Cobalah engkau ingat-ingat lagi, kenangan manakah yang paling membuatmu ingin untuk memeluk saudaramu? Seperti halnya aku yang kini sesenggukan melancarkan aliran air mata yang telah lama kunonaktifkan. Ingin rasanya membenamkan kepalaku di dada saudara perempuanku sambil berucap bahwa rasa sayangku kepadanya begitu dalam dan tak berujung. Lalu kukatupkan kedua telapak tanganku dan memposisikannya di depan dadaku sambil memohon maaf dan mengungkapkan penyesalan-penyesalan yang telah kuperbuat di masa lalu.
Semua berawal dari tumpukan buku milik kakakku di sampingku ini. Secara tak sengaja kutemukan saat tiba-tiba aku ingin sekali membongkar buku-buku lamaku yang tertata di dalam kardus. Kutemukan catatan panjang di kertas-kertas yang lusuh, beberapa buku tulis kumpulan cerpen, sebuah standbook berisi novel, dan foto-foto kami di masa kecil yang pinggirannya terkena ‘cacar foto’ dan semakin menjalar ke bagian tengah.
Kubersihkan debu di lekukan buku-buku itu dengan meniup dan mengibas-ngibaskannya perlahan-lahan. Setelah dirasa cukup, aku mulai membacanya.
Tak sampai menamatakan satu catatan berjudul “Adikku” saja, pandanganku menjadi kabur. Mataku terasa panas dipadu dengan denyutan kencang di titik persendian hatiku. Tiba-tiba pipiku menjadi lembab begitu saja. Dan ingatanku berlari mundur, jauh ke belakang. Menampilkan gambar masa lalu saat kakakku masih ada di sini, Pondok Pesantren Annuqayah daerah Karang Jati Guluk-Guluk, tempatku dididik untuk mempelajari arti diri dan kehidupan.
Sejak kecil, aku dan kakakku tak pernah akur. Kami selalu beradu mulut. Mempersoalkan hal kecil yang dibesar-besarkan seperti, rebutan buah tangan ibu dari pasar, memperkarakan baju lebaran tak sama harga, atau sekedar rebutan ibu dan ayah yang jelas-jelas milik kami berdua.
Aku memang benci ketika kakak menceritakan masa bayi kami bebeda. Kakak dilahirkan di rumah dan menikmati ASI dengan puas, sedang aku dilahikan di rumah sakit dan dipisahkan dari ibu. Katanya, 2 bulan lamanya aku meminum susu instan produk pabrik. Sampai ibu kembali pulih dan bisa pulang.
Usia kami yang hanya terpaut 4 tahun membuat kami tumbuh seperti sejajar. Selisih itu tak berpengaruh untuk membedakan usia kami saat aku tumbuh lebih besar dan menyamai tubuh kakakku (yang kini lebih kecil dariku. Hehe…). Sejak kecil, aku selalu merasa dewasa dan tak butuh seorang kakak. Sedang kakak amat benci pada sikapku yang demikian sombong. Katanya, dia memang tak ingin punya adik karena kasih sayang ibu akan terbagi.
Tanpa kakak mengutarakan kekesalannya mempunyai adik diriku dan tentang kasih sayang ibu, kurasa ibu tetap lebih menyayanginya. Buktinya, dari keseharian kami yang hanya dua besaudara, aku mencoba membanding-bandingkan perlakuan ibu pada kami. Dan hasil dari risetku, ibu memang mengistimewakan kakak dari pada diriku. Kalau ada perbincangan keluarga, aku tak pernah dianggap ada. Bahkan suatu ketika, saat diam-diam aku bergabung dalam suatu perbincangan dan mencoba menyampaikan pendapat, ibu malah tersenyum dan berujar bahwa aku masih terlalu kecil untuk mengerti masalah orang dewasa. Selalu saja begitu. Ah, barang kali itu hanya perasaanku yang sedang dalam kondisi cidera. Semua memang tampak konyol bila dikenang. Tapi aku cukup senang.
Perdebatanku dengan kakak tak kunjung menemukan ujung pangkal. Selalu ada masalah di antara kami–––yang meski sudah selesai diperkarakan, tapi masih saja diungkit-ungkit. Sampai kami beranjak dewasa dan kakak dimondokkan di Annuqayah. Barulah sejak saat itu aku merasakan kedamaian di rumahku sendiri.
Selang berapa tahun, aku pun harus mondok. Untunglah ibu dan ayah memilihkan pesantren yang berbeda, al-Amien II Muallimat Prenduan. Tetapi, suasana di sana tidak seperti yang kuharapkan. Aku sungguh tidak kerasan. Mula-mula aku hanya berkeinginan untuk kabur dengan terus-terusan memandangi bus dan taksi yang berlalu-lalang dari dalam ruangan daru al-difah (tempat santri dikunjungi keluarga. Lokasinya di pinggir jalan). Sayangnya ada pak satpam yang berkumis tebal dan berbadan besar yang menjaga pintu ruangan tersebut. Rencana itu menjadi gagal. Akhirnya, aku mengutarakan kondisiku yang tidak kerasan kepada ibu. Aku meminta untuk pindah mondok dan otomatis pindah sekolah. Mengingat ini, aku jadi terkenang masa kecilku yang setiap tahun minta pindah sekolah. Mungkin penyakit kecilku kambuh lagi.
Ayah tidak mengizinkanku untuk pindah. Tapi ibu kali itu membelaku. Alhasil aku dipindahkan ke pesantren Annuqayah daerah Karang Jati. Dimondokkan satu pesantren dengan kakakku. Satu kamar, satu lemari, dan satu dompet.
Ibu mengira, dengan menyatukan kami kembali bisa membuat kami menjadi akur. Tetapi ironis dari harapan ibu! Kami semakin menjadi-jadi. Semakin banyak permasalahn yang muncul. Dari masalah uang sampai urusan intelektualitas. Uang jajan kakak lebih banyak, karena ibu mempertimbangkan kelas kakak yang lebih tinggi. Kata ibu, semakin tinggi kelas seseorang, maka semakin banyak pula kebutuhannya. Aku menerimanya dengan lapang, tapi yang membuatku kesal kembili, uang sakuku ke sekolah turut diatur oleh kakak.
Kuakui, ibu pasti lebih membela kakak dalam persoalan apa pun. Secara, IQ kakak lebih tinggi dari pada diriku. Kakak selalu berprestasi setiap tahun. Mengukir senyum ayah dan ibu melalui rangkin kelas dan mejuarai banyak lomba. Atau dengan bakatnya yang begitu produktif dalam menelurkan karya fiksi. Meski karyanya tak tersalurkan dan hanya bisa dinikmati teman-teman sekamar. Banyak pujian teman-teman mengalir untuk kakak. Rasa iri itulah yang membuat semangatku semakin membuncah untuk bisa lebih dari kakak. Dan jujur, kakaklah sumber inspirasiku sekaligus orang yang membuatku bertahan dalam kondisi semangat. Sampai detik ini.
Dari pertengkaran kami yang rutin, teman-teman menjuluki kami kucing dan anjinag. Karena kami tak pernah akur dalam jangka waktu yang panjang. Mereka memang benar. Kami tak pernah saling bercerita tentang isi hati kami, tak pernah mendiskusikan masalah dan saling memberikan solusi, tak pernah berpelukan, atau bahkan mencium pipi kanan dan pipi kiri selayaknya saudara kandung pada umumnya.
Meski begitu, pernah suatu ketika kakak membuatku menangis haru. Inilah kenangan yang selalu membuatku ingin memeluk kakak dengan menangis sejadi-jadinya di dalam dekapannya. Kisah yang membuatku mengerti bahwa sejahat apa pun penilaian kita pada seorang saudara, ia tetaplah menjadi seseorang yang diam-diam amat menyayangi kita. Bahkan sampai kapan pun kasih sayangnya tak kan pernah kering untuk memberikan kesejukan pada kita.
Suatu siang di bulan April tahun 2007 lalu, cuaca serasa berbeda. Matahari begitu ganas membakar pori-poriku. Tetapi angin yang berhembus lembut memberikan kombinasi rasa panas-sejuk yang luar biasa. Mungkin pada waktu itu alam tengah memamerkan rasa natural yang begitu eksotis.
Sehabis jam pelajaran, aku berjalan gontai melewati gang sekolah menuju pondok. Sesampainya di kamar, aku mendamparkan diri pada karpet. Sementara itu, teman-teman sibuk merapikan seragam, ada yang bernyanyi, bercerita perihal kejadian di kelas masing-masing, dan ada yang menyiapkan peralatan untuk menanak nasi. Kakak belum pulang dari sekolah. Iseng-iseng kubuka lemari. Aha! Kutemukan sebuah kotak terbalut kertas kado berwarna hijau di sana. Dalam pikir, aku mencoba menerka-nerka; kado siapa gerangan? Kuambil dan kubolak-balik. Ada sebuah tulisan di ujung kiri kado itu: “Untuk Adikku”. Aku ragu untuk membukanya. Sungguh-sungguh ragu. Aku tidak yakin kado itu dari kakak untukku. Tak mungkin. Barangkali itu dari sahabat dekat kakak.
Rasa penasaranku semakin menguasai pikiranku. Memaksaku untuk membuka kado itu. Tetapi itu tidak kulakukan. Ingin rasanya aku bertanya pada teman-teman perihal dari dan untuk siapa kado itu. Tetapi lagi-lagi aku dikuasai rasa gengsi yang meredakan rasa penasaranku. Kubolak-balik saja kado tak beralamat itu. Kutemukan lagi tulisan kecil di pojok kiri pada sisi yang berbeda: “Selamat Ulang Tahun. 12 April 2007”.
Lalu aku ingat bahwa tanggal itu adalah tanggalku. Hari untuk mengenang saat pertama kali aku melihat dunia dan mengenalkan suaraku pada alam. Bulan yang membuatku bisa bergerak bebas dan leluasa serta menangis nyaring mengungguli suara burung-burung.
Tanpa pikir panjang lagi, langsung kubuka kotak itu. Kado yang berisi barang-barang ksukaanku: kaos panjang warna hijau lumut berkombinasi motif abri di bagian depannya, arloji kura-kura ninja bermotif timbul spiderman, kaos pendek warna hijau cerah bergambar jamur tersenyum di bagian pojok bawahnya, dan sepucuk surat. Beginilah isi suratnya: ¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬
12 April 2007
HAPPY BIRTH DAY BINTANG SENJAKU
Aleeq...
Semoga panjang umur, murah rizki, sehat dan selalu dalam lindungan-Nya. Amin.
Aleeq...
Maaf jika sampai detik ini aku belum bisa menjadi kakak yang baik buatmu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu: "TIDAK ADA SEORANG PUN DI DUNIA INI YANG TIDAK MENYAYANGI SAUDARA KANDUNGNYA SENDIRI. TIDAK ADA".
Aleeq...
Aku bangga memilikimu. Aku bangga pada semua yang ada pada dirimu. Semoga mimpi-mimpimu dipeluk oleh Tuhan.
Aleeq...
Ini adalah hari bahagiamu. Hari ini adalah milikmu. Jadi hari ini bahagiakanlah orang lain. Lebih-lebih orang yang ada di sekelilingmu. Karena kebahagiaan itu seperti sebuah kecupan. Kamu harus membaginya jika ingin menikmatinya.
Aleeq...
Kita seperti anjing dan kucing. Tak pernah akur dalam jangka yang lama, tapi kita sama-sama tahu bahwa sebenarnya kita saling menyayangi. Cuma, kita memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkannya. Aku akan menyayangimu dengan caramu sendiri.
Aleeq...
Hadiah ini bukan sepenuhnya bentuk kasih sayangku, ini hanya sebagian, karena kasih sayang itu tak dapat diukur dengan materi. Kamu tak perlu ragu untuk menerimanya, karena ini halal. Ini kudapat dari uang saku yang aku sisihkan hanya untuk menebus kesalahanku tahun lalu karena telah melupakan hari ultahmu. Maaf.
Aleeq...
I do love you.
Kakakmu
Nafisah
Sejak saat itu, aku benar-benar mengerti bahwa diam-diam kakak memberikan perhatian lebih kepadaku. Kakak begitu mengerti pada hal-hal yang kusuaki. Kakak paham pada perasaan sayangku kepadanya yang tak bisa disampaikan karena sifatku yang keras kepala dan rasa gengsiku yang terlalu jaim (jaga image). Aku mengerti bahwa kami saling menyayangi, namun kami mengungkapkannya dengan cara yang berbeda. Cara yang begitu konyol tetapi unik. Sejak saat itulah kami berusaha mengurangi pertengkaran kami. Mengubahnya menjadi pertengkaran yang menyenangkan. Pertengkaran untuk saling mengungkapkan rasa sayang.
Sampai akhirnya kakak lulus SMA dan berhenti mondok. Selang 3 tahun kakak menikah dengan pemuda yang masih satu desa dengan kami. Desa Tambuko. Pemuda dari kampung sebelah, kampung Jeruk Durga. Rofik namaya. Di hari pernikahannya aku benar-benar merasakan kebahagiaan yang sulit diartikan. Kebahagiaan bukan untuk diri sendiri, tetapi setulus matahari. Kebahagiaan bersaudara yang membuatku merasa memiliki kakak sepenuhnya. Perasaan itu berubah rindu yang begitu berat. Rindu pada kebersamaan dan pertengkaran kami. Rindu pada celoteh ibu yang berusaha mendamaikan kami.
Kini, kakak tak ada di sampingku lagi. Tetapi justru rinduku semakin menjadi. Rasa sayang tiba-tiba ingin sekali kuungkapkan dengan gerak pun kata-kata. Agar kakak tahu bahwa untuknya ingin kutaburkan cinta. Dan kepadanya ingin kucurahkan segalanya.
Maka inilah pesan diriku untukmu kawan: selagi kau masih bersama saudaramu, buatlah ia tersenyum dan jangan pernah ciderai hatinya. Karena apabila waktu telah memisahkanmu dengannya, maka kau hanya akan berteman dengan penyesalan, rasa bersalah, dan rindu yang tak tertahankan.
Di bawah pohon mimba halaman kampus INSTIKA
Guluk-Guluk, 11 April 2011
11 April 2011
03 Maret 2011
Air Mata Februari
Mata air air mata kita mengalir pada sungai Februari
Perasaan mendalam yang menuntut malam sebagai saksi
Menjadikan lokan-lokan tak berpenghuni. Sepi.
Oh, Februariku
Telah kucecapi pahit-getir kopi di setiap inci kerinduan
Sendirian
Menumpas perasaan yang menawarkan kesunyian
Kesenyapan
Mengelus ketakutan sebagai lambang perlawanan takdir
Gema nafasmu yang menyerupai takbir
Rapalkan mantra ketidaksiapan
Semakin menyakinkan bahwa kau sebongkah keputusasaan
Februariku,
Air mata kita tak pernah pengecut
Ia jelma untuk kita memilih: simpan atau buang
Tawaran ini egois bukan?
Bila tidak demikian hidup bagai gemawan
Arah mata angin tak membentangkan tujuan
Wahai engkau Februariku,
Bila cinta dan maut selalu misteri dalam kehidupan
Lalu mengapa di antara kita hanya ada air mata yang tumpah atas nama kesia-siaan?
Kumohon hentikan!
Berikan saja aku sebongkah kejujuran
Untuk mencumbui setiap helai kebohongan
Meski keduanya adalah satu kesatuan yang menjijikkan.
Mushalla Karang Jati, 27 Februari 2011
Perasaan mendalam yang menuntut malam sebagai saksi
Menjadikan lokan-lokan tak berpenghuni. Sepi.
Oh, Februariku
Telah kucecapi pahit-getir kopi di setiap inci kerinduan
Sendirian
Menumpas perasaan yang menawarkan kesunyian
Kesenyapan
Mengelus ketakutan sebagai lambang perlawanan takdir
Gema nafasmu yang menyerupai takbir
Rapalkan mantra ketidaksiapan
Semakin menyakinkan bahwa kau sebongkah keputusasaan
Februariku,
Air mata kita tak pernah pengecut
Ia jelma untuk kita memilih: simpan atau buang
Tawaran ini egois bukan?
Bila tidak demikian hidup bagai gemawan
Arah mata angin tak membentangkan tujuan
Wahai engkau Februariku,
Bila cinta dan maut selalu misteri dalam kehidupan
Lalu mengapa di antara kita hanya ada air mata yang tumpah atas nama kesia-siaan?
Kumohon hentikan!
Berikan saja aku sebongkah kejujuran
Untuk mencumbui setiap helai kebohongan
Meski keduanya adalah satu kesatuan yang menjijikkan.
Mushalla Karang Jati, 27 Februari 2011
21 Februari 2011
Kopi Lusi
Oleh; Ummul Corn*
Pernahkan engkau merasakan kehampaan seraya berkata bahwa engkau tak lebih dari sebongkah manusia yang tersisih dan tersendiri? Pernahkah engkau merasakan rindu setengah mati pada sebuah suara yang tiba-tiba lenyap lantaran engkau sendiri yang menepisnya? Perasaan yang membuatmu terasing dalam menjalani kehidupan yang panjang ini. Perasaan ingin meliarkan hatimu untuk mengembara dan menemukan separuh lainnya yang searah.
Perasaan itulah yang kurasaan saat aku mencoba mengasingkan diri setiap sore di sebuah dangau tua yang hampir roboh. Menarik tali panjang dari ujung yang membuatnya bergerak ke seluruh penjuru arah. Empat tali rafia panjang yang pada setiap jengkalnya dipasangi sampah plastik dan bekas kaleng-kaleng susu untuk mengusir para burung pencuri padi. Bukan mencuri, lebih tepatnya mencari nafkah untuk sanak famili mereka yang tengah menunggu di sarangnya. Aku ingin membuktikan bahwa aku bebas, aku merdeka, persis seperti burung-burung itu yang dapat mengepakkan sayap mereka dan melahirkan keindahan senja yang luar biasa.
Awan berarak melintasi sawah ke sawah yang tengah membentangkan warna hijau dan sedikit warna emas. Sampai akhirnya awan-awan itu mengantarkan sepasang bola mataku pada sosok lelaki yang tengah duduk di atas pematang yang menjang ke arah timur. Pematang yang letaknya berbatas sepetak sawah dari dangau tempatku menyepi.
Lelaki tinggi tegap yang tengah mengenakan kaos partai lusuh berwarna hijau itu bangkit dan melangkah menuju ke arahku. Badannya tampak disesaki daging. Wajahnya bulat lebar dengan dagu sedikit terbelah di bagian tengahnya. Ditambah jenggot tipis yang tampak rapi menghiasi dagunya. Bibirnya sama sekali tidak hitam, kelihatan sekali kalau ia tak pernah bersentuhan dengan rokok.
Ia semakin mendekat menghunjamkan pandang ke arahku yang tergugu. Ia berjalan ringan sambil menenteng botol air kemasan berukuran 600 ml berisi kopi. Bagian bawah botonya tampak berkerut dan menyempit. Mungkin kopi itu dituangkan ketika masih panas.
Lelaki itu semakin mendekat. Mencipta suara jeritan bambu beradu ketika pantatnya ia letakkan begitu saja di sampingku. Ia tampak tenang membuang pandang jauh ke arah barat sana. Persis dengan adegan saat kami kecil dulu.
Rentang waktu yang panjang, yaitu waktu yang sejenak untuk kami berpisah dan menyusuri jalan masing-masing, tak membuatnya mengalami banyak perubahan. Ia tetap menjadi dirinya sendiri; Hasan yang susah berbicara dengan orang-orang, terutama perempuan. Bagiku ia adalah teman kecil yang super aneh. Ia selalu merasa akan mengalami kejadian-kejadian aneh yang luar biasa atau menciptakan suatu keajaiban yang mustahil, seperti membangkitkan kembali menara Sauron dalam film The Lord of The Rings, merasa mampu berjalan melampaui suatu ruang panjang dalam waktu yang relatif singkat, bahkan pernah ia berkeinginan untuk berubah wujud menjadi seekor kodok yang dapat memikul bawang di pundaknya. Ia terkadang menjadi pembual yang membuatku geli setengah mati.
Hasan berantonim Alim. Alim adalah ‘musuh’ kecilku. Ia tak pernah suka pada apa yang melekat dalam diriku. Katanya aku ini bukan perempuan, melainkan manusia jadi-jadian yang lebih mengerikan dari pada bencong. Alasannya, aku tidak memiliki tubuh seksi seperti teman-teman perempuan kami yang lain. Payudaraku kecil dan berada di bawah standart rata-rata anak seusiaku. Bahkan saat aku ikut bersepeda mendaki gunung dan memanjat pohon bersama teman-teman lelakiku, dia malah mengolok-olokku dan mengataiku sebagai perempuan setengah gila.
Saat Alim mulai mengusiliku, diam-diam Hasan datang sebagai seorang pahlawan. Ia melawan tidak dengan kata-kata atau adu otot, tetapi dengan sandi tubuh. Alim akan sangat ketakutan bila Hasan menatapnya dengan berang. Entah mengapa, aku juga tidak mengerti. Yang jelas Hasan adalah sosok kawan yang amat disegani. Meski terkadang ia juga menjadi teman yang dapat mengudang tawa. Beginilah kira-kira prinsipnya: “Kalau bisa, saya ingin membuat hidup ini penuh dengan tawa, atau tangis haru. Tak boleh ada kepedihan secuil pun di tempat ini.”
Hasan dan Alim seperti magnet dari kutub yang berlawanan. Meski begitu, ada kesamaan di antara aku, Hasan, dan Alim yang membuat kami tetap bersahabat dalam segala ketidakmungkinan yang ada. Dari kecil kami bertiga sama-sama suka kopi. Kata Alim kopi itu bikin kangen. Bagi Hasan kopi bisa buat orang jadi segar, sabar, dan tentram. Menurutku kopi adalah lambang kerinduan dan keteguhan hati. Karena aku sadar, sesempurna apa pun kopi itu dibuat, ia tetap mempunyai sisi pahit yang tak bisa disembunyikan. Begitu pun dengan ridu menyakitkan yang membutuhkan ketegaran sebagai bentengnya.
Kopi membuat khayalku terdampar lagi ke masa kecil. Aku sampai lupa kalau Hasan kini tengah berada di sampingku. Cukup lama aku bernostalgia dengan anganku. Memilih sepi sebagai juru kunci yang mengantarkanku pada kisah aroma kopi persahabatan. Kupandangi Hasan. Tak ada tanda-tanda ia akan membuka dialog. Hanya napasnya yang menjadi latar cerita kami sore ini.
“Hmmm… Sudah menikah, Lus?” akhirnya ia berujar pelan. Namun pertanyaannya kali ini telah membuyarkan perbenadaharaan kataku. Seperti ada biji kedongdong di tenggorokanku. Di usiaku yang hanya kurang satu tahun untuk genap berkepala tiga, aku benar-benar bingung mencari alasan. Menikah adalah kosa-kata yang paling aku segani. Dan pertanyaan Hasan serupa suara tawon yang terus berputar-putar di dekat daun telingaku.
Aku merasa menjadi perempuan tersisih dan terasing di kampungku sendiri. Merasakan kehampaan berada di antara suara-suara yang sejatinya sungguh bising. Aku merasa menjadi sekeping besi yang meratapi kesendirian sepanjang waktu. Mencecapi setiap rasa pahit yang terkadang membuatku ingin amnesi untuk selamanya.
Hening. Suara batuk-batuk. Suara kaleng susu memecah sunyi.
“Kopi ini manis ya… tapi tetap saja pahit,” kataku sambil menunjuk kopi milik Hasan. Ada cairan hangat yang tak bisa kutahan. Tiba-tiba pipiku menjadi lembab begitu saja.
“Aku kangen kopimu. Katanya kopimu itu lambang keteguhan hati. Lambangmu, Lusi…” Hasan menatap kedua mataku. Ada semangat di sela kata-katanya.
“Eh, ya… menikah. Bukan tidak mau tapi aku sudah gagal empat kali,” jawabku klise.
“Coba lihat ke bawah! Itu… ada kodok melompat di pinggiran parit. Kodok itu temanku. Dia pasti bercerita sesuatu kepadaku,” penyakitnya kambuh. Ia tidak memintaku bercerita menggunakan bahasa langsung, tapi dengan sindiran yang menarik. Itulah sebabnya aku begitu merasa nyaman berada di dekatnya. Tanpa diminta pun aku akan bercerita kepadanya.
“Empat kali gaga. Sakit, San! Pertama, saat aku duduk di bangku MTs, ada pemuda dari kampung Pangilen melamarku. Aku memang menyukainya, tetapi tidak mengira kalau dia juga memiliki rasa yang sama. Sayang… keluargaku tidak setuju. Saudara tertua ibu melarang keras untuk menerimanya. Katanya paman teringat sumpah lama para leluhur dari keluarga pemuda itu yang tak kutahu jalan ceritanya. Ah! Aku memang paling benci kalau nama leluhur dibangkitkan kembali untuk dijadikan alasan.
Yang kedua, aku sudah berada di tingkat SMA kelas akhir. Ayah menjodohkanku dengan anak temannya. Pemuda itu baik menurut penilaian dangkalku. Dari segi fisik tak ada yang disayangkan. Pemuda pilihan ayahku itu sudah sarjana dan mempunyai pekerjaan tetap. Menurut perjanjian yang telah disepakati, aku bisa melanjutkan kuliah sambil menjalani kewajiban sebagai seorang istri. Aku menghargai keputusan ayah dan menuruti kehendaknya. Aku tahu orang tua selalu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya.
Seluruh keluarga sepakat dan telah menentukan tanggal pernikahan. Namun sialnya, kakek adalah satu-satunya orang yang tidak setuju. Kakek menjodohkanku dengan orang lain saat aku tengah terikat pertunangan. Semua jadi kacau. Pernikahan digagalkan dari pihak calon suamiku. Aku terpaksa diam dengan segala perasaan getir yang menjalari seluruh tubuhku. Menerima kenyataan pahit bahwa aku tak lebih dari sebongkah patung. Bukan pahatan seniman Bali yang dilelang dan diagungkan, melainkan patung murahan yang dilirik saja tak pantas. Aku merasa tak punya kemampuan untuk menegaskan kebebasan eksistensial yang melekat dalam diriku.
Ketika tunangan keduaku telah menikah dengan orang lain, akhirnya seluruh keluargaku tahu kalau lelaki pilihan kakek sama sekali tak bisa mengaji, tak bisa membaca dan tak bisa bla bla bla yang lainnya. Bukankah semua perempuan menginginkan pemimpin yang baik? Yang bisa menuntun sang istri ke jalan Tuhan. Aku tak mau bukan karena aku tak bisa menerima kekurangan-kekurangan pada lelaki itu yang juga sama-sama ciptaan Tuhan, tapi apa yang bisa diharapkan dari lelaki yang mengaji saja tidak bisa?
Kalau aku mau, aku bisa memuntahkan segala ejektif yang mengandung sindrom klausafobik untuk lelaki itu. Tapi itu tidak kulakukan. Aku kasihan kepada kakek dan harga diri lelaki pilihannya. Maka aku meminta agar pertunangan ketigaku segera digagalkan. Bersama pasrah, aku hanya berharap Tuhan segera memberikan secangkir kopi nikmat untukku,” aku menceritakan kisahku yang panjang kali lebar tanpa peduli pada burung-bugung yang tengah sibuk mematuk-matuk padi yang kujaga. Ini adalah kecolongan yang dibiarkan.
“Minumlah kopi ini dulu! Lalu kau bisa melanjutkan ceritamu,” Hasan menyodorkan kopi. Aku meminumnya seteguk. Tinggal satu lagi kekuatanku untuk menceritakan semuanya. Habis itu aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi.
“Tapi bagaimana cara melanjutkan ceritaku?”
Dia tersenyum. Lalu tertawa sambil menepuk pundakku beberapa kali.
“Apakah kau mau minum kopi ini lagi?” dia balik bertanya sesuatu yang tidak bekaitan dengan pertanyaanku. Dia memang aneh.
“Tidak, tidak!” aku menggeleng kenes.
“Bukankah bercerita itu lebih gampang dari pada menembel ban yang kempos?”
Ah, Hasan! Mana mungkin dia membandingkan dua hal yang bedanya jauh bermil-mil. Ia terus memaksaku bercerita. Dan aku tahu dia tidak akan pergi sebelum ceritaku benar-benar telah usai. Aku menyukai caranya memaksa dengan gayanya yang melemahkan.
“Dua tahun kemudian, saat umurku telah genap dua puluh tahu, Alim datang kepadaku sebagai sebuah cahaya yang menebariku di tengah kehampaan. Ia menunjukkan jari kelingkingnya dan memberikan janji yang tak terhitung jumlahnya. Tentang keindahan-keindahan di masa kini dan yang akan datang. Katanya kami akan membangun rumah sederhana dan menanam bunga cempaka, melati, dan kenanga di pekarangannya. Hidup damai bersama empat orang anak yang ia harapkannya keluar dari rahimku. Katanya anak-anakku akan lucu-lucu. Salah-satunya ada yang gendut dan pipinya seperti kue bakpau.
Sesedehana itulah permusuhan kami berubah menjadi cinta yang luar bisa. Ia mengumpamakan dirinya sebagai sebongkah perahu yang akan menyelamatkan hidupku dan anak-anak kami, kelak. Hingga ia menjadi harapan satu-satunya dalam hidupku. Dan aku telah sempurna menggantungkan rindu di unjung kailnya. Mengunci hati dan menyerahkan segenap kepercayaanku kepadanya,” aku berhenti. Suaraku tertegun-tegun. Napasku naik-turun.
“Lalu bagaimana mungkin Alim meninggalkanmu?”
“Bukan. Bukan Alim yang menyakitiku. Dia baik. Tapi aku yang meninggalkannya.”
“Bagaimana mungkin?” ia memperjelas pertanyaannya.
“Tentu saja aku tak mungkin memilih hidup bersamanya yang menjajikan pernikahan kepadaku sementara ia tengah terikat pertunangan dengan perempuan lain. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan menjadi parasit dalam hubungan yang jelas-jelas masih dipertahankan?
Kapan hari, saat aku ke kampus untuk sebuah acara pelatihan kepempinan yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa, seorang perempuan mengenakan jilbab merah jambu memandangiku dengan penuh kebencian. Perempuan itu lebih pendek dariku yang berukuran 158 cm. Kulitnya bercahaya. Berbeda dengan kulitku yang berwarna gelap. Sepasang matanya teduh tapi geram. Sedang kedua bibirnya seperti dipolesi madu. Ciri-ciri perempuan itu persis seperti yang diharapkan Alim sejak kecil. Tepat ketika Alim dan aku beradu mulut untuk sebuah perkelahian panjang. Katanya tak mungkin ada orang yang suka pada perempuan sejelek aku. Ia berharap jodohnya adalah perempuan cantik yang berkpribadian lembut. Entah mengapa, di usia kami yang sudah dewasa, tiba-tiba saja Alim memilihku dan meyakinkanku dengan perkataan-perkataan yang sama sekali tak membuatku curiga dan ragu.
Pertama, perempuan itu hanya memandangiku saja. Tapi selanjutnya ia mengenalakan diri. Katanya namanya Dewi. Ia mulai berceloteh panjang lebar dengan nada dan bahasa yang tak sewajarnya. Sampai tibalah pada puncak keberangannya dengan mengataiku sebagai perempuan kurang ajar, perebut tunangan orang, dan ini-itu yang lainnya. Nah! Kau tak mungkin bisa membayangkan bagaimana remuknya perasaanku saat tahu kalau perempuan itu adalah tunangan Alim.
Bagus jika cuma satu, bagaimana kalau perempuan-perempuan gelapnya yang lain mendatangiku dan mengataiku dengan ejekan yang serupa? Aku bangkit dan berujar selamat kepada Dewi. Aku memilih untuk tidak sekedar menjadi materi yang kehilangan harga diri.
Akhirnya dengan segala perasaan sakit dan mensyukuri kepedihan, aku memilih untuk meninggalkannya. Aku pergi dengan membawa teguh setiaku. Membawa kerinduan yang tulus untuknya. Kerinduan dalam perih yang menyesaki pori-poriku. Sakit yang mulai kuhitung inci per incinya dan kunikmati seperti mengunyah martabak panas di malam yang dingin.
Kerinduan ini akan kucumbui sendirian, akan kupeluk dengan sepi sendirian, akan kurayu-rayu sendirian, dan akan kuramu menjadi kopi meski hanya sebatas ilusi. Tanpa perlu ia tahu bahwa aku akan tetap berdiri dengan kopiku yang melambangkan kerinduan dan keteguhan hati,” dadaku sesak menahan napas yang tertahan-tahan. Seketika mulutku tak dapat kubuka lagi.
Hasan melompat ke arah rawa sambil berjalan tersaruk-satuk dalam lumpur. Dia berhasil menangkap seekor kodok yang berikannya kepadaku seraya berkata:
“Lupakan cerita yang gagal! Menikahlah saja denganku.”
Praaaaaaakkkkk! Kroweeeeeeeeeekkkkkk…!!!
Dangau yang kami tempati roboh diterpa angin dan tak kuat lagi menampung dua pasang pantat. Kami berdua jatuh terjerembab ke dalam lumpur. Tawa Hasan pecah dan berhamburan ke sela-sela padi. Sementara aku masih kebingungan mengartikan bahasanya. Apakah kalimat ajakannya hanya berarti lelucon dan sebuah godaan ataukah ia adalah jawaban Tuhan atas doaku semalam?
Gubuk Cerita, 16 Pebruari 2011
*Buat nyamuk-nyamuk seksi penggemar kopi yang tinggal di Gubuk Cerita:
Ae, Ha-Lu, Fira, Habeb, Ana, dan Rara. Corn sayang kalian.
Pernahkan engkau merasakan kehampaan seraya berkata bahwa engkau tak lebih dari sebongkah manusia yang tersisih dan tersendiri? Pernahkah engkau merasakan rindu setengah mati pada sebuah suara yang tiba-tiba lenyap lantaran engkau sendiri yang menepisnya? Perasaan yang membuatmu terasing dalam menjalani kehidupan yang panjang ini. Perasaan ingin meliarkan hatimu untuk mengembara dan menemukan separuh lainnya yang searah.
Perasaan itulah yang kurasaan saat aku mencoba mengasingkan diri setiap sore di sebuah dangau tua yang hampir roboh. Menarik tali panjang dari ujung yang membuatnya bergerak ke seluruh penjuru arah. Empat tali rafia panjang yang pada setiap jengkalnya dipasangi sampah plastik dan bekas kaleng-kaleng susu untuk mengusir para burung pencuri padi. Bukan mencuri, lebih tepatnya mencari nafkah untuk sanak famili mereka yang tengah menunggu di sarangnya. Aku ingin membuktikan bahwa aku bebas, aku merdeka, persis seperti burung-burung itu yang dapat mengepakkan sayap mereka dan melahirkan keindahan senja yang luar biasa.
Awan berarak melintasi sawah ke sawah yang tengah membentangkan warna hijau dan sedikit warna emas. Sampai akhirnya awan-awan itu mengantarkan sepasang bola mataku pada sosok lelaki yang tengah duduk di atas pematang yang menjang ke arah timur. Pematang yang letaknya berbatas sepetak sawah dari dangau tempatku menyepi.
Lelaki tinggi tegap yang tengah mengenakan kaos partai lusuh berwarna hijau itu bangkit dan melangkah menuju ke arahku. Badannya tampak disesaki daging. Wajahnya bulat lebar dengan dagu sedikit terbelah di bagian tengahnya. Ditambah jenggot tipis yang tampak rapi menghiasi dagunya. Bibirnya sama sekali tidak hitam, kelihatan sekali kalau ia tak pernah bersentuhan dengan rokok.
Ia semakin mendekat menghunjamkan pandang ke arahku yang tergugu. Ia berjalan ringan sambil menenteng botol air kemasan berukuran 600 ml berisi kopi. Bagian bawah botonya tampak berkerut dan menyempit. Mungkin kopi itu dituangkan ketika masih panas.
Lelaki itu semakin mendekat. Mencipta suara jeritan bambu beradu ketika pantatnya ia letakkan begitu saja di sampingku. Ia tampak tenang membuang pandang jauh ke arah barat sana. Persis dengan adegan saat kami kecil dulu.
Rentang waktu yang panjang, yaitu waktu yang sejenak untuk kami berpisah dan menyusuri jalan masing-masing, tak membuatnya mengalami banyak perubahan. Ia tetap menjadi dirinya sendiri; Hasan yang susah berbicara dengan orang-orang, terutama perempuan. Bagiku ia adalah teman kecil yang super aneh. Ia selalu merasa akan mengalami kejadian-kejadian aneh yang luar biasa atau menciptakan suatu keajaiban yang mustahil, seperti membangkitkan kembali menara Sauron dalam film The Lord of The Rings, merasa mampu berjalan melampaui suatu ruang panjang dalam waktu yang relatif singkat, bahkan pernah ia berkeinginan untuk berubah wujud menjadi seekor kodok yang dapat memikul bawang di pundaknya. Ia terkadang menjadi pembual yang membuatku geli setengah mati.
Hasan berantonim Alim. Alim adalah ‘musuh’ kecilku. Ia tak pernah suka pada apa yang melekat dalam diriku. Katanya aku ini bukan perempuan, melainkan manusia jadi-jadian yang lebih mengerikan dari pada bencong. Alasannya, aku tidak memiliki tubuh seksi seperti teman-teman perempuan kami yang lain. Payudaraku kecil dan berada di bawah standart rata-rata anak seusiaku. Bahkan saat aku ikut bersepeda mendaki gunung dan memanjat pohon bersama teman-teman lelakiku, dia malah mengolok-olokku dan mengataiku sebagai perempuan setengah gila.
Saat Alim mulai mengusiliku, diam-diam Hasan datang sebagai seorang pahlawan. Ia melawan tidak dengan kata-kata atau adu otot, tetapi dengan sandi tubuh. Alim akan sangat ketakutan bila Hasan menatapnya dengan berang. Entah mengapa, aku juga tidak mengerti. Yang jelas Hasan adalah sosok kawan yang amat disegani. Meski terkadang ia juga menjadi teman yang dapat mengudang tawa. Beginilah kira-kira prinsipnya: “Kalau bisa, saya ingin membuat hidup ini penuh dengan tawa, atau tangis haru. Tak boleh ada kepedihan secuil pun di tempat ini.”
Hasan dan Alim seperti magnet dari kutub yang berlawanan. Meski begitu, ada kesamaan di antara aku, Hasan, dan Alim yang membuat kami tetap bersahabat dalam segala ketidakmungkinan yang ada. Dari kecil kami bertiga sama-sama suka kopi. Kata Alim kopi itu bikin kangen. Bagi Hasan kopi bisa buat orang jadi segar, sabar, dan tentram. Menurutku kopi adalah lambang kerinduan dan keteguhan hati. Karena aku sadar, sesempurna apa pun kopi itu dibuat, ia tetap mempunyai sisi pahit yang tak bisa disembunyikan. Begitu pun dengan ridu menyakitkan yang membutuhkan ketegaran sebagai bentengnya.
Kopi membuat khayalku terdampar lagi ke masa kecil. Aku sampai lupa kalau Hasan kini tengah berada di sampingku. Cukup lama aku bernostalgia dengan anganku. Memilih sepi sebagai juru kunci yang mengantarkanku pada kisah aroma kopi persahabatan. Kupandangi Hasan. Tak ada tanda-tanda ia akan membuka dialog. Hanya napasnya yang menjadi latar cerita kami sore ini.
“Hmmm… Sudah menikah, Lus?” akhirnya ia berujar pelan. Namun pertanyaannya kali ini telah membuyarkan perbenadaharaan kataku. Seperti ada biji kedongdong di tenggorokanku. Di usiaku yang hanya kurang satu tahun untuk genap berkepala tiga, aku benar-benar bingung mencari alasan. Menikah adalah kosa-kata yang paling aku segani. Dan pertanyaan Hasan serupa suara tawon yang terus berputar-putar di dekat daun telingaku.
Aku merasa menjadi perempuan tersisih dan terasing di kampungku sendiri. Merasakan kehampaan berada di antara suara-suara yang sejatinya sungguh bising. Aku merasa menjadi sekeping besi yang meratapi kesendirian sepanjang waktu. Mencecapi setiap rasa pahit yang terkadang membuatku ingin amnesi untuk selamanya.
Hening. Suara batuk-batuk. Suara kaleng susu memecah sunyi.
“Kopi ini manis ya… tapi tetap saja pahit,” kataku sambil menunjuk kopi milik Hasan. Ada cairan hangat yang tak bisa kutahan. Tiba-tiba pipiku menjadi lembab begitu saja.
“Aku kangen kopimu. Katanya kopimu itu lambang keteguhan hati. Lambangmu, Lusi…” Hasan menatap kedua mataku. Ada semangat di sela kata-katanya.
“Eh, ya… menikah. Bukan tidak mau tapi aku sudah gagal empat kali,” jawabku klise.
“Coba lihat ke bawah! Itu… ada kodok melompat di pinggiran parit. Kodok itu temanku. Dia pasti bercerita sesuatu kepadaku,” penyakitnya kambuh. Ia tidak memintaku bercerita menggunakan bahasa langsung, tapi dengan sindiran yang menarik. Itulah sebabnya aku begitu merasa nyaman berada di dekatnya. Tanpa diminta pun aku akan bercerita kepadanya.
“Empat kali gaga. Sakit, San! Pertama, saat aku duduk di bangku MTs, ada pemuda dari kampung Pangilen melamarku. Aku memang menyukainya, tetapi tidak mengira kalau dia juga memiliki rasa yang sama. Sayang… keluargaku tidak setuju. Saudara tertua ibu melarang keras untuk menerimanya. Katanya paman teringat sumpah lama para leluhur dari keluarga pemuda itu yang tak kutahu jalan ceritanya. Ah! Aku memang paling benci kalau nama leluhur dibangkitkan kembali untuk dijadikan alasan.
Yang kedua, aku sudah berada di tingkat SMA kelas akhir. Ayah menjodohkanku dengan anak temannya. Pemuda itu baik menurut penilaian dangkalku. Dari segi fisik tak ada yang disayangkan. Pemuda pilihan ayahku itu sudah sarjana dan mempunyai pekerjaan tetap. Menurut perjanjian yang telah disepakati, aku bisa melanjutkan kuliah sambil menjalani kewajiban sebagai seorang istri. Aku menghargai keputusan ayah dan menuruti kehendaknya. Aku tahu orang tua selalu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya.
Seluruh keluarga sepakat dan telah menentukan tanggal pernikahan. Namun sialnya, kakek adalah satu-satunya orang yang tidak setuju. Kakek menjodohkanku dengan orang lain saat aku tengah terikat pertunangan. Semua jadi kacau. Pernikahan digagalkan dari pihak calon suamiku. Aku terpaksa diam dengan segala perasaan getir yang menjalari seluruh tubuhku. Menerima kenyataan pahit bahwa aku tak lebih dari sebongkah patung. Bukan pahatan seniman Bali yang dilelang dan diagungkan, melainkan patung murahan yang dilirik saja tak pantas. Aku merasa tak punya kemampuan untuk menegaskan kebebasan eksistensial yang melekat dalam diriku.
Ketika tunangan keduaku telah menikah dengan orang lain, akhirnya seluruh keluargaku tahu kalau lelaki pilihan kakek sama sekali tak bisa mengaji, tak bisa membaca dan tak bisa bla bla bla yang lainnya. Bukankah semua perempuan menginginkan pemimpin yang baik? Yang bisa menuntun sang istri ke jalan Tuhan. Aku tak mau bukan karena aku tak bisa menerima kekurangan-kekurangan pada lelaki itu yang juga sama-sama ciptaan Tuhan, tapi apa yang bisa diharapkan dari lelaki yang mengaji saja tidak bisa?
Kalau aku mau, aku bisa memuntahkan segala ejektif yang mengandung sindrom klausafobik untuk lelaki itu. Tapi itu tidak kulakukan. Aku kasihan kepada kakek dan harga diri lelaki pilihannya. Maka aku meminta agar pertunangan ketigaku segera digagalkan. Bersama pasrah, aku hanya berharap Tuhan segera memberikan secangkir kopi nikmat untukku,” aku menceritakan kisahku yang panjang kali lebar tanpa peduli pada burung-bugung yang tengah sibuk mematuk-matuk padi yang kujaga. Ini adalah kecolongan yang dibiarkan.
“Minumlah kopi ini dulu! Lalu kau bisa melanjutkan ceritamu,” Hasan menyodorkan kopi. Aku meminumnya seteguk. Tinggal satu lagi kekuatanku untuk menceritakan semuanya. Habis itu aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi.
“Tapi bagaimana cara melanjutkan ceritaku?”
Dia tersenyum. Lalu tertawa sambil menepuk pundakku beberapa kali.
“Apakah kau mau minum kopi ini lagi?” dia balik bertanya sesuatu yang tidak bekaitan dengan pertanyaanku. Dia memang aneh.
“Tidak, tidak!” aku menggeleng kenes.
“Bukankah bercerita itu lebih gampang dari pada menembel ban yang kempos?”
Ah, Hasan! Mana mungkin dia membandingkan dua hal yang bedanya jauh bermil-mil. Ia terus memaksaku bercerita. Dan aku tahu dia tidak akan pergi sebelum ceritaku benar-benar telah usai. Aku menyukai caranya memaksa dengan gayanya yang melemahkan.
“Dua tahun kemudian, saat umurku telah genap dua puluh tahu, Alim datang kepadaku sebagai sebuah cahaya yang menebariku di tengah kehampaan. Ia menunjukkan jari kelingkingnya dan memberikan janji yang tak terhitung jumlahnya. Tentang keindahan-keindahan di masa kini dan yang akan datang. Katanya kami akan membangun rumah sederhana dan menanam bunga cempaka, melati, dan kenanga di pekarangannya. Hidup damai bersama empat orang anak yang ia harapkannya keluar dari rahimku. Katanya anak-anakku akan lucu-lucu. Salah-satunya ada yang gendut dan pipinya seperti kue bakpau.
Sesedehana itulah permusuhan kami berubah menjadi cinta yang luar bisa. Ia mengumpamakan dirinya sebagai sebongkah perahu yang akan menyelamatkan hidupku dan anak-anak kami, kelak. Hingga ia menjadi harapan satu-satunya dalam hidupku. Dan aku telah sempurna menggantungkan rindu di unjung kailnya. Mengunci hati dan menyerahkan segenap kepercayaanku kepadanya,” aku berhenti. Suaraku tertegun-tegun. Napasku naik-turun.
“Lalu bagaimana mungkin Alim meninggalkanmu?”
“Bukan. Bukan Alim yang menyakitiku. Dia baik. Tapi aku yang meninggalkannya.”
“Bagaimana mungkin?” ia memperjelas pertanyaannya.
“Tentu saja aku tak mungkin memilih hidup bersamanya yang menjajikan pernikahan kepadaku sementara ia tengah terikat pertunangan dengan perempuan lain. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan menjadi parasit dalam hubungan yang jelas-jelas masih dipertahankan?
Kapan hari, saat aku ke kampus untuk sebuah acara pelatihan kepempinan yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa, seorang perempuan mengenakan jilbab merah jambu memandangiku dengan penuh kebencian. Perempuan itu lebih pendek dariku yang berukuran 158 cm. Kulitnya bercahaya. Berbeda dengan kulitku yang berwarna gelap. Sepasang matanya teduh tapi geram. Sedang kedua bibirnya seperti dipolesi madu. Ciri-ciri perempuan itu persis seperti yang diharapkan Alim sejak kecil. Tepat ketika Alim dan aku beradu mulut untuk sebuah perkelahian panjang. Katanya tak mungkin ada orang yang suka pada perempuan sejelek aku. Ia berharap jodohnya adalah perempuan cantik yang berkpribadian lembut. Entah mengapa, di usia kami yang sudah dewasa, tiba-tiba saja Alim memilihku dan meyakinkanku dengan perkataan-perkataan yang sama sekali tak membuatku curiga dan ragu.
Pertama, perempuan itu hanya memandangiku saja. Tapi selanjutnya ia mengenalakan diri. Katanya namanya Dewi. Ia mulai berceloteh panjang lebar dengan nada dan bahasa yang tak sewajarnya. Sampai tibalah pada puncak keberangannya dengan mengataiku sebagai perempuan kurang ajar, perebut tunangan orang, dan ini-itu yang lainnya. Nah! Kau tak mungkin bisa membayangkan bagaimana remuknya perasaanku saat tahu kalau perempuan itu adalah tunangan Alim.
Bagus jika cuma satu, bagaimana kalau perempuan-perempuan gelapnya yang lain mendatangiku dan mengataiku dengan ejekan yang serupa? Aku bangkit dan berujar selamat kepada Dewi. Aku memilih untuk tidak sekedar menjadi materi yang kehilangan harga diri.
Akhirnya dengan segala perasaan sakit dan mensyukuri kepedihan, aku memilih untuk meninggalkannya. Aku pergi dengan membawa teguh setiaku. Membawa kerinduan yang tulus untuknya. Kerinduan dalam perih yang menyesaki pori-poriku. Sakit yang mulai kuhitung inci per incinya dan kunikmati seperti mengunyah martabak panas di malam yang dingin.
Kerinduan ini akan kucumbui sendirian, akan kupeluk dengan sepi sendirian, akan kurayu-rayu sendirian, dan akan kuramu menjadi kopi meski hanya sebatas ilusi. Tanpa perlu ia tahu bahwa aku akan tetap berdiri dengan kopiku yang melambangkan kerinduan dan keteguhan hati,” dadaku sesak menahan napas yang tertahan-tahan. Seketika mulutku tak dapat kubuka lagi.
Hasan melompat ke arah rawa sambil berjalan tersaruk-satuk dalam lumpur. Dia berhasil menangkap seekor kodok yang berikannya kepadaku seraya berkata:
“Lupakan cerita yang gagal! Menikahlah saja denganku.”
Praaaaaaakkkkk! Kroweeeeeeeeeekkkkkk…!!!
Dangau yang kami tempati roboh diterpa angin dan tak kuat lagi menampung dua pasang pantat. Kami berdua jatuh terjerembab ke dalam lumpur. Tawa Hasan pecah dan berhamburan ke sela-sela padi. Sementara aku masih kebingungan mengartikan bahasanya. Apakah kalimat ajakannya hanya berarti lelucon dan sebuah godaan ataukah ia adalah jawaban Tuhan atas doaku semalam?
Gubuk Cerita, 16 Pebruari 2011
*Buat nyamuk-nyamuk seksi penggemar kopi yang tinggal di Gubuk Cerita:
Ae, Ha-Lu, Fira, Habeb, Ana, dan Rara. Corn sayang kalian.
12 Februari 2011
Menumpas Kepedihan
;Kepada Jangkrik, Pastel dan Bibbhi'
Ummul Corn ingin berlayar dalam semedi. Membutakan segala hal tentang jelma kenangan. Keindahan dalam calung bambu yang muara pada silap-kelih ilusi.
Ummul Corn ingin semedi dalam kehampaan. Memancang risalah untuk kalian yang kini menepi adalah bagian dari kerinduan.
Wahai perindu rawan, kita semua tetaplah anak sungai bagi kata-kata. Puisi bagi api persahabatan. Suara pastel bagi jangkrik kegelisahan.
Maka tumpas leher cinta pada yang fana!
Karena kita hanyalah materi untuk yang baka.
Tentu tak ada yang bersedia jadi nelayan dalam laut kesedihan.
Meski rasa selalu kekal sebagai jiwa kesetiaan. Lebih baik lupakan cerita yang gagal!
Lalu yakinkan bahwa rindu dan maut akan selalu misteri dalam kehidupan.
Gubuk Cerita, 11022011
Ummul Corn ingin berlayar dalam semedi. Membutakan segala hal tentang jelma kenangan. Keindahan dalam calung bambu yang muara pada silap-kelih ilusi.
Ummul Corn ingin semedi dalam kehampaan. Memancang risalah untuk kalian yang kini menepi adalah bagian dari kerinduan.
Wahai perindu rawan, kita semua tetaplah anak sungai bagi kata-kata. Puisi bagi api persahabatan. Suara pastel bagi jangkrik kegelisahan.
Maka tumpas leher cinta pada yang fana!
Karena kita hanyalah materi untuk yang baka.
Tentu tak ada yang bersedia jadi nelayan dalam laut kesedihan.
Meski rasa selalu kekal sebagai jiwa kesetiaan. Lebih baik lupakan cerita yang gagal!
Lalu yakinkan bahwa rindu dan maut akan selalu misteri dalam kehidupan.
Gubuk Cerita, 11022011
11 Januari 2011
Mencari Quraisyi
Akhirnya aku hanya bisa memberikan saran kepada Sri agar ia dapat melupakan cita-citanya untuk menikah dengan orang yang bernama Quraisyi. Ia hanya menarik bibirnya ke atas, memanjangkan senyum sekilas. Sebuah sandi tubuh yang berarti saranku tak berdaya guna.
Sri memang gadis desa yang lincah dan cerdas. Wajahnya selalu tampak pucat tanpa bedak. Pipinya yang lebar dan berisi membuatnya kelihatan bahwa badannya pun tak kurus. Meski tak cantik, dia memiliki beberapa kelebihan yang memikat pada siluet senyum dan binar hangat di matanya yang tajam.
Aku sangat menyukai pribadinya yang peka sosial dan selalu sopan memperlakukan orang lain. Namun ia begitu keras kepala, kritis, dan tak mau kalah. Siapa pun yang berani mengusik hidupnya dan keinginannya, maka siap-siaplah untuk menerima beberapa pertanyaan seperti ini darinya: apakah pernah Nabi Muhammad gentar dalam memperjuangkan Islam? Apakah ada rakyat Indonesia yang menyuruh agar Soekarno tidak membacakan teks proklamasi saat 17 Agustus 1945 lalu? Bukankah semua orang ingin menikmati kemerdekaan? dan lain sebagainya.
Setelah itu, barulah orang-orang tahu kalau Sri bukanlah perempuan desa sembarangan. Dalam dirinya tersimpan multi talenta yang kuat. Buktinya, selain cerdas, ia patuh pada orang tuanya. Selain berstatus sebagai mahasiswa, ia juga bisa membuka usaha dengan membangun toko kelontong sendiri. Namun berlebihan bila ia disebut sebagai perempuan keramat, meski seluruh misi dan gerak-geriknya selalu dipandang aneh oleh orang-orang di kampungku.
Kali ini, misinya dalam rangka mencari Quraisyi telah menyita seluruh sendi-sendi perhatianku. Aku juga tidak tahu apa yang melatarbelakangi keinginannya itu. Aku hanya bisa menduga-duga; mungkin nama Quraisyi telah dipercainya sebagai bentuk maskot. Atau barangkali nama Quraisyi mengandung makna magis nalurian bagi Sri. Ah, ia memang sahabatku yang susah diterjemah.
Kami telah menjadi sepasang sahabat sejak kecil. Saat umurku menginjak 6 tahun dan Sri baru berusia 4 tahun. Selain karena rumah kami yang hanya berbatas 4 petak sawah, Sri juga merupakan anak tunggal. Jadi aku merasa wajib melindunginya seperti seorang kakak kandung.
Suatu sore, Sri bertandang ke rumahku. Kudengar ia bersiul-siul memanggil angin. Tingkahnya memang selalu mendekati gaya lelaki. Mungkin kampung kami yang melahirkan banyak anak laki-laki dan sedikit anak perempuan telah mencetak kepribadian maskulin dalam dirinya. Hingga tak jarang ia mengajakku bermain bola dan kelereng ketimbang bermain boneka dan ‘jual-jualan’ semasa kami kecil dulu.
Aku mengerti maksud kedatangannya kali itu. Tidak biasanya aku mendengar rahasianya dari orang lain. Entah karena ia telat mengabariku atau karena aku terlalu sibuk mengerjakan tugas skripsiku.
“Apa skripsimu sudah kelar, Man?” tanyanya dengan nada paling rendah yang pernah kudengar darinya. Aku tak menjawab meski dari kemarin aku begitu ingin untuk segera mengabarinya tentang kelegaanku ini. Aku tahu pembuakaan dialognya kali ini hanyalah basa-basi.
“Aku bertemu di dalam mimpi, namanya Quraisyi…” katanya memulai cerita tanpa kuminta, “sebelum nenekku meninggal ia berbisik ditelingaku untuk mencari seseorang yang namanya sama persis seperti kakekku. Malam itu, aku benar-benar bermimpi bertemu dengan sesosok yang mengaku Quraisyi. Aku menumpang berteduh di bawah payungnya saat hujan deras. Selain itu aku tak ingat apa-apa lagi. Ketika bangun tidur, aku mendapati sebuah ketenangan yang kubawa dari dalam mimpi. Mimpi yang tak bisa, Man!” lanjutnya dengan mimik berapi-api dan berbicara cepat seolah tak perlu mengambil nafas.
Hening. Suara-suara langkah ayam menginjak daun-daun kering di halaman.
“Bagaimana mungkin kau akan mencari seorang pemuda bernama Quraisyi seperti wasiat almarhum nenekmu? Bukankah kau akan mempermalukan dirimu dan keluargamu pada masyarakat di tengah budaya kita yang innalillah bila perempuan mencari lelaki?”
“Okelah ini bukan persoalan yang mudah. Dan bahkan aku akan ditertawakan karena Quraisyi akan tampak seperti seorang mafia pajak yang diburu ke mana-mana. Tapi ini masalah kesetiaan. Nenekku bilang, orang yang bernama Quraisyi, kelak akan menjagaku dengan kemampuannya yang terus memberikan semangat untuk terus menjalani hidup. Bahkan ia akan mengajakku berlayar untuk melanjutkan tugas kenabian. Aku percaya nenekku, Man. Dan melalui misiku ini, aku akan katakan bahwa perempuan berhak memilih.”
“……”
“Mendengar alasanmu yang tampak kurang masuk akal ini, aku menjadi was-was, apakah kelak yang kau maksud itu bisa terbaca di masa ini? Apakah engkau tengah mengatakan kepadaku bahwa engkau telah meiliki kekuatan intuisi?” ujarku mencoba memecah keheningan.
“Tak ada yang mengerti––” katanya dengan penuh rasa sedih. Aku bisa menduga apa yang ada di balik kata-katanya. Kutatap ia dengan penuh rasa sayang.
“Tidak perlu kau bersedih hati. Aku akan selalu ada dan mendukungmu. Alasanmu yang kataku tak masuk akal tadi justru hanya pancingan apakah kau akan emosi atau tidak,” potongku.
“Sore ini aku menemukan jutaan oasis di matamu,” ucapnya mengisyaratkan kalimat pemungkas pada dialog kami. Aku pura-pura mengucek kedua mataku yang tak gatal. Ia menggeleng kenes. Tawa kami lepas bersama angin sore itu.
Setelah hari itu, kami memulai aksi mencari Quraisyi. Namun sebelumnya aku dan Sri menyusun rencana dan mendata seluruh tempat-tempat yang akan kami kunjungi, seperti, kampung-kampung di desa kami, pasar-pasar, tempat nongkrong para remaja dan tentunya, yang paling utama adalah sekolah tinggi di kampung kami. Selain itu kami juga menyiapkan beberapa rencana cadangan beserta kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Melihatku bekerja amat serius, Sri hanya manggut-manggut. Maklum, meski penampilannya serba sederhana, tapi dalam urusan proyek ia selalu memegang teguh prinsip profesionalisme dan perfeksionisme.
Langkah pertama kami mulai dari menjelajah kampung. Rencananya Sri mau menanyakan satu per satu pada para kepala rumah tangga. Bahkan ia berniat untuk mendaki bukit ke bukit demi menemukan nama yang ia cari. Namun aku mencegatnya. Menurutku lebih baik mendatangi balai desa dan meminta data penduduk pada aparat desa saja. Sri pun mengakui ideku kali itu lebih cemerlang.
Pelacakan yang kami lakukan ke balai desa rupanya membuat Sri bergelimang kecewa karena nama yang ia cari tidak ada. Alhasil ia tak henti berceloteh di dekatku. Dan aku tak lebih dari seorang pendengar setia dan tempat sampah.
Kurang lebih beginilah isi celotehnya: “Rupanya, kampung kita ini tlah terpengaruh arus kebarat-baratan juga, Man. Nama anak-anak kecil saja sudah serba gaya. Para orang tua tak lagi gemar menamai anak mereka menggunakan bahasa Arab dan atau mengambil dari al-Qur’an. Zaman sekarang, makin jarang saja kutemui nama Sulaiman, Ahmad Syafi’i, Fatimah, atau Ibrahim. Yang mudah dicari sekarang adalah Danil, Deni, Hendra, Fiki dan Fera. Ah, makin kacau saja dunia persilatan ini.”
Itulah potongan evaluasi bagi kampung kami. Padahal sebenarnya Sri tahu kalau yang ia cari bukan anak kecil, tapi dalam penyampaiannya ia menyinggung nama anak kecil. Kalau tidak aku yang memencet tombol stop dengan kalimat yang kulontarkan, tentu saja celoteh itu tidak akan berhenti sampai di situ saja.
“Sudahlah…. Ini baru langkah yang pertama. Kau sudah seperti anak ayam saja. Santai. Nikmatilah proses ini, Sri.”
“Tapi apa kau tidak lelah menemaniku yang tengah mencari sesuatu yang tak pasti?”
Aku diam pura-pura tak ingin menjawab. Akhirnya ia tengah menyadari bahwa misinya nampak konyol dan tak jelas.
“Rahman… kok diam?”
“Aku akan lelah kalau kau malah terus mengeluh. Jangan menyerah!” jawabku seraya menjitak kepalanya yang terbungkus kerudung segi tiga berwarna abu-abu.
Keesokan harinya Sri datang saat matahari belum menampakkan diri. Dingin masih sempurna menyelimuti pagi. Sebuah ketenangan di kampung kami yang begitu nyata dapat dirasakan saat pagi hari. Saat jalanan masih tampak lengang.
Wajah-wajah orang yang berlalu-lalang di jalanan masih belum dapat ditebak. Lain halnya dengan langkah Sri yang memiliki ciri khas. Aku begitu hafal geraknya. Tak sengaja kulihat dari dalam jendela saat aku hendak memberi makan dan minum burung di dalam sangkar yang digantung di beranda.
Sri memanggil salam seraya mengikutkan namaku di belakangnya. Ibu dan Bapak masih belum beranjak dari sajadahnya. Biasanya baru akan turun usai shalat duha. Begitulah rutinitas dalam keluargaku.
Aku segera menjawab salamnya. Kami lalu berbincang diiringi kicau burung di kejauhan. Pagi itu benar-benar terasa dingin.
Sekitar jam tujuh kami berjalan ke pasar yang berjarak 1 km dari rumahku. Kami melangkah menyusuri pagi yang cerah sambil sesekali tangan dan mulut Sri menyapa orang-orang yang berpapasan dengan kami. Sepanjang jalan mulutnya terus komat-kamit, berdo’a kepada Tuhan agar hari ini dipertemukan dengan makhluk-Nya yang bernama Quraisyi. Sebenarnya ia tidak percaya pada kebetulan, keberuntungan, dan kesialan. Baginya semua akan berjalan sesuai kontrak yang telah disepakati antar-roh bersama Tuhan sebelum ia terlahir menjadi daging. Tapi hari ini Sri acap kali berbisik di dekat daun telingaku bahwa ia telah menanam harapan besar dapat berjabat tangan dan orang itu berkata: Quraisyi.
Senyum Sri mengembang saat kami menerima kabar bahwa di desa seberang ada orang bernama Quraisyi. Sebuah petanda bagi Sri untuk mengakhiri pencariannya. Informasi ini kami dapat dari seorang nenek yang menjual cendol. Dari saking girangnya Sri sampai menghabiskan tiga mangkok cendol sekali duduk.
Tanpa banyak kata, rumah yang dimaksud langsung kami datangi. Namun lagi-lagi Sri pulang dengan membawa setumpuk kesedihan saat ia tahu bahwa pemuda itu bukanlah Quraisyi melainkan Qusyairi. Kabar selanjutnya yang kami terima adalah nenek penjual cendol di pasar tadi memang sudah agak pikun. Sebagian lagi mengatakan bahwa pendengarannya bermasalah. Bagi Sri, huruf R dan S harus sesuai pada tempatnya. Bila salah letak maka semua pastilah kacau. Seperti kasus yang ia alami hari ini.
Karena gagal lagi Sri lalu putuskan hari itu juga untuk mendatangi sekolah tinggi swasta di desa kami, Ganding . Kami berdua mengahadap TU kampus untuk mengecek nama-nama mahasiswa. Jam 17.02 WIB kami pulang dengan perasaan haru saat keberhasilah membentang di depan mata. Dari sederet nama yang kami terima ada seorang mahasiswa bernama Quraisyi semester I jurusan Tafsir Hadits yang berdomisili di desa Pagar Batu.
Besok kami akan melakukan survei lapangan. Dari air muka Sri mengalir sebuah kelegaan yang seolah berkata ‘akhirnya’ dan ketidaksabaran menunggu hari esok. Ia begitu antusias untuk menemui Quraisyi di desa Pagar Batu tanpa berpikir panjang apakah orang yang dimaksud telah beristri, bertunangan, atau barang kali sedang memadu asmara. Sri tak peduli. Lalu sebenarnya apa yang ia inginkan bila kenyatannya, besok, dugaan itu benar-benar telah dialami sang Quraisyi yang ia cari. Apakah Sri akan minta dimadu? Lalu bagaimana pula bila istri Quraisyi tidak mau? Ah, aku jadi tambah pusing memikirkan pertanyaan yang kurangkai-rangkai sendiri ini.
Besoknya kami berangkat menaiki motor Astreaku. Aku melajukannya dengan kecepatan yang luar biasa. Itu karena Sri yang meminta agar kami segera sampai tujuan.
Kami turun di depan rumah kecil berpotongan topi miring menghadap ke barat. Di halaman rumah itu tampak kubis, wortel, sawi dan mentimun berebut untuk meninggikan badan mereka masing-masing. Di samping dan belakang rumah tampak hamparan sawah yang membentang ditanamani padi. Rumah itu berada di deretan paling selatan. Petunjuk itu sesusai dengan yang kami peroleh dari TU kampus kemarin.
Suasananya amat sepi. Seperti tak berpenghuni. Sri segera mengucap salam dengan lembut. Yang menyahut adalah seorang perempuan bernada lirih. Lalu ia membuka daun pintu dan berdiri di sana. Perempuan setengah baya kira-kira telah berkepala empat itu menatap kami sebelum akhirnya mempersilakan kami untuk duduk di teras depan. Matanya kelihatan bengkak seperti habis menangis.
Saat Sri sampaikan maksud kedatangan kami, tiba-tiba ada cairan yang mengalir dari ekor matanya. Akhirnya kami tahu bahwa yang ia tangisi adalah kepergian anak tunggalnya 36 hari yang lalu. Anaknya tak menderita penyakit, tetapi mati secara wajar. Ia tampak semakin lara saat kami datang membangkitkan kenangan masa lalunya.
Jadilah Sri turut menangis sejadi-jadinya di dekat Ibu Quraisyi. Aku hanya mematung dan mengikat mata pada mereka yang seperti mertua dan menantu yang memiliki ikatan keluarga berpuluh tahun. Keduanya sama-sama tak mengacuhkanku.
Ketika beduk dzuhur ditabuh, barulah aku sadar kalau Sri telah tersedu-sedan selama berjam-jam. Aku memberi isyarat kepadanya agar segera berpamit dan kami bisa segera beranjak dari situ. Tangis Ibu Quraisyi pun semakin deras karena rumahnya akan sunyi lagi. Sebentar lagi ia akan terkungkung sendiri menangisi setiap inci waktu yang terus melaju dan tak kan pernah mundur. Ia tak sadar bahwa tak akan ada yang berubah setelah tetes air matanya berjatuhan. Dan ia tak mungkin lagi bertemu dengan anaknya yang tersayang. Sungguh malang nasib orang-orang yang tak siap untuk ditinggalkan.
***
Dalam perjalanan pulang aku memberi saran kepada Sri agar ia melupakan cita-citanya untuk menikah dengan Quraisyi. Ia tersenyum sekilas. Setelah itu aksi ‘mogok ngomongnya’ membuyarkan perbendaharaan kataku. Aku ikut diam dan tak berucap apa-apa lagi. Tidak kepadaku sendiri.
Sehari kemudian Sri tak berkabar. Lusanya aku mendengar bahwa ia terkena depresi. Ia tak hanya menjalankan kerja sesuai rencana, tapi kini ia mulai mencari Qusyiri di tempat-tempat yang mustahil dan itu di luar dugaan; ia terus mencari di kolong meja, kolong ranjang, dan semua benda yang mempunyai kolong. Karena tak ada ia beralih mencari di dalam seprai bantal, di bawah kasur, dan di sela-sela lipatan baju dalam lemari. Karena tetap tak ada ia lalu berlih menjelajahi bulu-bulu handuknya yang menggelantung di kawat jemuran seperti orang mencari kutu sambil berkata: di mana kamu Qusayiri? Menyingkap rumput-rumput liar di belakang rumahnya dan berteriak di pinggir sumur seperti ibu kehilangan anaknya.
Mendengar Sri sebegitu parah aku berkunjung ke rumahnya. Tidak untuk mewanti-wanti agar ia menghentikan aksinya. Tapi aku juga ikut-ikutan meniru tingkahnya. Kuikuti langkahnya menuju dapur untuk mencari Quraisyi di dalam panci, di dekat tungku, di sela-sela sumbu kompor, dan terakhir di rak piring.
Ironisnya, aku sadar sepenuhnya bahwa pekerjaan ini bodoh dan bahkan seperti mencari garam di puncak gunung. Aku hanya ingin tetap setia kawan. Sri tampak menyukainya. Dan kupikir dalam kondisi seperti itu ia butuh dihargai dan dimengerti. Sementara seluruh keluarganya malah memarahinya dan menyebutnya depresi. Namun lagi-lagi Sri tak peduli. Ia tetap teguh pada pendiriannya: berjabat tangan dengan orang yang bernama Quraisyi.
Tiba-tiba aktifitas kami terhenti karena di luar hujan panas. Kami berdua melangkah ke luar beriringan memandangi matahari dari balik rintik-rintik hujan. Reflek kubuka jaketku untuk melindungi kepalanya dari jarum air yang terasa menyengat manusuk kepala. Sri menoleh. Dari jarak yang amat dekat ia berucap pelan kepadaku.
“Selama ini aku telah mencari sesuatu yang salah. Harusnya aku tidak pusing memikirkan mimpi busuk itu. Karena yang kucari adalah sesosok seperti engkau, Man. Buka Quraisyi.”
Hening. Bunyi rintik hujan di atas seng kamar mandi. Keheningan kali itu bagai lagu merdu.
“Hari ini aku sadar bahwa jiwa tidaklah dibelah tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Maukah kau berlayar denganku, Man? ”
Aku tetap diam saat kata-kata Sri seperti suara meriam yang terus menghantam.
Gubuk Cerita, 04 Oktober 2010
Sri memang gadis desa yang lincah dan cerdas. Wajahnya selalu tampak pucat tanpa bedak. Pipinya yang lebar dan berisi membuatnya kelihatan bahwa badannya pun tak kurus. Meski tak cantik, dia memiliki beberapa kelebihan yang memikat pada siluet senyum dan binar hangat di matanya yang tajam.
Aku sangat menyukai pribadinya yang peka sosial dan selalu sopan memperlakukan orang lain. Namun ia begitu keras kepala, kritis, dan tak mau kalah. Siapa pun yang berani mengusik hidupnya dan keinginannya, maka siap-siaplah untuk menerima beberapa pertanyaan seperti ini darinya: apakah pernah Nabi Muhammad gentar dalam memperjuangkan Islam? Apakah ada rakyat Indonesia yang menyuruh agar Soekarno tidak membacakan teks proklamasi saat 17 Agustus 1945 lalu? Bukankah semua orang ingin menikmati kemerdekaan? dan lain sebagainya.
Setelah itu, barulah orang-orang tahu kalau Sri bukanlah perempuan desa sembarangan. Dalam dirinya tersimpan multi talenta yang kuat. Buktinya, selain cerdas, ia patuh pada orang tuanya. Selain berstatus sebagai mahasiswa, ia juga bisa membuka usaha dengan membangun toko kelontong sendiri. Namun berlebihan bila ia disebut sebagai perempuan keramat, meski seluruh misi dan gerak-geriknya selalu dipandang aneh oleh orang-orang di kampungku.
Kali ini, misinya dalam rangka mencari Quraisyi telah menyita seluruh sendi-sendi perhatianku. Aku juga tidak tahu apa yang melatarbelakangi keinginannya itu. Aku hanya bisa menduga-duga; mungkin nama Quraisyi telah dipercainya sebagai bentuk maskot. Atau barangkali nama Quraisyi mengandung makna magis nalurian bagi Sri. Ah, ia memang sahabatku yang susah diterjemah.
Kami telah menjadi sepasang sahabat sejak kecil. Saat umurku menginjak 6 tahun dan Sri baru berusia 4 tahun. Selain karena rumah kami yang hanya berbatas 4 petak sawah, Sri juga merupakan anak tunggal. Jadi aku merasa wajib melindunginya seperti seorang kakak kandung.
Suatu sore, Sri bertandang ke rumahku. Kudengar ia bersiul-siul memanggil angin. Tingkahnya memang selalu mendekati gaya lelaki. Mungkin kampung kami yang melahirkan banyak anak laki-laki dan sedikit anak perempuan telah mencetak kepribadian maskulin dalam dirinya. Hingga tak jarang ia mengajakku bermain bola dan kelereng ketimbang bermain boneka dan ‘jual-jualan’ semasa kami kecil dulu.
Aku mengerti maksud kedatangannya kali itu. Tidak biasanya aku mendengar rahasianya dari orang lain. Entah karena ia telat mengabariku atau karena aku terlalu sibuk mengerjakan tugas skripsiku.
“Apa skripsimu sudah kelar, Man?” tanyanya dengan nada paling rendah yang pernah kudengar darinya. Aku tak menjawab meski dari kemarin aku begitu ingin untuk segera mengabarinya tentang kelegaanku ini. Aku tahu pembuakaan dialognya kali ini hanyalah basa-basi.
“Aku bertemu di dalam mimpi, namanya Quraisyi…” katanya memulai cerita tanpa kuminta, “sebelum nenekku meninggal ia berbisik ditelingaku untuk mencari seseorang yang namanya sama persis seperti kakekku. Malam itu, aku benar-benar bermimpi bertemu dengan sesosok yang mengaku Quraisyi. Aku menumpang berteduh di bawah payungnya saat hujan deras. Selain itu aku tak ingat apa-apa lagi. Ketika bangun tidur, aku mendapati sebuah ketenangan yang kubawa dari dalam mimpi. Mimpi yang tak bisa, Man!” lanjutnya dengan mimik berapi-api dan berbicara cepat seolah tak perlu mengambil nafas.
Hening. Suara-suara langkah ayam menginjak daun-daun kering di halaman.
“Bagaimana mungkin kau akan mencari seorang pemuda bernama Quraisyi seperti wasiat almarhum nenekmu? Bukankah kau akan mempermalukan dirimu dan keluargamu pada masyarakat di tengah budaya kita yang innalillah bila perempuan mencari lelaki?”
“Okelah ini bukan persoalan yang mudah. Dan bahkan aku akan ditertawakan karena Quraisyi akan tampak seperti seorang mafia pajak yang diburu ke mana-mana. Tapi ini masalah kesetiaan. Nenekku bilang, orang yang bernama Quraisyi, kelak akan menjagaku dengan kemampuannya yang terus memberikan semangat untuk terus menjalani hidup. Bahkan ia akan mengajakku berlayar untuk melanjutkan tugas kenabian. Aku percaya nenekku, Man. Dan melalui misiku ini, aku akan katakan bahwa perempuan berhak memilih.”
“……”
“Mendengar alasanmu yang tampak kurang masuk akal ini, aku menjadi was-was, apakah kelak yang kau maksud itu bisa terbaca di masa ini? Apakah engkau tengah mengatakan kepadaku bahwa engkau telah meiliki kekuatan intuisi?” ujarku mencoba memecah keheningan.
“Tak ada yang mengerti––” katanya dengan penuh rasa sedih. Aku bisa menduga apa yang ada di balik kata-katanya. Kutatap ia dengan penuh rasa sayang.
“Tidak perlu kau bersedih hati. Aku akan selalu ada dan mendukungmu. Alasanmu yang kataku tak masuk akal tadi justru hanya pancingan apakah kau akan emosi atau tidak,” potongku.
“Sore ini aku menemukan jutaan oasis di matamu,” ucapnya mengisyaratkan kalimat pemungkas pada dialog kami. Aku pura-pura mengucek kedua mataku yang tak gatal. Ia menggeleng kenes. Tawa kami lepas bersama angin sore itu.
Setelah hari itu, kami memulai aksi mencari Quraisyi. Namun sebelumnya aku dan Sri menyusun rencana dan mendata seluruh tempat-tempat yang akan kami kunjungi, seperti, kampung-kampung di desa kami, pasar-pasar, tempat nongkrong para remaja dan tentunya, yang paling utama adalah sekolah tinggi di kampung kami. Selain itu kami juga menyiapkan beberapa rencana cadangan beserta kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Melihatku bekerja amat serius, Sri hanya manggut-manggut. Maklum, meski penampilannya serba sederhana, tapi dalam urusan proyek ia selalu memegang teguh prinsip profesionalisme dan perfeksionisme.
Langkah pertama kami mulai dari menjelajah kampung. Rencananya Sri mau menanyakan satu per satu pada para kepala rumah tangga. Bahkan ia berniat untuk mendaki bukit ke bukit demi menemukan nama yang ia cari. Namun aku mencegatnya. Menurutku lebih baik mendatangi balai desa dan meminta data penduduk pada aparat desa saja. Sri pun mengakui ideku kali itu lebih cemerlang.
Pelacakan yang kami lakukan ke balai desa rupanya membuat Sri bergelimang kecewa karena nama yang ia cari tidak ada. Alhasil ia tak henti berceloteh di dekatku. Dan aku tak lebih dari seorang pendengar setia dan tempat sampah.
Kurang lebih beginilah isi celotehnya: “Rupanya, kampung kita ini tlah terpengaruh arus kebarat-baratan juga, Man. Nama anak-anak kecil saja sudah serba gaya. Para orang tua tak lagi gemar menamai anak mereka menggunakan bahasa Arab dan atau mengambil dari al-Qur’an. Zaman sekarang, makin jarang saja kutemui nama Sulaiman, Ahmad Syafi’i, Fatimah, atau Ibrahim. Yang mudah dicari sekarang adalah Danil, Deni, Hendra, Fiki dan Fera. Ah, makin kacau saja dunia persilatan ini.”
Itulah potongan evaluasi bagi kampung kami. Padahal sebenarnya Sri tahu kalau yang ia cari bukan anak kecil, tapi dalam penyampaiannya ia menyinggung nama anak kecil. Kalau tidak aku yang memencet tombol stop dengan kalimat yang kulontarkan, tentu saja celoteh itu tidak akan berhenti sampai di situ saja.
“Sudahlah…. Ini baru langkah yang pertama. Kau sudah seperti anak ayam saja. Santai. Nikmatilah proses ini, Sri.”
“Tapi apa kau tidak lelah menemaniku yang tengah mencari sesuatu yang tak pasti?”
Aku diam pura-pura tak ingin menjawab. Akhirnya ia tengah menyadari bahwa misinya nampak konyol dan tak jelas.
“Rahman… kok diam?”
“Aku akan lelah kalau kau malah terus mengeluh. Jangan menyerah!” jawabku seraya menjitak kepalanya yang terbungkus kerudung segi tiga berwarna abu-abu.
Keesokan harinya Sri datang saat matahari belum menampakkan diri. Dingin masih sempurna menyelimuti pagi. Sebuah ketenangan di kampung kami yang begitu nyata dapat dirasakan saat pagi hari. Saat jalanan masih tampak lengang.
Wajah-wajah orang yang berlalu-lalang di jalanan masih belum dapat ditebak. Lain halnya dengan langkah Sri yang memiliki ciri khas. Aku begitu hafal geraknya. Tak sengaja kulihat dari dalam jendela saat aku hendak memberi makan dan minum burung di dalam sangkar yang digantung di beranda.
Sri memanggil salam seraya mengikutkan namaku di belakangnya. Ibu dan Bapak masih belum beranjak dari sajadahnya. Biasanya baru akan turun usai shalat duha. Begitulah rutinitas dalam keluargaku.
Aku segera menjawab salamnya. Kami lalu berbincang diiringi kicau burung di kejauhan. Pagi itu benar-benar terasa dingin.
Sekitar jam tujuh kami berjalan ke pasar yang berjarak 1 km dari rumahku. Kami melangkah menyusuri pagi yang cerah sambil sesekali tangan dan mulut Sri menyapa orang-orang yang berpapasan dengan kami. Sepanjang jalan mulutnya terus komat-kamit, berdo’a kepada Tuhan agar hari ini dipertemukan dengan makhluk-Nya yang bernama Quraisyi. Sebenarnya ia tidak percaya pada kebetulan, keberuntungan, dan kesialan. Baginya semua akan berjalan sesuai kontrak yang telah disepakati antar-roh bersama Tuhan sebelum ia terlahir menjadi daging. Tapi hari ini Sri acap kali berbisik di dekat daun telingaku bahwa ia telah menanam harapan besar dapat berjabat tangan dan orang itu berkata: Quraisyi.
Senyum Sri mengembang saat kami menerima kabar bahwa di desa seberang ada orang bernama Quraisyi. Sebuah petanda bagi Sri untuk mengakhiri pencariannya. Informasi ini kami dapat dari seorang nenek yang menjual cendol. Dari saking girangnya Sri sampai menghabiskan tiga mangkok cendol sekali duduk.
Tanpa banyak kata, rumah yang dimaksud langsung kami datangi. Namun lagi-lagi Sri pulang dengan membawa setumpuk kesedihan saat ia tahu bahwa pemuda itu bukanlah Quraisyi melainkan Qusyairi. Kabar selanjutnya yang kami terima adalah nenek penjual cendol di pasar tadi memang sudah agak pikun. Sebagian lagi mengatakan bahwa pendengarannya bermasalah. Bagi Sri, huruf R dan S harus sesuai pada tempatnya. Bila salah letak maka semua pastilah kacau. Seperti kasus yang ia alami hari ini.
Karena gagal lagi Sri lalu putuskan hari itu juga untuk mendatangi sekolah tinggi swasta di desa kami, Ganding . Kami berdua mengahadap TU kampus untuk mengecek nama-nama mahasiswa. Jam 17.02 WIB kami pulang dengan perasaan haru saat keberhasilah membentang di depan mata. Dari sederet nama yang kami terima ada seorang mahasiswa bernama Quraisyi semester I jurusan Tafsir Hadits yang berdomisili di desa Pagar Batu.
Besok kami akan melakukan survei lapangan. Dari air muka Sri mengalir sebuah kelegaan yang seolah berkata ‘akhirnya’ dan ketidaksabaran menunggu hari esok. Ia begitu antusias untuk menemui Quraisyi di desa Pagar Batu tanpa berpikir panjang apakah orang yang dimaksud telah beristri, bertunangan, atau barang kali sedang memadu asmara. Sri tak peduli. Lalu sebenarnya apa yang ia inginkan bila kenyatannya, besok, dugaan itu benar-benar telah dialami sang Quraisyi yang ia cari. Apakah Sri akan minta dimadu? Lalu bagaimana pula bila istri Quraisyi tidak mau? Ah, aku jadi tambah pusing memikirkan pertanyaan yang kurangkai-rangkai sendiri ini.
Besoknya kami berangkat menaiki motor Astreaku. Aku melajukannya dengan kecepatan yang luar biasa. Itu karena Sri yang meminta agar kami segera sampai tujuan.
Kami turun di depan rumah kecil berpotongan topi miring menghadap ke barat. Di halaman rumah itu tampak kubis, wortel, sawi dan mentimun berebut untuk meninggikan badan mereka masing-masing. Di samping dan belakang rumah tampak hamparan sawah yang membentang ditanamani padi. Rumah itu berada di deretan paling selatan. Petunjuk itu sesusai dengan yang kami peroleh dari TU kampus kemarin.
Suasananya amat sepi. Seperti tak berpenghuni. Sri segera mengucap salam dengan lembut. Yang menyahut adalah seorang perempuan bernada lirih. Lalu ia membuka daun pintu dan berdiri di sana. Perempuan setengah baya kira-kira telah berkepala empat itu menatap kami sebelum akhirnya mempersilakan kami untuk duduk di teras depan. Matanya kelihatan bengkak seperti habis menangis.
Saat Sri sampaikan maksud kedatangan kami, tiba-tiba ada cairan yang mengalir dari ekor matanya. Akhirnya kami tahu bahwa yang ia tangisi adalah kepergian anak tunggalnya 36 hari yang lalu. Anaknya tak menderita penyakit, tetapi mati secara wajar. Ia tampak semakin lara saat kami datang membangkitkan kenangan masa lalunya.
Jadilah Sri turut menangis sejadi-jadinya di dekat Ibu Quraisyi. Aku hanya mematung dan mengikat mata pada mereka yang seperti mertua dan menantu yang memiliki ikatan keluarga berpuluh tahun. Keduanya sama-sama tak mengacuhkanku.
Ketika beduk dzuhur ditabuh, barulah aku sadar kalau Sri telah tersedu-sedan selama berjam-jam. Aku memberi isyarat kepadanya agar segera berpamit dan kami bisa segera beranjak dari situ. Tangis Ibu Quraisyi pun semakin deras karena rumahnya akan sunyi lagi. Sebentar lagi ia akan terkungkung sendiri menangisi setiap inci waktu yang terus melaju dan tak kan pernah mundur. Ia tak sadar bahwa tak akan ada yang berubah setelah tetes air matanya berjatuhan. Dan ia tak mungkin lagi bertemu dengan anaknya yang tersayang. Sungguh malang nasib orang-orang yang tak siap untuk ditinggalkan.
***
Dalam perjalanan pulang aku memberi saran kepada Sri agar ia melupakan cita-citanya untuk menikah dengan Quraisyi. Ia tersenyum sekilas. Setelah itu aksi ‘mogok ngomongnya’ membuyarkan perbendaharaan kataku. Aku ikut diam dan tak berucap apa-apa lagi. Tidak kepadaku sendiri.
Sehari kemudian Sri tak berkabar. Lusanya aku mendengar bahwa ia terkena depresi. Ia tak hanya menjalankan kerja sesuai rencana, tapi kini ia mulai mencari Qusyiri di tempat-tempat yang mustahil dan itu di luar dugaan; ia terus mencari di kolong meja, kolong ranjang, dan semua benda yang mempunyai kolong. Karena tak ada ia beralih mencari di dalam seprai bantal, di bawah kasur, dan di sela-sela lipatan baju dalam lemari. Karena tetap tak ada ia lalu berlih menjelajahi bulu-bulu handuknya yang menggelantung di kawat jemuran seperti orang mencari kutu sambil berkata: di mana kamu Qusayiri? Menyingkap rumput-rumput liar di belakang rumahnya dan berteriak di pinggir sumur seperti ibu kehilangan anaknya.
Mendengar Sri sebegitu parah aku berkunjung ke rumahnya. Tidak untuk mewanti-wanti agar ia menghentikan aksinya. Tapi aku juga ikut-ikutan meniru tingkahnya. Kuikuti langkahnya menuju dapur untuk mencari Quraisyi di dalam panci, di dekat tungku, di sela-sela sumbu kompor, dan terakhir di rak piring.
Ironisnya, aku sadar sepenuhnya bahwa pekerjaan ini bodoh dan bahkan seperti mencari garam di puncak gunung. Aku hanya ingin tetap setia kawan. Sri tampak menyukainya. Dan kupikir dalam kondisi seperti itu ia butuh dihargai dan dimengerti. Sementara seluruh keluarganya malah memarahinya dan menyebutnya depresi. Namun lagi-lagi Sri tak peduli. Ia tetap teguh pada pendiriannya: berjabat tangan dengan orang yang bernama Quraisyi.
Tiba-tiba aktifitas kami terhenti karena di luar hujan panas. Kami berdua melangkah ke luar beriringan memandangi matahari dari balik rintik-rintik hujan. Reflek kubuka jaketku untuk melindungi kepalanya dari jarum air yang terasa menyengat manusuk kepala. Sri menoleh. Dari jarak yang amat dekat ia berucap pelan kepadaku.
“Selama ini aku telah mencari sesuatu yang salah. Harusnya aku tidak pusing memikirkan mimpi busuk itu. Karena yang kucari adalah sesosok seperti engkau, Man. Buka Quraisyi.”
Hening. Bunyi rintik hujan di atas seng kamar mandi. Keheningan kali itu bagai lagu merdu.
“Hari ini aku sadar bahwa jiwa tidaklah dibelah tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Maukah kau berlayar denganku, Man? ”
Aku tetap diam saat kata-kata Sri seperti suara meriam yang terus menghantam.
Gubuk Cerita, 04 Oktober 2010
24 Desember 2010
Mengenang Masa Kecil
10:02 WIB
Sejak kecil, aku selalu dipandang sebagai anak yang nakal. Banyak hal ceroboh yang kuperbuat menimbulkan masalah. Tak hanya bagi diriku sendiri tapi juga keluargaku.
Salah-satunya terjadi saat aku masih di Sekolah Dasar. Waktu itu, aku meminta pindah sekolah dari SDN Bragung III ke SDN Tambuko kepada ayah. Alasannya sederhana, karena Bragung bukan bukan desaku dan teman-temanku banyak di SDN Tambuko. Aku juga tidak tahu mengapa dulu aku disekolahakan di sana. Karena kasihan ayah mengabulkan pintaku. Aku merasa senang karena akan segera merasakan kelas baru dan teman-teman yang berbeda.
Ternyata rasa senagkutak berumur panjang. Bukan karena aku sulit beradaptasi, tapi karena di akhir tahun aku tidak naik dari kelas satu ke kelas dua. Ibu Endang, wali kelasku menyampaikan beberapa alasan mengapa aku sampai tak naik kelas. Kata beliau usiaku terlalu muda dan aku masih belum bisa membaca. Karena kesal, akhirnya kuputuskan untuk pindah sekolah lagi ke SDN Bragung III.
Dengan sabar ayah masih saja mengikuti keinginanku. Memohon maaf kepada ibu Endang dan segera mengurusi surat pindahku. Aku merasa puas karena akan segera menuju kelas dua, meski itu dilakukan secara paksa dan meminta keterangan naik kelas pada ibu Endang. Kala itu aku tak peduli.
Sampai di SDN Bragung III lagi aku merasa kecewa karena sekolah itu tak semaju tahun yang sebelumnya. Banyak kakak kelas yang sudah berhenti dan tidak meninggalkan kader untuk bertanding dalam lomba-lomba saat acara HUT 17 Agustusan yang diselenggarakan di kecamatan Guluk-Guluk. Aku merasa kesal meski bukan aku yang bertanding. Faktornya, temanku yang di SDN Tambuko mengejekku yang memilih pindah ke sekolah itu lagi. Saat itu juga aku berniat untuk pindah lagi kepada ayah.
Sesampainya di rumah, kusampaikan maksudku kepada ayah. Beliau benar-benar murka. Sebelumnya, tak pernah kutemui beliau dalam keadaan muka merah seperti kali itu. Ayah memelototiku dan berujar, “Silakan kau pindah dan urusi surat pindahmu sendiri!”
Aku mafhum atas sikap ayah yang akhirnya merasa kesal kepadaku. Berapa kali beliau harus mengurus raport dan suarat pindahku. Tentulah beliau juga malu pada seluruh dewan guru baik di SDN Tambuko maupun di SDN Bragung III. Sungguh aku telah menjadi anak durhaka atas sikap plin-planku kali itu.
Aku mencoba mengurusi surat pindahku sendiri, namun pihak sekolah meminta agar waliku yang mengahadap. Bukan aku. Aku memohon-mohon kepada ayah dan berjanji bahwa ini adalah cerita pindah sekolah yang terakhir. Aku sungguh tidak akan mengulanginya lagi. Memegang janjiku, ayahku mau.
Tuntaslah perkara pindah sekolah. Di tahun ketiga, yakni kelas tiga SD, kecerobohanku kembali menuai masalah.
Ada salah satu kawan sekelasku yang sangat menyebalkan. Namanya Horul. Kurasa dia adalah kawan yang congkak dan pengecut. Sifat angkuhnya kadang kala membuatku tergerak untuk memberinya sedikit pelajaran.
Pernah, dia memelototiku dengan aneh. Tatapan mengejek dicampur dengan senyuman kenes. Sungguh sikap memuakkan yang membuatku ingin muntah-muntah. Seketika itu juga aku menghampirinya lalu menamparnya sekuat tenaga. Entah keberanian dari gelas mana yang mendorongku melakukannya.
Aku sendiri selalu bangga saat merasa menjadi anak lelaki. Setelah besar, aku menyadari, mungkin kampungku yang banyak melahirkan anak lelaki dan sedikit anak perempuan telah berhasil mencetak jiwa maskulin dalam diriku. Dan itu kurasakan saat aku senang berteman dengan anak lelaki di sekolahku. Bahkan saat teman-teman perempuanku bermain lompat tali dan menari-nari, aku malah ikut bersepeda mendaki gunung dengan teman-teman lelakiku.
Baiklah! Kulanjutkan cerita pertarunganku. Meski Horul pengecut dan anak mama, ternyata dia cukup kuat. Ia mendorong badanku sampai oleng dan tertabrak bangku. Aku kehilangan kendali. Aku mengutuk-ngutuk dalam hati lalu berdiri dan menjambak rambutnya berulang kali. Ia menendang-nendang lututku. Kutinju kepalanya dan mencakar pipinya menggunakan kuku-kuku tanganku yang kebetulan panjang. Ia menatapku pasrah. Kukira dia sedang berpikir bagaimana dia harus membalasku dengan tindakan yang lebih ekstrim. Namun ia malah menangis sejadi-jadinya dan meneriakkan namaku sebagai sumber masalah.
Sungguh di luar dugaan. Tak kusangka ia akan melakukan serangan balik yang justru akan membuatku dipanggil ke kantor. Aku segera melesat pergi ke belakang sekolah untuk menyelamatkan diri.
Dua puluh langkah saja dari belakang sekolah, aku telah mendapati tempat persembunyian. Di sana ada kali berbentuk kolam berukuran 3x4 meter. Namanya Sempangan. Kali Sempangan merupakan tempat mandi dan mencuci ke dua setelah sumber Bukoh, sumber utama yang terletak di lereng bukit Pangilen. Kalau hari Ahad, hari libur sekolah, aku biasa ikut ibu ke kali Sempangan. Kurasa di sana adalah tempat yang aman untukku bersembunyi karena di dekatnya ada pematang yang ditumbuhi rerimbunan membentuk semak. Aku bersembunyi di sana sampai kira-kira pelajaran usai dan semua siswa pulang.
Sepulangnya, aku disambut dengan omelan ibu yang panjang kali lebar. Ibu bilang bahwa ibu Horul bertandag ke rumahku untuk mengataiku dan menasehati ibu agar mendidikku menjadi anak yang baik. Selain itu, ibu Horul juga meminta agar ibu memberiku pelajaran. Ia tidak terima atas luka-luka yang diderita anaknya akibat ulahku. Bayangkan saja, betapa murkanya ibu terhadapku kala itu. Aku tetap berdiri seraya menunduk saat ibu terus mewanti-wanti dan menunjuk-nunjuk mukaku dengan telunjuknya.
Saat omelan ibu berakhir, yakni sampai kakiku kesemutan, aku segera menuju kamar dan mengunci pintu. Aku tidak menangis. Tapi nyaris melakukannya. Bukan karena aku telah menyesal melakukan perkelahian itu, tapi karena kekecewaan ibu atas sikap buruk yang kuperbuat. Meski begitu, hal itu tak membuatku berhenti membuat ulah.
Banyak kekacauan lain yang kulakukan selain itu. Sampai akhirnya aku besar dan menyadari betapa kacaunya sikapku di masa kecil. Aku tersenyum mengenang masa-masa kecilku yang sungguh menggelikan itu. Sekarang pun aku sendiri belum mengerti apakah aku telah dewasa atau belum. Tapi aku hanya ingin membuktikan kepada ayah dan ibu bahwa aku telah berubah.
Gubuk Cerita, 01 Desember 2010
Sejak kecil, aku selalu dipandang sebagai anak yang nakal. Banyak hal ceroboh yang kuperbuat menimbulkan masalah. Tak hanya bagi diriku sendiri tapi juga keluargaku.
Salah-satunya terjadi saat aku masih di Sekolah Dasar. Waktu itu, aku meminta pindah sekolah dari SDN Bragung III ke SDN Tambuko kepada ayah. Alasannya sederhana, karena Bragung bukan bukan desaku dan teman-temanku banyak di SDN Tambuko. Aku juga tidak tahu mengapa dulu aku disekolahakan di sana. Karena kasihan ayah mengabulkan pintaku. Aku merasa senang karena akan segera merasakan kelas baru dan teman-teman yang berbeda.
Ternyata rasa senagkutak berumur panjang. Bukan karena aku sulit beradaptasi, tapi karena di akhir tahun aku tidak naik dari kelas satu ke kelas dua. Ibu Endang, wali kelasku menyampaikan beberapa alasan mengapa aku sampai tak naik kelas. Kata beliau usiaku terlalu muda dan aku masih belum bisa membaca. Karena kesal, akhirnya kuputuskan untuk pindah sekolah lagi ke SDN Bragung III.
Dengan sabar ayah masih saja mengikuti keinginanku. Memohon maaf kepada ibu Endang dan segera mengurusi surat pindahku. Aku merasa puas karena akan segera menuju kelas dua, meski itu dilakukan secara paksa dan meminta keterangan naik kelas pada ibu Endang. Kala itu aku tak peduli.
Sampai di SDN Bragung III lagi aku merasa kecewa karena sekolah itu tak semaju tahun yang sebelumnya. Banyak kakak kelas yang sudah berhenti dan tidak meninggalkan kader untuk bertanding dalam lomba-lomba saat acara HUT 17 Agustusan yang diselenggarakan di kecamatan Guluk-Guluk. Aku merasa kesal meski bukan aku yang bertanding. Faktornya, temanku yang di SDN Tambuko mengejekku yang memilih pindah ke sekolah itu lagi. Saat itu juga aku berniat untuk pindah lagi kepada ayah.
Sesampainya di rumah, kusampaikan maksudku kepada ayah. Beliau benar-benar murka. Sebelumnya, tak pernah kutemui beliau dalam keadaan muka merah seperti kali itu. Ayah memelototiku dan berujar, “Silakan kau pindah dan urusi surat pindahmu sendiri!”
Aku mafhum atas sikap ayah yang akhirnya merasa kesal kepadaku. Berapa kali beliau harus mengurus raport dan suarat pindahku. Tentulah beliau juga malu pada seluruh dewan guru baik di SDN Tambuko maupun di SDN Bragung III. Sungguh aku telah menjadi anak durhaka atas sikap plin-planku kali itu.
Aku mencoba mengurusi surat pindahku sendiri, namun pihak sekolah meminta agar waliku yang mengahadap. Bukan aku. Aku memohon-mohon kepada ayah dan berjanji bahwa ini adalah cerita pindah sekolah yang terakhir. Aku sungguh tidak akan mengulanginya lagi. Memegang janjiku, ayahku mau.
Tuntaslah perkara pindah sekolah. Di tahun ketiga, yakni kelas tiga SD, kecerobohanku kembali menuai masalah.
Ada salah satu kawan sekelasku yang sangat menyebalkan. Namanya Horul. Kurasa dia adalah kawan yang congkak dan pengecut. Sifat angkuhnya kadang kala membuatku tergerak untuk memberinya sedikit pelajaran.
Pernah, dia memelototiku dengan aneh. Tatapan mengejek dicampur dengan senyuman kenes. Sungguh sikap memuakkan yang membuatku ingin muntah-muntah. Seketika itu juga aku menghampirinya lalu menamparnya sekuat tenaga. Entah keberanian dari gelas mana yang mendorongku melakukannya.
Aku sendiri selalu bangga saat merasa menjadi anak lelaki. Setelah besar, aku menyadari, mungkin kampungku yang banyak melahirkan anak lelaki dan sedikit anak perempuan telah berhasil mencetak jiwa maskulin dalam diriku. Dan itu kurasakan saat aku senang berteman dengan anak lelaki di sekolahku. Bahkan saat teman-teman perempuanku bermain lompat tali dan menari-nari, aku malah ikut bersepeda mendaki gunung dengan teman-teman lelakiku.
Baiklah! Kulanjutkan cerita pertarunganku. Meski Horul pengecut dan anak mama, ternyata dia cukup kuat. Ia mendorong badanku sampai oleng dan tertabrak bangku. Aku kehilangan kendali. Aku mengutuk-ngutuk dalam hati lalu berdiri dan menjambak rambutnya berulang kali. Ia menendang-nendang lututku. Kutinju kepalanya dan mencakar pipinya menggunakan kuku-kuku tanganku yang kebetulan panjang. Ia menatapku pasrah. Kukira dia sedang berpikir bagaimana dia harus membalasku dengan tindakan yang lebih ekstrim. Namun ia malah menangis sejadi-jadinya dan meneriakkan namaku sebagai sumber masalah.
Sungguh di luar dugaan. Tak kusangka ia akan melakukan serangan balik yang justru akan membuatku dipanggil ke kantor. Aku segera melesat pergi ke belakang sekolah untuk menyelamatkan diri.
Dua puluh langkah saja dari belakang sekolah, aku telah mendapati tempat persembunyian. Di sana ada kali berbentuk kolam berukuran 3x4 meter. Namanya Sempangan. Kali Sempangan merupakan tempat mandi dan mencuci ke dua setelah sumber Bukoh, sumber utama yang terletak di lereng bukit Pangilen. Kalau hari Ahad, hari libur sekolah, aku biasa ikut ibu ke kali Sempangan. Kurasa di sana adalah tempat yang aman untukku bersembunyi karena di dekatnya ada pematang yang ditumbuhi rerimbunan membentuk semak. Aku bersembunyi di sana sampai kira-kira pelajaran usai dan semua siswa pulang.
Sepulangnya, aku disambut dengan omelan ibu yang panjang kali lebar. Ibu bilang bahwa ibu Horul bertandag ke rumahku untuk mengataiku dan menasehati ibu agar mendidikku menjadi anak yang baik. Selain itu, ibu Horul juga meminta agar ibu memberiku pelajaran. Ia tidak terima atas luka-luka yang diderita anaknya akibat ulahku. Bayangkan saja, betapa murkanya ibu terhadapku kala itu. Aku tetap berdiri seraya menunduk saat ibu terus mewanti-wanti dan menunjuk-nunjuk mukaku dengan telunjuknya.
Saat omelan ibu berakhir, yakni sampai kakiku kesemutan, aku segera menuju kamar dan mengunci pintu. Aku tidak menangis. Tapi nyaris melakukannya. Bukan karena aku telah menyesal melakukan perkelahian itu, tapi karena kekecewaan ibu atas sikap buruk yang kuperbuat. Meski begitu, hal itu tak membuatku berhenti membuat ulah.
Banyak kekacauan lain yang kulakukan selain itu. Sampai akhirnya aku besar dan menyadari betapa kacaunya sikapku di masa kecil. Aku tersenyum mengenang masa-masa kecilku yang sungguh menggelikan itu. Sekarang pun aku sendiri belum mengerti apakah aku telah dewasa atau belum. Tapi aku hanya ingin membuktikan kepada ayah dan ibu bahwa aku telah berubah.
Gubuk Cerita, 01 Desember 2010
02 Desember 2010
Catatan II
14:51 WIB.
Semua bayi terlahir dengan semangat. Tangis pertama pemecah keheningan, gerak enerjik lambangkan manusia dinamis, kerling mata yang cerdas, juga tawa yang dapat sejukkan jiwa-jiwa. Ke mana susutnya semangat itu saat kita beranjak dewasa? Mungkinkan ia tengah bersembunyi di sebuah tempat antah-berantah? Dan mungkin hanya kita yang dapat menemukan dan merangkulnya kembali.
Sejak kecil, aku selalu berusaha untuk membuat ayah dan ibuku tersenyum, meskipun kali itu, aku masih belum mengerti bagaimana caranya. Terkadang cara-cara yang kupraktikkan keliru dan kecerobohan alamiahku membuat kedua orang tuaku kecewa.
Suatu saat akan kuceritakan kepadamu tentang masa kecilku itu. Namun sekarang aku hanya ingin membahas tentang semangat. Itu saja.
Sampai di Sekolah Menengah Pertama, aku selalu berusaha dan berjuang untuk mengukir senyum di bibir ayah dan ibu. Usaha yang kulakukan kian hari kian kutingkatkan. Meski tak berhasil membuat mereka bangga, setidaknya aku bisa mencegah agar mereka tidak kecewa terhadap tindak-tanduk yang kulakukan. Begitulah caraku selalu menyibukkan diri untuk menegakkan eksistensiku sebagai manusia. Agar keberadaanku diakui oleh orang-orang di sekitarku.
Memasuki tingkat Sekolah Menengah Atas, semangatku kian membuncah. Niatku menjadi bercabang. Tak hanya ingin membuat kedua orang tuaku bangga, tapi juga sekolah. Mungkin ini disebabkan aku semakin mempunyai rasa kepemilikan pada Madaris III Annuqayah, lembaga tempatku mengais ilmu dan belajar tentang kehidupan.
Puncaknya adalah kelas XI SMA. Waktu itu aku benar-benar merasa sesaudara dengan teman-teman kelasku. Kami selalu kompak dalam segala hal. Termasuk menjadi polor dalam beberapa kegiatan di sekolah kami. Sungguh tak dapat kubahasakan bagaimana merahnya semangat mereka. Cukup engkau tahu saja bahwa kami benar-benar terbakar semangat nasionalisme sampai gosong!
Namun kini, aku kebingungan mencari mozaik-mozaik semangatku yang raib entah ke mana. Sejak memasuki Perguruan Tingngi, aku menjadi berubah drastis. Kurasa hal-hal yang kulakukan tak sehebat dulu. Aku mengalami kemerosotan yang luar biasa. Aku menjadi mahasiswa yang mengecewakan bagi diriku sendiri.
Aku merasa malu akan satya yang kutetiakkan dengan kawan-kawan di masa SMA dulu; menanamkan jiwa agent of change. Ternyata hal itu hanyalah bualan yang omong kosong.
Impianku menjadi aktifis kampus kian hari tambah memudar. Salah satu faktornya, aku mendengar selentingan bahwa KBM di kampusku menggunakan sistem munarkhi absolut. Menurut sebagian kakak tingkat, aku tidak boleh terlalu berharap untuk berkecimpung di dunia organisasi kampus, karena jika bukan dari daerah pondok tertentu (yang maaf, tidak dapat kusebutkan) di Annuqayah, maka tidak akan direkrut dalam kepengurusan KBM.
Setidaknya, kini, aku harus menjadi mahasiswa yang aktif di kelas saja. Selain itu, aku tidak bisa lagi membayangkan bagaimana aku harus menjadi mahasiswa yang tak berguna. Sungguh mengerikan!
Gubuk Cerita, 02 Desember 2010.
Semua bayi terlahir dengan semangat. Tangis pertama pemecah keheningan, gerak enerjik lambangkan manusia dinamis, kerling mata yang cerdas, juga tawa yang dapat sejukkan jiwa-jiwa. Ke mana susutnya semangat itu saat kita beranjak dewasa? Mungkinkan ia tengah bersembunyi di sebuah tempat antah-berantah? Dan mungkin hanya kita yang dapat menemukan dan merangkulnya kembali.
Sejak kecil, aku selalu berusaha untuk membuat ayah dan ibuku tersenyum, meskipun kali itu, aku masih belum mengerti bagaimana caranya. Terkadang cara-cara yang kupraktikkan keliru dan kecerobohan alamiahku membuat kedua orang tuaku kecewa.
Suatu saat akan kuceritakan kepadamu tentang masa kecilku itu. Namun sekarang aku hanya ingin membahas tentang semangat. Itu saja.
Sampai di Sekolah Menengah Pertama, aku selalu berusaha dan berjuang untuk mengukir senyum di bibir ayah dan ibu. Usaha yang kulakukan kian hari kian kutingkatkan. Meski tak berhasil membuat mereka bangga, setidaknya aku bisa mencegah agar mereka tidak kecewa terhadap tindak-tanduk yang kulakukan. Begitulah caraku selalu menyibukkan diri untuk menegakkan eksistensiku sebagai manusia. Agar keberadaanku diakui oleh orang-orang di sekitarku.
Memasuki tingkat Sekolah Menengah Atas, semangatku kian membuncah. Niatku menjadi bercabang. Tak hanya ingin membuat kedua orang tuaku bangga, tapi juga sekolah. Mungkin ini disebabkan aku semakin mempunyai rasa kepemilikan pada Madaris III Annuqayah, lembaga tempatku mengais ilmu dan belajar tentang kehidupan.
Puncaknya adalah kelas XI SMA. Waktu itu aku benar-benar merasa sesaudara dengan teman-teman kelasku. Kami selalu kompak dalam segala hal. Termasuk menjadi polor dalam beberapa kegiatan di sekolah kami. Sungguh tak dapat kubahasakan bagaimana merahnya semangat mereka. Cukup engkau tahu saja bahwa kami benar-benar terbakar semangat nasionalisme sampai gosong!
Namun kini, aku kebingungan mencari mozaik-mozaik semangatku yang raib entah ke mana. Sejak memasuki Perguruan Tingngi, aku menjadi berubah drastis. Kurasa hal-hal yang kulakukan tak sehebat dulu. Aku mengalami kemerosotan yang luar biasa. Aku menjadi mahasiswa yang mengecewakan bagi diriku sendiri.
Aku merasa malu akan satya yang kutetiakkan dengan kawan-kawan di masa SMA dulu; menanamkan jiwa agent of change. Ternyata hal itu hanyalah bualan yang omong kosong.
Impianku menjadi aktifis kampus kian hari tambah memudar. Salah satu faktornya, aku mendengar selentingan bahwa KBM di kampusku menggunakan sistem munarkhi absolut. Menurut sebagian kakak tingkat, aku tidak boleh terlalu berharap untuk berkecimpung di dunia organisasi kampus, karena jika bukan dari daerah pondok tertentu (yang maaf, tidak dapat kusebutkan) di Annuqayah, maka tidak akan direkrut dalam kepengurusan KBM.
Setidaknya, kini, aku harus menjadi mahasiswa yang aktif di kelas saja. Selain itu, aku tidak bisa lagi membayangkan bagaimana aku harus menjadi mahasiswa yang tak berguna. Sungguh mengerikan!
Gubuk Cerita, 02 Desember 2010.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Selama menikah, kejutan dari suami hampir bisa dihitung jari. Bagi saya yang memang agak sedikit cuek dengan hadiah, itu adalah hal wajar. N...
-
Perjalanan umroh kali ini begitu mengejutkan. Semua bermula dari gurauan bersama sahabat saya, Devi. Ia dan suaminya berencana umroh bersama...
-
Dalam hidup kita membangun sebuah cerita. Ketika cerita itu berlalu ia berubah nama menjadi kenangan. Masing-masing kita memilikinya. Namun...