03 Januari 2023

Jangan Remehkan Sakit Gigi

Jika ada persoalan hidup yang boleh saya keluhkan saat ini, adalah sakit gigi. Sudah hampir sebulan saya mencari jalan kesembuhan tanpa harus dicabut ke dokter. Mulai dari membeli obat di apotek, obat eceran di toko jamu, menempelkan kapas yang diolesi minyak angin, perisa sirup, bubuk vanili, dan bahkan dengan cara ditiup jarak jauh oleh seorang ustad pakar gigi. Tetapi hampir semua cara dan obat yang saya konsumsi hanya membantu mengurangi rasa sakit dan bukan mengobati.


Rasa sakit itu timbul tenggelam secara tak terduga. Bila tiba masa kedatangannya, ia seperti seekor semut merah yang merayap melewati kubangan gigi ke gusi, menjalar ke kepala, leher dan sekujur tubuh. Sensasi yang disajikan menimbulkan denyut hebat persis jarum ditusuk-tusuk. Akibatnya, perasaan sensitif selalu ingin marah-marah. Jangankan ada orang asyik berbicara, deru kendaraan saja bisa menjadi masalah.


Inilah rasa sakit yang dulu membuat saya penasaran. Setiap kali ada orang mengeluh sakit gigi bahkan menangis di dekat saya, saya seperti tertantang ingin juga merasakan. Akhirnya sekarang saya menggapainya.


Sakit gigi ini, sejujurnya memang berawal dari kecerobohan saya. Seringkali suami menegur karena saya jarang menyikat gigi menggunakan pasta. Alasannya karena tidak suka. Rasa pedas pasta gigi membuat saya mual dan sering meludah. Tak terbayangkan sama sekali akan mengantarkan saya pada kondisi di mana semua orang ingin saya kutuk agar bisa merasakan sakitnya bersama-sama.


Mungkin saja ini juga karena faktor bertambahnya usia yang mengakibatkan penurunan imun secara signifikan. Seperti pernah dianjurkan ayah mertua agar bernikmat-nikmat selagi masih muda, karena bila sudah tua, indera perasa akan terus berkurang. Sakit gigi ini pun menjadi penghalang untuk menikmati masakan pedas, sambel terasi, kuah santan, krupuk dengan tekstur keras, dan aneka hidangan manis.


Kegiatan berkuliner menjadi sangat terbatas. Makan nasi pun harus ektra hati-hati, sebab bila sebutir saja masuk ke dalam rongga gigi, maka masalahnya akan rumit. Rombongan semut merah membawa pedang jarum pentul itu akan datang menjajah liang geraham sembari mengantarkan rasa sakit tak tertahankan mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Saya yakin almarhum Meggy Z tidak pernah merasakan sakit gigi selama hidupnya sehingga dengan mudahnya mengarang lirik lagu "lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati". Bagi saya keduanya bukan pilihan, sebab sama-sama tidak mengenakkan. Bagaimana jika mereka datang bersamaan? Bisa dibayangkan sakitnya ada berapa lapis? Ratusan.


Tambuko, 03 Januari 2023