Seorang pria tua mengenakan sorban hijau dengan rambut dan jenggot panjang dicat warna jingga telah menyedot perhatian saya sepulang dari masjid Nabawi pada 6 Februari pukul 17.10 WAS, kala itu. Karena perbedaan mencolok, orang asing berkebangsaan India itu membuat langkah saya tertahan. Saya menepuk pundak Devi memintanya sejenak menunggu, lalu mengeluarkan kamera dan bersiap memotretnya dari kejauhan.
Tatapan lemah orang itu tidak asing. Dari balik rimbun jenggot dan alisnya saya mengenali wajah itu. Terutama kerutan dahi, cekungan ujung mata, serta pada postur tubuh beliau saya menemukan kemiripan dengan almarhum aba mertua saya. Meski hanya sekilas, pandangan mata beliau benar-benar membuat saya tertegun. Ada perasaan hangat yang tiba-tiba hadir memenuhi dada.
Devi mengur saya karena telah lancang mengambil gambar orang tanpa izin. Sungguh saya pun bingung, magnet dari kutub mana yang menarik saya untuk berbalik dan melakukan kesalahan itu. Kesalahan yang justru saya syukuri, karena di hati ini ada perasaan puas dengan meyakini almarhum aba telah menjumpai saya lewat sosok itu. Sebuah perjumpaan singkat yang menjadi isyarat bahwa beliau berbahagia serta mendampingi perjalanan agung kami kali ini.
Usai jamaah isya, ketika suami menelpon, saya baru ingat untuk mengabarkan perjumpaan tanpa sapa dengan aba. Di seberang telpon, ada rasa sedih sekaligus haru dari getar suara yang saya rasakan. Suasana haru itu juga memecah ingatan saya pada kejadian serupa sebelumnya yang saya alami di Mekah; berjumpa dengan sosok ibu.
Sulit sekali memepercayai pengalaman emosional semacam ini bagi siapapun yang belum mengalami langsung. Secara akal, mungkin memang terkesan janggal seseorang yang telah wafat hadir kembali menembus ruang dan waktu. Tetapi kali ini, izinkan saya bercerita apa adanya. Keajaiban yang saya alami ketika mengumrohkan ibu saya.
Rombonga kami yang terdiri dari delapan orang bersepakat untuk mengambil miqot pada jam 2 dini hari demi mengejar tawaf sebelum subuh. Sementara menunggu adan subuh, para suami memilih shalat di dekat kakbah, sementara kami langsung mengambil shaf di area jalan menuju sai dekat dispenser zam-zam. Saya mengeluarkan snack pengganjal lapar dari dalam tas membuat mata Fikoh berbinar bintang. Devi cekatan mengambil tiga gelas zam-zam.
Pada tegukan terkahir, perempuan paruh baya bergaris wajah India di samping saya menyapa dengan senyuman. Saya berusaha berkomunikasi dengan bahasa Inggris, tapi dia tidak bisa. Dia menggunakan bahasa isyarat memegang perutnya. Pikir saya, mungkin beliau lapar juga. Saya tawari sosis tapi dia menggeleng.
Tangannya kembali memegang perutnya sembari digerakkan seumpama balon. Saya langsung paham, mungkin dia mempertanyakan apakah saya punya anak? Saya pun menggeleng. Perasaan saya terkesiap seketika saat dia mengangkat kedua tangan saya untuk mengamini doa-doanya.
Mendengar doa-doa yang dia panjatkan adalah penggalan ayat-ayat al-Quran tentang keturunan membuat air mata saya lancar mengalir. Bayangan ibu berkelebat. Perasaan saya terenyuh dalam terka, apakah manusia di hadapan saya ini adalah ibu? Apakah beliau benar-benar hadir mendampingi prosesi umroh yang saya hadiahkan untuknya? Apakah kerinduan yang selama ini saya pendam turut beliau rasakan gelombangnya? Dan banyak pertanyaan lain mengiringi amin panjang yang saya panjatkan.
Ibu adalah semangat yang tak pernah padam. Beliau semakin hidup mengisi setiap langkah dalam sisa perjalanan ini. Setiap kali mengenang beliau, ada perasaan sakit memenuhi dada. Sampai-sampai semua hal baik yang saya lakukan, apabila itu diterima oleh Tuhan, saya hadiahkan untuk beliau.
Ibu adalah ruang yang selalu saya dambakan untuk pulang. Pelukannya hangatnya, senyumannya, dan suara jernihnya ketika memanggil saya Mul sungguh saya rindukan. Maka usai jamaah subuh, saya memeluk perempuan di samping saya dengan meyakini sepenuhnya bahwa dia memang sosok ibu yang Allah kirimkan sebagai oasis.
Sapuan hangat tangannya di punggung saya semakin erat membuat tangis ini semakin tak karuan. Lama kami berpelukan hingga dua teman saya memepertanyakan kejadian apakah gerangan yang telah saya alami. Setelah perempuan tadi berpamitan dan melambai, saya masih beku tak bisa menjelaskan.
Sosok itu hilang di antara keramaian. Saya melangkah menuju tempat niat sai masih dalam mode diam. Di hati ini ada semangat baru untuk menempuh tujuh kali putaran tentu saja karena dibersamai oleh ibu saya; Hosna binti Ismail. Alfatihah.
Tambuko, 2 Maret 2026