21 November 2017

Mata Alternatif Melihat Dunia

Memasuki tahun keempat usia pernikahan dan belum jua dikarunia keturunan bukanlah masalah yang mudah dihadapi. Masalah intern mungkin memang belum pernah terjadi, tetapi serangan dari luar jangan ditanya. Pertanyaan-pertanyaan pedas dengan level bervariasi sudah terlontar berulang kali, menjadi makanan sehari-hari.

Selain benteng mental yang kuat, kreativitas jawaban sangat berperan penting dalam hal itu. Namun yang lebih utama di balik semuanya adalah kesadaran dan intensitas hubungan dengan Tuhan. Dan betapapun ganasnya serangan atau kuatnya dukungan positif dari luar tak ada yang lebih berpengaruh selain komitmen keluarga.
Dalam kasus ini, beberapa pekan terakhir, saya disadarkan dengan kematian sahabat selepas proses persalinannya. Ia menemani dan menuntun proses belajar saya dalam dunia literasi di kampus. Bahkan setelah sama-sama berkeluarga kami tak pernah kehilangan kontak. Masalah yang sama seperti menunggu kehamilan semakin mempersering komunikasi kami. Berbagai tips saling kami bagikan. Kami saling menguatkan satu sama lain. Tentu saja itu adalah modal yang cukup untuk bertahan ketika harus menerima kenyataan bahwa kawan seumuran kita telah dikarunia dua sampai tiga anak dalam selisih waktu yang susul-menyusul.

Kami sempat tertawa-tawa ketika menyadari kehamilan bukanlah lomba. Jumlah anak juga bukan jaminan kita mendapat predikat istimewa dari Sang Pencipta. Dalam ayat suci pun telah dijelaskan bahwa anak adalah bagian dari perhiasan dunia. Kita akan mati membawa amal kita sendiri.
Kenyataan bahwa kini sahabat tempat saya berbagi itu kini telah pergi, membuat saya terpukul begitu dalam. Jujur saja, di malam kematiannya saya tak nyenyak tidur memikirkan singkatnya waktu  dan masa indah kemarin yang baru saja kami lalui. Begitulah maut yang tak pandang usia dan tak bisa ditunda-tunda.

Setelah luka yang dalam itu saya mengais banyak pelajaran berharga. Mata saya mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda. Seperti memperoleh mata alternatif yang menawarkan berbagai arah dan jalan yang tidak selalu sama. Hati dan pikiran saya terketuk untuk berpikir dan menyadari bahwa di balik segala harapan ada Tuhan. Bagaimana pun jalan cerita hidup yang kita lalui saat ini adalah karunia terbaik. Dia lebih tahu dalam mengatur waktu yang tepat dan akhir yang baik. Segala yang kita miliki hari ini hanyalah titipan. Kita sendiri pun tak tahu kapan jasad dan ruh akan terbelah.

(Dimuat di www.voila.id)

Hari Raya dan Godaan Berbelanja

Guru saya, M. Mushthafa, berdiri di atas podium menyampaikan tausiah lingkungan dalam acara perayaan hari jadi Pemulung Sampah Gaul (PSG) SMA 3 Annuqayah, bulan April lalu. Beliau berbicara panjang tentang bagaimana mengubah pola konsumsi demi selamatkan lingkungan. Terutama kepada orang-orang yang mengaku pecinta lingkungan.

Tausiah dibuka dengan cerita-cerita ringan. Salah satunya diolah dari tulisan seorang ahli biologi dan pakar lingkungan bernama Garret Hardin dalam bukunya yang berjudul The Tragedy of the Commons, 1968. Tak hanya dari buku, beliau juga menyampaikan cerita kitab Risalah al-Qusyairiah yang dikutip oleh Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin. Cerita-cerita inilah yang membuat saya tertarik untuk membahasnya kembali melalui kasus serupa dalam kehidupan nyata kita.

Dalam Ihya Ulumuddin, al-Ghazali membahas seorang sufi bernama As-Sari as-Saqati yang mengaku telah menahan diri tidak memakan roti selai selama empat puluh tahun. As-Sari tidak pernah tergoda meski roti yang diinginkannya justru selalu ada di sekitarnya. Inilah gambaran ulama yang mampu mengendalikan diri untuk tidak mengkonsumsi sesuatu yang nikmat walau itu halal.
Mari kita ke pasar dalam minggu-minggu terakhir bulan Ramadan. Maka Anda akan menyaksikan pemandangan tawaf tak beraturan dengan jamaah beragam jenis, mulai dari tukang parkir, pencopet, jambret, pengemis, pedagang jujur sampai yang menipu, juga pembeli sejati atau sekedar bertanya-tanya sembari memantaskan diri. Segala ragam manusia ini sama-sama bertujuan meraih kemenangan. Kemenangan dalam versi yang diciptakan kepala sendiri.

Hari raya memang selalu identik dengan belanja. Selain kebutuhan dapur, belanja pakaian juga menjadi yang utama. Kue-kue dan aneka makanan berat disiapkan menyambut kedatangan famili. Euforia hari kemenangan yang berada di depan mata selalu tak lepas dari gaya belanja membahana. 

Bagaimana jika as-Sari hidup di zaman ini? Atau seseorang yang mengaguminya meneladani perilakunya dengan bertahan di tengah arus konsumsi gila-gilaan? Misalnya tidak membeli pakaian selama sepuluh tahun? Sementara godaan untuk tidak berperilaku konsumtif semakin hari semakin sulit. Serbuan iklan, godaan teman-teman, dan rayuan macam-macam kanan kiri dapat membangkitkan naluri kemanusiaan kita untuk juga mengikuti tren masa kini. Apalagi kian hari kita kian sejahtera. Uang kita semakin cukup bahkan lebih untuk bisa memanjakan nafsu untuk konsumsi. Ini seolah membenarkan penelitian bahwa orang-orang membuka situs belanja di internet sekitar 20 menit setiap hari. Lalu apa masalahnya?

Contoh as-Sari dalam Ihya Ulumuddin sebenarnya adalah untuk menggambarkan bahwa at-tana'um bil halal (bernikmat-nikmat dengan yang halal) sebenarnya merupakan sesuatu yang berbahaya. Jika digambarkan dalam era ini, maka sudut pandangnya akan mendorong kita pada perilaku konsumtif yang berlebihan yang akhirnya akan membuat masa depan generasi kita semakin terancam. Sampah rumah tangga membeludak, sampah industri pun tak terbendung.

Saya tak mau menafikan diri bahwa saya juga belum mampu meneladani as-Sari. Di tengah terpaan rayuan pelapak, hati saya juga terdorong untuk berbelanja. Namun bila boleh jujur, saya membeli pakaian satu kali selama setahun, hanya ketika lebaran. Jika kita bersama-sama melawan ganasnya godaan belanja di hari raya mungkin kita akan mampu menyederhanakan situasi. Sebab serangan yang dihadapi bersama akan terasa ringan dan hasilnya adalah kemenangan yang hakiki.

(Dimuat di www.voila.id)

04 Desember 2016

Orang Tua

Membayangkan mengurus tujuh anak yang lahir susul menyusul dengan selisih satu tahun mungkin sangat merepotkan. Tetapi ibuku bukan sekedar membayangkan, ia bahkan tidak pernah sekali pun kudapati mengeluh dalam mengurusku dan keenam saudaraku. Repot, itu pasti. Bayangkan saja, menyusui tiada henti, memasak lalu menyuapi, sampai mencuci kain belepotan berak dan bau pesing. Semua itu dilakukannya bergantian dengan ayah. Mereka tidak pernah berubah, tenang dan santai.

Seandainya keluargaku adalah orang berada, mungkin kehidupan tidak akan sesulit tukang pandai menipiskan besi menjadi celurit. Rumah yang kami huni itu, hanyalah bangunan tua peninggalan kakek atau mungkin juga buyut. Cukup luas dengan ukuran enam kali tujuh meter, namun tiada ruang tamu, apalagi kamar. Lantainya pun sudah berubah menjadi tanah.

Kami semua tidur seperti di asrama.
Hanya ada dua kelambu penyekat dari kain berwarna gelap. Pojok selatan bagian timur tempat tidur ayah dan ibu. Ada kasur kapuk tipis yang tergeletak di lantai. Beberapa paku tertancap di dinding menggaet topi dan baju yang sudah bau. Di samping kamar ibu adalah tempatku beserta ketiga saudara perempuanku. Masih untung ada ranjang besi pemberian ayah saat melamar ibu. Sisanya adalah surga milik tiga saudara lelakiku.

Lemari model yangliu mematung puluhan tahun di samping pintu menghadap selatan. Di dalamnya adalah pakaian kami yang mirip tumpukan rombengan lusuh dan murahan. Saat lebaran tiba adalah saat-saat paling menyakitkan. Saat teman seusia kami memamerkan baju baru, kami hanya terdiam lesu. Tapi kami tidak pernah meminta, meski sebenarnya sangat berharap. Pernah ayah dan ibu membelikan kami baju bekas bos yang model dan warnanya masih segar seperti baru. Kami tertawa menikmati segala karunia yang kadang-kadang lebih seperti kejuatan.
***

Hidup menyusuri rutinitasnya. Kalau kemarau tiba, kami bergantian menimba air di sumur untuk mengisi bak mandi. Kalau hujan datang, kami membuka triplek kamar mandi untuk menampung curah hujan. Piket menyapu, kerja bakti, semua diatur. Kami benar-benar seperti hidup dalam pondok pesantren.

Tak ada panggilan kakak atau adik karena selisih satu tahun menjadikan kami tumbuh seperti seumuran. Urutannya Ahmar, Yati, Kawin, Pagi, Siti, Wati, dan terakhir aku.

Kami semua bersekolah. Tetapi lebih sering ngumpet di bawah jembatan atau di atas pohon asam. Hanya aku yang merasa rajin karena setiap ingin bolos, wajah melas ayah dan ibu membentang seperti siluet kesedihan.

Ketika teman-teman sekelasku menyebutkan cita-citanya, pikiranku malah terbang ke langit-langit kelas. Karena bingung, dengan asal kujawab, penulis!

Impian juga hidup dalam kemelaratan. Ia menjadi semacam cermin keindahan, sebuah harapan. Apa lucu ketika orang yang tak beruntung bercita-cita menjadi dokter di tengah sibuknya kehidupan sogok-menyogok? Masih untung cita-citaku sangat sederhana.

Menjadi penulis adalah jawaban yang sangat tepat, kala itu. Cita-cita yang murah karena tidak berkaitan dengan hal-hal yang bersifat materi. Di tengah kesulitan tiada henti seperti kutukan ini tiada yang lebih penting dari senyuman dan keakraban.

Kami tujuh bersaudara akur, walau kadang-kadang berselisih soal makanan. Kami semua bekerja keras untuk bertahan hidup. Sebagian ikut ayah memetik kelapa di sawah untuk dijual ke pasar. Sebagian lagi ikut rombongan ibu menggiling padi dari sawah ke sawah. Pulangnya kami membawa setengah karung padi, atau apa paun itu tanaman palawija musiman.

Padi dijemur, ditumbuk, lalu dimasak bersama jagung atau singkong. Warna merahnya selalu lebih dominan. Lauknya ikan tongkol dan bayam yang ditumis dengan bawang dan garam. Kami semua berebut makanan seperti sekelompok anak ayam yang mematuk remah-remah. Makan hanya untuk mengisi perut, bukan untuk kenyang.

Pernah sekali Kawin berniat menambah nasi. Tangannya belum sampai menyentuh centong, Ahmar dan Pagi sudah memukul kepalanya sampai ia limbung dan jatuh pingsan. Kami semua tidak terkejut, bahkan tertawa-tawa seperti menonton lawak Margono dan Tomo.
***

Dalam dongeng, sekelompok kurcaci selalu bersama-sama. Aku tidak hidup dalam dongeng dan kami bukan kurcaci. Setelah beranjak dewasa keenam saudarku berpencar. Ada yang ke perantauan, menikah, lalu beranak-pinak. Siklus kehidupan di kampung tak jauh-jauh dari itu.

Yang paling beruntung adalah Wati. Ia dilamar anak juragan sapi. Itu membuatku sedih. Bukan karena iri, melainkan karena ia harus pergi dari rumah ini. Tapi sayang, keberuntungannya tak berumur panjang. Mertuanya terpeleset bangkrut saat dua puluh ekor sapinya mati diracun tetanggaya.

Kawin menurutku juga sempat beruntung, ia merantau ke Balikpapan dan bekerja sebagai sopir pribadi. Parameter keberhasilannya diukur dari banyaknya emas yang memborgol kedua lengan istrinya. Lagi-lagi sayang, istri dan mertuanya meninggal yang diduga perantara santet. Dan yang lebih mengenaskan, Kawin juga menyusul mereka dengan meninggalkan yatim piatu semata wayangnya.

Ahmar menekuni hidupnya sebagai petani. Sementara pagi kerjanya keluar masuk penjara dengan kasus bergam. Kadang-kadang carok, kadang pula dikeroyok massa saat tertangkap sedang maling sapi. Ibu menjual sawah satu-satunya yang beliau miliki untuk menebusnya sampai ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Lain Pagi, lain pula Siti. Setelah menikah ia membuka toko kelontong dan warung kopi. Banyak pelangganya yang hanya membayar nama dalam buku catatan hutangnya. Bayangkan sendiri bagaimana jadinya. Pekerjaannya kini bukan lagi kulaan atau menumbuk kopi, tetapi menghitung jumlah bon orang yang datang dan pergi. Ia gulung tikar lalu balik badan dan pergi; merantau ke luar negeri.

Yati nasibnya lebih malang lagi. Ia selalu menerima pukulan sang suami, saban hari. Kalau saja ia mengadu mungkin ia tidak akan mati sia-sia. Kisahnya sama sekali tidak mirip dengan sinetron yang kerap kali memunculkan keajaiban-keajaiban saat dibutuhkan. Misalnya orang mati hidup lagi berkali-kali. Yati membusuk di dalam sumur karena dilempar suaminya dengan dalih cemburu. Lelaki pencemburu memang lebih sadis dari algojo. Sehabis menyakiti hati, ia juga tak segan memainkan kemapuan tangan dan kaki untuk melukai.

Dari semua saudaraku, hanya aku yang belum menikah. Di usiaku yang sudah menginjak empat setengah kepala, barangkali tak kan ada seseorang yang berminat. Mungkin Siti Khadijah beruntung diusia keempat puluhnya ia bukan saja dilamar remaja dewasa yang matang melainkan juga seorang Nabi. Aku sudah mati rasa pada apa yang disebut pernikahan. Tak usah bertanya musababnya. Biarlah ia menjadi rahasia.

Ketimbang memikirkan omongan orang tentang gelar ‘perawan tuaku’, aku lebih suka merawat ayah dan ibu yang sudah berkepala uban. Beliau seperti kulit kacang yang ditinggal isinya satu per satu. Ya, dulu dan sekarang akan selalu berbeda. Pada masa yang telah berlalu, segala hal yang dibutuhkan anak-anaknya selalu berusaha ia penuhi. Ia bagai bukan manusia lagi. Tetapi sekarang, saat mereka sudah bisa cari makan sendiri tak ada yang ingat berapa kali sehari ibu menyuapi. Setelah menikah, anak-anaknya lebih fokus pada keluarganya, kehidupan baru mereka.

Aku juga merasa sudah kadaluarsa. Karenanya aku hanya melakukan apa yang aku bisa. Misalnya menulis cerita ini. Aku ingin menjadi penulis dan menuliskan hal penting, semacam kata-kata bijak walau tak dikenal banyak orang; orang tua tak sesempurna dewa. Dalam relung terdalamnya ia juga ingin disentuh sebagai manusia.

November, 2016

01 Desember 2016

Cincin Bertuan


Cincin ayah hilang tepat di hari kematiannya. Usai pemakaman Ibu menggeledah seisi rumah seperti orang gila. Dan suara-suara lesung menumbuk bumbu di dapur membuatnya semakin gila.

Seminggu sebelum kepergiannya, ayah sempat memotret cincin ruby kesayangannya dengan ponsel pemberian kakak yang bekerja di Bali. Ayah memang suka mengoleksi cincin sejak masih muda, kata ibu. Dengan kegemarannya itu, ia berniaga cincin untuk biaya kehidupan kami, termasuk biaya pendidikanku.

Dari semua cincin yang dikoleksinya ada satu cincin bermata merah delima yang begitu ia cintai. Kata beliau cincin itu buah tirakat. Cincin sakti dan bisa menghilang jika berada di tangan yang tidak tepat. Aku tidak percaya dan tertawa-tawa dengan celotehnya.

Tetapi Musa berhasil membangun sedikit kepercayaan dan rasa penasaran akan hal itu. Ia bersaksi pernah meminjam cincin ayah dan berjanji akan mengembalikannya dalam tiga hari. Tersebab repot ia lupa akan janjinya. Ketika berpapasan dengan ayah di jalan,  ayah menagihnya. Musa segera bergegas pulang. Betapa kagetnya setengah pingsan saat cincin ayah tidak berada di tempatnya. Sumpah-sumpah mengalir dari bibirnya yang hitam untuk membuktikan kebenaran persaksiannya. Ayah malah tersenyum dan menunjukkan cincin itu menempel di jari tengahnya. Cincin itu pulang ke rumah tuannya tanpa berpamitan dan meminta ongkos transportasi.

Aku masih belum sepenuhnya percaya dengan kisah Musa. Selain karena Musa seorang pembual di kampung kami, ia juga diisukan setengah dua belas oleh orang-orang. Mana mungkin aku mempercayai certia dari sumber yang kemiringannya seratus delapan puluh derajat?!

Diam-diam aku mencari bukti lain. Untuk memenuhi rasa penasaranku, aku mendatangi rumah Pak Ki, sahabat terbaik ayah sepanjang masa. Pak Ki sudah bagaikan keluarga bagi kami. Ia juga pernah membelikanku gelang emas dua puluh empat karat. Katanya sebagai rasa terima kasih kepada ayah karena kesuksesan yang kini diraihnya memang dirintis bersama ayah. Mulai dari berdagang tembakau, motor, sampai bahan-bahan bangunan, semua ia jalani bersama ayah. Posisi ayah hanya sebagai aistennya. Pak Ki malah menyangkal bahwa ayah adalah maskot keberhasilannya. Lebih terangnya, cincin yang menempel di jari ayah itu mengandung energi mistis, klening, dan magic.

Pak Ki meyakinkan bahwa cincin itu benar-benar keramat. Ia sering menuai kerugian berlipat-lipat saat ayah lupa memakainya, dan kembali untung berlipat-lipat saat ayah mengenakannya.

"Ah Masak, Pak Ki?"

"Mungkin kebetulan. Tapi keseringan."

Pak Ki juga menceritakan bagaimana pertemuan ayah dengan cincinya. Katanya ayah dipanggil Kiai yang alim dari pondok pesantren tempat ayah nyantri. Kiai itu bermimpi ayah tidur di samping batu nisan almarhum Kiai sepuh, ayah beliau, selama empat puluh malam. Dan muncullah cahaya maha cahaya yang menyilaukan ketajaman penglihatan. Cahaya itu berwarna merah menyala-nyala menyemburkan angin halus. Cahaya itu menembus dada ayah dan berkelit seperti ular ditubuhnya. Kiai sepuh muncul dari keheningan malam yang gelap. Beliau tidak berkata-kata. Hanya tongkatnya menyebutkan nama ayah berkali-kali, seperti orang sedang berdzikir.

Atas perintah Kiai ayah melaksanak mandat mimpi tersebut. Tanpa rasa takut seujung kuku pun ayah melalui malam demi malam yang mencekam. Di malam keempat puluh tetap tidak ada petanda apa pun. Kiai memerintahkan ayah pulang.

Pagi hari di rumah tidak ada siapa-siapa. Ibu ke pasar, mungkin aku juga ikut. Pintu rumah terbuka dengan sendirinya. Ada suara halus dengan nada yang sangat rendah serta santun membaca shalawat badar. Ayah mencari sumber suara dan ternyata berasal dari dalam kamarnya. Ketika ia membuka pintu, berhamburanlah cahaya terang seperti kunang-kunang. Ayah menduga itu mimpi, tapi bukan. Kesadarannya lamat laun muncul seiring dengan berkumpulnya cahaya-cahaya itu pada sebuah benda di atas bantal. Hari itu ayah merasa seperti melahirkan seorang bayi. Bayi yang membawa keberuntungan bagi kami sekeluarga.

Kali ini aku menikmati penuturan Pak Ki yang lebih mirip orang mendongeng. Sialnya aku tidak bisa mengakurasi cerita dengan kebenaran, sebab ayah telah tiada. Bodohnya aku yang cuek pada segala hal tentang ayah saat beliau masih ada. Yang kulakukan hanyalah menjaga agar kesenanganku tidak berlalu. Aku mengutuk masa di mana aku merasa masa bodoh dengan hal selain diriku.

Tentang cincin itu, aku hanya ingat kejadian saat paman, saudara ibu mendesak ayah agar menjual cincinnya. Dengan pendiriannya yang kokoh jelas ayah menolaknya. Sejak kejadian itu, paman tidak pernah lagi berkunjung ke rumah kami. Ibu berusaha menelponnya tapi tidak pernah berjawab. Ibu mendatangi rumahnya tapi dia mengunci pintu kamar. Kedengarannya seperti kasus anak kecil. Tapi Paman memang keras kepala. Sekali ingin sesuatu harus ia dapat dengan segala cara.

Termasuk saat ayah sakit keras, paman juga enggan membesuk. Tersebar berita tidak jelas, ayah terserang teluh. Teluh sebenarnya bisa gagal saat seseorang melihatnya berwujud panah api di langit dan mengumpatinya dengan kata-kata kotor. Tapi nasib tidak berpihak dan cara mati seseorang sudah tertera jelas di Lauhul Mahfudh. Bagaimana pun mengenaskannya kepergian ayah, aku meyakini akan diganti dengan berjuta keindahan di alam baka.

Segala kenangan tentangnya mengabadi dalam detak perjalananku menuju dewasa. Aku meneladani kesalehannya sebagai persaksi akan kebaikan ayah di dunia. Dan satu wasiat sebelum kepergiannya membuatku tersadar akan satu hal, peristiwa hilangnya cincin ayah selepas kepergiannya.

Seminggu sebelum hari kematiannya, ayah sempat memotret cincin di tangannya dengan ponsel pemberian kakak. Walau beliau sakit, tapi tetap berusaha menampilkan kesan sehat di mata anak-anaknya.

Ia terbaring di atas kasur kapuk yang diletakkan di lantai. badannya berusaha duduk sambil sedikit terbatuk. Aku pura-pura tak menghiraukannya. Kulanjutkan melihat hasil jepretan ayah di ponselnya yang berwarna kuning. Ia berujar pelan,

"Kalau ayah pergi, cincin ini milik suamimu."

"Ayah jangan pergi. Aku masih kecil. Tidak mau menikah."

"Kamu pasti menikah."

"Dengan siapa?" tanyaku, tidak menatapnya.

"Jodohmu."

Aku menganggap percakapan itu hanyalah basa-basi. Namun ingatan tentang obrolan panjang terakhir dengan ayah itu membuatku berani mengaku kepada ibu bahwa aku yang menyimpan cincinnya. Aku memohon ibu tidak bertanya di mana dan tidak menceritakan kepada siapa-siapa. Perasaanku cemas, tetapi ada keyakinan yang kuat kalau cincin itu kini hilang dan akan kembali pulang pada waktu yang dijanjikan. Entah kapan.

November 2016

20 November 2016

Surat Terbuka untuk Muhammad Isni Habibi

(Catatan ulang tahun pernikahan keempat)

Dibandingkan kau, aku lebih cermat dalam mengingat tanggal-tanggal penting. Aku tidak pernah melupakan hari-hari bersejarah tentang orang-orang terdekatku. Terutama hari ulang tahun pernikahan kita.

Aku telah memasang kalender mini menunjukkan hari ulang tahun pernikahan kita di dinding kamar. Aku bertanya itu apa. Kau menjawab tidak tahu. Tetapi itu tidak masalah bagiku. Aku ingin kau tetap menjadi dirimu. Tidak ada aturan kau wajib menghafalkan tanggal. Tidak ada pemaksaan kau harus memberi hadiah spesial. Tetaplah menjadi dirimu yang selalu memberi kejutan di waktu tak terduga. Membelikanku tali rambut, minyak angin saat aku pusing, dan mengerokku saat tidak enak badan adalah hal yang luar biasa dan membuatku merasa berharga.

Terhitung dari 28 November 2012 lalu, kita telah memasuki hari ke-1109. Dalam seribu seratus sembilan hari itu, kita telah melalui masa-masa yang sulit. Masa penyatuan antara dua makhluk asing yang berusaha menyelaraskan tujuan. Bahasa kita memang berbeda, tetapi dengan  kegigihan dan komitmen kita mampu menyusun bahasa yang baru, bahasa yang menjadi perantara agar kita saling mengerti.

Meski demikian, piring dan sendok akan selalu menciptakan bebunyian. Dalam perjalanan rumah tangga tentu saja ada banyak cobaan yang harus dihadapi. Itulah sebabnya mengapa diistilahkan sebagai  rumah tangga. Karena memang kita ditantang untuk melalui berbagai masalah dalam menaiki tangga kehidupan untuk mencapai segala tujuan.

Aku merasa setiap kali kita mendapat masalah, akulah biangnya. Maafkan dan terima kasih selalu mau mengalah. Aku tidak mengira kau akan lebih dewasa dari yang kuprediksikan. Demikian pula aku selalu berusaha tampil lebih baik di hadapanmu dan mencoba menjadi pilihan yang tidak mengecewakan.

Menjelang ulang tahun pernikahan kita yang keempat ini, aku ingin bercerita kepadamu tentang film keluarga berjudul The Pursuit of Happyness (2006) yang baru kutonton minggu lalu. Film tersebut mengisahkan perjuangan seorang ayah dalam mencari kebahagiaan.

Chris Gardner diperankan oleh Will Smith adalah seorang ayah yang rajin, memiliki etos kerja tinggi, dan mempunyai impian besar untuk keluarganya. Dengan berlatar belakang seorang sales mesin kesehatan, ia terus berusaha menghidupi keluarganya. Tetapi kehidupan selalu menguji dan menantangnya. Kehidupan Chris yang melarat membuat istrinya tidak tahan dan meninggalkannya bersama anaknya ke New York. Bahkan saat ia diusir dari rumah kontrakannya karena menunggak uang sewa terlalu lama, ia sampai mengunci pintu toilet stasiun kereta api agar bisa tidur di dalamnya. Ia juga rela mengantri bersama ribuan masayarakat miskin tuna wisma untuk bisa tinggal dan makan gratis di gereja.

Betapa sulit dan menyedihkannya kehidupan Chris dan anaknya, tetapi ia tidak pernah menyerah. Ia juga tidak pernah mengeluh dalam merawat putranya seorang diri. Sampai akhirnya perjuangannya bertemu dengan titik terang. Setelah melalui enam bulan perjuangan dan semua kesulitan, Chris terpilih menjadi pialang saham dan memulai karirnya yang mengantarkannya pada kesuksesan menyandang gelar multi milyarder dermawan.

Aku mengagumi film ini bukan karena kesuksesan yang akhirnya diraih oleh Chris. Tapi kegigihan dan cara-cara cerdas yang dilakukannya membuatku ingin berbagi denganmu. Bagaimana pun sulitnya kehidupan yang kita lalui, aku tidak akan meninggalkanmu seperti istri Chris. Aku ingin selalu bersamamu dalam situasi apapun.

Jangan takut untuk menegurku jika aku menyalahi apa yang kujanjikan kepadamu. Aku ini manusia, dan manusia selalu memiliki alasan untuk menjelaskan kekhilafannya. Seperti saat aku malas mencuci, itu karena aku memang malas menghapi sedikit cucian dan sangat bersemangat melawan bergudang pakaian kotor. Biarkan aku hidup dengan caraku. Selama itu tidak mengabaikan tugas-tugas istri yang harus kukerjakan. Dan aku memberi kebebasan kepadamu untuk sering-sering mengecek toko online karena itu menguntungkan bagi perekonomian kita. 

Di hari ulang tahun pernikahan kita yang ke-4 kita tidak perlu membeli kue dan meniup lilin. Kita tidak perlu memesan tiket untuk bulan madu. Itu semua tidak cocok dengan gaya kita yang hidup di kampung dan serba terbatas. Romantisme tidak hanya bisa diungkapkan dengan cara meniru pasangan selebritis. Seutas senyum lima detik dalam sehari cukup untuk menjadi kado pernikahan kita.

November 2016

22 Juni 2016

Kejujuran yang Tertunda


Suatu sore yang santai di bulan Juni 2015, saya mengajak suami ke rumah sahabat di Batuampar, Guluk-Guluk, Sumenep. Jarak dari rumah kami hanya berbatas 4 desa ke arah barat. Bermain ke rumah teman menjadi pilihan kami sebagai salah satu kegiatan positif untuk sharing dan atau mencurahkan isi hati.

Sahabat bagi saya bagaikan keluarga. Mereka adalah rumah di mana kita bisa berbagi suka dan duka. Biasanya sahabat akan semakin akrab jika memiliki kesamaan atau keberagaman yang dapat dipadukan. Kami memiliki keinginan yang sama; ingin segera dikaruniai momongan.

Berbagai masalah saling kami keluhkan mulai dari dia yang menstruasinya tidak teratur sementara saya sebaliknya, kesehariannya yang diisi dengan berlama-lama di kamar mandi dan mengetes kehamilan, sampai hal yang paling sensitif pun tak segan saling kami bagikan. Sering kami telfonan, atau sekedar BBM-an.

Kami menempuh usaha masing-masing. Dia mengkonsumsi asam folat dari susu program kehamilan, sedangkan saya berkutat dengan tablet provertil dan vitamin E. Kami saling berbagi tips dan bacaan. Intinya kami selalu kompak dalam segala hal, terlebih soal kehamilan.

Pernah saya berkhayal dia hamil duluan. Itu akan sangat menyakitkan bagi saya yang menikah satu tahun lebih dulu darinya. Tapi apa boleh buat, anak bukan dibikin dari adonan melainkan anugerah Tuhan. Tapi tidak, kami masih melalui hari-hari dengan penantian yang sama.

Sebenarnya, di kampus dia adalah kakak kelas saya. Tetapi kami mulai membangun keakraban saat sama-sama berkecimpung di organisasi kampus Lembaga Pers Mahasiswa. Keakraban semakin erat saat suami kami adalah sepasang sahabat yang soulmate. Sampai akhirnya saya menggapnya bagian dari keluarga.

Kadang-kadang saya merasa lebih dewasa darinya yang kalau berbicara lebih mirip anak-anak dengan nada yang ditarik-tarik. Dia cantik dengan tubuh pendek. Kecantikannya saya perhatikan adalah garis turunan dari paras ayu sang ibu. Saya suka ibunya. Beliau langsung akrab dalam perjumpaan pertama kami dulu.  Ya saya suka dengan orang yang ramah dan murah senyum, seperti beliau.

Tema obrolan yang membuat saya nyambung dengan ibunya adalah soal kedermawanan. Kebetulan beliau baru saja datang dari acara haul kerabatnya yang letak rumahnya terpisah sekitar lima petak sawah ke arah barat.

Ia berkisah tentang kebaikan-kebaikan yang dilakukan kerabatnya itu. Setiap kali mengadakan acara-acara sajiannya selalu spesial dan membuat para tetangga senang, kenangnya. Singkatnya orang kaya yang dermawan itu mempunyai usaha yang lancar dan tanpa ragu-ragu ia belanjakan hartanya di jalan Allah.

Memang begitu seharusnya, orang kaya. Namun saya menyanggahnya bahwa untuk menjadi dermawan tidak harus menunggu kaya. Orang kaya yang bersedekah sudah terlalu biasa. Tak ada yang mengejutkan. Tetapi jika sifat kedermawanan dimiliki orang miskin maka itu yang patut diberi penghargaan. Orang yang rajin menabung untuk masa depan dirinya sendiri dapat dikategorikan dalam golongan fixed mindset, pikiran yang buntu, yang hanya memikirkan kenyamanan diri sendiri. Sementara yang mengeluarkan hartanya untuk dibagikan kepada sesama adalah golongan growth mindset, pikiran yang tumbuh, yang selalu berempati pada sesama, begitu kira-kira kata Pak Rhenald Kasali dalam sebuah artikel harian Jawa Pos yang saya temukan sebagai pembungkus nasi.

Obrolan kami selesai saat ibu berlalu ke dapur. Saya melihat sahabat saya itu membenahi simpul sarungnya. Saya perhatikan perutnya agak besar. Mungkin dia tidak menjaga berat badannya sehingga bentuk tubuhnya tidak proporsional dengan tinggi badannya, pikir saya. Saya terus menerka-nerka tidak jelas saat dia menyusul ibu ke dapur mengambil es krim buatannya.

Kakak perempuannya datang dan menyapa kami. Saya tersenyum. Ia mengerti tentang keinginan kami. Mungkin adiknya bercerita. Ia berujar semoga dilancarkan. Saya mengamininya dengan datar.

Setelah mengobrol panjang dan tentunya sudah menghabiskan banyak makanan ringan, saya berpamitan. Ibu menyiapkan sesuatu untuk saya bawa. Saya berterima kasih dengan tak enak hati karena merepotkan.

Di pintu, kakaknya tiba-tiba mengungkapkan kalimat yang menghantam perasaan saya. Ia meminta sambung doa untuk keselamatan dan kelancaran bagi kehamilan si adik. Saya tersenyum tipis dan kaku. Mungkin tampak sekali. Saya balas dengan kata-kata manis setelah si adik berkata jujur bahwa kehamilannya sudah memasuki usia enam bulan.

Di jalan, pikiran saya gamang sembari menerawang kenangan-kenangan saya dengan sahabat saya itu. Bagaimana  kami berbagi saran dan bagaimana kini ia menjadikan saya orang nomor seribu untuk tahu yang sebenarnya.

Motor kami melaju dalam remang. Saya rebahkan kepala di punggung suami seperti membagikan lara yang mendalam. Ia pasti memahami apa yang saat itu mendera batin saya.

Malam datang memperburuk suasana. Dalam hati saya mengerti, sesuatu yang terasa sangat menyakitkan itu bukan karena kehamilannya mendahului saya, melainkan perasaan kecewa kelas profesor atas kejujurannya yang tertunda. Jujurlah mulai sekarang!


06 Juni 2016

Mengapa Anak-Anak Mencuri?

Suara anak laki-laki memanggil berkali-kali untuk membeli tahu ketika saya sedang shalat ashar. Fokus dalam bacaan shalat menjadi buyar ketika langlah kaki mulai mendekati tempat keluarga saya menyimpan uang. Saya tetap melanjutkan shalat walau setan telah berhasil menggoncangkan hati dan meracuni pikiran dengan keinginan memergoki apa yang dilakulam anak itu.

Selepas shalat tanpa dzikir dan doa, lekas saya beranjak menuju tempat tadi. Mendadak saya dikejutkan dengan pemandangan tas terbuka lebar dan posisi uang yang acak-acakan. Awalnya saya ragu memanggil anak itu, sebab menduga sayalah yang kurang teliti menghitung. Tetapi karena mata dan pikiran saya masih awas serta tidak divonis mengidap alzeimer, maka saya meminta suami agar memanggilnya kemari.

Anak itu berdiri di depan suami sembari menenteng plastik berisi tahu. Badannya tinggi kurus dengan kulit sedikit lebih gelap dari kulit sawo matang. Mukanya terlihat pucat dengan nada suara tegang. Jawabannya berputar-putar sekitar tidak, menggeleng, bersumpah, dan lebih banyak menunduk yang membuat kami iba lalu membiarkannya pulang.

Saya dan suami berdebat sengit saling menyalahkan. Saya protes, dia kurang tegas. Dia protes balik karena saya hanya diam. Intinya kami sama-sama tidak tegas.

Dari kejadian ini sayalah yang merasa paling bersalah. Seluruh keluarga di rumah mertua bepergian dan menitipkan rumah kepada saya dan suami. Karena perasaan bersalah inilah saya menghitung jumlah uang berulang-ulang. Dan memang benar, deretan paling atas hanya ada lima ribu. Seharusnya lima puluh ribuan baru saja saya terima dari Muhni yang membeli dua papan tahu.

Suami meminta saya melupakan kejadian ini, tapi saya tidak patuh dengan menceritakan ulang secara kronologis kepada emak dan aba. Perasaan semakin tidak enak saat ipar, Yuk Sul, menyalahkan saya dan suami yang tidak becus menjaga dagangan. Akhirnya aba memutuskan agar saya dan kakak ipar berkunjung ke rumah tersangka. Bukan karena nominal, melainkan agar menjadi pelajaran dan tidak dijadikan kewajaran.

Satu kilo meter menyusuri sungai ke arah timur dari rumah, kami telah disambut oleh seorang nenek yang baru turun dari ranjang kamarnya. Kancing bajunya belum selesai dipasang ketika ia mempersilakan kami duduk. Saya bimbang berterus terang tentang maksud kedatangan kami karena si nenek terbatuk-batuk dan mengatakan tidak enak badan. Tentu saja ia juga sedikit kaget memerima tamu di sore petang.

Yuk Sul memulai pembicaraan dengan halus dan berhati-hati. Saya mencolek jari kelingking kakinya karena takut sang nenek tersinggung. Benar dugaan saya, suaranya meninggi dengan tatapan sinis. Ia mengelak cucunya tidak mungkin melakukan hal buruk seperti yang kami tuduhkan.

Seorang perempuan menggendong balita perempuan memecah ketegangan. Ia pun tak kalah heran mendapati tamu di waktu yang bukan sepantasnya. Pada tetangga yang berpapasan di jalan tadi, ketika ditanya, Yuk Suk memberi jawaban ingin memarani jahitan. Ibu dari anak itu adalah penjahit. Menjahit mungkin hanya pekerjaan sampingan selain mengajar dan bertani.

Ibu dari anak itu adalah seorang guru TK swasta di kampung kami. Mengetahui fakta ini keheranan muncul berlipat-lipat di dalam pikiran saya. Saya juga menduga kuat bahwa si ibu sangat terpukul mendengar berita ini. Tetapi kami bersama harus memastikan apakah benar bocah yang masih duduk di bangku SMP itu mencuri?

Di sinilah batin dan pikiran saya bertarung. Logika meyakinkan bahwa anak itu benar-benar telah mencuri. Sementara batin saya menolaknya dengan asumsi anak seorang pendidik jauh dari kemungkinan melakukan hal yang tidak baik.

Sejauh ini saya telah melakukan hal yang berani dan beresiko. Bagaimana mungkin hanya dari rasa curiga yang kuat saya sanggup melontarkan tuduhan, bahkan kini berhadapan dengan keluarganya. Jika anak itu tidak mengku, tentu saya akan sangat malu. Sebaliknya, jika ia mengaku kami juga tidak enak hati pada keluarganya. Jelasnya kami semua, di ruang depan yang panjang, masih menunggu kedatangan si anak yang belum pulang dari tempat bermain.

Ketika saya menoleh, dari kejauhan tampak anak kurus panjang mengenakan kemeja hitam tengah melintasi jembatan sungai. Ibunya menyusul. Entah apa yang mereka bicarakan dalam waktu yang cukup singkat. Sebentar kemudian mereka telah masuk rumah. Saya memberanikan diri bertanya secara gamblang dengan diksi pilihan yang saya rasa tidak akan menyinggungnya.

Ia hanya mengangguk lalu menunduk. Ibunya keluar dari kamar dan menyerahkan uang kertas berwarna biru. Sekali lagi Yuk Sul bertanya pada anak itu apakah ia dipaksa mengaku hanya supaya urusan ini segera usai. Apabila benar, maka si ibu sungguh sangat naif mengakui kesalahan yang akan dikenang sepanjang perjumpaan. Akan tetapi si ibu menggeleng dan mengakui dengan pasti anaknya bersalah.

Di jalan yang lengang karena sudah petang, uang kertas bergambar danau Beratan saya genggam erat dengan petanyaan dan dugaan tumpang-tindih. Mengapa anak-anak mencuri? Mereka mencuri karena tidak mengerti. Mereka mencuri karena membutuhkan identitas dan pengakuan kawan-kawannya. Mereka mencuri karena mencontoh yang salah. Mereka mencuri karena tidak diberi uang jajan atau terlatih boros sehingga selalu merasa kurang. Mereka mencuri karena penyakit gangguan kejiwaan kleptomania. Dari semuanya, yang paling pasti adalah pencurian terjadi hanya karena adanya kesempatan.

Ambunten, 6 Juni 2016.