20 Februari 2026

Perjalanan Cahaya

Berkesempatan mendaki jabal Nur merupakan salah satu pencapaian berharga pada umroh kali ini. Setelah sebelumnya gagal di tahun 2022 karena alasan takut kelelahan bagi perempuan yang tengah menunda masa haid, akhirnya saya menelan ludah dan menolak mutowif yang sudah dipesan khusus oleh kakak ipar. Kekecewaan itu kini terbayar, kami bergerak seumpama anak kecil menemukan kebahagiaan sekaligus nostalgia di dalamnya. 


Perjalanan ini adalah hadiah dari Mak Ji Mona dan Pak Ji Hamat (orang tua baru kami di Haramain) yang  pada 1 Februari pukul 19:48 WAS, tiba-tiba mengabarkan bahwa mereka telah memesan mobil untuk berangkat ke Gua Hira pada pukul 3 dini hari. Itu artinya kami hanya memiliki waktu istirahat sekitar 3 jam setelah prosesi umroh keempat. Tetapi semua rasa kaku, kejang, kram, dan encok mendadak hilang seperti sebuah keajaiban. 



Perjumpaan saya dengan Mak Ji Mona berawal dari antrian panjang toilet wanita di bandara King Abdul Aziz, Jedah. Sebab menahan pipis terlalu lama, perut bawah saya mengeras dan rasanya sudah tidak tahan. Perempuan paruh baya dengan badan tinggi dan kulit putih berseragam sama dengan saya itu mempersilakan saya masuk lebih dahulu. Itu adalah sebuah hadiah besar yang tak dapat dinilai dengan materi. Betapa saya berterima kasih berkali-kali kepada beliau setelah menuntaskan saluran kecil dari dalam perut ini. Beliau melempar senyum penuh rasa heran.



Di luar toilet, suami menunggu dengan perasaan cemas karena menunggu agak lama. Sementara kelompok kami sudah melaju keluar tak bersisa. Tiba-tiba ibu peri yang mempersilakan saya masuk ke tolet tadi tergopoh di belakang sana sembari menunjukkan hp dengan panggilan dari suaminya. Raut wajahnya sedikit lega melihat kami dan berjalan mengiringi kami dengan ucapan terima kasih berkali-kali pula. Simbiosis mutualisme pertama kami tak berselang lama.



Betapa bahaginya saya ketika tahu yang akan mengisi kasur keempat di kamar kami ternyata adalah Mak Ji Mona. Sebuah kebetulan beruntun yang secara instan menguatkan sebuah ikatan di antara kami. Beliau rupanya juga merasa beruntung dapat membersamai kami, para anak muda pemalas yang sering kali diberitakan enerjik dan semangat beribadah kepada keluarganya. 



Sejujurnya kami kalah dalam semangat beribadah kepada beliau. Mak Ji Mona dan Pak Ji Hamat adalah pasangan pengusaha yang bolak-bali haji dan umroh, tetapi semangat berumroh justru semakin menguat. Beliau bisa kuat dua sampai tiga kali umroh setiap harinya. Pak Ji Hamat juga selalu antusias mengumandangkan talbiyah mulai dari tempat miqot di Masjid Aisyah, hingga menuju Masjdil Haram. Hal itu membuat Devi berbisik kecil, kami beruntung ditemani beliau karena kalau tidak, maka pasti sepanjang jalan akan penuh dengan obrolan-obrolan kosong, bukan renungan-renungan akan syakralnya ibadah umroh yang akan kami laksanakan.  



Awalnya kami tidak menyangka bahwa beliau juga mempunyai niat kuat untuk mendaki puncak yang juga dikenal dengan nama jabalul Qur’an dengan ketinggian 642m itu. Tetapi kami keliru, beliau berdualah yang tak banyak mengeluh selama di perjalanan. Bahkan Mak Ji Mona menyunggi plastik besar berisi makanan ringan dan bekal kami di perjalanan. 



Melihat itu, saya memiliki gambaran bagaimana Siti Khadijah begitu tertatih mendaki bebatuan tinggi dengan membawa makanan dari rumah beliau, kurang lebih sejauh 6km setiap hari. Saya yakin, saat itu pasti belum ada anak tangga seperti yang kami lalui untuk memudahkan pendakian. Usia beliau juga tak lagi muda. Beliau juga melawan gengsi sebagai perempuan konglomerat yang dapat memerintah budaknya kapan saja, ternyata lebih memilih mengabdi kepada suaminya yang tengah bertahannuts di puncak sana, sebuah gua kecil tempat lahirnya wahyu dan pengetahuan. 



Dalam kesempatan ini, saya sengaja membawa buku Muhammad: Rasul Zaman Kita karya Tariq Ramadan. Buku ini menceritakan kisah Nabi dalam perspektif masa kini dan dengan sentuhan emosi yang kuat. Bagian-bagian di dalamnya yang sengaja dibuat pendek, memudahkan pembaca dalam mencerna dan menghayati maknanya. Sementara poin pentingnya menurut saya terletak pada bagaimana Tariq menekankan tujuan utama buku ini, “menjadikan kehidupan Rasul sebagai cermin bagi kita yang dengannya para pembaca yang sedang menghadapi tantangan zaman mampu menyelami hati dan pikiran mereka sendiri dan memahami berbagai persoalan hidup dan masalah sosial dan moral yang lebih luas” (hlm. 16).



Salah satu tantangan zaman yang dimaksud telah saya jumpai langsung yaitu pemandangan sampah botol plastik dan tisu dari ribuan pengunjung yang tidak sadar bahwa saat itu, mereka tengah berkunjung ke tempat suci. Tempat di mana Nabi menyendiri, mencari makna, merenungi semesta, dan bahkan menerima wahyu pertama kali secara langsung melalui malaikat Jibril. Barangkali itu semua hanya pelajaran semasa bersekolah, sementara pada praktiknya saya pun kadang lupa untuk meneladani ajaran Nabi tentang kebersihan. Saya pribadi berantakan dan jorok, namun masih ingat untuk tidak mengotori tempat-tempat bersejarah yang saya kunjungi. 



Dari ketinggian, saat memandang gedung-gedung menjulang bahkan mengungguli Baitullah, ada perasaan yang sejujurnya amat menusuk. Di sana juga berdiri toko-toko pusat perbelanjaan, food court, bahkan kini tren cafe-cafe international merajalela di antara gemerlap lampu Masjidil Haram. Sesungguhnya itu semua adalah kemajuan zaman yang tak dapat dibendung. Dampaknya mungkin mampu menyeret kita pada perasaan terlena akan hiburan dunia. Tapi inilah tantangannya, inilah persoalan yang membutuhkan ketajaman refleksi dalam bersikap. Budaya ngopi sangat bagus, terutama berkaitan dengan inspirasi dan musyawarah. Sangat manusiawi kita menikmati secangkir kopi sambil tertawa bersama teman-teman, tetapi lanjutkan aktivitas begadang itu untuk bermunajat di antara keheningan malam. Berbelanja untuk oleh oleh pun memang sudah menjadi bagian penting, tetapi setelahnya harus diingat ada Ka’bah yang menunggu untuk dipandang lama dan kau kenang-kenang ketika melafalkan ‘mustaqbilal qiblati’ dalam salatmu setelah di tanah air. 



Akhirnya kami tiba di puncak bersamaan dengan kumandang adzan subuh. Suara sahut-sahutan dari pengeras suara di berbagai masjid di bawah sana membuat bulu halus di tubuh saya meremang. Berulang kali muncul rasa syukur dan haru bisa menapaktilasi perjalanan penting Nabi, memantik mindset dan lompatan iman selangkah lebih maju, serta bisa menyaksikan matahari terbit di ufuk kota Mekah yang indah. 



Harapan saya, perjalanan umroh kali ini mampu menumbuhkan cinta lebih dalam lagi kepada Kanjeng Nabi. Pada tingkatan yang lebih tinggi lagi semoga saya dan kita semua mampu meneladani beliau untuk kemudian meraih syafa’atnya. Amin.  



Tambuko, 19 Februari 2026



17 Februari 2026

Umroh Jalur Bercanda

Perjalanan umroh kali ini begitu mengejutkan. Semua bermula dari gurauan bersama sahabat saya, Devi. Ia dan suaminya berencana umroh bersama para kiai Al-Karawi pada akhir Januari tahun ini. Mendengar kabar itu, sering saya bercanda akan ikut mengantarnya ke Mekah Madinah. 


Setiap kali Devi mempersiapkan segala sesuatu yang akan ia bawa ke haramain, saya pun ikut-ikutan menyibukkan diri. Mulai dari keperluan ubudiyah seperti mukena, manset, abaya putih khusus untuk berihrom, sampai prediksi masa menstruasi pun saya turut serius membahasnya. Saya melebur seolah memang sudah pasti akan ikut bersamanya. 



Melihat tingkah konyol saya ketika bercermin mengenakan abaya putih, suami selalu meledek. Menegaskan bahwa dia, saat ini, sepertinya tidak mungkin mewujudkan impian saya untuk berumroh bersama sahabat sekaligus keponakan saya itu. Saya membalasnya dengan senyum pendek saja. 



Takdir memang mempunyai selera humor tinggi. Ketika situasi keuangan kami sedang berada di kondisi pas, justru kami terdorong untuk mewujudkan angan-angan itu. Semua berjalan di luar kendali. Rejeki min haistu la yahtasib yang diharapkan banyak orang kini datang seperti guyuran hujan. Rintik berkahnya hinggap di genting rumah kami.



Karena tidak ingin salah langkah, saya meminta suami sowan kiai untuk bertanya tentang prioritas dana yang kami kantongi itu untuk dua pilihan. Begitu kiai memberikan jawaban, saya menghubungi Lala (admin travel) untuk memesan seat di waktu yang sama dengan jadwal keberangkatan Devi. Prosesnya cukup satset karena paspor kami ternyata masih berlaku hingga 2027. 



Panggilan Allah untuk berkunjung ke Baitullah memang nyata. Saya membuktikannya untuk kedua kalinya, betapa jalur langit itu seumpama berkendara di jalan tol, lurus, mulus, tetapi berbayar. Dengan doa dan keyakinan kita mampu mengisi pundi-pundi e-toll dan membayarnya tunai di gerbang toll.



Ada banyak ijazah shalawat dan doa-doa berkaitan dengan umroh dan haji yang saya ketahui selama ini. Namun yang membuat saya yakin adalah, pada pagi yang lengang saat saya mencuci beras, saya mendengar ceramah Kiai Musyfiq Madim dari pengeras suara mushalla di kampung kami. Beliau memberikan ijazah shalawat haji kala itu (bisa dicari di google). Bacaan tersebut memang sedikit panjang, tetapi langsung melekat di kepala. Ketika membacanya, ada keyakinan kuat bawa kali ini, shalawat inilah yang akan mempercepat langkah saya ke haramain. 



Pikiran adalah kekuatan yang efektif, demikian pesan Victor Hugo dalam novelnya yang berjudul Les Miserables. Maka sejak mengenal shalawat itu, setiap sore saya selipkan sebagai tambahan doa dalam bacaan rutin ayatul khirzi, dari pondok pesantren Annuqayah daerah Karang Jati, yang terus saya amalkan di rumah. Juga saya baca di setiap ada kesempatan, sesering mungkin, sampai tak terasa air mata jatuh penuh harap. Butir air mata itulah yang mungkin saja mampu merayu Tuhan, sehingga alhamdulillah dengan proses yang singkat saya dan suami dimampukan dan terpanggil kembali menjadi tamuNya. 



Begitu tiba di Madinah, ketika secara tak sengaja saya berjumpa dengan Kiai Musyfiq di buffet hotel, lalu menerima sapaan hangat untuk makan sayur yang banyak agar kuat beribadah, hati saya mendadak tersentak. Saya baru menyadari, ternyata saya tak haya menerima ijazah shalawat dari beliau, melainkan juga mengiring beliau langsng ke tanah haram. Mengenang itu semua membuat dada saya penuh akan rasa syukur. Semoga setiap kebaikan kecil yang kita lakukan dapat mengetuk pintu langit dan Allah mempersilakan kita berziarah ke Mekah dan Madinah. Amin. 




Tambuko, 17 Februari 2026




29 Desember 2024

Refleksi Residensi RAKARA

Di penghujung tahun ini, senang sekali saya berkesempatan mengikuti acara RAKARA residensi cerpen yang diadakan oleh Lesbumi MWCNU Gapura, Sumenep, bekerjasama dengan komunitas Damar Korong. Inilah acara yang ingin saya ikuti sejak lama, bermukim di sebuah tempat untuk mengisolasi diri dari riuhnya dunia demi menemukan kembali gairah dan konsentrasi menulis. Tak disangka, dari acara ini saya benar-benar menemukan hal luar biasa dan bahkan di luar ekspektasi.  


Awalnya saya mendapat informasi acara ini dari guru saya, Kiai M Mushthafa. Beliau memantik semangat menulis saya yang telah lama redup. Berbekal izin suami dan karya cepen amatir yang coba saya tulis lagi secara dadakan alhamdulillah saya lolos sebagai 15 peserta dari 46 pendaftar se-Madura. 


Bagi saya ini adalah awal yang baik untuk mulai menekuni kembali proses tulis-menulis. Benar saja, saya dipertemukan dengan orang-orang hebat sebagai mentor di acara tersebut. Sebutlah Matroni Muserang, A. Warist Rovi, Khairul Umam, Siswanto, serta mentor lain yang telah lama berkecimpung di dunia sastra, menerbitkan buku, dan menembus media-media hebat di Indonesia. Tak terbayangkan pula di antara 15 peserta itu, saya dipertemukan kembali dengan Ummul Hasanah, kawan lama sesama alumni Annuqayah yang lama tinggal di Fiji sebagai staf khusus di Kedutaan Besar Rapublik Indonesia. 


Meski cukup singkat, yakni dua hari dari tanggal 27-28 Desember, acara ini benar-benar memberikan kesempatan dan kenangan berharga bagi saya. Terutama di hari kedua, saat memulai pagi dengan olah tubuh, tadabbur alam menyusuri jalanan asri daerah Tastaman, riset data tentang produksi gerabah ke rumah warga di desa Andulang, dan kemudian eksplorasi pantai Bintaro yang menyuguhkan eksotisme surga tersembunyi bagi penikmat sepi. 


Fokus menulis di bibir pantai Bintaro rasanya seperti meditasi yang mampu menyegarkan mental. Hujan yang tiba-tiba turun sama sekali tak menjadi masalah. Kami semua mulai berkonsentrasi menyusun kerangka cerpen untuk kemudian dipresentasikan di depan mentor pada waktu yang telah ditentukan. Ini sungguh sangat menantang namun juga mengasyikkan. Bermain-main lagi dengan imajinasi, memilah diksi, menyusun paragraf adalah kesibukan yang ingin saya tekuni kembali. 


Acara ditutup dengan penampilan dari sanggar Conglet, Language Theater Indonesia, deklamasi, dan musikalisasi puisi. Sayangnya rombongan kami dari SMAGA Annuqayah pulang tanpa menuntaskan acara karena cuaca dan jarak yang tidak mendukung. Di mobil, sambil mendekap tas setengah kering karena kehujanan siang tadi, saya merenungkan banyak hal. Betapa benar adanya bahwa Gapura adalah lumbung sastrawan. Tua muda bergiat di bidang sastra.


Mengamati ketua panitia, Kak Abdullah Member, mendadak saya teringat orang-orang kampung saya yang sebaya dengannya hanya sibuk membajak sawah atau menyabit rumput. Saat remaja di sini mampu berkarya dan pandai beretorika, anak muda di sekitar saya menghabiskan waktu dengan bermain game, tak sempat bersentuhan dengan buku, apalagi menulis. Sungguh semangat literasi adalah sebuah budaya yang mesti diupayakankan sebab bukan tidak mungkin kita akan mampu menggapai kembali kejayaan peradaban Islam yang dulu tegak berkibar. Bismillah. 



Tambuko, 29 Desember 2024

 

24 Agustus 2024

Pohon Jeruk dan Keajaiban Shalawat

Selama menikah, kejutan dari suami hampir bisa dihitung jari. Bagi saya yang memang agak sedikit cuek dengan hadiah, itu adalah hal wajar. Namun yang paling berkesan adalah saat dia menghadiahi saya tiga pohon jeruk langsung berbuah sekitar tiga tahun yang lalu. Saya bergembira karena tak perlu repot lagi membeli jeruk nipis saat membuat sambel sate, tak perlu kesulitan mencari jeruk limau, dan tak perlu merasa bahwa lemon adalah jeruk paling mahal, karena ketiganya sudah bisa saya petik secara gratis, di halaman rumah sendiri. 


Bulan pertama saya masih asyik menikmati buah jeruk yang cukup lebat. Tetapi memasuki bulan ketiga, saat bertepatan dengan musim kemarau, saya menyadari betapa perawatan pada pohon jeruk tidaklah mudah. Mulai dari pemangkasan, penyiangan, pemupukan, dan belum lagi drama daunnya dipatok ayam atau dimamah ulat.


Semakin hari pohon jeruk saya tampak mengenaskan. Dipupuk tidak mempan, disemprot dengan sabun cuci piring sesuai petunjuk Mbah Google juga tetap tidak ada reaksi dan tanda tanda terselamatkan. Akhirnya saya memindahkan ketiganya ke halaman belakang dapur. 


Rimbun pepohonan di halaman belakang ternyata tidak memberikan cahaya matahari yang cukup bagi tanaman jeruk saya. Keputusan memindahkan ke lokasi yang salah membuat saya pasrah. Seminggu berlalu, ketiga pohon jeruk tadi mengalami sakaratul maut. 


Dengan perasaan sedih saya terduduk di dekat batang pohon jeruk lemon yang hanya tinggal sejengkal, keropos, dan berwarna abu-abu. Dua lainnya sudah tak tampak keberadaannya di muka bumi. Hampir saya menangis. Sungguh tidak berlebihan memang saya mengalami goncangan kesedihan kala itu. 


Pikiran kacau mendorong saya pada sebuah inisiatif yang mustahil bagi logika tapi tidak bagi hati dan keyakinan, yaitu bernadzar. Rasa tidak rela ditinggal mati oleh tanaman kesayangan, membuat saya berani membisiki batang pohon jeruk lemon selayaknya dua insan saling mengikat janji. 


"Hiduplah..! Jika kamu berbuah maka akan saya jadikan hidangan maulid Nabi Muhammad SAW. Buahmu akan saya ajak bershalawat."


Tiga tahun lamanya saya tidak pernah berani ke halaman belakang. Selain rimbun pohon yang semakin membelukar membuat saya takut ular, juga comberan dari kamar mandi melebar sehingga dihuni beberapa biawak berkurang besar. Seram sekali membayangkan jika ternyata salah satu dari biawak itu adalah bayi buaya. 


Kesempatan menapaki halaman belakang baru saya dapatkan kemarin lusa, saat kakak ipar melakukan kegiatan bersih-bersih. Ia mulai menyibak tanaman liar yang tumbuh membelukar, merimbuni pohon pepaya, kersen, mangga, dan salak. Pohon kopi tanaman ibu yang buahnya lebat juga tak sengaja ditebang membuat saya sedikit kesal. 


Sore hari saat suasana tenang, saya memandangi halaman belakang. Pandangan saya tertuju pada posisi di mana saya pernah menanam pohon jeruk. Betapa terkejutnya saya menyaksikan fenomena yang sukar diterima akal. Sejengkal pohon jeruk yang dulu kering dan keropos tiba-tiba berdaun segar, menampakkan cabang cabang berwarna hijau.
 

Saya masih tertegun menyadari betapa kisah-kisah keajaiban shalawat yang selama ini hanya saya baca dalam tulisan, kini saya alami sendiri. Di hadapan saya, sepohon tanaman perdu berjuang menggerakkan dirinya demi bisa menjadi hidangan dalam acara maulid Nabi Muhammad SAW. Saya kembali duduk seperti terakhir kali membisikkan janji seraya melafalkan ayat, "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."


24 Agustus 2024



25 Juli 2024

Review: Skincare Hada Labo dan Skin Aqua


Minggu ini saya sangat tertarik untuk membahas soal skincare bagus yang baru saya temukan. Saya mendapat rekomendasi dari seorang kawan yang kelihatan cuek dengan dunia skincare tapi ternyata paling getol melakukan eksplorasi dan rajin mencari tahu ulasan berbagai produk. Bahkan yang paling mengejutkan ia bersahabat dengan seorang dokter kecantikan bernama Dr. Irwan lulusan UI (Universitas Indonesia) dan UCL (University College London).


Sejujurnya saya termasuk orang yang kurang memperhatikan penampilan. Mungkin karena kulit wajah netral dan tidak pernah pilah-pilih produk perawatan kulit sehingga menggunakan apa saja serasa terserah. Akhirnya saya terjebak dalam tren 'booming'. Setiap kali ada produk skincare naik daun, di situ saya ikut bertengger. 


Sampailah saya pada titik kebingungan menentukan produk yang tidak terafiliasi Isrewel. Beberapa kali saya melihat review di internet, tetapi selalu merasa ragu. Akhirnya saya iseng membahas kegundahan itu dengan kawan saya, Nurul Alfia Kurniawati. 


Ia merekomendasikan produk Hada Labo dan Skin Aqua. Berikut juga membahas tentang efektivitas dua produk ini secara tuntas. Hada Labo dari dulu memang berkomitmen menggunakan bahan-bahan yang berkualitas tinggi dan sudah riset selama bertahun-tahun di Jepang, mengusung jargon perfect and simple, dan yang terpenting ownernya mendukung kebebasan Palestine. Tanpa pikir panjang, saya mengirim link produk tersebut kepada suami untuk segera ditinjau karena saat itu bertepatan dengan event 7-7 toko oren. Barulah di minggu kedua pemakaian, saya memberanikan diri untuk mengulas produk tersebut. 


Saya mulai dari toner. Bernama Gokujyun Premium Ultimate Moisturizing Lotion. Teksturnya cair, bening, tapi agak lengket karena tidak mengandung alkohol, dan tidak berwarna. Ketika diaplikasikan di wajah malah terasa seperti cairan serum. Dengan packaging yang simpel, membuatnya mudah dituang dan tidak rawan tumpah. Penampilannya tidak seperti skincare lain, benar-benar unik. Mirip botol minyak urut. 


Jika tonernya bening, moisturizernya berwarna putih seperti bodylotion. Bedanya, ia memiliki tekstur lebih cair dan tak beraroma. Sangat menyegarkan dan jika diaplikasikan dengan make up tidak membuat kulit krack. 


Bersama keduanya, saya juga mengantongi sunscreen dari Skin Aqua. Kebetulan memang dijual dalam satu toko. Setelah di apply ternyata cocok sekali untuk kulit saya yang kombinasi to oily. Meski proses menyerapnya tidak terlalu cepat, bisa kita tunggu sejenak sambil angin-anginkan. Nilai lebihnya lagi tak hanya melindungi dari paparan sinar matahari, tapi juga mengurangi minyak di wajah serta mencerahkan. 

Tiga produk ini sangat saya rekomendasikan untuk siapapun yang ingin meremajakan kulit wajahnya. Terutama bagi mereka yang memiliki kulit sangat kering atau cenderung berminyak. Harganya juga sangat bersahabat. Hasilnya pun bisa dilihat ketika bangun tidur. Bercerminlah dan voila! Kulitmu seperti tersulap menjadi kenyal, halus, dan hidup seperti rumput hijau di awal musim penghujan. Segerrr!



08 Maret 2024

Review Film Hunger; Perjalanan Menemukan Jati Diri Lewat Memasak

Film bagus menurut saya adalah yang paling banyak memberikan kesempatan untuk merenung setelah menonton. Tidak hanya berkesan secara sinematografi, akting dan scoring, namun dialog mendalam juga menjadi seni paling tinggi dalam mengaduk emosi penonton hingga merinding.


Pekan ini saya fokus menonton film-film bagus berkat link netflix berbagi dari seorang kerabat jauh di rantau. Pada mesin pencarian, iseng saya mengetik 'cooking', lalu mengantarkan saya pada saran beberapa film tentang kuliner. Film Hunger muncul di baris pertama dengan cover menarik mencuri perhatian saya.


Film ini berkisah tentang perjalanan seorang perempuan bernama Aoy (Aokbab Chutimon), koki kedai kwetiaw laris di persimpangan jalan sebuah kota di Thailand. Pada suatu hari ia menerima kartu undangan dari pembeli misterius yang mengagumi masakannya untuk bergabung ke sebuah tim di restoran fine-dining bernama Hunger.


Perjumpaan Aoy dengan Chef Paul (Peter Nopachai) sang pemilik restoran yang keras, suka berteriak, dan perfeksionis, membuatnya semakin memantaskan diri untuk bergabung dengan tim Hunger. Ia terpesona melihat sosok Chef Paul yang kemampuan memasaknya membuat orang begitu tergila-gila. Hingga ia pun mengubah standar gaya memasaknya yang dinilai kolot dan terbelakang.


Konflik disuguhkan dengan perlahan dan lembut membuat emosi saya seperti ikut berperan. Terutama saat adegan genting pemberhentian salah seorang tim chef senior yang berujung pertumpahan darah. Berikutnya sutradara juga menyelipkan pesan moral tentang konservasi satwa dilindungi dalam adegan Chef Paul dan orang kaya yang ingin menyantap burung langka. Nurani seorang Aoy tak terbendung sehingga ia pun memilih keluar dari dapur Hunger.


Berbagai pesan moral dapat tersampaikan dan memberikan ruang bagi saya untuk merenung. Film ini adalah sebuah kritik sosial yang menampilkan kesenjangan di masyarakat. Chef Paul sebenarnya gambaran kita, manusia biasa yang penuh ambisi dan keserakahan. Sementara Aoy adalah sebuah petunjuk bagi kita dalam menemukan alasan untuk kembali pulang. 



30 November 2023

Sebelas Tahun Meraih Sakinah

Aku masih duduk di sini, di dalam rumah kita. Memunguti setiap tumpukan pakaianmu di atas kasur yang enggan kau letakkan di keranjang. Aku masih menatap jendela berdebu dan rombongan semut di setiap sudut rumah kita. Hidupku masih berantakan, dan kau menerimanya dengan lapang. 


Kita memang pasangan yang aneh. Kata teman-teman seperti tidak akur. Bahkan seseorang pernah menegurku langsung tentang bagaimana harus meniru sikapmu yang tenang seperti telaga di tengah hutan rahasia. Sementara aku riuh gaduh bagai rebana yang sedang ditabuh.


Kamu suka berbicara tentang otomotif. Aku berusaha mengimbangi meski sebenarnya tidak pernah benar-benar memahaminya. Seperti kamu pura-pura menyimak saat aku berbicara tentang buku baru, film yang sedang aku tonton, ocehan kepada tetangga yang suka menyetel musik dugem di pagi hari, dan tentu saja banyak keluhan-keluhan tak penting lainnya. Terima kasih kau telah menerimaku dengan tulus selama sebelas tahun terakhir ini. 


Aku menyadari belum bisa menjadi istri terbaik seperti yang kamu harapkan, tetapi kamu tahu aku terus belajar. Aku berusaha terus berbenah. Terutama menata mental seorang istri yang hingga kini belum dikaruniai buah hati. Aku sudah mengadu kepada Rasulullah tentang masalah kita. Beliau pasti memahami posisimu seperti saat mendapingi dan mendengarkan suara hati Aisyah tentang masalah yang sama. Kita hanya perlu menunggu. Mungkin sebentar lagi. 


Semoga Allah selalu menjaga hubungan ini dan memandang dengan Rahmat-Nya. Melapangkan sabar kita untuk senantiasa ridha terhadap takdir-Nya. Sebab menikah bukan semata tentang cinta, melainkan ibadah dan bentuk penghambaan terhadap-Nya.