30 Juni 2008

Akukah Malin Kundang itu?

Sedalam hati menggali kasih, sejauh kaki mengejar sayang, sepekat mata memandang asa, tetapi semua tak pernah kuraih. Hanya sia-sia kudapat. Selalu.
Ketika hujan turun parit yang keringpun akan mengalirkan air. Begitu pula denganku ketika sadar bahwa aku sudah dewasa, tetapi tak pernah aku mandiri. Hujan yang biasa turun dari langit kini menjadi berubah turun dari sudut mataku.
Perih rasanya hati ini ketika memandangi Bapak membawa cangkul bersamaan dengan terbitnya matahari, yang biasanya kalau orang kaya duduk santai dengan meminum secangkir kopi hangat. Hati ini bertambah pilu ketika memandangi Ibu membawa rantang yang berisi nasi dan lauk pauk untuk Bapak di sawah. Dan lebih parah ketika aku sadar bahwa mereka melakukan semua ini hanyalah untukku.
Aku hanya bisa tertawa riang dengan menghabiskan uang orang tuaku. Bisa melanjutkan sekolah SMA dengan teman tanpa memiliki rasa prihatin sedikitpun. Kenapa aku baru sadar sekarang? Kenapa tidak dari dulu?
Walau aku sadar, tapi apa yang harus aku lakukan. Aku tak lebih dari seorang Malin Kundang yang terdapat dalam legenda. Kejadian ini mengingatkanku pada suatu cerita. Dan dongeng ini memang benar adanya. Beginilah kisahnya :
Dulu aku pernah berbincang-bincang dengan Bapak selepas pulang dari sawah. Ketika sinar matahari lurus berada di tengah. Aku memberanikan diri membuka percakapan walau dengan rasa tersipu.
“Kalau aku sukses nanti Bapak mau minta apa?” tidak sempat Bapak menjawab, Ibu sudah datang dengan membawa secangkir teh dan mengeluarkan sifat humorisnya.
“Siapa yang mau sukses ndok?” tanya Ibu dengan senyum yang membuatku tambah semangat.
“Ya Luluk, Bu. Kalu Bapakkan sudah terlambat sekolahnya.” Jawabku dengan polos.
“Ayo Pak dijawab pertanyaan putrinya. Saya ke dalam dulu. Maaf mengganggu.” Sambung Ibu yang kemudian ditelan pintu.
“ Kalau Bapak pengen dibelikan sarung baru, karena sarung Bapak sudah kusam semua.”
“O… tenag saja, Pak! Jangankan sarung baru, sarung yang paling mahalpun akan aku belikan.” Jawabku meniru gaya orang sombong.
Kami berdua tertawa terbahak-bahak. Meski kami miskin ternyata bisa juga kami bahagia. Ketika suasana reda dari gelak tawa. Aku pamit ke dapur pada Bapak untuk menanyakan keinginan Ibu jika aku sukses nanti. Bapak hanya menggeleng dan tersenyum. Sesampainya di dapur aku langsung ajukan pertanyaan yang persis dengan yang kuajukan pada Bapak.
“Kalau aku sukses nanti Ibu mau minta apa?” Ibu hanya menebarkan senyumnya. Dan aku tahu senyum itu begitu indah di masa mudanya. Ibuku cantik. Pantas saja Bapak mau sama Ibu.
“Kalau Ibu punya satu keinginan yang harus kamu kabulkan.”
“Apa,Bu?” tanyaku makin penasaran.
“Ibu hanya ingin anak Ibu benar-benar rajin belajar agar nati benar-benar meraih cita-cita yang kamu inginkan.” Begitulah sifat Ibu yang tak pernah menjawab dengan jujur ketika kutanya dengan sebenar-benarnya. Ibu dan Bapak bagaikan 1 kapur lain warna.
Suatu pagi aku melihat Ibu sedang sholat Subuh. Aku sangat terkejut ketika melihat mukenah Ibu yang penuh dengan tambalan kain lain. Aku meletakkan tanganku di dada.
Bagai kendaraan tak perlu sopir. Air mataku berlinang. Kenapa Ibu tidak jujur kepadaku? Jika memang ini adanya aku harus berhasil meraih cita-citaku. Ibu harus kubelikan mukenah baru.
Begitulah kisahku. Kisah anak kampung miskin, hanya bisa menepuk dada menahan rasa sakit yang selalu datang. Mencabik hatiku.
Sekarang adalah nyata. Aku benra-benar dewasa dan harus mnenepati janjiku dulu. Janjiku sejak kelas 5 SD. Yang terus-menerus kuingat.
Aku harus sadar bahwa selama ini aku hidup dengan hasil jerih payah orang tuaku. Mereka berdua dengan susah payah menabung hasil panen untuk keperluan pokok dan biaya sekolahku. Sedang aku hanya bisa bahagia dengan penderitaan kedua orangtuaku sendiri. Hari ini juga tepat jam 09.00 aku membeli koran dari uang saku pemberian kedua orang tuaku setiap hari yang kutabung. Kucoba menjadi pedagang kelping koran. Setelah keliping yang kubuat selesai, aku membuat pengumuman :
“Bagi teman-teman yang mau beli keliping cerpen edisi bulan Desember silakan hubungi “Luluk” kelas X SMA”
Kalimat tahmid itu selau mendampingi gumam hatiku. Keliping yang kubuat laku tanpa sisa. Uang yang kuperoleh Rp. 30.000,-. Lumayan dari mulanya Rp.10.000,- menjadi Rp.30.000,-. Aku akan segera berangkat ke pasar memberi kejutan kepada Bapak dan Ibu.
Sampai di pasar aku mendatangi pedagang baju di pinggir jalan. Lalu terjadilah tawar menawar antara aku dan si pedagang.
“Sarung yang itu berapa harganya?”
“Kalau yang ini mahal. Karena motifnya tidak norak dan kainnya lembut. Harganya Rp. 50.000.”
“Wah mahal sekali. Uangku tidak cukup membelinya, karena uangku hanya Rp. 30.000,-.”
“Kalau begitu ayo cari yang lain dan tawarlah!” rayu si pembeli.
“Kalau yang ini berapa?” tunjukku sambil meraba.
“O, yang ini agak lebih murah sedikit karena cara pakainya licin dan motifnya bergaris lebar. Jadi harganya Rp. 40.000.” jawab si pedagang sambil menggaruk kepala.
“ Wah masih juga belum cukup.” Gerutuku penuh harap akan diberi kortingan.
“ Kalau begitu bisa ditawar.”
“Maaf, Pak! Aku tidak tahu bagaimana cara menawar, jadi harga pasnya berapa?”
“ Wah adek ini benar-benar lugu. Kalau begitu ambillah sarung ini dengan harga Rp. 25.000.”
“Baiklah. Tolong dibungkus Pak.”
Aku segera menyerahkan uang itu dan si pedagang mengembalikan Rp. 5.000.
“Terima kasih neng. Lain kali de sini lagi ya.”
“ Sama-sama, Pak. Insya Allah.”
Aku jadi teringat Ibu. Dengan uang yang kupegang ini tedak myngkin aku bisa membeli mukenah. Biarlah besok saja, kalau aku sudah bisa mengumpulkan uang lagi. Uang Rp. 5.000 ku akan ku tabung dulu sebagai tambahan agar besok dapat membeli mukenah yang mahal dan bagus.
Dengan tersenyum aku pulang. Dalam hatiku selalu bergumam pasti Bapak senang dengan sarung baru ini. Bagus dan harganya tidak terlalu murah. Semoga Bapak benar-benar senang.
Tepat pada jam 15.30 aku sampai di rumah. Aku segera panggil salam dan menghampiri Bapak yang duduk muram di kursi teras depan. Sedang di sini banyak orang. Kufikir sekarang ada acara ajian yang aku sendiri tidak diberi tahu oleh Ibu karena pulang sore. Ah Ibu, aku jadi kangen Ibu.
“Pak, ini sarung yang kujanjikan dulu. Aku ke dapur kulu ya, Pak. Soalnya mau bantu-bantu masak untuk acara ajian ini. Kok aku tidak diberi tahu kalu hari ini ada ajian.”
Aku jadi heran ketika Bapak memegang tanganku dan menangis seolah-olah Bapak tidak bahagia dengan sarung yang kuberikan.
“Kenapa Bapak menangis. Apa sarung yang kuberi kurang bagus. Kalau begitu besok akan kubelikan lagi. Sekarang izinkan aku menghampiri Ibu di dapur.
Bapak melepaskan tanganku. Ketika itu aku segera masuk. Kenapa hatiku menjadi begitu beku ketika melihat banyak orang mengelilingi mayat dengan ditutupi sarung batik. Mataku terbelalak memancarkan kunang-kunang tangis. Aku melihat semua orang yang ada di ruangan ini. Dan ternyata dugaanku benar. Tak ada Ibu di sini. Aku langsung mengeluarkan suara histeris campur tangis dan dengan terpekik.
“Di mana Ibu sekarang? Jawab!”
“…”
“Apa perempuan yang tertutup sarung batik itu Ibu?” suaraku agak diperhalus karena aku sadar semua orang yang ada di sini juga lara. Apalagi Bapak. Aku tidak ingin Bapak semakin duka dengan keadaan ini.
Ternyata benar. Mereka mengangguk kemudian tertunduk. Tanganku dan kakiku menjadi kaku. Bibirku dingin. Sedang parit yang dulu mengalair, kini menjadi semakin banjir.
Sebagai anak yang sudah ckup dewasa, aku merasa malu untuk meratapi nasib Ibu di depan banyak ornag. Bukan aku tak rela melepas Ibu kepangkuan-Nya, tetapi sebuah mukenah saja aku tak dapat membelikan semasa hidupnya. Inilah yang membuatku sakit hati dan merasa akulah generasi Malin Kundang itu.


Oleh : Ummul Corn

1 komentar:

azmy mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.