Mad, nyala matamu adalah kunang kunang, malam itu
;saat kau menjelma katak bertapa dengan mahkota
Gigil angin menyapu telingaku
Lembut
Kau pintar meniup rasa
Kau lihai membisik kata
Tapi bagiku
Tak perlu kacamata untuk ku mengikat mata
Sebab aku tak rabun untuk
melihat tubuhmu yang biru, jernih, cahaya, dan panas
(hanya, aku takut terbakar…)
Ssst!
Suaramu berisik, Mad
Seperti tak tik hujan yang jatuh di seng kamar mandi
Hampir kau buat aku luluh oleh abjad
yang kau pahat pada relung relung rumah kayuku
Untuknglah
Tuhan masih melekat dalam urat
Hingga topengmu dapat kubelah
Guluk-Guluk, 04 Maret 2010
05 Maret 2010
Rindu Belum Pecah
Seharusnya ku tatap wajahmu hari ini
bersama mekar bunga yang basah oleh gerimis
embun di pagi buta
Seharusnya ku tatap senyum mendalam detik ini
bersama nyanyian burung yang berpindah
dari ranting ke ranting
Seharusnya rindu ini telah tumpah
Saat dimensi mengadu gelas gelas kaca menjadi
pecah
Tapi terkadang harap itu musuh
Dan pertemuan ini adalah harap yang menikam
Guluk-Guluk, 18 Februari 2010
Bersama kepingan rindu
bersama mekar bunga yang basah oleh gerimis
embun di pagi buta
Seharusnya ku tatap senyum mendalam detik ini
bersama nyanyian burung yang berpindah
dari ranting ke ranting
Seharusnya rindu ini telah tumpah
Saat dimensi mengadu gelas gelas kaca menjadi
pecah
Tapi terkadang harap itu musuh
Dan pertemuan ini adalah harap yang menikam
Guluk-Guluk, 18 Februari 2010
Bersama kepingan rindu
Dentuman Rasa
Galaksi itu ada di matamu
Retak menyembur pecahan pecahan kaca
Halus menusuk;
di bilik kanan dan kiri jantung
Berdegup darah
Muncrat nanah
Lalu,
Terdampar ke langit luas malam
Darah nanah bercampur gula bintang bintang
Manis
Tapi tetap amis
Guluk-Guluk, 02 Maret 2010
Retak menyembur pecahan pecahan kaca
Halus menusuk;
di bilik kanan dan kiri jantung
Berdegup darah
Muncrat nanah
Lalu,
Terdampar ke langit luas malam
Darah nanah bercampur gula bintang bintang
Manis
Tapi tetap amis
Guluk-Guluk, 02 Maret 2010
Buyutku Bukan Materi
Dalam dimensi sudut barzah
Buyutku berlingdung pada stomata daun pakis
yang berjejer rapi menghias kali bening
lumut lumut basah oleh ludah
Berhentilah meludah!
Buyutku memang hanya menantu
tapi ia juga raja
yang memenda selendang rakyat
dari tanah ke atas bahu
Buyutku yang agung,
Adakah dulu kau melepas diri dari materi?
Memecahnya bersama pecah
Mengirisnya bersama iris
Adakah kau melebur materi bersama tanah?
Menguburnya dalam lemari
Menginjaknya dengan kepala
Buyutku,
Semoga kalu tak lagi materi
Sebab materi adalah bahan bakar neraka
Guluk-Gulu, 19 Februari 2010
Yang berharap membus sejarah dan waktu
Yang berharap bertemu dengan buyutnya
Buyutku berlingdung pada stomata daun pakis
yang berjejer rapi menghias kali bening
lumut lumut basah oleh ludah
Berhentilah meludah!
Buyutku memang hanya menantu
tapi ia juga raja
yang memenda selendang rakyat
dari tanah ke atas bahu
Buyutku yang agung,
Adakah dulu kau melepas diri dari materi?
Memecahnya bersama pecah
Mengirisnya bersama iris
Adakah kau melebur materi bersama tanah?
Menguburnya dalam lemari
Menginjaknya dengan kepala
Buyutku,
Semoga kalu tak lagi materi
Sebab materi adalah bahan bakar neraka
Guluk-Gulu, 19 Februari 2010
Yang berharap membus sejarah dan waktu
Yang berharap bertemu dengan buyutnya
Lelaki Angka Angka
Lelaki itu
yang meniupkan rindu
di sela sela bantal malam malamku
Lelaki itu
yang hadir
dengan sihir bermantra gigi putih
mampu membuatku mabuk dalam mimpi
hingga dejavu di negeri nyata
Lelaki itu
yang mengajariku berjalan
dari bukit
menuju surau tempat kekal kami
bersemayam
Lelaki itu
adalah guru
namun ia tak bisa menerjemah puisi
sebab di tangan kirinya hanya angka angka
Guluk-Guluk, 5 Januari 2010
yang meniupkan rindu
di sela sela bantal malam malamku
Lelaki itu
yang hadir
dengan sihir bermantra gigi putih
mampu membuatku mabuk dalam mimpi
hingga dejavu di negeri nyata
Lelaki itu
yang mengajariku berjalan
dari bukit
menuju surau tempat kekal kami
bersemayam
Lelaki itu
adalah guru
namun ia tak bisa menerjemah puisi
sebab di tangan kirinya hanya angka angka
Guluk-Guluk, 5 Januari 2010
24 Februari 2010
Bola-Bola Air yang Bernyanyi
Oleh: Ummul Corn
Aku dapat melihat pelangi dalam sebuah botol. Botol itu bukan botol ajaib, tetapi hanya berisi 600 ml air. Di dalamnya berisi bola-bola kecil yang berwarna-warni dan setangkai ranting patah dengan beberapa daun hijau.
Bola-bola itu lucu dan menggemaskan. Aku dapat melihatnya tersenyum dan menari-nari di bawah terpaan cahaya gubuk. Sesekali mereka dapat menghiburku kala aku lara. Aku dapat merasakan mereka bernyanyi ketika botol itu kuposisikan di dekat telinga. Hal ini terkadang aku lakukan saat aku hendask tidur. Mereka seperti menggantikan nenek membacakan shalawat sebelum tidur.
Bila kau rindu padsa semua orang; ayah, ibu, kakak, nenek, Alya dan Upik---ponakanku, dan semua orang lainnya, wajah mereka seolah terbentang menjadi siluet dalam bola-bola itu. Tawa geli mereka masing-masing menyapaku dengan penuh kasih secara serempak. Bola-bola itu dapat mengobati rinduku pada semua orang. Aku dapat membunuh sepi bersama warna-warna meereka yang penuh suara.
Sungguh ini pernyataan yang sulit dipercaya, namun aku berkata jujur dan membiarkan apa menjadi adanya. Entah kau percaya atau tidak, tapi yang jelas aku ingin katakan bahwa bola-bola itu benar-benar bernyanyi dan sarat akan inspirasi.
Guluk-Guluk, 22 Pebruari 2010
Di gubuk Ceria
Aku dapat melihat pelangi dalam sebuah botol. Botol itu bukan botol ajaib, tetapi hanya berisi 600 ml air. Di dalamnya berisi bola-bola kecil yang berwarna-warni dan setangkai ranting patah dengan beberapa daun hijau.
Bola-bola itu lucu dan menggemaskan. Aku dapat melihatnya tersenyum dan menari-nari di bawah terpaan cahaya gubuk. Sesekali mereka dapat menghiburku kala aku lara. Aku dapat merasakan mereka bernyanyi ketika botol itu kuposisikan di dekat telinga. Hal ini terkadang aku lakukan saat aku hendask tidur. Mereka seperti menggantikan nenek membacakan shalawat sebelum tidur.
Bila kau rindu padsa semua orang; ayah, ibu, kakak, nenek, Alya dan Upik---ponakanku, dan semua orang lainnya, wajah mereka seolah terbentang menjadi siluet dalam bola-bola itu. Tawa geli mereka masing-masing menyapaku dengan penuh kasih secara serempak. Bola-bola itu dapat mengobati rinduku pada semua orang. Aku dapat membunuh sepi bersama warna-warna meereka yang penuh suara.
Sungguh ini pernyataan yang sulit dipercaya, namun aku berkata jujur dan membiarkan apa menjadi adanya. Entah kau percaya atau tidak, tapi yang jelas aku ingin katakan bahwa bola-bola itu benar-benar bernyanyi dan sarat akan inspirasi.
Guluk-Guluk, 22 Pebruari 2010
Di gubuk Ceria
19 Februari 2010
KITA ADALAH ROBOT
Pada sebuah jembatan sore
Kau tengkurap di atas hamparan karpet merah
Kuda putih menari-nari di punggungmu
Aku berada di bawah cahaya bulan
Yang violet
Matamu
Juga pedangmu
Kita bertemu di rel kereta api siang bolong
Bohong
Khayal
Semua jadi kacau
Balau
Kau tertawa
Ada apa?
Aku menangis
Mengapa?
Pada sebuah keadilan
Kita tak pernah bertemu
Kau sore keemasan
Aku malam pekat
Siang itu rumah mereka
Pertemuan kita bohong!
Kita semua tidak gila
Tapi robot
Kau tengkurap di atas hamparan karpet merah
Kuda putih menari-nari di punggungmu
Aku berada di bawah cahaya bulan
Yang violet
Matamu
Juga pedangmu
Kita bertemu di rel kereta api siang bolong
Bohong
Khayal
Semua jadi kacau
Balau
Kau tertawa
Ada apa?
Aku menangis
Mengapa?
Pada sebuah keadilan
Kita tak pernah bertemu
Kau sore keemasan
Aku malam pekat
Siang itu rumah mereka
Pertemuan kita bohong!
Kita semua tidak gila
Tapi robot
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Perjalanan umroh kali ini begitu mengejutkan. Semua bermula dari gurauan bersama sahabat saya, Devi. Ia dan suaminya berencana umroh bersama...
-
Selama menikah, kejutan dari suami hampir bisa dihitung jari. Bagi saya yang memang agak sedikit cuek dengan hadiah, itu adalah hal wajar. N...
-
Dalam hidup kita membangun sebuah cerita. Ketika cerita itu berlalu ia berubah nama menjadi kenangan. Masing-masing kita memilikinya. Namun...