Bulan Oktober menjadi bulan penuh traumatis dalam hidupku, karena ujian tragis yang aku alami selalu bertepatan di bulan itu. Tahun 2020 lalu, insiden kecelakaan yang aku alami di desa Rajun, Pasongsongan, Sumenep, hampir menyeret pada sakaratul maut. Disusul Oktober tahun berikutnya, suamiku juga mengalami kecelakaan di desa Payudan Daleman, Guluk-Guluk, Sumenep, tepat di tanggal yang sama. Maka wajar jika Oktober tahun ini aku begitu cemas mempersiapkan diri menghadapi ujian apa yang akan Tuhan berikan.
22 Oktober 2022
Hadiah untuk Dua Oktober
Bulan Oktober menjadi bulan penuh traumatis dalam hidupku, karena ujian tragis yang aku alami selalu bertepatan di bulan itu. Tahun 2020 lalu, insiden kecelakaan yang aku alami di desa Rajun, Pasongsongan, Sumenep, hampir menyeret pada sakaratul maut. Disusul Oktober tahun berikutnya, suamiku juga mengalami kecelakaan di desa Payudan Daleman, Guluk-Guluk, Sumenep, tepat di tanggal yang sama. Maka wajar jika Oktober tahun ini aku begitu cemas mempersiapkan diri menghadapi ujian apa yang akan Tuhan berikan.
08 Oktober 2022
Bersaudara Tanpa Batas
08 Juni 2022
Momentum Terbaik Bersama Abah Mertua
26 Maret 2022
Gus Muwafiq dan Sisi Keunikannya
24 Maret 2022
Mojokerto: Kota Kecil yang Menyimpan Surga
20 Maret 2022
Menyibak Keelokan Hutan Semeru
Rencana liburan ke Bromo sejak bertahun lalu tak pernah terwujudkan. Terlalu banyak pertimbangan dan persiapan matang sehingga ujung-ujungnya selalu gagal. Selain itu, kendala raksasanya juga finansial dan waktu.
Pekan lalu, secara tak terduga, dalam rencana takziah ke rumah famili di Lumajang, saya berkesempatan menjajaki Bromo Tengger Semeru. Saya dan suami tandem dengan mobil Ayik dan Devi. Mereka masih akan mengurus bisnisnya di Malang. Jadi dari Madura kami akan beristirahat di kontrakan Sufi, adik Devi, sehingga kami bisa ke Lumajang di siang hari.
Tiba di Malang pada waktu subuh, dinginnya berlipat ganda. Ditambah harus bersentuhan dengan air yang ternyata menyerupai es. Namun tak bertahan lama gigil itu, usai shalat kantuk menimpa begitu akut. Kami semua tertidur dalam ruangan seperti ikan pindang tak beraturan.
Siang harinya, dengan bermodalkan pinjaman motor Sufi dan Alvin kami bersiap menuju Lumajang melewati jalur Tumpang dengan jarak tempuh kurang lebih 3jam 37menit. Sesampainya di Desa Ngadas, kami dikejutkan dengan kabut tebal hampir menutupi jalan. Pemandangan menjadi sangat terbatas dan saya merasa seperti memasuki alam lain. Ditambah lagi warga yang melintas rata-rata berselimut sarung menghalau hawa dingin. Celakanya kami semua tidak mengenakan jaket. Biarlah menjadi pemandangan anti-mainstream bagi penjaga ronda di setiap pertigaan jalan.
Di pos sentral sebelum pertigaan Jemplang, para petugas menanyakan tujuan orang-orang yang lewat. Apakah hendak berwisata ke Bromo atau cuma lewat saja. Mereka juga menawarkan sewa mobil Jeep dengan tarif enam ratus ribu. Kami menjawab bahwa akan melayat ke rumah famili di Lumajang. Jadilah kami mengakses jalan ke Bromo tanpa dipungut biaya apapun.
Lanjut kami melewati kelokan dan tanjakan curam menampilkan lembah yang sangat dalam. Tabing-tebingnya begitu indah ditanami kentang, kubis, wortel, dan bawang. Di sisi kanan kiri jalan, pohon cemara menjulang rapi terselimuti kabut seperti dalam film The Twilight Saga.
Suami membubarkan imajinasi saya tentang film vampir itu. Ternyata bensin kami hampir habis. Tepat di tengah jalan yang sepi. Suami berhenti, Devi pun mengeluh motornya menyemburkan bau hangus. Kami melanjutkan perjalanan dengan penuh cemas. Setiba di desa Jemplang tampak dari jauh toko menjual bensin eceran. Lega rasanya. Dan diketahui pula bau hangus motor Ayik akibat ujung baju Devi yang terbakar kenalpot. Syukurlah kami semua selamat dari ujian kecil di tengah perjalanan ini.
Kegalauan tadi tuntas terbayarkan ketika sampai di simpang Jemplang, yakni turunan menuju wisata gunung Bromo dan jalan ke arah Lumajang. Pemandangan Bromo Tengger Semeru dari puncak begitu megah mempesona. Memanjakan mata yang selama ini hanya menyoroti tugas dan kesibukan. Namun kami tak sempat berhenti untuk mengambil gambar, hanya merekam sekilas dalam bentuk video pendek dari atas kendaraan karena kami harus tiba di Lumajang sebelum matahari terbenam.
Ketika keluar dari Jemplang, kami masuk ke lanskap pemandangan Ranu Pane. Hijau mulai membentang. Kabut tersibak entah ke mana. Di sisi jalan bunga-bunga terompet berwarna kuning menyuguhkan keindahan eksotis. Dari ketinggian tampak danau Ranu Pane begitu tenang berada di tengah pemukiman warga suku Tengger.
Di sepanjang jalan dari desa Jemplang ke Ranu Pane saya menjumpai beberapa pure kecil di rumah warga dan di pinggir jalan. Sensasinya berasa ada di Bali. Ternyata warga suku Tengger memang mayoritas penganut agama Hindu. Belakangan saya tahu bahwa nama Tengger berasal dari cerita rakyat Roro Anteng dan Joko Seger yang dipercaya masyarakat setempat sebagai leluhurnya.
Memasuki desa Burno lagi-lagi saya dikejutkan dengan pemandangan alam yang menyihir. Banyak tanaman liar dan unik di sepanjang jalan. Pakis paku tiang tumbuh berjejer seperti payung pantai. Bahkan bunga anggrek beraneka jenis tumbuh lebat menempel pada pohon-pohon tua yang menjulang. Sungguh pemandangan ajaib! Ini adalah surga bagi pecinta tanaman hias.
Hutan lebat gunung Semeru mengingatkan saya pada cerita ekspedisi pencarian puspa karsa tim bentukan Raras Prayagung yang melibatkan Jati Wesi dan Tanya Suma di Gunung Lawu dalam novel Aroma Karsa karya Dee Lestari. Novel fantasi tersebut seperti nyata karena digarap dengan penelitian serius hingga melahirkan anak buku berjudul Di Balik Tirai Aroma Karsa berisi kiat penulisan dan proses kreatif.
Betapa tidak terkecohnya saya ketika tahu Pak Polet penjaga gunung Lawu yang diwawancarai Dee mengatakan bahwa Dworopolo benar-benar ada. Sementara Dee mengaku bahwa nama Dwarapala (desa yang tidak terlihat) hanya diambil secara acak saat mencari kosa kata sangsakerta. Dan belum pernah sebelumnya Dee menyebutkan nama desa itu kepada Pak Polet. Jelaslah novel tersebut bukan sekedar fiksi biasa, melainkan keterhubungan batin antara si penulis dengan objek yang tengah digarapnya.
Menyesal saya tidak membawa kedua buku favorit saya itu dan berfoto dengan latar hutan Semeru yang penuh aura mistis nan memikat. Tetapi sapaan seorang paruh baya berselimut sarung di belokan jalan mengejutkan saya membuat saya dan suami merasa ngeri sekaligus mengurungkan niat untuk mengambil gambar. Devi pun mengaku terkesiap melihat lambaian si bapak.
Saya percaya, setiap hutan pasti memiliki penjaga, entah manusia atau makhluk tak kasat mata. Hutan tak pernah manja, tak memerlukan pupuk dan penanggulangan hama, tapi bisa berkelanjutan dan mensuplai kebutuhan manusia. Hutan adalah rumah bagi banyak flora dan fauna. Hutan memiliki nyawa dan manusia serakah menjadi pencabutnya.
Bersambung...
20 September 2021
Pelajaran Sederhana dari Rumah Iis
Semalam saya bermain ke rumah Istifadah di Ketawang Laok, Guluk-Guluk, sembari menunggu Mas Jur menghadiri acara kompolan shalawat nariyah di Pamekasan bersama suaminya. Biasanya saya ikut ke acara itu, karena banyak istri teman suami yang juga hadir. Namun semalam saya memilih di rumah Iis saja dengan rencana yang sudah kami buat, yaitu memasak seblak sayur jeletot markopolot.
Di beranda rumahnya, Iis menunggu bersama kedua anaknya. Anak pertamanya bernama Lina dan yang kedua Naya. Lina sudah sangat akrab dengan saya karena perjumpaan kami yang cukup intens sejak balita. Sebaliknya, Naya yang berusia 10 bulan selalu menangis saat melihat saya, entah apa alasannya. Mungkin karena terlalu cantik sehingga sampai kelihatan jelek.
Usai mengobrol sejenak, Iis menyiapkan bahan-bahan yang akan kami masak berupa, sayur, mie, sosis, krupuk, bakso, berikut bumbu-bumbunya. Dapurnya seperti biasa, sangat bersih dan rapi. Namun kerapian itu menjadi bahan olok-olok bagi saya, sebab itu atas arahan umminya di tanah rantau.
Ummi Iis cukup ekstrem dalam kebersihan dan menurut hemat saya, sudah menerapkan gaya hidup minimalis jauh sebelum Fumio Sasaki, Francine Jay, dan Marie Kondo, menerbitkan bukunya dalam versi bahasa Indonesia. Setiap kali melakukan panggilan video, beliau selalu mengontrol kebersihan dan kerapian rumah. Bahkan selembar handuk yg bertengger di atas pintu akan menjadi perkara besar.
Pernah suatu kali, umminya menelpon dan ingin melihat kondisi dapur. Iis kebingungan karena waktu itu dapurnya lebih parah dari kapal pecah. Ia berinisiatif mematikan data sejenak untuk membereskan cucian kotor dan mengembalikan barang-barang ke tempat semula, lalu mengarang cerita bahwa jaringan di Madura sedang tidak stabil. Namun setelah video dilanjutkan, umminya tetap curiga, itu hanya alasan. Iis tersenyum menyadari usahanya yang konyol.
Iis berkisah, sudah terbiasa rapi sejak remaja. Awalnya memang karena tuntutan, namun akhirnya menajadi kebiasaan yg menurutnya sangat membantu menghilangkan kemalasan dalam berbenah. Maka beruntunglah anak yang dididik untuk disiplin dan rapi sejak dini.
Berbanding terbalik dengan hidup saya yang tak pernah didekte ibu. Ibu secara suka rela mencuci baju saya bahkan setelah saya berkeluarga. Saat saya larang, beliau mencuri waktu mengumpulkan pakaian kotor saya dan merapikan rumah tanpa lelah. Bagi sebagian anak, cara ibu saya dianggap sebuah keberuntungan. Namun ternyata malah memupuk kemalasan dan ketidakdisiplinan. Dampaknya sangat saya rasakan ketika ibu sudah tiada. Betapa ketergantungan akan sangat menyiksa.
Sampai akhirnya, saya diperkenalkan dengan buku Seni Hidup Minimalisnya Franchine Jay oleh Ning Cece. Saya berjanji kepada diri sendiri untuk belajar berbenah mempraktikkan streamline sebagaimana dipandu di bab dua dalam buku tersebut. Berusaha menjalani hidup dengan barang sesedikit dan sesederhana mungkin, namun dapat bermanfaat secara maksimal. Barangkali akan terasa sangat melelahkan di awal, mengubah kebiasaan lama yang sangat berantakan menjadi rapi setiap hari.
Niat besar di atas segala rencana ini tentunya saya berharap tidak hanya sekedar teori, tetapi harus berani memulai. Seperti kebiasaan yg sudah Iis praktikkan tanpa terkonsep selama ini.
Kerapian di rumah Iis juga didikung oleh usaha laundry rumahan miliknya. Saya pikir pekerjaan itulah yang juga turut andil dalam membantunya menangani kemalasannya mencuci pakaian. Ia biasa menerima jasa cuci-kering setiap hari terutama dari santri di pondok pesantren di Guluk-Guluk. Dalam penuturan ceritanya, terkadang ia dibuat kesal dengan pelanggan yang teledor mengikutkan pakaian dalamnya. Namun ia bebas membuang benda itu karena termasuk larangan dalam tata tertib usahanya.
Kadang-kadang ia juga mengeluh perihal proses cuci kaos kaki dengan noda membandel. Saya mengusulkan agar ia tidak menerima jasa cuci kaos kaki, mengingat bau keringat di kaki sangat menjijikkan. Iis menolak usulan itu, karena tarif kaos kaki lumayan mahal dibandingkan pakaian.
Katanya, ia pernah menerima pemberian kaos kaki seplastik merah besar dari pengurus pondok. Jumlahnya kira-kira empat puluh pasang. Karena kebingungan menangani kaos kaki sebanyak itu, ia bagi-bagikan pada sanak famili yang memiliki anak sekolah. Juga tetangga yang butuh untuk dipakai ke sawah.
Dugaan kuat kami, benda pembungkus kaki itu hanya dimanfaatkan sekali pakai. Sungguh miris anak pesantren zaman sekarang jika dibandingkan dengan hidup kami di pondok dulu yang sungguh sederhana. Kiriman uang hanya pas-pasan sampai kamis sore. Jum'at pagi sudah tak sabar menunggu kunjungan. Mana bisa membeli kaos kaki berkali-kali, bahkan baju-baju brended macam santri saat ini. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk menerima jasa cuci kaos kaki.
Obrolan kami terus berlanjut seputar kenangan masa lalu di pondok. Lalu kantuk menyerang dan bayangan Iis menjadi beberapa bagian. Kami terlelap cukup lama sampai Mas Jur datang membangunkan untuk pulang. Paginya saya menuliskan catatan ini dengan harapan semoga kisah hidup Iis bisa menginspirasi.
Ganding, 19 September 2021
-
Perjalanan umroh kali ini begitu mengejutkan. Semua bermula dari gurauan bersama sahabat saya, Devi. Ia dan suaminya berencana umroh bersama...
-
Selama menikah, kejutan dari suami hampir bisa dihitung jari. Bagi saya yang memang agak sedikit cuek dengan hadiah, itu adalah hal wajar. N...
-
Dalam hidup kita membangun sebuah cerita. Ketika cerita itu berlalu ia berubah nama menjadi kenangan. Masing-masing kita memilikinya. Namun...
