29 Maret 2009

CERITA SINGKAT TENTANG SEBUAH RASA

Selama ini, seingatku, aku tidak pernah satu kali pun menulis kata-kata tentang cinta. Tak pernah membahas apa itu cinta dan aku memang tak mau untuk membahasnya. Selalu saja terdengar bisikan-bisikan kawan bahwa insan itu memiliki rasa yang indah---cinta namanya. Ya, katanya cinta pada lain jenis. Bila tidak, berarti ia tidak normal. Dan itu masih kata kawanku.
Bila kawan-kawan sekelasku---XI IPA SMA Langgar Asem* bertanya tentang siapakah orang yang aku cintai, aku hanya beku seperti es bahkan seperti batu karang yang sama sekali tak mau mencair. Sejujurnya aku takut bila aku diberi julukan ‘abdi penyimpangan seksual’. Ngeri.
Namun pada suatu hari, tepatnya hari Jumat, dipertengahan jalan simpang tiga desa Langgar Asem, saat aku hendak menyebrangi jalan sepulang dari rumah paman, Tuhan telah menamatkan kisah itu. Tuhan telah mengubah semuanya. Mengubah matahari menjadi gumpalan es dan sinarnya dingin. Tiba-tiba seperti ada rasa masis di ragaku yang dapat kurasa tapi ketika ingin kucicipi tak bisa. Aku hanya bergumam, ada apa denganku?
Sepasang mata elang tajam lengkap dengan sayapnya dari tadi menatapku. Aku diam menyaksikan langit yang tak bertepi. Rumah, pohon, rumput bahkan semuanya telah menghilang. Dunia ini kosong tinggal aku, lelaki si mata elang, dan pecahan-pecahan gunung yang membentuk gumpalan-gumpalan batu lambang cinta.

Tuhan…inikah cinta?
Seperti inikah rasanya orang yang sedang jatuh cinta?

Rasanya jantungku mau berlari kemudian ngumpet di semak-semak. Malu, karena tatapan itu terikat padaku. Aku menjadi tak menentu, menjadi salah tingkah. Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat. Cinta benar-benar indah sekaligus menyiksa.
Akhirnya kuputuskan untuk juga mengikat pandang padanya. Walau aku tahu resikonya akan kutanggung sendirian. Entah setelah ini aku menjadi sinting, bisu, buta, atau bahkan gila. Kami bertatap. Tak ada kata atau pun kalimat. Kami berdua seperti dikutuk menjadi bisu oleh Tuhan.
Sesaat suara asam lepas dari tangkainya menjadi musik latar drama cintaku. Pohon asam yang menjulang tinggi dipinggir jalan, tertawa menyaksikan kisah indah cinta pada pandangan pertamaku. Aku dan dia bagaikan terbingkai figura dari bahan pohon asam. Sungguh indah. Percayalah padaku kawan.
Ia memandangiku lagi kemudian berkata,
“Kasian bila asam-asam ini tidak dipungut,” katanya sambil tersenyum-senyum.
Setelah itu, yang terjadi adalah acara pemungutan asam-asam terlantar. Ia memungut satu kemudian kembali menatapku tanpa mempedulikan kendaraan yang melaju. Tanpa mempedulikan yang lain.
Tak sadar seperti ada magnet yang menarikku untuk ikut-ikutan memungut asam-asam tak berdaya itu. Aku pun telah terhipnotis. Lebih parahnya, aku tak mau mengalihkan pandanganku darinya.
“Asam ini manis,” sambungnya saat kami bersama-sama menghisap kemudian mengunyahnya.
Aku ingin sekali mengatakan ia, namun mulutku serasa tersumbat batu. Aku memilih diam saja.
Asam di Langgar Asem memang kesohor manisnya. Apalagi yang memakannya orang yang sedang jatuh cinta, meski asam tak seluruhnya manis pasti rasanya melebihi manisnya tebu. Tak kenal kecut.
Oke kawan! Agar cerita ini tidak berputar-putar masalah asam saja mari kulanjutkan ceritaku.
Terus terang, aku merasa menjadi orang yang paling beruntung hari itu. Dan rasa indah di hari itu kubawa, kurasa, kurindu sampai saat ini. Hari-hariku menjadi tak menentu. Aku menjadi setengah gila. Dan sebelumnya aku mendengar dari kawan sekelasku yang sedang jatuh cinta, bahwa perbedaan cinta dengan gila itu sangat tipis. Sekarang aku bisa merasakannya sendiri di mana rasa cintaku dan di mana letak rasa gilaku.
***
Setiap hari setelah hari itu, aku selalu dirundung tanya mengenai: sipa orang itu? Orang yang telah berani mencuri hatiku. Dari mana ia? Apa ia orang asli Langgar Asem? Atau hanya kebetulan lewat? Bisakah aku bertemu dengannya lagi?
Semua pertanyaan ini tak dapat kujawab. Karena aku tidak bisa menjawab, maka cita-citaku berubah menjadi detektif. Aneh! Cinta juga bisa mengubah cita-cita. Cita-cita kawan! Bukan main.
Setelah kejadian itu pula, aku berani menulis puisi, kata-kata cinta, dan bercerita seputar cinta pada teman sebangkuku. Atul namanya.
“Kalau kuperhatikan, sebenarnya kamu ini lagi jatuh cinta kan?!” atul mulai curiga. Ia menonjok-nonjokkan telunjuknya tepat di depan mukaku. Aku berusaha mengelak. Seperti maling tertangkap basah yang ketinggalan rombongan.
“Qarin…Qarin. Dari matamu saja tidak bisa bohong. Kenapa matamu kau paksa bohong dengan melarikan pandangan.
Aku benar-benar seperti buronan tertangkap basah. Tapi senang rasanya bila Atul tahu kalau aku ini normal dan aku bisa menceritakan tentang sejarah hari itu. Hari yang membuatku menjadi lebih hidup.
“Ayolah kawan! Cetitakan kepadaku tentang hari bahagiamu, agar aku ikut merasakan bahagia seperti yang kau rasa saat ini.” Atul memang pintar memaksa. Ia merengek dengan nada bijaksana. Alhasil aku menceritakan tentang hari berarti itu. Tentang sepasang mata elang itu.
“Kau tahu Atul, aku merasa dewasa. Merasa telah menemukan arti hidup yang kucari selama ini. Aku merasa telah menemukan separuh nafasku. Lebih-lebih aku merasa perjalananku hampir menginjak sempurna. Pecahan mozaik yang kucari selama ini telah banyak kutemukan.”
Kuceritakan semua. Kubahas satu per satu ciri-ciri lelaki itu. Kisah ini itu kubagi dengan Atul. Berharap ia tahu tentang mahluk yang kuceritakan, karena teman sebangkuku itu orang asli langgar asem.
Atul diam sejenak, menarik nafas panjang dan ia mulai merespon kisahku. Mataku berbinar-binar. Merasakan bunga seroja sedang mengelilingiku.
“Qarin, ketahuilah bahwa aku berasal dari kebobrokan. Kawanmu ini sudah pernah merasakan asam-manisnya cinta. Aku merasa semua lelaki itu sama. Ya...walau pun masih ada juga yang setia. Tapi menurutku sebagian besar mereka tak dapat dipercaya. Bila kuserahkan separuh hatiku, mereka permainkan dengan berbagi ke lain hati. Bila aku memberi sesuatu dengan ikhlas, mereka ketagihan. Aku tak mengerti apa mau mereka.”
“Apa maksudmu, Tul?” mataku menyala-nyala. Seperti dikerumuni kunang-kunang.
“Kita tak pernah sadar bahwa kita hanyalah setitik sperma yang berhasil bertarung dengan ribuan sperma lainnya. Dulu di alam rahim, kita berjuang untuk hidup. Sekarang kita adalah pemenangnya. Kitalah juara nyawa yang berhasil bertarung untuk memperjuangkan hidup di dunia.” Kata-kata Atul seperti berkhotbah. Nadanya serius.
“Jelaskan yang sebenarnya padaku,” mataku semakin berkobar-kobar.
“Bersyukurlah karena kitalah yang ditakdirkan menang oleh Tuhan. Jangan sia-siakan hidup kita. Jangan kau berikan hatimu pada lelaki brengsek yang kau maksud si mata elang itu. Jangan!”
“Katakan padaku siapa orang itu sebenarnya!” kuturunkan volume suaraku. Datar. Aku tertunduk.
“Maaf kawan. Aku ingin melihatmu seperti Qarin yang kukenal dulu. Qarin yang selalu riang dan penebar kedamaian. Bukan Qarin si pemurung dan penebar cinta palsu akibat sakit hati.”
Aku semakin tersesat dalam setiap kata, dalam setiap kalimat yang diucapkan Atul.
“Lelaki yang kau maksud si mata elang itu adalah Afiq. Dia sudah pernah menggilir semua gadis-gadis desa Langgar Asem. Termasuk aku.”
Aku merasa dijebloskan ke dalam jeruji. Aku benar-benar maling. Aku tak mau berontak. Inilah takdir Tuahan. Tuhan mengerti keaadaanku. Aku tahu Tuhan itu adil. Dan aku percaya sepenuhnya apa yang dikatakan Atul, tapi entahlah apa aku bisa menepis rasa itu?


The End

* Langgar Asem adalah nama kampung di kecamatan Ganding yang berkabupaten Sumenep, tapi karena namanya bagus dan berkaitan dengan tulisan saya, maka saya jadikan nama desa.

Tidak ada komentar: