28 Januari 2018

Si Buta dari Gua Payudan

Kamis sore minggu lalu, aku terjebak hujan di lokasi pembuangan mayat korban carok. Waktu itu aku jalan kaki karena ban motor suami kempes. Aku memilih tidak membonceng karena takut kasus kempes tadi merambah pada rusaknya velg.

Suamiku berkali-kali menawari agar aku ikut. Aku masih bersikukuh menolak. Opsi lainnya, seperti barang, aku dititip di rumah temannya. Ia akan menjemputku saat motornya sudah pulih. Aku setuju.

Diam-diam aku memilih meneruskan perjalanan saat suamiku sudah berangkat. Pikirku agar ia tak jauh-jauh menjemputku karena hari sudah mulai petang. Aku ingin cepat sampai di rumah.

Bengkel masih jauh, kata orang yang kutanya di pinggir jalan. Alamak! Sandal baru yang kebetulan pertama kali kupakai  alamat tipis dimakan aspal. Aku menyesal tak memakai sandal yang lama.

Kecamuk batinku reda saat langit tiba-tiba mendung dan hari seperti beringsut lebih cepat. Suasana petang dan angin kencang mempercepat langkahku. Tak kupedulikan lagi sandal dan ransel sesak di pundakku. 

Rute yang dipilih suamiku kali ini benar-benar menantang. Dari Ambunten kami memilih  jalur Cempaka-Sa'im menuju rumahku, Tambuko. Karenanya angan-anganku semakin kusut membayangkan hal yang tidak-tidak. Bibirku tak hentinya membaca doa-doa keselamatan dalam perjalanan.

Kata guru ngajiku, ada satu amalan doa yang jika dibaca maka tubuh kita tidak akan terlihat oleh orang jahat. Doa itu kurapalkan berkali-kali sampai lidahku terasa kaku. Bacaanku terhenti oleh gerimis yang mula-mula jatuh sangat tipis. Kemudian dilanjut dengan rintik hujan sebesar biji jagung.

Aku menyesal tidak patuh pada suamiku. Jika tadi aku tidak ceroboh maka saat hujan ini datang aku bisa numpang berteduh di rumah orang. Rumah warga tampaknya masih jauh. Untuk putar balik aku merasa perjalanan yang kupilih akan sia-sia.

Dalam kondisi bingung dan cemas aku menyadari empat hal. Satu, Sa'im sejak dulu kala dikenal dengan lokasi aksi para perampok. Dua, ternyata aku akan melewati tempat pembuangan mayat korban carok. Tiga, ponselku kuletakkan di tas suami sehingga aku tak punya kesempatan berkomunikasi. Dan empat, merupakan yang paling parah, kala itu adalah malam Jum'at!

Di kanan kiriku hanya semak belukar dan pohon-pohon jati merindangi jalan. Kesialan ini telah berlapis-lapis kuterima. Sementara suamiku pasti merasa tenang karena mengira aku aman di rumah kenalannya. Entah bagaimana nasibnya.

Aku berhenti sejenak saat tiba di tanjakan curam karena lututku rasanya mau patah. Napasku tak dapat diatur. Dalam hati aku berdoa agar suamiku segera datang atau adanya keajaiban lain yang meringankan beban penderitaanku. Misalnya ada orang baik yg lewat dan menawari tumpangan. Namun seperti cobaan yang sangaja menantangku, tak ada satu pun kendaraan atau orang lewat.

Aku pasrah dengan keputusan Allah. Aku yakin Dia tengah menguji mentalku yang lemah. Kesadaranku itu mengurangi keresahanku perlahan-lahan.

Ketika aku menoleh, di kejauhan aku melihat lampu mobil searah dengan tujuanku. Bagaimana pun aku akan memohon pertolongan pada pemilik mobil itu. Harapan terbesarku semoga aku tidak dipertemukan dengan orang jahat yang akan mencelakakanku.

Mobil Carry semakin mendekat mewarkan harapan begitu kuat. Namun aku tak langsung menampakkan diri karena ingin memastikan pemilik mobil bukanlah preman. Begitu firasat baikku mendukung aku menyetop dengan melambaikan tangan beberapa kali.

Mobil itu berhenti. Sopirnya memakai peci. Pikiranku mulai terkendali.

Aku dipersilakan masuk dan duduk di kursi tengah bersama dua orang perempuan berjilbab. Aku menduga itu adalah mobil seorang kiai. Hatiku sungkan namun ikut bersama beliau adalah pilihan terbaik.

Di jalan, aku ditanya macam-macam. Aku menjawab seperlunya dengan sopan. Aku balik bertanya di mana alamat si pemilik mobil. Salah seorang di antara mereka menjawab dengan cepat, Karduluk.

Obrolan ringan tadi mencairkan suasana hatiku. Tak hentinya kuucap syukur di dalam hati. Bagaimana pun kejadian itu adalah pengalaman yang sangat mengerikan di dalam hidupku.

Hujan mulai reda. Di pertigaan jalan Ganding nanti aku akan meminta diturunkan karena arah pemilik mobil berlawanan dengan tujuanku.

Ganding hampir tiba, aku berpikir untuk meminjam ponsel pada pemilik mobil untuk menghubungi suamiku. Namun aneh, saat perempuan di samping kananku hendak memberikan ponselnya, tiba-tiba ia memasukkan lagi ke dalam sakunya setelah mendapat kode mata dari perempuan satunya. Aku mulai curiga.

Kuperhatikan baik-baik kabin mobil. Kursinya kusam dan bau apek. Dashboardnya juga remuk tak karuan.

Saat hatiku mendadak tidak tenang, kurasakan kakiku seperti basah oleh genangan air. Karena ruangan gelap aku mengira itu adalah air mineral yg tumpah di kursi belakang.

Kakiku mulai terasa gatal. Kugaruk dengan tangan kananku. Dan astaga! Secara tak terduga tiba-tiba menyeruak bau amis. Tak salah lagi, itu darah! Mataku terbelalak tegang.

Aku belum berani menoleh karena dua perempuan yang mengapitku memperhatikan gerak badanku. Aku pura-pura bingung akan keberadaan suamiku. Setelah aku berkesempatan menoleh, melalui remang cahaya lampu jalan, dalam sekali lirik aku melihat seorang lelaki disandarkan pada pojokan mobil dalam kondisi kepala penuh darah.

Degup jantungku sangat kencang seperti mampu didengar semua orang. Badanku menggigil oleh rasa dingin dan takut. Aku menelan ludah. Aku menyesal telah memilih berada di tempat yang salah.

Apa yang harus aku lakukan dalam kondisi yang begitu dekat dengan maut? Sementara kesempatan untuk mencelat sangatlah minim. Kalau aku berteriak minta tolong, itu berarti aku mempercepat ajalku. Kalau aku memilih melompat, aku harus melawan dua perempuan di sampingku, dan belum tentu aku selamat. 

Tubuhku bergetar hebat memilih dua opsi yang sama-sama membahayakan hidupku. Sesungguhnya rejeki, jodoh,  dan maut sudah diatur Tuhan. Jika kali ini adalah giliranku, maka aku siap. Tetapi jika tidak, Tuhan pasti menunjukkan jalan lain dengan cara rahasinya, apapun itu.

Suara perempuan di sampingku mengacaukan lamunanku. Aku kembali sadar dan mencoba bersikap tenang. Sekilas pintas berkelebatlah bayangan-bayangan mereka yang kusayang. Seperti diputar ingatan, gambar ibu, suamiku, kakak, Miko, Upik, Alya, dan Nia silih berganti memenuhi pikiran.

Sebelum tiba di pertigaan Ganding, mobil berhenti, tepat di bawah pohon siwalan tua bangka. Mungkin di sinilah mayatku akan disandarkan. Dua perempuan di sampingku memegang pergelangan tanganku. Pak Supir yang dari suaranya bersahaja berubah menjadi sangar. Ia menjulurkan tubuhnya dari kursi depan. Tangan kirinya meraih belati mungil dari bantalan sarungnya. Sialnya, tanpa sempat bertanya apa salahku, mulutku telah disumpal kerudung kecil.

Ketika belati itu siap mencongkel mataku, sebuah tangan kekar menutup mukaku. Aku tak bisa bernapas. Ternyata itu adalah tangan suamiku yg terbaring di sampingku. Alarm berbunyi menunjukkan pukul 03:30 dini hari. Seperti sapi tua, aku malas bangkit memikirkan jika kejadian tadi bukanlah mimpi, maka kini aku telah menjadi si buta dari gua Payudan.

Tidak ada komentar: