26 Maret 2022

Gus Muwafiq dan Sisi Keunikannya

Kedatangan Gus Muwafiq menjadi yang paling dinanti-nanti. Maka ketika acara seremonial dimulai, petanda beliau sudah berada di lokasi. Tampak pasukan Banser dan beberapa aparat kota Mojokerto mengawal beliau memasuki pintu utama menuju panggung. Para hadirin yang masih berkeliaran di sekitar bazar serentak mengambil posisi di bawah terop. Suasana menjadi tenang. 


Ini adalah kali pertama saya berjumpa langsung dengan Gus Muwafiq. Selama ini hanya menonton ceramah beliau di youtube. Berita terakhir yang saya tonton adalah pembelaan beliau terhadap Rara si pawang hujan di acara MotoGP Mandalika yang diklaim syirik oleh beberapa ustad online berjenggot panjang. 


Pembawaan Gus Muwafiq yang tenang dan selalu santai dalam menyikapi persoalan malah semakin membuat saya kagum. Bahkan cermah beliau dalam peringatan Hari Air Sedunia kali ini sangat padat dan sarat makna. Durasi yang cukup panjang bahkan tak terasa. 


Beliau memulai dengan sentilan untuk kaum muda milenial yang mulai bangga mengidolakan dan meneladani gaya hidup orang luar negeri. Contoh yang Gus Muwafiq sebutkan adalah betapa bodohnya orang mengkonsumsi sarden layaknya orang Eropa yang harus menghadapi musim dingin panjang, sementara kita bebas memancing dan menikmati ikan segar setiap hari, di segala musim. Tanpa perlu repot mengawetkan makanan sebagai cadangan. 


Bagi beliau sangat aneh masyarakat Indonesia makan dengan sumpit, sebab budaya sumpit berangkat dari latar belakang negara yang dulu kekurangan kayu sehingga memasak makanan dengan potongan kecil-kecil agar cepat matang dan mudah dikonsumsi menggunakan bantuan dua kayu panjang. Lebih aneh lagi peringatan Hari Air Sedunia ini digelar oleh masyarakat Trawas, Mojokerto, yang jelas-jelas kaya akan air dan tidak ada tanda-tanda akan mengalami krisis air. Yang lebih pantas menggelar acara ini adalah Qatar, Israel, Libanon atau Negara lain yang sedang dan akan mengalami kelangkaan air. 


Beliau menegaskan agar kita jangan pernah berpikir untuk menyamakan gaya hidup kita dengan orang luar negeri, karena itu tidak visibel dan visioner. Yang perlu kita ciptakan adalah semangat pemuda tangguh yang siap memanajemen dan menjaga sumber mata air kehidupan Indonesia dari para penjajah yang mulai melirik dan mengancam untuk merenggutnya. Hadirin bertepuk tangan seperti teraliri semangat juang yang luar biasa membakar. 


Meski Gus Muwafiq menggunakan bahasa Jawa, sebagai orang Madura saya masih sanggup mencerna apa yang beliau sampaikan. Terutama bagian favorit yang terus saya ingat, ketika beliau mengajukan beberapa pertanyaan retoris: apakah bangsa kita akan berkiblat ke Eropa? Dijawab dengan sebuah naskah "Salah Asuhan", Apakah bangsa Indonesia akan berkiblat ke Arab? Tidak, selain shalat, ditulis dengan "Di Bawah Lindungan Kakbah", apakah kita akan meniru Belanda? Tidak sebab "Tenggelamnya Kapan van der Wijck", apakah murni Indonesia? Tidak jika itu "Siti Nur Baya".


Saya dan Dek Uus ternganga dengan model ceramah Gus Muwafiq yang luas bahkan sampai membahas banyak film Hollywood yang berkaitan dengan karakter suatu bangsa. Tak lupa juga beliau menyebutkan betapa apiknya serial drama Upin Ipin yang di dalamnya mengandung unsur pemersatuan ras dan suku bangsa. Seperti makanan ringan, materi yang beliau sampaikan renyah dan bergizi. 


Tidak banyak berbicara soal air, isi ceramah beliau lebih menitikberatkan pada cara bagaimana bangsa kembali menemukan jati diri, sebab bangsa kita saat ini mulai tidak percaya diri. Para kaum muda malah ikut-ikutan mengidolakan orang luar dan membanggakan kebudayaannya. Beliau menyarankan tentang langkah yang perlu segera dimulai dengan membangun karakter yang kuat agar benteng pertahanan tidak mudah ditembus oleh penjajah. 


Pada menit terakhir Gus Muwafiq mengenang betapa rindu di masa lalu sangat dramatis dan melankolis. Dua insan yang sedang kasmaran berjuang membeli amplop merah jambu ke pasar. Mengarang surat dengan rangkaian diksi indah. Beliau mencontohkan lirik Kiai M.Faizi yang dahsyat, "Kau tusuk di sana, berdarah di sini". Namun kini, semua itu tinggal kenangan, saat rindu menjadi tiada arti dijajah selfi dalam sekali klik sampai di tujuan dengan caption klise tak bermakna. 


Puncaknya Gus Muwafiq memanggil Kiai M.Faizi untuk mempersembahkan penampilan gitar mengiring beliau bernyanyi. Para seniman lain membujuk Kiai Faizi yang enggan untuk maju. Terlihat ada yang mendesak dengan berteriak "harus mau". Peserta ikutan-ikutan meneriakkan hal serupa. Pada akhirnya hadirin bertepuk tangan menyaksikan beliau melangkah di tengah barisan kursi penonton. 


Sebagian besar penonton berdiri berdesakan maju ke dekat panggung untuk mengambil foto dan video. Gitar dipetik, vokalis mencari nada yang pas. Mengalun lah lagu Tanah Airku ciptaan Ibu Sud bersamaan dengan gerimis. Disusul hujan deras sepaket dengan angin dan petirnya. 


Cuaca buruk dan segala cobaan hari ini berubah terasa syahdu. Nada-nada yang tersampaikan menjadi semacam penutup yang sempurna. Lamat-lamat air mata menggenang ketika samapai pada lirik, tanah ku yang kucintai, engkau kuhargai. Saya mundur, menjauh dari panggung membawa perasaan betapa beruntungnya saya hari ini. 


23 Maret 2022


24 Maret 2022

Mojokerto: Kota Kecil yang Menyimpan Surga

Kalau Anda melintas di Mojokerto dan hanya sekedar lewat saja, yang tekenang di ingatan hanyalah panas, gersang, polusi dan kota tiada kesan. Tapi siapa sangka, di balik pemandangan hambar, kota Onde-onde ini memiliki surga kecil nan menawan. Kemarin, tanggal 23 Maret 2022 saya berkesempatan membuktikannya. 


Kesempatan itu diberikan oleh guru saya, Kiai M.Faizi yang hendak menghadiri undangan peringatan Hari Air Sedunia di Trawas. Beliau mengajak rombongan terdiri dari guru dan anggota komunitas Pemulung Sampah Gaul (PSG) SMA 3 Annuqayah. Kami berangkat dengan satu kendaraan pada jam 2 dini hari. 


Rombongan kami tiba di Trawas pukul 6:30 WIB, sementara acara akan dimulai jam 10:00 WIB. Jadi kesempatan menyambangi beberapa destinasi wisata masih tersisa tiga jam-an. Sesuai petunjuk ahli, Kiai M.Faizi, kami akan ke Petirtaan Jolotundo, tempat mata air terjernih ke-2 di dunia setelah zam-zam, yang berlokasikan di gunung Penanggungan.


Di beberapa titik, pemandangan tak biasa seperti mengajak kami berhenti. Rumah-rumah berderet sesak di atas tebing terlihat sangat asri dan unik. Kami juga melewati gerbang hutan pinus, taman Ghanjaran, dan beberapa kedai kali di sepanjang jalan. Karena memang belum sarapan, kami ingin merasakan indahnya makan di atas lencak di tengah sungai seperti sering kami tonton di facebook dan youtube. 


Menepilah panther touring yang dikemudi suami dan memesan sarapan delapan porsi. Sembari menunggu, kami semua sibuk mengambil gambar. Maklum, ketidaktertarikan berfoto hanya ada di zaman Wiro Sableng karena waktu itu belum ada ponsel pintar. Saat ini media menjadi menarik hanya jika disertai gambar. 


Perjalanan dilanjutkan kembali usai pemadaman kelaparan. Saya selalu dibuat takjub dengan pemandangan kiri kanan jalan. Hampir tidak ada spot yang tidak indah di tempat ini. Suasana sejuknya pun membuat saya merasa betah. 


Tak lama berjalan, kami berjumpa dengan pertigaan dan belok kanan menuju tempat wisata Petirtaan Jolotundo. Di pos kami disodori tiket masuk dengan membayar sepuluh ribu per kepala. Meluncurlah rombongan ke atas hutan yang begitu alami dan tersembunyi. Pohon-pohon tua gendut diselimuti kain begitu dihormati. Aroma dupa menguar sangat tegas membuat kepala saya limbung. Nuansanya persis di Bali. Kemungkinan besar dipengaruhi oleh sejarah bersatunya Raja Udayana dan Putri Gunapriya Dharmapatni yang kemudian membangun Candi Jolotundo sebagai wujud rasa cinta dalam menyambut kelahiran anak mereka, Airlangga. Begitu yang saya baca lewat penelusuran mbah google. 


Beruntungnya karena kami tidak bertepatan dengan akhir pekan sehingga suasna di sekitar Petirtaan Jolotundo sangat lengang. Hanya ada satu rombongan keluarga yang lebih dulu tiba dan membasuh badan di bawah pancuran. Mereka berdiri di antara ratusan ikan besar kecil dan beragam jenis di dalam kolam. Dari tato pura di tubuh dua remaja itu meyakinkan saya bahwa mereka dari keluarga Hindu yang tengah melakukan ziarah suci.


Selanjutnya seorang ibu masuk ke pemandian bagian kiri dan melakukan ritual mandi kembang. Lalu saya mengganti posisi meminum tiga teguk air menggunakan kedua tangan. Disusul rombongan lain yang berminat, sementara yang tidak memilih mandi di toilet dan mengganti pakaian. 


Agenda Kiai Faizi selain ke acara yang sudah disebutkan juga akan bermain ke rumah teman beliau, Gus I Wayan Kanjeng Kliwon. Rumahnya memang berada di sekitar Jolotundo, tak sampai keluar dari pos penjaga. Hanya dua menit kami sudah tiba di halaman Gus Kliwon yang dikenal juga sebagai Petilasan Mahapatih Narotama. Konon Gus Kliwon terlahir dengan rambut gimbal dan sangat disegani bahkan oleh tetua umat Hindu di tempat ini, kisah Kiai Faizi. Gus Kliwon dan keluarganya sangat berpengaruh di masyarakat. Kesaktian beliau masyhur di kalangan para penakluk jin. Maka ketika saya menjumpai seseorang di acara, dengan ciri rambut gimbal sepaha dan kopiyah coklat muda saya yakin itu adalah beliau. 


Kami dipersilakan masuk oleh istri Gus Beny, menantu Gus Kliwon. Begitu masuk ke dalam ruangan, ada sekitar sepuluh gitar dan beberapa biaola berdiri di sana. Saya ingat, Kiai Faizi pernah bercerita mendapatkan hadiah gitar dari Gus Beny. Ternyata semua alat musik itu memang diperjualbelikan. Saya yakin harganya tentu tidak murah. Sengaja tidak bertanya karena saya memang tidak berniat membeli, cukup melihat-lihat saja. 


Di atas gitar-gitar dan biola itu, terpampang lukisan semar, perempuan penari kecak dan Dewi Sinta. Melihatnya, jiwa seniman saya bangkit dan ingin pula mengoleksinya. Namun keinginan itu saya pendam. Saya lebih banyak diam. 


Kiai Faizi keluar dari ruangan mengajak rombongan lanjut ke acara. Namun sebelumnya kami sempatkan berfoto bersama teman beliau Paox Iben dari NTB yang kebetulan tengah berada di sana. Paox berkeliling ke beberapa daerah di Nusantara sejak tahun 2015 dengan sepeda motor besar Kawazaki Versys 650 cc dalam misi menguatkan komunitas adat serta berkampanye tentang seni dan budaya Indonesia. 


Pada pukul sepuluh lewat sedikit, kami tiba di lokasi acara. Tampak sekelompok grup musik menghibur di atas pentas. Peserta sudah penuh tepat waktu. Bazar di gelar di atas karpet merah menawarkan produk unggulan Kota Mojokerto. Kami berkeliling mencicipi manisan belimbing wuluh, kripik tela, dan beberapa kudapan lainnya. 


Acara molor hingga pukul setengah satu siang karena sang penceramah, Gus Muwafiq, belum juga tiba. Panitia semakin getol menghibur di panggung. Sementara peserta tampak sudah tak sabar. 

Bersambung... 

(Karena tulisan berikutnya akan sangat panjang. Berisi ceramah beliau dan tampilnya Ra Faizi ke panggung untuk berduet dengan Gus Muwafiq beserta para seniman lainnya). 

20 Maret 2022

Menyibak Keelokan Hutan Semeru

Rencana liburan ke Bromo sejak bertahun lalu tak pernah terwujudkan. Terlalu banyak pertimbangan dan persiapan matang sehingga ujung-ujungnya selalu gagal. Selain itu, kendala raksasanya juga finansial dan waktu.


Pekan lalu, secara tak terduga, dalam rencana takziah ke rumah famili di Lumajang, saya berkesempatan menjajaki Bromo Tengger Semeru. Saya dan suami tandem dengan mobil Ayik dan Devi. Mereka masih akan mengurus bisnisnya di Malang. Jadi dari Madura kami akan beristirahat di kontrakan Sufi, adik Devi, sehingga kami bisa ke Lumajang di siang hari.


Tiba di Malang pada waktu subuh, dinginnya berlipat ganda. Ditambah harus bersentuhan dengan air yang ternyata menyerupai es. Namun tak bertahan lama gigil itu, usai shalat kantuk menimpa begitu akut. Kami semua tertidur dalam ruangan seperti ikan pindang tak beraturan.


Siang harinya, dengan bermodalkan pinjaman motor Sufi dan Alvin kami bersiap menuju Lumajang melewati jalur Tumpang dengan jarak tempuh kurang lebih 3jam 37menit. Sesampainya di Desa Ngadas, kami dikejutkan dengan kabut tebal hampir menutupi jalan. Pemandangan menjadi sangat terbatas dan saya merasa seperti memasuki alam lain. Ditambah lagi warga yang melintas rata-rata berselimut sarung menghalau hawa dingin. Celakanya kami semua tidak mengenakan jaket. Biarlah menjadi pemandangan anti-mainstream bagi penjaga ronda di setiap pertigaan jalan.


Di pos sentral sebelum pertigaan Jemplang, para petugas menanyakan tujuan orang-orang yang lewat. Apakah hendak berwisata ke Bromo atau cuma lewat saja. Mereka juga menawarkan sewa mobil Jeep dengan tarif enam ratus ribu. Kami menjawab bahwa akan melayat ke rumah famili di Lumajang. Jadilah kami mengakses jalan ke Bromo tanpa dipungut biaya apapun.


Lanjut kami melewati kelokan dan tanjakan curam menampilkan lembah yang sangat dalam. Tabing-tebingnya begitu indah ditanami kentang, kubis, wortel, dan bawang. Di sisi kanan kiri jalan, pohon cemara menjulang rapi terselimuti kabut seperti dalam film The Twilight Saga.


Suami membubarkan imajinasi saya tentang film vampir itu. Ternyata bensin kami hampir habis. Tepat di tengah jalan yang sepi. Suami berhenti, Devi pun mengeluh motornya menyemburkan bau hangus. Kami melanjutkan perjalanan dengan penuh cemas. Setiba di desa Jemplang tampak dari jauh toko menjual bensin eceran. Lega rasanya. Dan diketahui pula bau hangus motor Ayik akibat ujung baju Devi yang terbakar kenalpot. Syukurlah kami semua selamat dari ujian kecil di tengah perjalanan ini.


Kegalauan tadi tuntas terbayarkan ketika sampai di simpang Jemplang, yakni turunan menuju wisata gunung Bromo dan jalan ke arah Lumajang. Pemandangan Bromo Tengger Semeru dari puncak begitu megah mempesona. Memanjakan mata yang selama ini hanya menyoroti tugas dan kesibukan. Namun kami tak sempat berhenti untuk mengambil gambar, hanya merekam sekilas dalam bentuk video pendek dari atas kendaraan karena kami harus tiba di Lumajang sebelum matahari terbenam.


Ketika keluar dari Jemplang, kami masuk ke lanskap pemandangan Ranu Pane. Hijau mulai membentang. Kabut tersibak entah ke mana. Di sisi jalan bunga-bunga terompet berwarna kuning menyuguhkan keindahan eksotis. Dari ketinggian tampak danau Ranu Pane begitu tenang berada di tengah pemukiman warga suku Tengger.


Di sepanjang jalan dari desa Jemplang ke Ranu Pane saya menjumpai beberapa pure kecil di rumah warga dan di pinggir jalan. Sensasinya berasa ada di Bali. Ternyata warga suku Tengger memang mayoritas penganut agama Hindu. Belakangan saya tahu bahwa nama Tengger berasal dari cerita rakyat Roro Anteng dan Joko Seger yang dipercaya masyarakat setempat sebagai leluhurnya.


Memasuki desa Burno lagi-lagi saya dikejutkan dengan pemandangan alam yang menyihir. Banyak tanaman liar dan unik di sepanjang jalan. Pakis paku tiang tumbuh berjejer seperti payung pantai. Bahkan bunga anggrek beraneka jenis tumbuh lebat menempel pada pohon-pohon tua yang menjulang. Sungguh pemandangan ajaib! Ini adalah surga bagi pecinta tanaman hias.


Hutan lebat gunung Semeru mengingatkan saya pada cerita ekspedisi pencarian puspa karsa tim bentukan Raras Prayagung yang melibatkan Jati Wesi dan Tanya Suma di Gunung Lawu dalam novel Aroma Karsa karya Dee Lestari. Novel fantasi tersebut seperti nyata karena digarap dengan penelitian serius hingga melahirkan anak buku berjudul Di Balik Tirai Aroma Karsa berisi kiat penulisan dan proses kreatif.


Betapa tidak terkecohnya saya ketika tahu Pak Polet penjaga gunung Lawu yang diwawancarai Dee mengatakan bahwa Dworopolo benar-benar ada. Sementara Dee mengaku bahwa nama Dwarapala (desa yang tidak terlihat) hanya diambil secara acak saat mencari kosa kata sangsakerta. Dan belum pernah sebelumnya Dee menyebutkan nama desa itu kepada Pak Polet. Jelaslah novel tersebut bukan sekedar fiksi biasa, melainkan keterhubungan batin antara si penulis dengan objek yang tengah digarapnya.


Menyesal saya tidak membawa kedua buku favorit saya itu dan berfoto dengan latar hutan Semeru yang penuh aura mistis nan memikat. Tetapi sapaan seorang paruh baya berselimut sarung di belokan jalan mengejutkan saya membuat saya dan suami merasa ngeri sekaligus mengurungkan niat untuk mengambil gambar. Devi pun mengaku terkesiap melihat lambaian si bapak.


Saya percaya, setiap hutan pasti memiliki penjaga, entah manusia atau makhluk tak kasat mata. Hutan tak pernah manja, tak memerlukan pupuk dan penanggulangan hama, tapi bisa berkelanjutan dan mensuplai kebutuhan manusia. Hutan adalah rumah bagi banyak flora dan fauna. Hutan memiliki nyawa dan manusia serakah menjadi pencabutnya.

Bersambung...

20 September 2021

Pelajaran Sederhana dari Rumah Iis

Semalam saya bermain ke rumah Istifadah di Ketawang Laok, Guluk-Guluk, sembari  menunggu Mas Jur menghadiri acara kompolan shalawat nariyah di Pamekasan bersama suaminya. Biasanya saya ikut ke acara itu, karena banyak istri teman suami yang juga hadir. Namun semalam saya memilih di rumah Iis saja dengan rencana yang sudah kami buat, yaitu memasak seblak sayur jeletot markopolot.  


Di beranda rumahnya, Iis menunggu bersama kedua anaknya. Anak pertamanya bernama Lina dan yang kedua Naya. Lina sudah sangat akrab dengan saya karena perjumpaan kami yang cukup intens sejak balita. Sebaliknya, Naya yang berusia 10 bulan selalu menangis saat melihat saya, entah apa alasannya. Mungkin karena terlalu cantik sehingga sampai kelihatan jelek.


Usai mengobrol sejenak, Iis menyiapkan bahan-bahan yang akan kami masak berupa, sayur, mie, sosis, krupuk, bakso, berikut bumbu-bumbunya. Dapurnya seperti biasa, sangat bersih dan rapi. Namun kerapian itu menjadi bahan olok-olok bagi saya, sebab itu atas arahan umminya di tanah rantau.


Ummi Iis cukup ekstrem dalam kebersihan dan menurut hemat saya, sudah menerapkan gaya hidup minimalis jauh sebelum Fumio Sasaki, Francine Jay, dan Marie Kondo, menerbitkan bukunya dalam versi bahasa Indonesia. Setiap kali melakukan panggilan video, beliau selalu mengontrol kebersihan dan kerapian rumah. Bahkan selembar handuk yg bertengger di atas pintu akan menjadi perkara besar.


Pernah suatu kali, umminya menelpon dan ingin melihat kondisi dapur. Iis kebingungan karena waktu itu dapurnya lebih parah dari kapal pecah. Ia berinisiatif mematikan data sejenak untuk membereskan cucian kotor dan mengembalikan barang-barang ke tempat semula, lalu mengarang cerita bahwa jaringan di Madura sedang tidak stabil. Namun setelah video dilanjutkan, umminya tetap curiga, itu hanya alasan. Iis tersenyum menyadari usahanya yang konyol.


Iis berkisah, sudah terbiasa rapi sejak remaja. Awalnya memang karena tuntutan, namun akhirnya menajadi kebiasaan yg menurutnya sangat membantu menghilangkan kemalasan dalam berbenah. Maka beruntunglah anak yang dididik untuk disiplin dan rapi sejak dini.

 

Berbanding terbalik dengan hidup saya yang tak pernah didekte ibu. Ibu secara suka rela mencuci baju saya bahkan setelah saya berkeluarga. Saat saya larang, beliau mencuri waktu mengumpulkan pakaian kotor saya dan merapikan rumah tanpa lelah. Bagi sebagian anak, cara ibu saya dianggap sebuah keberuntungan. Namun ternyata malah memupuk kemalasan dan ketidakdisiplinan. Dampaknya sangat saya rasakan ketika ibu sudah tiada. Betapa ketergantungan akan sangat menyiksa.


Sampai akhirnya, saya diperkenalkan dengan buku Seni Hidup Minimalisnya Franchine Jay oleh Ning Cece. Saya berjanji kepada diri sendiri untuk belajar berbenah mempraktikkan streamline sebagaimana dipandu di bab dua dalam buku tersebut. Berusaha menjalani hidup dengan barang sesedikit dan sesederhana mungkin, namun dapat bermanfaat secara maksimal. Barangkali akan terasa sangat melelahkan di awal, mengubah kebiasaan lama yang sangat berantakan menjadi rapi setiap hari.


Niat besar di atas segala rencana ini tentunya saya berharap tidak hanya sekedar teori, tetapi harus berani memulai. Seperti kebiasaan yg sudah Iis praktikkan tanpa terkonsep selama ini.


Kerapian di rumah Iis juga didikung oleh usaha laundry rumahan miliknya. Saya pikir pekerjaan itulah yang juga turut andil dalam membantunya menangani kemalasannya mencuci pakaian. Ia biasa menerima jasa cuci-kering setiap hari terutama dari santri di pondok pesantren di Guluk-Guluk. Dalam penuturan ceritanya, terkadang ia dibuat kesal dengan pelanggan yang teledor mengikutkan pakaian dalamnya. Namun ia bebas membuang benda itu karena termasuk larangan dalam tata tertib usahanya.


Kadang-kadang ia juga mengeluh perihal proses cuci kaos kaki dengan noda membandel. Saya mengusulkan agar ia tidak menerima jasa cuci kaos kaki, mengingat bau keringat di kaki sangat menjijikkan. Iis menolak usulan itu, karena tarif kaos kaki lumayan mahal dibandingkan pakaian.


Katanya, ia pernah menerima pemberian kaos kaki seplastik merah besar dari pengurus pondok. Jumlahnya kira-kira empat puluh pasang. Karena kebingungan menangani kaos kaki sebanyak itu, ia bagi-bagikan pada sanak famili yang memiliki anak sekolah. Juga tetangga yang butuh untuk dipakai ke sawah.


Dugaan kuat kami, benda pembungkus kaki itu hanya dimanfaatkan sekali pakai. Sungguh miris anak pesantren zaman sekarang jika dibandingkan dengan hidup kami di pondok dulu yang sungguh sederhana. Kiriman uang hanya pas-pasan sampai kamis sore. Jum'at pagi sudah tak sabar menunggu kunjungan. Mana bisa membeli kaos kaki berkali-kali, bahkan baju-baju brended macam santri saat ini. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk menerima jasa cuci kaos kaki.


Obrolan kami terus berlanjut seputar kenangan masa lalu di pondok. Lalu kantuk menyerang dan bayangan Iis menjadi beberapa bagian. Kami terlelap cukup lama sampai Mas Jur datang membangunkan untuk pulang. Paginya saya menuliskan catatan ini dengan harapan semoga kisah hidup Iis bisa menginspirasi.


Ganding, 19 September 2021

11 Juni 2021

Surat Ucapan Terima Kasih untuk Suami


Suamiku Muhammad Isni Habibi,

Ketika menyapu beranda rumah, aku tertegun lama seperti disapa debu, remahan krupuk dan rombongan semut yang pasrah didorong rumbai sapu untuk menyingkir. Mereka seperti mengantarkan dejavu pada peristiwa sedih di masa lalu; aku dan impian menjadi pengantin di pelaminan yang indah.


Tetapi aku kembali tersenyum sembari mengingat petuah Nyai Ramlah, pengasuh Pondok Pesantren al-Karawi sore itu, ketika aku sowan dengan Bak Fatiya. Betapa pesta pernikahan adalah awal dari kusutnya benang utang piutang. Betapa menggelar pesta terlalu mewah akan menggiring seseorang dalam kubangan nestapa tak berujung.


Aku tak mau munafik, menjadi raja dan ratu sehari memang terlihat mengesankan, tetapi budaya catat-mencatat barang bawaan di pesta itulah yang dawuh Nyai Ramlah menjadi masalah. Utang itu akan dibebankan kepada si pengantin saat orang tua mereka meninggal dunia. Dan begitu seterusnya buku catatan 'ompangan' (ompangan merupakan tradisi masyarakat Madura untuk saling membantu meringankan beban dengan sistem pinjaman dalam bentuk yang disepakati) dalam hajatan akan menjadi warisan kepada anak cucu. Bahkan akan menjadi hal terpanjang dalam sesi hisab di akhirat nanti.


Beliau berkisah tentang seorang kiai dalam prosesi serah terima amal di akhirat. Sang kiai terjerat utang dalam pesta pernikahan anaknya, pesta tujuh bulan kehamilan anaknya, juga walimatul akikah cucunya. Terjadilah percakapan menegangkan antara kiai dan malaikat.


Sang kiai bingung harus membayar dengan apa utangnya di akhirat, sebab harta di dunia sudah tidak berfungsi. Maka malaikat menjawab amalnyalah yang bisa ia bayarkan. Setelah semua amalnya masih tidak cukup untuk membayar utang pada tukang sewa pengeras suara, tukang tenda terop, dan tukang cuci piring, kiai bertanya harus membayar dengan apa. Malaikat bertanya kepada Tuhan untuk memutuskan perkara. Tuhan memerintahkan agar dosa yg diutangi dilimpahkan pada kiai. Ending yang sungguh memilukan karena sang kiai akhirnya harus dicuci-keringkan di neraka.


Mengapa Nyai Ramlah menokohkan seorang kiai dalam cerita beliau? Barangkali hanya sebagai gambaran bahwa kiai yang merupakan kasta tertinggi di masyarakat karena kealiman dan ketawadukan, masih memiliki kekhilafan dan dosa-dosa yang diperhitungkan, apalagi masyarakat awam yang berkutat dalam budaya ompangan secara turun temurun. Mengenai keabsahan kisah tersebut dari kitab mana, aku tidak sempat bertanya.


Pungkasan dari Nyai Ramlah adalah saran sebaiknya jika diundang sanak famili dan tetangga yang hendak menggelar pesta atau hajatan bawalah semampu nya saja. Jika ikhlas dua sampai tiga kilo beras tak perlu memaksakan diri membawa setengah kwintal. Tak perlu mengedepankan gengsi untuk menunjukkan kemampuan yg melebihi batas gaya hidup. Cukuplah pada garis kemampuan agar kelak tidak memberatkan diri dan anak cucu.


Suamiku,

Menyimak kisah dari Nyai Ramlah, mendadak aku bersyukur sedalam-dalamnya sebab Tuhan merencanakan beberapa hal indah yang baru bisa aku sadari belakangan. Barangkali sudah Dia persiapkan jauh sebelum kelahiranku. Salah satu berkah terbesarNya adalah mengirimmu ke dalam hidupku yang memintaku menikah dengan acara tasyakuran sederhana. Sebagai gantinya kau tunaikan biaya pesta untuk ongkos ke tempat yang diimpikan seluruh kaum muslimin. Berkah lainnya aku terbebas dari warisan catatan ompangan seperti diwariskan oleh banyak orang tua untuk anak-anaknya.


Rasa syukurku tidak pernah akan menemui batas, sebab kamu berhasil menjadi imam yang bertanggung jawab atas hidupku. Setelah kepergian ayah dan ibuku, statusku adalah yatim piatu. Kamu lalu menjelma menjadi ayah, suami, sahabat dan kadang-kadang juga menunjukkan kehangatan seorang ibu.


Berkali-kali sudah aku ucap terima kasih untukmu, terutama menjelang tidur. Sebelum pulas aku terbiasa memandangmu dan berterima kasih meski kamu sudah terpejam. Tetapi rasa terima kasihku seperti selalu tidak cukup.


Maka kutuangkan doa-doa terbaik untukmu di waktu mustajab. Terutama hari ini, 14 Juni 2021, tepat di hari ulang tahunmu yang ke-30. Semoga Tuhan panjangkan usiamu, berkahi hidupmu, bahagiakan hari-harimu, lancarkan setiap perjuangnmu dan mempersiapkanmu menjadi calon ayah yang kelak mampu mendidik anak-anak kita dengan disiplin dan penuh cinta.


Salam hangat dari istrimu,

Ummul Karimah.

Diposting pada 11 Juni untuk persiapan 🤣





09 Maret 2021

Bunuh Diri Gaya Milenial

Memposting status di media sosial kemudian saling bertukar komentar dengan pasangan tidak pernah menjadi cara berkomunikasi favorit kami. Awalnya saya mengeluh kepada suami karena dia tidak reaktif pada postingan saya, tidak seperti pasangan lain yang manis dan romantis. Kami berdebat dan sampailah pada pertimbangan keterbatasan karakter yang kadang kala menimbulkan salah paham. Juga guna bersama yang tak memerlukan sarana gawai untuk berkomunikasi.


Maka sebagai istri yang jaim saya pura-pura tidak kepo pada setiap aktivitas media sosialnya. Dan kami sudah membiasakan ini lebih dari tiga tahun. Awalnya memang terasa asing, tapi kemudian ketika berjumpa dengan status pasutri yang saling merayu di kolom komentar membuat kami merasa malu dan menyadari keputusan untuk cuek adalah yang terbaik.


Kebiasan model seperti ini terus meluas pada ketidaktertarikan kami untuk terlihat mesra di kehidupan nyata. Sampai teman kami mulai memberikan komentar negatif. Mempertanyakan apakah kami akur atau sedang berkonflik tersebab suami lebih banyak diam dan sekali berbicara nada kami terkesan meninggi. Seperti selalu adu debat.


Menanggapi komentar itu, membuat saya merasa geli, karena bentuk komukasi pasangan tidaklah seragam. Ada yang hanya dengan diam sudah bisa paham. Ada pula yang berkoar-koar tapi tidak sedang bertengkar. Maka saya menjawab dengan kalem, bagi saya, cara berkomunikasi unik kami semata untuk saling menyampaikan, sebab menarik kelemahan lawan hanya ada dalam arena politik.


Komunikasi dalam rumah tangga  merupakan akar. Jika akar dirawat dengan baik, maka tumbuhan akan membuahkan sesuatu yang baik dan sehat. Demikian pula kesalahpahaman dan atau ketidakberesan dalam komukasi, akan menjadi penyebab perpecahan.


Dari pengalaman, saya belajar untuk detail dan utuh dalam menyampaikan komukasi. Itu terjadi di tahun pertama usia pernikahan kami. Waktu itu kami berangkat bersepeda menghadiri acara pertemuan alumni KKN di Kasengan, Manding, Sumenep. Sementara saya mengikuti acara, suami memilih pulang ke Ambunten. 


Di tempat acara, teman-teman sudah bersiap menuju pantai Lombang. Saya berusaha menelpon suami. Karena tidak terjawab saya mencoba mengirim sms. Masuk tapi tidak berbalas.


Saya dilema antara ikut berangkat rombongan, atau menunggu jawaban suami. Yang jelas saya belum mengantongi izin. Teman-teman mendesak dengan meyakinkan bahwa tidak akan ada masalah. Bermodal keputusan bersama itu, akhirnya saya berangkat.


Sampai di Bangkal, saya ditelpon suami karena tidak ada di tempat acara. Sontak saya kaget karena dia tidak membaca sms izin yang saya kirim. Ada niatan untuk turun dan minta dijemput. Namun lagi-lagi bermodalkan keputusan dangkal saya tetap berangkat. Mengingat, waktu itu saya dan suami masih dua makhluk asing yang baru bertemu di bumi dan kami masih dalam tahap belajar mengenal.


Pulangnya saya minta dijemput ke Ganding karena mobil rombongan hanya berhenti sampai di situ. Sepanjang perjalanan Ganding-Tambuko suami memilih bisu. Dengan kecepatan laju motor yang tidak seperti biasanya saya menangkap, dia marah. Ya, dia pasti marah.


Benar saja, sampai di rumah kami mengalami adegan pertengkaran pertama kami. Suasana menjadi pecah dan meriah. Debat sahut menyahut saling melakukan pembelaan. Kosa kata sepatah sepatah dengan nada naik stim tumpang tindih tak bisa dicerna. Dalam gamang saya menyesal.


Saya sadar sayalah yang salah. Pertikaian itu terjadi hanya karena miskomunikasi. Andai saya sabar menunggu jawaban darinya, mungkin akan terang apakah saya boleh berangkat atau tidak. Andai saya tidak mengandalkan keputusan teman-teman, mungkin saya bisa memilih kembali. Namun semua terjadi di luar prediksi. Konflik yang lewat itu menjadi pelajaran paling penting di tahun pertama kami yang sampai detik ini tidak pernah terulang kembali.


Kejadian tersebut juga menggerakkan kami dalam membangun komitmen untuk tidak mempublikasikan konflik di media sosial. Sebagaimana lazimnya pasangan ketika menuai masalah, langsung meliput beritanya ke khalayak. Apakah buku harian tidaklah cukup? Dugaan saya, mungkin karena tidak menemukan sarana untuk mengungkapkan isi hati, sehingga hal yang negatif pun ikut dibagikan.


Namun setiap kepala mempunyai kebebasan eksistensial untuk menyampaikan isinya. Terutama di zaman serba digital yang menawarkan kemudahan berbagi dalam sekali tekan. Yang paling kita butuhkan saat ini adalah keterampilan memilah apakah sesuatu yang akan kita bagikan tidak merugikan untuk kita dan orang lain. Sebab jika memaksa berbagi aib, maka sama saja dengan bunuh diri gaya milenial.

01 Maret 2021

Ungkapkan Selagi Ada Waktu

Menjelang empat puluh hari wafatnya ibu, suami bersih-bersih rumah. Ia menemukan catatan harian ibu dan mengirim fotonya kepadaku yang kala itu sedang sendiri di toko. Aku kembali larut dalam sedu sedan yang dalam.


Ibu dan kakakku memang suka menulis catatan harian. Katanya untuk mengenang peristiwa penting. Aku meniru jejak mereka sejak Sekolah Dasar kelas akhir. Sampai detik ini kegiatan menulis catatan menjadi kebiasaan. Kadang juga pelarian saat ada banyak beban menumpuk di kepala.


Catatan ibu yang ditemukan suami berisi perjalanan hidup beliau, termasuk cerita kelahiranku, kakak, kepergian ayah, dan kelahiran kedua cucunya. Di akhir catatan beliau menyampaikan wasiat agar membacakan beberapa surat dalam Al-Qur'an, tahlil, dan amal jariyah.


Aku tertegun membaca berulang-ulang catatan itu. Kapankah persisnya ibu menulis risalah yang seolah berisi salam perpisahan? Sangat tegas seperti kepergian terencana. Ibu bagai tahu waktunya di dunia tak cukup panjang.


Pada alinea kedelapan ibu menuliskan betapa berat perjuangan beliau menyekolahkan anak-anaknya tanpa suami. Beliau mengurus sawah dan usaha toko kelontong dengan baik entah bagaimana repotnya. Tetapi orang-orang datang membawa barang hanya bermodalkan lidah, bukan rupiah. Sampai akhirnya ibu balik badan, toko itu gulung tikar karena banyaknya bon dalam catatan utang.


Tak kulihat ibu bersedih karena usahanya pailit. Beliau hanya mengungkapkan penyesalan karena tak dapat menjaga amanah ayah. Karenanya aku pernah membuka toko itu lagi dengan berjualan pentol ikan dan es pelangi sampai akhirnya aku diminta mertua untuk ikut suami ke Ambunten.


Ibu melepasku dengan senyuman dan kepasrahan saat seluruh famili mempertanyakan apakah ibu sanggup tinggal seorang diri. Beliau malah berucap rida aku tinggal di belahan bumi manapun dan berpesan agar aku taat pada suamiku. Aku yang kala itu terbiasa memeluk ibu rebah dalam dekapnya yang tenang. 


Mengingat itu detik ini membuat dadaku penuh dengan emosi tak terbendung. Ritme nafas tak beraturan. Hingga mata terasa hangat, menumpahkan air yang asin. Dalam pejam aku mengingat raut wajah ibu saat tersenyum, saat bersedih, dan saat-saat terakhir beliau di rumah sakit.


Cerita tentang ibu tak akan pernah ada habisnya, karena ibu adalah sosok yang sangat kompleks bagiku. Kata Nadin Amizah dalam lagunya, anak dan ibu seperti detak jantung yang bertaut. Ibu menjadi sosok paling memahami tersebab jalinan batin yang kuat. Aku mengamini lagu itu karena aku merasakan betapa kepergian ibu membuatku kehilangan banyak kepingan penting dalam hidupku.


Banyak pelayat datang bercerita tentang kebaikan-kebaikan ibu. Karena ibu memang tak hanya baik pada anaknya, melainkan kepada banyak orang di sekitar kami. Lebih gamblangnya ibu seolah menjadi pahlawan. Dan karena kepahlawanannya itu pernah suatu kali aku berdebat sengit dengan beliau.


Pernah ada selentingan ibu meminjam emas tetangga. Kabar buruk itu membuat saya segera mengklarifikasi. Ibu bersumpah tidak pernah melakukan seperti yang dituduhkan. Beliau menangis saat aku mulai merasa ragu. Ibu memohon agar aku percaya, tetapi aku masih menepis, meminta bukti.


Kami menagis sambil beradu mulut yang akhirnya dibuktikan bak Tin bahwa nama ibu hanya dimanfaatkan seseorang yang sedang butuh pinjaman. Begitu nama ibu disebut, siapapun akan berbaik hati. Karena kebaikan ibu yang terlampau luas itu, akhirnya ada yang menyalahgunakan untuk kepentingan tak bernurani.


Hingga detik ini aku menyesal karena pernah meragukan ibu. Menyesal karena tak mencoba mengenal ibu lebih dalam. Aku mengutuk diriku ketika ingat wajah merah ibu penuh air mata, kata-kata beliau saat aku bantah, dan jawaban terbata-bata yang keluar dari bibirnya. Semua terkenang begitu menyakitkan.


Tetapi aku sadar perasaan sedih adalah hal yang wajar. Kiranya setiap orang pasti merasakan kesedihan sesuai porsi ujiannya masing-masing. Hanya karena kesempatan untuk mengungkapkan penyesalan ini sudah tak ada lagi bagiku, maka perasaan sedih tadi sakitnya terasa gigantis.


Selagi ada waktu, jika ingin meminta maaf kepada orang tua sebaiknya segera ungkapkan. Rasa sayang yang begitu kuat harus ditunjukkan. Karena jika sampai batas itu tiba, maka rasa sesal tak akan ada penawarnya. Seperti aku yang berkutat dengan rasa bersalah karena kurang berlaku baik pada ibu.


Sekarang tak ada lagi yang merekahkan senyum ketika melihat kedatanganku. Tak ada lagi  yang memanggilku Mul dengan nada sejenaka ibu. Beliau tempat ternyamanku berbagi setiap inci isi hati sudah tiada dalam pandangan mata namun kekal dalam doa-doa.


9 Februari 2021