mereka mencuri karena penyakit gangguan kejiwaan kleptomania. Dari semuanya, yang paling pasti adalah pencurian terjadi hanya karena adanya kesempatan.

Ambunten, 6 Juni 2016.

22 April 2016

Belajar Keselamatan untuk Masa Depan



Minggu pagi menjelang siang, sekawanan anak kecil berlarian menyusuri jalan tak beraspal yang di tengahnya tumbuh mengalir rumput semata kaki. Tampak ibu jari dan telunjuk kaki mereka mencengkeram leher sandal kuat-kuat saat tiba di tanjakan seram. Kemudian mereka melewati pematang yang mengharuskan melakukan beberapa lompatan. Di antara anak kecil itu ada saya, belasan tahun yang lampau, saat saya masih tidak sungkan menghirup ingus keluar ke dalam.

Bagi anak kecil di segala masa, hari libur adalah kesempatan berharga untuk bersuka cita. Anak-anak di kampung kami mengisi hari libur dengan membantu orang tua di sawah. Misalnya hari libur di musim tembakau, kami membantu mencabut bibit tembakau di bedengan untuk dipencar di atas lubang tanah gulud. Kala itu kami berangkat terpisah dari para orang tua karena ingin berlama-lama di sumber Bukoh. Sumber mata air satu-satunya di desa kami yang subur tak kenal musim.

Sumber Bukoh terletak di lereng gunung Pangelen, Tambuko, Guluk-Guluk, Sumenep. Tepat di selatan sumber adalah sawah milik tetangga saya, Pak Matjuher. Jarak yang harus kami tempuh untuk sampai di tempat itu kurang lebih satu setengah kilo meter. Memang tidaklah dekat, tetapi sensasi kegembiraan bermain percikan air bersama teman-teman tidak bisa dibandingkan dengan kebanggan membayar tiket masuk waterpark. Airnya asli proses alamiah mengalir di antara pohon dan bebatuan.

Dulu banyak sekali ibu rumah tangga berdatangan untuk mencuci, anak-anak menyemplungkan diri, atau laki-laki memandikan sapi. Sekali lagi itu dulu, belasan tahun lalu.

Saat ini, jelas sudah jarang orang-orang bertandang ke sana. Menghindari alasan malas berjalan, pipa air sudah banyak terpasang dari mulut sumber ke rumah penduduk. Jadi walau tak lagi disambagi, sumber itu tetaplah mencurahkan kesegaran pada tenggorokan yang kerontang, pada tubuh yang kepanasan, dan pada jiwa haus akan kesadaran.

Dari seorang kawan masa kecil yang mengomentari foto saya yang berlokasikan di sumber Bukoh, di media sosial, saya tahu saat ini banyak masalah terjadi. Bermula dari semakin kecilnya aliran sumber air, banyak warga berebut dalam urusan pengairan sawah. Beberapa warga juga mengeluh karena saluran pipa tidak lagi berfungsi. Saya terkesiap baru tahu urusan macam itu. Maklum terakhir berkunjung sekitar enam tahun lalu. Hidup lama di pesantren yang ketika pulang langsung dipersunting bindara shaleh, saya pun manut mengabdi di rumah mertua.

Sebenarnya itu hanya alasan saya. Untuk bisa menyerap informasi, bergantung pada seberapa kuat keinginan diri. Semua itu tidaklah terlalu aneh bagi saya yang lebih sering memilih bermalas-malasan. Tetapi ada yang lebih sinting lagi dari penyakit saya. Semua orang tahu bahwa air merupakan bagian terpenting dalam hidup. Tapi ironisnya hampir bisa dipastikan lebih banyak orang yang tidak tahu jika selasa, 22 Maret 2016 kemarin adalah Hari Air Sedunia.

Sebagian orang mungkin menyepelekan, tetapi sebagiannya lagi memilih berdiskusi mencari solusi menghadapi krisis air dan memperdalam wawasan tentang betapa berjasanya air bagi hidup. Misalnya tubuh yang jatuh bangun kita pelihara ini terdiri dari 55% sampai 78% air. Bumi yang kita huni, melayani dan menyuplai apa yang kita cari, menampung 71% air yang terus berputar ke atas ke bawah. Coba bayangkan jika tiba-tiba Tuhan menguji makhluk dengan fenomena sedot air sejagad raya. Apa yang terjadi? Barang kali kita tak jauh berbeda dengan bangkai ikan di pinggir lautan. Mungkin karena itulah, air kemudian diperingati setiap tahunnya, di seluruh dunia.

Namun itu semua hanyalah wacana. Sedangkan realitas yang ada justru berpunggungan. Sementara sebagian orang memilih jalan membela lingkungan, lebih banyak lagi yang memilih menghancurkan. Korbannya, sumber mata air kering karena pohonnya ditebang. Keadaan ini, bukan tidak mungkin pada akhirnya akan menjadi penyebab kelangkaan air bersih.

Belajar dari Masyarakat Bali dan Mollo

Di beberapa tempat di Indonesia, di Bali misalnya, pohon di agungkan sebagai arwah keramat. Jangan heran jika di jalanan pohon-pohon dipakaikan sarung motif kotak berwarna hitam putih. Itu semua menunjukkan rasa hormat, kepercayaan, rasa terima kasih, dan getaran ketakutan terhadap eksistensi diri.

Masyarakat Bali percaya bahwa lambang yang mereka ciptakan adalah jendela yang membuka pandangan terhadap dunia trensenden. Melalui kepercayaan tersebut mereka terus berusaha menjaga komunikasi dan keakraban dengan alam. Jadi akan sangat langka menjumpai penebangan pohon di sana, apalagi secara serampangan. Sebaliknya, tanah dan airnya subur, lingkungannya pun selalu terlihat eksotis dan menghibur.

Selain Bali ada yang lebih syakral lagi, orang-orang Mollo, Timor Tengah Selatan (TTS), Flores, Nusa Tenggara Timur, memandang alam sebagai tubuh manusia. Menurut mereka itulah kunci keselamatan hidup. Mereka melambangkan batu sebagai tulang, tanah sebagai daging, air sebagai darah, dan hutan sebagai paru-paru, kulit, dan rambut. Sebagai darah, air berfungsi untuk menyuplai oksigen dan mengembalikan karbon dioksida pada hutan atau yang dilambangkan sebagai paru-paru. Jika tak ada air, maka seperti tubuh kehilangan darah, lenyaplah kehidupan.

Lakukan dari Hal Sederhana

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi kondisi global yang kita bentuk sendiri? Kita coba mulai dari hal yang paling penting, yaitu membangun kesadaran bahwa kita saat ini tengah berada di ambang resiko paling berbahaya; krisis air. Aksinya, kita lakukan dari hal sederhana seperti menghemat air. Untuk berhemat, tidak perlu melakukan hal-hal sulit seperti sosialisasi, ceramah bertema lingkungan, atau memasang plakat. Kita hanya perlu mengontrol diri agar menggunakan air sesuai kebutuhan serta segera mematikan kran air supaya tidak sampai meluap dan terbuang percuma.

Sejujurnya saya tidak tahu apakah dengan cara menghemat akan punya dampak untuk melawan krisis air di masa mendatang, sementara ada lebih banyak orang yang menghambur-hamburkan. Tetapi jika ini dilakukan bersama-sama, akan lebih memungkinkan menepis nasib sengsara bagi anak cucu. Bukankah begitu?

Akhirnya untuk menutup tulisan ini saya hanya bisa mengutip ceramah mantan presiden Gorbachev dari Soviet dalam peringatan (KTT) Bumi +5 yang dilakukan oleh NGO pada tahun 1997, dalam paper yang ditulis Maria Hartiningsih untuk acara lokakarya bertema lingkungan yang diselenggarakan Satunama, Yogyakarta. Beliau mengingatkan bahwa manusia sedang menghancurkan dirinya sendiri dengan menghancurkan alam dan lingkungan. Namun alam dan lingkungan akan memperbarui dirinya sendiri secara incremental pada saat manusia tak bisa lagi bertahan.

22 April 2016.

13 April 2016

Muslihat

“Janjinya cuma seminggu, nyatanya sudah setengah bulan Mona belum juga membayar hutangnya.”

“Mungkin belum kiriman. Kerja di negeri Jiran, hanya sebagai kuli bangunan, hutang ongkosnya paling juga belum lunas.”

“Tetangga kita ini kerjanya hanya gali lobang. Selalu lupa untuk menutupinya.”

“Mau bagaimana lagi,” ada nada kecemasan dalam jawabannya."

“Na juga pinjam gelangnya Hajah Rukayyah,”sang suami menimpali lagi.

“Bukan urusan kita, Pa,” perempuan itu mencoba menyudahi.

“Hidup di mana saja kita selalu dikerjar-kejar tukang hutang. Rasanya tidak tenang.”

Susi menundukkan kepala karena sudah tidak tahan. Tiba-tiba air mukanya seperti sedang kurang darah. Tetapi akhirnya ia lega saat berhasil mengangkat tema lain dalam obrolannya. Tentang harga beras misalnya, yang akhir-akhir ini selalu naik. Andai saja ia tidak menanduskan sawahnya, tentu saja berkarung beras akan menghiasi dapurnya.

Berkarung beras di kepalanya itu hanyalah khayalan. Sebenarnya ia lebih senang menunggu tanggal muda. Gaji suaminya sebagai Sekretaris Desa yang tergolong Pegawai Negeri Sipil itu dirasanya sudah cukup menghidupi dirinya dan keluarga.

Ia telah memilih menjadi ibu rumah tanga saja. Mengikuti tren busana terbaru, mengoleksi lipstik dari yang murahan sampai yang eksklusif, PKK, arisan, dan menjalani kegiatan tidak penting lainnya yang menurutnya sangat heboh. Coba saja periksa lemari pakaiannya. Warna apa yang tidak ada? Model apa yang tidak punya? Mejikuhibiniu semuanya lengkap bergelantungan bagai bunuh diri dengan hanger. Aroma rumahnya seperti butik. Menyeruak menawarkan kedengkian para tetangga.

Baginya, tetangga di kampung itu cuma baik saat ada maunya. Contohnya meminjam baju, uang, atau meminta garam. Tetapi sebenarnya tidak. Di kota, pagar-pagar tinggi menjadi batas. Tak ada ceritanya minta atau pinjam. Tak ada juga yang bisa dimintai bantuan untuk mengerok saat masuk angin. Susi sudah buta, tak menyadarinya.

 ***

Masyarakat di desanya sudah sepakat bahwa nama Susi adalah akronim dengan kepanjangan Super Sibuk. Baginya tiada hari tanpa jalan-jalan. Paling tidak ke pasar cari kain murah yang bisa didesain jadi seperti mahal. Lumayan bisa dipakai mengantar anaknya ke sekolah atau jalan-jalan ke taman bunga di malam hari. Ya, pikirannya tak pernah lepas dari pakaian baru.

Awalnya suaminya menegur agar Susi juga menabung untuk masa depan anaknya. Suaminya bilang mata itu seperti botol terbuka yang akan terus mengisi diri sampai meluap luap. Kita sendiri yang harus menyumbatnya dengan menutup hasrat pada apa yang tidak menjadi kebutuhan. Jangankan ia menyesal, mendengarkan saja juga tidak. Buktinya saat itu ia bilang oke, besoknya sudah mulai lagi. Kondangan, khitanan, karnaval, bahkan melayat pun bajunya harus baru. Harus senada dengan kerudung, tas dan sandalnya. Menghadapi itu semua suaminya pasrah total.

Kedahsyatannya dalam berbusana dan berdandan itu membuat Musa seorang manusia jenaka di kampungnya berkomentar, “Bajunya berjanggar-janggar mirip ayam jago punya Siri.”

Lelaki mana yang tidak tertarik dengan kemolekannya. Pipinya khumaira dengan polesan merah pipi merk ternama. Garis hitam tajam tak pernah luput melingkari matanya. Ketika wajahnya terbungkus hijab, maka ia mirip artis dalam sinetron Tukang Cendol Naik Haji. Hanya menjadi rahasianya bahwa ia pernah menerima lembaran kertas merah bergambar Dr.(H.C.)Ir.Soekarno dan Dr. (H.C.) Drs. Mohammad Hatta dari lelaki berondong yang ingin mendapatkan satu ciumannya. Ah, maut rasanya. Andai gambar dalam uang kertas itu diganti dengan fotonya, maka ketenaran baginya adalah niscaya. Namun khayalan-khayalannya selalu seperti membumbui burung terbang. Ia bahkan kesal ketika mengingat malah munyuk yang ada dalam gambar uang lima ratusan tempo dulu.

Saat suaminya bertanya asal-usul uang itu, ia seperti murid cerdas yang cekatan memberi jawaban. Entah dari kakaknya yang bekerja ke Lombok atau menang arisan. Suami yang malang. Ia tidak pernah memperpanjang perkara apalagi curiga. Kalau ada penghargaan untuk kategori suami paling pengertian, Rudilah juaranya.

Susi memang tidak pernah mencurigakan. Mereka selalu tampil mesra. Tangan perempuan bertahi lalat di bawah mata kirinya itu tidak pernah tidak melingkari pinggang kanan suaminya saat membonceng. Ke mana pun Rudi pergi ia selalu mengiringi. Hanya beberapa kali mereka pernah beradu mulut. Salah satunya tentang keinginan Susi yang tidak dituruti.

“Aku pengen kebab Turki. Katanya di kampung Arab ada habib baru buka kedai,” ujarnya dengan nada manja.

“Jangan sok artis! Makan yang enak-enak tidak akan diliput jadi berita infotainment.”

Pipi Susi kembung kanan kiri. Bibirnya panjang lima centi. Bagaimana mungkin ia melewatkan kesempatan menjadi yang super tahu tentang makanan? Bukankah selama ini selalu ia yang memulai obrolan tentang kuliner di Sumenep? Seakan ia sudah menjadi juri di ajang master chef Indonesia.

Hampir semua makanan di kota berlambang kuda itu ia cicipi. Ia sering dudukdi meja Toby's dan kedai HK. Ia tahu dimana soto babat Madura yang paling dahsyat rasanya. Ia akrab dengan penjual rujak selingkuh rasa maut. Ia bahkan sudah pernah mencicipi bakso di seantero kotanya, bakso kondang 99, Adil, Kembang, Prima, tak lupa juga bakso urat di dalam pasar Anom.

Pengalamannya soal makanan yang diumbarkan berkali-kali pada tetangganya membuat mereka tertawa-tawa, walau hanya dalam hati. Seseorang yang bersuami orang Bangkalan tersenyum sinis. Dalam hati ia mengumpat,

“Dasar mulut tidak berpendidikan! Mungkin akan berhenti mengoceh kalau disumabat dengan bebek Sinjai.”

Kehebohan seakan tak pernah surut dalam hidupnya. Tetapi tidak dengan hari ini. Hari yang merupakan kiamat bagi dirinya. Mona mengatakan yang sejujurnya pada Rudi tentang siasat Susi yang meminta bantuannya untuk meminjam uang.

“Memangnya dari mana aku tahu kalau kamu sedang punya uang, Rud?” katanya tanpa tedeng aling-aling.

Rudi terdiam lama sekali. Pikirannya buntu. Lebih parah lagi saat Na juga bertandang ke rumahnya dan melaporkan hal yang senada.

“Susi juga menyuruhku meminjamkan gelang Hajah Rukayyah. Sekarang sudah dilelang pegadaian. Kita semua sudah dengar kabar kan kalau gelangnya 24karat dengan berat 20 gram.”

Hanya sekejap saja semuanya menjadi nyata. Perlahan, pikirannya mundur jauh sejauh-jauhnya. Siapa yang ianikahi? Tidak lain adalah maling di rumahnya sendiri.

Dari kejauhan tampak Susi berkibar-kibar dengan gaun merah terang dan kerudung kuning menyala-nyala. Wajahnya berubah ketika menyadari Mona, Na, dan suaminya duduk bersama-sama. Ia berdiri di ambang pintu dengan muka pasrah dan tungkai yang bergetar-getar tak mampu menopang tubuhnya. Dengan dua kata Rudi berhasil merobohkan keangkuhannya.

“Kita cerai!”
 
Copyright 2009 KILAU CORN