29 Oktober 2022

Candu Panggilan Nabi Ibrahim

Dua tahun sebelum wafat, ibu sudah mempersiapkan keberangkatannya ke tanah suci. Beliau menyimpan baju putih pemberian kakak dan berulang kali berpesan bahwa baju itu akan dipakai untuk berhaji. Namun keinginan beliau terputus garis maut. Ibu pergi sebelum impian mulianya menjadi kenyataan. Itulah kenangan terberat yang harus kupikul setelah kepergiannya. 


Badal haji yang kakak tunaikan untuk beliau tidak cukup membuatku puas, karena aku tidak menyaksikan langsung prosesnya. Aku berharap suatu hari nanti bisa menghajikan beliau sendiri. Tentunya setelah rukun hajiku ditunaikan. 


Barangkali itu terkesan dramatis, tetapi segala sesuatu menyangkut orang tua selalu menjadi yang utama dalam hidupku. Maka ketika seorang sahabat bernama Indah Susanti, menitipiku salam untuk ibunya di perkuburan Ma'la, Mekah, aku mencatatnya sebagai agenda wajib. Aku memposisikan diri sebagai Indah, nun jauh di Madura hanya bisa berkirim salam lewat kalamullah dan sedekah, tanpa mampu mengunjungi langsung nisan ibundanya, maskot terpenting dalam hidupnya.


Sejak bayi indah sudah ditinggal ibunya merantau ke Arab Saudi. Di usianya yang ketiga, saat ibunya usai melaksanakan ibadah haji, tiba-tiba penyakit asma yang diderita kambuh dan mengantarkan beliau pada lorong ajal. Indah kecil belum mengerti apa-apa. Ia hanya bisa menyaksikan teman-teman sebayanya bermanja dalam buaian manusia yang mereka panggil ibu.


Bayangan kesedihan Indah kembali melintas ketika secara tak sengaja aku melihat mayat membujur di masjidil Haram. Ternyata selepas shalat fardu di masjid Nabawi dan masjidil Haram memang selalu digelar shalat jenazah bukanlah shalat ghaib, melainkan benar-benar shalat jenazah. Pemandangan itu memberikan peringatan bahwa kematian seperti semakin dekat. Terlebih saat bertawaf, saat doa-doa dari manusia di seluruh dunia dipanjatkan, aku membayangkan seakan manusia bangkit dan berkumpul di padang mahsyar, hanya mengharap pertolongan Tuhan dan air dari telaga Nabi Muhammad SAW. 


Kesadaran akan dosa-dosa seumpama hantaman ombak besar yang bergelombang. Aku seperti tenggelam dalam dunia lain. Memohon pengampunan dan kehidupan indah setelah kematian. Bayangan gemerlap dunia tak kuhiraukan. Dadaku hanya penuh dengan kesedihan sekaligus kebahagiaan, yang sepertinya itu adalah puncak perasaan paling megah yang pernah aku cicipi. Dan aku selalu merasa ketagihan. 


Sedahsyat itulah rasanya, mencecapi kenikmatan yang tidak dikunyah. Aku mulai mengerti mengapa orang-orang yang telah berjumpa dengan Baitullah selalu berujar rindu rindu rindu dan ingin kembali. Rupanya panggilan Nabi Ibrahim adalah suara paling merdu yang menjadi candu. Semoga kita semua dapat mendengar seraya menjawab panggilan itu. 


Mekah, 10 Oktober 2022

25 Oktober 2022

Menapaki Tanah Baginda

Alam kota Madinah sangat gersang dan tandus, namun ketika memandangnya ada keindahan dari sisi lain. Mungkin karena keberkahan yang Allah letakkan dengan menjadikan kota ini sebagai tempat bersemayamnya manusia paling agung sehingga nuansanya menyuguhkan keteduhan. Madinah juga menjadi alam yang begitu dicintai karena dulu pernah mewarnai kehidupan Nabi.


Kesempatan untuk menjelajahi kota ini, aku peroleh di hari ketiga. Rombongan kami yang berjumlah 49 orang akan menziarahi tempat-tempat bersejarah seperti, masjid Bilal, Masjid Quba, Gunung Uhud, masjid Qiblatain, Baqi', dan masjid para sahabat Nabi. Tak lupa juga, kami akan mengunjungi kebun kurma yang menjadi ikon wisata kota Madinah.


Bus kami tiba di masjid Quba pada pukul 8.00 pagi Waktu Arab Saudi. Selain harus beradaptasi dengan cuaca panas yaitu 39°C, kami juga harus berdesakan untuk bisa masuk ke dalam masjid yang pertama dibangun oleh Nabi sekaligus masjid pertama dalam sejarah Islam itu. Ra Syafiuddin Uud sebagai mutowif dalam rombongan kami mengisahkan riwayat bahwa masjid ini dibangun atas dasar keimanan dan Nabi berpayah-payah sendiri di dalamnya. Bahkan ketika para sahabat menyuruh Nabi berhenti, Nabi menolaknya, dan meminta agar para sahabat ikut membantu, "Diyarokum-diyarokum, tuktab atsarokum", [Biarlah biar, kerjakanlah jika kalian ingin membantu], begitu arti yang kutangkap dari penjelasan ustad Uud.


Memandangi masjid ini dari kejauhan, aku begitu takjub. Seolah ikut merasakan keberadaan Nabi pada zaman dahulu. Membayangkan Nabi menyentuh setiap puing-puing bagunan dan bahkan menyisakan bekas langkah beliau di sepanjang pelataran masjid. Ya, kepalaku memang selalu penuh dengan visual. Ia menampilkan rangkaian kejadian-kejadian seperti sebuah film dokumenter.



Bagian yang paling mudah membuatku larut dalam tangis adalah ketika membayangkan masa kecil Nabi sebagai seorang Yatim dan miskin. Kemudian setelah enam tahun sang ibu juga menghadap Rabbnya. Betapa Nabi Muhammad kecil telah diuji kerentanan dan mentalnya sebagai persiapan menjalani tugas sebagai Rasul Tuhan di masa depan.


Lalu aku teringat anak-anak yatim di kampungku. Terutama kemenakanku, anak almarhum Muzammil Omeng, namanya Imam. Setiap aku dan suamiku berkunjung, ia selalu berbinar, datang ke pangkuanku dan kadang juga bersedia aku cium. Tak pernah aku jumpai ia bersedih karena kepergian ayahnya di usianya yang masih balita. Tetapi bagaimana pun seorang yatim, tetap membutuhkan fondasi mental kuat serta dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekatnya. Itulah mengapa Nabi begitu mencintai yatim dan menyeru kepada umatnya agar berbelas kasih kepada mereka.


Siang itu aku larut dalam sujud di dalam masjid Quba. Merasakan penderitaan Nabi dari sisi masa lalunya. Menjadi insan yatim piatu yang juga merindukan ayah ibu. Merenungkan betapa perjalanan ini, sebagian besar adalah sekolah yang harus aku kaji lembar demi lembar. Semoga kita semua segera terpanggil menjadi tamu Allah, dengan rejeki yang tak disangka-sangka, seperti hujan yang kadang turun secara tiba-tiba.


10 Oktober 2022

22 Oktober 2022

Hadiah untuk Dua Oktober


Bulan Oktober menjadi bulan penuh traumatis dalam hidupku, karena ujian tragis yang aku alami selalu bertepatan di bulan itu. Tahun 2020 lalu, insiden kecelakaan yang aku alami di desa Rajun, Pasongsongan, Sumenep, hampir menyeret pada sakaratul maut. Disusul Oktober tahun berikutnya, suamiku juga mengalami kecelakaan di desa Payudan Daleman, Guluk-Guluk, Sumenep, tepat di tanggal yang sama. Maka wajar jika Oktober tahun ini aku begitu cemas mempersiapkan diri menghadapi ujian apa yang akan Tuhan berikan. 


Ternyata segalanya nyaris di luar dugaan. Seperti mimpi, Emak mertua tiba-tiba mengajak kami umroh, pemberangkatan bulan Oktober. Oktober ketiga setelah dua tahun sebelumnya kami menerima ujian bertubi-tubi; wafatnya ibu, seratus hari kemudian disusul nenek, dan empat puluh hari berikutnya abah mertua. Karenanya orang-orang bersimpati dan memberi istilah hidupku "ditebang maut".


Demikianlah sekelumit gambaran tentang betapa cepatnya Tuhan memanggil keluargaku susul menyusul. Tersisalah kakakku yang kemudian aku anggap sebagai ibu, dan suami yang selalu menjadi tiang terkuat dalam hidupku. Selebihnya aku hanyalah seorang yatim piatu. 


Aku tak punya kelebihan apa-apa. Sering aku sebutkan bahwa kemampuan terbaikku hanyalah mencuci piring. Sejak kecil aku memang terlatih untuk membersihkan perabotan kotor. Bahkan ketika bertamu, aku tak bisa membiarkan orang lain mencuci piring bekas makanku. Maka ketika seorang kawan bertanya tentang amalan apa yang aku punya, dengan mantap aku menjawab bahwa anugerah kebahagiaan dalam hidupku, selain dari doa orang tua dan guru, aku peroleh dari kegemaranku mencuci piring. 


Mencuci piring bagiku adalah kegiatan kontemplatif. Ketika mencelupkan kain atau spons ke sabun lalu mengusapkannya pada piring kotor, aku suka merenungkan hal-hal menyenangkan. Kadang-kadang juga berisi kalimat pengharapan yang aku anggap itu doa. Aku bahkan lebih lama berdoa saat mencuci piring dibandingkan setelah shalat. Sangat kurang ajar memang, tetapi aku lebih yakin harapan-harapanku saat mencuci piringlah yang lebih sering dikabulkan Tuhan. 


Barangkali alasan ini terkesan klise, namun apakah Anda pernah mendengar kisah Rahman Pananto? Seorang pemuda asal kota Malang, Jawa Timur, sukses menjadi chef sushi di sebuah restoran Jepang di kota Fairfax, Virginia, AS, hanya dengan mengawali kariernya sebagai tukang cuci piring. Bermodal nekad, ia lalu belajar memotong sayuran menggunakan pisau bagus. Lalu, impiannya menjadi seorang chef terwujud ketika dia berani mengambil langkah kursus memasak. 


Banyak lagi kisah inspiratif dimulai dari hal sepele, karena kita semua memang hanyalah sebuah titik. Ada yang diam, ada pula yang bergerak memulai. Dan memulai tidak harus selalu dengan langkah besar. 


Bisa dengan mengerjakan hal-hal sederhana secara ikhlas dan penuh suka cita. Seperti mengelap kaca, menyetrika, atau jika mampu dengan membaca. Yakini saja, barokah akan mengalir lewat jalan tak terduga. 


Seperti kejutan yang aku terima di bulan Oktober tahun ini. Aku meyakini sepenuhnya adalah hadian untuk ujian dua Oktober sebelumnya. Tuhan menguji ketabahanku dengan berbagai cara; kematian dan penderitaan. 


Lalu aku menyambut undangan Nabi Ibrahim AS, saat Tuhan memerintahkan beliau menyeru kepada setiap manusia untuk berhaji dan umroh. Aku berkesempatan melakukan ibadah umroh di titik, di mana aku sendiri seperti belum percaya. Ya, aku menjadi tamu Allah. Segalanya terasa sangat istimewa, sebab ada Baitullah di hati setiap mukmin. Begitu juga di dalam hatiku, aku memimpikannya, sejak lama. 


22 Oktober 2022

08 Oktober 2022

Bersaudara Tanpa Batas

Malam itu di dalam bus terhal aku memandang dengan nanar jalanan kota Madinah. Aku kembali terkenang masa lalu, tentang asalku, dan rangkaian jalan nasibku. Seperti belum percaya, dengan begitu mudahnya aku bisa sampai di tempat ini. Kota penuh Barokah tempat Rasulullah berjuang mendakwahkan Islam, tempat turunnya ayat-ayat Madaniyah, tempat berkumpulnya umat Islam untuk berziarah ke maqbarah manusia paling agung itu. Maka aku mengimani bahwa undangan menjadi tamu Allah bisa untuk siapa saja, sama sekali tak terkait materi. 


Di sepanjang jalan dari bandara King Abdul Aziz, Jeddah, hatiku bergetar, sesak oleh perasaan haru, rindu, dan kenangan tentang almarhum ayah ibu. Ayah yang begitu mencintai Nabi sampai sering mengigau bershalawat barzanji sampai tuntas, dan ibu yang sebelum wafatnya mempersiapkan baju putihnya untuk dipakai di haramain. Namun beliau berdua sudah tiada, beliau lebih dulu pergi sebelum berkesempatan ziarah ke Mekah dan Madinah. 


Sesampainya di raudah, yang pertama berbicara adalah air mata. Rasa syukur begitu dalam aku panjatkan atas rahmat Allah telah memberi jalan untuk sampai di tempat yang diimpikan seluruh kaum muslimin dengan perantara kerja keras juga doa mama dan almarhum abah mertuaku semasa hidup. Sulit dipercaya, tetapi kita semua hanyalah daun-daun yang mampu diterbangkan Tuhan kemanapun Dia kehendaki. 


Lebih dalam lagi, aku memohon ampunan atas dosa yang kian hari kian menggunung, tak mampu kubendung. Bahkan ketika Tuhan memelukku dengan cintanya, diri ini selalu ingkar dan kufur. Aku berharap rahmat Allah atas lahirnya Kanjeng Nabi Muhammad untuk mengampuniku, keluargaku, kerabatku, guru-guruku, tetanggaku, sahabatku, juga seluruh kaum muslimin dan mukminin di seluruh dunia. 


Di tempat ini, Tuhan mengirimiku teman-teman baru. Aku berjumpa dengan Kak Rubinah dari Pakistan dan Ummi Kulstum dari India. Pertemuan itu terjadi di dalam masjid Nabawi usai melaksanakan shalat subuh. Tiba-tiba ada dua orang berpelukan melepas rindu di sampingku. Komunikasi dalam bahasa Inggris mereka membuat saya paham bahwa di tahun-tahun sebelumnya, mereka pernah berjumpa di perjalanan ibadah umroh. Di pertemuan ini mereka seolah tak percaya Tuhan menjumpakan kembali di tempat yang sama, di antara ribuan manusia. 


Mereka berdua menyapaku  yang tengah tersedu. Dalam bahasa Inggris yang belepotan aku mencoba membangun komunikasi, menanggapi pertanyaan-pertanyaan mereka. Aku bercerita tentang kerinduan terhadap almarhum ayah dan ibu dan kesempatan beribadah di sini yang masih mustahil dalam benakku. 


Tangan kami saling merangkul. Kak Rubinah bahkan mengecup tanganku seperti sudah sangat akrab. Lalu aku teringat sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, yang artinya "Seorang Muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya". Seperti Nabi mengajarkan keramahtamahan dan kerendahan diri, kami melebur menjadi saudara tanpa batas. Kami saling bertukar nomor ponsel, bertukar doa, dan berharap di tahun-tahun yang akan datang akan ada perjumpaan berikutnya. Semoga. 


Madinah, 8 Oktober 2022

08 Juni 2022

Momentum Terbaik Bersama Abah Mertua

Siang itu aku sedang mengupas kulit ari kacang tanah untuk diolah menjadi kacang klici ketika almarhum Abah mertua memanggilku ke dekat sumur. Buru-buru aku mengelap kedua tangan dengan sarung yang aku kenakan. Harap maklum jika aku begitu bersemangat memenuhi panggilan beliau karena biasanya beliau lebih suka diam. Ucapannya sehari-hari hampir bisa dikalkulasi, jadi aku sangat penasaran tentang kepentingan di balik panggilan beliau kala itu. 


Setiba di dekat sumur, abah memintaku duduk di lincak kecil samping beliau. Sekali lagi, kami jarang sekali mengobrol sehingga aku kelihatan gugup dan salah tingkah. 


Abah adalah sosok sederhana yang tak pernah mengumbar materi yang beliau miliki. Tingkah kesederhanaan beliau biasanya dicerminkan dalam penampilan kaos putih tipis, sarung lusuh dan kopiah putih buatan orang Bugis yang beliau beli sepulang dari tanah suci. Lebih sering lagi bertelanjang dada memperlihatkan tubuh kurus ringkih beliau yang selalu membuatku rindu. 


Pernah suatu kali ada seseorang pembeli bertanya kepada Abah siapa pemilik pabrik tahu tempe yang ia kunjungi. Abah hanya tersenyun seraya menjawab bahwa orangnya ada di dalam. Dari para pekerja, pembeli itu akhirnya tahu bahwa sosok bertumbuh tinggi kurus tak mengenakan baju itulah pemilik pabrik yang ia tanyakan. 


Kekagumanku terhadap Abah justru karena beliau pendiam. Setiap kata yang terlontar dari beliau selalu tentang hal bermanfaat dan memiliki makna yang dalam. Mengenai itu aku pernah memberanikan diri bertanya, beliau menjawab dalam diamnya ada istighfar untuk almarhum kakek dan nenek. 


Kecintaan beliau terhadap orang tua dikisahkan emak saat naik pesawat dalam perjalan haji ke tanah suci tahun 2003. Abah menangis sejadi-jadinya tanpa suara karena kakek dan nenek tidak tertakdir melaksanakan rukun islam yang kelima. Alasan lebih dalamnya, hanya batin abah yang merasakan. Barangkali syukur dan cinta jika diaduk akan menjadi perasaan yang dahsyat. 


Abah memperbaiki posisi kopiah putihnya sebelum berbicara di lincak bambu dekat sumur tua di halaman rumah, siang itu. Kebetulan seluruh keluarga sedang istirahat. Pembeli tahu juga lumayan sepi. 


Mula-mula abah membuka percakapan tentang perumpaan kemurnian harta seperti mutiara di lautan, siapapun yang menginginkannya harus menyelam, berenang, dan siap bertemu dengan hiu paus. Saya menangkap, rejeki harus dijemput bukan ditunggu. Ketika rejeki itu diraih dengan kerja keras, maka hasilnya akan murni dan manis. Namun beliau menambahkan bahwa harta itu seperti hidangan yang hanya bisa kita lihat, sementara cara menikmatinya, menurut prinsip beliau adalah dengan disedekahkan dan ditunaikan jadi ongkos haji ke Baitullah. 


Aku masih berpikir ganjil benar siang itu. Tiada ombak, Abah memanggilku hanya untuk mengatakan itu? Sebelum aku terheran-heran lebih jauh, beliau lanjut memberi nasehat tentang betapa pentingnya bekerja keras untuk hidup yang lebih baik, terutama untuk mampu meletakkan posisi tangan di atas. Beliau menekankan harta menjadi penting dengan tujuan baik, bukan untuk berbangga-bangga diri. 


Dengan gaya berbicaranya yang santai, Aba meminta saya agar sering-sering mengajak suami sowan kepada guru. Kata beliau keberkahan hidup berasal dari doa guru. Beliau juga bercerita tentang kawan alumninya sewaktu nyantri di Pondok Pesantren Raudatul Ulum Sumber Wringin, Jember, yang memberikan separuh pendapatannya per bulan untuk gurunya, seperempatnya lagi untuk yatim dan fakir miskin, seperempatnya lagi untuk dirinya dan keluarganya. Benar-benar tidak masuk akal, pikir dangkalku. 


Otakku semakin berjalan ke mana-mana, mengutuk diri yang malas untuk bersedekah dan mengagumi tokoh dalam cerita Abah. Barangkali Abah juga mengerahkan rezeki yang beliau terima dalam spirit berbagi yang senada. Tebakanku bersumber dari cerita suami pernah memergoki beliau usai shalat Jum'at di masjid tengah memasukkan uang dalam jumlah yang besar ke dalam kotak amal setelah jamaah bubar. Sementara aku sudah bangga memasukkan uang dua ribuan setelah numpang wudu bahkan mandi di masjid. 


Abah adalah pribadi yang tenang dan cukup teliti dalam perhitungan zakat. Beliau begitu bersemangat mencari anak yatim serta janda lanjut usia. Terutama pada momen hari raya. 


Kedermawanan beliau aku saksikan dalam kesempatan lain ketika mendengar langsung beliau mengisahkan hikayat orang mati yang ingin bangkit dari kubur hanya untuk bersedekah, bukan beribadah. Waktu itu aku sedang mencuci piring, Abah duduk di pintu seperti pendakwah disimak saudara ipar dan ibu mertua. Beliau menjelaskan bahwa ibadah kita tidak cukup untuk membayar rahmat Tuhan. Nilai tambah yang harus dikumpulkan adalah dengan jalan sedekah. Hitung-hitungannya, usia yang batas normalnya hanya sampai di angka enam puluh, sementara yang rata-rata manusia lakukan hanya kewajiban rukun islam. Maka apa yang kelak bisa dipersembahkan kepada Tuhan? Begitulah abah mewarisi nasihat kepada anak-anaknya. 


Aku merasa beruntung ditakdirkan menjadi anak menantu di keluarga ini. Banyak pelajaran yang aku dapatkan selama sembilan tahun bersama beliau. Salah satu yang paling berharga adalah bagaimana beliau gigih dalam bekerja menjemput rezeki Tuhan sehingga mampu bersedekah gila-gilaan. Semoga amal baik beliau menjadi cahaya indah di barzakh, menjadi penuntun ke surga-Nya, serta mampu dilanjutkan oleh keturunannya.

Ganding, 08 Juni 2022

26 Maret 2022

Gus Muwafiq dan Sisi Keunikannya

Kedatangan Gus Muwafiq menjadi yang paling dinanti-nanti. Maka ketika acara seremonial dimulai, petanda beliau sudah berada di lokasi. Tampak pasukan Banser dan beberapa aparat kota Mojokerto mengawal beliau memasuki pintu utama menuju panggung. Para hadirin yang masih berkeliaran di sekitar bazar serentak mengambil posisi di bawah terop. Suasana menjadi tenang. 


Ini adalah kali pertama saya berjumpa langsung dengan Gus Muwafiq. Selama ini hanya menonton ceramah beliau di youtube. Berita terakhir yang saya tonton adalah pembelaan beliau terhadap Rara si pawang hujan di acara MotoGP Mandalika yang diklaim syirik oleh beberapa ustad online berjenggot panjang. 


Pembawaan Gus Muwafiq yang tenang dan selalu santai dalam menyikapi persoalan malah semakin membuat saya kagum. Bahkan cermah beliau dalam peringatan Hari Air Sedunia kali ini sangat padat dan sarat makna. Durasi yang cukup panjang bahkan tak terasa. 


Beliau memulai dengan sentilan untuk kaum muda milenial yang mulai bangga mengidolakan dan meneladani gaya hidup orang luar negeri. Contoh yang Gus Muwafiq sebutkan adalah betapa bodohnya orang mengkonsumsi sarden layaknya orang Eropa yang harus menghadapi musim dingin panjang, sementara kita bebas memancing dan menikmati ikan segar setiap hari, di segala musim. Tanpa perlu repot mengawetkan makanan sebagai cadangan. 


Bagi beliau sangat aneh masyarakat Indonesia makan dengan sumpit, sebab budaya sumpit berangkat dari latar belakang negara yang dulu kekurangan kayu sehingga memasak makanan dengan potongan kecil-kecil agar cepat matang dan mudah dikonsumsi menggunakan bantuan dua kayu panjang. Lebih aneh lagi peringatan Hari Air Sedunia ini digelar oleh masyarakat Trawas, Mojokerto, yang jelas-jelas kaya akan air dan tidak ada tanda-tanda akan mengalami krisis air. Yang lebih pantas menggelar acara ini adalah Qatar, Israel, Libanon atau Negara lain yang sedang dan akan mengalami kelangkaan air. 


Beliau menegaskan agar kita jangan pernah berpikir untuk menyamakan gaya hidup kita dengan orang luar negeri, karena itu tidak visibel dan visioner. Yang perlu kita ciptakan adalah semangat pemuda tangguh yang siap memanajemen dan menjaga sumber mata air kehidupan Indonesia dari para penjajah yang mulai melirik dan mengancam untuk merenggutnya. Hadirin bertepuk tangan seperti teraliri semangat juang yang luar biasa membakar. 


Meski Gus Muwafiq menggunakan bahasa Jawa, sebagai orang Madura saya masih sanggup mencerna apa yang beliau sampaikan. Terutama bagian favorit yang terus saya ingat, ketika beliau mengajukan beberapa pertanyaan retoris: apakah bangsa kita akan berkiblat ke Eropa? Dijawab dengan sebuah naskah "Salah Asuhan", Apakah bangsa Indonesia akan berkiblat ke Arab? Tidak, selain shalat, ditulis dengan "Di Bawah Lindungan Kakbah", apakah kita akan meniru Belanda? Tidak sebab "Tenggelamnya Kapan van der Wijck", apakah murni Indonesia? Tidak jika itu "Siti Nur Baya".


Saya dan Dek Uus ternganga dengan model ceramah Gus Muwafiq yang luas bahkan sampai membahas banyak film Hollywood yang berkaitan dengan karakter suatu bangsa. Tak lupa juga beliau menyebutkan betapa apiknya serial drama Upin Ipin yang di dalamnya mengandung unsur pemersatuan ras dan suku bangsa. Seperti makanan ringan, materi yang beliau sampaikan renyah dan bergizi. 


Tidak banyak berbicara soal air, isi ceramah beliau lebih menitikberatkan pada cara bagaimana bangsa kembali menemukan jati diri, sebab bangsa kita saat ini mulai tidak percaya diri. Para kaum muda malah ikut-ikutan mengidolakan orang luar dan membanggakan kebudayaannya. Beliau menyarankan tentang langkah yang perlu segera dimulai dengan membangun karakter yang kuat agar benteng pertahanan tidak mudah ditembus oleh penjajah. 


Pada menit terakhir Gus Muwafiq mengenang betapa rindu di masa lalu sangat dramatis dan melankolis. Dua insan yang sedang kasmaran berjuang membeli amplop merah jambu ke pasar. Mengarang surat dengan rangkaian diksi indah. Beliau mencontohkan lirik Kiai M.Faizi yang dahsyat, "Kau tusuk di sana, berdarah di sini". Namun kini, semua itu tinggal kenangan, saat rindu menjadi tiada arti dijajah selfi dalam sekali klik sampai di tujuan dengan caption klise tak bermakna. 


Puncaknya Gus Muwafiq memanggil Kiai M.Faizi untuk mempersembahkan penampilan gitar mengiring beliau bernyanyi. Para seniman lain membujuk Kiai Faizi yang enggan untuk maju. Terlihat ada yang mendesak dengan berteriak "harus mau". Peserta ikutan-ikutan meneriakkan hal serupa. Pada akhirnya hadirin bertepuk tangan menyaksikan beliau melangkah di tengah barisan kursi penonton. 


Sebagian besar penonton berdiri berdesakan maju ke dekat panggung untuk mengambil foto dan video. Gitar dipetik, vokalis mencari nada yang pas. Mengalun lah lagu Tanah Airku ciptaan Ibu Sud bersamaan dengan gerimis. Disusul hujan deras sepaket dengan angin dan petirnya. 


Cuaca buruk dan segala cobaan hari ini berubah terasa syahdu. Nada-nada yang tersampaikan menjadi semacam penutup yang sempurna. Lamat-lamat air mata menggenang ketika samapai pada lirik, tanah ku yang kucintai, engkau kuhargai. Saya mundur, menjauh dari panggung membawa perasaan betapa beruntungnya saya hari ini. 


23 Maret 2022


24 Maret 2022

Mojokerto: Kota Kecil yang Menyimpan Surga

Kalau Anda melintas di Mojokerto dan hanya sekedar lewat saja, yang tekenang di ingatan hanyalah panas, gersang, polusi dan kota tiada kesan. Tapi siapa sangka, di balik pemandangan hambar, kota Onde-onde ini memiliki surga kecil nan menawan. Kemarin, tanggal 23 Maret 2022 saya berkesempatan membuktikannya. 


Kesempatan itu diberikan oleh guru saya, Kiai M.Faizi yang hendak menghadiri undangan peringatan Hari Air Sedunia di Trawas. Beliau mengajak rombongan terdiri dari guru dan anggota komunitas Pemulung Sampah Gaul (PSG) SMA 3 Annuqayah. Kami berangkat dengan satu kendaraan pada jam 2 dini hari. 


Rombongan kami tiba di Trawas pukul 6:30 WIB, sementara acara akan dimulai jam 10:00 WIB. Jadi kesempatan menyambangi beberapa destinasi wisata masih tersisa tiga jam-an. Sesuai petunjuk ahli, Kiai M.Faizi, kami akan ke Petirtaan Jolotundo, tempat mata air terjernih ke-2 di dunia setelah zam-zam, yang berlokasikan di gunung Penanggungan.


Di beberapa titik, pemandangan tak biasa seperti mengajak kami berhenti. Rumah-rumah berderet sesak di atas tebing terlihat sangat asri dan unik. Kami juga melewati gerbang hutan pinus, taman Ghanjaran, dan beberapa kedai kali di sepanjang jalan. Karena memang belum sarapan, kami ingin merasakan indahnya makan di atas lencak di tengah sungai seperti sering kami tonton di facebook dan youtube. 


Menepilah panther touring yang dikemudi suami dan memesan sarapan delapan porsi. Sembari menunggu, kami semua sibuk mengambil gambar. Maklum, ketidaktertarikan berfoto hanya ada di zaman Wiro Sableng karena waktu itu belum ada ponsel pintar. Saat ini media menjadi menarik hanya jika disertai gambar. 


Perjalanan dilanjutkan kembali usai pemadaman kelaparan. Saya selalu dibuat takjub dengan pemandangan kiri kanan jalan. Hampir tidak ada spot yang tidak indah di tempat ini. Suasana sejuknya pun membuat saya merasa betah. 


Tak lama berjalan, kami berjumpa dengan pertigaan dan belok kanan menuju tempat wisata Petirtaan Jolotundo. Di pos kami disodori tiket masuk dengan membayar sepuluh ribu per kepala. Meluncurlah rombongan ke atas hutan yang begitu alami dan tersembunyi. Pohon-pohon tua gendut diselimuti kain begitu dihormati. Aroma dupa menguar sangat tegas membuat kepala saya limbung. Nuansanya persis di Bali. Kemungkinan besar dipengaruhi oleh sejarah bersatunya Raja Udayana dan Putri Gunapriya Dharmapatni yang kemudian membangun Candi Jolotundo sebagai wujud rasa cinta dalam menyambut kelahiran anak mereka, Airlangga. Begitu yang saya baca lewat penelusuran mbah google. 


Beruntungnya karena kami tidak bertepatan dengan akhir pekan sehingga suasna di sekitar Petirtaan Jolotundo sangat lengang. Hanya ada satu rombongan keluarga yang lebih dulu tiba dan membasuh badan di bawah pancuran. Mereka berdiri di antara ratusan ikan besar kecil dan beragam jenis di dalam kolam. Dari tato pura di tubuh dua remaja itu meyakinkan saya bahwa mereka dari keluarga Hindu yang tengah melakukan ziarah suci.


Selanjutnya seorang ibu masuk ke pemandian bagian kiri dan melakukan ritual mandi kembang. Lalu saya mengganti posisi meminum tiga teguk air menggunakan kedua tangan. Disusul rombongan lain yang berminat, sementara yang tidak memilih mandi di toilet dan mengganti pakaian. 


Agenda Kiai Faizi selain ke acara yang sudah disebutkan juga akan bermain ke rumah teman beliau, Gus I Wayan Kanjeng Kliwon. Rumahnya memang berada di sekitar Jolotundo, tak sampai keluar dari pos penjaga. Hanya dua menit kami sudah tiba di halaman Gus Kliwon yang dikenal juga sebagai Petilasan Mahapatih Narotama. Konon Gus Kliwon terlahir dengan rambut gimbal dan sangat disegani bahkan oleh tetua umat Hindu di tempat ini, kisah Kiai Faizi. Gus Kliwon dan keluarganya sangat berpengaruh di masyarakat. Kesaktian beliau masyhur di kalangan para penakluk jin. Maka ketika saya menjumpai seseorang di acara, dengan ciri rambut gimbal sepaha dan kopiyah coklat muda saya yakin itu adalah beliau. 


Kami dipersilakan masuk oleh istri Gus Beny, menantu Gus Kliwon. Begitu masuk ke dalam ruangan, ada sekitar sepuluh gitar dan beberapa biaola berdiri di sana. Saya ingat, Kiai Faizi pernah bercerita mendapatkan hadiah gitar dari Gus Beny. Ternyata semua alat musik itu memang diperjualbelikan. Saya yakin harganya tentu tidak murah. Sengaja tidak bertanya karena saya memang tidak berniat membeli, cukup melihat-lihat saja. 


Di atas gitar-gitar dan biola itu, terpampang lukisan semar, perempuan penari kecak dan Dewi Sinta. Melihatnya, jiwa seniman saya bangkit dan ingin pula mengoleksinya. Namun keinginan itu saya pendam. Saya lebih banyak diam. 


Kiai Faizi keluar dari ruangan mengajak rombongan lanjut ke acara. Namun sebelumnya kami sempatkan berfoto bersama teman beliau Paox Iben dari NTB yang kebetulan tengah berada di sana. Paox berkeliling ke beberapa daerah di Nusantara sejak tahun 2015 dengan sepeda motor besar Kawazaki Versys 650 cc dalam misi menguatkan komunitas adat serta berkampanye tentang seni dan budaya Indonesia. 


Pada pukul sepuluh lewat sedikit, kami tiba di lokasi acara. Tampak sekelompok grup musik menghibur di atas pentas. Peserta sudah penuh tepat waktu. Bazar di gelar di atas karpet merah menawarkan produk unggulan Kota Mojokerto. Kami berkeliling mencicipi manisan belimbing wuluh, kripik tela, dan beberapa kudapan lainnya. 


Acara molor hingga pukul setengah satu siang karena sang penceramah, Gus Muwafiq, belum juga tiba. Panitia semakin getol menghibur di panggung. Sementara peserta tampak sudah tak sabar. 

Bersambung... 

(Karena tulisan berikutnya akan sangat panjang. Berisi ceramah beliau dan tampilnya Ra Faizi ke panggung untuk berduet dengan Gus Muwafiq beserta para seniman lainnya).