24 Desember 2010

Mengenang Masa Kecil

10:02 WIB

Sejak kecil, aku selalu dipandang sebagai anak yang nakal. Banyak hal ceroboh yang kuperbuat menimbulkan masalah. Tak hanya bagi diriku sendiri tapi juga keluargaku.

Salah-satunya terjadi saat aku masih di Sekolah Dasar. Waktu itu, aku meminta pindah sekolah dari SDN Bragung III ke SDN Tambuko kepada ayah. Alasannya sederhana, karena Bragung bukan bukan desaku dan teman-temanku banyak di SDN Tambuko. Aku juga tidak tahu mengapa dulu aku disekolahakan di sana. Karena kasihan ayah mengabulkan pintaku. Aku merasa senang karena akan segera merasakan kelas baru dan teman-teman yang berbeda.

Ternyata rasa senagkutak berumur panjang. Bukan karena aku sulit beradaptasi, tapi karena di akhir tahun aku tidak naik dari kelas satu ke kelas dua. Ibu Endang, wali kelasku menyampaikan beberapa alasan mengapa aku sampai tak naik kelas. Kata beliau usiaku terlalu muda dan aku masih belum bisa membaca. Karena kesal, akhirnya kuputuskan untuk pindah sekolah lagi ke SDN Bragung III.

Dengan sabar ayah masih saja mengikuti keinginanku. Memohon maaf kepada ibu Endang dan segera mengurusi surat pindahku. Aku merasa puas karena akan segera menuju kelas dua, meski itu dilakukan secara paksa dan meminta keterangan naik kelas pada ibu Endang. Kala itu aku tak peduli.

Sampai di SDN Bragung III lagi aku merasa kecewa karena sekolah itu tak semaju tahun yang sebelumnya. Banyak kakak kelas yang sudah berhenti dan tidak meninggalkan kader untuk bertanding dalam lomba-lomba saat acara HUT 17 Agustusan yang diselenggarakan di kecamatan Guluk-Guluk. Aku merasa kesal meski bukan aku yang bertanding. Faktornya, temanku yang di SDN Tambuko mengejekku yang memilih pindah ke sekolah itu lagi. Saat itu juga aku berniat untuk pindah lagi kepada ayah.

Sesampainya di rumah, kusampaikan maksudku kepada ayah. Beliau benar-benar murka. Sebelumnya, tak pernah kutemui beliau dalam keadaan muka merah seperti kali itu. Ayah memelototiku dan berujar, “Silakan kau pindah dan urusi surat pindahmu sendiri!”

Aku mafhum atas sikap ayah yang akhirnya merasa kesal kepadaku. Berapa kali beliau harus mengurus raport dan suarat pindahku. Tentulah beliau juga malu pada seluruh dewan guru baik di SDN Tambuko maupun di SDN Bragung III. Sungguh aku telah menjadi anak durhaka atas sikap plin-planku kali itu.

Aku mencoba mengurusi surat pindahku sendiri, namun pihak sekolah meminta agar waliku yang mengahadap. Bukan aku. Aku memohon-mohon kepada ayah dan berjanji bahwa ini adalah cerita pindah sekolah yang terakhir. Aku sungguh tidak akan mengulanginya lagi. Memegang janjiku, ayahku mau.

Tuntaslah perkara pindah sekolah. Di tahun ketiga, yakni kelas tiga SD, kecerobohanku kembali menuai masalah.

Ada salah satu kawan sekelasku yang sangat menyebalkan. Namanya Horul. Kurasa dia adalah kawan yang congkak dan pengecut. Sifat angkuhnya kadang kala membuatku tergerak untuk memberinya sedikit pelajaran.

Pernah, dia memelototiku dengan aneh. Tatapan mengejek dicampur dengan senyuman kenes. Sungguh sikap memuakkan yang membuatku ingin muntah-muntah. Seketika itu juga aku menghampirinya lalu menamparnya sekuat tenaga. Entah keberanian dari gelas mana yang mendorongku melakukannya.

Aku sendiri selalu bangga saat merasa menjadi anak lelaki. Setelah besar, aku menyadari, mungkin kampungku yang banyak melahirkan anak lelaki dan sedikit anak perempuan telah berhasil mencetak jiwa maskulin dalam diriku. Dan itu kurasakan saat aku senang berteman dengan anak lelaki di sekolahku. Bahkan saat teman-teman perempuanku bermain lompat tali dan menari-nari, aku malah ikut bersepeda mendaki gunung dengan teman-teman lelakiku.

Baiklah! Kulanjutkan cerita pertarunganku. Meski Horul pengecut dan anak mama, ternyata dia cukup kuat. Ia mendorong badanku sampai oleng dan tertabrak bangku. Aku kehilangan kendali. Aku mengutuk-ngutuk dalam hati lalu berdiri dan menjambak rambutnya berulang kali. Ia menendang-nendang lututku. Kutinju kepalanya dan mencakar pipinya menggunakan kuku-kuku tanganku yang kebetulan panjang. Ia menatapku pasrah. Kukira dia sedang berpikir bagaimana dia harus membalasku dengan tindakan yang lebih ekstrim. Namun ia malah menangis sejadi-jadinya dan meneriakkan namaku sebagai sumber masalah.

Sungguh di luar dugaan. Tak kusangka ia akan melakukan serangan balik yang justru akan membuatku dipanggil ke kantor. Aku segera melesat pergi ke belakang sekolah untuk menyelamatkan diri.

Dua puluh langkah saja dari belakang sekolah, aku telah mendapati tempat persembunyian. Di sana ada kali berbentuk kolam berukuran 3x4 meter. Namanya Sempangan. Kali Sempangan merupakan tempat mandi dan mencuci ke dua setelah sumber Bukoh, sumber utama yang terletak di lereng bukit Pangilen. Kalau hari Ahad, hari libur sekolah, aku biasa ikut ibu ke kali Sempangan. Kurasa di sana adalah tempat yang aman untukku bersembunyi karena di dekatnya ada pematang yang ditumbuhi rerimbunan membentuk semak. Aku bersembunyi di sana sampai kira-kira pelajaran usai dan semua siswa pulang.

Sepulangnya, aku disambut dengan omelan ibu yang panjang kali lebar. Ibu bilang bahwa ibu Horul bertandag ke rumahku untuk mengataiku dan menasehati ibu agar mendidikku menjadi anak yang baik. Selain itu, ibu Horul juga meminta agar ibu memberiku pelajaran. Ia tidak terima atas luka-luka yang diderita anaknya akibat ulahku. Bayangkan saja, betapa murkanya ibu terhadapku kala itu. Aku tetap berdiri seraya menunduk saat ibu terus mewanti-wanti dan menunjuk-nunjuk mukaku dengan telunjuknya.

Saat omelan ibu berakhir, yakni sampai kakiku kesemutan, aku segera menuju kamar dan mengunci pintu. Aku tidak menangis. Tapi nyaris melakukannya. Bukan karena aku telah menyesal melakukan perkelahian itu, tapi karena kekecewaan ibu atas sikap buruk yang kuperbuat. Meski begitu, hal itu tak membuatku berhenti membuat ulah.

Banyak kekacauan lain yang kulakukan selain itu. Sampai akhirnya aku besar dan menyadari betapa kacaunya sikapku di masa kecil. Aku tersenyum mengenang masa-masa kecilku yang sungguh menggelikan itu. Sekarang pun aku sendiri belum mengerti apakah aku telah dewasa atau belum. Tapi aku hanya ingin membuktikan kepada ayah dan ibu bahwa aku telah berubah.



Gubuk Cerita, 01 Desember 2010

02 Desember 2010

Catatan II

14:51 WIB.

Semua bayi terlahir dengan semangat. Tangis pertama pemecah keheningan, gerak enerjik lambangkan manusia dinamis, kerling mata yang cerdas, juga tawa yang dapat sejukkan jiwa-jiwa. Ke mana susutnya semangat itu saat kita beranjak dewasa? Mungkinkan ia tengah bersembunyi di sebuah tempat antah-berantah? Dan mungkin hanya kita yang dapat menemukan dan merangkulnya kembali.

Sejak kecil, aku selalu berusaha untuk membuat ayah dan ibuku tersenyum, meskipun kali itu, aku masih belum mengerti bagaimana caranya. Terkadang cara-cara yang kupraktikkan keliru dan kecerobohan alamiahku membuat kedua orang tuaku kecewa.

Suatu saat akan kuceritakan kepadamu tentang masa kecilku itu. Namun sekarang aku hanya ingin membahas tentang semangat. Itu saja.

Sampai di Sekolah Menengah Pertama, aku selalu berusaha dan berjuang untuk mengukir senyum di bibir ayah dan ibu. Usaha yang kulakukan kian hari kian kutingkatkan. Meski tak berhasil membuat mereka bangga, setidaknya aku bisa mencegah agar mereka tidak kecewa terhadap tindak-tanduk yang kulakukan. Begitulah caraku selalu menyibukkan diri untuk menegakkan eksistensiku sebagai manusia. Agar keberadaanku diakui oleh orang-orang di sekitarku.

Memasuki tingkat Sekolah Menengah Atas, semangatku kian membuncah. Niatku menjadi bercabang. Tak hanya ingin membuat kedua orang tuaku bangga, tapi juga sekolah. Mungkin ini disebabkan aku semakin mempunyai rasa kepemilikan pada Madaris III Annuqayah, lembaga tempatku mengais ilmu dan belajar tentang kehidupan.

Puncaknya adalah kelas XI SMA. Waktu itu aku benar-benar merasa sesaudara dengan teman-teman kelasku. Kami selalu kompak dalam segala hal. Termasuk menjadi polor dalam beberapa kegiatan di sekolah kami. Sungguh tak dapat kubahasakan bagaimana merahnya semangat mereka. Cukup engkau tahu saja bahwa kami benar-benar terbakar semangat nasionalisme sampai gosong!

Namun kini, aku kebingungan mencari mozaik-mozaik semangatku yang raib entah ke mana. Sejak memasuki Perguruan Tingngi, aku menjadi berubah drastis. Kurasa hal-hal yang kulakukan tak sehebat dulu. Aku mengalami kemerosotan yang luar biasa. Aku menjadi mahasiswa yang mengecewakan bagi diriku sendiri.

Aku merasa malu akan satya yang kutetiakkan dengan kawan-kawan di masa SMA dulu; menanamkan jiwa agent of change. Ternyata hal itu hanyalah bualan yang omong kosong.

Impianku menjadi aktifis kampus kian hari tambah memudar. Salah satu faktornya, aku mendengar selentingan bahwa KBM di kampusku menggunakan sistem munarkhi absolut. Menurut sebagian kakak tingkat, aku tidak boleh terlalu berharap untuk berkecimpung di dunia organisasi kampus, karena jika bukan dari daerah pondok tertentu (yang maaf, tidak dapat kusebutkan) di Annuqayah, maka tidak akan direkrut dalam kepengurusan KBM.

Setidaknya, kini, aku harus menjadi mahasiswa yang aktif di kelas saja. Selain itu, aku tidak bisa lagi membayangkan bagaimana aku harus menjadi mahasiswa yang tak berguna. Sungguh mengerikan!


Gubuk Cerita, 02 Desember 2010.

28 November 2010

Episode Jagung Bakar




1#
Di matamu kembang-kembang jagung bermekaran. Seumpama anak peri satu denyut bermunculan. Seorang lelaki bermimpi membangun kastil di tengah ladang. Harapnya merancap nyaring. Irama seruling terpendam kerinduan. Tunggulah sampai musim jagung panen!

2#
Perempuan membakar jagung dengan rambutnya yang panjang di dekat tungku. Aromanya candu. Inilah asap surga yang kau pertanyakan. Seperti matamu butirnya berkilauan.

3#
Lima anak ayam dalam botol cuka. Saling berkelahi dan serempak menganga. Kepada jagung mereka jatuh cinta. Ahai! Pertikaian kian memanjang. Sampai meleleh darah dari jantung ke jagung. Kumohon hentikan!

4#
Pesta jagung digelar di dalam kastil impian seorang pangeran. Semua berdansa di antara kepul asap. Perempuan itu terus membakar rindu dengan rambutnya yang kian memanjang. Episode satu berakhir di atas bara jagung bakar.


Gubuk Cerita, 27 Nopember 2010

21 November 2010

Perahu Retak

Kubaca lagi perahu retak
Di sela-sela ritus pemujaan
Sambil mencubit senar cello
Mempersembahkan sepenggal nada rintihku
untuk Tuhan

Bayangmu hilir membara dalam mantra puja-puja
Do’a kita yang menyerupai sketsa;
susunan balok-balok kayu
menjadi memoar rindu

Perahu,
Kelam sudah bulan separuh kita
Tinggal titik-titik pasir
Gumpalkan kata di atas warna jingga
Lalu luruh bersama sore yang kehilangan rupa

Perahu,
Apakah aku harus bertahan menjadi parasit
di alam abstrakmu
sementara engkau bersekutu karang
dengan cinta pertamamu

Perahu kita retak
Lajunya tak lagi kabarkan damai bagi laut

Dalam sadar aku terus merapal mantra
Karena ini lebih mengerikan dari pada kematian.



Tambuko hijau, 19 Nopember 2010

05 November 2010

Surat Titipan

Seperti apa engkau kabarkan pada dunia
Tentang penyakit yang alam derita?

Atau,
Barangkali kata-kata masih bungkam
Karena pagi terlalu mencekam
Lalu kapan ia akan tertata di atas nampan
Seperti martabak yang siap disajikan?

Kabarkan siang ini juga:
rambut bumi rontok karena leaukimia
perut bumi cacingan karena sampah anorganik yang ia telan
bumi mengalirkan cairan panas dari ekor matanya
juga keringat yang menyengat
sesaki jalanan dengan banjir
persis seperti musafir

Lain itu, ladang kita juga dikejutkan oleh tamu baru bernama Monsanta
Si raja kejam dari Amerika
Yang siap menjajah bibit kita

Hidup semakin mengerikan
Sementara masih banyak kabar belum tersampaikan
Kepada kawan juga kenalan
Kalau engkau sempat
Kepada Tuhan aku ingin menitip surat;
Panjangkanlah umur para pecinta lingkungan


Gubuk Cerita
09 Oktober 2010

Paradoks Rindu

Setiap sore menjelang aku akan senang menyaksikan bocah-bocah kecil yang sibuk berlarian di antara pematang sawah. Mereka berebut langkah untuk mencari tempat layangan lawan yang tersangkut. Suara dari mulut ke mulut melontarkan ejekan untuk menjatuhkan lawan begitu kental terdengar di telingaku. Juga cekcok berisi pengakuan tentang kekuatan diri masing-masing memang sudah tak asing bagiku yang pernah hidup di masa mereka.

Suara-suara itu seperti pertempuaran antara hujan dan angin. Sungguh menggelikan. Mamaksaku untuk menyeret langkah menuju ke ladang dan pematang-pematang yang tumbuh seperti beludru hijau dan membentang tak terbatas di utara rumahku, tempat bocah-bocah kecil itu bermain layang-layang.

Aku lebih memilih untuk memuntahkan rinduku pada buku harianku di tempat ini dari pada berbaring di dalam kamar dan mengunci pintu. Kamar bagiku adalah subuah penjara yang membuatku lebih tersiksa. Di dalamnya aku selalu melihat cermin terbentang di pojokan ruang. Lalu aku merasa kesal karena pada cermin itu aku selalu melihat sekelebat sosok bayangan yang mengaku kecil tengah menertawakan kegilaanku. Tawanya menciak-ciak nyaring laksana suara anak-anak burung.

Kugerakkan penaku pada lembar kesekian. Tapi fikiranku rasanya telah terbelenggu oleh sesuatu yang menyakitkan. Aku tak tahu seperti apa rupa dan bentu rasa itu. Orang-orang sering kali menyebutnya rindu. Ya, mungkin itulah rindu. Aku bingung harus kemana saat rindu telah berhasil mengepungku.

Aku menoleh menatap anak-anak kecil di sampingku. Raut mereka penuh keseriusan melepaskan benang untuk diikutkan terbang mengiringi layangan. Tiba-tiba detik ini aku ingin menjadi layang-layang yang bisa terbang bebas di antara awan-awan tipis dan menghias langit biru yang cerah. Mempunyai ekor panjang yang meliuk-liuk dan dapat melihat sisi jagat raya dari atas sana. Ini sungguh mustahil. Tapi inginku begitu akut.

Kuurungkan niatku menulis. Aku lebih tertarik membaca catatan harian yang bukan punyaku. Catatan itu punya seorang lelaki bertubuh kecil yang mengaku besar dan tinggi. Dia teman baikku dan telah berjanji akan berteman denganku untuk selamanya. Kebetulan sore ini sampai pada gilirannya mengirimkan buku catatan hariannya. Ini adalah sebuah ritual bagi kami. Setiap minggu kami melakukan sebuah transaksi tukar buku catatan. Kami menyebutnya sebagai ‘weekly diary’.

Mungkin bagi remaja yang mengaku dirinya gaul, pekerjaan ini amat konyol, udik, kolot, dan tidak keren. Mereka lebih suka mengandalakan kecanggihan teknologi. Telfonan dan SMS-an, kirim e-mail, atau sekedar updete status di beranda facebook. Tapi bagiku weekly diary adalah rutinitas alamiah yang sangat bermanfaat bagi dunia remajaku. Berdiskusi, sharing, dan berlatih tulis-menulis.

Maka untuk sebuah keinginan, jemariku tengah siap menjadi abdi. Kubuka buku agenda dengan sampul berwarna hitam polos yang sedari tadi berada dalam dekapanku. Begitu sampai pada lembar pertama, tampak jelas huruf-huruf kapital berdiri kokoh bertuliskan sebuah nama “FAUROQ”. Lalu di bawahnya terdapat sub tittle: catatan rindu dari ladang jagung. Di pojok kanan bawah terdapat secarik tanda tangan dan kata-kata dengan huruf yang ditulis agak kecil: “kita tidak gila, tapi robot”. Aku suka kata-kata itu.

Kubuka lembar kedua dan segera membacanya:

DUA RIBU DELAPAN. Pagi pekat pada minggu kedua bulan Februari, butir-butir embun di pucuk dedaunan melesak bergantian turun ke tanah. Tik-taknya telah berhasil mewekeri dunia pagi ini. Di luar langit masih gelap kebiruan. Aku masih tak sampai hati memikirkan tentang sesuatu apa lagi yang akan terjadi padaku hari ini.

Sepertinya aku terlalu pengecut memikirkan hal yang sudah-sudah. Aku terlalu terhantam trauma yang mengerikan. Aku mudah rapuh bersama cinta seorang perempuan yang akhirnya menganggapku sebagai ‘iblis perusak iman’. Namun bagiku cukuplah 4 tahun saja aku berkutat bersama keputusasaan yang menjeratku ini.

Perempuan itu yang lahir bersama kedua malaikat putih di pundaknya telah mampu membuatku merasa kebingunga di saat semua baik-baik saja. Bermula dari kesempatan berdiskusi tentang Tuhan dengannya pada masa SMA. Aku merasa kagum karena logikaku dapat ditaklukkan dengan sekejap mata oleh perempuan berparas sederhana itu.

Matanya yang sayu mengisayaratkan sebuah kepolosan dan keluguan. Geraknya yang lembut melambangkan sebauh kesopanan yang teramat. Tutur katanya yang mengalir tak pernah membuat hati orang lain terluka. Dia perempuan yang tak suka keburukan dan senantiasa menghindar dari cela.

Stratus awan yang berarak di ufuk timur membuatku mengingat sebuah kejadian traumatis yang sungguh dilema: malam itu, kami berdiskusi melalu layanan SMS. Aku yang telah diakui teman-teman sebagai raja debat dikalahkan olehnya. Aku tersesat saat mendapat perlawanan darinya. Aku tidak bisa menyerang balik. Maka pada kekalahan itu aku merasakan serbuk gula telah tertebar di seluruh badanku. Akar asmara telah tumbuh melilit pada papan dinding rumah kayuku. Kuutarakan rasaku. Dia tak percaya.

Tak ada yang tahu tentang misteri dan teka-teki yang Tuhan rangkai. Kita hanyalah robot yang dapat dimainkan dengan remot kontrol oleh-Nya.

Di sepertiga malam, usai kuputar butir-butir kayu berbentuk bulat untuk memuja Tuhan, tiba-tiba layar handphoneku menyala. ‘1 pesan di terima’ kupilih ‘tampil’. SMS itu dari perempuan yang diam-diam telah berhasil merasuk ke dalam sum-sum tulangku. Perempuan bernama Nur yang telah memberi kontribusi energi baru bagi hidupku. Isinya kurang lebih sebuah pernyataan kalau ia juga rindu pada suaraku. Begitulah aku mengambil kesimpulan dari kata-katanya di SMS. Detik itu Tuhan memberi tahu kepadaku bahwa dia pun mempunyai perasaan yang sama sepertiku.

DUA RIBU ENAM. Sebuah malam pada dua belas Juni. Selepas menjamak takdim isyakku di waktu maghrib, aku lalu bergegas menuju ibu untuk meminta restu keberangkatan menjemput paman di bandara Soekarno-Hatta. Pamanku akan tiba dari India besok subuh. Ibu khawatir karena aku hanya berangkat seorang diri. Begitulah ibu yang amat takut kehilangan. Kata beliau perasannnya campur aduk malam itu. Namun aku berhasil meyakinkan beliau. Aku bilang bahwa aku adalah lelaki tangguh yang akan pulang dengan selamat. Ibu tersenyum was-was sebelum akhirnya memberi izin.

Kucing pesakitan menyeberang dengan tertatih. Aku kehilangan kendali. Aku memang terlalu cinta pada kucing sehingga aku memilih, aku saja yang terpelanting dari pada melihat darah kucing itu. Hanya itu yang dapat kuingat. Setelah kubuka mata, yang dapat kulihat hanya tiang infus tengah menjulang di sampingku. Tetes demi tetes air kimia itu mengalir melalui selang yang menepi di lengan kiriku.

Ibu sesenggukan di dekatku. Isaknya tertahan-tahan. Rasanya lebih perih melihat air mata ibu dari pada merasakan darah ynag mengalir deras dari bagian tubuhku yang terluka. Bibirku sumbing, hidungku terbelah, dan kurasakan gigiku telah terpotong rata pada ujung-ujungnya.

Seluruh rumah sakit di kotaku tak mampu tangani luka-lukaku. Sepakatlah seluruh keluargaku untuk memboyongku ke ibu kota, Jakarta. Aku melalui hari-hari dengan perawatan intensif. Berputar-putar di sepanjang koridor rumah sakit setiap hari di atas kursi roda. Membosankan.

Seminggu setelah kepulanganku ke kampung halaman, Ganding, aku harus menerima kalimat menyerupai belati dari perempuan yang sudah jelas akan kupinang: “Pergilah! Jangan ganggu aku lagi. Kau hanyalah iblis yang merusak imanku.”

Masih belum sembuh total luka fisikku. Ia malah memberiku luka baru yang lebih parah. Luka ini seprti paku karat yang ditusukkan pada seluruh dagingku. Selamanya akan membekas. Aku kecewa pada diriku sendiri yang tak dapat menyakinkan ibu bahwa dialah perempuan paling baik bagiku. Kata ibu, beliau lebih peka untuk membaca perempuan dibandingkan aku yang dianggapnya masih anak-anak. Semua sudah jadi berantakan. Kecewa, frustasi, dan akhirnya aku sedikir stres.

JUNI 2008 LALU, Tuhan mempertemukan kita lewah sebuah kisah permusuhan. Rasa kebencianku adalah tingkat stadium, kira-kira bila diukur. Entah kenapa aku harus menjadi panitia dalam acara ‘lingkungan’ yang dihadiri oleh berbagai sekolah kala itu. Lalu aku bertemu denganmu yang bersikap menyebalkan dak sok pintar. Hingga aku mengutuk semuanya: perempuan yang sudah-sudah dan juga kau yang hadir dengan keanehan dan keangkuhan.

Saat kulontarkan kata-kata kasar di sebuah acara pertemuan sekolah itu, kulihat kau melawanku sejadi-jadinya.
“Perempuan aneh. Dasar gila!” bisikku dari dalam kaca.
“Kau yang gila!” balasmu geram.
“Monyet,” umpatku berteriak.
“Anjing,” balasmu lagi. Kali ini suaramu seperti derak-derak ban mobil. Matamu terbelang ke arahku. Aku menunduk karena takut. Kau berlalu di antara genangan air hujan. Irama terakhir dari perang pertama kali itu adalah suara kecipak-kecipuk langkah.

Kisahku lalu berjalan paradoks; terjadi sesuatu yang kontradiktif. Mana mungkin aku merindukan sosok perempuan yang berparas di bawah rata-rata dan angkuh sepertimu. Mana mungkin aku inign mengenalmu lebih dalam lagi. Mana mungkin aku berkeinginan untuk berproses denganmu. Mana mungkin kisah ini berbalik sebegitu cepatnya. Lebih cepat dari membalikkan telapak tangan. Engkau yang tercipta menjadi antonim dari perempuan masa laluku, tapi aku harus akui kau itu adalah candu. Rasa ini hadir tak beralasan. Tapi berlebiahan bila aku menyebutnya cinta, sebab cinta itu agung, suci dan hanya pantas untuk Tuhan.

Sampai pada titik ini, aku melihat matahri telah lari terbirit-birit dikejar malam. Langit Jeruk Durga kembali memamerkan lembayungnya yang membuatku menganga. Permainan layang-layang telah usai. Anak-anak kecil itu kini sibuk menggulung benang. Layang-layang telah turun ke pangkuan mereka lagi. Salah seorang bocah gundul yang kira-kira berusia 5 tahun menghampiriku. Dari kaki hingga lututnya ada lumpur yang menempel belepotan.
“Mbak Sri, pulang yuk. Nanti ada hantu trus Mbak dimakana,” katanya dengan nada polos dan datar. Aku mengangguk sambil tertawa.

Aku masih ingin membaca dua lembar di halaman terakhir yang distaples. Rahasia apakah itu yang aku saja tak boleh membacanya. Pikirku menerka-nerka sesuatu yang keras. Mungkinkah tulisan adalah sederet ungkapan jujur untukku? Mungkin pula di dalamnya berisi sebuah kata mutiara––yang lagi-lagi mungkin––untukku? Atau barang kali cacian untukku semasa kita berkelahi?

Ego, id ego, dan super egoku berkecamu sebegitu hebatnya. Aku tak tak berhak membukanya karena secara etika itu salah, tapi aku juga merasa jahat bila menyiksa pikiranku dengan sebuah rasa penasaran. Kuhitung kancing bajuku: buka, tidak, buka, tidak, buka. Berarti aku harus membukanya.

Kubuka perlahan-lahan biji staples di bagian atas dan bawah. Habis itu bisaku hanya terbeliak melihat lembaran-lembaran foto perempuan sejumlah 12 dengan ukuran 3x4 berjejer rapi menghias kertas putih itu. Ada sebuah tulisan menjijikkan yang rasanya membuat perutku ingin memuntahkan sesuatu: “Para Korban Pelarian Cintaku.” Kulihat wajahku juga terpampang jelas pada deret paling akhir. Aku menelan ludah. Masai rasanya.



Gubuk Cerita, 18 Juni 2010

31 Agustus 2010

Lelaki Luka

;Ka' Gie


Kata-katamu terus dan terus saja berlayar di atas bulan yang kau susun dari karang dan pasir Sanur.
Tepat saat surat merah muda telah pak pos sampaikan lewat deru ombak yang kesepian.

Di situlah aku berhasil membaca sajakmu: tentang lelaki kecil bertubuh memar. Dadanya sesak oleh cinta pertama yang terbakar. Menyeruakkan api pada 3 tahun penantian. Sisa-sisa darah perjuangan.

Sayang,
sungguh malang nasibmu mengeja cuaca.

Akan kubangunkan kau ruang rindu untuk menampung seluruh silap-kelih kegagalan.
Lalu,
akan kubuat musim tak lagi penting saat kita berlarian dan kucumbui engkau di sepenjang pematang.


Bali, 30 Agustus 2010.