Perjalanan umroh kali ini begitu mengejutkan. Semua bermula dari gurauan bersama sahabat saya, Devi. Ia dan suaminya berencana umroh bersama para kiai Al-Karawi pada akhir Januari tahun ini. Mendengar kabar itu, sering saya bercanda akan ikut mengantarnya ke Mekah Madinah.
Setiap kali Devi mempersiapkan segala sesuatu yang akan ia bawa ke haramain, saya pun ikut-ikutan menyibukkan diri. Mulai dari keperluan ubudiyah seperti mukena, manset, abaya putih khusus untuk berihrom, sampai prediksi masa menstruasi pun saya turut serius membahasnya. Saya melebur seolah memang sudah pasti akan ikut bersamanya.
Melihat tingkah konyol saya ketika bercermin mengenakan abaya putih, suami selalu meledek. Menegaskan bahwa dia, saat ini, sepertinya tidak mungkin mewujudkan impian saya untuk berumroh bersama sahabat sekaligus keponakan saya itu. Saya membalasnya dengan senyum pendek saja.
Takdir memang mempunyai selera humor tinggi. Ketika situasi keuangan kami sedang berada di kondisi pas, justru kami didukung untuk mewujudkan angan-angan itu. Semua berjalan di luar kendali. Rejeki min haistu la yahtasib yang diharapkan banyak orang kini datang seperti guyuran hujan. Rintik berkahnya hinggap di genting rumah kami.
Karena tidak ingin salah langkah, saya meminta suami sowan kiai untuk bertanya tentang prioritas dana yang kami kantongi itu untuk dua pilihan. Begitu kiai memberikan jawaban, saya menghubungi Lala (admin travel) untuk memesan seat di waktu yang sama dengan jadwal keberangkatan Devi. Prosesnya cukup satset karena paspor kami ternyata masih berlaku hingga 2027.
Panggilan Allah untuk berkunjung ke Baitullah memang nyata. Saya membuktikannya untuk kedua kalinya, betapa jalur langit itu seumpama berkendara di jalan tol, lurus, mulus, tetapi berbayar. Dengan doa dan keyakinan kita mampu mengisi pundi-pundi e-toll dan membayarnya tunai di gerbang toll.
Ada banyak ijazah shalawat dan doa-doa berkaitan dengan umroh dan haji yang saya ketahui selama ini. Namun yang membuat saya yakin adalah, pada pagi yang lengang saat saya mencuci beras, saya mendengar ceramah Kiai Musyfiq Madim dari pengeras suara mushalla di kampung kami. Beliau memberikan ijazah shalawat haji kala itu (bisa dicari di google). Bacaan tersebut memang sedikit panjang, tetapi langsung melekat di kepala. Ketika membacanya, ada keyakinan kuat bawa kali ini, shalawat inilah yang akan mempercepat langkah saya ke haramain.
Pikiran adalah kekuatan yang efektif, demikian pesan Victor Hugo dalam novelnya yang berjudul Les Miserables. Maka sejak mengenal shalawat itu, setiap sore saya selipkan sebagai tambahan doa dalam bacaan rutin ayatul khirzi (dari pondok pesantren Annuqayah daerah Karang Jati) yang terus saya amalkan di rumah. Juga saya baca di setiap ada kesempatan, sesering mungkin, sampai tak terasa air mata jatuh penuh harap. Butir air mata itulah yang mungkin saja mampu merayu Tuhan, sehingga alhamdulillah dengan proses yang singkat saya dan suami dimampukan dan terpanggil kembali menjadi tamuNya.
Begitu tiba di Madinah, ketika secara tak sengaja saya berjumpa dengan Kiai Musyfiq di buffet hotel, lalu menerima sapaan hangat untuk makan sayur yang banyak agar kuat beribadah, hati saya mendadak tersentak. Saya baru menyadari, ternyata saya tak haya menerima ijazah shalawat dari beliau, melainkan juga mengiring beliau langsng ke tanah haram. Mengenang itu semua membuat dada saya penuh akan rasa syukur. Semoga setiap kebaikan kecil yang kita lakukan dapat mengetuk pintu langit dan Allah mempersilakan kita berziarah ke Mekah dan Madinah. Amin.
Tambuko, 17 Februari 2026
1 komentar:
Takdir ibarat langkah thawaf, berputar-putar namun selalu menuju satu pusat: Allah.
Posting Komentar