22 April 2016

Belajar Keselamatan untuk Masa Depan



Minggu pagi menjelang siang, sekawanan anak kecil berlarian menyusuri jalan tak beraspal yang di tengahnya tumbuh mengalir rumput semata kaki. Tampak ibu jari dan telunjuk kaki mereka mencengkeram leher sandal kuat-kuat saat tiba di tanjakan seram. Kemudian mereka melewati pematang yang mengharuskan melakukan beberapa lompatan. Di antara anak kecil itu ada saya, belasan tahun yang lampau, saat saya masih tidak sungkan menghirup ingus keluar ke dalam.

Bagi anak kecil di segala masa, hari libur adalah kesempatan berharga untuk bersuka cita. Anak-anak di kampung kami mengisi hari libur dengan membantu orang tua di sawah. Misalnya hari libur di musim tembakau, kami membantu mencabut bibit tembakau di bedengan untuk dipencar di atas lubang tanah gulud. Kala itu kami berangkat terpisah dari para orang tua karena ingin berlama-lama di sumber Bukoh. Sumber mata air satu-satunya di desa kami yang subur tak kenal musim.

Sumber Bukoh terletak di lereng gunung Pangelen, Tambuko, Guluk-Guluk, Sumenep. Tepat di selatan sumber adalah sawah milik tetangga saya, Pak Matjuher. Jarak yang harus kami tempuh untuk sampai di tempat itu kurang lebih satu setengah kilo meter. Memang tidaklah dekat, tetapi sensasi kegembiraan bermain percikan air bersama teman-teman tidak bisa dibandingkan dengan kebanggan membayar tiket masuk waterpark. Airnya asli proses alamiah mengalir di antara pohon dan bebatuan.

Dulu banyak sekali ibu rumah tangga berdatangan untuk mencuci, anak-anak menyemplungkan diri, atau laki-laki memandikan sapi. Sekali lagi itu dulu, belasan tahun lalu.

Saat ini, jelas sudah jarang orang-orang bertandang ke sana. Menghindari alasan malas berjalan, pipa air sudah banyak terpasang dari mulut sumber ke rumah penduduk. Jadi walau tak lagi disambagi, sumber itu tetaplah mencurahkan kesegaran pada tenggorokan yang kerontang, pada tubuh yang kepanasan, dan pada jiwa haus akan kesadaran.

Dari seorang kawan masa kecil yang mengomentari foto saya yang berlokasikan di sumber Bukoh, di media sosial, saya tahu saat ini banyak masalah terjadi. Bermula dari semakin kecilnya aliran sumber air, banyak warga berebut dalam urusan pengairan sawah. Beberapa warga juga mengeluh karena saluran pipa tidak lagi berfungsi. Saya terkesiap baru tahu urusan macam itu. Maklum terakhir berkunjung sekitar enam tahun lalu. Hidup lama di pesantren yang ketika pulang langsung dipersunting bindara shaleh, saya pun manut mengabdi di rumah mertua.

Sebenarnya itu hanya alasan saya. Untuk bisa menyerap informasi, bergantung pada seberapa kuat keinginan diri. Semua itu tidaklah terlalu aneh bagi saya yang lebih sering memilih bermalas-malasan. Tetapi ada yang lebih sinting lagi dari penyakit saya. Semua orang tahu bahwa air merupakan bagian terpenting dalam hidup. Tapi ironisnya hampir bisa dipastikan lebih banyak orang yang tidak tahu jika selasa, 22 Maret 2016 kemarin adalah Hari Air Sedunia.

Sebagian orang mungkin menyepelekan, tetapi sebagiannya lagi memilih berdiskusi mencari solusi menghadapi krisis air dan memperdalam wawasan tentang betapa berjasanya air bagi hidup. Misalnya tubuh yang jatuh bangun kita pelihara ini terdiri dari 55% sampai 78% air. Bumi yang kita huni, melayani dan menyuplai apa yang kita cari, menampung 71% air yang terus berputar ke atas ke bawah. Coba bayangkan jika tiba-tiba Tuhan menguji makhluk dengan fenomena sedot air sejagad raya. Apa yang terjadi? Barang kali kita tak jauh berbeda dengan bangkai ikan di pinggir lautan. Mungkin karena itulah, air kemudian diperingati setiap tahunnya, di seluruh dunia.

Namun itu semua hanyalah wacana. Sedangkan realitas yang ada justru berpunggungan. Sementara sebagian orang memilih jalan membela lingkungan, lebih banyak lagi yang memilih menghancurkan. Korbannya, sumber mata air kering karena pohonnya ditebang. Keadaan ini, bukan tidak mungkin pada akhirnya akan menjadi penyebab kelangkaan air bersih.

Belajar dari Masyarakat Bali dan Mollo

Di beberapa tempat di Indonesia, di Bali misalnya, pohon di agungkan sebagai arwah keramat. Jangan heran jika di jalanan pohon-pohon dipakaikan sarung motif kotak berwarna hitam putih. Itu semua menunjukkan rasa hormat, kepercayaan, rasa terima kasih, dan getaran ketakutan terhadap eksistensi diri.

Masyarakat Bali percaya bahwa lambang yang mereka ciptakan adalah jendela yang membuka pandangan terhadap dunia trensenden. Melalui kepercayaan tersebut mereka terus berusaha menjaga komunikasi dan keakraban dengan alam. Jadi akan sangat langka menjumpai penebangan pohon di sana, apalagi secara serampangan. Sebaliknya, tanah dan airnya subur, lingkungannya pun selalu terlihat eksotis dan menghibur.

Selain Bali ada yang lebih syakral lagi, orang-orang Mollo, Timor Tengah Selatan (TTS), Flores, Nusa Tenggara Timur, memandang alam sebagai tubuh manusia. Menurut mereka itulah kunci keselamatan hidup. Mereka melambangkan batu sebagai tulang, tanah sebagai daging, air sebagai darah, dan hutan sebagai paru-paru, kulit, dan rambut. Sebagai darah, air berfungsi untuk menyuplai oksigen dan mengembalikan karbon dioksida pada hutan atau yang dilambangkan sebagai paru-paru. Jika tak ada air, maka seperti tubuh kehilangan darah, lenyaplah kehidupan.

Lakukan dari Hal Sederhana

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi kondisi global yang kita bentuk sendiri? Kita coba mulai dari hal yang paling penting, yaitu membangun kesadaran bahwa kita saat ini tengah berada di ambang resiko paling berbahaya; krisis air. Aksinya, kita lakukan dari hal sederhana seperti menghemat air. Untuk berhemat, tidak perlu melakukan hal-hal sulit seperti sosialisasi, ceramah bertema lingkungan, atau memasang plakat. Kita hanya perlu mengontrol diri agar menggunakan air sesuai kebutuhan serta segera mematikan kran air supaya tidak sampai meluap dan terbuang percuma.

Sejujurnya saya tidak tahu apakah dengan cara menghemat akan punya dampak untuk melawan krisis air di masa mendatang, sementara ada lebih banyak orang yang menghambur-hamburkan. Tetapi jika ini dilakukan bersama-sama, akan lebih memungkinkan menepis nasib sengsara bagi anak cucu. Bukankah begitu?

Akhirnya untuk menutup tulisan ini saya hanya bisa mengutip ceramah mantan presiden Gorbachev dari Soviet dalam peringatan (KTT) Bumi +5 yang dilakukan oleh NGO pada tahun 1997, dalam paper yang ditulis Maria Hartiningsih untuk acara lokakarya bertema lingkungan yang diselenggarakan Satunama, Yogyakarta. Beliau mengingatkan bahwa manusia sedang menghancurkan dirinya sendiri dengan menghancurkan alam dan lingkungan. Namun alam dan lingkungan akan memperbarui dirinya sendiri secara incremental pada saat manusia tak bisa lagi bertahan.

22 April 2016.

13 April 2016

Muslihat

“Janjinya cuma seminggu, nyatanya sudah setengah bulan Mona belum juga membayar hutangnya.”

“Mungkin belum kiriman. Kerja di negeri Jiran, hanya sebagai kuli bangunan, hutang ongkosnya paling juga belum lunas.”

“Tetangga kita ini kerjanya hanya gali lobang. Selalu lupa untuk menutupinya.”

“Mau bagaimana lagi,” ada nada kecemasan dalam jawabannya."

“Na juga pinjam gelangnya Hajah Rukayyah,”sang suami menimpali lagi.

“Bukan urusan kita, Pa,” perempuan itu mencoba menyudahi.

“Hidup di mana saja kita selalu dikerjar-kejar tukang hutang. Rasanya tidak tenang.”

Susi menundukkan kepala karena sudah tidak tahan. Tiba-tiba air mukanya seperti sedang kurang darah. Tetapi akhirnya ia lega saat berhasil mengangkat tema lain dalam obrolannya. Tentang harga beras misalnya, yang akhir-akhir ini selalu naik. Andai saja ia tidak menanduskan sawahnya, tentu saja berkarung beras akan menghiasi dapurnya.

Berkarung beras di kepalanya itu hanyalah khayalan. Sebenarnya ia lebih senang menunggu tanggal muda. Gaji suaminya sebagai Sekretaris Desa yang tergolong Pegawai Negeri Sipil itu dirasanya sudah cukup menghidupi dirinya dan keluarga.

Ia telah memilih menjadi ibu rumah tanga saja. Mengikuti tren busana terbaru, mengoleksi lipstik dari yang murahan sampai yang eksklusif, PKK, arisan, dan menjalani kegiatan tidak penting lainnya yang menurutnya sangat heboh. Coba saja periksa lemari pakaiannya. Warna apa yang tidak ada? Model apa yang tidak punya? Mejikuhibiniu semuanya lengkap bergelantungan bagai bunuh diri dengan hanger. Aroma rumahnya seperti butik. Menyeruak menawarkan kedengkian para tetangga.

Baginya, tetangga di kampung itu cuma baik saat ada maunya. Contohnya meminjam baju, uang, atau meminta garam. Tetapi sebenarnya tidak. Di kota, pagar-pagar tinggi menjadi batas. Tak ada ceritanya minta atau pinjam. Tak ada juga yang bisa dimintai bantuan untuk mengerok saat masuk angin. Susi sudah buta, tak menyadarinya.

 ***

Masyarakat di desanya sudah sepakat bahwa nama Susi adalah akronim dengan kepanjangan Super Sibuk. Baginya tiada hari tanpa jalan-jalan. Paling tidak ke pasar cari kain murah yang bisa didesain jadi seperti mahal. Lumayan bisa dipakai mengantar anaknya ke sekolah atau jalan-jalan ke taman bunga di malam hari. Ya, pikirannya tak pernah lepas dari pakaian baru.

Awalnya suaminya menegur agar Susi juga menabung untuk masa depan anaknya. Suaminya bilang mata itu seperti botol terbuka yang akan terus mengisi diri sampai meluap luap. Kita sendiri yang harus menyumbatnya dengan menutup hasrat pada apa yang tidak menjadi kebutuhan. Jangankan ia menyesal, mendengarkan saja juga tidak. Buktinya saat itu ia bilang oke, besoknya sudah mulai lagi. Kondangan, khitanan, karnaval, bahkan melayat pun bajunya harus baru. Harus senada dengan kerudung, tas dan sandalnya. Menghadapi itu semua suaminya pasrah total.

Kedahsyatannya dalam berbusana dan berdandan itu membuat Musa seorang manusia jenaka di kampungnya berkomentar, “Bajunya berjanggar-janggar mirip ayam jago punya Siri.”

Lelaki mana yang tidak tertarik dengan kemolekannya. Pipinya khumaira dengan polesan merah pipi merk ternama. Garis hitam tajam tak pernah luput melingkari matanya. Ketika wajahnya terbungkus hijab, maka ia mirip artis dalam sinetron Tukang Cendol Naik Haji. Hanya menjadi rahasianya bahwa ia pernah menerima lembaran kertas merah bergambar Dr.(H.C.)Ir.Soekarno dan Dr. (H.C.) Drs. Mohammad Hatta dari lelaki berondong yang ingin mendapatkan satu ciumannya. Ah, maut rasanya. Andai gambar dalam uang kertas itu diganti dengan fotonya, maka ketenaran baginya adalah niscaya. Namun khayalan-khayalannya selalu seperti membumbui burung terbang. Ia bahkan kesal ketika mengingat malah munyuk yang ada dalam gambar uang lima ratusan tempo dulu.

Saat suaminya bertanya asal-usul uang itu, ia seperti murid cerdas yang cekatan memberi jawaban. Entah dari kakaknya yang bekerja ke Lombok atau menang arisan. Suami yang malang. Ia tidak pernah memperpanjang perkara apalagi curiga. Kalau ada penghargaan untuk kategori suami paling pengertian, Rudilah juaranya.

Susi memang tidak pernah mencurigakan. Mereka selalu tampil mesra. Tangan perempuan bertahi lalat di bawah mata kirinya itu tidak pernah tidak melingkari pinggang kanan suaminya saat membonceng. Ke mana pun Rudi pergi ia selalu mengiringi. Hanya beberapa kali mereka pernah beradu mulut. Salah satunya tentang keinginan Susi yang tidak dituruti.

“Aku pengen kebab Turki. Katanya di kampung Arab ada habib baru buka kedai,” ujarnya dengan nada manja.

“Jangan sok artis! Makan yang enak-enak tidak akan diliput jadi berita infotainment.”

Pipi Susi kembung kanan kiri. Bibirnya panjang lima centi. Bagaimana mungkin ia melewatkan kesempatan menjadi yang super tahu tentang makanan? Bukankah selama ini selalu ia yang memulai obrolan tentang kuliner di Sumenep? Seakan ia sudah menjadi juri di ajang master chef Indonesia.

Hampir semua makanan di kota berlambang kuda itu ia cicipi. Ia sering dudukdi meja Toby's dan kedai HK. Ia tahu dimana soto babat Madura yang paling dahsyat rasanya. Ia akrab dengan penjual rujak selingkuh rasa maut. Ia bahkan sudah pernah mencicipi bakso di seantero kotanya, bakso kondang 99, Adil, Kembang, Prima, tak lupa juga bakso urat di dalam pasar Anom.

Pengalamannya soal makanan yang diumbarkan berkali-kali pada tetangganya membuat mereka tertawa-tawa, walau hanya dalam hati. Seseorang yang bersuami orang Bangkalan tersenyum sinis. Dalam hati ia mengumpat,

“Dasar mulut tidak berpendidikan! Mungkin akan berhenti mengoceh kalau disumabat dengan bebek Sinjai.”

Kehebohan seakan tak pernah surut dalam hidupnya. Tetapi tidak dengan hari ini. Hari yang merupakan kiamat bagi dirinya. Mona mengatakan yang sejujurnya pada Rudi tentang siasat Susi yang meminta bantuannya untuk meminjam uang.

“Memangnya dari mana aku tahu kalau kamu sedang punya uang, Rud?” katanya tanpa tedeng aling-aling.

Rudi terdiam lama sekali. Pikirannya buntu. Lebih parah lagi saat Na juga bertandang ke rumahnya dan melaporkan hal yang senada.

“Susi juga menyuruhku meminjamkan gelang Hajah Rukayyah. Sekarang sudah dilelang pegadaian. Kita semua sudah dengar kabar kan kalau gelangnya 24karat dengan berat 20 gram.”

Hanya sekejap saja semuanya menjadi nyata. Perlahan, pikirannya mundur jauh sejauh-jauhnya. Siapa yang ianikahi? Tidak lain adalah maling di rumahnya sendiri.

Dari kejauhan tampak Susi berkibar-kibar dengan gaun merah terang dan kerudung kuning menyala-nyala. Wajahnya berubah ketika menyadari Mona, Na, dan suaminya duduk bersama-sama. Ia berdiri di ambang pintu dengan muka pasrah dan tungkai yang bergetar-getar tak mampu menopang tubuhnya. Dengan dua kata Rudi berhasil merobohkan keangkuhannya.

“Kita cerai!”

Renungan Ikan-Ikan

Apakah aku bagian dari ikan-ikan teri yang terdampar di laut maya? Mungkin salah, aku lebih suka disebut nelayan yang menjala ikan dan melepaskannya kembali dalam buai lautan.

Ikan-ikan yang hidup dalam dunianya lebih memungkinkan bahagia ketimbang berkorban melenyapkan rasa lapar. Maka makanlah yang baik, yang tumbuh di sisimu dan buanglan segala ketidaknyamanan.

Ibu guru menyuapi muridnya dengan apa? Berpikirlah berkali-kali tentang sesuatu yang akan kau bagikan. Jika hanya perasaan, laporan keseharian, dan berita pribadi, kau kunci saja dalam lemari. Lebih aman dan dapat kau kenakan kembali.

Berbagilah apa yang pantas! Maksudku, ikanteri perempuan tak menutup kepalanya. Gerai pesonanya ungkapkan rahasia. Hanya sesekali saja foto selfi dengan hijab berjemaah pada cosplay merk racun. Memangnya apa yang membanggakan?

Ikan-ikan malang menjadi santapan ikan liar yang mengendus lalu tertawa-tawa. Nikmatilah indahmu di cermin! Karena sekarang alis daun akasia bisa dibeli di pasaran. Lalu untuk apa ikan lohan menggelar gaya dalam konser tak berpenonton? Lokan yang palsu, rumput laut buatan, dan segala warna yang menipu.Tak cukupkah semua itu membuatmu haru. Kasihan...

Aku menatap ikan-ikan yang terdampar di laut maya. Apa aku bagian dari mereka? Yang menuliskan keresahan diri dalam bentuk renungan ini? Oh, mungkin ya, mungkin juga TIDAK.

Tambaagung Ares, 25/01/2016.

10 Februari 2015

Pengalaman Pertama: Berkenalan dengan Mikrofon

Dalam hidup kita membangun sebuah cerita. Ketika cerita itu berlalu ia berubah nama menjadi kenangan. Masing-masing kita memilikinya. Namun tidak semua kenangan dapat dibagikan. Ada yang menyimpannya dalam ingantan untuk dirinya sendiri, ada pula yang mengisahkannya lewat lisan atau tulisan. Hari ini aku ingin berbagi tentang pengalaman pertamaku berkenalan dengan mikrofon. Mengenai kesannya nanti, aku juga tidak tahu bagaimana. Yang pasti aku hanya ingin menceritakannya kembali kepadamu.  

Ramadhan dua ribu dua lalu aku sedang menikmati masa kanak-kanakku. Orang-orang desakku mengenalku sebagai anak perempuan yang berjiwa maskulin, gampangnya mereka menyebutku tomboy. Bukan karena kampungku melahirkan banyak anak laki-laki dan sedikit anak perempuan. Bukan. Tetapi entah mengapa rasa nyaman dengan gaya dan tingkah kelelakian sulit kutepis. Ditambah lagi teman-teman sepermainanku memiliki kemiripan denganku seperti, Beng Nu Jaim dan Bak Rofida Arifin. Kami sudah biasa memanjat pepohonan ketika pulang sekolah. Atau sesekali bersepeda ke bukit Pangelen. Masa-masa itu begitu jelas dalam ingatanku.

Ketika itu aku baru kelas tiga SD (Sekolah Dasar). Siang harinya aku belajar ilmu agama di MI (Madrasah Ibtidaiyah) Matla'ul Ulum. Anak-anak kampung masa dulu rata-rata bersekolah dua kali sehari. Jadi wajar saja jika aku begitu bergembira menyambut bulan puasa yang berarti aku akan menikmati liburan panjang. Ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Untuk mengisi kekosongan siswa, guru-guru MI memanfaatkannya dengan mengadakan kegiatan pondok Ramadhan. Panitinya terdiri dari guru dan alumni yang berstatus santri.  

Para siswa bermalam di sekolah selama tiga hari untuk mengikuti kursus kilat bahasa Arab, Nahwu, dan pengajian kitab Dalilun Nisa'. Empat hari berikutnya diisi dengan acara lomba dan malam puncak. Salah satunya adalah karaoke cinta Rasul. Diberi nama cinta Rasul karena yang tengah populer saat itu adalah album Haddad Alwi dan Sulis yang bertajuk Cinta Rasul.  

Aku benar-benar ngeri dan sama sekali tidak berminat untuk mengikutinya. Aku lebih tertarik menyemarakkan lomba puisi, lari kelereng, atau sepeda pelan. Tetapi kakakku memaksaku untuk ikut. Sementara aku tetap bersikukuh untuk tidak ikut. Titik.  

Sifat keras kepalaku dilaporkan kakak kepada ibu. Ibu membujukku dengan berbagai hal. Aku tetap menolak. Tapi ayah tiba-tiba ikut-ikutan merayuku dengan iming-iming baju baru saat tampil. Ia berpesan kepadaku untuk membuang rasa malu dengan menganggap penonton seumpama bongkahan batu. Aku tersenyum. Betapa hatiku bermekaran saat membayangkan baju baru. Tak pedulikan apapun rintangannya. Akhirnya aku sepakat.  

Minggu pagi aku dibonceng ayah ke pasar Pakong, Pamekasan untuk memilih baju yang dijanjikannya. Ayah memilihkanku busana muslim atas bawahan berwarna hijau dengan motif Telettubies. Semakin bulat tekadku untuk berlomba saat hal yang kuincar telah resmi dalam genggaman.  

Kakak memilihkan lagu berjudul Ummi. Ia menuliskan liriknya untuk kuhafal. Aku begitu bersemangat untuk tampil. Diam-diam aku berlatih lebih giat dari yang kakak tahu. Bahkan kuhafal lirik lagunya sebelum tidur sampai terlelap. Entah apa yang kumimpikan setelahnya.  

Hingga tiba di hari inti. Rasa percaya diriku semakin mantap ketika menyaksikan yang lain tampil dengan bagus. Pastilah aku bisa tampil lebih baik dari mereka, batinku menyemangati. Sampai tiba giliran namaku dipanggil. Usai riuh tepuk tangan penonton, terjadi debaran yang begitu dahsyat di jantungku. Kulangkahkan kaki dengan wajah pucat dan kepala yang libung seperti orang mengalami tekanan darah rendah. Pikiranku gamang. Wajah ayah, ibu, kakak, dan teman-temanku membayang jelas dalam ingatan. batinku kembali berbisik; kamu pasti bisa!

Dengan sekujur tubuh yang terasa dingin, kuraih mikrofon di hadapanku. Penonton bertepuk tangan kembali. Aku semakin tidak bisa berkonsentrasi. Pikiranku ke mana-mana. Dan yang paling parah badanku seperti mengapung di antara langit dan bumi.

Ketika kuucapkan kata pertama ummi Tangan kiriku yang menggenggam mikrofon bergetar hebat. Sementara yang lain kuangkat tinggi seperti orang berdoa. Empat kali kuucapkan kata ummi, empat kali pula tangan dan suaraku saling berebut untuk gemetar. Sungguh aku sudah tidak tahan lagi saat penonton mulai menertawakanku. Tetapi tidak, aku tidak boleh turun. Aku berdiri dengan gerakan khas penari latar Sulis dalam video klipnya. Ya, aku berhasil menuntaskan lagunya. Usai mengucapkan salam kuturuni tangga panggung dengan pikiran dan perasaan yang berkecamuk. Kupikir tidak ada hal memalukan yang lebih besar dari pada itu.  

Sesampainya di rumah, kakak beserta orang tuaku tampak gembira. Mereka membesarkan hatiku dengan berkomentar bahwa penampilanku bagus. Aku tahu itu hanya gombal. Bahkan aku sendiri tidak selera mengungkit kejadian itu lagi.  

Kini keadaannya sudah berbeda. Pantasnya aku harus bangga saat mengingatnya: satu, karena tidak mengecewakan keluargaku. Dua, karena tidak meninggalkan panggung sebelum lagu selesai. Tiga, karena pengalaman itulah aku merasa terbiasa ketika berhadapan dengan mikrofon. Dan yang terakhir, aku merasa bangga karena bisa berbagi denganmu, dengan kemampuan menulisku yang kupikir sangatlah sederhana.  

Tambuko, 7 Februari 2015.  

04 Januari 2015

Dari Madre Sampai ke Inspirasi




Sudah cukup lama saya dan suami terpikir untuk memulai sebuah bisnis. Keinginan itu bahkan sudah ada sejak usia pernikahan kami baru menginjak sebulan. Tetapi kami selalu kebingungan tentang apa yang harus dilakukan.

Mula-mula kami sepakat untuk berternak ayam petelur. Dengan mempertimbangkan modal yang tidak sedikit dan segala resikonya kami sepakat. Berbekal uang yang cukup, Eng (panggilan untuk suami) memesan kurung ayam yang berukuran panjang untuk lima ratus ayam broiler lengkap dengan tempat pakannya. Kami sudah berencana menempatkan kandangnya di sawah belakang dapur. Sampai di sini saya membayangkan usaha ini mungkin akan mengubah kehidupan kami.

Sayangnya, setelah semuanya siap dan tingggal membeli ayam, Abah mertua saya bertandang ke rumah. Beliau mengutarakan ketidaksetujuannya pada usaha yang akan kami jalankan. Alasannya begitu sederhana, beliau tidak mau pada akhirnya kami menanggung rugi seperti famili di Ambunten yang juga rugi dalam usaha ini. Tetapi belakangan saya menyadari bahwa alasan itu sangatlah klise. Sebenarnya Abah tidak ingin terpisah dari Eng. Beliau khawatir Eng tidak punya kesempatan untuk ke rumah Ambunten jika kami terlalu sibuk.

Saya maklum karena Eng adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga mertua saya. Kalau Abah sakit, yang paling sering disebutnya adalah nama Habibi. Bahkan semua perabotan rumah, mulai dari piring, sendok, ember tahu, sampai karung kedelai diberi nama HBB. Saya menyadari sepenuhnya bahwa dialah anak yang paling disayang. Akhirnya semua peralatan yang telah kami beli terborong dengan separuh harga pada pembisnis ayam petelur dari desa tetangga. Harapan saya tertelan. Kami balik badan.

Usai kejadian itu, kami lebih sering berada di Ambunten dari pada di Tambuko. Eng membantu usaha pabrik tahu tempe yang dirintis Abah Senin sampai Jum’at, Sabtu Minggunya kami membantu mengajar di SMP Islam swasta yang dikelola oleh Paman saya, suami dari sepupu Ibu.  Tetapi lama kelamaan kami berpikir bahwa tak nyaman rasanya bila terus bergantung pada keluarga. Tak nyaman pula bila kami harus terus bolak-balik Ambunten-Tambuko dalam waktu yang begitu sering. Maka kami memutuskan untuk memulai usaha mandiri.

Bukan kebetulan, almarhum Ayah saya meninggalkan sebuah bangunan toko yang dulu dikelola Kakak. Setelah Kakak memulai usaha di Bali, toko itu perlahan bangkrut. Toko-toko di kampung memang lebih sering dihutangi dari pada dibeli. Buktinya buku bon hutang bejibun dari nama dan angka. Walhasil toko tersebut menjadi lebih besar pasak dari pada tiang. Akhirnya kami mengalami apa yang orang-orang sebut bangkrut.

Bertahun-tahun toko itu mati, sunyi. Setiap sore, saat menghidupkan lampu, saya merasa nestapa memikirkan betapa teganya saya menelantarkan sesuatu yang Ayah tinggalkan. Kadang-kadang saya menangis dalam hati memikirkan perjuangan ayah yang saya akhiri dengan kesia-siaan. Kadang pula ada sinar terang dalam diri yang meyakinkan saya untuk membukanya kembali, suatu hari nanti. Entah kapan.

Setengah bulan yang lalu Ibu berembuk dengan Eng tentang seseorang yang akan menyewa toko. Ibu menyampaikan bahwa orang tersebut akan membuka warnet. Eng sepakat dan memasang tarif tahunan. Tetapi saya merasa ada aura kepedihan di mata Ibu. Saya yakin beliau berharap kami sendiri yang membuka toko itu kembali. Tetapi beliau juga pasti mengerti bahwa tak mudah mengumpulkan banyak biaya sebagai modal. Kami semua ada dalam lingkaran dilema. Dilema panjang yang menunjukkan jalan baru.
 
Untunglah Ibu belum menyampaikan kepada calon penyewa toko itu. Karena seminggu setelah berembuk, Eng mengajak saya ke pasar untuk belanja peralatan es krim. Ya, kami akan berjualan es krim! Tiga hari setelah mulai berjualan, kami berjumpa kendala lagi. Pintu ruang freezer kulkas keluarga kami rusak sehingga es tidak mudah membeku. Kami sudah nekat dengan usaha ini, maka selanjutnya pun harus lebih nekat. Kami butuh kulkas baru khusus freezer, tetapi dari mana uang untuk membeli? Saya akhirnya merelakan cincin pemberian Eng yang dibeli dari tabungan kami selama ini. Untuk apa memakai emas? Bukankah emas memang bentuk dari tabungan yang bisa dijual sewaktu-waktu jika ada keperluan? Walau Eng berat hati saya coba membujuknya dengan kemampuan yang saya punya.
 
Kulkas baru datang. Semangat baru semakin menggebu. Dimulai dengan basmalah, kami membuka toko kembali dengan berjualan es krim serta pentol ikan cakalan yang diracik Eng sendiri. Sebelum menuliskan catatan ini, saya selalu teringat Madrenya Dewi Lestari. Imajinasi saya menampilkan gambar Tansen yang mendapat warisan kunci saat menghadiri pemakaman seseorang yang sama sekali tidak ia kenal. Dengan kunci itu, ia mebuka sebuah toko roti “Tan de Bakker” yang mati suri selama lima tahun.  

Tansen juga mendapat kejutan dari dalam lemari pendingin!  dia mendapatkan Madre.  Madre adalah adonan putih keruh atau adonan biang hasil perkawinan dari tepung, air dan fungi bernama Saccharomyses exiguous yang lahir pada tahun 1941. Dengan bimbingan Pak Hadi, orang yang menyerahkan warisan, Tansen begitu bersemangat memulai kehidupan barunya. Tansen jua sering menulis di blog menceritakan kisah yang ia alami, mulai dari silsilah keluarga baru hingga Madre.

Saya tertegun mengingatnya. Ada banyak pelajaran yang dapat dipetik. Betapa kami harus mempelajari  berbagai hal dalam menjalani hidup dan memiliki pemikiran yang matang dalam menatap masa depan. Kisah rajutan Dee itu begitu menginspirasi bagi saya. Seakan ruh Madre mengalir dalam kehidupan kami, berdenyutan di nadi ini.


Tambuko, 03 Januari 2015

15 Maret 2014

Mengobati dengan Hati

Senin yang dingin, 3 Maret 2014. Sekitar pukul 06.30 WIB, suara berat perempuan memanggil nenek. Dengan suara tongkat dan gesekan panjang sandalnya nenek keluar dan menyeru kepada saya agar membuatkan teh untuk tamu yang datang. Karena pintu luar terbuka, saya tahu yang bertamu adalah Bibi Sohati, kemenakan sepupu nenek. Setiap kali bertamu, bibi memang menolak disuguhi kopi atau teh karena penakit diabetes yang dideritanya. Nenek pun mengerti ketika saya mengurungkan niat menuju dapur. Saya duduk menemani bibi di luar.

Nenek kembali ke kamrnya dan datang lagi membawa roti. Roti yang kemarin paman bawa untuknya. Belum bertanya perihal kedatangan bibi pagi-pagi betul, ia sudah memulai cerita bahwa baru saja ia datang dari Polindes untuk memeriksa penyakitnya pada dokter I suaminya bidan E yang tempat peraktinya sekitar 50 meter ke barat rumah saya. Tetapi kalimat lanjutannya bernada kecewa karena dokter I belum bangun dan istrinya mengatakan tak mau membangunkannya dengan alasan dokter I lelah karena kerja lembur.

“Saya disuruh nunggu sampai jam Sembilan.”

Saya mengerti mengapa bibi memilih untuk menunggu di rumah bukan pulang ke rumahnya. Selain karena ingin bertemu nenek, jarak dari rumahnya ke Polindes, yakni sekitar 1 km, cukup jauh baginya yang harus berjalan kaki dengan beban penyakit di usianya yang hampir berkepala lima. Ketika saya bertanya mengapa tidak periksa ke bidan E saja, ia menjawab hanya bisa lebih baik jika dokter I yang mengobatinya. Saya tak dapat melanjutkan pertanyaan lagi dengan kata mengapa, karena jawabannya dirasakan oleh bibi sendiri.

Lalu terjadi obrolan panjang antara nenek dan bibi. Saya beranjak ke dapur untuk mempersiapkan sarapan. Beberapa jam kemudian ibu keluar dan mengingatkan kepada bibi bahwa telah sampai pukul sembilan. Bibi Sohati berangkat ke Polindes lagi.

Nenek belum beranjak dari kursinya, bibi sudah datang lagi dan mengatakan kepada kami bahwa dokter I sudah berangkat bertugas ke Puskesmas di Kecamatan Guluk-Guluk. Bibi pamit pulang dan menolak disuguhi sarapan.

Demikianlah adegan yang klise di pagi hari. Sederhana tetapi membuat iba hati. Sebuah keratan kisah tentang pasien yang gagal bertemu dokternya. Tentang bibi Sohati yang pulang dengan membawa sepaket harapan beserta rasa kecewanya.
                                                                                                ***
Masyarakat dan Kesehatan

Kesehatan memang mahal. Tapi pelayanan yang baik masih sulit didapatkan. Kenyataannya memang begitu. Masyarakat khususnya di pedesaan yang menderita masalah medis sudah merasa cukup dengan mengontrol kesehatannya ke dokter. Dokter mendiagnosa lalu memberi obat, pasien membayar lalu pulang, selesai. Atau dengan gambaran lain, dokter menjadi penyedia jasa bayaran, pasien menjadi konsumen. Kaku, dan tak jauh berbeda dengan pembeli dan penjual di toko kelontong.

Masyarakat kita belum kritis dalam persoalan kesehatan. Contoh kasusnya, begitu dikatakan tekanan darahnya berapa, mereka sudah mengangguk-angguk seolah sangat paham. Padahal sang dokter belum menjabarkan apakah yang dimaksud tekanan darah atas atau bawah. Umumnya yang dilaporkan adalah tekanan darah atas, tetapi apakah tekanan darah bawah tak penting untuk juga diketahui? Sayangnya masyarakat tak tahu caranya bertanya, sementara dokter enggan memberi tahu.

Ini masih kasus sederhana tentang bagaimana sulitnya informasi kesehatan didapatkan oleh masyarakat awam. Belum lagi jika menyentil persoalan pelayanan kesehatannya. Akan ada banyak cerita yang menguap di masyarakat kita.

Sementara itu, sekolah kedokteran semakin gencar diminati oleh para pelajar. Terbukti dengan data yang kompas.com sajikan pada Sabtu, 25 Mei 2013 lalu tentang jurusan kedokteran yang menduduki peringkat pertama dari sepuluh jurusan favorit lainnya. Ini bukan hal yang sangat mengejutkan tentunya, mengingat tenaga medis memang cukup dibutuhkan di negeri ini. Tetapi jika ilmu kedokteran dijalankan sebagai sebuah bisnis, niscaya mengundang keruwetan dari sebuah bisnis. Dan sesuatu yang tidak dilandasi dengan cinta akan berakhir sia-sia.

Generasi Patch Adams

Mari kita teladani kisah inspiratif Patch Adams. Ia adalah revolusioner sosial. Dokter yang mendirikan Gesundeit Institut, klinik pengobatan gratis di West Virginia. Ia telah merawat lebih dari 15.000 orang dengan metode yang bukan semata-mata pendekatan klinis yang diterapkan rumah sakit pada umumnya, melainkan menyembuhkan dengan humor dan kebahagiaan. Pak Adams dan rekan-rekannya rela menjadi badut untuk menghibur anak-anak yang sakit, atau menjadi sahabat yang mengajak pasiennya berjalan-jalan menuruni bukit.

Lalu mari kita bandingkan dengan para tenaga medis di sekitar kita. Amati dengan cermat bagaimana mereka memperlakukan pasien dan setebal apa sekat bernama formalitas yang mereka bangun di atas gengsi menyandang pangkat terhormat. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi adalah emosi yang diekspresikan dengan amarah yang terlontar tanpa rasa bersalah. Maka akhirnya boleh jadi pasien sehat secara fisik tapi hidupnya menyedihkan.

Saya yakin bahwa tenaga profesional di bidang kesehatan yang merasa lelah, marah, dan malas tidak menyadari potensi yang menarik dalam hubungan antara dokter dan pasien.tentu saja pekerjaan yang demikian tidak didasari dengan cinta. Sehingga mereka melupakan prinsip dalam ilmu kedokteran yang harusnya melibatkan rasa sayang pada orang lain. Jika prinsip utama ini dipegang teguh oleh para dokter, maka kasus Bibi Sohati tidak akan terjadi. Endingnya akan muncul generasi Patch Adams yang mengobati dengan hati.

Tambuko, 13 Maret 2014
Catatan: Beng Nu, saya yakin kamulah generasi Patch Adams itu… :))
                 

Membangun Nama

Dalam satu pekan, dua orang tetangga saya meninggal dunia susul menyusul. Belum genap tujuh hari, dua orang desa tetangga pun wafat bergiliran. Maut memang tak pandang usia. Tua atau muda kalau sudah sampai pada janjinya akan pulang ke rahmatullah kapan pun saja.

Lumrahnya, tahlilan di desa dilaksanakan usai shalat isya’. Berhubung yang wafat bukan hanya satu atau dua orang, maka ada pula tahlilan yang digelar bakda shalat asar. Tentu kondisi macam ini akan sangat menyibukkan kaum lelaki. Tetapi yang terpenting dan menarik bukanlah bahasan tentang kesibukan mereka, melainkan pernyataan suami saya tentang bagaimana orang-orang yang wafat “membangun nama” semasa hidupnya.

Istilah membangun nama yang baru saya dengar itu hanyalah karangannya semata saat saya mulai belajar silsilah keluarganya dari bani Jalalain.

“Eng, kalau Si Anu itu termasuk kemenakan sepupu dari Ayah kenapa ia tidak pernah ke rumah?”

Pertanyaan saya yang hanya satu potong itu ia jawab dengan beberapa bahasan. Dan begitulah saat saya bertanya apa saja, tentang bola, elektronik, otomotif, sampai kancing dan resleting pun cakupan bahasannya akan sangat luas. Saya menyukainya dan ingin selalu bertanya meski saya akan dianggapnya sangat cerewet.

“Karena Abanya Si Anu sudah wafat.”
Apa hubungannya, batin saya. Tetapi tanpa pertanyaan itu diungkapkan, ia melanjutkan jawabannya. Pada akhirnya saya mengerti bahwa ada atau tidak adanya sesepuh sangat berpengaruh bagi ikatan tali kefamilian keturunannya. Mungkin karena anak cucu yang sungkan bahkan malas ke rumah sesepuh untuk menyambung tali kekeluargaan atau sesepuh yang tak mau menyambangi anak cucu dan mengajari mereka silsilah keluarga. Pada kata sungkan, malas, dan tak mau inilah puncak awal perpecahan keluarga.

Suami saya juga menjelaskan bahwa sejatinya semua orang yang telah dewasa tengah mengumpulkan citra. Citra baik atau buruk itu akan tampak tanpa dipamerkan. Jika seseorang menabung banyak citra kebaikan, baik bagi diri sendiri maupun orang disekitarnya, maka tak perlu meminta untuk dihormat sebab keharuman dirinya akan semerbak tercium oleh dunia yang menjadikannya penuh wibawa. Pada titik itulah nama seseorang terbangun dengan sangat kokoh.

Selanjutnya saya tak hanya mengerti tapi memahami secara dalam tentang pribahasa “harimau mati meninggalkan belang, sedangkan gajah mati meninggalkan gading”. Tanpa diperintah, orang-orang akan membedakan siapa yang mempunyai citra baik dan buruk.

Saya lalu membandingkan empat orang yang meninggal dunia di sekitar saya itu. Ternyata benar, orang-orang masih berpikir dua kali untuk tahlilan ke rumah almarhum Fulan atau Fulanah. Bahkan beberapa bulan yang lalu, saya ingat, di desa saya ada seorang kakek yang meninggal dunia. Setiap malam yang bertahlil dan mendoakannya tak lebih dari sepuluh orang. Sementara itu ada pula almarhum yang dihadiri jama’ah tahlil lebih dari lima ratus orang tiap malamnya.

Ini adalah suatu perbandingan nyata betapa kebaikan akan mengharumkan nama kita bahkan setelah kita tiada. Dan tanpa kita sadari, detik ini kita tengah membangun nama.

Tambuko, 22 Oktober 2013