“Perjuangan butuh pengorbanan,
Pengorbanan butuh keikhlasan.”
Inilah jalan pertama yang begitu berliku dan harus kulalui dengan perjuangan dan keikhlasan. Jalanku yang tersendat-sendat lantaran aku serupa kapas yang diterjang angin. Aku sendirian dalam mengarungi perjalanan panjang menciptakan revolusi untuk organisasi KBM (Keluarga Besar Mahasiswa) di kampusku yang terkungkung oleh politik licik.
Beberapa minggu terakhir ini aku serasa diterjang badai. Entah mereka takut KBM tidak akan maju jika calon yang kuajukan jadi, atau ada maksud lain di balik politik mereka. Tetapi apakah mereka terlalu banyak menyimpan keraguan kepada mahasiswa selain kelompok mereka? Apakah mereka tidak bisa menyisakan sedikit kepercayaan untuk calon yang kuusung? Dan bahkan aku yakin dialah sosok pemimpin yang akan memberikan perubahan cerah bagi KBM. Sebab dia bukan hanya pilihanku, melainkan pilihan mayoritas mahasiswa yang menginginkan perubahan.
Aku harus diam saat partaiku ditolak oleh Tim Pemilu Kongres. Aku tidak boleh bersuara sedikit pun meski hanya untuk bertanya mengapa. Lalu batinku berontak: mengapa aku diangkat sebagai ketua partai jika aku tak punya hak untuk mengusung calon? Dan ketika calon yang kuajukan didiskualifikasi karena alasan tidak aktif selama satu priode, apakah aku harus mengikuti kehendak mereka untuk mengganti calon sesuai dengan perintah mereka? Sungguh alasan yang dibuat-buat dan aku lagi-lagi harus menjadi robot. Seolah aku tak punya ruang bebas untuk bergerak.
Aku masih tenang. Dan seharusnya aku memang sabar. Sebab aku yakin Tuhan pasti akan terus menaburkan ar-Rahman-Nya di saat-saat aku dalam keadaan rapuh seperti saat ini. Dia pasti tahu bagaimana cara memberikan yang terbaik untuk KBM. Maka aku tak ragu akan “kun-Nya” yang maha dahsyat untuk memberikan jalan keluar atas persoalan yang melanda.
(18.43 WIB)
Annuqayah Karang Jati, 18 Juni 2011
20 Juni 2011
16 Mei 2011
Pertanyaan Ayah
Tak ada seorang pun di antara kita yang dapat memprediksi kapan kita akan mati. Karena maut adalah salah satu misteri yang akan selalu menjadi kejutan dalam hidup. Kejutan Tuhan sebagai bukti bahwa semua kita dan alam seisinya adalah materi yang hanya menunggu giliran untuk hancur lebur. Meski ada pula para sufi yang merasa bukan lagi materi karena telah mencapai jalan hakikat dan mampu untuk fana' fillah.
Kematian adalah satu titik proses perpisahan antara ruh dalam jasad dengan ruh-ruh lain yang masih melekat di tubuh makhluk hidup. Perpisahan itu begitu mengerikan bila membayangkan betapa takutnya tinggal sendirian di alam kubur. Tanpa orang tua, saudara, dan teman-teman yang biasanya mengahangatkan suasana sepi dalam kesendirian.
Kebersamaanlah yang sejatinya membuat kita tak pernah sadar bahwa kita selalu merasakan kesunyian. Bila kau tak percaya, cobalah renungkan perjalanan hidup yang merupakan bahasa kesendirian ini. Niscaya engkau akan sadar bahwa kita, sejak dulu telah terlatih menyendiri. Dalam rahim ibu kita sendiri, dalam kubur kita sendiri, dan nanti, di akhirat, kita akan meghadap Tuhan sendirian pula.
Dalam hidup mungkin kita merasa ramai, tetapi hari ini, jauh di kedalam hatiku, tiba-tiba aku merasa sepi. Kesepian yang kurasakan sendirian dan tak mampu kudefinisikan. Semacam perasaan getir yang tiba-tiba membuatku ingat kepada para leluhur yang telah wafat mendahuluiku.
Mereka (baca: para leluhur) yang tinggal di tempat antah-berantah telah membuatku berpikir bagaimana bila detik ini aku pun mati dan tak sempat berterima kasih kepada ayah dan ibu yang kasih sayang tulusnya senantiasa menyiramiku dengan penuh kesejukan, tak sempat berkata jujur tentang perasaanku kepada orang yang kucintai, tak sempat memohon maaf kepada mereka yang diam-diam mencintaiku dan tanpa sengaja aku menyakiti hatinya, tak sempat bertukar cerita tentang rahasia dengan sahabat-sahabat yang kusayangi, dan tak sempat bertaubat kepada Tuhan atas dosa-dosa yang semakin hari kian menggunung.
Mungkin aku melambung terlalu jauh, tetapi kalau pun tak mati detik ini, membayang tentang maut saja aku jadi berpikir tentang kejadian 50 tahun yang akan datang. Jika memang benar aku akan pulang ke rumah Tuhan dan jasadku akan dibungkus dengan kain kafan, lalu di tanah manakah jasadku ini akan dikebumikan? Di detik keberapakah ruhku akan melayang sebagai titik akhir menuju kepasrahan? Bila suatu saat nanti aku dibangkitkan kembali, masihkan aku bisa bertemu dengan orang-orang yang kusayangi?
Maut benar-benar menjadi suatu peristiwa yang harus selalu diingat, agar hati kita menjadi hangat dan bersemangat untuk terus beribadah demi membalas budi kepada Tuhan.
Ah! Aku jadi malu berbicara tentang ibadah, sebab aku adalah santri yang nakal beribadah. Shalat saja seperti capung mandi (hehehe… sering ketahuan). Betapa tak tahu berterima kasih diri ini kepada Tuhan yang telah mencurahkan segalanya secara cuma-cuma.
Qiraah dihidupkan dari mushalla Karang Jati putra melalui corongan TOA. Sejenak kemudian adzan subuh sayup-sayup terdengar dari kejauhan.
Aku masih sendiri. Sementara sebagian teman-teman masih ada yang baru bangun dari tidurnya. Lalu bergegas menuju kamar madi dengan membawa gayung berisi kotak sabun dan sikat yang telah diolesi pasta gigi. Ramailah kamar mandi oleh kecipuk air dan teriakan 'ganti' para santri. Ibu Nyai Thoyyibah melangkah dari barat dhalem menuju mushalla dan memandu para santri untuk berdzikir.
Aku masih sendiri. Terdiam untuk waktu yang panjang sembari memandangi puluhan santri yang beranjak menuju mushalla. Menyadari bahwa semua orang yang ada di sini tengah menabung amal untuk kemudian pergi bergiliran. Lalu aku teringat pertanyaan ayah saat aku hendak berangkat ke pesantren ini: "Ke mana akan kau bawa langkahmu, Nak?"
04:00 WIB
Menyusuri subuh, 08 Mei 2011
Kematian adalah satu titik proses perpisahan antara ruh dalam jasad dengan ruh-ruh lain yang masih melekat di tubuh makhluk hidup. Perpisahan itu begitu mengerikan bila membayangkan betapa takutnya tinggal sendirian di alam kubur. Tanpa orang tua, saudara, dan teman-teman yang biasanya mengahangatkan suasana sepi dalam kesendirian.
Kebersamaanlah yang sejatinya membuat kita tak pernah sadar bahwa kita selalu merasakan kesunyian. Bila kau tak percaya, cobalah renungkan perjalanan hidup yang merupakan bahasa kesendirian ini. Niscaya engkau akan sadar bahwa kita, sejak dulu telah terlatih menyendiri. Dalam rahim ibu kita sendiri, dalam kubur kita sendiri, dan nanti, di akhirat, kita akan meghadap Tuhan sendirian pula.
Dalam hidup mungkin kita merasa ramai, tetapi hari ini, jauh di kedalam hatiku, tiba-tiba aku merasa sepi. Kesepian yang kurasakan sendirian dan tak mampu kudefinisikan. Semacam perasaan getir yang tiba-tiba membuatku ingat kepada para leluhur yang telah wafat mendahuluiku.
Mereka (baca: para leluhur) yang tinggal di tempat antah-berantah telah membuatku berpikir bagaimana bila detik ini aku pun mati dan tak sempat berterima kasih kepada ayah dan ibu yang kasih sayang tulusnya senantiasa menyiramiku dengan penuh kesejukan, tak sempat berkata jujur tentang perasaanku kepada orang yang kucintai, tak sempat memohon maaf kepada mereka yang diam-diam mencintaiku dan tanpa sengaja aku menyakiti hatinya, tak sempat bertukar cerita tentang rahasia dengan sahabat-sahabat yang kusayangi, dan tak sempat bertaubat kepada Tuhan atas dosa-dosa yang semakin hari kian menggunung.
Mungkin aku melambung terlalu jauh, tetapi kalau pun tak mati detik ini, membayang tentang maut saja aku jadi berpikir tentang kejadian 50 tahun yang akan datang. Jika memang benar aku akan pulang ke rumah Tuhan dan jasadku akan dibungkus dengan kain kafan, lalu di tanah manakah jasadku ini akan dikebumikan? Di detik keberapakah ruhku akan melayang sebagai titik akhir menuju kepasrahan? Bila suatu saat nanti aku dibangkitkan kembali, masihkan aku bisa bertemu dengan orang-orang yang kusayangi?
Maut benar-benar menjadi suatu peristiwa yang harus selalu diingat, agar hati kita menjadi hangat dan bersemangat untuk terus beribadah demi membalas budi kepada Tuhan.
Ah! Aku jadi malu berbicara tentang ibadah, sebab aku adalah santri yang nakal beribadah. Shalat saja seperti capung mandi (hehehe… sering ketahuan). Betapa tak tahu berterima kasih diri ini kepada Tuhan yang telah mencurahkan segalanya secara cuma-cuma.
Qiraah dihidupkan dari mushalla Karang Jati putra melalui corongan TOA. Sejenak kemudian adzan subuh sayup-sayup terdengar dari kejauhan.
Aku masih sendiri. Sementara sebagian teman-teman masih ada yang baru bangun dari tidurnya. Lalu bergegas menuju kamar madi dengan membawa gayung berisi kotak sabun dan sikat yang telah diolesi pasta gigi. Ramailah kamar mandi oleh kecipuk air dan teriakan 'ganti' para santri. Ibu Nyai Thoyyibah melangkah dari barat dhalem menuju mushalla dan memandu para santri untuk berdzikir.
Aku masih sendiri. Terdiam untuk waktu yang panjang sembari memandangi puluhan santri yang beranjak menuju mushalla. Menyadari bahwa semua orang yang ada di sini tengah menabung amal untuk kemudian pergi bergiliran. Lalu aku teringat pertanyaan ayah saat aku hendak berangkat ke pesantren ini: "Ke mana akan kau bawa langkahmu, Nak?"
04:00 WIB
Menyusuri subuh, 08 Mei 2011
25 April 2011
Perjalanan Mengenaskan Para TKI
Judul Buku : Sebongkah Tanah Retak
Penulis: Rida Fitria
Penerbit : Tiga Kelana
Tahun Terbit : Pertama, November 2010
Tebal : 218 halaman
Peresensi : Ummul Karimah
Perjalanan Mengenaskan Para TKI
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kekayaan Sumber Daya Alam yang melimpah ruah. Kekayaan tersebut terbukti dengan kandungan tanahnya yang dapat menghasilkan baja, minyak tanah, timah, bahkan emas permata mulia. Kekayaan alam tersebut merupakan salah satu faktor penentu keadaan dan nasib suatu bangsa dalam percaturan ekonomi.
Ironisnya, International Labour Organisation (ILO) menyuguhkan data bahwa 80% dari perempuan penduduk Indonesia bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang melakukan semua pekerjaan di rumah majikan. Hal ini cukup untuk mengilustrasikan sebuah keadaan yang sangat mengerikan di Indonesia. Kasus yang sangat memilukan negeri ini tentunya merupakan konflik besar yang harus dipecahkan bersama.
Salah satu contohnya diceritakan oleh Rida Fitria dalam novelnya yang berjudul Sebongkah Tanah Retak ini. Dalam novelnya, Rida Fitria mengangkat kisah tentang perjalanan panjang seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) untuk memperoleh jati dirinya dari sudut pandang kekuatan dalam melawan garis nasib kemiskinan.
Kisah ini, bermula dari seorang gadis desa di lereng Gunung Lemongan bernama Khadijah yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang kaya bernama Rohana. Konflik dibuka oleh kejadian besar yang berlangsung di sawah Rohana. Kali itu waktu memberi tahu kepada Rohana atas balasan kepercayaan yang diberikannya kepada Ijah. Saat secara tak sengaja, akhirnya ia menemukan tumpukan baju seorang perempuan yang sangat ia kenal. Tak jauh dari tumpukan baju itu ia melihat suaminya tengah bercinta dengan Ijah di bawah daun-daun tembakau.
Kemurkaan Rohana ditunjukkan dengan diusirnya Ijah dari keluarga tersebut. Sedangkan Ijah tengah mengandung janin dari tuan Wiro, suami Rohana, yang berjanji akan menikahinya. Namun, saat kejadian besar itu berlangsung, Wiro bahkan seolah tak mengenal Ijah dan sepakat mengusirnya. Ternyata janji seorang Wiro telah berubah sepah yang ditaburkan ke wajah Ijah kala itu.
Ijah lalu sadar bahwa dalam hidup ia harus bertarung. Melawan luka pengkhianatan, menahan rasa sakit, dan memperjuangkan hidupnya yang tengah dililit oleh kemiskinan. Saudara kandungnya yang berjumlah tiga pun tak pernah menghiraukan orang tua mereka yang tinggal serumah dengan Ijah. Bahkan, salah satu saudaranya yang sangat miskin, Marji namanya, kakak lelaki Ijah, yang bekerja sebagai tukang becak, menitipkan anak-anaknya di rumah orang tuanya. Hal itu disebabkan istri Marji depresi akibat kemiskinan yang sangat parah. Sementara pengasuhan anak-anak Marji dilimpahkan ke bahu orang tuanya, otomatis memberatkan pundak Ijah pula.
Saat ibu kandungnya meninggal dan tak sampai berumur tujuh hari, semua saudaranya berebut beras dan gula yang dibawa para pelayat, juga harta warisan yang tak seberapa. Ijah sedih; kecewa; lalu diam-diam menitipkan putranya ke panti asuhan dan berangkat mengadu nasib, menjadi seorang TKW ke Arab Saudi. Ia kian sadar betapa sedih menjadi seorang miskin. Jauh dari seorang buah hati yang ia cintai, juga disiksa dan dilecehkan oleh majikannya. Ia merasa seorang yang miskin tak berhak berpendapat, berpikir, dan bertindak karena tak punya harga diri. Sungguh mengenaskan.
Saat ia memutuskan untuk pulang dari Arab Saudi dan memutus mata rantai, kesulitan ekonomi di kampuing kian menelikungnya. Karena itu Ijah lalu berjuang untuk mengadu nasib yang kedua kalinya ke negara Hong Kong. Di sana, ia bahkan bukan hanya disakiti batinnya, tapi juga fisiknya. Ijah terluka, Ijah menangis, Ijah bahkan nyaris kehilangan nyawa. Keluarga majikannya sungguh tak berprikemanusiaan.
Kisah dalam novel ini berakhir saat Ijah untuk pertama kali dalam hidupnya dapat menangis bahagia. Ijah lalu merasa bahwa semua manusia berharga dan pantas mendapatakan yang terbaik dari yang telah ia perjuangkan. Ia merasa merdeka dan dapat belajar banyak hal yang harusnya ia ketahui.
Pada bagian akhir, digambarkan seorang Ijah yang bergelut dalam organisasi Indonesian Migran Workers Union (IMWU) yang telah memberinya kesempatan kursus bahasa Inggris dan Mandarin. Ijah lalu bangkit menjadi seorang pembela bagi teman-teman seperjuangannya yang mendapat perlakuan tak layak dari majikan mereka.
Novel ini banyak memuat tentang tuntutan kritis bagi negara Indonesia yang menerima devisa besar dari para TKW yang ternyata tak mendapat perlindungan penuh dari pihak Indonesia. Salah satu contoh dalam kisah ini, saat mendapatkan perlakuan yang tak manusiawi oleh para majikan, lalu para Buruh Migran Indonesia (BMI) mendatangi Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) untuk memprotes, ternyata pihak konsulat bersikap dingin dan tak acuh. Sama sekali tak tampak sebagai pengayom anak bangsa yang ditempatkan pemerintan RI di luar negeri untuk keperluan mengakomodir aspirasi Warga Negara Indonesia (WNI) yang ada dalam tanggung jawabnya.
Selain susunan bahasa yang mengalir dan diksi baik yang dipilih oleh penulis, novel ini juga sangat inspiratif dan sarat akan tema untuk kita bahas sebagai diskusi yang panjang. Banyak pelajaran-pelajaran hidup dapat diambil dari kisah yang ditulis oleh perempuan berbakat yang berasal dari Probolinggo ini . Ia telah berhasil mendobrak kisah dan menyaringkan suara buruh migran yang merintih untuk ditolong. Seperti kasus-kasus Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang belakangan ini menuai kisah yang sangat memprihatinkan.
Salah satunya dialami oleh Kikim Kolmalasari binti Uko Marta, lahir pada 9 Mei 1974, TKI asal Cianjur, Jawa Barat, yang ternyata disiksa secara sadis oleh majikannya di Arab Saudi. Kikim bahkan setelah dianiaya dan disiksa, pada akhirnya meninggal dunia (Radar Bandung: 22/11/2010). Kasus serupa dialami oleh para TKI lain yang tinggal di negara-negara lain, seperti kasusWinfaidah (26) asal Lampung yang bekerja ke Malaysia dan tak hanya disiksa secara fisik tapi juga batin (JPNN, 22/11/2010). Dan begitu banyak kisah-kisah serupa yang tak cukup hanya dipaparkan di sini saja, tapi untuk kita renungi secara kritis sebelum akhirnya kita harus bertindak.
Di tengah kasus-kasus mengenaskan tersebut, novel ini hadir dan diharapkan dapat berguna untuk memberikan suara dan dapat memberi pencerahan bagi negara Indonesia. Dan itu menegaskan bahwa memperjuangkan nasib mereka tak bisa dilakukan seorang diri, para aktivis, para korban, dan keluarga korban saja. Tetapi dibutuhkan kebersamaan, tekat yang kuat, niat yang tulus, suara yang lebih banyak, juga dukungan penuh dari pemerintah untuk dapat menjunjung harkat dan martabat mereka sebagai kaum yang merdeka.
Oleh: Ummul Karimah, alumnus SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk dan mahasiswa INSTIKA (Institut Ilmu Keislaman Annuqayah) semester II G PAI.
11 April 2011
Terkenang Perang Saudara
Cobalah engkau ingat-ingat lagi, kenangan manakah yang paling membuatmu ingin untuk memeluk saudaramu? Seperti halnya aku yang kini sesenggukan melancarkan aliran air mata yang telah lama kunonaktifkan. Ingin rasanya membenamkan kepalaku di dada saudara perempuanku sambil berucap bahwa rasa sayangku kepadanya begitu dalam dan tak berujung. Lalu kukatupkan kedua telapak tanganku dan memposisikannya di depan dadaku sambil memohon maaf dan mengungkapkan penyesalan-penyesalan yang telah kuperbuat di masa lalu.
Semua berawal dari tumpukan buku milik kakakku di sampingku ini. Secara tak sengaja kutemukan saat tiba-tiba aku ingin sekali membongkar buku-buku lamaku yang tertata di dalam kardus. Kutemukan catatan panjang di kertas-kertas yang lusuh, beberapa buku tulis kumpulan cerpen, sebuah standbook berisi novel, dan foto-foto kami di masa kecil yang pinggirannya terkena ‘cacar foto’ dan semakin menjalar ke bagian tengah.
Kubersihkan debu di lekukan buku-buku itu dengan meniup dan mengibas-ngibaskannya perlahan-lahan. Setelah dirasa cukup, aku mulai membacanya.
Tak sampai menamatakan satu catatan berjudul “Adikku” saja, pandanganku menjadi kabur. Mataku terasa panas dipadu dengan denyutan kencang di titik persendian hatiku. Tiba-tiba pipiku menjadi lembab begitu saja. Dan ingatanku berlari mundur, jauh ke belakang. Menampilkan gambar masa lalu saat kakakku masih ada di sini, Pondok Pesantren Annuqayah daerah Karang Jati Guluk-Guluk, tempatku dididik untuk mempelajari arti diri dan kehidupan.
Sejak kecil, aku dan kakakku tak pernah akur. Kami selalu beradu mulut. Mempersoalkan hal kecil yang dibesar-besarkan seperti, rebutan buah tangan ibu dari pasar, memperkarakan baju lebaran tak sama harga, atau sekedar rebutan ibu dan ayah yang jelas-jelas milik kami berdua.
Aku memang benci ketika kakak menceritakan masa bayi kami bebeda. Kakak dilahirkan di rumah dan menikmati ASI dengan puas, sedang aku dilahikan di rumah sakit dan dipisahkan dari ibu. Katanya, 2 bulan lamanya aku meminum susu instan produk pabrik. Sampai ibu kembali pulih dan bisa pulang.
Usia kami yang hanya terpaut 4 tahun membuat kami tumbuh seperti sejajar. Selisih itu tak berpengaruh untuk membedakan usia kami saat aku tumbuh lebih besar dan menyamai tubuh kakakku (yang kini lebih kecil dariku. Hehe…). Sejak kecil, aku selalu merasa dewasa dan tak butuh seorang kakak. Sedang kakak amat benci pada sikapku yang demikian sombong. Katanya, dia memang tak ingin punya adik karena kasih sayang ibu akan terbagi.
Tanpa kakak mengutarakan kekesalannya mempunyai adik diriku dan tentang kasih sayang ibu, kurasa ibu tetap lebih menyayanginya. Buktinya, dari keseharian kami yang hanya dua besaudara, aku mencoba membanding-bandingkan perlakuan ibu pada kami. Dan hasil dari risetku, ibu memang mengistimewakan kakak dari pada diriku. Kalau ada perbincangan keluarga, aku tak pernah dianggap ada. Bahkan suatu ketika, saat diam-diam aku bergabung dalam suatu perbincangan dan mencoba menyampaikan pendapat, ibu malah tersenyum dan berujar bahwa aku masih terlalu kecil untuk mengerti masalah orang dewasa. Selalu saja begitu. Ah, barang kali itu hanya perasaanku yang sedang dalam kondisi cidera. Semua memang tampak konyol bila dikenang. Tapi aku cukup senang.
Perdebatanku dengan kakak tak kunjung menemukan ujung pangkal. Selalu ada masalah di antara kami–––yang meski sudah selesai diperkarakan, tapi masih saja diungkit-ungkit. Sampai kami beranjak dewasa dan kakak dimondokkan di Annuqayah. Barulah sejak saat itu aku merasakan kedamaian di rumahku sendiri.
Selang berapa tahun, aku pun harus mondok. Untunglah ibu dan ayah memilihkan pesantren yang berbeda, al-Amien II Muallimat Prenduan. Tetapi, suasana di sana tidak seperti yang kuharapkan. Aku sungguh tidak kerasan. Mula-mula aku hanya berkeinginan untuk kabur dengan terus-terusan memandangi bus dan taksi yang berlalu-lalang dari dalam ruangan daru al-difah (tempat santri dikunjungi keluarga. Lokasinya di pinggir jalan). Sayangnya ada pak satpam yang berkumis tebal dan berbadan besar yang menjaga pintu ruangan tersebut. Rencana itu menjadi gagal. Akhirnya, aku mengutarakan kondisiku yang tidak kerasan kepada ibu. Aku meminta untuk pindah mondok dan otomatis pindah sekolah. Mengingat ini, aku jadi terkenang masa kecilku yang setiap tahun minta pindah sekolah. Mungkin penyakit kecilku kambuh lagi.
Ayah tidak mengizinkanku untuk pindah. Tapi ibu kali itu membelaku. Alhasil aku dipindahkan ke pesantren Annuqayah daerah Karang Jati. Dimondokkan satu pesantren dengan kakakku. Satu kamar, satu lemari, dan satu dompet.
Ibu mengira, dengan menyatukan kami kembali bisa membuat kami menjadi akur. Tetapi ironis dari harapan ibu! Kami semakin menjadi-jadi. Semakin banyak permasalahn yang muncul. Dari masalah uang sampai urusan intelektualitas. Uang jajan kakak lebih banyak, karena ibu mempertimbangkan kelas kakak yang lebih tinggi. Kata ibu, semakin tinggi kelas seseorang, maka semakin banyak pula kebutuhannya. Aku menerimanya dengan lapang, tapi yang membuatku kesal kembili, uang sakuku ke sekolah turut diatur oleh kakak.
Kuakui, ibu pasti lebih membela kakak dalam persoalan apa pun. Secara, IQ kakak lebih tinggi dari pada diriku. Kakak selalu berprestasi setiap tahun. Mengukir senyum ayah dan ibu melalui rangkin kelas dan mejuarai banyak lomba. Atau dengan bakatnya yang begitu produktif dalam menelurkan karya fiksi. Meski karyanya tak tersalurkan dan hanya bisa dinikmati teman-teman sekamar. Banyak pujian teman-teman mengalir untuk kakak. Rasa iri itulah yang membuat semangatku semakin membuncah untuk bisa lebih dari kakak. Dan jujur, kakaklah sumber inspirasiku sekaligus orang yang membuatku bertahan dalam kondisi semangat. Sampai detik ini.
Dari pertengkaran kami yang rutin, teman-teman menjuluki kami kucing dan anjinag. Karena kami tak pernah akur dalam jangka waktu yang panjang. Mereka memang benar. Kami tak pernah saling bercerita tentang isi hati kami, tak pernah mendiskusikan masalah dan saling memberikan solusi, tak pernah berpelukan, atau bahkan mencium pipi kanan dan pipi kiri selayaknya saudara kandung pada umumnya.
Meski begitu, pernah suatu ketika kakak membuatku menangis haru. Inilah kenangan yang selalu membuatku ingin memeluk kakak dengan menangis sejadi-jadinya di dalam dekapannya. Kisah yang membuatku mengerti bahwa sejahat apa pun penilaian kita pada seorang saudara, ia tetaplah menjadi seseorang yang diam-diam amat menyayangi kita. Bahkan sampai kapan pun kasih sayangnya tak kan pernah kering untuk memberikan kesejukan pada kita.
Suatu siang di bulan April tahun 2007 lalu, cuaca serasa berbeda. Matahari begitu ganas membakar pori-poriku. Tetapi angin yang berhembus lembut memberikan kombinasi rasa panas-sejuk yang luar biasa. Mungkin pada waktu itu alam tengah memamerkan rasa natural yang begitu eksotis.
Sehabis jam pelajaran, aku berjalan gontai melewati gang sekolah menuju pondok. Sesampainya di kamar, aku mendamparkan diri pada karpet. Sementara itu, teman-teman sibuk merapikan seragam, ada yang bernyanyi, bercerita perihal kejadian di kelas masing-masing, dan ada yang menyiapkan peralatan untuk menanak nasi. Kakak belum pulang dari sekolah. Iseng-iseng kubuka lemari. Aha! Kutemukan sebuah kotak terbalut kertas kado berwarna hijau di sana. Dalam pikir, aku mencoba menerka-nerka; kado siapa gerangan? Kuambil dan kubolak-balik. Ada sebuah tulisan di ujung kiri kado itu: “Untuk Adikku”. Aku ragu untuk membukanya. Sungguh-sungguh ragu. Aku tidak yakin kado itu dari kakak untukku. Tak mungkin. Barangkali itu dari sahabat dekat kakak.
Rasa penasaranku semakin menguasai pikiranku. Memaksaku untuk membuka kado itu. Tetapi itu tidak kulakukan. Ingin rasanya aku bertanya pada teman-teman perihal dari dan untuk siapa kado itu. Tetapi lagi-lagi aku dikuasai rasa gengsi yang meredakan rasa penasaranku. Kubolak-balik saja kado tak beralamat itu. Kutemukan lagi tulisan kecil di pojok kiri pada sisi yang berbeda: “Selamat Ulang Tahun. 12 April 2007”.
Lalu aku ingat bahwa tanggal itu adalah tanggalku. Hari untuk mengenang saat pertama kali aku melihat dunia dan mengenalkan suaraku pada alam. Bulan yang membuatku bisa bergerak bebas dan leluasa serta menangis nyaring mengungguli suara burung-burung.
Tanpa pikir panjang lagi, langsung kubuka kotak itu. Kado yang berisi barang-barang ksukaanku: kaos panjang warna hijau lumut berkombinasi motif abri di bagian depannya, arloji kura-kura ninja bermotif timbul spiderman, kaos pendek warna hijau cerah bergambar jamur tersenyum di bagian pojok bawahnya, dan sepucuk surat. Beginilah isi suratnya: ¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬
12 April 2007
HAPPY BIRTH DAY BINTANG SENJAKU
Aleeq...
Semoga panjang umur, murah rizki, sehat dan selalu dalam lindungan-Nya. Amin.
Aleeq...
Maaf jika sampai detik ini aku belum bisa menjadi kakak yang baik buatmu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu: "TIDAK ADA SEORANG PUN DI DUNIA INI YANG TIDAK MENYAYANGI SAUDARA KANDUNGNYA SENDIRI. TIDAK ADA".
Aleeq...
Aku bangga memilikimu. Aku bangga pada semua yang ada pada dirimu. Semoga mimpi-mimpimu dipeluk oleh Tuhan.
Aleeq...
Ini adalah hari bahagiamu. Hari ini adalah milikmu. Jadi hari ini bahagiakanlah orang lain. Lebih-lebih orang yang ada di sekelilingmu. Karena kebahagiaan itu seperti sebuah kecupan. Kamu harus membaginya jika ingin menikmatinya.
Aleeq...
Kita seperti anjing dan kucing. Tak pernah akur dalam jangka yang lama, tapi kita sama-sama tahu bahwa sebenarnya kita saling menyayangi. Cuma, kita memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkannya. Aku akan menyayangimu dengan caramu sendiri.
Aleeq...
Hadiah ini bukan sepenuhnya bentuk kasih sayangku, ini hanya sebagian, karena kasih sayang itu tak dapat diukur dengan materi. Kamu tak perlu ragu untuk menerimanya, karena ini halal. Ini kudapat dari uang saku yang aku sisihkan hanya untuk menebus kesalahanku tahun lalu karena telah melupakan hari ultahmu. Maaf.
Aleeq...
I do love you.
Kakakmu
Nafisah
Sejak saat itu, aku benar-benar mengerti bahwa diam-diam kakak memberikan perhatian lebih kepadaku. Kakak begitu mengerti pada hal-hal yang kusuaki. Kakak paham pada perasaan sayangku kepadanya yang tak bisa disampaikan karena sifatku yang keras kepala dan rasa gengsiku yang terlalu jaim (jaga image). Aku mengerti bahwa kami saling menyayangi, namun kami mengungkapkannya dengan cara yang berbeda. Cara yang begitu konyol tetapi unik. Sejak saat itulah kami berusaha mengurangi pertengkaran kami. Mengubahnya menjadi pertengkaran yang menyenangkan. Pertengkaran untuk saling mengungkapkan rasa sayang.
Sampai akhirnya kakak lulus SMA dan berhenti mondok. Selang 3 tahun kakak menikah dengan pemuda yang masih satu desa dengan kami. Desa Tambuko. Pemuda dari kampung sebelah, kampung Jeruk Durga. Rofik namaya. Di hari pernikahannya aku benar-benar merasakan kebahagiaan yang sulit diartikan. Kebahagiaan bukan untuk diri sendiri, tetapi setulus matahari. Kebahagiaan bersaudara yang membuatku merasa memiliki kakak sepenuhnya. Perasaan itu berubah rindu yang begitu berat. Rindu pada kebersamaan dan pertengkaran kami. Rindu pada celoteh ibu yang berusaha mendamaikan kami.
Kini, kakak tak ada di sampingku lagi. Tetapi justru rinduku semakin menjadi. Rasa sayang tiba-tiba ingin sekali kuungkapkan dengan gerak pun kata-kata. Agar kakak tahu bahwa untuknya ingin kutaburkan cinta. Dan kepadanya ingin kucurahkan segalanya.
Maka inilah pesan diriku untukmu kawan: selagi kau masih bersama saudaramu, buatlah ia tersenyum dan jangan pernah ciderai hatinya. Karena apabila waktu telah memisahkanmu dengannya, maka kau hanya akan berteman dengan penyesalan, rasa bersalah, dan rindu yang tak tertahankan.
Di bawah pohon mimba halaman kampus INSTIKA
Guluk-Guluk, 11 April 2011
Semua berawal dari tumpukan buku milik kakakku di sampingku ini. Secara tak sengaja kutemukan saat tiba-tiba aku ingin sekali membongkar buku-buku lamaku yang tertata di dalam kardus. Kutemukan catatan panjang di kertas-kertas yang lusuh, beberapa buku tulis kumpulan cerpen, sebuah standbook berisi novel, dan foto-foto kami di masa kecil yang pinggirannya terkena ‘cacar foto’ dan semakin menjalar ke bagian tengah.
Kubersihkan debu di lekukan buku-buku itu dengan meniup dan mengibas-ngibaskannya perlahan-lahan. Setelah dirasa cukup, aku mulai membacanya.
Tak sampai menamatakan satu catatan berjudul “Adikku” saja, pandanganku menjadi kabur. Mataku terasa panas dipadu dengan denyutan kencang di titik persendian hatiku. Tiba-tiba pipiku menjadi lembab begitu saja. Dan ingatanku berlari mundur, jauh ke belakang. Menampilkan gambar masa lalu saat kakakku masih ada di sini, Pondok Pesantren Annuqayah daerah Karang Jati Guluk-Guluk, tempatku dididik untuk mempelajari arti diri dan kehidupan.
Sejak kecil, aku dan kakakku tak pernah akur. Kami selalu beradu mulut. Mempersoalkan hal kecil yang dibesar-besarkan seperti, rebutan buah tangan ibu dari pasar, memperkarakan baju lebaran tak sama harga, atau sekedar rebutan ibu dan ayah yang jelas-jelas milik kami berdua.
Aku memang benci ketika kakak menceritakan masa bayi kami bebeda. Kakak dilahirkan di rumah dan menikmati ASI dengan puas, sedang aku dilahikan di rumah sakit dan dipisahkan dari ibu. Katanya, 2 bulan lamanya aku meminum susu instan produk pabrik. Sampai ibu kembali pulih dan bisa pulang.
Usia kami yang hanya terpaut 4 tahun membuat kami tumbuh seperti sejajar. Selisih itu tak berpengaruh untuk membedakan usia kami saat aku tumbuh lebih besar dan menyamai tubuh kakakku (yang kini lebih kecil dariku. Hehe…). Sejak kecil, aku selalu merasa dewasa dan tak butuh seorang kakak. Sedang kakak amat benci pada sikapku yang demikian sombong. Katanya, dia memang tak ingin punya adik karena kasih sayang ibu akan terbagi.
Tanpa kakak mengutarakan kekesalannya mempunyai adik diriku dan tentang kasih sayang ibu, kurasa ibu tetap lebih menyayanginya. Buktinya, dari keseharian kami yang hanya dua besaudara, aku mencoba membanding-bandingkan perlakuan ibu pada kami. Dan hasil dari risetku, ibu memang mengistimewakan kakak dari pada diriku. Kalau ada perbincangan keluarga, aku tak pernah dianggap ada. Bahkan suatu ketika, saat diam-diam aku bergabung dalam suatu perbincangan dan mencoba menyampaikan pendapat, ibu malah tersenyum dan berujar bahwa aku masih terlalu kecil untuk mengerti masalah orang dewasa. Selalu saja begitu. Ah, barang kali itu hanya perasaanku yang sedang dalam kondisi cidera. Semua memang tampak konyol bila dikenang. Tapi aku cukup senang.
Perdebatanku dengan kakak tak kunjung menemukan ujung pangkal. Selalu ada masalah di antara kami–––yang meski sudah selesai diperkarakan, tapi masih saja diungkit-ungkit. Sampai kami beranjak dewasa dan kakak dimondokkan di Annuqayah. Barulah sejak saat itu aku merasakan kedamaian di rumahku sendiri.
Selang berapa tahun, aku pun harus mondok. Untunglah ibu dan ayah memilihkan pesantren yang berbeda, al-Amien II Muallimat Prenduan. Tetapi, suasana di sana tidak seperti yang kuharapkan. Aku sungguh tidak kerasan. Mula-mula aku hanya berkeinginan untuk kabur dengan terus-terusan memandangi bus dan taksi yang berlalu-lalang dari dalam ruangan daru al-difah (tempat santri dikunjungi keluarga. Lokasinya di pinggir jalan). Sayangnya ada pak satpam yang berkumis tebal dan berbadan besar yang menjaga pintu ruangan tersebut. Rencana itu menjadi gagal. Akhirnya, aku mengutarakan kondisiku yang tidak kerasan kepada ibu. Aku meminta untuk pindah mondok dan otomatis pindah sekolah. Mengingat ini, aku jadi terkenang masa kecilku yang setiap tahun minta pindah sekolah. Mungkin penyakit kecilku kambuh lagi.
Ayah tidak mengizinkanku untuk pindah. Tapi ibu kali itu membelaku. Alhasil aku dipindahkan ke pesantren Annuqayah daerah Karang Jati. Dimondokkan satu pesantren dengan kakakku. Satu kamar, satu lemari, dan satu dompet.
Ibu mengira, dengan menyatukan kami kembali bisa membuat kami menjadi akur. Tetapi ironis dari harapan ibu! Kami semakin menjadi-jadi. Semakin banyak permasalahn yang muncul. Dari masalah uang sampai urusan intelektualitas. Uang jajan kakak lebih banyak, karena ibu mempertimbangkan kelas kakak yang lebih tinggi. Kata ibu, semakin tinggi kelas seseorang, maka semakin banyak pula kebutuhannya. Aku menerimanya dengan lapang, tapi yang membuatku kesal kembili, uang sakuku ke sekolah turut diatur oleh kakak.
Kuakui, ibu pasti lebih membela kakak dalam persoalan apa pun. Secara, IQ kakak lebih tinggi dari pada diriku. Kakak selalu berprestasi setiap tahun. Mengukir senyum ayah dan ibu melalui rangkin kelas dan mejuarai banyak lomba. Atau dengan bakatnya yang begitu produktif dalam menelurkan karya fiksi. Meski karyanya tak tersalurkan dan hanya bisa dinikmati teman-teman sekamar. Banyak pujian teman-teman mengalir untuk kakak. Rasa iri itulah yang membuat semangatku semakin membuncah untuk bisa lebih dari kakak. Dan jujur, kakaklah sumber inspirasiku sekaligus orang yang membuatku bertahan dalam kondisi semangat. Sampai detik ini.
Dari pertengkaran kami yang rutin, teman-teman menjuluki kami kucing dan anjinag. Karena kami tak pernah akur dalam jangka waktu yang panjang. Mereka memang benar. Kami tak pernah saling bercerita tentang isi hati kami, tak pernah mendiskusikan masalah dan saling memberikan solusi, tak pernah berpelukan, atau bahkan mencium pipi kanan dan pipi kiri selayaknya saudara kandung pada umumnya.
Meski begitu, pernah suatu ketika kakak membuatku menangis haru. Inilah kenangan yang selalu membuatku ingin memeluk kakak dengan menangis sejadi-jadinya di dalam dekapannya. Kisah yang membuatku mengerti bahwa sejahat apa pun penilaian kita pada seorang saudara, ia tetaplah menjadi seseorang yang diam-diam amat menyayangi kita. Bahkan sampai kapan pun kasih sayangnya tak kan pernah kering untuk memberikan kesejukan pada kita.
Suatu siang di bulan April tahun 2007 lalu, cuaca serasa berbeda. Matahari begitu ganas membakar pori-poriku. Tetapi angin yang berhembus lembut memberikan kombinasi rasa panas-sejuk yang luar biasa. Mungkin pada waktu itu alam tengah memamerkan rasa natural yang begitu eksotis.
Sehabis jam pelajaran, aku berjalan gontai melewati gang sekolah menuju pondok. Sesampainya di kamar, aku mendamparkan diri pada karpet. Sementara itu, teman-teman sibuk merapikan seragam, ada yang bernyanyi, bercerita perihal kejadian di kelas masing-masing, dan ada yang menyiapkan peralatan untuk menanak nasi. Kakak belum pulang dari sekolah. Iseng-iseng kubuka lemari. Aha! Kutemukan sebuah kotak terbalut kertas kado berwarna hijau di sana. Dalam pikir, aku mencoba menerka-nerka; kado siapa gerangan? Kuambil dan kubolak-balik. Ada sebuah tulisan di ujung kiri kado itu: “Untuk Adikku”. Aku ragu untuk membukanya. Sungguh-sungguh ragu. Aku tidak yakin kado itu dari kakak untukku. Tak mungkin. Barangkali itu dari sahabat dekat kakak.
Rasa penasaranku semakin menguasai pikiranku. Memaksaku untuk membuka kado itu. Tetapi itu tidak kulakukan. Ingin rasanya aku bertanya pada teman-teman perihal dari dan untuk siapa kado itu. Tetapi lagi-lagi aku dikuasai rasa gengsi yang meredakan rasa penasaranku. Kubolak-balik saja kado tak beralamat itu. Kutemukan lagi tulisan kecil di pojok kiri pada sisi yang berbeda: “Selamat Ulang Tahun. 12 April 2007”.
Lalu aku ingat bahwa tanggal itu adalah tanggalku. Hari untuk mengenang saat pertama kali aku melihat dunia dan mengenalkan suaraku pada alam. Bulan yang membuatku bisa bergerak bebas dan leluasa serta menangis nyaring mengungguli suara burung-burung.
Tanpa pikir panjang lagi, langsung kubuka kotak itu. Kado yang berisi barang-barang ksukaanku: kaos panjang warna hijau lumut berkombinasi motif abri di bagian depannya, arloji kura-kura ninja bermotif timbul spiderman, kaos pendek warna hijau cerah bergambar jamur tersenyum di bagian pojok bawahnya, dan sepucuk surat. Beginilah isi suratnya: ¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬
12 April 2007
HAPPY BIRTH DAY BINTANG SENJAKU
Aleeq...
Semoga panjang umur, murah rizki, sehat dan selalu dalam lindungan-Nya. Amin.
Aleeq...
Maaf jika sampai detik ini aku belum bisa menjadi kakak yang baik buatmu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu: "TIDAK ADA SEORANG PUN DI DUNIA INI YANG TIDAK MENYAYANGI SAUDARA KANDUNGNYA SENDIRI. TIDAK ADA".
Aleeq...
Aku bangga memilikimu. Aku bangga pada semua yang ada pada dirimu. Semoga mimpi-mimpimu dipeluk oleh Tuhan.
Aleeq...
Ini adalah hari bahagiamu. Hari ini adalah milikmu. Jadi hari ini bahagiakanlah orang lain. Lebih-lebih orang yang ada di sekelilingmu. Karena kebahagiaan itu seperti sebuah kecupan. Kamu harus membaginya jika ingin menikmatinya.
Aleeq...
Kita seperti anjing dan kucing. Tak pernah akur dalam jangka yang lama, tapi kita sama-sama tahu bahwa sebenarnya kita saling menyayangi. Cuma, kita memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkannya. Aku akan menyayangimu dengan caramu sendiri.
Aleeq...
Hadiah ini bukan sepenuhnya bentuk kasih sayangku, ini hanya sebagian, karena kasih sayang itu tak dapat diukur dengan materi. Kamu tak perlu ragu untuk menerimanya, karena ini halal. Ini kudapat dari uang saku yang aku sisihkan hanya untuk menebus kesalahanku tahun lalu karena telah melupakan hari ultahmu. Maaf.
Aleeq...
I do love you.
Kakakmu
Nafisah
Sejak saat itu, aku benar-benar mengerti bahwa diam-diam kakak memberikan perhatian lebih kepadaku. Kakak begitu mengerti pada hal-hal yang kusuaki. Kakak paham pada perasaan sayangku kepadanya yang tak bisa disampaikan karena sifatku yang keras kepala dan rasa gengsiku yang terlalu jaim (jaga image). Aku mengerti bahwa kami saling menyayangi, namun kami mengungkapkannya dengan cara yang berbeda. Cara yang begitu konyol tetapi unik. Sejak saat itulah kami berusaha mengurangi pertengkaran kami. Mengubahnya menjadi pertengkaran yang menyenangkan. Pertengkaran untuk saling mengungkapkan rasa sayang.
Sampai akhirnya kakak lulus SMA dan berhenti mondok. Selang 3 tahun kakak menikah dengan pemuda yang masih satu desa dengan kami. Desa Tambuko. Pemuda dari kampung sebelah, kampung Jeruk Durga. Rofik namaya. Di hari pernikahannya aku benar-benar merasakan kebahagiaan yang sulit diartikan. Kebahagiaan bukan untuk diri sendiri, tetapi setulus matahari. Kebahagiaan bersaudara yang membuatku merasa memiliki kakak sepenuhnya. Perasaan itu berubah rindu yang begitu berat. Rindu pada kebersamaan dan pertengkaran kami. Rindu pada celoteh ibu yang berusaha mendamaikan kami.
Kini, kakak tak ada di sampingku lagi. Tetapi justru rinduku semakin menjadi. Rasa sayang tiba-tiba ingin sekali kuungkapkan dengan gerak pun kata-kata. Agar kakak tahu bahwa untuknya ingin kutaburkan cinta. Dan kepadanya ingin kucurahkan segalanya.
Maka inilah pesan diriku untukmu kawan: selagi kau masih bersama saudaramu, buatlah ia tersenyum dan jangan pernah ciderai hatinya. Karena apabila waktu telah memisahkanmu dengannya, maka kau hanya akan berteman dengan penyesalan, rasa bersalah, dan rindu yang tak tertahankan.
Di bawah pohon mimba halaman kampus INSTIKA
Guluk-Guluk, 11 April 2011
03 Maret 2011
Air Mata Februari
Mata air air mata kita mengalir pada sungai Februari
Perasaan mendalam yang menuntut malam sebagai saksi
Menjadikan lokan-lokan tak berpenghuni. Sepi.
Oh, Februariku
Telah kucecapi pahit-getir kopi di setiap inci kerinduan
Sendirian
Menumpas perasaan yang menawarkan kesunyian
Kesenyapan
Mengelus ketakutan sebagai lambang perlawanan takdir
Gema nafasmu yang menyerupai takbir
Rapalkan mantra ketidaksiapan
Semakin menyakinkan bahwa kau sebongkah keputusasaan
Februariku,
Air mata kita tak pernah pengecut
Ia jelma untuk kita memilih: simpan atau buang
Tawaran ini egois bukan?
Bila tidak demikian hidup bagai gemawan
Arah mata angin tak membentangkan tujuan
Wahai engkau Februariku,
Bila cinta dan maut selalu misteri dalam kehidupan
Lalu mengapa di antara kita hanya ada air mata yang tumpah atas nama kesia-siaan?
Kumohon hentikan!
Berikan saja aku sebongkah kejujuran
Untuk mencumbui setiap helai kebohongan
Meski keduanya adalah satu kesatuan yang menjijikkan.
Mushalla Karang Jati, 27 Februari 2011
Perasaan mendalam yang menuntut malam sebagai saksi
Menjadikan lokan-lokan tak berpenghuni. Sepi.
Oh, Februariku
Telah kucecapi pahit-getir kopi di setiap inci kerinduan
Sendirian
Menumpas perasaan yang menawarkan kesunyian
Kesenyapan
Mengelus ketakutan sebagai lambang perlawanan takdir
Gema nafasmu yang menyerupai takbir
Rapalkan mantra ketidaksiapan
Semakin menyakinkan bahwa kau sebongkah keputusasaan
Februariku,
Air mata kita tak pernah pengecut
Ia jelma untuk kita memilih: simpan atau buang
Tawaran ini egois bukan?
Bila tidak demikian hidup bagai gemawan
Arah mata angin tak membentangkan tujuan
Wahai engkau Februariku,
Bila cinta dan maut selalu misteri dalam kehidupan
Lalu mengapa di antara kita hanya ada air mata yang tumpah atas nama kesia-siaan?
Kumohon hentikan!
Berikan saja aku sebongkah kejujuran
Untuk mencumbui setiap helai kebohongan
Meski keduanya adalah satu kesatuan yang menjijikkan.
Mushalla Karang Jati, 27 Februari 2011
21 Februari 2011
Kopi Lusi
Oleh; Ummul Corn*
Pernahkan engkau merasakan kehampaan seraya berkata bahwa engkau tak lebih dari sebongkah manusia yang tersisih dan tersendiri? Pernahkah engkau merasakan rindu setengah mati pada sebuah suara yang tiba-tiba lenyap lantaran engkau sendiri yang menepisnya? Perasaan yang membuatmu terasing dalam menjalani kehidupan yang panjang ini. Perasaan ingin meliarkan hatimu untuk mengembara dan menemukan separuh lainnya yang searah.
Perasaan itulah yang kurasaan saat aku mencoba mengasingkan diri setiap sore di sebuah dangau tua yang hampir roboh. Menarik tali panjang dari ujung yang membuatnya bergerak ke seluruh penjuru arah. Empat tali rafia panjang yang pada setiap jengkalnya dipasangi sampah plastik dan bekas kaleng-kaleng susu untuk mengusir para burung pencuri padi. Bukan mencuri, lebih tepatnya mencari nafkah untuk sanak famili mereka yang tengah menunggu di sarangnya. Aku ingin membuktikan bahwa aku bebas, aku merdeka, persis seperti burung-burung itu yang dapat mengepakkan sayap mereka dan melahirkan keindahan senja yang luar biasa.
Awan berarak melintasi sawah ke sawah yang tengah membentangkan warna hijau dan sedikit warna emas. Sampai akhirnya awan-awan itu mengantarkan sepasang bola mataku pada sosok lelaki yang tengah duduk di atas pematang yang menjang ke arah timur. Pematang yang letaknya berbatas sepetak sawah dari dangau tempatku menyepi.
Lelaki tinggi tegap yang tengah mengenakan kaos partai lusuh berwarna hijau itu bangkit dan melangkah menuju ke arahku. Badannya tampak disesaki daging. Wajahnya bulat lebar dengan dagu sedikit terbelah di bagian tengahnya. Ditambah jenggot tipis yang tampak rapi menghiasi dagunya. Bibirnya sama sekali tidak hitam, kelihatan sekali kalau ia tak pernah bersentuhan dengan rokok.
Ia semakin mendekat menghunjamkan pandang ke arahku yang tergugu. Ia berjalan ringan sambil menenteng botol air kemasan berukuran 600 ml berisi kopi. Bagian bawah botonya tampak berkerut dan menyempit. Mungkin kopi itu dituangkan ketika masih panas.
Lelaki itu semakin mendekat. Mencipta suara jeritan bambu beradu ketika pantatnya ia letakkan begitu saja di sampingku. Ia tampak tenang membuang pandang jauh ke arah barat sana. Persis dengan adegan saat kami kecil dulu.
Rentang waktu yang panjang, yaitu waktu yang sejenak untuk kami berpisah dan menyusuri jalan masing-masing, tak membuatnya mengalami banyak perubahan. Ia tetap menjadi dirinya sendiri; Hasan yang susah berbicara dengan orang-orang, terutama perempuan. Bagiku ia adalah teman kecil yang super aneh. Ia selalu merasa akan mengalami kejadian-kejadian aneh yang luar biasa atau menciptakan suatu keajaiban yang mustahil, seperti membangkitkan kembali menara Sauron dalam film The Lord of The Rings, merasa mampu berjalan melampaui suatu ruang panjang dalam waktu yang relatif singkat, bahkan pernah ia berkeinginan untuk berubah wujud menjadi seekor kodok yang dapat memikul bawang di pundaknya. Ia terkadang menjadi pembual yang membuatku geli setengah mati.
Hasan berantonim Alim. Alim adalah ‘musuh’ kecilku. Ia tak pernah suka pada apa yang melekat dalam diriku. Katanya aku ini bukan perempuan, melainkan manusia jadi-jadian yang lebih mengerikan dari pada bencong. Alasannya, aku tidak memiliki tubuh seksi seperti teman-teman perempuan kami yang lain. Payudaraku kecil dan berada di bawah standart rata-rata anak seusiaku. Bahkan saat aku ikut bersepeda mendaki gunung dan memanjat pohon bersama teman-teman lelakiku, dia malah mengolok-olokku dan mengataiku sebagai perempuan setengah gila.
Saat Alim mulai mengusiliku, diam-diam Hasan datang sebagai seorang pahlawan. Ia melawan tidak dengan kata-kata atau adu otot, tetapi dengan sandi tubuh. Alim akan sangat ketakutan bila Hasan menatapnya dengan berang. Entah mengapa, aku juga tidak mengerti. Yang jelas Hasan adalah sosok kawan yang amat disegani. Meski terkadang ia juga menjadi teman yang dapat mengudang tawa. Beginilah kira-kira prinsipnya: “Kalau bisa, saya ingin membuat hidup ini penuh dengan tawa, atau tangis haru. Tak boleh ada kepedihan secuil pun di tempat ini.”
Hasan dan Alim seperti magnet dari kutub yang berlawanan. Meski begitu, ada kesamaan di antara aku, Hasan, dan Alim yang membuat kami tetap bersahabat dalam segala ketidakmungkinan yang ada. Dari kecil kami bertiga sama-sama suka kopi. Kata Alim kopi itu bikin kangen. Bagi Hasan kopi bisa buat orang jadi segar, sabar, dan tentram. Menurutku kopi adalah lambang kerinduan dan keteguhan hati. Karena aku sadar, sesempurna apa pun kopi itu dibuat, ia tetap mempunyai sisi pahit yang tak bisa disembunyikan. Begitu pun dengan ridu menyakitkan yang membutuhkan ketegaran sebagai bentengnya.
Kopi membuat khayalku terdampar lagi ke masa kecil. Aku sampai lupa kalau Hasan kini tengah berada di sampingku. Cukup lama aku bernostalgia dengan anganku. Memilih sepi sebagai juru kunci yang mengantarkanku pada kisah aroma kopi persahabatan. Kupandangi Hasan. Tak ada tanda-tanda ia akan membuka dialog. Hanya napasnya yang menjadi latar cerita kami sore ini.
“Hmmm… Sudah menikah, Lus?” akhirnya ia berujar pelan. Namun pertanyaannya kali ini telah membuyarkan perbenadaharaan kataku. Seperti ada biji kedongdong di tenggorokanku. Di usiaku yang hanya kurang satu tahun untuk genap berkepala tiga, aku benar-benar bingung mencari alasan. Menikah adalah kosa-kata yang paling aku segani. Dan pertanyaan Hasan serupa suara tawon yang terus berputar-putar di dekat daun telingaku.
Aku merasa menjadi perempuan tersisih dan terasing di kampungku sendiri. Merasakan kehampaan berada di antara suara-suara yang sejatinya sungguh bising. Aku merasa menjadi sekeping besi yang meratapi kesendirian sepanjang waktu. Mencecapi setiap rasa pahit yang terkadang membuatku ingin amnesi untuk selamanya.
Hening. Suara batuk-batuk. Suara kaleng susu memecah sunyi.
“Kopi ini manis ya… tapi tetap saja pahit,” kataku sambil menunjuk kopi milik Hasan. Ada cairan hangat yang tak bisa kutahan. Tiba-tiba pipiku menjadi lembab begitu saja.
“Aku kangen kopimu. Katanya kopimu itu lambang keteguhan hati. Lambangmu, Lusi…” Hasan menatap kedua mataku. Ada semangat di sela kata-katanya.
“Eh, ya… menikah. Bukan tidak mau tapi aku sudah gagal empat kali,” jawabku klise.
“Coba lihat ke bawah! Itu… ada kodok melompat di pinggiran parit. Kodok itu temanku. Dia pasti bercerita sesuatu kepadaku,” penyakitnya kambuh. Ia tidak memintaku bercerita menggunakan bahasa langsung, tapi dengan sindiran yang menarik. Itulah sebabnya aku begitu merasa nyaman berada di dekatnya. Tanpa diminta pun aku akan bercerita kepadanya.
“Empat kali gaga. Sakit, San! Pertama, saat aku duduk di bangku MTs, ada pemuda dari kampung Pangilen melamarku. Aku memang menyukainya, tetapi tidak mengira kalau dia juga memiliki rasa yang sama. Sayang… keluargaku tidak setuju. Saudara tertua ibu melarang keras untuk menerimanya. Katanya paman teringat sumpah lama para leluhur dari keluarga pemuda itu yang tak kutahu jalan ceritanya. Ah! Aku memang paling benci kalau nama leluhur dibangkitkan kembali untuk dijadikan alasan.
Yang kedua, aku sudah berada di tingkat SMA kelas akhir. Ayah menjodohkanku dengan anak temannya. Pemuda itu baik menurut penilaian dangkalku. Dari segi fisik tak ada yang disayangkan. Pemuda pilihan ayahku itu sudah sarjana dan mempunyai pekerjaan tetap. Menurut perjanjian yang telah disepakati, aku bisa melanjutkan kuliah sambil menjalani kewajiban sebagai seorang istri. Aku menghargai keputusan ayah dan menuruti kehendaknya. Aku tahu orang tua selalu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya.
Seluruh keluarga sepakat dan telah menentukan tanggal pernikahan. Namun sialnya, kakek adalah satu-satunya orang yang tidak setuju. Kakek menjodohkanku dengan orang lain saat aku tengah terikat pertunangan. Semua jadi kacau. Pernikahan digagalkan dari pihak calon suamiku. Aku terpaksa diam dengan segala perasaan getir yang menjalari seluruh tubuhku. Menerima kenyataan pahit bahwa aku tak lebih dari sebongkah patung. Bukan pahatan seniman Bali yang dilelang dan diagungkan, melainkan patung murahan yang dilirik saja tak pantas. Aku merasa tak punya kemampuan untuk menegaskan kebebasan eksistensial yang melekat dalam diriku.
Ketika tunangan keduaku telah menikah dengan orang lain, akhirnya seluruh keluargaku tahu kalau lelaki pilihan kakek sama sekali tak bisa mengaji, tak bisa membaca dan tak bisa bla bla bla yang lainnya. Bukankah semua perempuan menginginkan pemimpin yang baik? Yang bisa menuntun sang istri ke jalan Tuhan. Aku tak mau bukan karena aku tak bisa menerima kekurangan-kekurangan pada lelaki itu yang juga sama-sama ciptaan Tuhan, tapi apa yang bisa diharapkan dari lelaki yang mengaji saja tidak bisa?
Kalau aku mau, aku bisa memuntahkan segala ejektif yang mengandung sindrom klausafobik untuk lelaki itu. Tapi itu tidak kulakukan. Aku kasihan kepada kakek dan harga diri lelaki pilihannya. Maka aku meminta agar pertunangan ketigaku segera digagalkan. Bersama pasrah, aku hanya berharap Tuhan segera memberikan secangkir kopi nikmat untukku,” aku menceritakan kisahku yang panjang kali lebar tanpa peduli pada burung-bugung yang tengah sibuk mematuk-matuk padi yang kujaga. Ini adalah kecolongan yang dibiarkan.
“Minumlah kopi ini dulu! Lalu kau bisa melanjutkan ceritamu,” Hasan menyodorkan kopi. Aku meminumnya seteguk. Tinggal satu lagi kekuatanku untuk menceritakan semuanya. Habis itu aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi.
“Tapi bagaimana cara melanjutkan ceritaku?”
Dia tersenyum. Lalu tertawa sambil menepuk pundakku beberapa kali.
“Apakah kau mau minum kopi ini lagi?” dia balik bertanya sesuatu yang tidak bekaitan dengan pertanyaanku. Dia memang aneh.
“Tidak, tidak!” aku menggeleng kenes.
“Bukankah bercerita itu lebih gampang dari pada menembel ban yang kempos?”
Ah, Hasan! Mana mungkin dia membandingkan dua hal yang bedanya jauh bermil-mil. Ia terus memaksaku bercerita. Dan aku tahu dia tidak akan pergi sebelum ceritaku benar-benar telah usai. Aku menyukai caranya memaksa dengan gayanya yang melemahkan.
“Dua tahun kemudian, saat umurku telah genap dua puluh tahu, Alim datang kepadaku sebagai sebuah cahaya yang menebariku di tengah kehampaan. Ia menunjukkan jari kelingkingnya dan memberikan janji yang tak terhitung jumlahnya. Tentang keindahan-keindahan di masa kini dan yang akan datang. Katanya kami akan membangun rumah sederhana dan menanam bunga cempaka, melati, dan kenanga di pekarangannya. Hidup damai bersama empat orang anak yang ia harapkannya keluar dari rahimku. Katanya anak-anakku akan lucu-lucu. Salah-satunya ada yang gendut dan pipinya seperti kue bakpau.
Sesedehana itulah permusuhan kami berubah menjadi cinta yang luar bisa. Ia mengumpamakan dirinya sebagai sebongkah perahu yang akan menyelamatkan hidupku dan anak-anak kami, kelak. Hingga ia menjadi harapan satu-satunya dalam hidupku. Dan aku telah sempurna menggantungkan rindu di unjung kailnya. Mengunci hati dan menyerahkan segenap kepercayaanku kepadanya,” aku berhenti. Suaraku tertegun-tegun. Napasku naik-turun.
“Lalu bagaimana mungkin Alim meninggalkanmu?”
“Bukan. Bukan Alim yang menyakitiku. Dia baik. Tapi aku yang meninggalkannya.”
“Bagaimana mungkin?” ia memperjelas pertanyaannya.
“Tentu saja aku tak mungkin memilih hidup bersamanya yang menjajikan pernikahan kepadaku sementara ia tengah terikat pertunangan dengan perempuan lain. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan menjadi parasit dalam hubungan yang jelas-jelas masih dipertahankan?
Kapan hari, saat aku ke kampus untuk sebuah acara pelatihan kepempinan yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa, seorang perempuan mengenakan jilbab merah jambu memandangiku dengan penuh kebencian. Perempuan itu lebih pendek dariku yang berukuran 158 cm. Kulitnya bercahaya. Berbeda dengan kulitku yang berwarna gelap. Sepasang matanya teduh tapi geram. Sedang kedua bibirnya seperti dipolesi madu. Ciri-ciri perempuan itu persis seperti yang diharapkan Alim sejak kecil. Tepat ketika Alim dan aku beradu mulut untuk sebuah perkelahian panjang. Katanya tak mungkin ada orang yang suka pada perempuan sejelek aku. Ia berharap jodohnya adalah perempuan cantik yang berkpribadian lembut. Entah mengapa, di usia kami yang sudah dewasa, tiba-tiba saja Alim memilihku dan meyakinkanku dengan perkataan-perkataan yang sama sekali tak membuatku curiga dan ragu.
Pertama, perempuan itu hanya memandangiku saja. Tapi selanjutnya ia mengenalakan diri. Katanya namanya Dewi. Ia mulai berceloteh panjang lebar dengan nada dan bahasa yang tak sewajarnya. Sampai tibalah pada puncak keberangannya dengan mengataiku sebagai perempuan kurang ajar, perebut tunangan orang, dan ini-itu yang lainnya. Nah! Kau tak mungkin bisa membayangkan bagaimana remuknya perasaanku saat tahu kalau perempuan itu adalah tunangan Alim.
Bagus jika cuma satu, bagaimana kalau perempuan-perempuan gelapnya yang lain mendatangiku dan mengataiku dengan ejekan yang serupa? Aku bangkit dan berujar selamat kepada Dewi. Aku memilih untuk tidak sekedar menjadi materi yang kehilangan harga diri.
Akhirnya dengan segala perasaan sakit dan mensyukuri kepedihan, aku memilih untuk meninggalkannya. Aku pergi dengan membawa teguh setiaku. Membawa kerinduan yang tulus untuknya. Kerinduan dalam perih yang menyesaki pori-poriku. Sakit yang mulai kuhitung inci per incinya dan kunikmati seperti mengunyah martabak panas di malam yang dingin.
Kerinduan ini akan kucumbui sendirian, akan kupeluk dengan sepi sendirian, akan kurayu-rayu sendirian, dan akan kuramu menjadi kopi meski hanya sebatas ilusi. Tanpa perlu ia tahu bahwa aku akan tetap berdiri dengan kopiku yang melambangkan kerinduan dan keteguhan hati,” dadaku sesak menahan napas yang tertahan-tahan. Seketika mulutku tak dapat kubuka lagi.
Hasan melompat ke arah rawa sambil berjalan tersaruk-satuk dalam lumpur. Dia berhasil menangkap seekor kodok yang berikannya kepadaku seraya berkata:
“Lupakan cerita yang gagal! Menikahlah saja denganku.”
Praaaaaaakkkkk! Kroweeeeeeeeeekkkkkk…!!!
Dangau yang kami tempati roboh diterpa angin dan tak kuat lagi menampung dua pasang pantat. Kami berdua jatuh terjerembab ke dalam lumpur. Tawa Hasan pecah dan berhamburan ke sela-sela padi. Sementara aku masih kebingungan mengartikan bahasanya. Apakah kalimat ajakannya hanya berarti lelucon dan sebuah godaan ataukah ia adalah jawaban Tuhan atas doaku semalam?
Gubuk Cerita, 16 Pebruari 2011
*Buat nyamuk-nyamuk seksi penggemar kopi yang tinggal di Gubuk Cerita:
Ae, Ha-Lu, Fira, Habeb, Ana, dan Rara. Corn sayang kalian.
Pernahkan engkau merasakan kehampaan seraya berkata bahwa engkau tak lebih dari sebongkah manusia yang tersisih dan tersendiri? Pernahkah engkau merasakan rindu setengah mati pada sebuah suara yang tiba-tiba lenyap lantaran engkau sendiri yang menepisnya? Perasaan yang membuatmu terasing dalam menjalani kehidupan yang panjang ini. Perasaan ingin meliarkan hatimu untuk mengembara dan menemukan separuh lainnya yang searah.
Perasaan itulah yang kurasaan saat aku mencoba mengasingkan diri setiap sore di sebuah dangau tua yang hampir roboh. Menarik tali panjang dari ujung yang membuatnya bergerak ke seluruh penjuru arah. Empat tali rafia panjang yang pada setiap jengkalnya dipasangi sampah plastik dan bekas kaleng-kaleng susu untuk mengusir para burung pencuri padi. Bukan mencuri, lebih tepatnya mencari nafkah untuk sanak famili mereka yang tengah menunggu di sarangnya. Aku ingin membuktikan bahwa aku bebas, aku merdeka, persis seperti burung-burung itu yang dapat mengepakkan sayap mereka dan melahirkan keindahan senja yang luar biasa.
Awan berarak melintasi sawah ke sawah yang tengah membentangkan warna hijau dan sedikit warna emas. Sampai akhirnya awan-awan itu mengantarkan sepasang bola mataku pada sosok lelaki yang tengah duduk di atas pematang yang menjang ke arah timur. Pematang yang letaknya berbatas sepetak sawah dari dangau tempatku menyepi.
Lelaki tinggi tegap yang tengah mengenakan kaos partai lusuh berwarna hijau itu bangkit dan melangkah menuju ke arahku. Badannya tampak disesaki daging. Wajahnya bulat lebar dengan dagu sedikit terbelah di bagian tengahnya. Ditambah jenggot tipis yang tampak rapi menghiasi dagunya. Bibirnya sama sekali tidak hitam, kelihatan sekali kalau ia tak pernah bersentuhan dengan rokok.
Ia semakin mendekat menghunjamkan pandang ke arahku yang tergugu. Ia berjalan ringan sambil menenteng botol air kemasan berukuran 600 ml berisi kopi. Bagian bawah botonya tampak berkerut dan menyempit. Mungkin kopi itu dituangkan ketika masih panas.
Lelaki itu semakin mendekat. Mencipta suara jeritan bambu beradu ketika pantatnya ia letakkan begitu saja di sampingku. Ia tampak tenang membuang pandang jauh ke arah barat sana. Persis dengan adegan saat kami kecil dulu.
Rentang waktu yang panjang, yaitu waktu yang sejenak untuk kami berpisah dan menyusuri jalan masing-masing, tak membuatnya mengalami banyak perubahan. Ia tetap menjadi dirinya sendiri; Hasan yang susah berbicara dengan orang-orang, terutama perempuan. Bagiku ia adalah teman kecil yang super aneh. Ia selalu merasa akan mengalami kejadian-kejadian aneh yang luar biasa atau menciptakan suatu keajaiban yang mustahil, seperti membangkitkan kembali menara Sauron dalam film The Lord of The Rings, merasa mampu berjalan melampaui suatu ruang panjang dalam waktu yang relatif singkat, bahkan pernah ia berkeinginan untuk berubah wujud menjadi seekor kodok yang dapat memikul bawang di pundaknya. Ia terkadang menjadi pembual yang membuatku geli setengah mati.
Hasan berantonim Alim. Alim adalah ‘musuh’ kecilku. Ia tak pernah suka pada apa yang melekat dalam diriku. Katanya aku ini bukan perempuan, melainkan manusia jadi-jadian yang lebih mengerikan dari pada bencong. Alasannya, aku tidak memiliki tubuh seksi seperti teman-teman perempuan kami yang lain. Payudaraku kecil dan berada di bawah standart rata-rata anak seusiaku. Bahkan saat aku ikut bersepeda mendaki gunung dan memanjat pohon bersama teman-teman lelakiku, dia malah mengolok-olokku dan mengataiku sebagai perempuan setengah gila.
Saat Alim mulai mengusiliku, diam-diam Hasan datang sebagai seorang pahlawan. Ia melawan tidak dengan kata-kata atau adu otot, tetapi dengan sandi tubuh. Alim akan sangat ketakutan bila Hasan menatapnya dengan berang. Entah mengapa, aku juga tidak mengerti. Yang jelas Hasan adalah sosok kawan yang amat disegani. Meski terkadang ia juga menjadi teman yang dapat mengudang tawa. Beginilah kira-kira prinsipnya: “Kalau bisa, saya ingin membuat hidup ini penuh dengan tawa, atau tangis haru. Tak boleh ada kepedihan secuil pun di tempat ini.”
Hasan dan Alim seperti magnet dari kutub yang berlawanan. Meski begitu, ada kesamaan di antara aku, Hasan, dan Alim yang membuat kami tetap bersahabat dalam segala ketidakmungkinan yang ada. Dari kecil kami bertiga sama-sama suka kopi. Kata Alim kopi itu bikin kangen. Bagi Hasan kopi bisa buat orang jadi segar, sabar, dan tentram. Menurutku kopi adalah lambang kerinduan dan keteguhan hati. Karena aku sadar, sesempurna apa pun kopi itu dibuat, ia tetap mempunyai sisi pahit yang tak bisa disembunyikan. Begitu pun dengan ridu menyakitkan yang membutuhkan ketegaran sebagai bentengnya.
Kopi membuat khayalku terdampar lagi ke masa kecil. Aku sampai lupa kalau Hasan kini tengah berada di sampingku. Cukup lama aku bernostalgia dengan anganku. Memilih sepi sebagai juru kunci yang mengantarkanku pada kisah aroma kopi persahabatan. Kupandangi Hasan. Tak ada tanda-tanda ia akan membuka dialog. Hanya napasnya yang menjadi latar cerita kami sore ini.
“Hmmm… Sudah menikah, Lus?” akhirnya ia berujar pelan. Namun pertanyaannya kali ini telah membuyarkan perbenadaharaan kataku. Seperti ada biji kedongdong di tenggorokanku. Di usiaku yang hanya kurang satu tahun untuk genap berkepala tiga, aku benar-benar bingung mencari alasan. Menikah adalah kosa-kata yang paling aku segani. Dan pertanyaan Hasan serupa suara tawon yang terus berputar-putar di dekat daun telingaku.
Aku merasa menjadi perempuan tersisih dan terasing di kampungku sendiri. Merasakan kehampaan berada di antara suara-suara yang sejatinya sungguh bising. Aku merasa menjadi sekeping besi yang meratapi kesendirian sepanjang waktu. Mencecapi setiap rasa pahit yang terkadang membuatku ingin amnesi untuk selamanya.
Hening. Suara batuk-batuk. Suara kaleng susu memecah sunyi.
“Kopi ini manis ya… tapi tetap saja pahit,” kataku sambil menunjuk kopi milik Hasan. Ada cairan hangat yang tak bisa kutahan. Tiba-tiba pipiku menjadi lembab begitu saja.
“Aku kangen kopimu. Katanya kopimu itu lambang keteguhan hati. Lambangmu, Lusi…” Hasan menatap kedua mataku. Ada semangat di sela kata-katanya.
“Eh, ya… menikah. Bukan tidak mau tapi aku sudah gagal empat kali,” jawabku klise.
“Coba lihat ke bawah! Itu… ada kodok melompat di pinggiran parit. Kodok itu temanku. Dia pasti bercerita sesuatu kepadaku,” penyakitnya kambuh. Ia tidak memintaku bercerita menggunakan bahasa langsung, tapi dengan sindiran yang menarik. Itulah sebabnya aku begitu merasa nyaman berada di dekatnya. Tanpa diminta pun aku akan bercerita kepadanya.
“Empat kali gaga. Sakit, San! Pertama, saat aku duduk di bangku MTs, ada pemuda dari kampung Pangilen melamarku. Aku memang menyukainya, tetapi tidak mengira kalau dia juga memiliki rasa yang sama. Sayang… keluargaku tidak setuju. Saudara tertua ibu melarang keras untuk menerimanya. Katanya paman teringat sumpah lama para leluhur dari keluarga pemuda itu yang tak kutahu jalan ceritanya. Ah! Aku memang paling benci kalau nama leluhur dibangkitkan kembali untuk dijadikan alasan.
Yang kedua, aku sudah berada di tingkat SMA kelas akhir. Ayah menjodohkanku dengan anak temannya. Pemuda itu baik menurut penilaian dangkalku. Dari segi fisik tak ada yang disayangkan. Pemuda pilihan ayahku itu sudah sarjana dan mempunyai pekerjaan tetap. Menurut perjanjian yang telah disepakati, aku bisa melanjutkan kuliah sambil menjalani kewajiban sebagai seorang istri. Aku menghargai keputusan ayah dan menuruti kehendaknya. Aku tahu orang tua selalu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya.
Seluruh keluarga sepakat dan telah menentukan tanggal pernikahan. Namun sialnya, kakek adalah satu-satunya orang yang tidak setuju. Kakek menjodohkanku dengan orang lain saat aku tengah terikat pertunangan. Semua jadi kacau. Pernikahan digagalkan dari pihak calon suamiku. Aku terpaksa diam dengan segala perasaan getir yang menjalari seluruh tubuhku. Menerima kenyataan pahit bahwa aku tak lebih dari sebongkah patung. Bukan pahatan seniman Bali yang dilelang dan diagungkan, melainkan patung murahan yang dilirik saja tak pantas. Aku merasa tak punya kemampuan untuk menegaskan kebebasan eksistensial yang melekat dalam diriku.
Ketika tunangan keduaku telah menikah dengan orang lain, akhirnya seluruh keluargaku tahu kalau lelaki pilihan kakek sama sekali tak bisa mengaji, tak bisa membaca dan tak bisa bla bla bla yang lainnya. Bukankah semua perempuan menginginkan pemimpin yang baik? Yang bisa menuntun sang istri ke jalan Tuhan. Aku tak mau bukan karena aku tak bisa menerima kekurangan-kekurangan pada lelaki itu yang juga sama-sama ciptaan Tuhan, tapi apa yang bisa diharapkan dari lelaki yang mengaji saja tidak bisa?
Kalau aku mau, aku bisa memuntahkan segala ejektif yang mengandung sindrom klausafobik untuk lelaki itu. Tapi itu tidak kulakukan. Aku kasihan kepada kakek dan harga diri lelaki pilihannya. Maka aku meminta agar pertunangan ketigaku segera digagalkan. Bersama pasrah, aku hanya berharap Tuhan segera memberikan secangkir kopi nikmat untukku,” aku menceritakan kisahku yang panjang kali lebar tanpa peduli pada burung-bugung yang tengah sibuk mematuk-matuk padi yang kujaga. Ini adalah kecolongan yang dibiarkan.
“Minumlah kopi ini dulu! Lalu kau bisa melanjutkan ceritamu,” Hasan menyodorkan kopi. Aku meminumnya seteguk. Tinggal satu lagi kekuatanku untuk menceritakan semuanya. Habis itu aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi.
“Tapi bagaimana cara melanjutkan ceritaku?”
Dia tersenyum. Lalu tertawa sambil menepuk pundakku beberapa kali.
“Apakah kau mau minum kopi ini lagi?” dia balik bertanya sesuatu yang tidak bekaitan dengan pertanyaanku. Dia memang aneh.
“Tidak, tidak!” aku menggeleng kenes.
“Bukankah bercerita itu lebih gampang dari pada menembel ban yang kempos?”
Ah, Hasan! Mana mungkin dia membandingkan dua hal yang bedanya jauh bermil-mil. Ia terus memaksaku bercerita. Dan aku tahu dia tidak akan pergi sebelum ceritaku benar-benar telah usai. Aku menyukai caranya memaksa dengan gayanya yang melemahkan.
“Dua tahun kemudian, saat umurku telah genap dua puluh tahu, Alim datang kepadaku sebagai sebuah cahaya yang menebariku di tengah kehampaan. Ia menunjukkan jari kelingkingnya dan memberikan janji yang tak terhitung jumlahnya. Tentang keindahan-keindahan di masa kini dan yang akan datang. Katanya kami akan membangun rumah sederhana dan menanam bunga cempaka, melati, dan kenanga di pekarangannya. Hidup damai bersama empat orang anak yang ia harapkannya keluar dari rahimku. Katanya anak-anakku akan lucu-lucu. Salah-satunya ada yang gendut dan pipinya seperti kue bakpau.
Sesedehana itulah permusuhan kami berubah menjadi cinta yang luar bisa. Ia mengumpamakan dirinya sebagai sebongkah perahu yang akan menyelamatkan hidupku dan anak-anak kami, kelak. Hingga ia menjadi harapan satu-satunya dalam hidupku. Dan aku telah sempurna menggantungkan rindu di unjung kailnya. Mengunci hati dan menyerahkan segenap kepercayaanku kepadanya,” aku berhenti. Suaraku tertegun-tegun. Napasku naik-turun.
“Lalu bagaimana mungkin Alim meninggalkanmu?”
“Bukan. Bukan Alim yang menyakitiku. Dia baik. Tapi aku yang meninggalkannya.”
“Bagaimana mungkin?” ia memperjelas pertanyaannya.
“Tentu saja aku tak mungkin memilih hidup bersamanya yang menjajikan pernikahan kepadaku sementara ia tengah terikat pertunangan dengan perempuan lain. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan menjadi parasit dalam hubungan yang jelas-jelas masih dipertahankan?
Kapan hari, saat aku ke kampus untuk sebuah acara pelatihan kepempinan yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa, seorang perempuan mengenakan jilbab merah jambu memandangiku dengan penuh kebencian. Perempuan itu lebih pendek dariku yang berukuran 158 cm. Kulitnya bercahaya. Berbeda dengan kulitku yang berwarna gelap. Sepasang matanya teduh tapi geram. Sedang kedua bibirnya seperti dipolesi madu. Ciri-ciri perempuan itu persis seperti yang diharapkan Alim sejak kecil. Tepat ketika Alim dan aku beradu mulut untuk sebuah perkelahian panjang. Katanya tak mungkin ada orang yang suka pada perempuan sejelek aku. Ia berharap jodohnya adalah perempuan cantik yang berkpribadian lembut. Entah mengapa, di usia kami yang sudah dewasa, tiba-tiba saja Alim memilihku dan meyakinkanku dengan perkataan-perkataan yang sama sekali tak membuatku curiga dan ragu.
Pertama, perempuan itu hanya memandangiku saja. Tapi selanjutnya ia mengenalakan diri. Katanya namanya Dewi. Ia mulai berceloteh panjang lebar dengan nada dan bahasa yang tak sewajarnya. Sampai tibalah pada puncak keberangannya dengan mengataiku sebagai perempuan kurang ajar, perebut tunangan orang, dan ini-itu yang lainnya. Nah! Kau tak mungkin bisa membayangkan bagaimana remuknya perasaanku saat tahu kalau perempuan itu adalah tunangan Alim.
Bagus jika cuma satu, bagaimana kalau perempuan-perempuan gelapnya yang lain mendatangiku dan mengataiku dengan ejekan yang serupa? Aku bangkit dan berujar selamat kepada Dewi. Aku memilih untuk tidak sekedar menjadi materi yang kehilangan harga diri.
Akhirnya dengan segala perasaan sakit dan mensyukuri kepedihan, aku memilih untuk meninggalkannya. Aku pergi dengan membawa teguh setiaku. Membawa kerinduan yang tulus untuknya. Kerinduan dalam perih yang menyesaki pori-poriku. Sakit yang mulai kuhitung inci per incinya dan kunikmati seperti mengunyah martabak panas di malam yang dingin.
Kerinduan ini akan kucumbui sendirian, akan kupeluk dengan sepi sendirian, akan kurayu-rayu sendirian, dan akan kuramu menjadi kopi meski hanya sebatas ilusi. Tanpa perlu ia tahu bahwa aku akan tetap berdiri dengan kopiku yang melambangkan kerinduan dan keteguhan hati,” dadaku sesak menahan napas yang tertahan-tahan. Seketika mulutku tak dapat kubuka lagi.
Hasan melompat ke arah rawa sambil berjalan tersaruk-satuk dalam lumpur. Dia berhasil menangkap seekor kodok yang berikannya kepadaku seraya berkata:
“Lupakan cerita yang gagal! Menikahlah saja denganku.”
Praaaaaaakkkkk! Kroweeeeeeeeeekkkkkk…!!!
Dangau yang kami tempati roboh diterpa angin dan tak kuat lagi menampung dua pasang pantat. Kami berdua jatuh terjerembab ke dalam lumpur. Tawa Hasan pecah dan berhamburan ke sela-sela padi. Sementara aku masih kebingungan mengartikan bahasanya. Apakah kalimat ajakannya hanya berarti lelucon dan sebuah godaan ataukah ia adalah jawaban Tuhan atas doaku semalam?
Gubuk Cerita, 16 Pebruari 2011
*Buat nyamuk-nyamuk seksi penggemar kopi yang tinggal di Gubuk Cerita:
Ae, Ha-Lu, Fira, Habeb, Ana, dan Rara. Corn sayang kalian.
12 Februari 2011
Menumpas Kepedihan
;Kepada Jangkrik, Pastel dan Bibbhi'
Ummul Corn ingin berlayar dalam semedi. Membutakan segala hal tentang jelma kenangan. Keindahan dalam calung bambu yang muara pada silap-kelih ilusi.
Ummul Corn ingin semedi dalam kehampaan. Memancang risalah untuk kalian yang kini menepi adalah bagian dari kerinduan.
Wahai perindu rawan, kita semua tetaplah anak sungai bagi kata-kata. Puisi bagi api persahabatan. Suara pastel bagi jangkrik kegelisahan.
Maka tumpas leher cinta pada yang fana!
Karena kita hanyalah materi untuk yang baka.
Tentu tak ada yang bersedia jadi nelayan dalam laut kesedihan.
Meski rasa selalu kekal sebagai jiwa kesetiaan. Lebih baik lupakan cerita yang gagal!
Lalu yakinkan bahwa rindu dan maut akan selalu misteri dalam kehidupan.
Gubuk Cerita, 11022011
Ummul Corn ingin berlayar dalam semedi. Membutakan segala hal tentang jelma kenangan. Keindahan dalam calung bambu yang muara pada silap-kelih ilusi.
Ummul Corn ingin semedi dalam kehampaan. Memancang risalah untuk kalian yang kini menepi adalah bagian dari kerinduan.
Wahai perindu rawan, kita semua tetaplah anak sungai bagi kata-kata. Puisi bagi api persahabatan. Suara pastel bagi jangkrik kegelisahan.
Maka tumpas leher cinta pada yang fana!
Karena kita hanyalah materi untuk yang baka.
Tentu tak ada yang bersedia jadi nelayan dalam laut kesedihan.
Meski rasa selalu kekal sebagai jiwa kesetiaan. Lebih baik lupakan cerita yang gagal!
Lalu yakinkan bahwa rindu dan maut akan selalu misteri dalam kehidupan.
Gubuk Cerita, 11022011
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Selama menikah, kejutan dari suami hampir bisa dihitung jari. Bagi saya yang memang agak sedikit cuek dengan hadiah, itu adalah hal wajar. N...
-
Perjalanan umroh kali ini begitu mengejutkan. Semua bermula dari gurauan bersama sahabat saya, Devi. Ia dan suaminya berencana umroh bersama...
-
Dalam hidup kita membangun sebuah cerita. Ketika cerita itu berlalu ia berubah nama menjadi kenangan. Masing-masing kita memilikinya. Namun...