23 Januari 2018

Kutu-Kutu di Kepalaku

Mungkin aku sudah sinting. Rambutku tak disisir dan dihuni kutu. Ekor telurnya kurasakan seperti jarum tumpul menggelitik kulit kepalaku. Kugaruk berkali-kali sampai luka, bahkan keluar darah.

Seperti apakah suasana di kepalaku? Kehidupan macam apa yg mereka jalani dengan numpang hidup dan menyakiti. Dasar tak tahu diri.

Kadang mereka berpindah-pindah dari kepala ke kepala yg lain untuk melanjutkan hidup dan membangun generasi. Seperti manusia tak betah tinggal di bumi dan mencari planet lain yg bisa menampung mereka. Atau dari negaranya ke negara lain demi menyambung hidup.

Manusia hampir mirip dengan kutu. Bedanya manusia makan nasi atau roti sedangkan kutu makan darah. Tidak,  tidak, manusia dan kutu tak ada bedanya. Mereka berdua sama-sama makan darah. Kutu makan darah manusia dan manusia makan darah saudaranya. 

Mungkin aku memang sudah setengah dua belas. Kemiringan-kemiringan aku rasakan saat aku berhadapan dengan ponselku dan aku lupa waktu. Aku berselancar di internet mencari kiat membasmi kutu. Saat kuketik kutu di mesin pencari, maka keluarlah laman-laman yg menampilkan sejarah lahirnya kehidupan kutu berikut cara mengusirnya. Aku tersenyum. Aku bersemangat.

Ketika aku klik link pertama muncullah  promosi iklan. Tak sengaja aku mengikutinya. Aku terpaut pada iklan-iklan berikutnya. Kujumpai krim pemutih kulit, baju-baju hits kostum artis, ramuan herbal pelangsing, mesin pemutih gigi, sepatu, sandal,  dan banyak lagi iklan lainnya tumpang tindih menawarkan produk unggulan. Aku terbuai.

Kali ini aku benar-benar gila. Kegilaanku bukan hanya karena intensitas dg ponsel cerdasku, melainkan kegiatan belanjanya. Tiada hari tanpa mengetik "yang ini ukuran apa aja, Sis? LDnya berapa? Warna hitam ada?“.  Lemariku penuh. Aku membeli lemari baru.

Apa aku manusia ataukah aku seekor kutu yang memburu segala yg kuinginkan seperti saat mereka menggigit kulit kepalaku? Gatal rasanya. Lebih akut dari rasa geli saat kutu-kutu berpindah dari garis belakang telinga ke cekung leher. 

Aku tak mengenali siapa diriku. Kadang-kadang aku menangisi diriku di cermin. Aku bersama teman-temanku tetapi jiwa kami tak terhubung. Aku acuh pada tugas-tugasku. Aku juga ingat pen dan catatan harianku sudah lama tak kusentuh. Duniaku sebatas genggaman dalam layar beberapa inci. Betapa menyedihkannya diri ini.  

Aku rindu diriku. Aku ingin waras dari kesintingan ini. Aku mulai menulis. Barangkali ini mampu menjadi obatnya. Semoga lekas sembuh, diriku.

Tamba Agung Ares,  23 Januari 2018

Tidak ada komentar: