11 Januari 2012

P U T U S

Suatu ketika, engkau mungkin pernah mendengar petuah macam ini dari salah seorang kakak seniormu: “Jika kau bulum pernah pacaran, maka jangan pernah berniat untuk melakukannya. Sebab pacaran adalah candu dan kau akan merasakan betapa menyakitkannya menjalani hari-hari yang sendu.”

Jangan sekali-kali kau remehkan petuah itu. jangan kau anggagp itu kalimat bualan yang basi. Karena bila kau melakukan hal terlarang itu, sesuatu yang tidak kau harapkan mungkin akan terjadi. bagus bila kau sampai pada harapan. Tetapi tak ada yang tahu apa yang akan menimpamu di tengah jalan.

Aku tidak berniat untuk menakut-nakutimu. Aku tak bermaksud untuk menyinggung mereka yang tengah menjalani pacaran atau jalinan serupa dengan nama status yang berbeda. Aku hanya ingin berbagi tentang beberapa kisah para sahabat yang rupanya, mereka mengulum senyum cerianya hanya karena putus cinta.

Dalam pacaran, kau akan ditawari berbagai khayalan tentang keindahan di masa depan. Yang terlintas hanyalah bayangan kebahagiaan. Seolah tak memberimu celah pikiran dan perasaan untuk tidak melihat selain gambaran indahnya hidup bersama si dia. Bahkan para pencinta lupa untuk berpikir realistis tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan selain dari bahagia.

Sebagian dari mereka yang mencita dan menjalin hubungan akan meluncurkan ultimatum bahwa cintalah yang telah melahirkan semangat dalam diri mereka. Cintalah yang telah memotivasi hidup mereka hingga menjadi lebih bermakna. Mereka sering menyebutnya sebagai cinta yang mengalirkan energi positif. Lebih tepatnya cinta positif.

Ada-ada saja alasan mereka untuk menentang kesejatian makna dan hakikat cinta. Meka berkesimpulan bahwa pacaran asal melahirkan sesuatu yang positif itu sah sah saja. Masak begitu ya? (hahaha ) Inilah lelucon yang kerap membuatku tertawa bila mendengarnya. Sebab kata positif hanyalah kedok bagi mereka untuk menutupi kerak lengket di balik sesuatu yang bernama pacaran.

Tapi cobahal bertanya kepada mereka yang pernah putus cinta. Dengan sigap mereka akan menjawab bahwa cinta itu adalah tai kucing. Cinta bagai rayap yang perlahan akan mengikis kayu kehidupanmu. Bagi mereka cinta hanyalah kisah fiktif tentang keindahan yang berasal dari negeri dongeng. Sebenarnya, di dalamnya tak ada keindahan. Tak ada kebahagiaan. Yang tersisa hanyalah penyesalan dan kutukan atas kesepian.

Pada dimensi tertentu, pacaran akan mengubahmu menjadi seseorang yang sama sekali tak kau kenali. Seseoarang yang berkedok dengan topeng. Sesorang yang kebingungan di rumahnya sendiri. Bahkan kau tak lagi bisa melihat sisi kemurniaan hatimu sekalipun melalui bayangan dalam pantulan cermin. Sungguh ini adalah sesuatu yang mengerikan!

Itulah sebabnya mengapa para pencinta yang gagal menuju harapan terus saja mengutuki keputusan. Semangat mereka tersulut membara hanya untuk menertawai istilah-istilah cinta yang diumbarkan dalam pacaran. Mereka menganggap kata-kata itu adalah sesuatu kekonyolan yang dapat menaklukkanmu menjadi budak. Ada sebagian dari mereka yang mengidap sindrom kalusafobik. Sepanjang waktu mereka gunakan untuk terus mengutuki para pencinta dengan segala ejektif yang lebih dari sekedar menyakitkan.

Ini adalah perbandingan dua kisah yang bermula hanya karena satu kata; pacaran. Sepintas terlalu sederhana. Tetapi cobalah menyepi di suatu senja saat langit melukis warna lembayung dengan kanvas raksasanya. Saat angin perlahan menyelinap masuk dalam pori-pori dan meniup kulit harusmu dengan begitu lembutnya. Cobalah renungkan betapa hati memang harus ditata dengan rapi.

Seusai angin berlalu. Saat kau hanya sendiri. Saat kau berdialog dengan dirimu sendiri, tanyakanlah pada hatimu yang bening tentang nyanyian burung nuri dalam sangkar jiwamu. Tanyakan kepadanya ke mana ia akan terbang bila dilepaskan. Menuju luka ataukah zona yang lebih waspada?

Karang Jati, 08 Januari 2012.

30 November 2011

Lelaki dalam Peta Rahasia

“Suatu ketika aku berhadapan langsung dengan potongan imajinasiku. Tentang bayangan seorang lelaki yang bertandang ke Gubuk Cerita kami. Ia mengaku telah menempuh angin-hujan-badai silih berganti––milyaran rintangan untuk sampai di titik nadiku. Maka mari, aku ingin berbagi. Akan kubacakan kepadamu surat masa depanku untuk lelaki dalam peta rahasia itu.”

Lelakiku, apakah kini engkau baik-baik saja? Aku berharap begitu. Sebab aku ingin kau tengah duduk di beranda dengan senyum terkembang sambil sesekali menyeruput kopi saat membaca suratku ini. Atau begini saja; kau tengah menikmati semilir angin dingin sebelum hujan yang mengalir di sela-sela daun jagung di bukit belakang rumahmu sambil memandangi pohon siwalan yang berdiri kokoh seperti dirimu. Barang kali itu akan lebih menyenangkan dari pada kau berbaring lemah di atas ranjang dengan muka pucat dan perasaan terganggu sebab datangnya surat ini.

Aku sebenarnya bingung mau memulai dari mana. Aku sungguh tidak tahu apa-apa. Terlebih memulai pembicaraan dalam sebuah surat. Aku harus jujur kepadamu bahwa catatan harianku hanya penuh dengan rangkaian kata-kata yang sama sekali tidak menarik bagiku. Maka ketika tiba-tiba aku ingin menulis surat ini kepadamu, aku pun heran pada diriku sendiri: toko manakah yang telah kukunjungi untuk membeli koloan keberanian? Padahal aku tidak punya banyak keberanian dan kemampuan untuk menulis sesuatu dengan cara yang menarik. Ah, tapi pada akhirnya aku mulia menulis. Menarik atau tidak, semoga surat ini bisa sampai di tanganmu.

Bagaimana dengan masa depan kita kelak ya? Apakah kamu telah merancang semuanya dalam maket yang sistematis? Atau paling tidak kamu sempat membayangkan bila kelak aku masuk dan mencampuri kehidupanmu.

Bicara tentang masa depan, dari dulu aku sudah berusaha keras untuk memikirkannya. Tetapi aku tak kunjung memperoleh gambaran yang pas tentang kamu yang seperti adanya. Inilah puncak keterbatasanku. Hingga khayalan-khayalan itu hanya berupa kepingan imajinasi yang tak tuntas. Hanya berakhir dalam darama bisu yang berkepanjangan. Berakhir dalam teka-teki yang tak mampu kuungkapkan.

Tetapi agaknya aku sedikit percara pada kekuatan pikiran, bahwa apa yang aku pikirkan detik ini akan benar-benar terjadi di detik kemudian. Ini bukan hal yang mutlak, tapi karena aku sering mengalaminya maka aku berasumsi bahwa mungkin itu juga merupakan kebenaran. Dengan begitu, saat menulis surat ini, aku tengah memikirkan masa depan kita yang kuyakini akan benar-benar terjadi di masa depan. Entah kapan.

Lebih baik aku berkata jujur dengan mengemukakan alasan mengapa menulis surat ini. Meski kita sama-sama tahu bahwa alasan itu bisa dibuat-buat terutama dalam situasi dan kondisi yang mendesak. Alasan itu banyak macamnya. Kita tinggal memilih dari yang konyol sampai yang masuk akal. Tetapi yang perlu dicatat adalah bahwa aku inign menyampaikan alasan yang sederhana dan tak mengada-ada: bayanganmu selalu memenuhi pikiranku akhir-akhir ini. Alasan ini mungkin tertalu polos sebab aku mengatakannya secara gamblang. Aku juga merasa sedikit malu karena kini usiaku belum sempurna dewasa. Namun saat ingat pada petuah ‘dewasa tidak terpaut usia’, aku menjadi percaya diri dan merasa yakin untuk menuliskan sesuatu agar sampai ke tanganmu.

Apakah kau pintar bermain gitar? Atau kau pianis yang mewarisi kemampuan Beethoven dalam memaninkan Moonlight Sonata? Aku membayangkan begitu. Lalu bisakah kau bayangkan pula betapa romantisnya bila kita bisa duduk berdua di permukaan bulan yang terbuat dari keju hijau. Kau memetik senar cello dengan sangat hati-hati sebelum mulai menyanyikan lagu Bella Lunanya Jason Mraz. Hingga kita seperti berlayar mengitari bumi dengan nada-nada yang terdengar ke seluruh tata surya.
Dan lebih hebatnya lagi bila kita berhasil menarik perhatian ribuan makhluk dari negeri bintang dan planet-planet lain untuk juga menikmati alunan musik kita. Itu akan sangat mengagumkan karena kita seperti telah berbagi kebahagiaan. Itu juga akan melenyapkan istilah ‘dunia bagaikan milik kita berdua’ yang rasa-rasanya kalimat itu mendoktrin otak para pecinta agar bersikap pelit dan egois. Aku sama sekali tidak menyukai hal itu karena bahagia bagiku adalah kemampuan untuk saling berbagi.

Kalau pun kau adalah orang yang sama sekali tidak bisa memainkan semua jenis alat musik, itu tak jadi masalah. Aku akan tetap berusaha untuk menyayangimu dengan segala kekurangan yang melekat dalam dirimu. Tetapi entah kenapa aku yakin saja bahwa kau adalah seorang yang paham tentang jenis musik yang keren.

Sampai di sini kau pasti berpikir bahwa surat ini begitu panjang dan melelahkan. Mungkin selama beberapa menit kau merasa jenuh antara meneruskan membaca atau berhenti sampai di sini saja. Tetapi jika aku berusaha menulis ini di atas kertas, mampukan juga kau bertahan untuk membacanya sampai tuntas? Atau barangkali kau mempunyai pekerjaan mendadak sehingga harus menunda membaca. Aku mafhum itu. kuharap kau dapat melanjutkan lain kali. Tapi jika kau tengah dalam keadaan santai menikmati waktu yang kosong, aku berharap kau dapat terus menyusuri lembaran-lembaran ini.
Sampai di mana barusan? Oh ya, kebahagiaan. Apakau kini kau bahagia? Bagaimanakah engkau memaknai kebahagiaan? Atau telah salah melemparkan pertanyaan macam ini? Sebab kapan hari aku pernah berdiskusi tentang kebahagiaan dengan salah seorang sahabat. Ia berargumen yang melahirkan pencerahan bagi pemikiranku. Setidaknya bagi persepsiku sendiri tentang kebahagiaan.

Ternyata kebahagiaan itu tidak dapat dinilai mutlak-tunggal. Ukuran kebahagiaan bagi masing-masing orang itu berbeda. Ada yang bahagia dengan harta, pangkat, dan kekuasaan. Tetapi tak jarang orang bahagia hanya dengan proses dan hidup yang penuh kesederhanaan.

Sebenarnya aku benar-benar tidak pantas untuk bertanya apakah kini kau bahagia atau tidak, sebab sekali lagi, mungkin aku menganggap aku lebih bahagia dari dirimu, sementara kau pun mungkin merasa lebih bahagia dariku. Begitu pun sebaliknya. Semoga saja kelak kita selalu berbahagia dengan kesederhanaan hidup kita, bahagia dengan saling memiliki dan berbagi, bahagia dengan suara anak-anak kita yang penuh imajinasi, dan bahagia dengan kelapangan hati yang kita miliki.

Imajinasiku terus menyusuri garis jalannya. Seperti yang kukhayalkan, kau adalah seorang pemimpin yang bijaksana. Seorang lelaki yang menghargai perempuan. Seorang sahabat yang paham ekofeminisme. Dengan begitu kau akan selalu menghargai alam sebagaimana kau menghargai seorang ibu. Kau akan selalu menganalogikan tubuh perempuan sebagai harmoni alam. Sebagaimana musim yang selang-seling serupa perempuan menstruasi. Atau contoh yang lebih sederhana adalah ibu hamil bisa meyusui dengan lancar jika disuplai dengan sayur-sayuran, itu sama dengan alam yang akan subur jika banyak pepohonan dan tumbuh-tumbuhan. Kau akan menjadi manusia damai yang peka terhadap alam. Salah-satu sikap yang pasti kau milliki adalah kesadaran bahwa alam ini adalah sahabat kita, menganggap semua yang ada mempunyai jiwa, dan menaburi kasih sayang terhadap segala sesuatu yang ada di sekelilingmu.

Bila mulai dari tadi aku selalu berusaha jujur kepadamu tentang segala sesuatu yang menimpa hidupku; bayanganmu, keluguanku, dan caraku menulis dengan gaya konyol ini, sebagai penutup, tentu saja aku aku juga perlu mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu. Ada empat pertanyaan sederhana yang perlu kau jawab. Apakah kau sudah berkenalan dengan dirimu? Tahukah kau tentang hakikat semesta dan penciptaannya? Bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan ini? Bisakah kau memastikan kepadaku bahwa tak kan ada kehidupan lagi setelah kebersamaan kita nanti?

Keempat pertanyaan ini tidak untuk dijawab dan lalu dipresentasikan kepadaku layaknya seorang mahasiswa yang mempunyai kewajiban terhadap soal-soal materi ujian akhir semester dari sang dosen. Tidak! Karena surat ini bukanlah lembar-lembar soal. Kau hanya perlu menjawabnya untuk dirimu sendiri. Untuk kau renungi dalam kesendirianmu. Ini bukan berarti aku memaksamu berpikir keras dengan gaya pertanyaan filosofis. Tetapi kita semua sadar bahwa hidup ini adalah proses menuju sesuatu impian. Entah itu mungkin atau tidak. Dan kita kerap kali memaknainya sebagai harapan. Harapan yang melekat di antara kita dan kerinduan untuk bertemu sebelum akhirnya kita bisa mengikat hati dan lalu saling berbagi.

“Lelakiku, kau masih tetap sessosok yang tengah berdiam dalam peta rahasia. Aku yakin, suatu kelak, kau akan datang dengan membawa gitar dan secarik puisi untukku dan kehidupan baru kita.”


Karang Jati Assaudah, 30 Nopember 2011

20 Juni 2011

Jalan Keluar

“Perjuangan butuh pengorbanan,
Pengorbanan butuh keikhlasan.”


Inilah jalan pertama yang begitu berliku dan harus kulalui dengan perjuangan dan keikhlasan. Jalanku yang tersendat-sendat lantaran aku serupa kapas yang diterjang angin. Aku sendirian dalam mengarungi perjalanan panjang menciptakan revolusi untuk organisasi KBM (Keluarga Besar Mahasiswa) di kampusku yang terkungkung oleh politik licik.

Beberapa minggu terakhir ini aku serasa diterjang badai. Entah mereka takut KBM tidak akan maju jika calon yang kuajukan jadi, atau ada maksud lain di balik politik mereka. Tetapi apakah mereka terlalu banyak menyimpan keraguan kepada mahasiswa selain kelompok mereka? Apakah mereka tidak bisa menyisakan sedikit kepercayaan untuk calon yang kuusung? Dan bahkan aku yakin dialah sosok pemimpin yang akan memberikan perubahan cerah bagi KBM. Sebab dia bukan hanya pilihanku, melainkan pilihan mayoritas mahasiswa yang menginginkan perubahan.

Aku harus diam saat partaiku ditolak oleh Tim Pemilu Kongres. Aku tidak boleh bersuara sedikit pun meski hanya untuk bertanya mengapa. Lalu batinku berontak: mengapa aku diangkat sebagai ketua partai jika aku tak punya hak untuk mengusung calon? Dan ketika calon yang kuajukan didiskualifikasi karena alasan tidak aktif selama satu priode, apakah aku harus mengikuti kehendak mereka untuk mengganti calon sesuai dengan perintah mereka? Sungguh alasan yang dibuat-buat dan aku lagi-lagi harus menjadi robot. Seolah aku tak punya ruang bebas untuk bergerak.

Aku masih tenang. Dan seharusnya aku memang sabar. Sebab aku yakin Tuhan pasti akan terus menaburkan ar-Rahman-Nya di saat-saat aku dalam keadaan rapuh seperti saat ini. Dia pasti tahu bagaimana cara memberikan yang terbaik untuk KBM. Maka aku tak ragu akan “kun-Nya” yang maha dahsyat untuk memberikan jalan keluar atas persoalan yang melanda.


(18.43 WIB)
Annuqayah Karang Jati, 18 Juni 2011

16 Mei 2011

Pertanyaan Ayah

Tak ada seorang pun di antara kita yang dapat memprediksi kapan kita akan mati. Karena maut adalah salah satu misteri yang akan selalu menjadi kejutan dalam hidup. Kejutan Tuhan sebagai bukti bahwa semua kita dan alam seisinya adalah materi yang hanya menunggu giliran untuk hancur lebur. Meski ada pula para sufi yang merasa bukan lagi materi karena telah mencapai jalan hakikat dan mampu untuk fana' fillah.

Kematian adalah satu titik proses perpisahan antara ruh dalam jasad dengan ruh-ruh lain yang masih melekat di tubuh makhluk hidup. Perpisahan itu begitu mengerikan bila membayangkan betapa takutnya tinggal sendirian di alam kubur. Tanpa orang tua, saudara, dan teman-teman yang biasanya mengahangatkan suasana sepi dalam kesendirian.

Kebersamaanlah yang sejatinya membuat kita tak pernah sadar bahwa kita selalu merasakan kesunyian. Bila kau tak percaya, cobalah renungkan perjalanan hidup yang merupakan bahasa kesendirian ini. Niscaya engkau akan sadar bahwa kita, sejak dulu telah terlatih menyendiri. Dalam rahim ibu kita sendiri, dalam kubur kita sendiri, dan nanti, di akhirat, kita akan meghadap Tuhan sendirian pula.

Dalam hidup mungkin kita merasa ramai, tetapi hari ini, jauh di kedalam hatiku, tiba-tiba aku merasa sepi. Kesepian yang kurasakan sendirian dan tak mampu kudefinisikan. Semacam perasaan getir yang tiba-tiba membuatku ingat kepada para leluhur yang telah wafat mendahuluiku.

Mereka (baca: para leluhur) yang tinggal di tempat antah-berantah telah membuatku berpikir bagaimana bila detik ini aku pun mati dan tak sempat berterima kasih kepada ayah dan ibu yang kasih sayang tulusnya senantiasa menyiramiku dengan penuh kesejukan, tak sempat berkata jujur tentang perasaanku kepada orang yang kucintai, tak sempat memohon maaf kepada mereka yang diam-diam mencintaiku dan tanpa sengaja aku menyakiti hatinya, tak sempat bertukar cerita tentang rahasia dengan sahabat-sahabat yang kusayangi, dan tak sempat bertaubat kepada Tuhan atas dosa-dosa yang semakin hari kian menggunung.

Mungkin aku melambung terlalu jauh, tetapi kalau pun tak mati detik ini, membayang tentang maut saja aku jadi berpikir tentang kejadian 50 tahun yang akan datang. Jika memang benar aku akan pulang ke rumah Tuhan dan jasadku akan dibungkus dengan kain kafan, lalu di tanah manakah jasadku ini akan dikebumikan? Di detik keberapakah ruhku akan melayang sebagai titik akhir menuju kepasrahan? Bila suatu saat nanti aku dibangkitkan kembali, masihkan aku bisa bertemu dengan orang-orang yang kusayangi?

Maut benar-benar menjadi suatu peristiwa yang harus selalu diingat, agar hati kita menjadi hangat dan bersemangat untuk terus beribadah demi membalas budi kepada Tuhan.
Ah! Aku jadi malu berbicara tentang ibadah, sebab aku adalah santri yang nakal beribadah. Shalat saja seperti capung mandi (hehehe… sering ketahuan). Betapa tak tahu berterima kasih diri ini kepada Tuhan yang telah mencurahkan segalanya secara cuma-cuma.

Qiraah dihidupkan dari mushalla Karang Jati putra melalui corongan TOA. Sejenak kemudian adzan subuh sayup-sayup terdengar dari kejauhan.


Aku masih sendiri. Sementara sebagian teman-teman masih ada yang baru bangun dari tidurnya. Lalu bergegas menuju kamar madi dengan membawa gayung berisi kotak sabun dan sikat yang telah diolesi pasta gigi. Ramailah kamar mandi oleh kecipuk air dan teriakan 'ganti' para santri. Ibu Nyai Thoyyibah melangkah dari barat dhalem menuju mushalla dan memandu para santri untuk berdzikir.

Aku masih sendiri. Terdiam untuk waktu yang panjang sembari memandangi puluhan santri yang beranjak menuju mushalla. Menyadari bahwa semua orang yang ada di sini tengah menabung amal untuk kemudian pergi bergiliran. Lalu aku teringat pertanyaan ayah saat aku hendak berangkat ke pesantren ini: "Ke mana akan kau bawa langkahmu, Nak?"

04:00 WIB
Menyusuri subuh, 08 Mei 2011

25 April 2011

Perjalanan Mengenaskan Para TKI


Judul Buku : Sebongkah Tanah Retak
Penulis: Rida Fitria
Penerbit : Tiga Kelana
Tahun Terbit : Pertama, November 2010
Tebal : 218 halaman
Peresensi : Ummul Karimah
Perjalanan Mengenaskan Para TKI

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kekayaan Sumber Daya Alam yang melimpah ruah. Kekayaan tersebut terbukti dengan kandungan tanahnya yang dapat menghasilkan baja, minyak tanah, timah, bahkan emas permata mulia. Kekayaan alam tersebut merupakan salah satu faktor penentu keadaan dan nasib suatu bangsa dalam percaturan ekonomi.

Ironisnya, International Labour Organisation (ILO) menyuguhkan data bahwa 80% dari perempuan penduduk Indonesia bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang melakukan semua pekerjaan di rumah majikan. Hal ini cukup untuk mengilustrasikan sebuah keadaan yang sangat mengerikan di Indonesia. Kasus yang sangat memilukan negeri ini tentunya merupakan konflik besar yang harus dipecahkan bersama.

Salah satu contohnya diceritakan oleh Rida Fitria dalam novelnya yang berjudul Sebongkah Tanah Retak ini. Dalam novelnya, Rida Fitria mengangkat kisah tentang perjalanan panjang seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) untuk memperoleh jati dirinya dari sudut pandang kekuatan dalam melawan garis nasib kemiskinan.

Kisah ini, bermula dari seorang gadis desa di lereng Gunung Lemongan bernama Khadijah yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang kaya bernama Rohana. Konflik dibuka oleh kejadian besar yang berlangsung di sawah Rohana. Kali itu waktu memberi tahu kepada Rohana atas balasan kepercayaan yang diberikannya kepada Ijah. Saat secara tak sengaja, akhirnya ia menemukan tumpukan baju seorang perempuan yang sangat ia kenal. Tak jauh dari tumpukan baju itu ia melihat suaminya tengah bercinta dengan Ijah di bawah daun-daun tembakau.

Kemurkaan Rohana ditunjukkan dengan diusirnya Ijah dari keluarga tersebut. Sedangkan Ijah tengah mengandung janin dari tuan Wiro, suami Rohana, yang berjanji akan menikahinya. Namun, saat kejadian besar itu berlangsung, Wiro bahkan seolah tak mengenal Ijah dan sepakat mengusirnya. Ternyata janji seorang Wiro telah berubah sepah yang ditaburkan ke wajah Ijah kala itu.

Ijah lalu sadar bahwa dalam hidup ia harus bertarung. Melawan luka pengkhianatan, menahan rasa sakit, dan memperjuangkan hidupnya yang tengah dililit oleh kemiskinan. Saudara kandungnya yang berjumlah tiga pun tak pernah menghiraukan orang tua mereka yang tinggal serumah dengan Ijah. Bahkan, salah satu saudaranya yang sangat miskin, Marji namanya, kakak lelaki Ijah, yang bekerja sebagai tukang becak, menitipkan anak-anaknya di rumah orang tuanya. Hal itu disebabkan istri Marji depresi akibat kemiskinan yang sangat parah. Sementara pengasuhan anak-anak Marji dilimpahkan ke bahu orang tuanya, otomatis memberatkan pundak Ijah pula.

Saat ibu kandungnya meninggal dan tak sampai berumur tujuh hari, semua saudaranya berebut beras dan gula yang dibawa para pelayat, juga harta warisan yang tak seberapa. Ijah sedih; kecewa; lalu diam-diam menitipkan putranya ke panti asuhan dan berangkat mengadu nasib, menjadi seorang TKW ke Arab Saudi. Ia kian sadar betapa sedih menjadi seorang miskin. Jauh dari seorang buah hati yang ia cintai, juga disiksa dan dilecehkan oleh majikannya. Ia merasa seorang yang miskin tak berhak berpendapat, berpikir, dan bertindak karena tak punya harga diri. Sungguh mengenaskan.

Saat ia memutuskan untuk pulang dari Arab Saudi dan memutus mata rantai, kesulitan ekonomi di kampuing kian menelikungnya. Karena itu Ijah lalu berjuang untuk mengadu nasib yang kedua kalinya ke negara Hong Kong. Di sana, ia bahkan bukan hanya disakiti batinnya, tapi juga fisiknya. Ijah terluka, Ijah menangis, Ijah bahkan nyaris kehilangan nyawa. Keluarga majikannya sungguh tak berprikemanusiaan.
Kisah dalam novel ini berakhir saat Ijah untuk pertama kali dalam hidupnya dapat menangis bahagia. Ijah lalu merasa bahwa semua manusia berharga dan pantas mendapatakan yang terbaik dari yang telah ia perjuangkan. Ia merasa merdeka dan dapat belajar banyak hal yang harusnya ia ketahui.

Pada bagian akhir, digambarkan seorang Ijah yang bergelut dalam organisasi Indonesian Migran Workers Union (IMWU) yang telah memberinya kesempatan kursus bahasa Inggris dan Mandarin. Ijah lalu bangkit menjadi seorang pembela bagi teman-teman seperjuangannya yang mendapat perlakuan tak layak dari majikan mereka.

Novel ini banyak memuat tentang tuntutan kritis bagi negara Indonesia yang menerima devisa besar dari para TKW yang ternyata tak mendapat perlindungan penuh dari pihak Indonesia. Salah satu contoh dalam kisah ini, saat mendapatkan perlakuan yang tak manusiawi oleh para majikan, lalu para Buruh Migran Indonesia (BMI) mendatangi Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) untuk memprotes, ternyata pihak konsulat bersikap dingin dan tak acuh. Sama sekali tak tampak sebagai pengayom anak bangsa yang ditempatkan pemerintan RI di luar negeri untuk keperluan mengakomodir aspirasi Warga Negara Indonesia (WNI) yang ada dalam tanggung jawabnya.

Selain susunan bahasa yang mengalir dan diksi baik yang dipilih oleh penulis, novel ini juga sangat inspiratif dan sarat akan tema untuk kita bahas sebagai diskusi yang panjang. Banyak pelajaran-pelajaran hidup dapat diambil dari kisah yang ditulis oleh perempuan berbakat yang berasal dari Probolinggo ini . Ia telah berhasil mendobrak kisah dan menyaringkan suara buruh migran yang merintih untuk ditolong. Seperti kasus-kasus Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang belakangan ini menuai kisah yang sangat memprihatinkan.

Salah satunya dialami oleh Kikim Kolmalasari binti Uko Marta, lahir pada 9 Mei 1974, TKI asal Cianjur, Jawa Barat, yang ternyata disiksa secara sadis oleh majikannya di Arab Saudi. Kikim bahkan setelah dianiaya dan disiksa, pada akhirnya meninggal dunia (Radar Bandung: 22/11/2010). Kasus serupa dialami oleh para TKI lain yang tinggal di negara-negara lain, seperti kasusWinfaidah (26) asal Lampung yang bekerja ke Malaysia dan tak hanya disiksa secara fisik tapi juga batin (JPNN, 22/11/2010). Dan begitu banyak kisah-kisah serupa yang tak cukup hanya dipaparkan di sini saja, tapi untuk kita renungi secara kritis sebelum akhirnya kita harus bertindak.

Di tengah kasus-kasus mengenaskan tersebut, novel ini hadir dan diharapkan dapat berguna untuk memberikan suara dan dapat memberi pencerahan bagi negara Indonesia. Dan itu menegaskan bahwa memperjuangkan nasib mereka tak bisa dilakukan seorang diri, para aktivis, para korban, dan keluarga korban saja. Tetapi dibutuhkan kebersamaan, tekat yang kuat, niat yang tulus, suara yang lebih banyak, juga dukungan penuh dari pemerintah untuk dapat menjunjung harkat dan martabat mereka sebagai kaum yang merdeka.

Oleh: Ummul Karimah, alumnus SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk dan mahasiswa INSTIKA (Institut Ilmu Keislaman Annuqayah) semester II G PAI.

11 April 2011

Terkenang Perang Saudara

Cobalah engkau ingat-ingat lagi, kenangan manakah yang paling membuatmu ingin untuk memeluk saudaramu? Seperti halnya aku yang kini sesenggukan melancarkan aliran air mata yang telah lama kunonaktifkan. Ingin rasanya membenamkan kepalaku di dada saudara perempuanku sambil berucap bahwa rasa sayangku kepadanya begitu dalam dan tak berujung. Lalu kukatupkan kedua telapak tanganku dan memposisikannya di depan dadaku sambil memohon maaf dan mengungkapkan penyesalan-penyesalan yang telah kuperbuat di masa lalu.

Semua berawal dari tumpukan buku milik kakakku di sampingku ini. Secara tak sengaja kutemukan saat tiba-tiba aku ingin sekali membongkar buku-buku lamaku yang tertata di dalam kardus. Kutemukan catatan panjang di kertas-kertas yang lusuh, beberapa buku tulis kumpulan cerpen, sebuah standbook berisi novel, dan foto-foto kami di masa kecil yang pinggirannya terkena ‘cacar foto’ dan semakin menjalar ke bagian tengah.

Kubersihkan debu di lekukan buku-buku itu dengan meniup dan mengibas-ngibaskannya perlahan-lahan. Setelah dirasa cukup, aku mulai membacanya.

Tak sampai menamatakan satu catatan berjudul “Adikku” saja, pandanganku menjadi kabur. Mataku terasa panas dipadu dengan denyutan kencang di titik persendian hatiku. Tiba-tiba pipiku menjadi lembab begitu saja. Dan ingatanku berlari mundur, jauh ke belakang. Menampilkan gambar masa lalu saat kakakku masih ada di sini, Pondok Pesantren Annuqayah daerah Karang Jati Guluk-Guluk, tempatku dididik untuk mempelajari arti diri dan kehidupan.

Sejak kecil, aku dan kakakku tak pernah akur. Kami selalu beradu mulut. Mempersoalkan hal kecil yang dibesar-besarkan seperti, rebutan buah tangan ibu dari pasar, memperkarakan baju lebaran tak sama harga, atau sekedar rebutan ibu dan ayah yang jelas-jelas milik kami berdua.

Aku memang benci ketika kakak menceritakan masa bayi kami bebeda. Kakak dilahirkan di rumah dan menikmati ASI dengan puas, sedang aku dilahikan di rumah sakit dan dipisahkan dari ibu. Katanya, 2 bulan lamanya aku meminum susu instan produk pabrik. Sampai ibu kembali pulih dan bisa pulang.

Usia kami yang hanya terpaut 4 tahun membuat kami tumbuh seperti sejajar. Selisih itu tak berpengaruh untuk membedakan usia kami saat aku tumbuh lebih besar dan menyamai tubuh kakakku (yang kini lebih kecil dariku. Hehe…). Sejak kecil, aku selalu merasa dewasa dan tak butuh seorang kakak. Sedang kakak amat benci pada sikapku yang demikian sombong. Katanya, dia memang tak ingin punya adik karena kasih sayang ibu akan terbagi.

Tanpa kakak mengutarakan kekesalannya mempunyai adik diriku dan tentang kasih sayang ibu, kurasa ibu tetap lebih menyayanginya. Buktinya, dari keseharian kami yang hanya dua besaudara, aku mencoba membanding-bandingkan perlakuan ibu pada kami. Dan hasil dari risetku, ibu memang mengistimewakan kakak dari pada diriku. Kalau ada perbincangan keluarga, aku tak pernah dianggap ada. Bahkan suatu ketika, saat diam-diam aku bergabung dalam suatu perbincangan dan mencoba menyampaikan pendapat, ibu malah tersenyum dan berujar bahwa aku masih terlalu kecil untuk mengerti masalah orang dewasa. Selalu saja begitu. Ah, barang kali itu hanya perasaanku yang sedang dalam kondisi cidera. Semua memang tampak konyol bila dikenang. Tapi aku cukup senang.

Perdebatanku dengan kakak tak kunjung menemukan ujung pangkal. Selalu ada masalah di antara kami–––yang meski sudah selesai diperkarakan, tapi masih saja diungkit-ungkit. Sampai kami beranjak dewasa dan kakak dimondokkan di Annuqayah. Barulah sejak saat itu aku merasakan kedamaian di rumahku sendiri.

Selang berapa tahun, aku pun harus mondok. Untunglah ibu dan ayah memilihkan pesantren yang berbeda, al-Amien II Muallimat Prenduan. Tetapi, suasana di sana tidak seperti yang kuharapkan. Aku sungguh tidak kerasan. Mula-mula aku hanya berkeinginan untuk kabur dengan terus-terusan memandangi bus dan taksi yang berlalu-lalang dari dalam ruangan daru al-difah (tempat santri dikunjungi keluarga. Lokasinya di pinggir jalan). Sayangnya ada pak satpam yang berkumis tebal dan berbadan besar yang menjaga pintu ruangan tersebut. Rencana itu menjadi gagal. Akhirnya, aku mengutarakan kondisiku yang tidak kerasan kepada ibu. Aku meminta untuk pindah mondok dan otomatis pindah sekolah. Mengingat ini, aku jadi terkenang masa kecilku yang setiap tahun minta pindah sekolah. Mungkin penyakit kecilku kambuh lagi.

Ayah tidak mengizinkanku untuk pindah. Tapi ibu kali itu membelaku. Alhasil aku dipindahkan ke pesantren Annuqayah daerah Karang Jati. Dimondokkan satu pesantren dengan kakakku. Satu kamar, satu lemari, dan satu dompet.

Ibu mengira, dengan menyatukan kami kembali bisa membuat kami menjadi akur. Tetapi ironis dari harapan ibu! Kami semakin menjadi-jadi. Semakin banyak permasalahn yang muncul. Dari masalah uang sampai urusan intelektualitas. Uang jajan kakak lebih banyak, karena ibu mempertimbangkan kelas kakak yang lebih tinggi. Kata ibu, semakin tinggi kelas seseorang, maka semakin banyak pula kebutuhannya. Aku menerimanya dengan lapang, tapi yang membuatku kesal kembili, uang sakuku ke sekolah turut diatur oleh kakak.

Kuakui, ibu pasti lebih membela kakak dalam persoalan apa pun. Secara, IQ kakak lebih tinggi dari pada diriku. Kakak selalu berprestasi setiap tahun. Mengukir senyum ayah dan ibu melalui rangkin kelas dan mejuarai banyak lomba. Atau dengan bakatnya yang begitu produktif dalam menelurkan karya fiksi. Meski karyanya tak tersalurkan dan hanya bisa dinikmati teman-teman sekamar. Banyak pujian teman-teman mengalir untuk kakak. Rasa iri itulah yang membuat semangatku semakin membuncah untuk bisa lebih dari kakak. Dan jujur, kakaklah sumber inspirasiku sekaligus orang yang membuatku bertahan dalam kondisi semangat. Sampai detik ini.

Dari pertengkaran kami yang rutin, teman-teman menjuluki kami kucing dan anjinag. Karena kami tak pernah akur dalam jangka waktu yang panjang. Mereka memang benar. Kami tak pernah saling bercerita tentang isi hati kami, tak pernah mendiskusikan masalah dan saling memberikan solusi, tak pernah berpelukan, atau bahkan mencium pipi kanan dan pipi kiri selayaknya saudara kandung pada umumnya.

Meski begitu, pernah suatu ketika kakak membuatku menangis haru. Inilah kenangan yang selalu membuatku ingin memeluk kakak dengan menangis sejadi-jadinya di dalam dekapannya. Kisah yang membuatku mengerti bahwa sejahat apa pun penilaian kita pada seorang saudara, ia tetaplah menjadi seseorang yang diam-diam amat menyayangi kita. Bahkan sampai kapan pun kasih sayangnya tak kan pernah kering untuk memberikan kesejukan pada kita.

Suatu siang di bulan April tahun 2007 lalu, cuaca serasa berbeda. Matahari begitu ganas membakar pori-poriku. Tetapi angin yang berhembus lembut memberikan kombinasi rasa panas-sejuk yang luar biasa. Mungkin pada waktu itu alam tengah memamerkan rasa natural yang begitu eksotis.

Sehabis jam pelajaran, aku berjalan gontai melewati gang sekolah menuju pondok. Sesampainya di kamar, aku mendamparkan diri pada karpet. Sementara itu, teman-teman sibuk merapikan seragam, ada yang bernyanyi, bercerita perihal kejadian di kelas masing-masing, dan ada yang menyiapkan peralatan untuk menanak nasi. Kakak belum pulang dari sekolah. Iseng-iseng kubuka lemari. Aha! Kutemukan sebuah kotak terbalut kertas kado berwarna hijau di sana. Dalam pikir, aku mencoba menerka-nerka; kado siapa gerangan? Kuambil dan kubolak-balik. Ada sebuah tulisan di ujung kiri kado itu: “Untuk Adikku”. Aku ragu untuk membukanya. Sungguh-sungguh ragu. Aku tidak yakin kado itu dari kakak untukku. Tak mungkin. Barangkali itu dari sahabat dekat kakak.

Rasa penasaranku semakin menguasai pikiranku. Memaksaku untuk membuka kado itu. Tetapi itu tidak kulakukan. Ingin rasanya aku bertanya pada teman-teman perihal dari dan untuk siapa kado itu. Tetapi lagi-lagi aku dikuasai rasa gengsi yang meredakan rasa penasaranku. Kubolak-balik saja kado tak beralamat itu. Kutemukan lagi tulisan kecil di pojok kiri pada sisi yang berbeda: “Selamat Ulang Tahun. 12 April 2007”.

Lalu aku ingat bahwa tanggal itu adalah tanggalku. Hari untuk mengenang saat pertama kali aku melihat dunia dan mengenalkan suaraku pada alam. Bulan yang membuatku bisa bergerak bebas dan leluasa serta menangis nyaring mengungguli suara burung-burung.

Tanpa pikir panjang lagi, langsung kubuka kotak itu. Kado yang berisi barang-barang ksukaanku: kaos panjang warna hijau lumut berkombinasi motif abri di bagian depannya, arloji kura-kura ninja bermotif timbul spiderman, kaos pendek warna hijau cerah bergambar jamur tersenyum di bagian pojok bawahnya, dan sepucuk surat. Beginilah isi suratnya: ¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬

12 April 2007

HAPPY BIRTH DAY BINTANG SENJAKU

Aleeq...
Semoga panjang umur, murah rizki, sehat dan selalu dalam lindungan-Nya. Amin.

Aleeq...
Maaf jika sampai detik ini aku belum bisa menjadi kakak yang baik buatmu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu: "TIDAK ADA SEORANG PUN DI DUNIA INI YANG TIDAK MENYAYANGI SAUDARA KANDUNGNYA SENDIRI. TIDAK ADA".

Aleeq...
Aku bangga memilikimu. Aku bangga pada semua yang ada pada dirimu. Semoga mimpi-mimpimu dipeluk oleh Tuhan.

Aleeq...
Ini adalah hari bahagiamu. Hari ini adalah milikmu. Jadi hari ini bahagiakanlah orang lain. Lebih-lebih orang yang ada di sekelilingmu. Karena kebahagiaan itu seperti sebuah kecupan. Kamu harus membaginya jika ingin menikmatinya.

Aleeq...
Kita seperti anjing dan kucing. Tak pernah akur dalam jangka yang lama, tapi kita sama-sama tahu bahwa sebenarnya kita saling menyayangi. Cuma, kita memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkannya. Aku akan menyayangimu dengan caramu sendiri.

Aleeq...
Hadiah ini bukan sepenuhnya bentuk kasih sayangku, ini hanya sebagian, karena kasih sayang itu tak dapat diukur dengan materi. Kamu tak perlu ragu untuk menerimanya, karena ini halal. Ini kudapat dari uang saku yang aku sisihkan hanya untuk menebus kesalahanku tahun lalu karena telah melupakan hari ultahmu. Maaf.

Aleeq...
I do love you.


Kakakmu

Nafisah


Sejak saat itu, aku benar-benar mengerti bahwa diam-diam kakak memberikan perhatian lebih kepadaku. Kakak begitu mengerti pada hal-hal yang kusuaki. Kakak paham pada perasaan sayangku kepadanya yang tak bisa disampaikan karena sifatku yang keras kepala dan rasa gengsiku yang terlalu jaim (jaga image). Aku mengerti bahwa kami saling menyayangi, namun kami mengungkapkannya dengan cara yang berbeda. Cara yang begitu konyol tetapi unik. Sejak saat itulah kami berusaha mengurangi pertengkaran kami. Mengubahnya menjadi pertengkaran yang menyenangkan. Pertengkaran untuk saling mengungkapkan rasa sayang.

Sampai akhirnya kakak lulus SMA dan berhenti mondok. Selang 3 tahun kakak menikah dengan pemuda yang masih satu desa dengan kami. Desa Tambuko. Pemuda dari kampung sebelah, kampung Jeruk Durga. Rofik namaya. Di hari pernikahannya aku benar-benar merasakan kebahagiaan yang sulit diartikan. Kebahagiaan bukan untuk diri sendiri, tetapi setulus matahari. Kebahagiaan bersaudara yang membuatku merasa memiliki kakak sepenuhnya. Perasaan itu berubah rindu yang begitu berat. Rindu pada kebersamaan dan pertengkaran kami. Rindu pada celoteh ibu yang berusaha mendamaikan kami.

Kini, kakak tak ada di sampingku lagi. Tetapi justru rinduku semakin menjadi. Rasa sayang tiba-tiba ingin sekali kuungkapkan dengan gerak pun kata-kata. Agar kakak tahu bahwa untuknya ingin kutaburkan cinta. Dan kepadanya ingin kucurahkan segalanya.

Maka inilah pesan diriku untukmu kawan: selagi kau masih bersama saudaramu, buatlah ia tersenyum dan jangan pernah ciderai hatinya. Karena apabila waktu telah memisahkanmu dengannya, maka kau hanya akan berteman dengan penyesalan, rasa bersalah, dan rindu yang tak tertahankan.


Di bawah pohon mimba halaman kampus INSTIKA
Guluk-Guluk, 11 April 2011

03 Maret 2011

Air Mata Februari

Mata air air mata kita mengalir pada sungai Februari
Perasaan mendalam yang menuntut malam sebagai saksi
Menjadikan lokan-lokan tak berpenghuni. Sepi.

Oh, Februariku
Telah kucecapi pahit-getir kopi di setiap inci kerinduan
Sendirian
Menumpas perasaan yang menawarkan kesunyian
Kesenyapan
Mengelus ketakutan sebagai lambang perlawanan takdir
Gema nafasmu yang menyerupai takbir
Rapalkan mantra ketidaksiapan
Semakin menyakinkan bahwa kau sebongkah keputusasaan

Februariku,
Air mata kita tak pernah pengecut
Ia jelma untuk kita memilih: simpan atau buang
Tawaran ini egois bukan?
Bila tidak demikian hidup bagai gemawan
Arah mata angin tak membentangkan tujuan

Wahai engkau Februariku,
Bila cinta dan maut selalu misteri dalam kehidupan
Lalu mengapa di antara kita hanya ada air mata yang tumpah atas nama kesia-siaan?

Kumohon hentikan!
Berikan saja aku sebongkah kejujuran
Untuk mencumbui setiap helai kebohongan
Meski keduanya adalah satu kesatuan yang menjijikkan.



Mushalla Karang Jati, 27 Februari 2011