09 Maret 2021

Bunuh Diri Gaya Milenial

Memposting status di media sosial kemudian saling bertukar komentar dengan pasangan tidak pernah menjadi cara berkomunikasi favorit kami. Awalnya saya mengeluh kepada suami karena dia tidak reaktif pada postingan saya, tidak seperti pasangan lain yang manis dan romantis. Kami berdebat dan sampailah pada pertimbangan keterbatasan karakter yang kadang kala menimbulkan salah paham. Juga guna bersama yang tak memerlukan sarana gawai untuk berkomunikasi.


Maka sebagai istri yang jaim saya pura-pura tidak kepo pada setiap aktivitas media sosialnya. Dan kami sudah membiasakan ini lebih dari tiga tahun. Awalnya memang terasa asing, tapi kemudian ketika berjumpa dengan status pasutri yang saling merayu di kolom komentar membuat kami merasa malu dan menyadari keputusan untuk cuek adalah yang terbaik.


Kebiasan model seperti ini terus meluas pada ketidaktertarikan kami untuk terlihat mesra di kehidupan nyata. Sampai teman kami mulai memberikan komentar negatif. Mempertanyakan apakah kami akur atau sedang berkonflik tersebab suami lebih banyak diam dan sekali berbicara nada kami terkesan meninggi. Seperti selalu adu debat.


Menanggapi komentar itu, membuat saya merasa geli, karena bentuk komukasi pasangan tidaklah seragam. Ada yang hanya dengan diam sudah bisa paham. Ada pula yang berkoar-koar tapi tidak sedang bertengkar. Maka saya menjawab dengan kalem, bagi saya, cara berkomunikasi unik kami semata untuk saling menyampaikan, sebab menarik kelemahan lawan hanya ada dalam arena politik.


Komunikasi dalam rumah tangga  merupakan akar. Jika akar dirawat dengan baik, maka tumbuhan akan membuahkan sesuatu yang baik dan sehat. Demikian pula kesalahpahaman dan atau ketidakberesan dalam komukasi, akan menjadi penyebab perpecahan.


Dari pengalaman, saya belajar untuk detail dan utuh dalam menyampaikan komukasi. Itu terjadi di tahun pertama usia pernikahan kami. Waktu itu kami berangkat bersepeda menghadiri acara pertemuan alumni KKN di Kasengan, Manding, Sumenep. Sementara saya mengikuti acara, suami memilih pulang ke Ambunten. 


Di tempat acara, teman-teman sudah bersiap menuju pantai Lombang. Saya berusaha menelpon suami. Karena tidak terjawab saya mencoba mengirim sms. Masuk tapi tidak berbalas.


Saya dilema antara ikut berangkat rombongan, atau menunggu jawaban suami. Yang jelas saya belum mengantongi izin. Teman-teman mendesak dengan meyakinkan bahwa tidak akan ada masalah. Bermodal keputusan bersama itu, akhirnya saya berangkat.


Sampai di Bangkal, saya ditelpon suami karena tidak ada di tempat acara. Sontak saya kaget karena dia tidak membaca sms izin yang saya kirim. Ada niatan untuk turun dan minta dijemput. Namun lagi-lagi bermodalkan keputusan dangkal saya tetap berangkat. Mengingat, waktu itu saya dan suami masih dua makhluk asing yang baru bertemu di bumi dan kami masih dalam tahap belajar mengenal.


Pulangnya saya minta dijemput ke Ganding karena mobil rombongan hanya berhenti sampai di situ. Sepanjang perjalanan Ganding-Tambuko suami memilih bisu. Dengan kecepatan laju motor yang tidak seperti biasanya saya menangkap, dia marah. Ya, dia pasti marah.


Benar saja, sampai di rumah kami mengalami adegan pertengkaran pertama kami. Suasana menjadi pecah dan meriah. Debat sahut menyahut saling melakukan pembelaan. Kosa kata sepatah sepatah dengan nada naik stim tumpang tindih tak bisa dicerna. Dalam gamang saya menyesal.


Saya sadar sayalah yang salah. Pertikaian itu terjadi hanya karena miskomunikasi. Andai saya sabar menunggu jawaban darinya, mungkin akan terang apakah saya boleh berangkat atau tidak. Andai saya tidak mengandalkan keputusan teman-teman, mungkin saya bisa memilih kembali. Namun semua terjadi di luar prediksi. Konflik yang lewat itu menjadi pelajaran paling penting di tahun pertama kami yang sampai detik ini tidak pernah terulang kembali.


Kejadian tersebut juga menggerakkan kami dalam membangun komitmen untuk tidak mempublikasikan konflik di media sosial. Sebagaimana lazimnya pasangan ketika menuai masalah, langsung meliput beritanya ke khalayak. Apakah buku harian tidaklah cukup? Dugaan saya, mungkin karena tidak menemukan sarana untuk mengungkapkan isi hati, sehingga hal yang negatif pun ikut dibagikan.


Namun setiap kepala mempunyai kebebasan eksistensial untuk menyampaikan isinya. Terutama di zaman serba digital yang menawarkan kemudahan berbagi dalam sekali tekan. Yang paling kita butuhkan saat ini adalah keterampilan memilah apakah sesuatu yang akan kita bagikan tidak merugikan untuk kita dan orang lain. Sebab jika memaksa berbagi aib, maka sama saja dengan bunuh diri gaya milenial.

01 Maret 2021

Ungkapkan Selagi Ada Waktu

Menjelang empat puluh hari wafatnya ibu, suami bersih-bersih rumah. Ia menemukan catatan harian ibu dan mengirim fotonya kepadaku yang kala itu sedang sendiri di toko. Aku kembali larut dalam sedu sedan yang dalam.


Ibu dan kakakku memang suka menulis catatan harian. Katanya untuk mengenang peristiwa penting. Aku meniru jejak mereka sejak Sekolah Dasar kelas akhir. Sampai detik ini kegiatan menulis catatan menjadi kebiasaan. Kadang juga pelarian saat ada banyak beban menumpuk di kepala.


Catatan ibu yang ditemukan suami berisi perjalanan hidup beliau, termasuk cerita kelahiranku, kakak, kepergian ayah, dan kelahiran kedua cucunya. Di akhir catatan beliau menyampaikan wasiat agar membacakan beberapa surat dalam Al-Qur'an, tahlil, dan amal jariyah.


Aku tertegun membaca berulang-ulang catatan itu. Kapankah persisnya ibu menulis risalah yang seolah berisi salam perpisahan? Sangat tegas seperti kepergian terencana. Ibu bagai tahu waktunya di dunia tak cukup panjang.


Pada alinea kedelapan ibu menuliskan betapa berat perjuangan beliau menyekolahkan anak-anaknya tanpa suami. Beliau mengurus sawah dan usaha toko kelontong dengan baik entah bagaimana repotnya. Tetapi orang-orang datang membawa barang hanya bermodalkan lidah, bukan rupiah. Sampai akhirnya ibu balik badan, toko itu gulung tikar karena banyaknya bon dalam catatan utang.


Tak kulihat ibu bersedih karena usahanya pailit. Beliau hanya mengungkapkan penyesalan karena tak dapat menjaga amanah ayah. Karenanya aku pernah membuka toko itu lagi dengan berjualan pentol ikan dan es pelangi sampai akhirnya aku diminta mertua untuk ikut suami ke Ambunten.


Ibu melepasku dengan senyuman dan kepasrahan saat seluruh famili mempertanyakan apakah ibu sanggup tinggal seorang diri. Beliau malah berucap rida aku tinggal di belahan bumi manapun dan berpesan agar aku taat pada suamiku. Aku yang kala itu terbiasa memeluk ibu rebah dalam dekapnya yang tenang. 


Mengingat itu detik ini membuat dadaku penuh dengan emosi tak terbendung. Ritme nafas tak beraturan. Hingga mata terasa hangat, menumpahkan air yang asin. Dalam pejam aku mengingat raut wajah ibu saat tersenyum, saat bersedih, dan saat-saat terakhir beliau di rumah sakit.


Cerita tentang ibu tak akan pernah ada habisnya, karena ibu adalah sosok yang sangat kompleks bagiku. Kata Nadin Amizah dalam lagunya, anak dan ibu seperti detak jantung yang bertaut. Ibu menjadi sosok paling memahami tersebab jalinan batin yang kuat. Aku mengamini lagu itu karena aku merasakan betapa kepergian ibu membuatku kehilangan banyak kepingan penting dalam hidupku.


Banyak pelayat datang bercerita tentang kebaikan-kebaikan ibu. Karena ibu memang tak hanya baik pada anaknya, melainkan kepada banyak orang di sekitar kami. Lebih gamblangnya ibu seolah menjadi pahlawan. Dan karena kepahlawanannya itu pernah suatu kali aku berdebat sengit dengan beliau.


Pernah ada selentingan ibu meminjam emas tetangga. Kabar buruk itu membuat saya segera mengklarifikasi. Ibu bersumpah tidak pernah melakukan seperti yang dituduhkan. Beliau menangis saat aku mulai merasa ragu. Ibu memohon agar aku percaya, tetapi aku masih menepis, meminta bukti.


Kami menagis sambil beradu mulut yang akhirnya dibuktikan bak Tin bahwa nama ibu hanya dimanfaatkan seseorang yang sedang butuh pinjaman. Begitu nama ibu disebut, siapapun akan berbaik hati. Karena kebaikan ibu yang terlampau luas itu, akhirnya ada yang menyalahgunakan untuk kepentingan tak bernurani.


Hingga detik ini aku menyesal karena pernah meragukan ibu. Menyesal karena tak mencoba mengenal ibu lebih dalam. Aku mengutuk diriku ketika ingat wajah merah ibu penuh air mata, kata-kata beliau saat aku bantah, dan jawaban terbata-bata yang keluar dari bibirnya. Semua terkenang begitu menyakitkan.


Tetapi aku sadar perasaan sedih adalah hal yang wajar. Kiranya setiap orang pasti merasakan kesedihan sesuai porsi ujiannya masing-masing. Hanya karena kesempatan untuk mengungkapkan penyesalan ini sudah tak ada lagi bagiku, maka perasaan sedih tadi sakitnya terasa gigantis.


Selagi ada waktu, jika ingin meminta maaf kepada orang tua sebaiknya segera ungkapkan. Rasa sayang yang begitu kuat harus ditunjukkan. Karena jika sampai batas itu tiba, maka rasa sesal tak akan ada penawarnya. Seperti aku yang berkutat dengan rasa bersalah karena kurang berlaku baik pada ibu.


Sekarang tak ada lagi yang merekahkan senyum ketika melihat kedatanganku. Tak ada lagi  yang memanggilku Mul dengan nada sejenaka ibu. Beliau tempat ternyamanku berbagi setiap inci isi hati sudah tiada dalam pandangan mata namun kekal dalam doa-doa.


9 Februari 2021

30 Januari 2021

Sanggupkah Aku Menepi dari Kebisingan Ini?


Ketika aku membiarkan imajinasiku menumpahkan keliarannya, maka penuhlah kepalaku dari ide cerita yang bahkan aku sendiri kadang-kadang merasa takut. Aku membayangkan jika itu menjadi nyata, apakah hari ini aku masih bisa menuliskannya lewat catatan ini? Mungkin tidak, karena dalam khayalanku itu aku sudah mati.  


Pada sabtu sore di bulan Oktober tahun lalu, saat aku mengalami insiden kecelakaan di jalur bukit Saim, aku masih cukup beruntung. Bagaimana jika sopir yang mengemudi tetap menginjak gas saat aku meringkuk tepat di dekat ban depan mobilnya? Kemungkinan nyawaku tidak akan tertolong, melayang bersama malaikat yang bertugas menjemputku. 


Lalu tak ada siapapun yang menolongku kecuali amalku. Amalku? Menuliskannya saja terasa sangat menyedihkan. Keseharianku sibuk dengan ponsel yang menyuguhkan dunia baru. Segala yang membuatku penasaran muncul dalam hitungan detik saat aku mengetik atau mengucapkan di mesin pencarian. Betapa ajaibnya, sampai aku tak bisa mengatur waktu. 


Ponselku berubah menjadi candu, tempat untukku mencari solusi atas setiap persoalan yang menimpaku. Telah kutanggalkan setiap pertimbangan di kepala. Aku berlari pada artikel instan yang pernah menjebakku kala itu. 


Suamiku menertawakanku saat aku melumuri kepala dengan bawang merah untuk membasmi kutu. Aku muntah-muntah tersebab baunya yang tak hilang dalam hitungan minggu. Dari mana aku dapat saran itu? Google jawabanku. Aku tersangkar dalam benda genggamanku.


Sejatinya, tak setiap saran yang ditawarkan bisa menyelesaikan persoalan. Tetapi aku terus menghibur diri dengan menyibukkan jemari melintasi setiap aplikasi. Bosan melihat status di jejaring sosial, pindah youtube. Begitu asyiknya setiap hari tanpa bosan. 


Maka jika waktu itu aku benar-benar menghadap ilahi, bagaimana dengan amalku? Teman yang akan menemaniku di dunia baru yang penuh keheningan. Aku jarang melalukan kebaikan untuk dicatat sebagai amal baik. Aku jarang mengaji. Aku jarang bersedekah. Aku bahkan hampir tidak pernah melakukan amalan sunnah seperti yang dianjurkan Nabi. 


Adakah orang yang menangisi kepergianku selain dari keluargaku? Siapa yang memandikanku, mengkafaniku, dan menyolatiku? Di bumi manakah aku akan dikuburkan? Dan apakah orang-orang akan bersimpati hadir dalam acara tahlilan tujuh hari? Berbagai pertanyaan yang membuatku ngeri terus bermunculan seperti siklus siang dan malam tak ada habisnya.


Aku masih cukup beruntung. Rupa-rupanya Tuhan masih memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri. Tetapi aku mengabaikan dan terus melakukan kesalahan dengan menyiakan waktu. 


Sungguh malang nasibku jika aku terus terperangkap dalam sangkar genggamanku. Bagaimana aku bisa melepaskan diri? Sanggupkah aku menepi dan menyepi dari setiap hiburan yang memabukkan ini? Mungkin aku bisa, suatu hari nanti. 

30 Januari 2021




31 Oktober 2020

Menghadapi Tantangan Jalan Raya

Dua pekan pasca insiden tabrakan, banyak yang mengira saya akan mengalami trauma bermotor. Komentar bermunculan terutama dari teman kantor saat pertama kali saya mencoba berkendara lagi. Kadang juga dari mereka yang kenal dan berpapasan di jalan. Lebih banyak lagi yang belum mendengar kabar dan bersimpati pada bekas luka di wajah dan gumpalan darah di mata sebelah kanan.


Tragedi kecelakaan waktu itu tak pernah saya bayangkan. Lagi pula siapa yang ingin celaka. Saya yakin tak ada. Tetapi takdir adalah kata akhir dari sebuah peristiwa baik atau buruk yang menimpa manusia. Maka saya mengimaninya.


Jumat sore pada 9 Oktober kemarin saya berpamitan pada suami untuk pulang ke Ambunten sendirian. Selepas saya mencium tangannya, ia mengayuh ontelnya ke arah barat menuju Tambuko dan saya dengan motor beat lewat jalur Saim. Kami berpisah di jalan Larangan, Ganding, depan swalayan Kancakona.


Kala itu suami mau menghadiri acara  kompolan shalawat nariyah perdana di rumah temannya di Pamekasan. Saya membujuk kepadanya agar mengizinkan pulang ke rumah mertua di Ambunten. Ucapannya mengambang di kata terserah yang mengisyaratkan saya boleh mengikuti kata hati. Dengan penuh kemantapan sata memilih pulang menemani Emak yang baru ditinggal Abah wafat.


Emak berpesan agar kami sering-sering pulang. Kami sepakat dalam empat puluh hari kalau tak ada halangan kami siap kalong Ganding-Ambunten. Berangkat pagi buat berniaga di konter dan sorenya pulang ke Tambaagung Ares.


Setiap kali berkendara saya selalu membaca doa dan berdzikir sepanjang jalan. Kadang-kadang membaca shalawat bariyah atau shalawat ibrahimiyah. Bukan berharap pujian saya mengungkapkan di sini, tetapi agar menjadi sebuah pelajaran dari peristiwa yang menimpa saya kala itu.


Kepasrahan acapkali timbul ketika kalimat dzikir saya ucapkan. Dalam hati ada keyakinan, Tuhan menolong hambanya yang melupakanNya, apalagi yang mengingatNya. Tuhan memberi keselamatan kepada hambaNya di jalan saat berkendara meski kebanyakan lupa berdoa, apalagi kepada yang meminta petolongan.


Maka dengan mulut terus merapal di balik masker merah, saya merasa aman. Tetapi perasaan takut karena hari sudah menjelang gelap memacu saya menaikkan kecepatan usai melewati jalan berkelok di bukit Saim. Kecepatan yang saya bilang wah itu hanya sampai di angka stabil 60-70. Di atas itu saya tak pernah berani.


Memasuki desa Campaka, saya menyalip truk. Jalan yang sempit menyulitkan saya mengendalikan setir. Bermodalkan nekad saya harus cepat melaju untuk menghindari rintangan di depan.


Selanjutnya Rajun menyambut saya dengan jalan yang rusak dan berlubang beberapa meter. Lepas itu jalan kembali mulus. Di depan saya lihat ada mobil L-300 warna hijau melaju dengan pelan. Di belakangnya dua motor dengan pengendara berboncengan juga memelankan kendaraannya. Saya berniat menyalip karena di depan aman. Kanan kiri juga tak ada jalan untuk berbelok.


Selayaknya orang akan menyalip, tentu saja kecepatan harus ditingkatkan. Begitu motor saya sejajar di samping mobil itu, secara tak terduga badannya berbelok ke kanan dan terjadilah benturan antara hidung motor saya dengan pipi si mobil. Badan saya terpelanting menyentuhkan wajah ke tanah lalu terseret panjang masih dengan wajah yang menopang tubuh. Saya tak ingat bagaimana kaki dan lengan saya dibenturkan sehingga tak dapat digerakkan. Tiba-tiba sudah banyak orang.


Orang-orang memagari saya yang bersimpuh penuh pikiran. Saya sendirian di tengah kumpulan orang yang tak saya kenal. Sempat ada yang berdebat tentang siapa yang salah. Pak sopir lawan saya bersumpah sudah sein kanan untuk berbelok ke halaman rumahnya. Sementara saya berujar tak jelas karena kesulitan bicara. Yang jelas saya mengaku bersalah karena tak melihat tanda lampu dan lambaian pak sopir. 


Saya kembali bungkam tak mampu bergerak. Beberapa pria menawari saya untuk dibopong. Saya bersikukuh tak mau disentuh. Ada yang menyodorkan tas. Lekas saya membukanya dan meraih ponsel. Orang pertama yang saya hubungi adalah suami. Dua kali penggilan tidak tersambung. Sempat saya mengeluh. Saya mencobanya lagi. Setelah terdengar sahutan dari seberang, saya sampaikan apa yang terjadi. Terdengar jawaban cemas dan beberapa pertanyaan tentang keadaan saya, lalu sambungan terputus.


Saya menunduk sebab dari mulut mengucur deras darah segar. Ada perempuan memberi segayung air untuk saya berkumur karena pasir di tempat saya terjatuh menempel di mulut dan seluruh wajah. Saya meraba gigi, syukurlah masih utuh.


Ketika mendongak saya melihat pria yang saya kenal. Tak salah lagi, itu Masyir, pelanggan tahu-tempe di pabrik milik mertua. Masyir adalah sosok yang ringan tangan. Karena kelincahan dan sikap hangatnya, ia kemudian dekat dengan keluarga kami. Hari ini Tuhan mengirimkan Masyir lagi sebagai hero saya.


Sempat tak percaya, bagaimana mungkin bisa ada Masyir di tempat yang saya tahu jauh dari rumahnya. Tapi tak penting itu semua. Saat ini dia mencoba menjelaskan kepada orang-orang tentang kedekatan kami dan dia membantu saya menelpon keluarga mertua.


Usai ketegangan mencair, dari kerumunan warga, saya mendengar bahwa hari itu adalah hari nahas tale telloh (tali tiga) Kamis-Jum'at-Sabtu. Menurut kepercayaan orang Madura, tale telloh adalah tiga hari nahas lelakon bumi mengaduk peristiwa sial. Saya hanya tahu kepercayaan itu ada, tapi tak tahu rumus kapan pastinya terjadi.


Dari percakapan warga pula saya mendengar bahwa pagi hari ada kejadian tabrakan juga di tempat itu. Korbannya gadis remaja. Tubuhnya hampir dilindas truk. Saya bergidik sembari mensyukuri kejadian yang saya alami tak separah itu.


Barangkali karena berkah shalawat yang saya baca hingga sial pun masih ada untungnya. Untung tidak jatuh ke aspalan yang akan membuat lukanya semakin parah. Untung tidak terbentur ke pohon kelapa dan batu karang di tempat kejadian. Untung tidak pingsan. Untung masih bisa bernafas untuk memikirkan betapa saya masih diberi kesempatan agar bisa memperbaiki diri.


Suami saya datang merangkul saya yang kotor sembari berujar maaf. Ia menatap saya nanar. Kakak menambah kehebohan dengan menangisi kondisi tubuh saya yang penuh luka. Sementara saya tak bisa berucap dalam kondisi mulut semakin bengkak.


Dalam hati saya berpasrah. Ini musibah yang tak mampu saya hindari. Ini adalah perjanjian ghaib antara saya dengan Tuhan jauh sebelum saya dilahirkan. Pastilah ada banyak hikmah di balik peristiwa yang menimpa. Maka saya hanya perlu sedikit merenung dengan membuang kata seandainya serta mengambil pelajaran untuk lebih waspada.

30 Juni 2020

Kucing Baru di Rumahku

Setiap kali aku membuka pintu di pagi hari, seekor kucing kecil berwarna coklat datang dengan bunyi krongseng di lehernya. Kucing itu berlari cepat menuju pojok ruang depan tempat suami biasa menaruh sepiring sereal untuknya. Dengan lahap ia mengunyah makanan itu hingga tak bersisa.


Karena kecantikannya, kucing itu menarik perhatian bocah berusia tujuh tahun bernama Ezi, keponakanku. Ezi membawanya sepulang dari pasar Senin, Ganding, sekitar dua bulan yang lalu. Jelaslah kucing yang diberi nama pupus canopus itu bukan jenis kucing anggora atau persia. Oleh Yeyen, sahabatku yg rumahnya dekat dengan pasar Ganding diperkirakan kucing itu lahir dari hubungan gelap antara kucing lokal yang ditaksir kucing anggora milik keluarga Yik Amin. Pantas saja bulunya halus dan wajahnya berkombinasi.


Sejujurnya aku bukan pecinta kucing. Bayi kucing yang baru dilahirkan membuatku merinding dan bisa lari terbirit-birit. Suaranya bagai alarm gempa. Ketakutanku yang berlebihan pada bayi kucing bahkan belum sembuh hingga kini.


Jika ada kucing bertandang ke rumah, aku pasti mengusirnya. Tak lama mereka kembali lagi dengan rombongan yang lebih banyak. Ingin aku memukul mereka semua, namun nuraniku mencegahnya. Kucing kadang menjengkelkan saat numpang berak dan mencuri ikan. Tapi kadang juga menggemaskan saat bermanja-manja dengan menggosokkan badannya ke kaki dan betisku. 


Aku bukan pecinta kucing. Tapi aku juga bukan tipe pembenci yang tega menyiksa hewan seperti kasus yang dilakukan tiga wanita penginjak kucing hingga tewas sebulan yang lalu. Menonton videonya saja aku ingin menangis.


Tiga wanita itu hatinya mungkin sudah menjadi batu, tak punya empati dan prikehwanan. Mereka juga tak tahu undang-undang perlindungan satwa dan tak menyadari kekuatan netizen. Aku berasumsi mereka hanya ingin viral di media sosial hingga rela melakukan apa saja. Jiwa seperti mereka hanya numpang terkenal dengan mengumbar aib bukan lewat prestasi dan karya. Entah apa motif sebenarnya. Bisa jadi kucing itu adalah piaraan mantannya yang memutus hubungan pas lagi sayang sayangnya.


Sejak kecil aku dididik untuk menyayangi kucing sebagaimana diajarkan Rasulullah. Tapi kucing kampung nakal lebih sering membuatku lupa akan ajaran itu. Kadang-kadang aku menatap lama dengan pandangan mengancam, entah mereka mengerti atau tidak. Jika mereka punya perasaan selayaknya manusia maka berdosalah aku.


Aku bukan pecinta kucing, tapi aku tahu kucing adalah simbol peradaban. Keluarga yang memelihara kucing terlihat sangat menikmati ritme alam dalam hubungannya dengan makhluk hidup. Nilai tambahnya juga menciptakan kebahagiaan tersendiri yang hanya bisa dirasakan oleh si pemelihara.


Tahun 2011 keluargaku pernah memelihara kucing anggora bernama hengky. Kucing itu gemuk dan berbulu putih. Hengky terdidik dan sangat patuh. Kami sekeluarga menyayanginya. Namun pada suatu malam, kami lupa tak memasukkannya ke dalam kandangnya. Ia berkeliaran di tengah malam dan ada yang membawanya. Mungkin orang itu tak bermaksud mencuri, tapi kesempatanlah yang membuatnya terpaksa. Keluargaku ribut-ribut di pagi hari seperti kemalingan sapi.


Enam tahun kemudian Kak Imam membawa seekor kucing persia dari Bali. Kucing hitam itu menjadi pengganti hengky di keluarga kami. Namun usianya tak lama. Kucing itu ditemukan mati mengapung di bak kamar mandi. Kejadiannya diduga karena ingin menangkap ikan emas yang sedang asik berenang. Respon keluargaku tak seheboh saat kehilangan hengky. Mungkin karena usianya yang tak sampai setahun bersama kami.


Setelah lama tak punya hewan peliharaan, akhirnya pupus canopus menempati rumahku. Setiap pagi saat aku membuka pintu, ia berlari menghampiriku dan masuk menuju pojok ruang depan untuk menikmati sarapan. Bunyi gigi tajamnya mengunyah sereal membuatku geli. Ia menghidupkan kembali rumahku yang sunyi. Semoga kamu panjang umur, Pus.

19 Juni 2020

Kamu dan Bintang Malam Itu

Kau kah itu yang sedang terpukau memandangi keindahan malam?
Langit nila bertabur gemintang adalah sebentuk hiburan alam yang tak pernah membosankan.  Kamu duduk di situ begitu lama. Seperti lupa sekarung beban di kepala. 


Pandanganmu tertuju pada satu bintang begitu terang. Mungkin itu aku yang membalas tatapanmu setiap kamu menyepi dari bisingnya persoalan hidup. Seperti bintang itu, aku selalu ada.


Ada kalanya kamu ingin sendiri. Maka aku tak akan menjeratmu dengan tali mematikan. Aku hanya ingin melihatmu dari jauh. Menikmati setiap inci kenangan juga mimpi masa depan.  


Dalam perjalanan menuju impian kita akan dihadapkan pada persoalan rumit. Bosan mungkin adalah sebentuk diksi yang mengerikan. Kita akan sampai di titik itu setelah tujuh tahun berama. Banyak hal di sekitar yang menyeret kita pada ruang konflik. Kita masih dua makhluk dari planet yang berbeda kemudian berjumpa di sini. Kamu ingin dimengerti, aku pun ingin dipahami. 


Siluet lelaki yang duduk di bawah langit malam itu adalah kamu. Aku bintang yang kau pandang. Turun dari langit malam dan kau sebut aku istrimu. 




30 Mei 2020

Lebaran Pertama Tanpa Ibu

Ini adalah tahun pertamaku berlebaran tanpa ibu. Setelah ayah meninggalkan beliau tujuh tahun yang lalu, kini lengkap sudah keduanya melepaskanku. Ada kecamuk dalam diri yang tak sanggup aku pendam. Ingin kutumpahkan dalam cacatan yang mungkin juga tak hanya aku yang mengalaminya. Di luar sana pasti banyak muda-mudi atau bahkan anak kecil yang merasakan kehilangan lebih dalam. Namun pada dimensi lain aku yang sanguinis juga kadang tersudut dalam ruang melankolis.


Kepergian ibu adalah hal yang sangat memukulku lantaran beliau yang tak pernah mengeluh sedikitpun atas sakitnya kepada anak-anaknya. Ibu adalah perempuan paling tegar yang harus aku teladani. Sikap dermawan dan kasih sayang beliau pada anak-anak gadis di kampungku membuat mereka iri kepadaku dan berkata ingin punya ibu seperti ibuku.


Ibu adalah tipe orang tua yang demokratis. Termasuk soal asmara. Beliau membebaskan anak-anaknya untuk memilih pasangan hidup.


Tak pernah ibu mengungkapkan lara hatinya. Beliau selalu tersenyum menghadapi tantangan hidup sebagai orang tua tunggal selepas meninggalnya ayah. Menyekolahkanku hingga strata satu adalah sebuah kebanggaan bagi beliau. Dan yang paling aku kagumi ibu tidak mendikte hidup seperti apa yang harus aku jalani sebagai seorang sarjana. Aku membuka usaha pentol ikan, es pelangi, dan kadang juga berjualan hape bekas dengan suamiku. Ibu tidak kecewa. Karena sarjana bukan mereka yg berpangkat, tetapi yang berbudi luhur dan kepada orang tua selalu taat.


Menurutku sangat picik mengomentari status orang berpendidikan yang menganggur. Selalu muncul sentilan bahwa sekolah tidak memeberikan faedah. Namun seseorang dinilai saat terjun ke masyarakat. Pendidikan akan menunjukkan budi pekerti dan  ketidakkakuan ketika masyarakat meminta berbicara atau memimpin doa. Ibuku tidak sedih karena aku tak jadi apa-apa. 


Sikap bijak ibu membuatku terkagum-kagum. Bahkan disaat sakitnya beliau terus saja menunjukkan ketegaran dalam bahasanya. Beliau optimis bahkan beberapa menit sebelum menghembuskan nafas. Ibu meminta pindah ke rumah sakit lain saat pneumonia akibat asam lambung yang dideritanya semakin parah.


Di saat kritis, di tengah malam aku mengusap kening beliau. Meminta maaf karena belum sempat membahagiakan. Aku memberinya banyak harapan kesembuhan. Beliau mengangguk dan tersenyum di balik alat bantu oksigen. Kurengkuh jemarinya dan tak sanggup menahan air mata, malam itu, yang ternyata adalah malam terakhirku dengan ibu.


Kudirikan shalat istikharah meminta petunjuk tentang jalan kesembuhannya. Begitu kuraih Al-Quran, tepatlah pada surat Al-A'raaf yang salah satu ayatnya yang ke-34 menunjukkan ayat kematian. Lalu surat Yunus yang salah satu ayatnya juga berisi salam perpisahan. Aku menangis sejadi jadinya di keheningan malam. Memandangi ibu dalam ritme napasnya yang tersentak per detik.


Kututup Al-Qur'an dalam perasaan pasrah dan doa-doa terbaik untuk mengikhlaskan kepergian ibu jika memang telah sampai pada janjinya. Pintaku pada Tuhan adalah pengampunan untuk ibu dan lepaskan beliau dalam husnul khatimah. Meminta dimudahkan pada saat sakaratul maut dan membawa sangu islam dan iman di akhir hembusan napasnya. Dalam doa panjang itu aku masih mengungkapkan pengharapan akan kesembuhan ibu. Aku yakin kun Allah lebih ajaib dari apapun di dunia ini.


Dua perawat masuk dengan dua alat bantu pernapasan yg beragam, entah apa namanya. Saat dua alat itu dicoba satu per satu, tak ada respon baik. Dua perwat itu mengungkapkan kabar buruk. Aku menyusul ke meja resepsionis. Kepada mereka aku menegur untuk tidak menyampaikan kalimat yang mengandung keputusasaan pada pasien. Khawatir kondisi pasien menurun akibat kata-kata tak baik yang disampaikan. Mereka mafhum dan meminta maaf. Aku menggerutu dalam hati.


Pagi pagi sekali aku mengobrol dengan ibu Hajah Kom, sahabat ibu. Bu Hajah adalah ibu beng Nu yang merupakan sahabatku sejak kecil. Kami tak hanya berteman tapi masih famili. Rumah kami berdekatan. Ibu Hajah adalah ibu kedua bagiku.


Di bawah pohon yang buahnya mirip buah tin di halaman Rumah Sakit Umum, Pamekasan, tepat di belakan ruang paviliun kamar mawar, kami berbicara seputar masa lalu ibu dan kisah haru bersama ibu Hajah. Beliau sama-sama janda dan tentu saja merupakan ruang saling berbagi satu sama lain. Ibu Hajah memintaku mengikhlaskan ibu. Aku kembali menangis. Kata ikhlas mengapa begitu mudah diucapkan. Sementara pada praktiknya ikhlas adalah puncak segala kebaikan yang susah untuk dilakukan.


Usai mengobrol, aku kembali ke ruangan. Di sana tampak ibu Senni menelpon nenek di rumah dan meminta ridha untuk ibu. Begitu nenek berucap ikhlas melepas ibu, nafas ibu mulai melemah. Aku memanggil perawat dan suami.


Dua perawat datang mengontrol angka pernapasan. Alat itu tak menunjukkan angka melainkan tanda silang. mereka lalu hendak mengambil sampel darah di bagian betis. Tak ada darah keluar. Wajah ibu tampak keunguan. Napas beliau mulai hilang satu-satu. Suamiku mencium kening ibu. Kugenggam tangan ibu sambil terus berucap asma Allah. Bersama lafad Allah beliau melirik ke arah kanan dan tersenyum melepas ruh bersama malaikat yang menjemputnya. Aku melantunkan adzan di telinga kanannya seperti ayah saat membacakan kepadaku ketika aku lahir.


Ibu pergi dan aku masih tertegun tak percaya. Sakit beliau hanya sebulan. Dalam sebulan itu, karena beliau tak banyak mengeluh aku pikir sakitnya tak parah. Di situlah aku merasa menjadi orang jahat yang mengabaikan ibu. Itu adalah perasaan sedih yang bahkan jika dingat saat ini, air mata ini tak bisa kutahan-tahan.


Di dalam mobil ambulans aku teringat ibu paling takut pada mobil rumah sakit itu. Pada pembaringan terakhirnya mobil itulah yang mengantar ibu pulang bersama lantunan surat yasin dari beberapa orang yang mengiring di dalamnya.


Di halam rumah sudah banyak orang-orang kampung yang menunggu. Semua orang menangis. Terutama mereka perempuan-perempuan yang mengagumi ibu dan selalu bilang ingin punya ibu seperti ibuku. Surat yasin begitu syahdu dilanntunkan bagai irama penghantar tidur. Semua orang melihat wajah bahagia ibu usai dimandikan.


Maka ini adalah tahun pertamaku berlebaran tanpa ibu. Beliau selalu memasak hidangan terbaik. Namun saat ini sudah tidak lagi. Sekarang aku yang memasak untuk ibu. Kuhantarkan niat menyajikan masakan terbaikku untuk ayah dan ibu di alam sana.


Bagiku ibu selalu hidup. Mengawasi setiap gerakku dari dimensi lain. Ingin kuungkap terima kasih, sudah mengajariku banyak hal. Termasuk memasak ketupat di hari ketujuh setelah lebaran idul fitri. Semoga ibu selalu berbahagia.