04 Januari 2015

Dari Madre Sampai ke Inspirasi




Sudah cukup lama saya dan suami terpikir untuk memulai sebuah bisnis. Keinginan itu bahkan sudah ada sejak usia pernikahan kami baru menginjak sebulan. Tetapi kami selalu kebingungan tentang apa yang harus dilakukan.

Mula-mula kami sepakat untuk berternak ayam petelur. Dengan mempertimbangkan modal yang tidak sedikit dan segala resikonya kami sepakat. Berbekal uang yang cukup, Eng (panggilan untuk suami) memesan kurung ayam yang berukuran panjang untuk lima ratus ayam broiler lengkap dengan tempat pakannya. Kami sudah berencana menempatkan kandangnya di sawah belakang dapur. Sampai di sini saya membayangkan usaha ini mungkin akan mengubah kehidupan kami.

Sayangnya, setelah semuanya siap dan tingggal membeli ayam, Abah mertua saya bertandang ke rumah. Beliau mengutarakan ketidaksetujuannya pada usaha yang akan kami jalankan. Alasannya begitu sederhana, beliau tidak mau pada akhirnya kami menanggung rugi seperti famili di Ambunten yang juga rugi dalam usaha ini. Tetapi belakangan saya menyadari bahwa alasan itu sangatlah klise. Sebenarnya Abah tidak ingin terpisah dari Eng. Beliau khawatir Eng tidak punya kesempatan untuk ke rumah Ambunten jika kami terlalu sibuk.

Saya maklum karena Eng adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga mertua saya. Kalau Abah sakit, yang paling sering disebutnya adalah nama Habibi. Bahkan semua perabotan rumah, mulai dari piring, sendok, ember tahu, sampai karung kedelai diberi nama HBB. Saya menyadari sepenuhnya bahwa dialah anak yang paling disayang. Akhirnya semua peralatan yang telah kami beli terborong dengan separuh harga pada pembisnis ayam petelur dari desa tetangga. Harapan saya tertelan. Kami balik badan.

Usai kejadian itu, kami lebih sering berada di Ambunten dari pada di Tambuko. Eng membantu usaha pabrik tahu tempe yang dirintis Abah Senin sampai Jum’at, Sabtu Minggunya kami membantu mengajar di SMP Islam swasta yang dikelola oleh Paman saya, suami dari sepupu Ibu.  Tetapi lama kelamaan kami berpikir bahwa tak nyaman rasanya bila terus bergantung pada keluarga. Tak nyaman pula bila kami harus terus bolak-balik Ambunten-Tambuko dalam waktu yang begitu sering. Maka kami memutuskan untuk memulai usaha mandiri.

Bukan kebetulan, almarhum Ayah saya meninggalkan sebuah bangunan toko yang dulu dikelola Kakak. Setelah Kakak memulai usaha di Bali, toko itu perlahan bangkrut. Toko-toko di kampung memang lebih sering dihutangi dari pada dibeli. Buktinya buku bon hutang bejibun dari nama dan angka. Walhasil toko tersebut menjadi lebih besar pasak dari pada tiang. Akhirnya kami mengalami apa yang orang-orang sebut bangkrut.

Bertahun-tahun toko itu mati, sunyi. Setiap sore, saat menghidupkan lampu, saya merasa nestapa memikirkan betapa teganya saya menelantarkan sesuatu yang Ayah tinggalkan. Kadang-kadang saya menangis dalam hati memikirkan perjuangan ayah yang saya akhiri dengan kesia-siaan. Kadang pula ada sinar terang dalam diri yang meyakinkan saya untuk membukanya kembali, suatu hari nanti. Entah kapan.

Setengah bulan yang lalu Ibu berembuk dengan Eng tentang seseorang yang akan menyewa toko. Ibu menyampaikan bahwa orang tersebut akan membuka warnet. Eng sepakat dan memasang tarif tahunan. Tetapi saya merasa ada aura kepedihan di mata Ibu. Saya yakin beliau berharap kami sendiri yang membuka toko itu kembali. Tetapi beliau juga pasti mengerti bahwa tak mudah mengumpulkan banyak biaya sebagai modal. Kami semua ada dalam lingkaran dilema. Dilema panjang yang menunjukkan jalan baru.
 
Untunglah Ibu belum menyampaikan kepada calon penyewa toko itu. Karena seminggu setelah berembuk, Eng mengajak saya ke pasar untuk belanja peralatan es krim. Ya, kami akan berjualan es krim! Tiga hari setelah mulai berjualan, kami berjumpa kendala lagi. Pintu ruang freezer kulkas keluarga kami rusak sehingga es tidak mudah membeku. Kami sudah nekat dengan usaha ini, maka selanjutnya pun harus lebih nekat. Kami butuh kulkas baru khusus freezer, tetapi dari mana uang untuk membeli? Saya akhirnya merelakan cincin pemberian Eng yang dibeli dari tabungan kami selama ini. Untuk apa memakai emas? Bukankah emas memang bentuk dari tabungan yang bisa dijual sewaktu-waktu jika ada keperluan? Walau Eng berat hati saya coba membujuknya dengan kemampuan yang saya punya.
 
Kulkas baru datang. Semangat baru semakin menggebu. Dimulai dengan basmalah, kami membuka toko kembali dengan berjualan es krim serta pentol ikan cakalan yang diracik Eng sendiri. Sebelum menuliskan catatan ini, saya selalu teringat Madrenya Dewi Lestari. Imajinasi saya menampilkan gambar Tansen yang mendapat warisan kunci saat menghadiri pemakaman seseorang yang sama sekali tidak ia kenal. Dengan kunci itu, ia mebuka sebuah toko roti “Tan de Bakker” yang mati suri selama lima tahun.  

Tansen juga mendapat kejutan dari dalam lemari pendingin!  dia mendapatkan Madre.  Madre adalah adonan putih keruh atau adonan biang hasil perkawinan dari tepung, air dan fungi bernama Saccharomyses exiguous yang lahir pada tahun 1941. Dengan bimbingan Pak Hadi, orang yang menyerahkan warisan, Tansen begitu bersemangat memulai kehidupan barunya. Tansen jua sering menulis di blog menceritakan kisah yang ia alami, mulai dari silsilah keluarga baru hingga Madre.

Saya tertegun mengingatnya. Ada banyak pelajaran yang dapat dipetik. Betapa kami harus mempelajari  berbagai hal dalam menjalani hidup dan memiliki pemikiran yang matang dalam menatap masa depan. Kisah rajutan Dee itu begitu menginspirasi bagi saya. Seakan ruh Madre mengalir dalam kehidupan kami, berdenyutan di nadi ini.


Tambuko, 03 Januari 2015

15 Maret 2014

Mengobati dengan Hati

Senin yang dingin, 3 Maret 2014. Sekitar pukul 06.30 WIB, suara berat perempuan memanggil nenek. Dengan suara tongkat dan gesekan panjang sandalnya nenek keluar dan menyeru kepada saya agar membuatkan teh untuk tamu yang datang. Karena pintu luar terbuka, saya tahu yang bertamu adalah Bibi Sohati, kemenakan sepupu nenek. Setiap kali bertamu, bibi memang menolak disuguhi kopi atau teh karena penakit diabetes yang dideritanya. Nenek pun mengerti ketika saya mengurungkan niat menuju dapur. Saya duduk menemani bibi di luar.

Nenek kembali ke kamrnya dan datang lagi membawa roti. Roti yang kemarin paman bawa untuknya. Belum bertanya perihal kedatangan bibi pagi-pagi betul, ia sudah memulai cerita bahwa baru saja ia datang dari Polindes untuk memeriksa penyakitnya pada dokter I suaminya bidan E yang tempat peraktinya sekitar 50 meter ke barat rumah saya. Tetapi kalimat lanjutannya bernada kecewa karena dokter I belum bangun dan istrinya mengatakan tak mau membangunkannya dengan alasan dokter I lelah karena kerja lembur.

“Saya disuruh nunggu sampai jam Sembilan.”

Saya mengerti mengapa bibi memilih untuk menunggu di rumah bukan pulang ke rumahnya. Selain karena ingin bertemu nenek, jarak dari rumahnya ke Polindes, yakni sekitar 1 km, cukup jauh baginya yang harus berjalan kaki dengan beban penyakit di usianya yang hampir berkepala lima. Ketika saya bertanya mengapa tidak periksa ke bidan E saja, ia menjawab hanya bisa lebih baik jika dokter I yang mengobatinya. Saya tak dapat melanjutkan pertanyaan lagi dengan kata mengapa, karena jawabannya dirasakan oleh bibi sendiri.

Lalu terjadi obrolan panjang antara nenek dan bibi. Saya beranjak ke dapur untuk mempersiapkan sarapan. Beberapa jam kemudian ibu keluar dan mengingatkan kepada bibi bahwa telah sampai pukul sembilan. Bibi Sohati berangkat ke Polindes lagi.

Nenek belum beranjak dari kursinya, bibi sudah datang lagi dan mengatakan kepada kami bahwa dokter I sudah berangkat bertugas ke Puskesmas di Kecamatan Guluk-Guluk. Bibi pamit pulang dan menolak disuguhi sarapan.

Demikianlah adegan yang klise di pagi hari. Sederhana tetapi membuat iba hati. Sebuah keratan kisah tentang pasien yang gagal bertemu dokternya. Tentang bibi Sohati yang pulang dengan membawa sepaket harapan beserta rasa kecewanya.
                                                                                                ***
Masyarakat dan Kesehatan

Kesehatan memang mahal. Tapi pelayanan yang baik masih sulit didapatkan. Kenyataannya memang begitu. Masyarakat khususnya di pedesaan yang menderita masalah medis sudah merasa cukup dengan mengontrol kesehatannya ke dokter. Dokter mendiagnosa lalu memberi obat, pasien membayar lalu pulang, selesai. Atau dengan gambaran lain, dokter menjadi penyedia jasa bayaran, pasien menjadi konsumen. Kaku, dan tak jauh berbeda dengan pembeli dan penjual di toko kelontong.

Masyarakat kita belum kritis dalam persoalan kesehatan. Contoh kasusnya, begitu dikatakan tekanan darahnya berapa, mereka sudah mengangguk-angguk seolah sangat paham. Padahal sang dokter belum menjabarkan apakah yang dimaksud tekanan darah atas atau bawah. Umumnya yang dilaporkan adalah tekanan darah atas, tetapi apakah tekanan darah bawah tak penting untuk juga diketahui? Sayangnya masyarakat tak tahu caranya bertanya, sementara dokter enggan memberi tahu.

Ini masih kasus sederhana tentang bagaimana sulitnya informasi kesehatan didapatkan oleh masyarakat awam. Belum lagi jika menyentil persoalan pelayanan kesehatannya. Akan ada banyak cerita yang menguap di masyarakat kita.

Sementara itu, sekolah kedokteran semakin gencar diminati oleh para pelajar. Terbukti dengan data yang kompas.com sajikan pada Sabtu, 25 Mei 2013 lalu tentang jurusan kedokteran yang menduduki peringkat pertama dari sepuluh jurusan favorit lainnya. Ini bukan hal yang sangat mengejutkan tentunya, mengingat tenaga medis memang cukup dibutuhkan di negeri ini. Tetapi jika ilmu kedokteran dijalankan sebagai sebuah bisnis, niscaya mengundang keruwetan dari sebuah bisnis. Dan sesuatu yang tidak dilandasi dengan cinta akan berakhir sia-sia.

Generasi Patch Adams

Mari kita teladani kisah inspiratif Patch Adams. Ia adalah revolusioner sosial. Dokter yang mendirikan Gesundeit Institut, klinik pengobatan gratis di West Virginia. Ia telah merawat lebih dari 15.000 orang dengan metode yang bukan semata-mata pendekatan klinis yang diterapkan rumah sakit pada umumnya, melainkan menyembuhkan dengan humor dan kebahagiaan. Pak Adams dan rekan-rekannya rela menjadi badut untuk menghibur anak-anak yang sakit, atau menjadi sahabat yang mengajak pasiennya berjalan-jalan menuruni bukit.

Lalu mari kita bandingkan dengan para tenaga medis di sekitar kita. Amati dengan cermat bagaimana mereka memperlakukan pasien dan setebal apa sekat bernama formalitas yang mereka bangun di atas gengsi menyandang pangkat terhormat. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi adalah emosi yang diekspresikan dengan amarah yang terlontar tanpa rasa bersalah. Maka akhirnya boleh jadi pasien sehat secara fisik tapi hidupnya menyedihkan.

Saya yakin bahwa tenaga profesional di bidang kesehatan yang merasa lelah, marah, dan malas tidak menyadari potensi yang menarik dalam hubungan antara dokter dan pasien.tentu saja pekerjaan yang demikian tidak didasari dengan cinta. Sehingga mereka melupakan prinsip dalam ilmu kedokteran yang harusnya melibatkan rasa sayang pada orang lain. Jika prinsip utama ini dipegang teguh oleh para dokter, maka kasus Bibi Sohati tidak akan terjadi. Endingnya akan muncul generasi Patch Adams yang mengobati dengan hati.

Tambuko, 13 Maret 2014
Catatan: Beng Nu, saya yakin kamulah generasi Patch Adams itu… :))
                 

Membangun Nama

Dalam satu pekan, dua orang tetangga saya meninggal dunia susul menyusul. Belum genap tujuh hari, dua orang desa tetangga pun wafat bergiliran. Maut memang tak pandang usia. Tua atau muda kalau sudah sampai pada janjinya akan pulang ke rahmatullah kapan pun saja.

Lumrahnya, tahlilan di desa dilaksanakan usai shalat isya’. Berhubung yang wafat bukan hanya satu atau dua orang, maka ada pula tahlilan yang digelar bakda shalat asar. Tentu kondisi macam ini akan sangat menyibukkan kaum lelaki. Tetapi yang terpenting dan menarik bukanlah bahasan tentang kesibukan mereka, melainkan pernyataan suami saya tentang bagaimana orang-orang yang wafat “membangun nama” semasa hidupnya.

Istilah membangun nama yang baru saya dengar itu hanyalah karangannya semata saat saya mulai belajar silsilah keluarganya dari bani Jalalain.

“Eng, kalau Si Anu itu termasuk kemenakan sepupu dari Ayah kenapa ia tidak pernah ke rumah?”

Pertanyaan saya yang hanya satu potong itu ia jawab dengan beberapa bahasan. Dan begitulah saat saya bertanya apa saja, tentang bola, elektronik, otomotif, sampai kancing dan resleting pun cakupan bahasannya akan sangat luas. Saya menyukainya dan ingin selalu bertanya meski saya akan dianggapnya sangat cerewet.

“Karena Abanya Si Anu sudah wafat.”
Apa hubungannya, batin saya. Tetapi tanpa pertanyaan itu diungkapkan, ia melanjutkan jawabannya. Pada akhirnya saya mengerti bahwa ada atau tidak adanya sesepuh sangat berpengaruh bagi ikatan tali kefamilian keturunannya. Mungkin karena anak cucu yang sungkan bahkan malas ke rumah sesepuh untuk menyambung tali kekeluargaan atau sesepuh yang tak mau menyambangi anak cucu dan mengajari mereka silsilah keluarga. Pada kata sungkan, malas, dan tak mau inilah puncak awal perpecahan keluarga.

Suami saya juga menjelaskan bahwa sejatinya semua orang yang telah dewasa tengah mengumpulkan citra. Citra baik atau buruk itu akan tampak tanpa dipamerkan. Jika seseorang menabung banyak citra kebaikan, baik bagi diri sendiri maupun orang disekitarnya, maka tak perlu meminta untuk dihormat sebab keharuman dirinya akan semerbak tercium oleh dunia yang menjadikannya penuh wibawa. Pada titik itulah nama seseorang terbangun dengan sangat kokoh.

Selanjutnya saya tak hanya mengerti tapi memahami secara dalam tentang pribahasa “harimau mati meninggalkan belang, sedangkan gajah mati meninggalkan gading”. Tanpa diperintah, orang-orang akan membedakan siapa yang mempunyai citra baik dan buruk.

Saya lalu membandingkan empat orang yang meninggal dunia di sekitar saya itu. Ternyata benar, orang-orang masih berpikir dua kali untuk tahlilan ke rumah almarhum Fulan atau Fulanah. Bahkan beberapa bulan yang lalu, saya ingat, di desa saya ada seorang kakek yang meninggal dunia. Setiap malam yang bertahlil dan mendoakannya tak lebih dari sepuluh orang. Sementara itu ada pula almarhum yang dihadiri jama’ah tahlil lebih dari lima ratus orang tiap malamnya.

Ini adalah suatu perbandingan nyata betapa kebaikan akan mengharumkan nama kita bahkan setelah kita tiada. Dan tanpa kita sadari, detik ini kita tengah membangun nama.

Tambuko, 22 Oktober 2013

17 Januari 2014

Mak Faruk; Sosok Tua Berdarah Muda

(Catatan peserta KKN-Instika posko-XVII)

Mak Faruk, sapaan akrab dari Mak Ramadhani, mengenakan abaya berwarna abu-abu dengan motif bunga yang dihiasi taburan payet manik di beberapa bagian. Sebagian dari manik-manik itu telah terpisah dari benangnya. Tetapi tidak dengan manik hijau toska yang bertumpuk per enam butir di bagian depan jilbabnya.

Sosoknya yang penuh dengan segala tingkah ketuaan sangat sesuai dengan paras sederhana di usianya. Wajah ovalnya hanya cukup ia usap dengan bedak tabur berwarna kulit menggunakan kudua telapak tangannya. Tak ada lipstik atau merah pipi, hanya celak batu serta parfum dengan wangi khas oleh-oleh dari tanah suci.

Ia berjalan melewati pematang, kemudian jalan yang semakin melebar tetapi lebih mirip sungai kering dengan sedikit sisa air mengalir di penghujung musim hujan. Dari jalan setapak penuh batu licin dan tanah becek di beberapa bagian sepanjang tujuh ratus meter itu, Mak Faruk bertemu jalan raya. Ia lalu berbelok ke arah barat, arah menuju rumah warga yang kebagian menjadi tuan rumah dalam kegiatan muslimatan kali itu. Untuk sampai di tempat yang dituju, ia harus melewati jalan beraspal sepanjang empat ratus meter lagi.

Sejumlah perempuan ada yang telah sampai. Sebagian ada yang membawa buah hatinya, namun semua dari mereka tak lupa membawa tas berisi mukenah dan sajadah untuk berjamaah asar seusai acara nanti. Itu berarti peserta harus berangkat siang hari, tepatnya pukul dua siang, di mana matahari tengah ganasnya memburu alam raya di sekitar mereka.

Setelah rampung, beramai-ramai para perempuan itu melantunkan shalawat kepada kekasih Allah, kepada makhluk pilihan nomor satu sepanjang masa, Nabi Muhammad teladan seluruh umat manusia. Lalu bersahutan amin seluruh peserta ketika tiba giliran Mak Faruk memanjatkan doa kepada sang pencipta, dengan khusuk, dengan sayakral, seperti tak ada yang lebih syakral selain ketika berhadapan dengan-Nya.

Dalam perjalanan pulang, Mak Faruk berujar kepada saya dan lima peserta KKN posko XVII Instika 2013 lainnya yang berkesempatan mengiringinya dalam kegiatan muslimatan kali itu,

“Saya tidak berilmu untuk mengungkapkan sebuah hadist, tapi berbekal keberanian saya berbicara kepada masyarakat untuk aktif dalam kegiatan keagamaan yang saya rintis. Alhamdulillah ucapan saya sedikit berpengaruh. Kini saya sudah tua, berharap anak cucu dapat melanjutkannya. Terutama kalian yang masih remaja. Dirikanlah kegiatan keagamaan yang belum ada agar bermanfaat untuk kehidupan setelah bangkit dari alam baka.”

Demikianlah sore itu, sebuah adegan yang impresif. Tentang Mak Faruk dan semangatnya; sosok tua yang berdarah muda.

***

Berawal dari menyimak petuah Ny.Hj.Nafisah, salah saeorang pengasuh di Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Raya, Guluk-Guluk, Sumenep, puluhan tahun yang lalu, tentang amal shaleh yang akan menjadi pesangon ke alam akhirat, yaitu mendirikan kegiatan keagamaan yang belum ada, semangat perjuangannya mulai terpupuk. Ia lalu membukukan kalimat itu di dalam hatinya dan menjadikannya pedoman untuk merintis komunitas muslimatan di desanya, Kasengan, Manding, Sumenep.

Sejak kecil, ibu dari tiga anak itu memang sudah gemar mengajari adik-adik di kampungnya mengaji serta aktif dalam kompolan muslimatan anak sebayanya. Hingga setelah dewasa, setelah berumah tangga, sekitar tahun 1980-an ia meminta izin kepada suaminya untuk aktif dan merintis berbagai kegiatan di desanya. Ia merasa bahagia ketika niat sholehnya direstui oleh pendamping hidupnya.

Dengan semangat dan keberaniannya, kini Mak Faruk telah berhasil merintis tiga muslimatan. Mulai dari kompolan sebelasan pagi hari Kamis per bulan, muslimatan siang hari Jum’at per minggu bertempat di masjid Raudatul Muttaqien, sampai muslimatan keliling Kasengan-Tanaer sore hari Kamis per minggu. Tentu bukanlah hal yang mudah untuk menghimbau para perempuan di desanya. Jika ucapannya tak berpengaruh, maka mustahil muslimatan itu tetap aktif terlaksana sampai saat ini.

Kini, status tua di usianya yang menyandang kepala enam pun tak menjadi halangan bagi ibu dari sang Kepala Desa itu untuk menghentikan semangat perjuangannya. Bahkan pada masa inilah puncak dari segala motivasinya ia kerahkan. Sebab ia ingin memberi tahu pada semesta bahwa kata ‘tua’ tak menjadi halangan bagi siapapun untuk tetap berjuang.

Selaras dengan kisa hidup Baojun Yuan, seorang kakek dari Cina berusia tujuh puluh enam tahun yang mulai belajar photoshop sejak umurnya yang keenam puluh. Ia tak menjadikan status tuanya sebagai aral untuknya belajar. Maka ketika ia mahir dalam memperbaiki foto rusak, ia menerima jasa dari para tetangganya tanpa pamrih. Alasannya, gurunya hanya mengajarinya belajar memperbaiki foto tapi tidak mengajarinya meminta upah. Saat ini ia telah berhasil memperbaiki lebih dari dua ribu foto rusak.

Sepintas, seperti tak mungkin itu dilakukan oleh seorang kakek tua. Tetapi Baojun Yuan telah membuktikannya, bahwa tak ada kata terlambat untuk belajar, tak ada kata lelah untuk berusaha, dan tak ada kata pamrih untuk berbuat kabaikan. Maka jika di Cina ada kakek Baojun yang mempu menjadi master photoshop tertua di dunia, di Indonesia, tepatnya di sebuah desa terpencil bernama Kasengan kecamatan Manding kabupaten Sumenep, ada Mak Faruk yang bisa diberi gelar sebagai perempuan tua berdarah muda.

Demikianlah semangat yang tak terkikis waktu. Tua telah melalui beragam proses panjang. Tua telah ditempa perjuangan yang akan mewariskan perjuangan baru untuk anak cucu.

                                                                                    Kasengan, 27 Juni 3013.

07 Agustus 2013

Menanti Kehadiran Si Ajaib



 
“Rencanakan dengan tepat, Cho! Kelak ketika telah sampai waktunya, kau akan merasakan betapa ajaibnya ada kehidupan lain di perut kita.”

Demikian bunyi pesan singkat dari seeorang kawan dekat saya yang sedang hamil. Saya menjadi berpikir betapa meruginya mereka yang menunda kehamilan. Alangkah bodohnya mereka yang tak mau hamil karena takut berat badan mereka bertambah. Dan apakah hanya karena seorang bocah yang akan meruskan kehidupan kita, kita menjadi merasa rugi mengorbankan kemewahan yang bersifat kesementaraan?

Barangkali memang benar bahwa pekerjaan yang paling menyenangkan bagi si pemalas adalah berkhayal.Tetapi si pemalas tak salah jika ia meluangkan banyak waktunya untuk berkhayal yang mengasyikkan. Dan hal yang paling sering menjadi tema setelah si pemalas menjadi seorang istri adalah menanti kehadiran seorang anak.

Ia yang akan mengisi hari-hari tuanya kelak. Mendoakannya ketika ia telah berpulang keharibaan-Nya. Bocah mungil yang akan melanjutkan langkahnya dalam kehidupan setelah kepergiannya.

Lihatlah ke sekeliling! Mereka yang tak berkesempatan memiliki seorang anak berkata bahwa terasa berat meninggalkan dunia fana untuk menuju alam selanjutnya, sebab tak ada yang akan mengiriminya sebingkis doa untuknya yang kesepian di alam baka. Ia tak dapat menciptakan penerus yang lebih baik darinya, yang akan menegakkan kebenaran.

“Aku merindukan bocah yang akan memanggilku Ibu dan memanggilmu Ayah. Aku merindukan tangan kecil yang akan mencium tanganku dan tanganmu. Aku menantikan hidung mungilnya yang ‘kan mengecup keningku dan keningmu. Aku ingin ia segera hadir dengan segala tingkah kelucuannya…”

Kamar ayah-ibumu, 21 Juli 2013

26 Juni 2013

Bukan Puteri yang Ditukar




Sore ini, 26 Juni 2013, saudara angkat saya melahirkan bayi berjenis kelamin laki-laki. Jika prediksi bidan di kampung saya benar, seharusnya ia sudah melahirkan seminggu yang lalu. Tetapi bagi kami sekeluarga waktu tak jadi soal, yang penting proses persalinan gampang serta ibu dan bayinya selamat itu sudah anugerah yang begitu besar dan patut kami syukuri.

Ketika saya menjaga bayi itu, epak angkat saya mulai bercerita bahwa saya diasuhnya sejak bayi sebab ibu tidak diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit umum daerah Pamekasan dikarenakan bekas jahitan operasi sesarnya harus dirawat secara intensif. Maka keluarga saya memutuskan agar saya dibawa pulang oleh emak dan epak, tetangga dekat yang memang sudah dianggap sebagai famili. .

“Epak takut kamu ditukar,” kenangnya cemas.
“Ndak mungkin tertukar. Kan sudah ada tanda surung ibumu di lenganmu,” bantah emak.
“Kalau ada yang nukar dengan tandanya!?” debat epak.
“Terlalu sering nonton sinetron memang begitu, Pak,” sahut suami saya yang akhirnya meredakan cekcok keduanya.

Maklum, orang awam seperti keluarga saya lebih banyak menyimpan rasa khawatir dari pada pasrah kepada pihak rumah sakit yang pastinya sudah mengusakan pelayanan maksimal. Karena saya bisa dibawa pulang, epak dan emak akhirnya merasa senang bisa merawat saya sampai ibu, ayah, dan keluarga saya diperkenankan pulang dari rumah sakit.

Yang menjadi masalah selanjutnya adalah para tetangga saya mengolok-olok saya anak yang ditukar. Ini membuat saya yang masih duduk di kelas tujuh MTs berpikir panjang dan menarik kesimpulan bahwa  mungkin tetangga saya benar, ayah dan ibu saya bukan orang tua kandung saya. Ketika saya menyampaikan beban pikiran saya sambil tersedu kepada ayah dan ibu, mereka hanya menertawai saya,

“Dulu ibu memang satu kamar dengan orang Pakong. Tapi bayinya laki-laki. Coba perempuan ibu pun boleh curiga,” kisah ibu berusaha menengkanku.
“Lagian, wajahmu itu mirip sekali dengan ayahmu. Jangan suka percaya kata tetangga! Mereka Cuma mengolok-olok biar kamu nangis,” lanjut ibu.
“Sudah jangan nangis lagi! Kamu sudah besar,” Ayah mengakhiri perbincangan dengan bijak. Saya hanya tersenyum malu.

Setelah beranjak balita, prilaku lekat saya bukan kepada orang tua kandung saya melainkan kepada epak dan emak. Mereka berdua menganggap saya seperti anak kandung mereka hingga saat ini, saat saya beranjak dewasa dan bersuami. Tetapi rasa sayang saya untuk ibu dan ayah kandung saya tentu lebih besar lagi. Karena akhirnya saya mengerti kasih sayang ayah dan ibu kandung itu laksana mata air abadi yang akan terus mengaliri setiap sungai-sungai kecil dalam kehidupan kita.