29 Maret 2012

Petualangan (Calon) Jurnalis

(Mozaik 1)



Oleh: Ummul Corn



Kami menunggu sampan di pelabuhan Dungkek, Sumenep. Sampan tujuan Sepudi yang kami pesan akan tiba pukul 11:00 WIB nanti. Jadi kami harus sabar menanti sekitar tiga jam lagi.



Berenam kami duduk di tembok dermaga dengan bawaan tas ransel bejibun yang luar biasa beratnya. Aku memandang ke laut, menyaksikan ombak yang bergerak pelan dan teratur, perahu-perahu berlayar seperti berebut untuk sampai.



Pagi itu, 21 Maret 2012, langit benar-benar cerah. Awan berarak memamerkan tariannya. Matahari benderang dengan sengatnya yang mengganas. Laut memancarkan warna perak diterpa cahaya surya. Warnanya biru berneka selapis-lapis. Aku membayangkannya seperti kue lapis raksasa yang terbuat dari ketan dengan variasi warna biru yang menggoda.



Salah satu kawan yang ikut adalah seorang hafidhah. Ia melantunkan ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan laut untuk kami. Itu cukup mendamaikan hati kami yang kalut karena takut. Dalam hati aku membatin, subhanallah... janji Allah untuk menjaga kemurnian al-Qur’an hingga akhir zaman ternyata tak pernah ingkar. Bak Imla’ telah menyimpan hafalan 30 juz al-Qur’an dengan sempurna di dalam jiwanya.



Belum hilang ketakjuban kami, tiba-tiba Kak Puput mengeluarkan kamera dari saku jaketnya. Jadilah kami berpose. Kami memang ‘klik mania’, semacam sindrom narsis melalui kamera.



Ada yang mengambil gambar dengan posisi duduk bloking di sisi kiri, berlatar laut, dan beberapa perahu di sisi kanannya. Kami bergantian saling jepret dengan gaya khas kami yang tentu saja tidak seperti pose untuk Kartu Tanda Penduduk. Kami pun tak terlalu amatir dalam hal memotret. Tahun 2011 lalu, saya mengikuti acara “Merekam Dunia dengan Kamera” yang diselenggarakan oleh SMA 3 Annuqayah dengan fasilitator Lora M. Mushthafa, salah seorang pengasuh muda di Annuqayah yang andal dalam hal fotografi. Dari acara itu, setidaknya saya punya sedikit bekal bagaimana menghindari pengambilan gambar yang buruk.



Karena asyik memotret, kami sampai lupa bahwa waktu sudah menginjak siang. Panas terasa menyengat lansung pori-pori kulitku. Aku tak sadar bahwa aku mengenakan kemeja dan kerudung berwarna hitam. Mungkin akulah yang paling merasa panas sehingga aku mengajak mereka pindah ke sebuah lencak kosong di dekat penjual gorengan.

Sepanjang jalan dermaga itu adalah pasar kecil. Di pinggir-pinggir jalan para pedagang berjejer memanjang. Pembeli berdesakan saling tawar-menawar. Sebagian ada yang mengangkut dagangan berupa kerupuk dan mie instan ke sebuah perahu untuk dikirim ke kepulauan. Anak-anak kecil mandi telanjang di tepi laut yang dangkal. Mereka terlihat asyik bermain air, tak peduli deru mesin sampan yang begitu bising.



Makin siang hidungku makin jelas mengendus bau amis. Meski aku bukan seorang vegetarian, tapi aku tidak menyukai bau ini, terasa memualkan perut. Itu adalah aroma ikan yang dikeringkan berbaur dengan bau kerang. Aroma ini familiar. Aku bisa menciumnya kala aku lewat di pinggir pesisir, seperti di pertigaan jalan Prenduan, Talang Siring, Pasongsongan, dan pasar-pasar tradisional yang menjual ikan kering.



Untuk menghibur diri kuputar lagu dari ponselku. Daftar musik yang ada di ponselku itu adalah lagu-lagu lawas yang kerap tak disukai banyak teman. Bahkan aku dijuluki makhluk klasik karena masih menyimpan lagu jadul. Salah satunya adalah It’s My Life acoustic version milik Bon Jovi, Lucky-nya Jason Mraz feat Colbie Caillat, Love Buzz kepunyaan Nirvana, Gomenasai lantunan Tatu, Caught In a Web kebanggaannya Dream Theater, dan Hysteria teriakannya Muse. Kalau pun lagu Indonesia ada itu juga milik penyanyi lawas, seperti Melly Goeslow, Agnes Monica, dan Sheila on7.



Lagu bagiku adalah segalanya, karena ia merupakan seni tarik suara yang dapat menyegarkan otak dan membangkitkan gairah hidup. Jadi wajar saja kalau aku tidak menyukai lagu pop anak band saat ini. Lagu-lagu Indonesia yang bermunculan di era ini bagiku terkesan sembarangan dan tak serius. Lagu seolah hanya menjadi candu untuk memunculkan popularitas belaka. Oleh karenanya tak heran para artis senitron dan layar lebar berduyun-duyun terjun ke dunia musik, meski kualitas suara mereka pas-pasan serta dengan lirik dan aransemen musik yang lagi-lagi tidak digarap dengan serius.



Selesai aku mengutuk musik anak band tanah air, tapi bukan berarti aku tak cinta Indonesia. Buktinya aku masih menyetel lagu Rindu dan Cinta Mati milik Agnes Monica. Dari daftar yang ada, lagu itulah yang cukup disukai oleh teman-teman. Jadi terpaksa aku memutarnya berulang-ulang sampai aku sendiri bosan dan menekan tombol moratorium.



Karena asyik mengobrak-abrik musik, tiga jam berjalan begitu singkat. Seorang awak sampan telah melambai dikejauhan. Kami menggendong kembali ransel yang sedari tadi tergeletak di atas lencak bersama satu botol air mineral berukuran 1500 ml dan beberapa makanan ringan. Kami bergegas mempersiapkan diri menaiki perahu yang akan mengantarkan kami ke sampan. Oke kawan, petualangan akan segera dimulai!



Bersambung...



28 Maret 2012

12 Januari 2012

Desa Kentut

Oleh: Ummul Corn

Hampir seluruh warga desa A, dibuat resah dan panik oleh kejadian yang benar-benar tidak masuk akal. Masyarakat seolah mendapat teror luar biasa atas terjadianya persoalan aneh itu. Bagaimana tidak, sudah dua hari lamanya bau-bau busuk serupa kentut terus menyerang dari seluruh penjuru arah dan menyesaki kampung-kampung.

Setiap kali menghirup udara, yang tercium hanyalah bau busuk tak sedap, mengalahkan aroma pengharum ruangan dan parfum dari yang harganya murah sampai yang paling mahal. Desa A, lebih cocok diberi julukan ‘desa pembungan limbah’ atau ‘muara comberan’. Sebab bau-bau kentut itu seakan menyerang untuk memproklamirkan kemerdekaannya para seluruh warga. Terlebih kepada Pak Kades yang kerap kali pingsan karena tidak biasa menghirup bebauan macam itu. Sementara istrinya terus meneguhkan Pak Kades agar tak pernah gentar menghadapi persoalan yang menurutnya lebih menyerupai teka-teki.

Menanggapi masalah tersebut, Pak Kades menjadi gundah, para aparat desa bingung, dan seluruh warga panik bercampur heran.

Di balai desa, Pak Kades duduk di menja kerjanya dengan raut muka tertekuk lima. Tampak beberapa jumlah kerutan di jidatnya. Sorot mata sipitnya mengarah entah ke mana. Pandangan kosong. Sementara lima jemari tangan kanannya bergantian mengetuk meja. Ruangan hening. Yang tersisa hanya suara jemari beradu dengan meja menghasilkan irama tak karuan.

Ia tidak habis pikir, mengapa kejadian kali ini begitu tidak masuk akal. Sedangkan menurutnya, sepanjang sejarah desa yang telah ia pimpin selama dua periode itu selalu aman dan makmur. Bahkan sejak ia didaulat untuk menjadi kepala desa, justru banyak penghargaan yang diraih baik dari tingkat kecamatan maupun kabupaten. Lama-lama ia menjadi berang dan mengumpulkan seluruh aparat desa untuk bermusyawarah dalam rangka memecahkan persoalan tersebut.

“Kejadian macam apa ini?!” bentaknya sambil mengepalkan tinju di atas meja keras-keras. Alhasil seluruh peserta rapat yang hadir tersentak kaget.

Hening kembali. Tak ada yang berani bersuara. Forum kali ini seolah hanya dikuasainya.

“Pokoknya saya tidak mau tahu. Besok lusa, bau-bau busuk itu harus terbasmi. Cari sumbernya dan berantas! Mengerti?!” lagi-lagi Pak Kades tidak bisa menahan emosinya yang semakin membuncah.

“Kami sudah berusaha mencari sumber bau tersebut. Tetapi seperti angin, bau itu terus menyerang dari seluruh penjuru arah. Kami malah semakin bingung,” ujar koordinator bagian kesehatan dan kebersihan lingkungan lirih. Ia takut Pak Kades akan bertambah murka.

“Alah! Masak mengurus kentut saja tidak becus. Jangan cuma alasan, mari semua bangkit! Kerahkan seluruh warga untuk membasmi bau-bau bangsat itu. Cari cara apapun. Berapa pun biayanya akan saya bayar,” jawabnya kemudian yang menandakan rapat berakhir sampai di situ.

Serentak para aparat desa yang hadir bangkit dan melangkah pulang untuk mengerjakan mandat dari Pak Kades. Di jalan, ada satu dua orang yang melangkah sambil berbisik-bisik mengenai kegusaran Pak Kades. Mereka sedikit kecewa mengapa ia menghadapi masalah ini dengan emosi yang tinggi. Setahu mereka, pemimpin itu mengayomi. Bukan malah membentak-bentak dan menyalahkan bawahan serperti kejadian barusan. Tetapi kekecewaan tersebut tertepis kembali oleh besarnya kekhawatiran mereka pada masalah bau kentut yang menimpa.

Maka siang itu juga para penduduk memulai aksi mereka. Namun sebelumnya mereka dikumpulkan di balai desa untuk diberi arahan tentang tata cara penyerangan bau-bau tak sedap itu sesuai dengan ide dari pengurus desa tim Kesehatan dan Kebersihan lingkungan. Beberapa aparat desa yang bertugas membagi-bagikan pengharum ruangan, serbuk pembasmi bau comberan, dan masker tampak sibuk berseliweran di tengah-tengah kerumunan warga.

Suasana tampak ramai. Dari suara Pak Kades yang mewanti-wanti warga menggunakan pengeras suara, suara bisik-bisik warga yang menjadikan tempat tersebut serupa sarang lebah, ditambah lagi dengan tangisan anak-anak kecil yang tidak tahan dengan bau kentut.

“Jadi... mulai siang ini kalian pakai masker itu sebagai cadar. Seperti ini... eee.. eee... Kalian juga harus menaburkan serbuk pembasmi bau comberan di selokan comberan masing-masing. Dan yang terakhir, semprotkan pengharum ruangan itu. Kalau perlu, di halaman rumah juga bisa disemproti,” Pak Kades tampak antusias mewanti-wanti warga sembari mencontohakan cara menggunakan ketiganya. Maklum tak semua orang desa pernah mengenal apalagi menggunakan alat-alat tersebut.

Begitulah desa A yang mencoba untuk membasmi perkara aneh yang tidak ditemukan sebab-musababnya itu. Pekerjaan tersebut dilakukan dengan semangat 45 karena desa itu sedang getol-getolnya mempersiapkan acara penyambutan Bapak Bupati yang akan berkunjung ke desa A yang terkenal aman, sejahtera, penuh potensi, dan cinta lingkungan. Acara tersebut memang menjadi program kerja kabupaten S mengingat pentingnya kesehatan dan kebersihan lingkungan. Dan inilah yang paling membuat Pak Kades geram. Ia tidak kuasa menanggung malu membayangkan desanya tetap dalam keadaan bau kentut seperti itu. Maka sepertinya, apapun sanggup ia lakukan untuk tetap mempertahankan citra desanya.

Sungguh amat disayangkan. Kejadian aneh yang hanya berpangkal dari kentut itu membuat prestasi dan prestise Pak Kades rusak. Bagaimana tidak, surat kabar kini sering memberitakan perihal desa A sebagai tempat yang jorok dan tidak lagi cinta lingkungan. Karena itulah Pak Kades ingin membuktikan kepada semua orang bahwa desa yang berada di bawah pimpinannya itu akan aman dan makmur kembali.

Namun seperti selalu terjadi keajaiban. Semakin kentut itu dibasmi, bebauan itu pun semakin menjadi-jadi. Entah itu sebuah peringatan Tuhan ataukah sihir dari seorang dukun jahat. Warga semakin bingung memikirkannya. Yang tertanam di benak mereka adalah bahwa manusia tidak dapat melawan kuasa alam yang demikian. Sembari bertawakal kepada Allah, mereka terus-menerus berusaha. Sebab keduanya mereka percayai sebagai jimat dalam mengarungi kehidupan.

Keesokan harinya, di sepanjang jalan desa, muncul suara-suara aneh yang membuat warga bertambah cemas. Suara-suara itu seperti suara kentut yang bermunculan dari udara. Ya, suara kentut yang beraneka ragam. Ada yang nyaring berbunyi duut, bruut, atau dhuul , ada yang cempreng berbunyi preeth, teeth, atau niiit, dan ada pula yang hanya berbisik sstttt. Bunyi dan bebauan itu semakin besorak dan berteriak seolah tengah melakukan demo besar-besaran.

”Para sahabat kentut sekalian, mari kita bangkit dan tunjukkan aksi kita tahun ini. Teruslah ledakkan suara kalian dan penuhi desa ini dengan bebauan!” teriak pimpinan kentut memberikan aba-aba kepada seluruh pasukannya.

“Benar! Kali ini kita harus tunjukkan kepada mereka bahwa kita juga merdeka dan bebas bersuara!” teriak salah satu pasukan kentut mendukung pemimpinnya.

“Setuju! Saatnya kita melawan. Seraaaang...” susul suara yang lain lebih bersemangat.

Kentut-kentut itu seolah tengah meluapkan kekesalan mereka lewat demonstarasi yang tak henti sepanjang siang dan malam. Sementara itu, di saat yang bersamaan, penduduk pun dikumpulkan kembali di balai desa. Pak Kades semakin muraka. Terutama kepada tim Kesehatan dan Kebersihan Lingkungan yang dia rasa tidak becus dalam menangani kasus ini. Itu terlihat jelas dari belalakan mata sipitnya yang dipaksa terkuak lebar. Bola matanya hampir seperti melompat ke halaman balai. Para penduduk seketika terhenti mendengar teriakan Pak Kades dari corongan TOA yang berdiri tegak di samping gedung balai.

“Sialan! Kurang ajar sekali kentuk-kentuk itu! Mereka benar-benar telah meneror kita habis-habisan. Sekarang kita harus lakukan sesuatu agar kentut bangsat itu tidak kerasan di desa ini. Kalian harus bekerja lebih giat lagi! Kali ini kita harus berperang melawan mereka. Serang dan berantas kentut itu!” Teriak Pak Kades berapi-api.

Para aparat desa kembali membagi-bagikan dupa dan kemenyan yang diperoleh dari seorang dukun sakti mandaraguna di desa itu. Sebagian warga ada yang langsung bergegas dan ada pula yang masih menunduk. Mereka yang masih menunduk itu ternyata adalah warga yang merasa tidak tega membasmi kentut-kentut itu. Mereka merasa, selama ini tidak deperlakukan layak oleh Pak Kades. Ia hanya peduli rakyat kalau ada maunya saja. Mereka merasa ditindas seperti kentut-kentut itu. Disayang hanya bila ada kepentingan penguasa.

Namun demikian, mereka tak kuasa menolak titah pemimpin. Para warga yang masih tertegun dengan berat hati melangkah untuk juga menyerang. Sebenarnya hati nurani mereka berkata bahwa kentut-kentut itu adalah bentuk perwakilan warga dalam mendemonstarasikan diri atas kabar tentang desa A yang aman dan sejahtera. Padahal paradoks! Kabar harum itu hanya terlontar dari mulut omong kosong Pak Kades setiap klai diwawancarai wartawan media massa. Dia memang pintar menutup-nutupi aib desa yang pada kenyataannya menampung rakyat sengsara.

Saat para warga sibuk membakar dupa dan kemenyan bergantian, tiba-tiba ada suara tangis yang begitu pilu. Kepulan asap dupa dan kemenyan sebagian warga ternyata telah menyerang. Dan tangis itu pun semakin menjadi-jadi. Tangis yang berseliweran di udara. Mula mula satu, kemudian dua, dan akhirnya ramailah desa A oleh tangis. Ternyata kentut-kentut itulah yang kini tengah tersedu. Mereka bisa menangis! Mereka bisa berbicara!

“Kumohon hentikan! Jangan sakiti kami. Kami hanya ingin meredeka. Menikmati hidup dengan harga diri. Tidak didiskriminasi seperti suara dari anatomi tubuh yang lain,” rintih sebuah suara disertai isak di sela-sela kalimatnya.

“Benar! Kami ingin merasakan kebebasan. Kami sudah tidak tahan terus berada di bawah pantat. Kami tidak mau lagi disembunyikan. Kami ingin tampil di muka umum.”
“Taukkah kalian sadar bahwa kami ini adalah kalian. Tubuh kalian adalah tubuh kami.”

“Bahkan kami tahu, kalian tidak punya banyak keberanian untuk membela diri. Maka biarkan kami yang yang bersuara mewakili kalian.”

“Betul...!” sorak yang lain.

“Sepakat...!” teriak mereka lebih lantang.

“Apakakah kalian tega mengusir diri kalian sendiri? Bila tidak, berikan kami kesempatan untuk beraksi. Kali ini saja...”

Di luar dugaan, mendengar rintihan yang sambung menyambung itu, warga menjadi tidak tega untuk terus melanjutkan pertempuran sesuai rencana. Perlahan mereka melepas dupa yang telah tersulut bagian ujungnya. Lalu dengan hati dilema mereka menginjak-injak dupa dan kemenyan itu. Tampak sebagian warga berwajah sayu. Ada pula yang menangis haru. Seolah benar-benar merasakan satu-kesatuan dengan kentut-kentut itu. Di sisi lain, mereka pun takut untuk menghadap Pak Kades yang tengah menunggu di balai desa bila membawa kabar kepasrahan dan kekalahan.

Beberapa warga yang telah berhasil mengumpulkan keberanian segera bergegas menuju balai desa untuk melapor.

“Maafkan kami, Pak. Kami benar-benar tidak sanggup melakukan tugas ini. Kentut-kentut itu bisa bicara. Mereka menangis, Pak...” ujar lelaki setengah baya bertubuh tinggi-kurus dan memiliki kumis tebal.

“Omong kosong! Bualan macam apa yang telah kalian rangkai untuk mengibuli saya, ha?! Mana ada kentut bisa bicara. Heran! Saya tidak mau tahu. Besok pagi kentut-kentut itu harus sudah terbasmi. Mau ditaruk di mana muka saya?”

Lagi-lagi warga harus melangkah pulang bersama perasaan takut, kecewa, dan iba yang bercampur aduk. Diam-diam mereka membatin, kalau saja membunuh tidak dihukumi haram dan tidak terhitung sebagai tindak kasus pidana, maka lebih baik mereka membunuh Pak Kades yang terkenal galak itu saja. Namun mereka segera menepis pikiran-pikiran jahat yang tidak berprikemanusiaan itu.
©©©

Sudah lebih dari delapan kali Pak Kades menatap arloji emas di pergelangan tangan kirinya. Seperti tengah menunggu seorang pacar dalam usia mudanya. Tetapi jauh di kedalaman hatinya, ia berharap awan akan berkumpul menjadi mendung tebal sebelum akhirnya menumpahkan seluruh persediaan air yang tersimpan.

Berkali-kali ia juga menelan ludah sambil membelalakkan mata untuk memandang pada seluruh aparat desa yang hilir-mudik di dekat gerbang. Dalam batinnya ia meratap, oh... sungguh ini bukan mimpi.

Meski terop di halaman balai telah tergak berdiri dan kursi-kursi telah tertata rapi, tetapi mengapa kentut-kentut bau itu tak kuga kompromi lalu pergi. Bahkan mereka semakin menjadi-jadi. Seperti memang disengaja. Dan inilah hari inti mereka akan menampilkan atraksi. Pak Kades terduduk dan tertunduk lemas.

Lima menit kemudian terdengar suara beberapa mobil memasuki halaman balai. Empat mobil terparkir rapi. Seorang lelaki bertubuh tambun dengan kepala botak bagian depannya keluar dari mobil Jazz berwarna merah hati. Dialah Bapak Bupati yang langsung disambut oleh Pak Kades dan disuguhi masker. Ia melangkah menuju kursi barisan paling depan dengan tanpa bersuara sepatah kata pun.

Acara dimulai. Saatnya Bapak Bupati menyampaikan sambutan. Pak Kades dan seluruh warga tampak tegang. Sementara suara dan bebauan kentut itu lebih gawat dari sebelumnya.

“Terima kasih atas sambutan hangatnya. Kali ini saya tidak bisa berkata panjang lebar. Karena kini saya tahu seperti apa kesejatian desa ini. Saya hanya ingin memberi julukan kepada desa A sebagai desa Kentut. Itulah predikat dari kabupaten untuk desa A tahun ini,” katanya dilatari suara kentut yang beraneka ragam. suaranya tidak begitu jelas karena terhalang masker berwarna biru langit yang menutupi mulutnya.

Kamera para wartawan berkerjap-kerjap membidik Pak Bupati. Sejenak kemudian kerjapan kamera itu mengarah pada kerumunan warga yang tengah membopong Pak Kades yang jatuh pingsan.

Acara tetap dilangsungkan meski Pak Kades telah dibopong ke Puskesmas oleh beberapa warga. Sementara para aparat desa tak ada yang mau mewakili sambutan karena jatuh malu. Tiba-tiba istri Pak Kades maju dengan langkah tegap dan wajah sumringah. Ia memperbaiki cangga mik di podium dan kemudian memulai sambutannya.

“Terima kasih pula kami ucapkan kepada pihak Kabupaten yang telah memberikan predikat desa Kentut kepada desa kami. Kami tidak lantas merasa pihak Kabupaten telah melakukan diskriminasi kepada desa kami atas nama yang telah diberikan. Bahkan kami menganggap nama tersebut adalah nama kreatif yang akan membuat desa ini dikenang sepanjang sejarah dengan nama unik berdasarkan kejadian yang kami beri nama serangan kemerdekaan kentut.

Kentut bagi kami bukanlah sesuatu yang menjengkelkan meski baunya kerap kali menjijikkan. Tetapi di sisi lain, kentut juga butuh kemerdekaan demi pelonggaran wilayahnya, yaitu perut manusia. Yang hal itu juga berdampak kepada kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Dan serangan kentut ini merupakan analogi yang butuh kecermatan. Tidak mesti dipahami sebagai serangan biasa, karena kejadian ini memang benar-benar tidak biasa. Bukankah begitu?

Hadirin yang berbahagia. Tentu dengan nama desa Kentut, desa kita akan mendapatkan perhatian dari sisi sejarah sosialnya. Maka sekali lagi terima kasih kepada pihak Kabupaten yang telah memberikan ciri khas kepada desa kami. Kami menerimanya sebagai salah-satu bentuk keprihatinan pemerintah Kabupaten kepada desa kami. Meski sebenarnya, masalah yang berpangkal dari bau kentut ini tidak hanya bertumpu pada masyarakat desa ini saja. Bahkan, pihak Kecamatan dan pihak Kabupaten seharusnya peduli dan mau tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik problema kentut yang melanda. Bukan hanya sekedar menganugrahi nama sebagai julukan. Demikian sambutan dari saya mewakili bapak Kepala Desa A yang kini dianugrahi julukan sebagai desa Kentut.”

Tepuk tangan menyeruak menyesaki udara. Muka para pemerintah Kabupaten serempak merah padam. Masyarakat tampak berbisik-bisik. Ada yang bersuara di dekat gerbang yang hanya didengar oleh istri Pak Kades, “Terima kasih, anda telah mewakili kaum kentut. Saatnya kami berpamitan.”

Toko Coe-Coe, 12 Juli 2011

11 Januari 2012

P U T U S

Suatu ketika, engkau mungkin pernah mendengar petuah macam ini dari salah seorang kakak seniormu: “Jika kau bulum pernah pacaran, maka jangan pernah berniat untuk melakukannya. Sebab pacaran adalah candu dan kau akan merasakan betapa menyakitkannya menjalani hari-hari yang sendu.”

Jangan sekali-kali kau remehkan petuah itu. jangan kau anggagp itu kalimat bualan yang basi. Karena bila kau melakukan hal terlarang itu, sesuatu yang tidak kau harapkan mungkin akan terjadi. bagus bila kau sampai pada harapan. Tetapi tak ada yang tahu apa yang akan menimpamu di tengah jalan.

Aku tidak berniat untuk menakut-nakutimu. Aku tak bermaksud untuk menyinggung mereka yang tengah menjalani pacaran atau jalinan serupa dengan nama status yang berbeda. Aku hanya ingin berbagi tentang beberapa kisah para sahabat yang rupanya, mereka mengulum senyum cerianya hanya karena putus cinta.

Dalam pacaran, kau akan ditawari berbagai khayalan tentang keindahan di masa depan. Yang terlintas hanyalah bayangan kebahagiaan. Seolah tak memberimu celah pikiran dan perasaan untuk tidak melihat selain gambaran indahnya hidup bersama si dia. Bahkan para pencinta lupa untuk berpikir realistis tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan selain dari bahagia.

Sebagian dari mereka yang mencita dan menjalin hubungan akan meluncurkan ultimatum bahwa cintalah yang telah melahirkan semangat dalam diri mereka. Cintalah yang telah memotivasi hidup mereka hingga menjadi lebih bermakna. Mereka sering menyebutnya sebagai cinta yang mengalirkan energi positif. Lebih tepatnya cinta positif.

Ada-ada saja alasan mereka untuk menentang kesejatian makna dan hakikat cinta. Meka berkesimpulan bahwa pacaran asal melahirkan sesuatu yang positif itu sah sah saja. Masak begitu ya? (hahaha ) Inilah lelucon yang kerap membuatku tertawa bila mendengarnya. Sebab kata positif hanyalah kedok bagi mereka untuk menutupi kerak lengket di balik sesuatu yang bernama pacaran.

Tapi cobahal bertanya kepada mereka yang pernah putus cinta. Dengan sigap mereka akan menjawab bahwa cinta itu adalah tai kucing. Cinta bagai rayap yang perlahan akan mengikis kayu kehidupanmu. Bagi mereka cinta hanyalah kisah fiktif tentang keindahan yang berasal dari negeri dongeng. Sebenarnya, di dalamnya tak ada keindahan. Tak ada kebahagiaan. Yang tersisa hanyalah penyesalan dan kutukan atas kesepian.

Pada dimensi tertentu, pacaran akan mengubahmu menjadi seseorang yang sama sekali tak kau kenali. Seseoarang yang berkedok dengan topeng. Sesorang yang kebingungan di rumahnya sendiri. Bahkan kau tak lagi bisa melihat sisi kemurniaan hatimu sekalipun melalui bayangan dalam pantulan cermin. Sungguh ini adalah sesuatu yang mengerikan!

Itulah sebabnya mengapa para pencinta yang gagal menuju harapan terus saja mengutuki keputusan. Semangat mereka tersulut membara hanya untuk menertawai istilah-istilah cinta yang diumbarkan dalam pacaran. Mereka menganggap kata-kata itu adalah sesuatu kekonyolan yang dapat menaklukkanmu menjadi budak. Ada sebagian dari mereka yang mengidap sindrom kalusafobik. Sepanjang waktu mereka gunakan untuk terus mengutuki para pencinta dengan segala ejektif yang lebih dari sekedar menyakitkan.

Ini adalah perbandingan dua kisah yang bermula hanya karena satu kata; pacaran. Sepintas terlalu sederhana. Tetapi cobalah menyepi di suatu senja saat langit melukis warna lembayung dengan kanvas raksasanya. Saat angin perlahan menyelinap masuk dalam pori-pori dan meniup kulit harusmu dengan begitu lembutnya. Cobalah renungkan betapa hati memang harus ditata dengan rapi.

Seusai angin berlalu. Saat kau hanya sendiri. Saat kau berdialog dengan dirimu sendiri, tanyakanlah pada hatimu yang bening tentang nyanyian burung nuri dalam sangkar jiwamu. Tanyakan kepadanya ke mana ia akan terbang bila dilepaskan. Menuju luka ataukah zona yang lebih waspada?

Karang Jati, 08 Januari 2012.

30 November 2011

Lelaki dalam Peta Rahasia

“Suatu ketika aku berhadapan langsung dengan potongan imajinasiku. Tentang bayangan seorang lelaki yang bertandang ke Gubuk Cerita kami. Ia mengaku telah menempuh angin-hujan-badai silih berganti––milyaran rintangan untuk sampai di titik nadiku. Maka mari, aku ingin berbagi. Akan kubacakan kepadamu surat masa depanku untuk lelaki dalam peta rahasia itu.”

Lelakiku, apakah kini engkau baik-baik saja? Aku berharap begitu. Sebab aku ingin kau tengah duduk di beranda dengan senyum terkembang sambil sesekali menyeruput kopi saat membaca suratku ini. Atau begini saja; kau tengah menikmati semilir angin dingin sebelum hujan yang mengalir di sela-sela daun jagung di bukit belakang rumahmu sambil memandangi pohon siwalan yang berdiri kokoh seperti dirimu. Barang kali itu akan lebih menyenangkan dari pada kau berbaring lemah di atas ranjang dengan muka pucat dan perasaan terganggu sebab datangnya surat ini.

Aku sebenarnya bingung mau memulai dari mana. Aku sungguh tidak tahu apa-apa. Terlebih memulai pembicaraan dalam sebuah surat. Aku harus jujur kepadamu bahwa catatan harianku hanya penuh dengan rangkaian kata-kata yang sama sekali tidak menarik bagiku. Maka ketika tiba-tiba aku ingin menulis surat ini kepadamu, aku pun heran pada diriku sendiri: toko manakah yang telah kukunjungi untuk membeli koloan keberanian? Padahal aku tidak punya banyak keberanian dan kemampuan untuk menulis sesuatu dengan cara yang menarik. Ah, tapi pada akhirnya aku mulia menulis. Menarik atau tidak, semoga surat ini bisa sampai di tanganmu.

Bagaimana dengan masa depan kita kelak ya? Apakah kamu telah merancang semuanya dalam maket yang sistematis? Atau paling tidak kamu sempat membayangkan bila kelak aku masuk dan mencampuri kehidupanmu.

Bicara tentang masa depan, dari dulu aku sudah berusaha keras untuk memikirkannya. Tetapi aku tak kunjung memperoleh gambaran yang pas tentang kamu yang seperti adanya. Inilah puncak keterbatasanku. Hingga khayalan-khayalan itu hanya berupa kepingan imajinasi yang tak tuntas. Hanya berakhir dalam darama bisu yang berkepanjangan. Berakhir dalam teka-teki yang tak mampu kuungkapkan.

Tetapi agaknya aku sedikit percara pada kekuatan pikiran, bahwa apa yang aku pikirkan detik ini akan benar-benar terjadi di detik kemudian. Ini bukan hal yang mutlak, tapi karena aku sering mengalaminya maka aku berasumsi bahwa mungkin itu juga merupakan kebenaran. Dengan begitu, saat menulis surat ini, aku tengah memikirkan masa depan kita yang kuyakini akan benar-benar terjadi di masa depan. Entah kapan.

Lebih baik aku berkata jujur dengan mengemukakan alasan mengapa menulis surat ini. Meski kita sama-sama tahu bahwa alasan itu bisa dibuat-buat terutama dalam situasi dan kondisi yang mendesak. Alasan itu banyak macamnya. Kita tinggal memilih dari yang konyol sampai yang masuk akal. Tetapi yang perlu dicatat adalah bahwa aku inign menyampaikan alasan yang sederhana dan tak mengada-ada: bayanganmu selalu memenuhi pikiranku akhir-akhir ini. Alasan ini mungkin tertalu polos sebab aku mengatakannya secara gamblang. Aku juga merasa sedikit malu karena kini usiaku belum sempurna dewasa. Namun saat ingat pada petuah ‘dewasa tidak terpaut usia’, aku menjadi percaya diri dan merasa yakin untuk menuliskan sesuatu agar sampai ke tanganmu.

Apakah kau pintar bermain gitar? Atau kau pianis yang mewarisi kemampuan Beethoven dalam memaninkan Moonlight Sonata? Aku membayangkan begitu. Lalu bisakah kau bayangkan pula betapa romantisnya bila kita bisa duduk berdua di permukaan bulan yang terbuat dari keju hijau. Kau memetik senar cello dengan sangat hati-hati sebelum mulai menyanyikan lagu Bella Lunanya Jason Mraz. Hingga kita seperti berlayar mengitari bumi dengan nada-nada yang terdengar ke seluruh tata surya.
Dan lebih hebatnya lagi bila kita berhasil menarik perhatian ribuan makhluk dari negeri bintang dan planet-planet lain untuk juga menikmati alunan musik kita. Itu akan sangat mengagumkan karena kita seperti telah berbagi kebahagiaan. Itu juga akan melenyapkan istilah ‘dunia bagaikan milik kita berdua’ yang rasa-rasanya kalimat itu mendoktrin otak para pecinta agar bersikap pelit dan egois. Aku sama sekali tidak menyukai hal itu karena bahagia bagiku adalah kemampuan untuk saling berbagi.

Kalau pun kau adalah orang yang sama sekali tidak bisa memainkan semua jenis alat musik, itu tak jadi masalah. Aku akan tetap berusaha untuk menyayangimu dengan segala kekurangan yang melekat dalam dirimu. Tetapi entah kenapa aku yakin saja bahwa kau adalah seorang yang paham tentang jenis musik yang keren.

Sampai di sini kau pasti berpikir bahwa surat ini begitu panjang dan melelahkan. Mungkin selama beberapa menit kau merasa jenuh antara meneruskan membaca atau berhenti sampai di sini saja. Tetapi jika aku berusaha menulis ini di atas kertas, mampukan juga kau bertahan untuk membacanya sampai tuntas? Atau barangkali kau mempunyai pekerjaan mendadak sehingga harus menunda membaca. Aku mafhum itu. kuharap kau dapat melanjutkan lain kali. Tapi jika kau tengah dalam keadaan santai menikmati waktu yang kosong, aku berharap kau dapat terus menyusuri lembaran-lembaran ini.
Sampai di mana barusan? Oh ya, kebahagiaan. Apakau kini kau bahagia? Bagaimanakah engkau memaknai kebahagiaan? Atau telah salah melemparkan pertanyaan macam ini? Sebab kapan hari aku pernah berdiskusi tentang kebahagiaan dengan salah seorang sahabat. Ia berargumen yang melahirkan pencerahan bagi pemikiranku. Setidaknya bagi persepsiku sendiri tentang kebahagiaan.

Ternyata kebahagiaan itu tidak dapat dinilai mutlak-tunggal. Ukuran kebahagiaan bagi masing-masing orang itu berbeda. Ada yang bahagia dengan harta, pangkat, dan kekuasaan. Tetapi tak jarang orang bahagia hanya dengan proses dan hidup yang penuh kesederhanaan.

Sebenarnya aku benar-benar tidak pantas untuk bertanya apakah kini kau bahagia atau tidak, sebab sekali lagi, mungkin aku menganggap aku lebih bahagia dari dirimu, sementara kau pun mungkin merasa lebih bahagia dariku. Begitu pun sebaliknya. Semoga saja kelak kita selalu berbahagia dengan kesederhanaan hidup kita, bahagia dengan saling memiliki dan berbagi, bahagia dengan suara anak-anak kita yang penuh imajinasi, dan bahagia dengan kelapangan hati yang kita miliki.

Imajinasiku terus menyusuri garis jalannya. Seperti yang kukhayalkan, kau adalah seorang pemimpin yang bijaksana. Seorang lelaki yang menghargai perempuan. Seorang sahabat yang paham ekofeminisme. Dengan begitu kau akan selalu menghargai alam sebagaimana kau menghargai seorang ibu. Kau akan selalu menganalogikan tubuh perempuan sebagai harmoni alam. Sebagaimana musim yang selang-seling serupa perempuan menstruasi. Atau contoh yang lebih sederhana adalah ibu hamil bisa meyusui dengan lancar jika disuplai dengan sayur-sayuran, itu sama dengan alam yang akan subur jika banyak pepohonan dan tumbuh-tumbuhan. Kau akan menjadi manusia damai yang peka terhadap alam. Salah-satu sikap yang pasti kau milliki adalah kesadaran bahwa alam ini adalah sahabat kita, menganggap semua yang ada mempunyai jiwa, dan menaburi kasih sayang terhadap segala sesuatu yang ada di sekelilingmu.

Bila mulai dari tadi aku selalu berusaha jujur kepadamu tentang segala sesuatu yang menimpa hidupku; bayanganmu, keluguanku, dan caraku menulis dengan gaya konyol ini, sebagai penutup, tentu saja aku aku juga perlu mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu. Ada empat pertanyaan sederhana yang perlu kau jawab. Apakah kau sudah berkenalan dengan dirimu? Tahukah kau tentang hakikat semesta dan penciptaannya? Bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan ini? Bisakah kau memastikan kepadaku bahwa tak kan ada kehidupan lagi setelah kebersamaan kita nanti?

Keempat pertanyaan ini tidak untuk dijawab dan lalu dipresentasikan kepadaku layaknya seorang mahasiswa yang mempunyai kewajiban terhadap soal-soal materi ujian akhir semester dari sang dosen. Tidak! Karena surat ini bukanlah lembar-lembar soal. Kau hanya perlu menjawabnya untuk dirimu sendiri. Untuk kau renungi dalam kesendirianmu. Ini bukan berarti aku memaksamu berpikir keras dengan gaya pertanyaan filosofis. Tetapi kita semua sadar bahwa hidup ini adalah proses menuju sesuatu impian. Entah itu mungkin atau tidak. Dan kita kerap kali memaknainya sebagai harapan. Harapan yang melekat di antara kita dan kerinduan untuk bertemu sebelum akhirnya kita bisa mengikat hati dan lalu saling berbagi.

“Lelakiku, kau masih tetap sessosok yang tengah berdiam dalam peta rahasia. Aku yakin, suatu kelak, kau akan datang dengan membawa gitar dan secarik puisi untukku dan kehidupan baru kita.”


Karang Jati Assaudah, 30 Nopember 2011

20 Juni 2011

Jalan Keluar

“Perjuangan butuh pengorbanan,
Pengorbanan butuh keikhlasan.”


Inilah jalan pertama yang begitu berliku dan harus kulalui dengan perjuangan dan keikhlasan. Jalanku yang tersendat-sendat lantaran aku serupa kapas yang diterjang angin. Aku sendirian dalam mengarungi perjalanan panjang menciptakan revolusi untuk organisasi KBM (Keluarga Besar Mahasiswa) di kampusku yang terkungkung oleh politik licik.

Beberapa minggu terakhir ini aku serasa diterjang badai. Entah mereka takut KBM tidak akan maju jika calon yang kuajukan jadi, atau ada maksud lain di balik politik mereka. Tetapi apakah mereka terlalu banyak menyimpan keraguan kepada mahasiswa selain kelompok mereka? Apakah mereka tidak bisa menyisakan sedikit kepercayaan untuk calon yang kuusung? Dan bahkan aku yakin dialah sosok pemimpin yang akan memberikan perubahan cerah bagi KBM. Sebab dia bukan hanya pilihanku, melainkan pilihan mayoritas mahasiswa yang menginginkan perubahan.

Aku harus diam saat partaiku ditolak oleh Tim Pemilu Kongres. Aku tidak boleh bersuara sedikit pun meski hanya untuk bertanya mengapa. Lalu batinku berontak: mengapa aku diangkat sebagai ketua partai jika aku tak punya hak untuk mengusung calon? Dan ketika calon yang kuajukan didiskualifikasi karena alasan tidak aktif selama satu priode, apakah aku harus mengikuti kehendak mereka untuk mengganti calon sesuai dengan perintah mereka? Sungguh alasan yang dibuat-buat dan aku lagi-lagi harus menjadi robot. Seolah aku tak punya ruang bebas untuk bergerak.

Aku masih tenang. Dan seharusnya aku memang sabar. Sebab aku yakin Tuhan pasti akan terus menaburkan ar-Rahman-Nya di saat-saat aku dalam keadaan rapuh seperti saat ini. Dia pasti tahu bagaimana cara memberikan yang terbaik untuk KBM. Maka aku tak ragu akan “kun-Nya” yang maha dahsyat untuk memberikan jalan keluar atas persoalan yang melanda.


(18.43 WIB)
Annuqayah Karang Jati, 18 Juni 2011

16 Mei 2011

Pertanyaan Ayah

Tak ada seorang pun di antara kita yang dapat memprediksi kapan kita akan mati. Karena maut adalah salah satu misteri yang akan selalu menjadi kejutan dalam hidup. Kejutan Tuhan sebagai bukti bahwa semua kita dan alam seisinya adalah materi yang hanya menunggu giliran untuk hancur lebur. Meski ada pula para sufi yang merasa bukan lagi materi karena telah mencapai jalan hakikat dan mampu untuk fana' fillah.

Kematian adalah satu titik proses perpisahan antara ruh dalam jasad dengan ruh-ruh lain yang masih melekat di tubuh makhluk hidup. Perpisahan itu begitu mengerikan bila membayangkan betapa takutnya tinggal sendirian di alam kubur. Tanpa orang tua, saudara, dan teman-teman yang biasanya mengahangatkan suasana sepi dalam kesendirian.

Kebersamaanlah yang sejatinya membuat kita tak pernah sadar bahwa kita selalu merasakan kesunyian. Bila kau tak percaya, cobalah renungkan perjalanan hidup yang merupakan bahasa kesendirian ini. Niscaya engkau akan sadar bahwa kita, sejak dulu telah terlatih menyendiri. Dalam rahim ibu kita sendiri, dalam kubur kita sendiri, dan nanti, di akhirat, kita akan meghadap Tuhan sendirian pula.

Dalam hidup mungkin kita merasa ramai, tetapi hari ini, jauh di kedalam hatiku, tiba-tiba aku merasa sepi. Kesepian yang kurasakan sendirian dan tak mampu kudefinisikan. Semacam perasaan getir yang tiba-tiba membuatku ingat kepada para leluhur yang telah wafat mendahuluiku.

Mereka (baca: para leluhur) yang tinggal di tempat antah-berantah telah membuatku berpikir bagaimana bila detik ini aku pun mati dan tak sempat berterima kasih kepada ayah dan ibu yang kasih sayang tulusnya senantiasa menyiramiku dengan penuh kesejukan, tak sempat berkata jujur tentang perasaanku kepada orang yang kucintai, tak sempat memohon maaf kepada mereka yang diam-diam mencintaiku dan tanpa sengaja aku menyakiti hatinya, tak sempat bertukar cerita tentang rahasia dengan sahabat-sahabat yang kusayangi, dan tak sempat bertaubat kepada Tuhan atas dosa-dosa yang semakin hari kian menggunung.

Mungkin aku melambung terlalu jauh, tetapi kalau pun tak mati detik ini, membayang tentang maut saja aku jadi berpikir tentang kejadian 50 tahun yang akan datang. Jika memang benar aku akan pulang ke rumah Tuhan dan jasadku akan dibungkus dengan kain kafan, lalu di tanah manakah jasadku ini akan dikebumikan? Di detik keberapakah ruhku akan melayang sebagai titik akhir menuju kepasrahan? Bila suatu saat nanti aku dibangkitkan kembali, masihkan aku bisa bertemu dengan orang-orang yang kusayangi?

Maut benar-benar menjadi suatu peristiwa yang harus selalu diingat, agar hati kita menjadi hangat dan bersemangat untuk terus beribadah demi membalas budi kepada Tuhan.
Ah! Aku jadi malu berbicara tentang ibadah, sebab aku adalah santri yang nakal beribadah. Shalat saja seperti capung mandi (hehehe… sering ketahuan). Betapa tak tahu berterima kasih diri ini kepada Tuhan yang telah mencurahkan segalanya secara cuma-cuma.

Qiraah dihidupkan dari mushalla Karang Jati putra melalui corongan TOA. Sejenak kemudian adzan subuh sayup-sayup terdengar dari kejauhan.


Aku masih sendiri. Sementara sebagian teman-teman masih ada yang baru bangun dari tidurnya. Lalu bergegas menuju kamar madi dengan membawa gayung berisi kotak sabun dan sikat yang telah diolesi pasta gigi. Ramailah kamar mandi oleh kecipuk air dan teriakan 'ganti' para santri. Ibu Nyai Thoyyibah melangkah dari barat dhalem menuju mushalla dan memandu para santri untuk berdzikir.

Aku masih sendiri. Terdiam untuk waktu yang panjang sembari memandangi puluhan santri yang beranjak menuju mushalla. Menyadari bahwa semua orang yang ada di sini tengah menabung amal untuk kemudian pergi bergiliran. Lalu aku teringat pertanyaan ayah saat aku hendak berangkat ke pesantren ini: "Ke mana akan kau bawa langkahmu, Nak?"

04:00 WIB
Menyusuri subuh, 08 Mei 2011

25 April 2011

Perjalanan Mengenaskan Para TKI


Judul Buku : Sebongkah Tanah Retak
Penulis: Rida Fitria
Penerbit : Tiga Kelana
Tahun Terbit : Pertama, November 2010
Tebal : 218 halaman
Peresensi : Ummul Karimah
Perjalanan Mengenaskan Para TKI

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kekayaan Sumber Daya Alam yang melimpah ruah. Kekayaan tersebut terbukti dengan kandungan tanahnya yang dapat menghasilkan baja, minyak tanah, timah, bahkan emas permata mulia. Kekayaan alam tersebut merupakan salah satu faktor penentu keadaan dan nasib suatu bangsa dalam percaturan ekonomi.

Ironisnya, International Labour Organisation (ILO) menyuguhkan data bahwa 80% dari perempuan penduduk Indonesia bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang melakukan semua pekerjaan di rumah majikan. Hal ini cukup untuk mengilustrasikan sebuah keadaan yang sangat mengerikan di Indonesia. Kasus yang sangat memilukan negeri ini tentunya merupakan konflik besar yang harus dipecahkan bersama.

Salah satu contohnya diceritakan oleh Rida Fitria dalam novelnya yang berjudul Sebongkah Tanah Retak ini. Dalam novelnya, Rida Fitria mengangkat kisah tentang perjalanan panjang seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) untuk memperoleh jati dirinya dari sudut pandang kekuatan dalam melawan garis nasib kemiskinan.

Kisah ini, bermula dari seorang gadis desa di lereng Gunung Lemongan bernama Khadijah yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang kaya bernama Rohana. Konflik dibuka oleh kejadian besar yang berlangsung di sawah Rohana. Kali itu waktu memberi tahu kepada Rohana atas balasan kepercayaan yang diberikannya kepada Ijah. Saat secara tak sengaja, akhirnya ia menemukan tumpukan baju seorang perempuan yang sangat ia kenal. Tak jauh dari tumpukan baju itu ia melihat suaminya tengah bercinta dengan Ijah di bawah daun-daun tembakau.

Kemurkaan Rohana ditunjukkan dengan diusirnya Ijah dari keluarga tersebut. Sedangkan Ijah tengah mengandung janin dari tuan Wiro, suami Rohana, yang berjanji akan menikahinya. Namun, saat kejadian besar itu berlangsung, Wiro bahkan seolah tak mengenal Ijah dan sepakat mengusirnya. Ternyata janji seorang Wiro telah berubah sepah yang ditaburkan ke wajah Ijah kala itu.

Ijah lalu sadar bahwa dalam hidup ia harus bertarung. Melawan luka pengkhianatan, menahan rasa sakit, dan memperjuangkan hidupnya yang tengah dililit oleh kemiskinan. Saudara kandungnya yang berjumlah tiga pun tak pernah menghiraukan orang tua mereka yang tinggal serumah dengan Ijah. Bahkan, salah satu saudaranya yang sangat miskin, Marji namanya, kakak lelaki Ijah, yang bekerja sebagai tukang becak, menitipkan anak-anaknya di rumah orang tuanya. Hal itu disebabkan istri Marji depresi akibat kemiskinan yang sangat parah. Sementara pengasuhan anak-anak Marji dilimpahkan ke bahu orang tuanya, otomatis memberatkan pundak Ijah pula.

Saat ibu kandungnya meninggal dan tak sampai berumur tujuh hari, semua saudaranya berebut beras dan gula yang dibawa para pelayat, juga harta warisan yang tak seberapa. Ijah sedih; kecewa; lalu diam-diam menitipkan putranya ke panti asuhan dan berangkat mengadu nasib, menjadi seorang TKW ke Arab Saudi. Ia kian sadar betapa sedih menjadi seorang miskin. Jauh dari seorang buah hati yang ia cintai, juga disiksa dan dilecehkan oleh majikannya. Ia merasa seorang yang miskin tak berhak berpendapat, berpikir, dan bertindak karena tak punya harga diri. Sungguh mengenaskan.

Saat ia memutuskan untuk pulang dari Arab Saudi dan memutus mata rantai, kesulitan ekonomi di kampuing kian menelikungnya. Karena itu Ijah lalu berjuang untuk mengadu nasib yang kedua kalinya ke negara Hong Kong. Di sana, ia bahkan bukan hanya disakiti batinnya, tapi juga fisiknya. Ijah terluka, Ijah menangis, Ijah bahkan nyaris kehilangan nyawa. Keluarga majikannya sungguh tak berprikemanusiaan.
Kisah dalam novel ini berakhir saat Ijah untuk pertama kali dalam hidupnya dapat menangis bahagia. Ijah lalu merasa bahwa semua manusia berharga dan pantas mendapatakan yang terbaik dari yang telah ia perjuangkan. Ia merasa merdeka dan dapat belajar banyak hal yang harusnya ia ketahui.

Pada bagian akhir, digambarkan seorang Ijah yang bergelut dalam organisasi Indonesian Migran Workers Union (IMWU) yang telah memberinya kesempatan kursus bahasa Inggris dan Mandarin. Ijah lalu bangkit menjadi seorang pembela bagi teman-teman seperjuangannya yang mendapat perlakuan tak layak dari majikan mereka.

Novel ini banyak memuat tentang tuntutan kritis bagi negara Indonesia yang menerima devisa besar dari para TKW yang ternyata tak mendapat perlindungan penuh dari pihak Indonesia. Salah satu contoh dalam kisah ini, saat mendapatkan perlakuan yang tak manusiawi oleh para majikan, lalu para Buruh Migran Indonesia (BMI) mendatangi Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) untuk memprotes, ternyata pihak konsulat bersikap dingin dan tak acuh. Sama sekali tak tampak sebagai pengayom anak bangsa yang ditempatkan pemerintan RI di luar negeri untuk keperluan mengakomodir aspirasi Warga Negara Indonesia (WNI) yang ada dalam tanggung jawabnya.

Selain susunan bahasa yang mengalir dan diksi baik yang dipilih oleh penulis, novel ini juga sangat inspiratif dan sarat akan tema untuk kita bahas sebagai diskusi yang panjang. Banyak pelajaran-pelajaran hidup dapat diambil dari kisah yang ditulis oleh perempuan berbakat yang berasal dari Probolinggo ini . Ia telah berhasil mendobrak kisah dan menyaringkan suara buruh migran yang merintih untuk ditolong. Seperti kasus-kasus Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang belakangan ini menuai kisah yang sangat memprihatinkan.

Salah satunya dialami oleh Kikim Kolmalasari binti Uko Marta, lahir pada 9 Mei 1974, TKI asal Cianjur, Jawa Barat, yang ternyata disiksa secara sadis oleh majikannya di Arab Saudi. Kikim bahkan setelah dianiaya dan disiksa, pada akhirnya meninggal dunia (Radar Bandung: 22/11/2010). Kasus serupa dialami oleh para TKI lain yang tinggal di negara-negara lain, seperti kasusWinfaidah (26) asal Lampung yang bekerja ke Malaysia dan tak hanya disiksa secara fisik tapi juga batin (JPNN, 22/11/2010). Dan begitu banyak kisah-kisah serupa yang tak cukup hanya dipaparkan di sini saja, tapi untuk kita renungi secara kritis sebelum akhirnya kita harus bertindak.

Di tengah kasus-kasus mengenaskan tersebut, novel ini hadir dan diharapkan dapat berguna untuk memberikan suara dan dapat memberi pencerahan bagi negara Indonesia. Dan itu menegaskan bahwa memperjuangkan nasib mereka tak bisa dilakukan seorang diri, para aktivis, para korban, dan keluarga korban saja. Tetapi dibutuhkan kebersamaan, tekat yang kuat, niat yang tulus, suara yang lebih banyak, juga dukungan penuh dari pemerintah untuk dapat menjunjung harkat dan martabat mereka sebagai kaum yang merdeka.

Oleh: Ummul Karimah, alumnus SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk dan mahasiswa INSTIKA (Institut Ilmu Keislaman Annuqayah) semester II G PAI.