04 November 2022

Menonton Film Perjalanan Agung

Setelah satu bulan tidak aktif mengajar, pagi tadi saya mengajak siswa saya di SMA 3 Annuqayah menonton film dokumenter dengan tema spritualitas bejudul Le Grand Voyage yang disutradarai oleh Ismael Ferroukhi. Sebelumnya saya memang berjanji untuk mengajak mereka menonton sepulang dari tanah suci. Saat masuk kelas, mereka menagih dan minta langsung ke perpustakaan. 


Diputarlah film produksi Prancis tahun 2004 tersebut, yang mengangkat kisah sederhana tentang hubungan ayah dan anak dalam sebuah perjalanan suci menunaikan ibadah haji. Uniknya, sang ayah Mohamed Majd, malah menggunakan kendaraan Peugeot seri 306 dengan jarak tempuh 4.828 km dari Provence, Prancis Selatan menuju Mekah. 


Tokoh anak bernama Reda, lulusan SMA dengan latar pergaulan Eropa, dibesarkan oleh sekularisme, dan cenderung menganut nilai-nilai yang lebih modern mempertanyakan mengapa ayahnya menggunakan mobil tua dan bukan mengudara saja. Jawaban sang ayah, menggunakan pepatah Arab-Maroko begitu dalam,

“Ketika air samudera menguap menuju langit, rasa asinnya hilang dan air tersebut murni kembali. Air samudera menguap naiknya ke kawanan awan. Saat mereka menguap, air akan menjadi tawar, murni kembali. Itulah sebabnya, lebih baik berangkat haji dengan berjalan kaki dari pada menaiki kuda, lebih baik menaiki kuda dari pada menggunakan mobil, lebih baik menggunakan mobil dari pada menaiki kapal, dan lebih baik menaiki kapal dari pada berkendara dengan pesawat”.


Jawaban tersebut cukup membuat hati Reda tergugah. Namun hubungan menegangkan di antara keduanya bukan lantas mencair dengan mudah. Konflik-konflik kecil ditampilkan dengan sangat sopan sehingga pesannya pun dapat tersampaikan dengan baik. Salah satunya, saat mereka dirampok seorang pemuda Turki berkedok penolong, uang mereka habis menciptakan kecemasan di tengah perjalanan. Sang ayah dengan tingkah ketuannya, penuh kehati-hatian, dan konservatif, mengeluarkan tabungan lain dalam sabuk kain yang ia buat. 


Kreativitas yang ditampilkan dalam film ini bisa menjadi pelajaran bagi kita dalam menempuh perjalanan jauh. Pesan moralnya, jangan langsung percaya pada orang baru, jangan menyimpan uang dalam satu tempat, dan berkaryalah tanpa memandang usia. 


Film favorit saya itu memang sarat akan pesan moral. Sudah lama saya ingin menampilkannya di kelas. Tetapi saya mencari momen yang tepat. Tenyata, baru di tahun ini, saat saya pulang umroh, saya berkesempatan membawanya ke sekolah. Itu seperti menjadi oleh-oleh paling berharga untuk siswa. 


Respon mereka cukup memuaskan. Mereka semua larut dalam tangis saat film telah usai. Saya biarkan dulu ruangan hening. Mereka masih butuh waktu untuk memenangkan hati sebelum melakukan presentasi. 


Memang benar apa yang dikatakan Goleman dalam laman The Conversation, bahwa Menangis dalam menanggapi film mengungkapkan empati yang tinggi, kesadaran sosial, dan koneksi semua aspek kecerdasan emosional. Dengan demikian, ini merupakan indikator kekuatan pribadi alih-alih kelemahan. Saya pun tak sungkan menunjukkan bahwa saya juga bersedih seperti mereka. Saya ikut menangis, bahkan meraung sejadi-jadinya. Biar mereka juga tak sungkan menumpahkan reaksi emosionalnya. Kelas ditutup dengan khidmat, dengan penuh harapan suatu kelak mereka semua berkesempatan untuk berziarah ke Raudah dan Baitullah. 


03 November 2022

03 November 2022

Pelajaran dari Rumah Abah Ali

Berkesempatan melaksanakan ibadah umroh di usia muda tak pernah terbayangkan sebelumnya. Maklum, sifat labil dalam diri selalu mendorong untuk membelanjakan pendapatan pada jalur keinginan saja. Namun siapa sangka, meski tak ada dana, jika telah sampai pada waktunya, Allah mudahkan segalanya. 


Perasaan haru menginjakkan kaki di bandara King Abdul Aziz Jeddah seumpama gelembung kecil meletup-letup tiada henti. Seperti anak kecil menerima mainan baru, saya mampu melupakan pengalaman menegangkan dan tidak nafsu makan selama sembilan jam empat pulih lima menit di pesawat. Kota Jedah menyambut saya seperti seorang nenek memeluk cucunya. 


Jeddah memang berasal dari bahasa Arab yang berarti "nenek". Merujuk pada Siti Hawa, istri Nabi Adam AS yang dimakamkan di wilayah itu. Letaknya berada di pesisir Laut Merah, menjadikannya sebagai pusat perekonomian penting Arab Saudi. Namun sperti namanya, kesan yang pertama kali saya tangkap, Jeddah adalah kota tua dengan bangunan-bangunan yang hampir rapuh. Banyak penggusuran di kanan kiri jalan dan suasana sepi setiba saya di sana yang kebetulan malam hari, memberikan kesan menyeramkan. 


Berbeda dengan siang hari, Jeddah terlihat begitu eksotis. Pemandangan gurun pasir dan sekawanan unta menciptakan rasa takjub luar biasa. Unta adalah hewan mulia yang memiliki keunikan dan keistimewaan dibanding hewan lainnya. Unta juga beberapa kali disebut di dalam al-Qur'an sebagai bentuk renungan penciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Salah satunya adalah surat al-Ghaasiyah ayat 17-21 dan surah Yasin ayat 71-72. 


Bukan kebetulan, abah Ali dan umi Wasila, mukimin di Jeddah yang merupakan orang tua dari sahabat saya Istifadatul Qamariyah, memang mempersiapkan penyambutan untuk saya dan keluarga. Abah berangkat menjemput kami ke hotel lepas subuh dan baru tiba pada pukul 06.00 pagi. Beliau menggunakan mobil pribadi namun diparkir di batas kota Jeddah-Mekah karena sulitnya area parkiran di sekitar Harom. Bukan tidak ada, tetapi biayanya bisa lebih mahal dari ongkos PP Jedah-Mekah. Jadi kami menaiki taksi dari Harom hingga ke batas Jeddah, dan menyalin kendaraan menuju maktab abah. 


Kami disambut dengan sangat istimewa. Umi menyuguhi kami krupuk yang begitu kami rindukan. Beliau menjelaskan bahwa produk krupuk itu bukan kiriman dari Madura, melainkan bikinan sesama mukimin di Jeddah. Katanya banyak masakan Indonesia kaprah di jual di sana, seperti rujak, bakso, soto dan kawan-kawannya untuk mengobati rasa rindu terhadap kuliner tanah air. 


Umi Wasila juga memasakkan kami sate, gule, dan bakso. Betapa girangnya ipar saya, yuk Nung, yang memang tiga hari tidak makan nasi karena tidak nafsu. Yuk Nung terserang flu setiba di Mekah, jadi ia sangat menampik sajian istimewa di hotel kami. Bakso yang disuguhkan umi Wasilah menjadi secam kolam renang tempat ia menceburkan diri pada rasa nikmat. Berasa masuk warung Indonesia, kami begitu menikmati. 


Pemandangan seperti memasuki restoran tanah air juga saya rasakan ketika dalam perjalanan pulang ke Indonesia. Rombongan jamaah umroh yang diketuai Kiai Masyhudi diberi kesempatan untuk menghabiskan sisa mata uang real di pasar Balad. Sebuah pusat perbelanjaan Corniche Commercial Center yang sebenarnya saya nilai telah usang. Namun kesan istimewa saya rasakan saat memasuki warung Mang Oedin. Orang-orang Indonesia bersemangat mengantri demi semangkok bakso dan mie ayam, tak peduli harus membayar segila lima kali lipat harga Indonesia. Menyaksikan orang-orang bersantap dengan wajah puas, yang saya nilai bukan lagi soal kuliner, tetapi lebih pada kerinduan serta kecintaan terhadap rempah khas Indonesia. 


Para jamaah dari berbagai daerah di Indonesia menyesaki pasar Balad. Melakukan banyak transaksi jual beli seperti memberikan kebahagiaan bagi pedagang penuh keringat yang menawarkan parfum, tasbih, juga kentaki albaik yang tak henti berteriak dengan lantang "albaik albaik per bungkus 25 real, uang Jokowi 100 ribu rupiah".


Mengenai itu, emak mertua berkomentar bahwa orang Madura menang banyak di Negeri rantau. Berkat pelajaran bisnis dan sikap anti gengsi yang dibiasakan, orang Indonesia mampu mewujudkan usahanya sendiri. Sebuah pelajaran membanggakan bagi kaum muda untuk bangkit bersaing di Negeri sendiri dalam proses membangkitkan perekonomian mandiri.  


Saya lalu teringat lirik lagu qosidah Nasidaria berjudul Tahun 2000. Dalam penggalan lirik itu menyebut tahun 2000 tahun harapan, penuh tantangan, dan juga mencemaskan. Tak hanya itu, pekerjaan serba menggunakan mesin disebut pula, sehingga para pemuda diminta untuk menyiapkan diri, ilmu dan mempertebal iman. Kita telah sampai pada petunjuk (clue) yang disampaikan lagu itu. Maka ayo siapkan dirimu! Siiiaaappp... 


30 Oktober 2022

29 Oktober 2022

Candu Panggilan Nabi Ibrahim

Dua tahun sebelum wafat, ibu sudah mempersiapkan keberangkatannya ke tanah suci. Beliau menyimpan baju putih pemberian kakak dan berulang kali berpesan bahwa baju itu akan dipakai untuk berhaji. Namun keinginan beliau terputus garis maut. Ibu pergi sebelum impian mulianya menjadi kenyataan. Itulah kenangan terberat yang harus kupikul setelah kepergiannya. 


Badal haji yang kakak tunaikan untuk beliau tidak cukup membuatku puas, karena aku tidak menyaksikan langsung prosesnya. Aku berharap suatu hari nanti bisa menghajikan beliau sendiri. Tentunya setelah rukun hajiku ditunaikan. 


Barangkali itu terkesan dramatis, tetapi segala sesuatu menyangkut orang tua selalu menjadi yang utama dalam hidupku. Maka ketika seorang sahabat bernama Indah Susanti, menitipiku salam untuk ibunya di perkuburan Ma'la, Mekah, aku mencatatnya sebagai agenda wajib. Aku memposisikan diri sebagai Indah, nun jauh di Madura hanya bisa berkirim salam lewat kalamullah dan sedekah, tanpa mampu mengunjungi langsung nisan ibundanya, maskot terpenting dalam hidupnya.


Sejak bayi indah sudah ditinggal ibunya merantau ke Arab Saudi. Di usianya yang ketiga, saat ibunya usai melaksanakan ibadah haji, tiba-tiba penyakit asma yang diderita kambuh dan mengantarkan beliau pada lorong ajal. Indah kecil belum mengerti apa-apa. Ia hanya bisa menyaksikan teman-teman sebayanya bermanja dalam buaian manusia yang mereka panggil ibu.


Bayangan kesedihan Indah kembali melintas ketika secara tak sengaja aku melihat mayat membujur di masjidil Haram. Ternyata selepas shalat fardu di masjid Nabawi dan masjidil Haram memang selalu digelar shalat jenazah bukanlah shalat ghaib, melainkan benar-benar shalat jenazah. Pemandangan itu memberikan peringatan bahwa kematian seperti semakin dekat. Terlebih saat bertawaf, saat doa-doa dari manusia di seluruh dunia dipanjatkan, aku membayangkan seakan manusia bangkit dan berkumpul di padang mahsyar, hanya mengharap pertolongan Tuhan dan air dari telaga Nabi Muhammad SAW. 


Kesadaran akan dosa-dosa seumpama hantaman ombak besar yang bergelombang. Aku seperti tenggelam dalam dunia lain. Memohon pengampunan dan kehidupan indah setelah kematian. Bayangan gemerlap dunia tak kuhiraukan. Dadaku hanya penuh dengan kesedihan sekaligus kebahagiaan, yang sepertinya itu adalah puncak perasaan paling megah yang pernah aku cicipi. Dan aku selalu merasa ketagihan. 


Sedahsyat itulah rasanya, mencecapi kenikmatan yang tidak dikunyah. Aku mulai mengerti mengapa orang-orang yang telah berjumpa dengan Baitullah selalu berujar rindu rindu rindu dan ingin kembali. Rupanya panggilan Nabi Ibrahim adalah suara paling merdu yang menjadi candu. Semoga kita semua dapat mendengar seraya menjawab panggilan itu. 


Mekah, 10 Oktober 2022

25 Oktober 2022

Menapaki Tanah Baginda

Alam kota Madinah sangat gersang dan tandus, namun ketika memandangnya ada keindahan dari sisi lain. Mungkin karena keberkahan yang Allah letakkan dengan menjadikan kota ini sebagai tempat bersemayamnya manusia paling agung sehingga nuansanya menyuguhkan keteduhan. Madinah juga menjadi alam yang begitu dicintai karena dulu pernah mewarnai kehidupan Nabi.


Kesempatan untuk menjelajahi kota ini, aku peroleh di hari ketiga. Rombongan kami yang berjumlah 49 orang akan menziarahi tempat-tempat bersejarah seperti, masjid Bilal, Masjid Quba, Gunung Uhud, masjid Qiblatain, Baqi', dan masjid para sahabat Nabi. Tak lupa juga, kami akan mengunjungi kebun kurma yang menjadi ikon wisata kota Madinah.


Bus kami tiba di masjid Quba pada pukul 8.00 pagi Waktu Arab Saudi. Selain harus beradaptasi dengan cuaca panas yaitu 39°C, kami juga harus berdesakan untuk bisa masuk ke dalam masjid yang pertama dibangun oleh Nabi sekaligus masjid pertama dalam sejarah Islam itu. Ra Syafiuddin Uud sebagai mutowif dalam rombongan kami mengisahkan riwayat bahwa masjid ini dibangun atas dasar keimanan dan Nabi berpayah-payah sendiri di dalamnya. Bahkan ketika para sahabat menyuruh Nabi berhenti, Nabi menolaknya, dan meminta agar para sahabat ikut membantu, "Diyarokum-diyarokum, tuktab atsarokum", [Biarlah biar, kerjakanlah jika kalian ingin membantu], begitu arti yang kutangkap dari penjelasan ustad Uud.


Memandangi masjid ini dari kejauhan, aku begitu takjub. Seolah ikut merasakan keberadaan Nabi pada zaman dahulu. Membayangkan Nabi menyentuh setiap puing-puing bagunan dan bahkan menyisakan bekas langkah beliau di sepanjang pelataran masjid. Ya, kepalaku memang selalu penuh dengan visual. Ia menampilkan rangkaian kejadian-kejadian seperti sebuah film dokumenter.



Bagian yang paling mudah membuatku larut dalam tangis adalah ketika membayangkan masa kecil Nabi sebagai seorang Yatim dan miskin. Kemudian setelah enam tahun sang ibu juga menghadap Rabbnya. Betapa Nabi Muhammad kecil telah diuji kerentanan dan mentalnya sebagai persiapan menjalani tugas sebagai Rasul Tuhan di masa depan.


Lalu aku teringat anak-anak yatim di kampungku. Terutama kemenakanku, anak almarhum Muzammil Omeng, namanya Imam. Setiap aku dan suamiku berkunjung, ia selalu berbinar, datang ke pangkuanku dan kadang juga bersedia aku cium. Tak pernah aku jumpai ia bersedih karena kepergian ayahnya di usianya yang masih balita. Tetapi bagaimana pun seorang yatim, tetap membutuhkan fondasi mental kuat serta dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekatnya. Itulah mengapa Nabi begitu mencintai yatim dan menyeru kepada umatnya agar berbelas kasih kepada mereka.


Siang itu aku larut dalam sujud di dalam masjid Quba. Merasakan penderitaan Nabi dari sisi masa lalunya. Menjadi insan yatim piatu yang juga merindukan ayah ibu. Merenungkan betapa perjalanan ini, sebagian besar adalah sekolah yang harus aku kaji lembar demi lembar. Semoga kita semua segera terpanggil menjadi tamu Allah, dengan rejeki yang tak disangka-sangka, seperti hujan yang kadang turun secara tiba-tiba.


10 Oktober 2022

22 Oktober 2022

Hadiah untuk Dua Oktober


Bulan Oktober menjadi bulan penuh traumatis dalam hidupku, karena ujian tragis yang aku alami selalu bertepatan di bulan itu. Tahun 2020 lalu, insiden kecelakaan yang aku alami di desa Rajun, Pasongsongan, Sumenep, hampir menyeret pada sakaratul maut. Disusul Oktober tahun berikutnya, suamiku juga mengalami kecelakaan di desa Payudan Daleman, Guluk-Guluk, Sumenep, tepat di tanggal yang sama. Maka wajar jika Oktober tahun ini aku begitu cemas mempersiapkan diri menghadapi ujian apa yang akan Tuhan berikan. 


Ternyata segalanya nyaris di luar dugaan. Seperti mimpi, Emak mertua tiba-tiba mengajak kami umroh, pemberangkatan bulan Oktober. Oktober ketiga setelah dua tahun sebelumnya kami menerima ujian bertubi-tubi; wafatnya ibu, seratus hari kemudian disusul nenek, dan empat puluh hari berikutnya abah mertua. Karenanya orang-orang bersimpati dan memberi istilah hidupku "ditebang maut".


Demikianlah sekelumit gambaran tentang betapa cepatnya Tuhan memanggil keluargaku susul menyusul. Tersisalah kakakku yang kemudian aku anggap sebagai ibu, dan suami yang selalu menjadi tiang terkuat dalam hidupku. Selebihnya aku hanyalah seorang yatim piatu. 


Aku tak punya kelebihan apa-apa. Sering aku sebutkan bahwa kemampuan terbaikku hanyalah mencuci piring. Sejak kecil aku memang terlatih untuk membersihkan perabotan kotor. Bahkan ketika bertamu, aku tak bisa membiarkan orang lain mencuci piring bekas makanku. Maka ketika seorang kawan bertanya tentang amalan apa yang aku punya, dengan mantap aku menjawab bahwa anugerah kebahagiaan dalam hidupku, selain dari doa orang tua dan guru, aku peroleh dari kegemaranku mencuci piring. 


Mencuci piring bagiku adalah kegiatan kontemplatif. Ketika mencelupkan kain atau spons ke sabun lalu mengusapkannya pada piring kotor, aku suka merenungkan hal-hal menyenangkan. Kadang-kadang juga berisi kalimat pengharapan yang aku anggap itu doa. Aku bahkan lebih lama berdoa saat mencuci piring dibandingkan setelah shalat. Sangat kurang ajar memang, tetapi aku lebih yakin harapan-harapanku saat mencuci piringlah yang lebih sering dikabulkan Tuhan. 


Barangkali alasan ini terkesan klise, namun apakah Anda pernah mendengar kisah Rahman Pananto? Seorang pemuda asal kota Malang, Jawa Timur, sukses menjadi chef sushi di sebuah restoran Jepang di kota Fairfax, Virginia, AS, hanya dengan mengawali kariernya sebagai tukang cuci piring. Bermodal nekad, ia lalu belajar memotong sayuran menggunakan pisau bagus. Lalu, impiannya menjadi seorang chef terwujud ketika dia berani mengambil langkah kursus memasak. 


Banyak lagi kisah inspiratif dimulai dari hal sepele, karena kita semua memang hanyalah sebuah titik. Ada yang diam, ada pula yang bergerak memulai. Dan memulai tidak harus selalu dengan langkah besar. 


Bisa dengan mengerjakan hal-hal sederhana secara ikhlas dan penuh suka cita. Seperti mengelap kaca, menyetrika, atau jika mampu dengan membaca. Yakini saja, barokah akan mengalir lewat jalan tak terduga. 


Seperti kejutan yang aku terima di bulan Oktober tahun ini. Aku meyakini sepenuhnya adalah hadian untuk ujian dua Oktober sebelumnya. Tuhan menguji ketabahanku dengan berbagai cara; kematian dan penderitaan. 


Lalu aku menyambut undangan Nabi Ibrahim AS, saat Tuhan memerintahkan beliau menyeru kepada setiap manusia untuk berhaji dan umroh. Aku berkesempatan melakukan ibadah umroh di titik, di mana aku sendiri seperti belum percaya. Ya, aku menjadi tamu Allah. Segalanya terasa sangat istimewa, sebab ada Baitullah di hati setiap mukmin. Begitu juga di dalam hatiku, aku memimpikannya, sejak lama. 


22 Oktober 2022

08 Oktober 2022

Bersaudara Tanpa Batas

Malam itu di dalam bus terhal aku memandang dengan nanar jalanan kota Madinah. Aku kembali terkenang masa lalu, tentang asalku, dan rangkaian jalan nasibku. Seperti belum percaya, dengan begitu mudahnya aku bisa sampai di tempat ini. Kota penuh Barokah tempat Rasulullah berjuang mendakwahkan Islam, tempat turunnya ayat-ayat Madaniyah, tempat berkumpulnya umat Islam untuk berziarah ke maqbarah manusia paling agung itu. Maka aku mengimani bahwa undangan menjadi tamu Allah bisa untuk siapa saja, sama sekali tak terkait materi. 


Di sepanjang jalan dari bandara King Abdul Aziz, Jeddah, hatiku bergetar, sesak oleh perasaan haru, rindu, dan kenangan tentang almarhum ayah ibu. Ayah yang begitu mencintai Nabi sampai sering mengigau bershalawat barzanji sampai tuntas, dan ibu yang sebelum wafatnya mempersiapkan baju putihnya untuk dipakai di haramain. Namun beliau berdua sudah tiada, beliau lebih dulu pergi sebelum berkesempatan ziarah ke Mekah dan Madinah. 


Sesampainya di raudah, yang pertama berbicara adalah air mata. Rasa syukur begitu dalam aku panjatkan atas rahmat Allah telah memberi jalan untuk sampai di tempat yang diimpikan seluruh kaum muslimin dengan perantara kerja keras juga doa mama dan almarhum abah mertuaku semasa hidup. Sulit dipercaya, tetapi kita semua hanyalah daun-daun yang mampu diterbangkan Tuhan kemanapun Dia kehendaki. 


Lebih dalam lagi, aku memohon ampunan atas dosa yang kian hari kian menggunung, tak mampu kubendung. Bahkan ketika Tuhan memelukku dengan cintanya, diri ini selalu ingkar dan kufur. Aku berharap rahmat Allah atas lahirnya Kanjeng Nabi Muhammad untuk mengampuniku, keluargaku, kerabatku, guru-guruku, tetanggaku, sahabatku, juga seluruh kaum muslimin dan mukminin di seluruh dunia. 


Di tempat ini, Tuhan mengirimiku teman-teman baru. Aku berjumpa dengan Kak Rubinah dari Pakistan dan Ummi Kulstum dari India. Pertemuan itu terjadi di dalam masjid Nabawi usai melaksanakan shalat subuh. Tiba-tiba ada dua orang berpelukan melepas rindu di sampingku. Komunikasi dalam bahasa Inggris mereka membuat saya paham bahwa di tahun-tahun sebelumnya, mereka pernah berjumpa di perjalanan ibadah umroh. Di pertemuan ini mereka seolah tak percaya Tuhan menjumpakan kembali di tempat yang sama, di antara ribuan manusia. 


Mereka berdua menyapaku  yang tengah tersedu. Dalam bahasa Inggris yang belepotan aku mencoba membangun komunikasi, menanggapi pertanyaan-pertanyaan mereka. Aku bercerita tentang kerinduan terhadap almarhum ayah dan ibu dan kesempatan beribadah di sini yang masih mustahil dalam benakku. 


Tangan kami saling merangkul. Kak Rubinah bahkan mengecup tanganku seperti sudah sangat akrab. Lalu aku teringat sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, yang artinya "Seorang Muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya". Seperti Nabi mengajarkan keramahtamahan dan kerendahan diri, kami melebur menjadi saudara tanpa batas. Kami saling bertukar nomor ponsel, bertukar doa, dan berharap di tahun-tahun yang akan datang akan ada perjumpaan berikutnya. Semoga. 


Madinah, 8 Oktober 2022

08 Juni 2022

Momentum Terbaik Bersama Abah Mertua

Siang itu aku sedang mengupas kulit ari kacang tanah untuk diolah menjadi kacang klici ketika almarhum Abah mertua memanggilku ke dekat sumur. Buru-buru aku mengelap kedua tangan dengan sarung yang aku kenakan. Harap maklum jika aku begitu bersemangat memenuhi panggilan beliau karena biasanya beliau lebih suka diam. Ucapannya sehari-hari hampir bisa dikalkulasi, jadi aku sangat penasaran tentang kepentingan di balik panggilan beliau kala itu. 


Setiba di dekat sumur, abah memintaku duduk di lincak kecil samping beliau. Sekali lagi, kami jarang sekali mengobrol sehingga aku kelihatan gugup dan salah tingkah. 


Abah adalah sosok sederhana yang tak pernah mengumbar materi yang beliau miliki. Tingkah kesederhanaan beliau biasanya dicerminkan dalam penampilan kaos putih tipis, sarung lusuh dan kopiah putih buatan orang Bugis yang beliau beli sepulang dari tanah suci. Lebih sering lagi bertelanjang dada memperlihatkan tubuh kurus ringkih beliau yang selalu membuatku rindu. 


Pernah suatu kali ada seseorang pembeli bertanya kepada Abah siapa pemilik pabrik tahu tempe yang ia kunjungi. Abah hanya tersenyun seraya menjawab bahwa orangnya ada di dalam. Dari para pekerja, pembeli itu akhirnya tahu bahwa sosok bertumbuh tinggi kurus tak mengenakan baju itulah pemilik pabrik yang ia tanyakan. 


Kekagumanku terhadap Abah justru karena beliau pendiam. Setiap kata yang terlontar dari beliau selalu tentang hal bermanfaat dan memiliki makna yang dalam. Mengenai itu aku pernah memberanikan diri bertanya, beliau menjawab dalam diamnya ada istighfar untuk almarhum kakek dan nenek. 


Kecintaan beliau terhadap orang tua dikisahkan emak saat naik pesawat dalam perjalan haji ke tanah suci tahun 2003. Abah menangis sejadi-jadinya tanpa suara karena kakek dan nenek tidak tertakdir melaksanakan rukun islam yang kelima. Alasan lebih dalamnya, hanya batin abah yang merasakan. Barangkali syukur dan cinta jika diaduk akan menjadi perasaan yang dahsyat. 


Abah memperbaiki posisi kopiah putihnya sebelum berbicara di lincak bambu dekat sumur tua di halaman rumah, siang itu. Kebetulan seluruh keluarga sedang istirahat. Pembeli tahu juga lumayan sepi. 


Mula-mula abah membuka percakapan tentang perumpaan kemurnian harta seperti mutiara di lautan, siapapun yang menginginkannya harus menyelam, berenang, dan siap bertemu dengan hiu paus. Saya menangkap, rejeki harus dijemput bukan ditunggu. Ketika rejeki itu diraih dengan kerja keras, maka hasilnya akan murni dan manis. Namun beliau menambahkan bahwa harta itu seperti hidangan yang hanya bisa kita lihat, sementara cara menikmatinya, menurut prinsip beliau adalah dengan disedekahkan dan ditunaikan jadi ongkos haji ke Baitullah. 


Aku masih berpikir ganjil benar siang itu. Tiada ombak, Abah memanggilku hanya untuk mengatakan itu? Sebelum aku terheran-heran lebih jauh, beliau lanjut memberi nasehat tentang betapa pentingnya bekerja keras untuk hidup yang lebih baik, terutama untuk mampu meletakkan posisi tangan di atas. Beliau menekankan harta menjadi penting dengan tujuan baik, bukan untuk berbangga-bangga diri. 


Dengan gaya berbicaranya yang santai, Aba meminta saya agar sering-sering mengajak suami sowan kepada guru. Kata beliau keberkahan hidup berasal dari doa guru. Beliau juga bercerita tentang kawan alumninya sewaktu nyantri di Pondok Pesantren Raudatul Ulum Sumber Wringin, Jember, yang memberikan separuh pendapatannya per bulan untuk gurunya, seperempatnya lagi untuk yatim dan fakir miskin, seperempatnya lagi untuk dirinya dan keluarganya. Benar-benar tidak masuk akal, pikir dangkalku. 


Otakku semakin berjalan ke mana-mana, mengutuk diri yang malas untuk bersedekah dan mengagumi tokoh dalam cerita Abah. Barangkali Abah juga mengerahkan rezeki yang beliau terima dalam spirit berbagi yang senada. Tebakanku bersumber dari cerita suami pernah memergoki beliau usai shalat Jum'at di masjid tengah memasukkan uang dalam jumlah yang besar ke dalam kotak amal setelah jamaah bubar. Sementara aku sudah bangga memasukkan uang dua ribuan setelah numpang wudu bahkan mandi di masjid. 


Abah adalah pribadi yang tenang dan cukup teliti dalam perhitungan zakat. Beliau begitu bersemangat mencari anak yatim serta janda lanjut usia. Terutama pada momen hari raya. 


Kedermawanan beliau aku saksikan dalam kesempatan lain ketika mendengar langsung beliau mengisahkan hikayat orang mati yang ingin bangkit dari kubur hanya untuk bersedekah, bukan beribadah. Waktu itu aku sedang mencuci piring, Abah duduk di pintu seperti pendakwah disimak saudara ipar dan ibu mertua. Beliau menjelaskan bahwa ibadah kita tidak cukup untuk membayar rahmat Tuhan. Nilai tambah yang harus dikumpulkan adalah dengan jalan sedekah. Hitung-hitungannya, usia yang batas normalnya hanya sampai di angka enam puluh, sementara yang rata-rata manusia lakukan hanya kewajiban rukun islam. Maka apa yang kelak bisa dipersembahkan kepada Tuhan? Begitulah abah mewarisi nasihat kepada anak-anaknya. 


Aku merasa beruntung ditakdirkan menjadi anak menantu di keluarga ini. Banyak pelajaran yang aku dapatkan selama sembilan tahun bersama beliau. Salah satu yang paling berharga adalah bagaimana beliau gigih dalam bekerja menjemput rezeki Tuhan sehingga mampu bersedekah gila-gilaan. Semoga amal baik beliau menjadi cahaya indah di barzakh, menjadi penuntun ke surga-Nya, serta mampu dilanjutkan oleh keturunannya.

Ganding, 08 Juni 2022