Berkesempatan mendaki jabal Nur merupakan salah satu pencapaian berharga pada umroh kali ini. Setelah sebelumnya gagal di tahun 2022 karena alasan takut kelelahan bagi perempuan yang tengah menunda masa haid, akhirnya saya menelan ludah dan menolak mutowif yang sudah dipesan khusus oleh kakak ipar. Kekecewaan itu kini terbayar, kami bergerak seumpama anak kecil menemukan kebahagiaan sekaligus nostalgia di dalamnya.
Perjalanan ini adalah hadiah dari Mak Ji Mona dan Pak Ji Hamat (orang tua baru kami di Haramain) yang pada 1 Februari pukul 19:48 WAS, tiba-tiba mengabarkan bahwa mereka telah memesan mobil untuk berangkat ke Gua Hira pada pukul 3 dini hari. Itu artinya kami hanya memiliki waktu istirahat sekitar 3 jam setelah prosesi umroh keempat. Tetapi semua rasa kaku, kejang, kram, dan encok mendadak hilang seperti sebuah keajaiban.
Perjumpaan saya dengan Mak Ji Mona berawal dari antrian panjang toilet wanita di bandara King Abdul Aziz, Jedah. Sebab menahan pipis terlalu lama, perut bawah saya mengeras dan rasanya sudah tidak tahan. Perempuan paruh baya dengan badan tinggi dan kulit putih berseragam sama dengan saya itu mempersilakan saya masuk lebih dahulu. Itu adalah sebuah hadiah besar yang tak dapat dinilai dengan materi. Betapa saya berterima kasih berkali-kali kepada beliau setelah menuntaskan saluran kecil dari dalam perut ini. Beliau melempar senyum penuh rasa heran.
Di luar toilet, suami menunggu dengan perasaan cemas karena menunggu agak lama. Sementara kelompok kami sudah melaju keluar tak bersisa. Tiba-tiba ibu peri yang mempersilakan saya masuk ke tolet tadi tergopoh di belakang sana sembari menunjukkan hp dengan panggilan dari suaminya. Raut wajahnya sedikit lega melihat kami dan berjalan mengiringi kami dengan ucapan terima kasih berkali-kali pula. Simbiosis mutualisme pertama kami tak berselang lama.
Betapa bahaginya saya ketika tahu yang akan mengisi kasur keempat di kamar kami ternyata adalah Mak Ji Mona. Sebuah kebetulan beruntun yang secara instan menguatkan sebuah ikatan di antara kami. Beliau rupanya juga merasa beruntung dapat membersamai kami, para anak muda pemalas yang sering kali diberitakan enerjik dan semangat beribadah kepada keluarganya.
Sejujurnya kami kalah dalam semangat beribadah kepada beliau. Mak Ji Mona dan Pak Ji Hamat adalah pasangan pengusaha yang bolak-bali haji dan umroh, tetapi semangat berumroh justru semakin menguat. Beliau bisa kuat dua sampai tiga kali umroh setiap harinya. Pak Ji Hamat juga selalu antusias mengumandangkan talbiyah mulai dari tempat miqot di Masjid Aisyah, hingga menuju Masjdil Haram. Hal itu membuat Devi berbisik kecil, kami beruntung ditemani beliau karena kalau tidak, maka pasti sepanjang jalan akan penuh dengan obrolan-obrolan kosong, bukan renungan-renungan akan syakralnya ibadah umroh yang akan kami laksanakan.
Awalnya kami tidak menyangka bahwa beliau juga mempunyai niat kuat untuk mendaki puncak yang juga dikenal dengan nama jabalul Qur’an dengan ketinggian 642m itu. Tetapi kami keliru, beliau berdualah yang tak banyak mengeluh selama di perjalanan. Bahkan Mak Ji Mona menyunggi plastik besar berisi makanan ringan dan bekal kami di perjalanan.
Melihat itu, saya memiliki gambaran bagaimana Siti Khadijah begitu tertatih mendaki bebatuan tinggi dengan membawa makanan dari rumah beliau, kurang lebih sejauh 6km setiap hari. Saya yakin, saat itu pasti belum ada anak tangga seperti yang kami lalui untuk memudahkan pendakian. Usia beliau juga tak lagi muda. Beliau juga melawan gengsi sebagai perempuan konglomerat yang dapat memerintah budaknya kapan saja, ternyata lebih memilih mengabdi kepada suaminya yang tengah bertahannuts di puncak sana, sebuah gua kecil tempat lahirnya wahyu dan pengetahuan.
Dalam kesempatan ini, saya sengaja membawa buku Muhammad: Rasul Zaman Kita karya Tariq Ramadan. Buku ini menceritakan kisah Nabi dalam perspektif masa kini dan dengan sentuhan emosi yang kuat. Bagian-bagian di dalamnya yang sengaja dibuat pendek, memudahkan pembaca dalam mencerna dan menghayati maknanya. Sementara poin pentingnya menurut saya terletak pada bagaimana Tariq menekankan tujuan utama buku ini, “menjadikan kehidupan Rasul sebagai cermin bagi kita yang dengannya para pembaca yang sedang menghadapi tantangan zaman mampu menyelami hati dan pikiran mereka sendiri dan memahami berbagai persoalan hidup dan masalah sosial dan moral yang lebih luas” (hlm. 16).
Salah satu tantangan zaman yang dimaksud telah saya jumpai langsung yaitu pemandangan sampah botol plastik dan tisu dari ribuan pengunjung yang tidak sadar bahwa saat itu, mereka tengah berkunjung ke tempat suci. Tempat di mana Nabi menyendiri, mencari makna, merenungi semesta, dan bahkan menerima wahyu pertama kali secara langsung melalui malaikat Jibril. Barangkali itu semua hanya pelajaran semasa bersekolah, sementara pada praktiknya saya pun kadang lupa untuk meneladani ajaran Nabi tentang kebersihan. Saya pribadi berantakan dan jorok, namun masih ingat untuk tidak mengotori tempat-tempat bersejarah yang saya kunjungi.
Dari ketinggian, saat memandang gedung-gedung menjulang bahkan mengungguli Baitullah, ada perasaan yang sejujurnya amat menusuk. Di sana juga berdiri toko-toko pusat perbelanjaan, food court, bahkan kini tren cafe-cafe international merajalela di antara gemerlap lampu Masjidil Haram. Sesungguhnya itu semua adalah kemajuan zaman yang tak dapat dibendung. Dampaknya mungkin mampu menyeret kita pada perasaan terlena akan hiburan dunia. Tapi inilah tantangannya, inilah persoalan yang membutuhkan ketajaman refleksi dalam bersikap. Budaya ngopi sangat bagus, terutama berkaitan dengan inspirasi dan musyawarah. Sangat manusiawi kita menikmati secangkir kopi sambil tertawa bersama teman-teman, tetapi lanjutkan aktivitas begadang itu untuk bermunajat di antara keheningan malam. Berbelanja untuk oleh oleh pun memang sudah menjadi bagian penting, tetapi setelahnya harus diingat ada Ka’bah yang menunggu untuk dipandang lama dan kau kenang-kenang ketika melafalkan ‘mustaqbilal qiblati’ dalam salatmu setelah di tanah air.
Akhirnya kami tiba di puncak bersamaan dengan kumandang adzan subuh. Suara sahut-sahutan dari pengeras suara di berbagai masjid di bawah sana membuat bulu halus di tubuh saya meremang. Berulang kali muncul rasa syukur dan haru bisa menapaktilasi perjalanan penting Nabi, memantik mindset dan lompatan iman selangkah lebih maju, serta bisa menyaksikan matahari terbit di ufuk kota Mekah yang indah.
Harapan saya, perjalanan umroh kali ini mampu menumbuhkan cinta lebih dalam lagi kepada Kanjeng Nabi. Pada tingkatan yang lebih tinggi lagi semoga saya dan kita semua mampu meneladani beliau untuk kemudian meraih syafa’atnya. Amin.
Tambuko, 19 Februari 2026






