11 Januari 2025

"Melangkah dengan Ringan Melalui Hidup Sederhana"


Identitas Buku

Judul Buku     : Seni Membuat Hidup Jadi Lebih Ringan
Penulis           : Francine Jay
Alih Bahasa   : Annisa Cinantya Putri
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama 
Tebal Buku : 321 halaman
ISBN             : 978-602-06-3580-4


No matter how old I get, it's all just a repeat of what came before. I think certain types of processes don't allow for any variation. If you have to be part of that process, all you can do is transform-or perhaps distort-yourself through that persistent repitition, and make that process a part of your own personality. (Running, Murakami, 68) 

***

Seperti halnya quote Murakami di atas, aktivitas dan lingkungan tempat kita tinggal tentu 'berputar' seperti ini saja; kotor, full of clutter, berantakan-dibereskan-kotor lagi-ditata ulang-amburadul lagi. Intinya, hidup ini hanyalah pengulangan yang sudah-sudah. Apalagi rumah dengan banyak balita. Sungguh tak mungkin bila dalam tempo yang agak lama, atau sepanjang hari ruangan bersih dan tertata sempurna. Tidak akan pernah bisa kecuali kita belum memiliki anak atau anak-anak sudah besar dan bisa diajak kerja sama untuk beres-beres barang di rumah. Cara sederhana untuk menyiasatinya adalah meminimalisir barang-barang  di rumah, baik milik ayah dan ibu maupun milik anak-anak.


Dalam pengantarnya, Francine Jay mengatakan bahwa buku ini tak hanya membahas tips atau trik bagaimana mengurangi barang seminim mungkin. Lebih mendalam lagi, penulis mengajak kita untuk memperbaiki mindset dengan moto "Hidup Ringan" lalu mulai mengubah tindakan kita dalam segala aspek kehidupan.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, pasca terbitnya buku metode beres-beresnya Marie Kondo, merebaklah buku-buku (terjemahan) minimalist living yang tentunya sangat terkait dengan metode beres-beres. Lalu, apa bedanya buku ini dengan buku-buku minimalisme yang lain?


Tak hanya mengusung moto hidup ringan sebagai langkah kokoh menuju pengurangan jumlah barang, Miss Minimalist (julukan untuk Francine  Jay) mengajak kita untuk meringankan langkah, kadar stres serta meringankan jiwa.


Dalam pendahuluannya, Francine Jay menceritakan perjalanannya bagaimana ia tertarik menjadi penganut minimalis. Dalam bagian ini pula ia menguraikan tentang kelebihan buku yang ditulisnya. Buku ini tak hanya berisi tips dan trik bagaimana menerapkan hidup minimalis, tapi bagaimana minimalisme menjadi pola pikir yang kokoh sehingga tindakan dan prilaku minimalis dalam praktiknya menjadi lebih mudah dan menyenangkan.


Di bagian meringankan isi rumah, penulis dengan panjang lebar dan detail menguraikan teknik-teknik membereskan, mengatur dan menata kembali barang-barang di setiap pojok dan ruang dalam rumah.


Di bagian meringankan langkah, penulis menuntun kita cara bijak berkonsumsi, berbelanja dengan penuh kesadaran yang ramah lingkungan serta mencapai kehidupan harmonis bersama alam. Jay juga menawarkan teknik mengkonsumsi makanan secara berkesadaran melalui sensitivitas kita berpikir filosofis sebelum akhirnya makanan tersebut masuk ke dalam pencernaan kita.


Di bagian meringankan kadar stres, penulis memaparkan tips menghapus hal-hal tak bermakna dari aktivitas sehari-hari dan mengisi hari-hari yang lebih prioritas, bermakna dan membahagiakan. Yang menarik, penulis juga menawarkan metode meringankan pekerjaan dengan istilah 'batu loncatan'. Melakukan batu loncatan maksudnya ialah dengan mempraktikkan target-target kecil atau sedikit namun konsisten dan disiplin sehingga pada akhirnya akan menghasilkan sesuatu yang besar dan menakjubkan. Kalau boleh saya bandingkan, mungkin metode ini agak mirip dengan teori atomic habitsnya James Clear.


Dan di bagian terakhir; meringankan jiwa, penulis membantu kita bagaimana melampaui ego diri dan mengelola emosi dengan tenang dan anggun. Hasilnya, kita mampu bertindak dengan welas asih dan menemukan hubungan yang lebih mendalam dengan semesta.


Saya memberi kesimpulan begini; bacalah buku-buku minimalisme, metode beres-beres dan decluttering karya siapapun itu. Namun, yang harus dilakukan pertama adalah kamu harus jatuh cinta padanya; ubahlah mindset dan ghirahmu, maka proses mempraktikkannya tentu mudah dan sangat menyenangkan. Jatuh cintalah kamu pada sesuatu (yang baik) lalu wujudkanlah dengan sedemikian rupa, melalui hal-hal indah dan bermakna. 
***


Khadijah Abbas: penikmat literasi, pengabdi di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep. 

29 Desember 2024

Refleksi Residensi RAKARA

Di penghujung tahun ini, senang sekali saya berkesempatan mengikuti acara RAKARA residensi cerpen yang diadakan oleh Lesbumi MWCNU Gapura, Sumenep, bekerjasama dengan komunitas Damar Korong. Inilah acara yang ingin saya ikuti sejak lama, bermukim di sebuah tempat untuk mengisolasi diri dari riuhnya dunia demi menemukan kembali gairah dan konsentrasi menulis. Tak disangka, dari acara ini saya benar-benar menemukan hal luar biasa dan bahkan di luar ekspektasi.  


Awalnya saya mendapat informasi acara ini dari guru saya, Kiai M Mushthafa. Beliau memantik semangat menulis saya yang telah lama redup. Berbekal izin suami dan karya cepen amatir yang coba saya tulis lagi secara dadakan alhamdulillah saya lolos sebagai 15 peserta dari 46 pendaftar se-Madura. 


Bagi saya ini adalah awal yang baik untuk mulai menekuni kembali proses tulis-menulis. Benar saja, saya dipertemukan dengan orang-orang hebat sebagai mentor di acara tersebut. Sebutlah Matroni Muserang, A. Warist Rovi, Khairul Umam, Siswanto, serta mentor lain yang telah lama berkecimpung di dunia sastra, menerbitkan buku, dan menembus media-media hebat di Indonesia. Tak terbayangkan pula di antara 15 peserta itu, saya dipertemukan kembali dengan Ummul Hasanah, kawan lama sesama alumni Annuqayah yang lama tinggal di Fiji sebagai staf khusus di Kedutaan Besar Rapublik Indonesia. 


Meski cukup singkat, yakni dua hari dari tanggal 27-28 Desember, acara ini benar-benar memberikan kesempatan dan kenangan berharga bagi saya. Terutama di hari kedua, saat memulai pagi dengan olah tubuh, tadabbur alam menyusuri jalanan asri daerah Tastaman, riset data tentang produksi gerabah ke rumah warga di desa Andulang, dan kemudian eksplorasi pantai Bintaro yang menyuguhkan eksotisme surga tersembunyi bagi penikmat sepi. 


Fokus menulis di bibir pantai Bintaro rasanya seperti meditasi yang mampu menyegarkan mental. Hujan yang tiba-tiba turun sama sekali tak menjadi masalah. Kami semua mulai berkonsentrasi menyusun kerangka cerpen untuk kemudian dipresentasikan di depan mentor pada waktu yang telah ditentukan. Ini sungguh sangat menantang namun juga mengasyikkan. Bermain-main lagi dengan imajinasi, memilah diksi, menyusun paragraf adalah kesibukan yang ingin saya tekuni kembali. 


Acara ditutup dengan penampilan dari sanggar Conglet, Language Theater Indonesia, deklamasi, dan musikalisasi puisi. Sayangnya rombongan kami dari SMAGA Annuqayah pulang tanpa menuntaskan acara karena cuaca dan jarak yang tidak mendukung. Di mobil, sambil mendekap tas setengah kering karena kehujanan siang tadi, saya merenungkan banyak hal. Betapa benar adanya bahwa Gapura adalah lumbung sastrawan. Tua muda bergiat di bidang sastra.


Mengamati ketua panitia, Kak Abdullah Member, mendadak saya teringat orang-orang kampung saya yang sebaya dengannya hanya sibuk membajak sawah atau menyabit rumput. Saat remaja di sini mampu berkarya dan pandai beretorika, anak muda di sekitar saya menghabiskan waktu dengan bermain game, tak sempat bersentuhan dengan buku, apalagi menulis. Sungguh semangat literasi adalah sebuah budaya yang mesti diupayakankan sebab bukan tidak mungkin kita akan mampu menggapai kembali kejayaan peradaban Islam yang dulu tegak berkibar. Bismillah. 



Tambuko, 29 Desember 2024

 

24 Agustus 2024

Pohon Jeruk dan Keajaiban Shalawat

Selama menikah, kejutan dari suami hampir bisa dihitung jari. Bagi saya yang memang agak sedikit cuek dengan hadiah, itu adalah hal wajar. Namun yang paling berkesan adalah saat dia menghadiahi saya tiga pohon jeruk langsung berbuah sekitar tiga tahun yang lalu. Saya bergembira karena tak perlu repot lagi membeli jeruk nipis saat membuat sambel sate, tak perlu kesulitan mencari jeruk limau, dan tak perlu merasa bahwa lemon adalah jeruk paling mahal, karena ketiganya sudah bisa saya petik secara gratis, di halaman rumah sendiri. 


Bulan pertama saya masih asyik menikmati buah jeruk yang cukup lebat. Tetapi memasuki bulan ketiga, saat bertepatan dengan musim kemarau, saya menyadari betapa perawatan pada pohon jeruk tidaklah mudah. Mulai dari pemangkasan, penyiangan, pemupukan, dan belum lagi drama daunnya dipatok ayam atau dimamah ulat.


Semakin hari pohon jeruk saya tampak mengenaskan. Dipupuk tidak mempan, disemprot dengan sabun cuci piring sesuai petunjuk Mbah Google juga tetap tidak ada reaksi dan tanda tanda terselamatkan. Akhirnya saya memindahkan ketiganya ke halaman belakang dapur. 


Rimbun pepohonan di halaman belakang ternyata tidak memberikan cahaya matahari yang cukup bagi tanaman jeruk saya. Keputusan memindahkan ke lokasi yang salah membuat saya pasrah. Seminggu berlalu, ketiga pohon jeruk tadi mengalami sakaratul maut. 


Dengan perasaan sedih saya terduduk di dekat batang pohon jeruk lemon yang hanya tinggal sejengkal, keropos, dan berwarna abu-abu. Dua lainnya sudah tak tampak keberadaannya di muka bumi. Hampir saya menangis. Sungguh tidak berlebihan memang saya mengalami goncangan kesedihan kala itu. 


Pikiran kacau mendorong saya pada sebuah inisiatif yang mustahil bagi logika tapi tidak bagi hati dan keyakinan, yaitu bernadzar. Rasa tidak rela ditinggal mati oleh tanaman kesayangan, membuat saya berani membisiki batang pohon jeruk lemon selayaknya dua insan saling mengikat janji. 


"Hiduplah..! Jika kamu berbuah maka akan saya jadikan hidangan maulid Nabi Muhammad SAW. Buahmu akan saya ajak bershalawat."


Tiga tahun lamanya saya tidak pernah berani ke halaman belakang. Selain rimbun pohon yang semakin membelukar membuat saya takut ular, juga comberan dari kamar mandi melebar sehingga dihuni beberapa biawak berkurang besar. Seram sekali membayangkan jika ternyata salah satu dari biawak itu adalah bayi buaya. 


Kesempatan menapaki halaman belakang baru saya dapatkan kemarin lusa, saat kakak ipar melakukan kegiatan bersih-bersih. Ia mulai menyibak tanaman liar yang tumbuh membelukar, merimbuni pohon pepaya, kersen, mangga, dan salak. Pohon kopi tanaman ibu yang buahnya lebat juga tak sengaja ditebang membuat saya sedikit kesal. 


Sore hari saat suasana tenang, saya memandangi halaman belakang. Pandangan saya tertuju pada posisi di mana saya pernah menanam pohon jeruk. Betapa terkejutnya saya menyaksikan fenomena yang sukar diterima akal. Sejengkal pohon jeruk yang dulu kering dan keropos tiba-tiba berdaun segar, menampakkan cabang cabang berwarna hijau.
 

Saya masih tertegun menyadari betapa kisah-kisah keajaiban shalawat yang selama ini hanya saya baca dalam tulisan, kini saya alami sendiri. Di hadapan saya, sepohon tanaman perdu berjuang menggerakkan dirinya demi bisa menjadi hidangan dalam acara maulid Nabi Muhammad SAW. Saya kembali duduk seperti terakhir kali membisikkan janji seraya melafalkan ayat, "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."


24 Agustus 2024



25 Juli 2024

Review: Skincare Hada Labo dan Skin Aqua


Minggu ini saya sangat tertarik untuk membahas soal skincare bagus yang baru saya temukan. Saya mendapat rekomendasi dari seorang kawan yang kelihatan cuek dengan dunia skincare tapi ternyata paling getol melakukan eksplorasi dan rajin mencari tahu ulasan berbagai produk. Bahkan yang paling mengejutkan ia bersahabat dengan seorang dokter kecantikan bernama Dr. Irwan lulusan UI (Universitas Indonesia) dan UCL (University College London).


Sejujurnya saya termasuk orang yang kurang memperhatikan penampilan. Mungkin karena kulit wajah netral dan tidak pernah pilah-pilih produk perawatan kulit sehingga menggunakan apa saja serasa terserah. Akhirnya saya terjebak dalam tren 'booming'. Setiap kali ada produk skincare naik daun, di situ saya ikut bertengger. 


Sampailah saya pada titik kebingungan menentukan produk yang tidak terafiliasi Isrewel. Beberapa kali saya melihat review di internet, tetapi selalu merasa ragu. Akhirnya saya iseng membahas kegundahan itu dengan kawan saya, Nurul Alfia Kurniawati. 


Ia merekomendasikan produk Hada Labo dan Skin Aqua. Berikut juga membahas tentang efektivitas dua produk ini secara tuntas. Hada Labo dari dulu memang berkomitmen menggunakan bahan-bahan yang berkualitas tinggi dan sudah riset selama bertahun-tahun di Jepang, mengusung jargon perfect and simple, dan yang terpenting ownernya mendukung kebebasan Palestine. Tanpa pikir panjang, saya mengirim link produk tersebut kepada suami untuk segera ditinjau karena saat itu bertepatan dengan event 7-7 toko oren. Barulah di minggu kedua pemakaian, saya memberanikan diri untuk mengulas produk tersebut. 


Saya mulai dari toner. Bernama Gokujyun Premium Ultimate Moisturizing Lotion. Teksturnya cair, bening, tapi agak lengket karena tidak mengandung alkohol, dan tidak berwarna. Ketika diaplikasikan di wajah malah terasa seperti cairan serum. Dengan packaging yang simpel, membuatnya mudah dituang dan tidak rawan tumpah. Penampilannya tidak seperti skincare lain, benar-benar unik. Mirip botol minyak urut. 


Jika tonernya bening, moisturizernya berwarna putih seperti bodylotion. Bedanya, ia memiliki tekstur lebih cair dan tak beraroma. Sangat menyegarkan dan jika diaplikasikan dengan make up tidak membuat kulit krack. 


Bersama keduanya, saya juga mengantongi sunscreen dari Skin Aqua. Kebetulan memang dijual dalam satu toko. Setelah di apply ternyata cocok sekali untuk kulit saya yang kombinasi to oily. Meski proses menyerapnya tidak terlalu cepat, bisa kita tunggu sejenak sambil angin-anginkan. Nilai lebihnya lagi tak hanya melindungi dari paparan sinar matahari, tapi juga mengurangi minyak di wajah serta mencerahkan. 

Tiga produk ini sangat saya rekomendasikan untuk siapapun yang ingin meremajakan kulit wajahnya. Terutama bagi mereka yang memiliki kulit sangat kering atau cenderung berminyak. Harganya juga sangat bersahabat. Hasilnya pun bisa dilihat ketika bangun tidur. Bercerminlah dan voila! Kulitmu seperti tersulap menjadi kenyal, halus, dan hidup seperti rumput hijau di awal musim penghujan. Segerrr!



08 Maret 2024

Review Film Hunger; Perjalanan Menemukan Jati Diri Lewat Memasak

Film bagus menurut saya adalah yang paling banyak memberikan kesempatan untuk merenung setelah menonton. Tidak hanya berkesan secara sinematografi, akting dan scoring, namun dialog mendalam juga menjadi seni paling tinggi dalam mengaduk emosi penonton hingga merinding.


Pekan ini saya fokus menonton film-film bagus berkat link netflix berbagi dari seorang kerabat jauh di rantau. Pada mesin pencarian, iseng saya mengetik 'cooking', lalu mengantarkan saya pada saran beberapa film tentang kuliner. Film Hunger muncul di baris pertama dengan cover menarik mencuri perhatian saya.


Film ini berkisah tentang perjalanan seorang perempuan bernama Aoy (Aokbab Chutimon), koki kedai kwetiaw laris di persimpangan jalan sebuah kota di Thailand. Pada suatu hari ia menerima kartu undangan dari pembeli misterius yang mengagumi masakannya untuk bergabung ke sebuah tim di restoran fine-dining bernama Hunger.


Perjumpaan Aoy dengan Chef Paul (Peter Nopachai) sang pemilik restoran yang keras, suka berteriak, dan perfeksionis, membuatnya semakin memantaskan diri untuk bergabung dengan tim Hunger. Ia terpesona melihat sosok Chef Paul yang kemampuan memasaknya membuat orang begitu tergila-gila. Hingga ia pun mengubah standar gaya memasaknya yang dinilai kolot dan terbelakang.


Konflik disuguhkan dengan perlahan dan lembut membuat emosi saya seperti ikut berperan. Terutama saat adegan genting pemberhentian salah seorang tim chef senior yang berujung pertumpahan darah. Berikutnya sutradara juga menyelipkan pesan moral tentang konservasi satwa dilindungi dalam adegan Chef Paul dan orang kaya yang ingin menyantap burung langka. Nurani seorang Aoy tak terbendung sehingga ia pun memilih keluar dari dapur Hunger.


Berbagai pesan moral dapat tersampaikan dan memberikan ruang bagi saya untuk merenung. Film ini adalah sebuah kritik sosial yang menampilkan kesenjangan di masyarakat. Chef Paul sebenarnya gambaran kita, manusia biasa yang penuh ambisi dan keserakahan. Sementara Aoy adalah sebuah petunjuk bagi kita dalam menemukan alasan untuk kembali pulang. 



30 November 2023

Sebelas Tahun Meraih Sakinah

Aku masih duduk di sini, di dalam rumah kita. Memunguti setiap tumpukan pakaianmu di atas kasur yang enggan kau letakkan di keranjang. Aku masih menatap jendela berdebu dan rombongan semut di setiap sudut rumah kita. Hidupku masih berantakan, dan kau menerimanya dengan lapang. 


Kita memang pasangan yang aneh. Kata teman-teman seperti tidak akur. Bahkan seseorang pernah menegurku langsung tentang bagaimana harus meniru sikapmu yang tenang seperti telaga di tengah hutan rahasia. Sementara aku riuh gaduh bagai rebana yang sedang ditabuh.


Kamu suka berbicara tentang otomotif. Aku berusaha mengimbangi meski sebenarnya tidak pernah benar-benar memahaminya. Seperti kamu pura-pura menyimak saat aku berbicara tentang buku baru, film yang sedang aku tonton, ocehan kepada tetangga yang suka menyetel musik dugem di pagi hari, dan tentu saja banyak keluhan-keluhan tak penting lainnya. Terima kasih kau telah menerimaku dengan tulus selama sebelas tahun terakhir ini. 


Aku menyadari belum bisa menjadi istri terbaik seperti yang kamu harapkan, tetapi kamu tahu aku terus belajar. Aku berusaha terus berbenah. Terutama menata mental seorang istri yang hingga kini belum dikaruniai buah hati. Aku sudah mengadu kepada Rasulullah tentang masalah kita. Beliau pasti memahami posisimu seperti saat mendapingi dan mendengarkan suara hati Aisyah tentang masalah yang sama. Kita hanya perlu menunggu. Mungkin sebentar lagi. 


Semoga Allah selalu menjaga hubungan ini dan memandang dengan Rahmat-Nya. Melapangkan sabar kita untuk senantiasa ridha terhadap takdir-Nya. Sebab menikah bukan semata tentang cinta, melainkan ibadah dan bentuk penghambaan terhadap-Nya.


20 September 2023

Nenek Penunggu Villa

Generasi tahun 90-an pasti tidak asing dengan sinetron Gerhana. Drama serial televisi menceritakan tokoh bernama Gerhana yang lahir bertepatan dengan gerhana bulan sehingga ia memiliki keistimewaan berupa indigo. Sinetron tersebut benar-benar menginspirasi saya pada masa itu. Saya lalu berandai-andai betapa senangnya memiliki kemampuan supranatural, bisa berinteraksi dengan makhluk gaib atau bisa membaca pikiran orang lain.


Setelah dewasa dan mengenal seorang sahabat bernama Sahara, saya lalu menghapus keinginan itu, sebab akhirnya saya tahu bahwa indigo bukanlah kelebihan, melainkan kekurangan. Beban yang ia pikul justru lebih berat. Dalam hal bisa melihat makhluk halus isalnya.


Dua hari yang lalu saya diajak Faris dan Devi staycation di Batu untuk kepentingan bisnis. Villa yang mereka pilih berinisial O merupakan rekomendasi dari rekan bisnisnya. Sebuah bangunan berarsitektur tua yang direnovasi menjadi tampak modern. Memiliki ruang tamu sangat luas dengan akomodasi yang cukup lengkap. Bar dan dapur berada di ruangan utama membuat saya dan Devi berandai-andai memilikinya suatu saat nanti. Ada bonus pemandangan alam gunung Panderman dan pesona kota Batu yang bisa dinikmati dari balkon. Suasana sejuk penuh dengan aneka bunga membuat siapapun akan kagum memandangnya.


Begitu sampai, yang saya tebak adalah harganya pasti mahal. Benar saja, hampir gagal karena tarif dinilai terlalu tinggi, ternyata bapak penjaga paruh baya yang mengenakan topi rimba itu memanggil kami lagi dan mengabarkan bahwa sewa sudah dibayar oleh rekan bisnis Faris. Kami bersegera masuk untuk melepas lelah.


Ketika kembali ke mobil untuk menurunkan barang, seorang perempuan keluar dari bangunan di samping villa. Saya menebak pasti istri si bapak penjaga tadi. Bertubuh padat dengan kulit putih dan wajah bulat, membuatnya tampak seperti warga Tibet. Bibirnya memiliki lengkung yang lebih condong ke bawah sehingga ia seperti selalu bersedih.



Tiba-tiba keanehan pertama menyentak kesadaran saya. Saya sampaikan sejujurnya ke Devi bahwa saya merasa tengah berada di villa seperti dalam film horor; bangunan tua dan dua penjaga misterius. Ia buru-buru mengiyakan sebelum saya selesai berbicara. Kami bejalan dengan perasaan masih tampak wajar.


Siang itu saya tidak membuang waktu dengan berlelah-lelah, langsung membidik beberapa pemandangan yang indah berikut setiap sudut villa. Devi mengagetkan saya dengan berbisik menemukan album tua di nakas kamarnya. Aku meresponnya dengan biasa saja. Berpikir positif, mungkin itu adalah album kenangan pemilik villa.


Di dinding ruang tamu, lurus dengan tivi, saya juga memperhatikan figura dengan foto tua. Foto atas tampak kakek nenek tengah duduk mengenakan pakaian adat jawa. Di bawahnya kakek nenek itu di masa muda bersama delapan anaknya tercetak hitam putih. Anehnya bagi kami, mengapa bukan lukisan pemandangan saja yang dipajang? Mengapa harus foto tua?


Keanehan itu segera kami tepis dengan mengukus pentol ikan tuna yang sengaja kami bawa dari Madura. Kami berkumpul di balkon untuk menikmatinya selagi hangat. Sufi, adik Devi datang membawa kudapan dan minuman dingin. Kami menikmati momen itu dengan sangat puas.


Suasana tampak lebih seru saat Sofwan dan Istrinya, Mbak Sahara, datang membawa bayinya yang berusia 3 bulan. Sofwan adalah sahabat Faris yang tinggal di Malang. Mereka berteman sejak nyantri di pondok pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Selatan. Komunikasi mereka cukup baik sehingga silaturrahmi tetap terjaga hingga kini.


Kami berkumpul di balkon menimkati guyonan dan bualan khas Sofwan. Nadanya yang menggebu ketika menceritakan sesuatu membuat apa yang ia sampaikan selalu terdengar lucu. Momen berkumpul dan membahas hal lucu inilah yang membuat liburan mahal dan bermakna.


Lepas maghrib kami memilih keluar mencari makanan menggunakan dua kendaraan. Karena Faris masih ada urusan, suami meminta kami, para perempuan pulang duluan. Kebetulan Devi dan Mbak Hara memang bisa menyetir. Bebas lah para laki-laki berkeliaran menikmati malam mingguan.


Setiba di villa kami disambut dingin yang menusuk. Maklum, kota batu memang lebih berangin pada 4,6 bulan dalam setahun, yakni awal Juni hingga akhir Oktober. Menerima sisa angin terhebat bulan Agustus membuat saya yang tak berjaket terguncang gemetaran.


Saya dan Devi memilih duduk di sofa, sementara Mbak Hara menyusui bayinya di kasur ruang tamu. Karena kunci masih menempel di pintu luar, saya meminta devi mengambilnya. Begitu ia membuka pintu saya melihat sekelebat bayangan di pintu ruang penjaga. Devi menoleh dan berteriak mendapati sosok pria tengah berdiri di balik pintu. Kami semua terperanjat tak karuan.


Dengan santainya si bapak berdiri mengenakan jumper dengan topi yang terpasang. Bukannya bereaksi lucu melihat tingkah kami yang kekanak-kanakan bapak itu malah memasang wajah datar. Ia bertanya mengenai pintu pagar apakah hendak dikunci atau masih menunggu para suami pulang.


Saya agak geram dengan tingkah aneh bapak tadi. Sangat mengganggu kondisi mental dan psikis kami. Suasana berubah menjadi mencekam. Lebih menakutkan lagi saat Mbak Sahara membuka tentang apa saja yang dia lihat sejak sore tadi.


Setiba Mbak Hara di gerbang, ia melihat sosok nenek gemuk memakai kebaya. Ia menyapa dengan santainya. Ketika menoleh lagi, sosok itu telah lenyap. Buru-buru ia bawa bayinya masuk.



Menjelang maghrib, ia melihat sosok yang sama memegang tongkat tengah berdiri memandang gunung Panderman. Sementara katanya, kami tengah asyik cekikikan menyimak cerita-cerita lucu Sofwan. Dan sempurnalah keresahan kami saat Mbak Sahara mengatakan bahwa sosok yang ia lihat itu persis seperti di dalam foto.


Kami berkumpul di atas kasur merima penjelasan tidak masuk akal dari seorang indigo. Tentang makhluk bertubuh hitam di dalam kamar mandi sebelah timur. Juga pocong yang mengambang di dekat pohon mangga tempat kami bersantai di Pujon. Semua terkuak menekan ketakutan di dalam diri saya.


Kaki saya berubah menjadi dingin. Tubuh terasa hangat terkesiap dengan denyut berpacu  kencang. Saya menggigil di pojokan. Devi pun menampakkan reaksi yang sama. Seperti mau menangis tetapi ditahan-tahan.


Terdengar bunyi di sofa pojok. Sebuah sudut yang memang tidak pernah kami duduki. Kata Mbak Hara, si nenek tengah menyaksikan ketakutan kami. Semakin tenggelam lah saya dalam kekecutan ini.


Mbak Hara mengatakan bahwa jika sampai ia terlelap, maka makhluk-makhluk di tempat itu akan mengajak berkenalan dengan mengeluarkan bunyi-bunyi. Saya dan Devi sudah tidak tahan dengan apa yang disampaikannya.


Kami tahu Mbak Hara tidak berbohong, saat tiba-tiba sebuah suara gagang pintu samar-samar terdengar. Saya pikir itu hanya efek dari ketakutan kami. Tetapi bunyi berikutnya dari jendela membuat kami percaya sepenuhnya bahwa makhluk itu tengah memperhatikan kami dari luar sana.


Saya menahan kantuk luar biasa. Antara sadar dan tidak, terndengar bunyi gesekan sofa. Persis di detik yang sama saya dan Mbak Hara bertatapan menyadari apa yang kami dengar ternyata sama. Saya menoleh ke arah Devi, dia menggeleng tak mendengar apa-apa. Mungkin karena hanya dia yg masih bertahan untuk tidak terlelap.


Di pejam berikutnya, dengan jelas saya mendengar sebuah suara. Suara perempuan tua bernada berat. Mbak Hara lebih dulu mengungkapkan kepada kami tentang suara itu. Saya yang juga mendengar membenarkannya. Kami bertiga saling pandang dalam perasaan yang sama.


Di situlah titik yang membuat kami memutuskan untuk cek out malam itu juga. Kami berencana pindah ke rumah Mbak Hara atau numpang di kosan Sufi. Maka ditelponlah pak suami yang ketika mengangkat suaranya terdengar parau. Sialan! Bisa-bisanya dia tertidur sementara kami menerima teror nenek tua.


Jam menunjukkan pukul 2 dini hari saat kami semua putus asa. Devi benar-benar bertahan untuk tidak terlelap sedetik pun. Matanya tampak merah. Kami rasa, ini bukanlah healing, melainkan ajang uji mental sebuah drama filmis. Kami hanya saling menguatkan satu sama lain. Bagaimana pun ini harus kami terima. Mengerikan memang, namanya juga gratisan, celetuk Mbak Hara membuat suasana tegang lumayan mencair.


Satu jam berikutnya kami dikagetkan dengan Mbak Hara yang tiba-tiba terjaga dari tidurnya. Katanya nenek itu membangunkannya. Ia melongo ke jendela. Membuka pintu menantang makhluk gaib itu. Hilang katanya. Tapi tiba-tiba kembali menyaksikan kami dari kejauhan.


Saya dan Devi seperti kucing sedang dimandikan. Lemah tak berdaya mendengar penjelasan demi penjelasan tentang dunia indigo. Sampai akhirnya suara mobil tiba halaman. Membebaskan selapis belenggu ketakutan.


Mereka menyimak cerita kami dengan candaan. Aura positif manusia kata Mbak Hara adalah energi negatif bagi mereka. Nenek itu lenyap dimakan keberanian sosok pelindung. Suasana berubah hangat dan kami masih mengobrol sampai jam 3.30 WIB.


Suami memberi wejangan bahwa setiap rumah pasti memiliki penjaga tak kasat mata. Memang sudah sepantasnya dikirimi fatihah. Mereka tidak mengganggu. Hanya menyaksikan manusia dari alamnya. Sementara bagi orang indigo, makhluk gaib memang cenderung ingin berkenalan.


Menjelang tidur, saya masih diteror rasa penasaran mengapa nenek itu bergentayangan? Bagaimana kisah hidupnnya?  Seperti apakah cara matinya? Apakah anak-anaknya berkirim amal saleh? Di manakah ia dikebumikan? Apa maksud kedatangannya?


Setiap nyawa akan menjumpai kematian. Waktunya sudah ditentukan. Tugas kita adalah memperindah hidup, agar mati bahagia.