Lewatlah sudah titik kedelapan belas perjalananku. Tepatnya Senin kedua bulan April lalu. Semua berlalu begitu cepat. Masa-masa TK, SD, MTs, dan kini aku akan menaggalkan seragam putih abu-abuku. Rasanya mustahil. Baru kemarin aku menghirup angin SMA, sekarang aku sudah harus bersiap-siap untuk berkenalan dengan angin baru.
Seminggu terakhir ini, aku susah berkata-kata, merangkai aksara menjadi puisi, malas berdiskusi, atau sekedar berkumpul melepas tawa bersama kawan-kawan. Hanya air mata kegetiran yang terus ngalir bersama suara-suara mereka. Hanya itu. Tak ada yang lain.
Otot-ototku semakin terasa lemah, saat aku sadari umurku di SMA semakin berlengkesa terbawa waktu. Saat aku mengingat masa-masa indah oragnisasi di sekolah bersama Ibu Mus’idah, Nu Jaim, Iroel, Izul, Ulfa, dan kawan-kawan seorganisasi lainnya. Saat aku sadar aku tak kan lagi mendengar suara Pak Nasir di kala pagi memanggil seluruh siswa untuk masuk kelas dan berdo’a menggunakan pengeras suara.
Aku akan rindu pada semua fragmen kisahku di SMA. Juga pada sudut-sudur tempat favoritku: markas PSG (Pemulung Sampah Gaul), gang di belakang kelas, dan pohon asam yang rindang di depan perpustakaan. Terlebih saat aku tersadar bahwa aku akan ditinggal pergi oleh sekawanan Telettubiesku. Aku tak kan lagi merasakan pelukan hangat mereka: tingkah aneh Izul si Tingky Wingky, tawa Iroel si Lala, dan teriakan semangat Nu Jaim si merah Poo.
Hanya Dipsy sendirian yang melinangkan bulir-bulir putih dan bening. Sesuatu yang basah dan terasa saat ia mengusap pipinya dengna punggung tangannya. Hanya Dipsy yang merasakan hatinya terkikis oleh belati yang tajam. Hanya Dipsy yang merasakan air matanya terus mengalir melewati selokan-selokan, parit, sungai, dan akhirnya menyatu bersama karang dan pasir di lautan. Suara tangis itu amat keras dalam duninya, karena ia sadar tak kan ada lagi frekuensi Telettubies putih abu-abu. Lalu ia terjatuh di tepian ruang seraya menopang dagu dengan tungkai bawahnya.
Ia membisu dari waktu ke waktu. Namun matanya isyaratkan teriak: kawan, apa kau mendengar tangisku?
Gubuk Cerita
Guluk-Guluk, 01 Mei 2010
03 Mei 2010
12 April 2010
Secangkir Kopi; Candu Rindu
#1
Malam masih belum genap umur. Di atas meja tempat kau bergadang hanya cangkir berisi ampas kopi, mungkin telah sepi dari isi. Tapi gula dan bubuk kopi, yang menari-nari dalam toples menggoda sendok untuk beirama teng-teng-teng dalam gelas. Setelah itu, mereka akan melepas aroma lewat angin yang mengepul di atas air hangat, seperti umpan.
#2
Kau amati udara yang serta-merta sibuk berlarian ke dekat hidungmu. Juga kepada ruang sunyi penuh puisi. Semua sudah tak sabar menunggu. Sementara pupil dan retina memaksa untuk mengatup kelopak mata. Semua bersipandang tanpa aksara. Namun geming hati mereka penuh ancaman: kalau saja!
Kopi memang sungguh penuh candu dan rindu.
#3
Sebenarnya apa yang kau harapkan dari malam yang panjang ini? Setelah tumpukan gelas dan sisa-sisa kopi tumpah berhasil mengundang nyamuk-nyamuk. Mungkinkah kau tengah berharap adanya sebuah kenyataan dalam perjalanan malam?
Segalanya harus ada rencana dan tour yang jelas. Bukan sekedar harapan.
Apa kau mau tersesat dengan harap bersama kopi-kopimu?
Jawab!
#4
Kawan, malam masih panjang. Meski akhirnya ia akan tiba pada saatnya. Saat cangkir-cangkir berisi kopi tengah bersedia menjadi cermin dalam sebuah pesta. Akan kusiupkan secangkir kopi gula merah yang tak biasa untukmu. Lalu nikmatilah. Sendirian…
Gubuk Cerita
Guluk-Guluk, 11 April 2010
Malam masih belum genap umur. Di atas meja tempat kau bergadang hanya cangkir berisi ampas kopi, mungkin telah sepi dari isi. Tapi gula dan bubuk kopi, yang menari-nari dalam toples menggoda sendok untuk beirama teng-teng-teng dalam gelas. Setelah itu, mereka akan melepas aroma lewat angin yang mengepul di atas air hangat, seperti umpan.
#2
Kau amati udara yang serta-merta sibuk berlarian ke dekat hidungmu. Juga kepada ruang sunyi penuh puisi. Semua sudah tak sabar menunggu. Sementara pupil dan retina memaksa untuk mengatup kelopak mata. Semua bersipandang tanpa aksara. Namun geming hati mereka penuh ancaman: kalau saja!
Kopi memang sungguh penuh candu dan rindu.
#3
Sebenarnya apa yang kau harapkan dari malam yang panjang ini? Setelah tumpukan gelas dan sisa-sisa kopi tumpah berhasil mengundang nyamuk-nyamuk. Mungkinkah kau tengah berharap adanya sebuah kenyataan dalam perjalanan malam?
Segalanya harus ada rencana dan tour yang jelas. Bukan sekedar harapan.
Apa kau mau tersesat dengan harap bersama kopi-kopimu?
Jawab!
#4
Kawan, malam masih panjang. Meski akhirnya ia akan tiba pada saatnya. Saat cangkir-cangkir berisi kopi tengah bersedia menjadi cermin dalam sebuah pesta. Akan kusiupkan secangkir kopi gula merah yang tak biasa untukmu. Lalu nikmatilah. Sendirian…
Gubuk Cerita
Guluk-Guluk, 11 April 2010
09 April 2010
Sinestesia: Aku dan April
Bulan ini penuh pertunjukan wayang cerita Sinansari dan Mahabrata. Aku begitu menikmati kisahnya yang mengalun di antara tanggal-tanggal April. Bulan keempat yang sarat akan makna bagi tunas-tunas jagung.
April adalah bola berisi gas hidrogen yang berpijar memberikan terang dan panas bagi hidup pertamaku. Pada bulan inilah aku mengerti seberapa putih hidup ini dan seberapa wajib kita memerahkannya. April bulan putih yang membara.
Aku melihat semangat pada gerak April yang berkobar. Seolah terjadi senestesia antara aku dan ia di tubuhku. Sungguh aku ingin berbagi denganmu. Meski lewat cerita yang sulit dipercaya.
Gubuk Cerita
Guluk-Guluk, 08 April 2010
April adalah bola berisi gas hidrogen yang berpijar memberikan terang dan panas bagi hidup pertamaku. Pada bulan inilah aku mengerti seberapa putih hidup ini dan seberapa wajib kita memerahkannya. April bulan putih yang membara.
Aku melihat semangat pada gerak April yang berkobar. Seolah terjadi senestesia antara aku dan ia di tubuhku. Sungguh aku ingin berbagi denganmu. Meski lewat cerita yang sulit dipercaya.
Gubuk Cerita
Guluk-Guluk, 08 April 2010
07 April 2010
Janji dalam Gelang Berempat
Kita berempat adalah bundaran manik
Menyatu dalam benang gelang coklat tua
Sesaudara, seiman, dan seperjuangan
Kitalah cahaya nyata yang akan menjadi
Surya kedua di dunia
Kitalah empat bersaudara
Yang kan terukir sepanjang sejarah
Hingga usai tanggal, bulan, tahun, dan abad
Kitalah yang akan berjuang untuk tanah air bersama
Ini bukan sumpah-serapah ataupun
kalimat dusta yag mengada-ada
Ini adalah janji sahabat berempat
Terbingkai dalam gelang berwarna millenium
Pemberian Ibu Mus’idah sejak kami menetas
dan belajar terbang di Madaris III Annuqayah
Bu Mus, gelang darimu masih kami simpan
Bersama terima kasih yang tak cukup hanya diucapkan
Guluk-Guluk, 06 April 2010
Untuk Ibu Mus’idah dan ketiga sahabatku
Menyatu dalam benang gelang coklat tua
Sesaudara, seiman, dan seperjuangan
Kitalah cahaya nyata yang akan menjadi
Surya kedua di dunia
Kitalah empat bersaudara
Yang kan terukir sepanjang sejarah
Hingga usai tanggal, bulan, tahun, dan abad
Kitalah yang akan berjuang untuk tanah air bersama
Ini bukan sumpah-serapah ataupun
kalimat dusta yag mengada-ada
Ini adalah janji sahabat berempat
Terbingkai dalam gelang berwarna millenium
Pemberian Ibu Mus’idah sejak kami menetas
dan belajar terbang di Madaris III Annuqayah
Bu Mus, gelang darimu masih kami simpan
Bersama terima kasih yang tak cukup hanya diucapkan
Guluk-Guluk, 06 April 2010
Untuk Ibu Mus’idah dan ketiga sahabatku
-bagimu teman kecilku
Datanglah seorang kawan dari
desa tetangga ke desaku
Di tangannya ia menggenggam pensil
untuk mencatat cerita-cerita hijau Tambuko
pada garis strimin jejarinya yang mungil
Diam-diam ia menyimpan rasa iri
Tapi membisik cinta dan cemburu
Hari telah sore, kawanku tetap setia
mencatat ladang-ladang hijau yang terbentang
Ibunya datang hendak menjewer
karena bermain seharian tak berpamit
Kawanku berlari di atas lumpur-lumpur yang coklat
Persis es krim rasa capucino
Lalu kejar lalu dikejar lalu mengejar
Lalu kejar-kejaran
Kawanku itu nakal, tapi ia cinta alam
Kawanku akhirnya terjatuh di bawah jebakan burung
Ia ditangkap dan dibawa pulang
Kawanku beranjak meninggalkan bekas cinta dan cemburu
Juga rindu yang memabukkan burung-burung
Lalu aku berteriak: pinanglah desaku!
Di gubuk cerita
Guluk-Guluk, 05 April 2010
Datanglah seorang kawan dari
desa tetangga ke desaku
Di tangannya ia menggenggam pensil
untuk mencatat cerita-cerita hijau Tambuko
pada garis strimin jejarinya yang mungil
Diam-diam ia menyimpan rasa iri
Tapi membisik cinta dan cemburu
Hari telah sore, kawanku tetap setia
mencatat ladang-ladang hijau yang terbentang
Ibunya datang hendak menjewer
karena bermain seharian tak berpamit
Kawanku berlari di atas lumpur-lumpur yang coklat
Persis es krim rasa capucino
Lalu kejar lalu dikejar lalu mengejar
Lalu kejar-kejaran
Kawanku itu nakal, tapi ia cinta alam
Kawanku akhirnya terjatuh di bawah jebakan burung
Ia ditangkap dan dibawa pulang
Kawanku beranjak meninggalkan bekas cinta dan cemburu
Juga rindu yang memabukkan burung-burung
Lalu aku berteriak: pinanglah desaku!
Di gubuk cerita
Guluk-Guluk, 05 April 2010
Pinanglah Desaku
-bagimu teman kecilku
Datanglah seorang kawan dari
desa tetangga ke desaku
Di tangannya ia menggenggam pensil
untuk mencatat cerita-cerita hijau Tambuko
pada garis strimin jejarinya yang mungil
Diam-diam ia menyimpan rasa iri
Tapi membisik cinta dan cemburu
Hari telah sore, kawanku tetap setia
mencatat ladang-ladang hijau yang terbentang
Ibunya datang hendak menjewer
karena bermain seharian tak berpamit
Kawanku berlari di atas lumpur-lumpur yang coklat
Persis es krim rasa capucino
Lalu kejar lalu dikejar lalu mengejar
Lalu kejar-kejaran
Kawanku itu nakal, tapi ia cinta alam
Kawanku akhirnya terjatuh di bawah jebakan burung
Ia ditangkap dan dibawa pulang
Kawanku beranjak meninggalkan bekas cinta dan cemburu
Juga rindu yang memabukkan burung-burung
Lalu aku berteriak: pinanglah desaku!
Di gubuk cerita
Guluk-Guluk, 05 April 2010
Datanglah seorang kawan dari
desa tetangga ke desaku
Di tangannya ia menggenggam pensil
untuk mencatat cerita-cerita hijau Tambuko
pada garis strimin jejarinya yang mungil
Diam-diam ia menyimpan rasa iri
Tapi membisik cinta dan cemburu
Hari telah sore, kawanku tetap setia
mencatat ladang-ladang hijau yang terbentang
Ibunya datang hendak menjewer
karena bermain seharian tak berpamit
Kawanku berlari di atas lumpur-lumpur yang coklat
Persis es krim rasa capucino
Lalu kejar lalu dikejar lalu mengejar
Lalu kejar-kejaran
Kawanku itu nakal, tapi ia cinta alam
Kawanku akhirnya terjatuh di bawah jebakan burung
Ia ditangkap dan dibawa pulang
Kawanku beranjak meninggalkan bekas cinta dan cemburu
Juga rindu yang memabukkan burung-burung
Lalu aku berteriak: pinanglah desaku!
Di gubuk cerita
Guluk-Guluk, 05 April 2010
26 Maret 2010
Martabak Rindu di Malam Bercakap
Sekiranya kau menyimak kembali catatan tercecer dalam kerlip lampu pasar malam lalu. Enam sekawan menukar uang dengan karcis untuk masuk rumah hantu tak berhantu. Lalu tawa, lalu canda, lalu kuda-kudaan berputar-putar.
Setidaknya kau bisa melanjutkan percakapan, kalau saja tidak kau lupakan malam itu. Dering handpone, panggilan tak terjawab, SMS masuk, dan pulsa-pulsa yang berdansa. Kalau saja. Tapi mungkin kau lupa. Ah! Sudahlah.
Sepertinya malam itu kau tahu betapa mudahnya martabak itu dibuat. Pijat-pijat bola pimpong tepung, pecahkan telur dalam gelas karet berisi bawang, kocok-kocok, goreng dalam genangan minyak yang meletik-letik. Lalu kau gigit pinggir martabak dalam lumatan rindu. Sendiri.
Semestinya kau mengajak kami untuk makan bersama-sama. Bernyanyi di beranda, melihat bintang-bintang, tertawa, atau mungkin puisi. Sementara kau tak pernah tahu bagaimana persahabatan itu seharusnya dinikmati seperti mengunyah sepotong martabak sambil menggigit cabai.
Guluk-Guluk, 25 Maret 2010
Setidaknya kau bisa melanjutkan percakapan, kalau saja tidak kau lupakan malam itu. Dering handpone, panggilan tak terjawab, SMS masuk, dan pulsa-pulsa yang berdansa. Kalau saja. Tapi mungkin kau lupa. Ah! Sudahlah.
Sepertinya malam itu kau tahu betapa mudahnya martabak itu dibuat. Pijat-pijat bola pimpong tepung, pecahkan telur dalam gelas karet berisi bawang, kocok-kocok, goreng dalam genangan minyak yang meletik-letik. Lalu kau gigit pinggir martabak dalam lumatan rindu. Sendiri.
Semestinya kau mengajak kami untuk makan bersama-sama. Bernyanyi di beranda, melihat bintang-bintang, tertawa, atau mungkin puisi. Sementara kau tak pernah tahu bagaimana persahabatan itu seharusnya dinikmati seperti mengunyah sepotong martabak sambil menggigit cabai.
Guluk-Guluk, 25 Maret 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Selama menikah, kejutan dari suami hampir bisa dihitung jari. Bagi saya yang memang agak sedikit cuek dengan hadiah, itu adalah hal wajar. N...
-
Perjalanan umroh kali ini begitu mengejutkan. Semua bermula dari gurauan bersama sahabat saya, Devi. Ia dan suaminya berencana umroh bersama...
-
Dalam hidup kita membangun sebuah cerita. Ketika cerita itu berlalu ia berubah nama menjadi kenangan. Masing-masing kita memilikinya. Namun...