(Catatan peserta KKN-Instika posko-XVII)
Mak Faruk,
sapaan akrab dari Mak Ramadhani, mengenakan abaya berwarna abu-abu
dengan motif bunga yang dihiasi taburan payet manik di beberapa bagian.
Sebagian dari manik-manik itu telah terpisah dari benangnya. Tetapi
tidak dengan manik hijau toska yang bertumpuk per enam butir di bagian
depan jilbabnya.
Sosoknya yang penuh dengan segala tingkah ketuaan sangat sesuai
dengan paras sederhana di usianya. Wajah ovalnya hanya cukup ia usap
dengan bedak tabur berwarna kulit menggunakan kudua telapak tangannya.
Tak ada lipstik atau merah pipi, hanya celak batu serta parfum dengan
wangi khas oleh-oleh dari tanah suci.
Ia berjalan melewati pematang, kemudian jalan yang semakin melebar
tetapi lebih mirip sungai kering dengan sedikit sisa air mengalir di
penghujung musim hujan. Dari jalan setapak penuh batu licin dan tanah
becek di beberapa bagian sepanjang tujuh ratus meter itu, Mak Faruk
bertemu jalan raya. Ia lalu berbelok ke arah barat, arah menuju rumah
warga yang kebagian menjadi tuan rumah dalam kegiatan muslimatan kali
itu. Untuk sampai di tempat yang dituju, ia harus melewati jalan
beraspal sepanjang empat ratus meter lagi.
Sejumlah perempuan ada yang telah sampai. Sebagian ada yang membawa
buah hatinya, namun semua dari mereka tak lupa membawa tas berisi
mukenah dan sajadah untuk berjamaah asar seusai acara nanti. Itu berarti
peserta harus berangkat siang hari, tepatnya pukul dua siang, di mana
matahari tengah ganasnya memburu alam raya di sekitar mereka.
Setelah rampung, beramai-ramai para perempuan itu melantunkan
shalawat kepada kekasih Allah, kepada makhluk pilihan nomor satu
sepanjang masa, Nabi Muhammad teladan seluruh umat manusia. Lalu
bersahutan amin seluruh peserta ketika tiba giliran Mak Faruk
memanjatkan doa kepada sang pencipta, dengan khusuk, dengan sayakral,
seperti tak ada yang lebih syakral selain ketika berhadapan dengan-Nya.
Dalam perjalanan pulang, Mak Faruk berujar kepada saya dan lima
peserta KKN posko XVII Instika 2013 lainnya yang berkesempatan
mengiringinya dalam kegiatan muslimatan kali itu,
“Saya tidak berilmu untuk mengungkapkan sebuah hadist, tapi berbekal
keberanian saya berbicara kepada masyarakat untuk aktif dalam kegiatan
keagamaan yang saya rintis. Alhamdulillah ucapan saya sedikit
berpengaruh. Kini saya sudah tua, berharap anak cucu dapat
melanjutkannya. Terutama kalian yang masih remaja. Dirikanlah kegiatan
keagamaan yang belum ada agar bermanfaat untuk kehidupan setelah bangkit
dari alam baka.”
Demikianlah sore itu, sebuah adegan yang impresif. Tentang Mak Faruk dan semangatnya; sosok tua yang berdarah muda.
***
Berawal dari menyimak petuah Ny.Hj.Nafisah, salah saeorang pengasuh
di Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Raya, Guluk-Guluk,
Sumenep, puluhan tahun yang lalu, tentang amal shaleh yang akan menjadi
pesangon ke alam akhirat, yaitu mendirikan kegiatan keagamaan yang belum
ada, semangat perjuangannya mulai terpupuk. Ia lalu membukukan kalimat
itu di dalam hatinya dan menjadikannya pedoman untuk merintis komunitas
muslimatan di desanya, Kasengan, Manding, Sumenep.
Sejak kecil, ibu dari tiga anak itu memang sudah gemar mengajari
adik-adik di kampungnya mengaji serta aktif dalam kompolan muslimatan
anak sebayanya. Hingga setelah dewasa, setelah berumah tangga, sekitar
tahun 1980-an ia meminta izin kepada suaminya untuk aktif dan merintis
berbagai kegiatan di desanya. Ia merasa bahagia ketika niat sholehnya
direstui oleh pendamping hidupnya.
Dengan semangat dan keberaniannya, kini Mak Faruk telah berhasil
merintis tiga muslimatan. Mulai dari kompolan sebelasan pagi hari Kamis
per bulan, muslimatan siang hari Jum’at per minggu bertempat di masjid
Raudatul Muttaqien, sampai muslimatan keliling Kasengan-Tanaer sore hari
Kamis per minggu. Tentu bukanlah hal yang mudah untuk menghimbau para
perempuan di desanya. Jika ucapannya tak berpengaruh, maka mustahil
muslimatan itu tetap aktif terlaksana sampai saat ini.
Kini, status tua di usianya yang menyandang kepala enam pun tak
menjadi halangan bagi ibu dari sang Kepala Desa itu untuk menghentikan
semangat perjuangannya. Bahkan pada masa inilah puncak dari segala
motivasinya ia kerahkan. Sebab ia ingin memberi tahu pada semesta bahwa
kata ‘tua’ tak menjadi halangan bagi siapapun untuk tetap berjuang.
Selaras dengan kisa hidup Baojun Yuan, seorang kakek dari Cina
berusia tujuh puluh enam tahun yang mulai belajar photoshop sejak
umurnya yang keenam puluh. Ia tak menjadikan status tuanya sebagai aral
untuknya belajar. Maka ketika ia mahir dalam memperbaiki foto rusak, ia
menerima jasa dari para tetangganya tanpa pamrih. Alasannya, gurunya
hanya mengajarinya belajar memperbaiki foto tapi tidak mengajarinya
meminta upah. Saat ini ia telah berhasil memperbaiki lebih dari dua ribu
foto rusak.
Sepintas, seperti tak mungkin itu dilakukan oleh seorang kakek tua.
Tetapi Baojun Yuan telah membuktikannya, bahwa tak ada kata terlambat
untuk belajar, tak ada kata lelah untuk berusaha, dan tak ada kata
pamrih untuk berbuat kabaikan. Maka jika di Cina ada kakek Baojun yang
mempu menjadi master photoshop tertua di dunia, di Indonesia, tepatnya
di sebuah desa terpencil bernama Kasengan kecamatan Manding kabupaten
Sumenep, ada Mak Faruk yang bisa diberi gelar sebagai perempuan tua
berdarah muda.
Demikianlah semangat yang tak terkikis waktu. Tua telah
melalui beragam proses panjang. Tua telah ditempa perjuangan yang akan
mewariskan perjuangan baru untuk anak cucu.
Kasengan, 27 Juni 3013.